Teguh Faluvie Profile picture
Waktu berkarya dan ruang berbagi cerita | Meong Hideung Universe | Upload cerita horror #kamismalam | Download eBook, klik tautan KaryaKarsa.

Oct 26, 2023, 163 tweets

PUNGGEL IRENG

Janji suci yang diucapkan bukan untuk kebahagiaan, melainkan untuk sebuah kematian, penebusan dan keturunan yang tak pernah usai.

[Bagian Keempat]

@bacahorror @IDN_Horor @ceritaht
#bacahorror

Hallo berjumpa lagi di hari kamis malam, yang artinya kita akan melanjutkan cerita Punggel Ireng dengan segala misteri penampakan sosok Ibu Sari Puspa yang terus menghantui anak semata wayangnya.

Untuk yang belum baca part sebelumnya silahkan klik link dibawah, bantu untuk tinggalkan REPOST, QOUTE dan LIKE agar yang lain ikut baca juga.

Part 1 – Liang Lahat


Part 2 – Luka Siksa


Part 3 – Tapak Getih


Jika teman-teman ingin download eBook cerita horror sebagai bentuk memberikan support atau dukungan, bisa langsung ke KaryaKarsa atau klik link, kita tunggu yah, kunjungan teman-teman sangat berarti.



Mari kita mulai..karyakarsa.com/qwertyping

Bagian Keempat - Ritual Imah Kai

Dering bunyi telepon di salah satu saku celana terus terdengar nyaring, lelaki brewok dan kumis tebal itu tidak langsung menerima panggilan, ketika baru saja sampai di rumahnya, ia lebih memilih membuka kaca mobil dan membakar rokok

untuk membuat dirinya tenang.
“Apa akan selesai malam ini juga.” Ucap Mang Taya cemas.
Pikirannya masih mengingat satu mobil yang berpapasan ketika baru saja menginjak jalan didepan rumah kayu.
Dreett.. dreett..
Mata Mang Taya kembali melihat ke arah handphone

yang saat ini ia pengang, tertulis kontak bermana Tatang.
“Halo Mang.”
“Taya apa Iman sudah menempati kamar? Dan kamu tuangkan darah itu sesuai perintah?”
“Se – sesuai Mang, Iman sudah di kamar dan Mak Sutiah nginap juga di rumah.”

Seketika suara Mang Tatang hilang, membuat Mang Taya merasa ada yang aneh, apalagi ia hanya mendengar suara tertawa kencang dari orang yang sudah ia ketahui dibalik suara tertawanya.
“Nginap? Mak Sutiah?”
“Be – benar Mang, apa ada yang salah?”

Tuttt.. tut..
Suara panggilan dari telepon itu seketika mati, membuat Mang Taya menarik nafasnya sangat dalam dan mengeluarkannya dengan perlahan, dari arah pintu rumah terlihat dibuka oleh seseorang, yang membuat ia dengan cepat turun dari mobilnya.

“Mak Enur!” tegas Mang Taya kaget, tidak menyangka Mak Enur malam ini berada di rumahnya.
“Un – untung kamu sudah sampai, kondisinya..” ucap Mak Enur, kemudian menyuruh Mang Taya masuk dengan cepat.

“Mak?” jawab Mang Taya ketakutan.
“Kamu seperti tidak kenal siapa Arta Soma saja..” ucap Mak Enur, bak menghantarkan pesan dan kondisi terakhir istri Mang Taya malam ini.

***

Imah Kai

Jarum jam terus berputar dengan merekam semua kejadian yang sedang berlangsung, seorang sosok perempuan dengan wajah hitam dan mengeluarkan darah di lidah panjangnya itu sedang berdiri di sebuah kamar yang baru saja di tempati Iman,

cakaran kuku panjangnya sudah tercetak jelas pada pintu kamar, dengan segala kejanggalan yang sedang Iman saksikan dengan mata kepalanya sendiri atas sambutan selamat datang yang terjadi di rumah kayu itu.
Dug! Dug! Dug!
Tangan yang hitam terus bergerak memukul pintu,

bersama dengan lilin yang menyala semakin terang disebelah kemenyan yang terus terbakar mengeluarkan asap hitam serta bau busuk yang menyengat di kamar depan, dengan pintu yang masih terbuka lebar.

Sosok perempuan dengan rambut berantakan itu juga perlahan menghampiri satu kamar lain, yang di tempati Mak Sutiah.
“Me – mendekat, ini mendekat..” bisik hati Mak Sutiah yang sudah ketakutan.
Srekkk.. srekk.. srek..

Sebuah cakaran dari kuku panjang itu mendarat juga di pintu kamar Mak Sutiah bak memberikan tanda.
Mak Sutiah perlahan mundur dari dekat pintu tempat ia berdiri sebelumnya, ia seperti mendapatkan bukti dari apa yang sudah ia ketahui,

walaupun semua terjadi begitu cepat dan diluar nalar.
“Ap – apa semua ini benar adanya..” bisik hati Mak Sutiah sudah tidak tenang.
“Punggel ireng itu benar-benar ada.” Lanjut Mak Sutiah sambil terus mundur, dengan berusaha tidak mengeluarkan suara dari langkah kakinya.
...

Di halaman luar rumah kayu itu sebuah mobil baru saja berhenti, dengan tergesa-gesa seseorang yang baru saja menelpon Mang Taya turun, ia selintas melihat seseorang yang mencurigakan tidak biasanya ada di sekitaran jalan – dimana rumah kayu berdiri,

orang itu berjalan dengan menundukan kepalanya yang tertutup rambut panjang, dengan pakaian sobek dan kotor.
“Tidak biasanya ada orang gila di daerah ini,” bisik hati Mang Tatang.
Mang Tatang langsung berjalan tergesa-gesa sambil mengeluarkan kunci rumah bagian depan.

“Sudah gelap, jangan sampai telat!” ucap Mang Tatang, dengan cepat masuk ke dalam rumah.
Kedua bola matanya seketika kaget, baru pertama kali pandangan matanya itu menyaksikan sesuatu yang seharusnya sudah ia ketahui, sandal yang ia kenakan sudah menginjak darah diatas lantai.

“Be – benar adanya!” ucap Mang Tatang dengan bulu kuduk berdiri, ketika melihat sosok dengan wajah hitam pekat sedang berdiri di kamar Mak Sutiah.
Pembicaraan singkat di telepon dengan adiknya barusan langsung membuahkan bukti, pekatnya tubuh sosok perempuan itu

tak dapat mengalahkan gelapnya seluruh ruangan rumah kayu, yang hanya menyisakan dua lampu menyala di kamar Iman dan Mak Sutiah.
“Bisa mati Mak Sutiah!” tegas Mang Tatang, langsung berjalan menuju kamar depan yang pintunya masih terbuka lebar,

dengan asap dari kemenyan dan kembali mencium bau busuk yang pernah ia cium enam tahun kebelakang.
Puhhh!
Satu kali tiupan Mang Tatang pada lilin yang berada di samping kemenyan, serta dengan cepat memadamkan kemenyan yang terus menyala hingga membuat sosok perempuan

yang ada didepan kamar Mak Sutiah seketika hilang, menjadi tumpukan belatung hitam dengan bau busuk yang jauh menyengat.
Hah! Hah! Hah!
“Am – aman, seharusnya aman!” bisik hati Mang Tatang, keluar dari kamar dan langsung mengunci.

Langkah kakinya melewati setiap darah-darah yang hampir saja bersih, setelah sebelumnya di jilati sosok perempuan dengan lidah panjang menjulur.
“Mak buka, ini Tatang..” bisik Mang Tatang, tidak ingin suaranya itu terdengar oleh Iman, yang ia ketahui menempati kamar sebrang.

Krekettt!!!
“Tang!” jawab Mak Sutiah dengan wajah tua memerah ketakutan.
“Tenang Mak, sudah tenang! Tolong bersihkan dulu sebelum Iman keluar kamar, pesan Bapak jangan buka mulut apapun, tolong saya Mak.” Ucap Mang Tatang memelas.

Mak Sutiah hanya mengangguk, dan langsung menyuruh Mang Tatang pergi, karena waktu sudah semakin larut malam.
“Nanti Tatang telpon!” bisik Mang Tatang kemudian berjalan pelan keluar melalui pintu depan.
Mobil yang Mang Tatang kenakan baru saja perlahan mundur,

setelah memastikan halaman depan rumah yang dianggapnya aman tidak terpengaruh dari kehadiran sosok perempuan yang baru saja ia lihat, kedua matanya masih mencari keberadaan orang gila yang sebelumnya berjalan didepan rumah kayu, namun kini ia tak lagi mendapati orang gila itu.

“Tidak mungkin juga aku salah liat!” ucapnya, kemudian menginjak pedal gas mobil untuk menemui seseorang malam ini juga.
Senyum tipis seseorang dengan rambut gondrong dan baju sobek dan kotor itu terlihat dari samping rumah sedang berjongkok,

ia sudah mendengarkan dan mengetahui apa yang sebelumnya terjadi, orang itu kemudian berjalan dengan tenang dan perlahan ke arah gerbang yang belum sempat di kunci oleh Mang Tatang karena tergesa-gesa.

Ceklek!
Besi kunci gerbang itu dengan perlahan orang gondrong itu gerakan agar berada di posisi mengunci, kemudian berjalan kembali ke arah samping rumah, sambil mengeluarkan handphone dalam saku celananya.
“Bukan hanya satu orang, mungkin semua orang di rumah ini terlibat Gam,

kecuali Iman yang tidak tahu apa-apa, biarkan aku semalam ini mengetahui dulu setiap penjuru rumah, halaman belakangnya cukup luas juga, jemput aku besok sore saja.”
Pesan itu segera ia kirim kepada kontak bernama Gama.
“Hati-hati jangan bergerak tanpa perintah aku,

Mang Idim atau Ki Duduy, besok Ki Duduy akan berjumpa dengan Kiai Tasrif, pastikan Iman tetap hidup dan aman Bud.”
Balasan pesan cepat itu membuat Budi hanya menganggukan kepalanya, sambil terus berjalan perlahan, mencari keberadaan kamar yang Iman tempati.
...

Di dalam kamar dengan tembok kayu Iman baru saja merasakan udara dingin yang sebelumnya Mak Sutiah katakan, tangannya perlahan membereskan tas yang terbuka lebar, dengan hanya mengeluarkan pakaian bekas pengantin dari peninggalan Ibu Sari.

“Sudah tidur, ini Mak lagi ngepel Man!” ucap Mak Sutiah.
Iman merasa tenang, bahwa gangguan pada dirinya yang semakin menjadi itu sudah berakhir malam ini, apalagi ia baru memegang tasbih pemberian Kiai Tasrif.
“Berarti bukan hanya tempat, dimanapun aku berada,

sosok itu terus menghantui bahkan barusan lebih menakutkan.” Bisik hati Iman.
Beberapa lampu di luar kamar Iman baru saja Mak Sutiah nyalakan satu persatu, hingga ruangan tengah rumah kembali menyala terang.

Krekettt!!!
Suara pintu kamar Iman terbuka, membuat Mak Sutiah langsung berbalik badan.
“Mak bilang tidur!” tegas Mak Sutiah, dengan lap pel lantai berada ditangannya.
“Da – darah?” ucap Iman melihat ke arah lantai.
Sisa-sisa darah di lantai itu membuat Iman kaget.

“Mang Taya kakinya kena paku, sebelum pulang..” ucap Mak Sutiah berusaha menyembunyikan wajah panik.
“Iman mau wudhu Mak, dimana kamar mandinya?” tanya Iman, walau sudah mengetahui Mak Sutiah berbohong, apalagi Ibu Sari dengan sosoknya itu bukan kali pertama menghantui Iman.

Mak Sutiah merasa lega ketika Iman tidak bertanya lagi banyak hal tentang apa yang ia lihat sekarang, walau Iman memperhatikan satu kamar – dimana tetesan bekas darah itu mengarah ke kamar depan.
“Ayo ikut ke belakang! Setelah itu kamu tidur ini sudah jam dua belas lebih Man!

Besok pekerjaan kamu di rumah ini banyak dari Mang Taya,” ucap Mak Sutiah berjalan terbelih dahulu mengajak Iman kebagian dapur.
“Apa mungkin darah itu yang mengundang suara seretan langkah kaki, dan ketukan pada pintu kamar?” bisik hati Iman,

apalagi ia baru menyadari ada sebuah bekas cakaran kuku yang panjang di pintu kamarnya.
“Cepat! Mau jadi tidak?” tegas Mak Sutiah.
“Ma – mau Mak, tunggu.” Jawab Iman.
Megahnya bagian dapur terlihat dari benda-benda yang baru pertama kali Iman lihat,

dari depan rumah sampai belakang semuanya berbahan kayu jati dengan cat coklat, semua barang-barang tertata rapi tanpa ada satupun yang terlihat berantakan, membuat Iman semakin penasaran tentang siapa pemilik rumah ini.
“Mak itu tempat apa?” tanya Iman,

ketika matanya kini melihat hal janggal, satu ruangan tanpa keramik dan dihalangi oleh kayu yang menyilang tanpa penerangan sedikitpun, kecuali cahaya dari arah dapur.
“Su – sumur biasa saja, disana kamar mandinya, itu sengaja dihalangi kayu berarti itu sumber air saja.”

Jawab Mak Isut menjelaskan agar Iman tidak bertanya untuk yang kedua kali.
Mata Iman berkedip berkali-kali, tiba-tiba urat dalam kepala merasakan sesuatu yang baru pertama ia kali rasakan, sampai ia memegangi tembok menahan rasa sakit agar tubuhnya tidak terjatuh,

begitu dengan luka sayatan panjang di punggungnya tiba-tiba terasa perih, hingga tubuhnya melengking.
“Man! Kamu baik-baik saja, kan?” tanya Mak Sutiah, setelah menghidupkan air dalam kamar mandi.
“Ba – baik kok Mak!” tegas Iman,

malah melihat samar dari pandanganya melihat ke arah wadah sumur yang terikat tali hitam tebal, ia merasakan hal aneh, tangannya perlahan meraba ke arah saku celana yang menyimpan tasbih Kiai Tasrif.
“Yasudah sana wudhu, Mak mau bersin lantai tengah rumah sedikit lagi.”

Ucap Mak Sutiah, ia merasakan hal yang sama ketika melihat ke arah sumur tua dalam kamar tersebut, tiba-tiba merasakan ketakutan padahal ia orang paling lama yang tinggal di rumah kayu.
Celana panjang yang Iman kenakan baru saja ia tarik sampai ke arah lutut,

gerakan wudhu dari air yang cukup dingin itu perlahan membasahi beberapa bagian tubuh, baru saja akan berakhirnya wudhu pada gerakan kaki, Iman mendengar jelas suara lain di samping kamar mandi yang terbuka.
Byurr.. byurrr..
“Apa Mak Sutiah yang buang air bekas pel.” Ucap Iman.

Air yang menyentuh tanah Iman dengar dengan jelas, membuat ia langsung keluar mencari dari mana air itu berasal, sambil menurunkan lipatan celana panjangnya.
Padangan mata Iman yang lurus itu tidak mendapatkan Mak Sutiah di dapur,

malah suara air itu tendengar oleh Iman dari arah sumur tua.
“Ba – bayi..” ucap Iman.
Tubuhnya seketika terdiam, padangan matanya melihat dari balik sumur itu seorang perempuan dengan rambut panjang sedang memandikan bayi dalam pangkuannya, pakain putihnya seketika basah,

dengan tangisan bayi yang terdengar kencang.
“Man!”
“EH!”
“Lihat apa cepat masuk kamar, Mak baru selesai ini!”
“Ti – tidak mak, Iman masuk kamar dulu.”
Beberapa kali Iman mengelengkan kepala, hingga tetesan bekas air wudhu telihat jelas di lantai kramik rumah,

begitu juga ia mengedipkan matanya berkali-kali.
“Bahkan Mak Sutiah tidak melihat dan mendengar tangisan bayi barusan.” Bisik hati Iman sambil mengamparkan sejadah yang ia keluarkan dari tas, kembali melihat baju pengantin yang masih berada didalamnya.

Sejadah sudah terhampar ke arah kiblat yang mengarah pada dua jendela, gerakan sholat qodho Iman begitu husyu, hingga di tahiat akhir dalam duduknya itu ia malah mendengar suara langkah dari luar jendela begitu jelas.
“Orang! Aku yakin itu langkah orang!” bisik hati Iman.

Dari luar jendela Budi hanya berdiri mematung, keyakinannya mendengar suara gerakan shalat seseorang di dalam membuat telinganya perlahan menjauh dari tembok yang terbuat dari kayu.
“Kamar Iman disini.” Bisik hati Budi, setelah memastikan sekeliling rumah

dan membuatnya semakin penasaran pada dua orang yang baru ia lihat secara langsung termasuk Mak Sutiah, yang tidak menyadari barusan ketika membuang bekas air pel di halaman belakang.
Hanya dibatasi oleh tembok kayu dengan Iman yang baru saja kembali terbaring diatas kasur

dan mengetik pesan cukup panjang untuk dikirimkannya kepada Mang Aep, Budi sudah kembali berjalan ke halaman belakang, karena ia mendengar langkah lain dari seseorang yang datang.
“Pastikan Iman tetap hidup dan aman Bud.”

Pesan yang Gama kirim sebelumnya kembali Budi ingat dan menjadi tugas utamanya malam ini menjaga keselamatan Iman, walau ia tidak tahu malam yang semakin larut ini akan memberikan kejutan buruk apa lagi terhadap Iman.
“Seharusnya perintah Gama itu habisi,

aku lebih senang dari pada harus seperti ini.” Bisik hati Budi mengintai halaman belakang rumah, telah kedatangan kakek tua yang berjalan ke arah samping rumah lainnya, untuk menuju kamar depan yang jauh lebih luas dengan jendela yang sama dengan kamar yang Iman tempati.

“Pesan dari Kiai Man, jangan lupa berdoa, semoga keadaan jauh lebih baik bersama kamu, ingat pertolongan itu bisa datang dari mana saja, ikhlas mencari apa yang sedang kamu cari..”
Balasan pesan dari Mang Aep sudah Iman baca, membuat dirinya terus menggerakan jari

pada tasbih tua pemberian Kiai Tasrif, segala hal janggal yang menyambut dirinya di rumah kayu ini berusaha Iman rangkai dalam mata yang terlelap.
“Ap – apa semua kejadian itu pertanda, termasuk baju pengantin Ibu Sari dan sosok bayi di dekat sumur,

aku ingat kunci itu untuk apa Ibu titipkan?” bisik hati Iman semakin terlelap.
Tanpa Iman sadari berbagai ancaman kini sedang dijalankan dan direncanakan oleh lelaki tua yang ternyata punya perawakan masih tegap, baru saja dengan mudah membuka jendela kamar depan

yang terkunci rapat, senyum tipis lelaki tua tergambar jelas bukan pada kemenyan dan lilin yang masih berantakan dari dalam kamar, namun ia sadar atas kemampuan ilmu tingkat tingginya – ia dapat memastikan ada yang memperhatikannya dari jauh.

“Sayang sekali Soma kali ini kau tidak akan mulus, gangguan itu akhirnya hadir sejak anak itu datang ke rumah ini, sayangnya ritual di rumah kai ini harus terjadi, tempatnya masih sama, harus disini..” ucap Kakek tua sambil duduk bersila diatas ranjang yang rapi,

kedatanganya disambut oleh getaran dibawah ranjang yang hanya beralaskan tembok.
“Tunggu, sebentar lagi, kamu punya teman Sari..”
Senyum sumringah dari kakek tua itu bak pertanda kejayaan dalam dirinya yang akan segera tercapai, begitu juga dengan pemilik kamar dan rumah ini

***

Suara ayam berkokok pagi ini mengiringi cahaya matahari semakin tinggi, beberapa kali Mang Taya dan Mang Tatang silih berganti membawa karung-karung sayuran dan daging kambing mentah melewati kamar Iman, yang belum memperlihatkan tanda-tanda ia sudah bangun dari tidur lelapnya.

“Maafkan aku Mang atas kejadian semalam.” Ucap Mang Taya.
“Sudah jangan dibahas, hampir saja istri kamu di rumah..” jawab Mang Tatang langsung menghentikan ucapan.
“Kapan memangnya ini Tang acaranya?” tanya Mak Sutiah yang sudah ingin pulang ke rumah nya sendiri,

lalu bisa istirahat dengan tenang.
“Nunggu perintah saja Mak, masak dulu aja sebagian agar Iman tidak curiga.” Jawab Mang Tatang.
“Iyah benar, nanti aku sibukan dia untuk melihat tempat kuliahnya yang akan aku daftarkan bulan depan Mang.” Sahut Mang Taya.
“Kalau masih hidup!”

bisik Mang Tatang sambil melipir ke arah halaman belakang.
Mang Taya yang hanya mendengar ucapan Mang Tatang sang Kakak langsung terdiam, dan membenarkan ucapaanya.
“Semalam aku lihat orang gila Taya di depan sana, tapi pagi tadi sudah tidak ada lagi,

bahkan aku berkeliling sekitar sini menggunakan mobil juga tidak menemukannya.” Ucap Mang Tatang sambil menghisap rokoknya.
“Tumben dari dulu tidak pernah ada Mang orang gila di sekitaran sini,” jawab Mang Taya, menerima sodoran rokok.

Mang Taya berusaha tenang meninggalkan keadaan rumah setelah semalam di kunjungi oleh Mak Enur, beberapa kali hisapan rokoknya begitu dalam sambil mengelus brewok berkali-kali.
“Ba – baik pak, sore ini juga saya jalan.” Ucap Mang Tatang di telpon,

lalu membisikan sesuatu kepada Mang Taya.
“Paham?” tanya Mang Tatang menatap serius.
“Pa – paham Mang, siap!” jawab Mang Taya.
...
Iman baru saja terbangun dengan sorotan cahaya matahari yang masuk melalui celah udara diatas jendela, bahkan ia kaget ketika tidur begitu lelap,

namun ia merasa tenang tidak terjadi lagi hal-hal janggal yang menghantuinya.
Suara bahan-bahan makanan yang masuk ke dalam wadah katel sudah Iman dengar jelas, aroma makanan yang sudah lama tidak ia cium itu kini membuat cacing dalam perutnya langsung berisik.

“Masih di tempat yang sama,” ucap Iman melihat baju pengantin putih lusuh itu berada didalam tas, setiap ia melihat kain penuh dengan renda-renda selalu terlintas dalam pikirannya, bahwa baju pengantin Ibu Sari itu adalah akar masalah untuk dirinya,

walaupun ia tak pernah menemukan jawaban yang dapat diterima akal sehat.
Handuk yang tersampai di bahu Iman mengiringi langkah kakinya untuk menuju kamar mandi, sambutan hangat Mak Sutiah membuat Iman merasa kehangatan di rumah kayu.

“Saya Tatang, saya sudah tahu kamu datang semalam Man! Betah-betah yah di rumah ini.” Ucap Mang Tatang.
Iman hanya tersenyum, walau ia merasa tidak nyaman dengan tatapan Mang Tatang seolah menelanjangi dirinya.
“Sudah tumbuh besar..” lanjut Mang Tatang tiba-tiba.

“Maaf, maksudnya Mang?” tanya Iman kebingungan.
“Sudah sana Mandi Man, nanti Amang jelaskan tugas kamu di rumah ini, termasuk tempat nanti dimana kamu melanjutkan kuliah di kota ini.” Sahut Mang Taya, berusaha mengalihkan pembicaraan.

Mang Tatang seketika menarik nafasnya cukup dalam dan menghembuskannya perlahan, ketika Iman berhenti sebentar tepat di hadapan ruangan sebelah kamar mandi yang terdapat sumur tua, kemudian masuk dan mengunci pintu kamar mandi.
“Apa kalian akan tega..” ucap Mak Sutiah,

sambil membawa masakan untuk disimpan di atas meja.
“Anak itu mungkin tidak bersalah dan tidak mengetahui apapun.” Lanjut Mak Sutiah, dengan mulutnya mulai menyepah daun sirih.
Mang Tatang hanya tersenyum ke arah Mak Sutiah yang sedang membenarkan sanggul

untuk menahan rambut yang sudah memutih seluruhnya, langkahnya perlahan mengambil pisau yang tergeletak di dekat kompor.
“De – dengar! Jangan bahas itu! Seharusnya malam tadi kau mati!” bisik Mang Tatang, menjambak rambut Mak Sutiah hingga ujung pisau menyentuh kulit lehernya,

membuat daun sirih di mulut Mak Sutiah terjatuh.
“Aku sudah mati semenjak berada pertama kali di rumah ini Tatang, percuma kamu mengancam akan membunuhku dengan pisau itu,” jawab Mak Sutiah dengan menatap Mang Tatang,

sambil merasakan sakit ketika kepalanya semakin ditarik sekuat tenaga.
“Ma – mang sudah, cukup!” sahut Mang Taya, berusaha menenangkan kakak kandungnya yang sudah tersulut ucapan Mak Sutiah.
Brug!!!

Kepala Mak Sutiah dihantamkan ke arah meja makan, hingga membuat makanan dalam piring itu bergetar.
Senyuman Mak Sutiah sambil mengambil daun sirih yang lepas dari mulutnya, membuat Mang Taya dan Mang Tatang beranjak ke luar dapur.
“Bi – binatang!” bisik hati Mak Sutiah,

sambil membenarkan rambutnya yang kembali berantakan.
Dari depan kamar mandi Iman melihat kaget, pada kondisi Mak Sutiah dan langsung berjalan menghampiri.
“Mak kenapa?” tanya Iman, sambil membenarkan beberapa piring mulai berantakan diatas meja makan,

dan melihat samping jidat kepala Mak Sutiah berwarna merah.
“Ti – tidak apa-apa Man, sudah makan dulu ayo Mak temani.” Ucap Mak Sutiah.
Pandangan mata Iman langsung melihat ke arah teras belakang, dimana Mang Tatang dan Mang Taya sedang berbicara serius,

terlihat dari cara merokok Mang Tatang yang tidak tenang, serta tangan kanannya masih mengepal kuat.
“Perbuatan dua orang itu!” bisik hati Iman tidak terima atas perlakuannya pada Mak Sutiah.
Angin siang ini yang masuk ke dalam dapur perlahan membawa kenyataan lain

yang harus Iman ketahui, kesempatan untuk berbicara panjang lebar dengan Mang Taya sudah terbuka, namun ia masih memilih waktu yang tepat karena berkaitan dengan kematian Ibu Sari.
...

“Mak pamit pulang dulu Man, nanti malam juga kembali ke rumah ini, tidak usah bersih-bersih dalam rumah, paling halaman belakang saja atau tunggu perintah Mang Taya setelah mengantarkan Mak yah.” Ucap Mak Sutiah.

Mang Taya meninggalkan Mang Tatang seorang diri yang sibuk dengan handphone ditangan, membuat Iman mengantarkan Mak Sutiah sampai depan rumah.
“Oh itu orang gila yang di katakan Mang Tatang.” Ucap Mang Taya, setelah melihat orang gila dengan rambut gondrong berantakan

dan baju kotor sedang duduk sambil memeluk kedua lutut, kepalanya tertunduk.
“Sudah biarkan saja Taya, cepat antarkan saya ke rumah.” Sahut Mak Sutiah tidak sabar untuk pergi sementara dari rumah kayu yang telah memberikan kenyataan lain setelah kedatangan Iman.

Dua roda kendaraan besar dan gagah itu perlahan keluar gerbang, melewati orang gila yang terus ditatap Mak Sutiah dengan pandangan heran, hal itu membuat Iman mendekat ke arah gerbang untuk menutupnya.
Lipatan kedua kaki orang gila itu tiba-tiba lurus, tangan kotor

penuh dengan keringat bergerak ke arah bagian perut, mengusap-usap dengan perlahan namun tetap menundukan kepala yang terhalang rambut gondrong kusut.
“Lapar? Mau makan? Apa minum?” ucap Iman merasa iba, hingga gerbang yang hampir tertutup rapat itu ia kembali buka.

“Mau makan tidak?” tanya Iman.
Orang gila itu sama sekali tidak bergerak, hanya tanganya terus berada di perutnya dengan kondisi tubuh yang sangat kotor.
“Aneh orang gila ini bahkan sama sekali tidak bau, padahal tubuhnya kotor.” Bisik hati Iman,

mencari celah agar dapat melihat bagian wajah secara jelas.
Usaha Iman hanya sia-sia ketika ia tak dapat celah untuk melihat wajah orang gila, beberapa kali ucapannya juga sama sekali tak mendapatkan jawaban.
“Yasudah tunggu aku bawakan makan sama minum.” Ucap Iman

kembali masuk ke halaman rumah dan berjalan tergesa-gesa melalui samping rumah menuju dapur, karena sejak pagi tak ada yang membuka pintu depan rumah.
Sisa makanan Iman, Mang Taya, dan Mang Tatang segera Iman kumpulkan diatas kertas nasi, dan mengambil gelas kaca

sebagai wadah air minum, suara air yang mengalir di kamar mandi membuat Iman mengetahui bahwa didalam kamar mandi itu adalah Mang Tatang, hingga ia langsung berjalan tergesa-gesa kembali ke depan halaman rumah.
“Ini makan, ada sedikit makanan.” Ucap Iman sambil berjongkok

disamping orang gila, dengan gelas berisikan air.
Tangan orang gila itu bergerak, mengambil makanan diatas kertas nasi, dengan masih menundukan kepalanya, orang gila itu dengan lahap memakannya.
“be – benar lapar ini orang gila..” Bisik hati Iman memperhatikan

sedikit wajah kotornya dari samping.
Ketika tangan orang gila itu akan mengambil gelas berisikan air tiba-tiba.
Prak!!!
Air dalam gelas kaca itu ditendang oleh seseorang hingga pecah dan airnya berceceran.
“Mang!” tegas Iman kaget.
“Oh ini orang gila semalam saya lihat,

jangan dibiasakan Man kasih orang gila makan! Dia bakal ada terus nanti didepan rumah!” tegas Mang Tatang.
Brug!!!
Satu kali tendangan kencang kaki Mang Tatang mendarat di bagian samping tubuh orang gila, hingga ia terjungkal ke samping.
“Pergi! Cepat!” teriak Mang Tatang.

Orang gila itu perlahan duduk kembali, dengan kepala yang masih tertunduk.
Brug!!! Brug!!!
Dua kali tendangan kaki Mang Tatang kini mendarat di bagian pundak dan samping kepala orang gila, hingga ia kembali terjungkal dengan rambut gondrong berantakannya.

“Pergi!!!” teriak Mang Tatang.
“Mang sudah cukup kasihan!” tegas Iman.
“Sudah kamu diam, biar dia kapok.” Jawab Mang Tatang, walaupun ia merasa aneh tendangan kakinya ke arah kepala tidak membuat orang gila itu memegang bagian kepalanya, ia hanya kembali memeluk kedua lutut.

“Bajingan! Pergi cepat!” tangan Mang Tatang dengan cepat mengambil pecahan beling dari bekas gelas kaca yang sudah hancur.
“Ma – mang jangan Mang!” tegas Iman.
Mang Tatang berusaha menjambak rambut gondrong orang gila itu agar melihat jelas wajahnya dengan menggunakan tangan kiri

ia seperti akan melakukan hal jauh lebih buruk dengan tangan kanan yang sudah memegang pecahan beling.
Namun orang gila itu hanya bergeser sedikit dari duduknya, bukan menghindari tangan kanan Mang Tatang, melain tangan kiri.

Sreeeetttt!!!
Satu kali sayatan pecahan beling itu bersarang di bagian tangan kanan orang gila hingga mengeluarkan darah.
“Cukup Mang! Kasian!” tegas Iman menahan tangan Mang Tatang.
Brug!!! Brug!!!

Tendangan kaki Mang Taya jauh lebih tidak terkendali mengenai tubuh orang gila itu, hingga menendang luka bekas sayatan yang sudah mengeluarkan darah.
Brug!!!
Darah merah semakin keluar banyak dari tangan kanan orang gila yang sama sekali tidak mengeluarkan suara

dan hanya perlahan berdiri, dengan terus menundukan kepala.
“Pergi bangsat!” tegas Mang Tatang penuh emosi, segala pikiran berat dalam kepalanya itu terlampiaskan pada orang gila yang kini berjalan tunduk, dengan terus mengeluarkan darah

yang terlihat semakin jelas menetes di atas jalan aspal.
“Bereskan Man!” tegas Mang Tatang, menyuruh Iman membereskan pecahan beling kaca, termasuk pecahan beling yang masih menempel darah orang gila.
“Gila! Mang Tatang bisa berbuat seperti itu walau pada orang gila!” tegas Iman

ketika Mang Tatang berjalan tergesa-gesa sambil melihat ke arah handphone.
Iman masih memandang orang gila itu berjalan semakin jauh, tanpa memperdulikan luka yang terus mengeluarkan darah ditangannya.

***

LEUWEUNG LARANG TULAH

Kendaraan roda empat mewah baru saja tiba di sebuah hutan dengan hamparan pohon jati, bekas roda empat mobil itu tercetak diatas tanah berumput hijau dari mulai masuk hutan sampai berada di paling ujung, dengan tanda sebuah rumah gubuk

dibatasi pohon jati paling besar yang menjulang tinggi.
“Ini rumah bapak angkatku Imas, tenang saja kita sampai disini hanya untuk meminta doa restu, agar pernikahan kita malam nanti lancar,” ucap Pak Soma, setelah dibuka pintu oleh Mang Taya.

Perempuan dengan rambut indah panjang teramat indah itu hanya tersenyum, tubuh moleknya langsung menempel pada Pak Soma, Imas sangat begitu percaya setelah hampir setengah tahun menjalani hubungan penuh cinta dan kasih.
“Itu Ki Julhamdi sudah menunggu Pak, maaf.”

Sahut Mang Tatang.
Pak Soma dan Imas berjalan, sambil tidak henti-hentinya Imas mendengarkan cerita Pak Soma tentang masa kecilnya hidup dengan Ki Julhamdi, semua ucapan Pak Soma langsung dipercaya oleh Imas.
“Semalam saya tiba di rumah kayu Soma,

menyiapkan pernikahan kamu malam ini.” Ucap Ki Julhamdi, dengan pakaian serba hitam menyambut Imas.
Mata Ki Julhamdi terperanga dengan kecantikan perempuan yang terus memegang tangan Pak Soma dengan erat.
“Sumur sudah Aki siapkan, mari sebelum sore tiba..” lanjut Ki Julhamdi,

mengajak Imas dan Pak Soma masuk ke dalam rumah gubuk.
“Saya tunggu di luar Pak, sambil mencari angin disini sejuk.” Sahut Mang Tatang.
“Apa harus Soma aku melakukan ini?” tanya Imas sedikit ragu.
“Tidak ada yang salah Imas, percaya saja padaku ini sekedar syarat

yang dipercayai Bapak angkatku, dengan cara seperti ini kita telah menghargai dan mendapatkan restu darinya, yah.” Jawab Pak Soma, dengan mengecup kening Imas.
“Ba – baik, tapi temani aku yah.” Ucap Imas.
Satu sarung sinjang motif batik, dengan bunga-bunga pertama kali Imas lihat

begitu juga dengan Ki Julhamdi yang baru saja menyalakan lilin serta kemenyan, di dekat sumur tua.
“Pakai ini, lepaskan semua pakian kamu Imas.” Ucap Ki Julhamdi.
Imas hanya memandang tidak yakin kepada Pak Soma, namun anggukan kepala Pak Soma

hanya membuat Imas langsung berjalan ke kamar salah satu gubuk.
Ki Julhamdi hanya mengangguk kepada Pak Soma, kemudian berjalan mendekat.
“Kali ini tidak akan mulus Soma, semalam di rumah kayu ada yang mengintip aku ketika masuk, hati-hati dengan kedatangan anak itu.”

Pak Soma langsung mengerutkan dahi, seolah tidak percaya ada orang lain yang masuk ke halaman rumah kayu.
“Akan cepat Soma bereskan Ki secepatnya, setelah Imas memakai baju pengantin yang anak itu bawa ke rumah, baju pengantin laki-laki masih ada di kamar depan juga,”

“Apa tetap memakai jasa istriku sebagai perias pengantin?” tanya Ki Julhamdi.
“Tidak ada yang bisa menandingi Mak Enur dalam urusan memoles perempuan semakin cantik, selain istri Ki Julhamdi.” Jawab Pak Soma, mengingat kemampuan Mak Enur enam tahun lalu

ketika merias wanita yang ia cintai pertama kali dalam hidupnya.
“Bagus, berarti Imas bisa aku..” jawab Ki Julhamdi, tiba-tiba berhenti bicara ketika melihat kecantikan Imas, sarung sinjang yang menutupi lekuk tubuh bak gitar spanyol itu

membuat Ki Julhamdi hanya bisa menelan ludah.
Di sebelah sumur Imas sudah duduk, beberapa kali guyuran air penuh dengan bunga melati mendarat di sekujur tubuhnya, air dingin itu membuat Imas mengedipkan mata berkali-kali karena pandangannya itu mulai samar,

dan tubuhnya mulai melemah.
Wadah berisikan kemenyan itu dikelilingkan mengikuti kemolekan tubuh Imas, setiap asap-asap itu membuat Imas tak kuasa lagi menahan reaksi aneh pada tubuhnya.
“Pa – pangku ke dalam Soma!” tegas Ki Julhamdi, dengan senyum kulit tuanya itu semberingah.

Tubuh Imas sudah terbaring di kamar Ki Julhamdi, tanpa perintah Pak Soma langsung keluar kamar, menghampiri Mang Tatang yang sedang kebingungan menatap ke arah pohon-pohon jati.
“Ada apa Tang?” tanya Pak Soma.
“Tidak Pak, benarkan leuweung ini jarang ada manusia

masuk sampai ujung?” ucap Mang Tatang.
“Kecuali tamu Ki Julhamdi, mungkin.” Jawab Pak Soma.
“Tadi saya melihat orang tapi samar-samar hilang Pak, tapi ada kucing hitam saja berjalan terpincang-pincang ke arah sana.” Ucap Mang Tatang, sambil menunjuk arah barat hutan.

“Mana ada kucing di hutan seperti ini! Kalau adapun harimau.” Jawab Pak Soma.
Aaaaaa!!!
Suara teriakan Imas terdengar melewati bilik kamar, membuyarkan obrolan Pak Soma dan Mang Tatang, decit ranjang dan cengkraman tangan Imas pada sarung bantal adalah rekaman ritual

yang sedang dilakukan Ki Julhamdi.
“Te – terjadi lagi Pak.” Ucap Mang Tatang.
“Amankan rumah, malam ini juga aku nikahi Imas secara gaib! Paham!” tegas Pak Soma, sambil menyalakan rokoknya.
“Taya sudah siapkan sumur, makanan dan semuanya disiapkan Mak Sutiah Pak.” Jawab Mang Taya

bersamaan cahaya sore perlahan turun sebagaimana mestinya.
“An – anak itu?” tanya Pak Soma, tidak ada keberanian sekalipun menyebut namanya.
“Nanti saya atur Pak,” jawab Mang Tatang dengan yakin.
Cahaya sore itu menyorot tepat ke arah gubuk Ki Julhamdi

yang kini tubuh tuanya itu sudah penuh dengan keringat, begitu juga sarung sinjang yang Imas kenakan sudah berantakan.
“Nikahi dia malam ini Soma! Agar punggel ireng tidak akan berhenti selamanya..” tegas Ki Julhamdi, keluar dari rumah gubuk sambil memakai baju.

Dari kejauhan seseorang sedang berjongkok dengan tangannya masuk ke dalam saku celana memegang gelang gengge, keringat sudah membanjiri jaket dan baju yang ia kenakan, lelaki itu harus segera menemui Ki Duduy dan Kiai Tasrif akan apa yang sudah ia lihat dengan mata kepalanya.

“Iman harus selamat malam ini..” bisik hati Gama.
Bersamaan gelap yang baru saja tiba, dan ia baru perlahan mundur dari tempat ia bersembunyi, tiba-tiba ia melihat dari tubuh kakek tua satu sosok perempuan dengan lidah yang menjulur panjang,

terus menerus menjilati keringat kakek tua, bahkan ketika seseorang memangku tubuh perempuan mengenakan sarung, sosok nenek tua itu berada di celah paha perempuan dengan menjulurkan lidahnya yang teramat panjang.
Gama terus menahan agar meong hideung tidak bergerak ke arah gubuk,

segala informasi yang sudah Budi dapatkan tidak berganti hari langsung membuahkan bukti, walau tangan kanan Budi harus terluka sampai mengeluarkan darah yang tidak sedikit.

***

IMAH KAI

Waktu terus berputar terasa cepat hari ini, tubuh Iman sudah menyadar di halaman belakang dengan parang dan cangkul tidak jauh dari tempat ia duduk, beberapa rumput di halaman belakang sudah hampir selesai ia kerjakan sejak mendapatkan perintah dari Mang Taya,

yang belum sempat ia ajak bicara empat mata.
Mak Sutiah di dalam dapur sedang sibuk mengurus sayuran-sayuran yang ia simpan di atas wadah tampah, Iman melihat beberapa daging kambing hanya tergeletak begitu saja tanpa di masak Mak Sutiah.
“Ada acara apa memangnya Mak?

Pemilik rumah mau datang yah?” tanya Iman penasaran.
“Mandi, sebentar lagi magrib!” tegas Mak Sutiah.
Iman langsung berjalan ke arah kamar mandi, namun ia kini langsung melirik ke arah sumur, terdapat sosok perempuan sedang menerima guyuran air dari ujung kepala

sampai membasahi baju putih yang ia kenakan.
“Heh! Malah melamun Man!” tegas Mak Sutiah.
“Nggak Mak, mau mandi ini.” Jawab Iman langsung tergesa-gesa masuk ke dalam kamar mandi.
Guyuran air membasahi tubuh Iman, pikirannya terus berkecamuk dari apa saja yang sudah ia lihat,

namun pesan dari Mang Aep terus ia ingat.
“Malam ini juga aku harus telpon Kiai.” Bisik hati Iman.
...
Setelah shalat magrib, Iman merasakan suasana didalam rumah kayu itu sangat berbeda jauh dari malam kemarin, Mak Sutiah sudah menaburkan beberapa bunga di tengah ruangan rumah

dengan tergesa-gesa.
“Ad – ada yang mau ketemu sama kamu, orangnya di dapur, setelah beres malam ini Mak pulang Man!” tegas Mak Sutiah, sambil mulutnya terus menyepah daun sirih.
“Siapa memangnya Mak?” tanya Iman heran.
Mak Sutiah tidak menjawab, ia terus menaburkan bunga-bunga

melati yang ada dalam wadah.
“Untuk apa lagi bunga melati itu?” bisik hati Iman semakin penasaran.
Nenek tua sudah tersenyum lebar, dengan karung goni berisikan alat rias sudah ia simpan diatas meja, duduknya sedang menanti kedatangan Pak Soma, Imas, Mang Taya dan Ki Julhamdi.

“Iman Supata, sudah dewasa.” Ucap Mak Enur, langsung perlahan berdiri.
“Nenek siapa?” tanya Iman.
“Nanti juga kamu tahu siapa saya, silahkan minum.” Ucap Mak Enur.
Gelas berisikan air teh Mak Enur berikan disebelah karung goni, membuat Iman langsung meminumnya sedikit,

hingga melewati tenggorokan.
“Saya tahu sejak kamu masih bayi disana.” Ucap Mak Enur, menunjuk ke arah sumur tua itu berada, namun pandangan Iman sudah samar-samar.
Brug!
Tiba-tiba kepala Iman menyentuh meja makan, matanya seketika terlelap.
“Tugasku selesai, aku pulang Mak!”

tegas Mak Sutiah hanya melihat Iman sudah terlelap.
“Masukan dulu anak ini ke kamar Sutiah! Bantu aku!” tegas Mak Enur.
Iman seketika sudah terbaring diatas kasur, beberapa kali taburan bedak putih yang dikeluarkan dari wadah karung goni milik Mak Enur,

membuat Iman semakin tertidur lelap.
Mak Sutiah yang baru saja di jemput oleh ojek seketika kaget untuk yang kedua kalinya melihat orang gila itu berjalan melewati rumah kayu, namun ia abaikan karena sudah tahu malam ini sesuatu buruk akan terjadi di rumah kayu.
...

Jarum jam baru saja menunjukan pukul sepuluh malam, kendaraan roda empat berisikan Mang Tatang, Pak Soma, Imas dan Ki Julhamdi langsung disambut oleh Mang Taya yang sudah siaga didepan rumah.
Imas yang sudah berpakaian kini semakin menempel dan tidak ingin jauh dari Pak Soma,

kemesraan dan rasa cintanya semakin tumbuh setelah kembali dari leuweung larang tulah, tepatnya di rumah gubuk Ki Julhamdi.
“Urus wanita itu Mak!” tegas Ki Julhamdi.
Mak Enur tidak menatap sekalipun wajah Ki Julhamdi sebagai suaminya,

ia langsung berjalan masuk ke dalam kamar yang terdapat sumur.
“Mana anak itu?” tanya Pak Soma.
Mang Tatang langsung membuka kamar yang ditempati Iman.
Pak Soma seketika mengelus kepala Iman dengan perlahan.
“Nasibmu akan sama dengan Sari,” ucap Pak Soma.

“Ada di dalam baju pengantinnya Pak,” sahut Mang Tatang.
“Bawa berikan kepada Imas di sumur, sekarang! Aku akan pakai baju pengantin yang sama ketika menikahi Sari dengan saksi yang sama Ki Julhamdi, dan perias pengantin sama Mak Enur!” tegas Pak Soma,

keluar dari kamarnya berjalan ke arah kamar depan dimana Mang Taya sudah menunggunya.
Daging-daging kambing mentah dan berbagai sayuran sudah tersimpan dihadapan Ki Julamdi yang sudah duduk bersila ditenga rumah, ia tinggal menunggu Imas selesai mandi dan di rias oleh Mak Enur

dan Pak Soma yang sedang disiapkan oleh Mang Taya.
“Bongkar yang ada dibawah ranjang, lalu bawa ke tengah rumah! Paham Taya? Buktikan kesetiaanmu kepadaku malam ini!” tegas Pak Soma.
“Ba – baik Pak akan saya bongkar, dan mengeluarkannya! Sebagai mahar!” jawab Mang Taya.

“Bagus kamu masih ingat! Cepat Ki Julhamdi sudah menunggu!” tegas Pak Soma.
Ki Julhamdi sudah memejamkan matanya, hatinya terus berucap untuk mengundang semua tamu-tamu gaib yang akan mengikuti acara resepsi pernikahan malam ini.

“Setelah pernikahan, mayat anak itu akan dikubur bersama Sari.” Bisik hati Ki Julhamdi.
Mang Tatang sudah berjalan perlahan ke arah dapur, tangannya memegang baju pengantin peninggalan Ibu Sari yang ia ambil dari dalam tas Iman, untuk diantarkan ke Mak Enur

yang sedang memandikan Imas.
Eee! Eee!
Satu kali dekapan tiba-tiba mendarat di mulut Mang Tatang, ketika baru saja satu langkah menginjakan kaki di dapur, tanganya langsung terkunci tak bisa bergerak sedikitpun.

Mata Mang Tatang melihat sedikit ke arah belakang, rambut gondrong dengan pakaian lusuh itu telah mendekapnya sekuat tenaga.
“Ingat luka ini siang tadi?” bisik Budi perlahan, menyeret Mang Tatang keluar rumah.
Mang Tatang tidak dapat menjawab ucapan Budi,

ia tidak menyangka lelaki gila siang itu yang ia siksa dan diberikan luka, malah membawa hal buruk untuk dirinya.
“Bi – biar aku ajarkan caranya membuat luka di tangan yang benar,” bisik Budi perlahan.
Kreeekkk!

Satu kali gerakan tangan Budi dapat membuat tulang tangan Mang Tatang patah.
Arrrrrghhhhhh!!!
“Ti – tidak usah berteriak, berisik!” bisik Budi dengan dingin.
Sreeeeeetttt!!!
Pisau andalan Budi yang dikeluarkan dari belakang pinggang itu langsung menancap di tangan Mang Tatang,

membuat luka yang sama dengan tangan Budi namun jauh lebih dalam hingga mengenai bagian daging.
Krekkkkk!!!
Dua tangan Budi langsung memutar kepala Mang Tatang hingga ia tergeletak diatas lantai teras belakang rumah, bersama darah yang memancar jauh lebih banyak.

“Ini baju pengantin yang harus aku ambil, agar pernikahan itu tidak terjadi, sesuai perintah Gama.” Bisik Budi dalam hatinya.
Baru saja tangan Budi mengambil baju pengantin yang tergeletak tiba-tiba.

Aaaaa!!!
Teriakan kencang terdengar dari kamar Iman, tubuhnya terjatuh dari atas ranjang, setiap keringat Iman sedang dijilati bak darah oleh sosok Ibu Sari.
“Siapa itu!” teriak Mang Taya ketika akan mengambil cangkul didapur, kedua matanya langsung mendapati lelaki gondrong

memegang baju pengantin, namun ia melihat Mang Tatang sang kakak yang sudah terkapar mengenaskan.

***

Bersambung Part 5

Mampukah Iman selamat malam itu, setelah perlahan rentetan misteri menghampirinya? Apakah ritual itu akan terus terjadi? Atau keadaan Iman semakin berbahaya dengan keselamatan nyawanya?

Bagaimana lelaku Kiai Tasrif dan Ki Duduy? Apakah akan membuat Gama dan Budi bertindak lebih jauh, membawa Iman keluar dalam incaran punggel ireng?

Baca Part (5) Kunci Darah Daging, sambil memberikan dukungan yah teman-teman bisa langsung klik link dibawah, untuk download eBook.
karyakarsa.com/qwertyping/pun…

Dan sudah tersedia Part (6) Kesumat, bisa langsung teman-teman download eBook juga untuk melanjutkan kisah Punggel Ireng ini, silahkan.
karyakarsa.com/qwertyping/pun…

Share this Scrolly Tale with your friends.

A Scrolly Tale is a new way to read Twitter threads with a more visually immersive experience.
Discover more beautiful Scrolly Tales like this.

Keep scrolling