DI KEDALAMAN MALAM
A Thread
By Kisah Tanah Jawa
Akhirnya kutemui tempat berteduh di dalam hutan, sebuah gua yang hampir seperti luweng, lubangnya menjorok ke bawah.
Walaupun saat itu air merangsek ke dalam gua, setidaknya aku masih bisa berteduh. Aku naik pada bebatuan yang permukaannya tidak digenangi air hujan yang kian lama membanjiri gua.
Malam itu aku tidak bisa memejamkan mata walau badan ini sudah tidak mampu lagi menumpu rasa lelah. Namun rasa cemas selalu membayangi, silih berganti dengan was-was yang datang tiap kali.
Dan di dalam gua yang sangat gelap, tentu aku tak berani melangkahkan sedikit jarak ke dalam. Aku hanya memberanikan diri duduk di bibir gua, yang samar-samar diterangi bias rembulan.
Rasa takut akan sirna ketika pagi menyingsing. Kantung mata yang semakin menarikku untuk meminta istirahat dari kerja dua puluh empat jamnya ini sepertinya harus ku akhiri.
Selang beberapa menit aku sudah tidak ingat apa yang terjadi. Baru aku bangun ketika malam hampir menjemput di penghujung senja. Dan aku langsung terperanjak oleh suara langkah yang mendekat.
Aku semakin cemas ketika suara itu semakin mendekat dari dalam gua. Ia membawa bau yang amis, langkahnya pelan dan semakin mendekat. Ketika ku amati betul, terlihat dua bola mata yang memancar ke arahku dan seketika berlari melintasiku.
Ternyata itu seekor kucing hutan dengan ukuran sebesar anjing kampung. Bau amis itu dari daging yang digigit dimulutnya yang masih meneteskan darah. Namun makin lama bau itu makin menyeruak dan menempel di dinding gua.
Bau itu jadi menghantuiku, baunya bukan main busuknya. Aku beranikan diri menilik ke sumber bau itu, karena cahaya masih menembus gua. Semakin aku berjalan ke dalam gua, bau itu semakin menyengat.
Langkah terakhir ku hentikan mungkin berjarak beberapa meter dari tumpukan karung di depan mataku, aku melihat tangan menjulur. Aku mendapati tumpukan mayat yang sengaja dibuang di gua ini. Dan tak lama berselang perasaan takut semakin memuncak.
Ketika ku dengar derap langkah kaki mendekat, suaranya seperti langkah satu regu pasukan. Perasaan ini tak karuan, aku langsung menyelinap di antara tumpukan mayat tersebut. Bau bangkai yang menyengat sudah tidak aku hiraukan.
Aku lebih baik bersembunyi, menyelamatkan diri. Di tumpukan itu, nafasku berpacu dengan derap jantungku yang semakin mengacau. Sebisa mungkin aku menenangkan diri, benar-benar aku tidak memiliki ruang mana lagi untuk bersembunyi.
Beberapa langkah kaki itu bisa ku dengar dan rasakan kini sudah berada di depan tumpukan mayat, tempatku bersembunyi. Aku tidak bisa melihat mereka. Namun bisa ku rasakan dan ku dengar mereka kembali membuang mayat dan membaringkannya ke tumpukan itu.
Kemudian mereka beralih keluar gua. Sampai dua harmal aku ditumpukan ini, tak berani bergerak karena mereka berjaga di mulut gua.
Entah sampai kapan entah. Malam-malam seperti setiap waktu, tak lagi ku lihat matari. Mungkin kegelapan akan menjadi kekekalan untukku.
Kontributor: Banisrael
Ilustrator: Kakak Day
Share this Scrolly Tale with your friends.
A Scrolly Tale is a new way to read Twitter threads with a more visually immersive experience.
Discover more beautiful Scrolly Tales like this.
