Togog Tejamantri
Sesuai ramalan Kaca Benggala milik Raden Wibisana, “ksatria putih” utusan Rama tiba di Alengka. Meski utusan itu kini terlihat tak berdaya terikat oleh kekuatan panah sakti Indrajit, tp beberapa penduduk masih waswas: jangan2 ia benar2 akan mendatangkan bencana.
“Ah tidak mungkin. Lihat saja ia sudah terikat begitu. Tumpukan kayu sdh siap. Sebentar lagi Prabu Rahwana akan melakukan ritual pembakaran, sebagai pesan kepada para kera di Gunung Suwelagiri bahwa mereka akan menjadi abu kalau berani macam2 dengan Alengka” kata sesosok raksasa.
Tetapi sesosok raksasa lain diam2 mengambil buah kelapa gading. Ia bawa buah kelapa itu mendaki tumpukan kayu yg menggunung, menjumpai Hanoman yang pura2 terikat lemah di puncaknya.
“Wahai ksatria putih. Aku melihat ketulusan sekaligus kekuatan didalam dirimu.
Maafkanlah rakyat kami yang tidak tahu diri ini. Mereka mencuri, mereka menghina, mereka melanggar dharma, tetapi mereka pula yang sombong, angkuh dan marah saat dikritik. Kini mereka malah menantang perang. Sungguh mereka telah jauh meninggalkan kebenaran.
Tapi ketahuilah wahai kera putih yang baik hati, tidak semua rakyat alengka seperti itu. Banyak dari mereka yang sebenarnya memiliki hati yg bersih. Hanya mereka tidak mendapat tempat dalam hiruk pikuk angkara murka ini” kata raksasa tersebut.
Ia adalah Togog Tejamantri, tetua raksasa yg bijak dan berhati lembut. “Oleh karenanya, wahai ksatria utusan Rama, aku datang mewakili mereka membawakanmu air kelapa gading ini, sbg obat dahagamu. Semoga kamu akan mampu melihat dan memisahkan, mana yg baik dan mana yang buruk.
Agar hukumanmu tidak sampai mengorbankan mereka yg tidak berdosa” katanya melanjutkan. Ia menunduk, setengah menyembah.
“Wahai raksasa berbudi. Aku akan minum air kelapa gading pemberianmu ini. Terimakasih atas kebaikan hatimu. Kamu bisa pegang kata2ku:
percikkanlah air kelapa gading di setiap rumah, dan aku berjanji api tak akan menjamah rumah2 yg telah mendapat setetes air kelapa gading yg menjadi bukti ketulusan hatimu ini”.
Tiba2 dibawah, ribuan raksasa menjadi riuh. Rahwana datang berpakaian putih2 dengan obor di tangan.
Ia siap melakukan ritual. Hatinya selalu panas. Kata2nya selalu menyakitkan. Kebenciannya membakar. Itulah karakternya. Ia lupa, dengan karakter itu, yang paling menderita adalah dirinya sendiri. Yg pertama kali terbakar juga adalah dirinya sendiri.
Sementara itu Togog Tejamantri berlarian dari rumah ke rumah menercikkan air kelapa gading. Rumah2 yg dihuni oleh penduduk Alengka yang berbudi, yang tidak setuju dengan sifat rajanya.
Bersamaan dengan itu, Rahwana sudah selesai dengan ritualnya.
Ia menyulutkan api pada tumpukan kayu dimana Hanoman terikat diatasnya. Api membumbung disambut sorak sorai para raksasa. Tapi lihatlah, ada sesosok mahluk putih berenang2 ditengah kobaran api. Ia nampak seperti kapas yg bermain2 ditengah kepulan asap.
Berkat restu Dewa Agni saat dulu Hanoman kecil merengek mencari ibunya, Dewi Anjani, Hanoman dewasa kini merasakan kesejukan tiada tara saat berselimut api. Ia meniup2 api agar semakin besar, lalu menyebarkannya ke atap2 rumah se kota Alengka. Dlm sekejap, Alengka mjd lautan api.
Para raksasa menjerit2. Mereka tak tau harus kemana karena mata mereka perih oleh asap yg disulut oleh junjungan mereka sendiri.
Di kejauhan, Togog Tejamantri termenung. Ia melihat ditengah lautan api itu, ada titik2 dimana beberapa perkampungan tak terjamah api.
Rumah2 utuh dan penghuninya khusuk melantunkan nyanyian dharma. Sesuai janjinya, api Rahwana yang disebar Hanoman tidak menjamah mereka. Sesuai janji Weda : dharmo raksati raksitah. Siapa yang menjalankan dharma, ia akan dilindungi oleh dharma.
***
***
Sobat. Saat api kemarahan membakar dan asap kebencian serta penghinaan begitu pekat, bersikaplah spt Togog Tejamantri. Lakukan persembahan. Nyanyikan kidung dharma. Semoga api itu tak membakarmu. Semoga asap itu tak memerihkan matamu, shg kamu tetap dpt melihat kebenaran.
🙏
Share this Scrolly Tale with your friends.
A Scrolly Tale is a new way to read Twitter threads with a more visually immersive experience.
Discover more beautiful Scrolly Tales like this.
