HinduGL Profile picture
Berbeda2 tetapi lucu jua

Apr 13, 2020, 26 tweets

Dukung Mendukung

Dari itihasa Mahabharata. Semua usaha damai berakhir dengan kegagalan sehingga Perang Bharata yudha sudah dipastikan terjadi. Kedua pihak, Pandawa dan Kurawa, bergegas membangun koalisi untuk memperkuat pasukan tempur masing2.

Diantara sekian banyak kisah membangun koalisi, berikut adalah beberapa peristiwa yang menarik untuk dipetik :

1. Koalisi Dwaraka: antara Kekuatan dan Keyakinan
Baik Pandawa maupun Kurawa menganggap Dwaraka adalah calon sekutu strategis.

Selain ada duo Vasudewa Krisna dan Balarama yang kesaktiannya tak tertandingi di seantero bangsa Bharata, juga ada angkatan perang Dwaraka yang termasyur. Mereka hampir tidak pernah mengalami kekalahan dalam medan perang manapun, serta terkenal ahli dengan segala jenis senjata.

Duryodana yang pergi mewakili Kurawa, merasa optimis karena ia merasa menjadi murid kesayangan Balarama. Sementara Arjuna yang datang mewakili Pandawa, merasa optimis karena menjadi teman dekat sekaligus ipar Vasudewa Krisna dan Balarama.

"Aku memutuskan membagi kekuatan Dwaraka mjd 2 : satu pihak, balatentara Dwaraka yg termasyur, dilain pihak, aku sendiri tanpa senjata dan tidak terlibat dlm pertempuran taktis. Krn saat membuka mata aku pertama kali melihat Arjuna, maka aku persilakan Arjuna yg memilih duluan".

Demikian sabda Krisna. "Aku tidak berhak memilih, Vasudewa. Aku hanya berhak memohon. AKu memohon sudilah kiranya engkau sendiri berada di pihak kami, tanpa pasukan, tanpa senjata. Ya, engkau sendiri, karena bagi kami, engkau adalah kebenaran" Arjuna menyembah penuh hormat.

Duryodana yang semula khawatir, hampir saja berteriak kegirangan. Sambil menahan luapan kegembiraan hatinya, ia berkata "Baiklah, terimakasih atas kedermawananmu, Arjuna. Aku dengan senang hati menerima bantuan berupa balatentara Dwaraka"

Vasudewa Krisna tersenyum "Jadi, sepertinya kalian mendapatkan apa yang masing2 kalian inginkan. Arjuna mendapatkan aku sesuai keinginannya, Duryodana mendapatkan ribuan angkatan perang Dwaraka sesuai harapannya. Setiap orang membuat pilihan sesuai sifat2nya masing2.

Yang satu memilih karena kepentingan dan pertibangan untung-rugi, yang satu memilih karena keyakinan akan kebenaran dan cinta. Dan, kalian berdua telah mendapatkannya"

2. Musuh dari musuhku adalah temanku
Ketika pandawa mengalami masa pembuangan di hutan, Jayadrata dari kerajaan Sindhu yang kebetulan berburu di dekat gubuk Pandawa tidak mampu menahan diri melihat kecantikan Drupadi.

Jayadratapun menarik paksa Drupadi kedalam keretanya dan memacu kencang kuda2nya dengan niat menculik Drupadi. Tapi sial bagi Jayadrata, Pandawa yang selalu waspada berhasil menghadangnya, dan Bima yang marah bukanlah tandingan Jayadrata.

Hanya krn Drupadi ingat akan nasib sahabatnya, Dursala, yg adl istri Jayadrata, maka Jayadrata diampuni. Tp sbg hukuman, Bima menggunduli rambutnya yang membuatnya menanggung malu. Dendamnya membakar hari2nya, padahal dia sendirilah yang memulai melakukan kejahatan.

Tp dendam dan kebencian tdk memerlukan alasan.
Maka ketika ia mendengar persiapan perang Bharatayudha, ia segera mengumpulkan pasukannya utk bergabung dgn Kurawa. Siapapun musuh Pandawa akan dijadikannya sahabat, tak peduli siapa di pihak yg benar dan siapa di pihak yg salah.

Tidak peduli apa perkara yang menimbulkan perang. Musuh dari musuhku adalah temanku.

3. Tertipu
Prabu Salya, Raja Kerajaan Mandaraka adalah paman dari Nakula-Sahadewa, karena ibunda Nakula Sahadewa, Madri, adalah adik Prabu Salya.

Setelah mendengar kepastian perang Bharatayudha, Prabu Salya membawa pasukan besar menuju satu sisi medan Kurusetra untuk menyatakan dukungan terhadap Pandawa. Di tengah jalan rombongannya singgah beristirahat dalam sebuah perkemahan lengkap dengan segala jenis hidangan.

Salya dan pasukannya menikmati jamuan itu krn mengira semuanya berasal dr Pandawa. Tiba2 Duryodana muncul dan mengaku sebagai pemilik perkemahan tersebut beserta isinya. Sesungguhnya ini adalah siasat Sengkuni untuk mengelabui Salya agar terpaksa bergabung dengan Kurawa.

Sbg seorang raja yang hrs berlaku adil, Salya terpaksa memihak Kurawa. Ia telah menikmati hidangan dari Duryodana.

4. Hutang Budi
Karna, anak Kunti hasil keisengannya memanggil Bhatara Surya dgn mantra sakti pemberian Maharsi Durvasa, terlibat persaingan popularitas dgn Arjuna.

Ketika lomba ketangkasan senjata putra2 kerajaan Hastina sedang berlangsung dan Kurawa berada diujung kekalahan, Karna yg telah diangkat anak oleh Adhirata, seorang kusir kereta, maju ke gelanggang menantang Arjuna. Tp adab Ksatria hanya membolehkan pertempuran sesama Ksatria.

Maka Duryodana yang melihat Karna sebagai pion terakhir yg bisa memberinya peluang kemenangan, berkata “agar Karna bisa bertarung dengan Arjuna, aku mengangkatnya sbg Raja wilayah Anga”. Sejak hari itu, Karna menjadi seorang raja.

Jabatan yg membuatnya bisa melampiaskan hasrat persaingannya dgn Arjuna, meski hrs dibayar dukungan tanpa syarat pd Duryodana. Termasuk ikut bersorak dan bertepuk tangan saat Dursasana menarik kain Drupadi.

5. Sumpah Prajurit
Bagi Eyang Bhisma, Kurawa dan Pandawa adalah sama.

Sama2 cucu. Bagi Wikarna, Kurawa adalah saudara kandung, dan Pandawa adalah sepupu. Mereka berdua mengetahui, Kurawa ada di pihak yang salah. Meski demikian, mereka berdua adalah ksatria Hastina. Maka ketika Hastina berperang, mereka wajib membela.

Dilema mereka persis sama dengan Kumbakarna dan Patih Prahasta di jaman Alengka. Sumpah Prajurit mengikat mereka untuk membela negara.

6. Netral
Rukma adalah kakak Rukmini, istri Vasudewa Krisna. Dulu Rukma bertempur dengan Krisna karena tidak setuju dengan pernikahan adiknya.

Dlm pertempuran itu ia kalah, lalu mendirikan ibukota baru di bekas pertempuran, bernama Bojakota. Ketika ia mendengar perang Pandawa dan Kurawa, ia menghadapi dilema: memihak Kurawa, ia tau Kurawa bersalah. Memihak Pandawa, ia tau disana ada Krisna.

Maka iapun memutuskan tidak memihak siapa2. Ia satu2nya kerajaan di wilayah Bharata yang tidak ambil bagian dalam perang Bharatayudha.

****

Itihasa Mahabharata adalah lakon kehidupan. Ia menceritakan, bahwa seringkali hidup tidak hitam putih.

Motif manusia tdk sll sama shg tidaklah adil menghakimi tanpa memahami kedalaman bathinnya. Itihasa mengajarkan, bahkan di pihak Kurawa ada pasukan Dwaraka. Ada Salya yg hatinya memihak Pandawa. Ada ksatria agung Bhisma & Wikarna yg berdiri disana hanya krn terikat sumpah ksatria

Di akhir pertempuran, Bhisma tdk kehilangan keagungan meski gugur di pihak Kurawa. Semua orang menghormati keteguhan hatinya. Bahkan langit menaburkan bunga2 diatas tubuhnya yg dihias panah Arjuna.

Pelajaran dr kisah ribuan tahun lalu itu, masih relevan utk saat ini.

🙏🙏🙏

Share this Scrolly Tale with your friends.

A Scrolly Tale is a new way to read Twitter threads with a more visually immersive experience.
Discover more beautiful Scrolly Tales like this.

Keep scrolling