Sanad Media 🍉 Profile picture
Ulama Al-Azhar & Ahlus Sunnah # Dakwah # Kajian # Kelas Online Kampus Sanad. Support Kami! https://t.co/dfja9nVcLD

Jul 2, 2020, 18 tweets

KERAMAT ADA PADA KERIDHAAN

Oleh: Ustadzah Hilma Rosyida Ahmad

Para ulama berbeda pendapat tentang siapakah yang afdhal atau lebih hebat: orang kaya yang bersyukur ataukah orang fakir yang bersabar?

(Utas)
#sanad #sanadmedia

Para ahli tashawwuf menyatakan bahwa orang yang faqir yang bersabar lebih hebat.

Sementara para ulama mengatakan bahwa orang kaya yang bersyukur lebih hebat, dalilnya: orang-orang fakir di kalangan shahabat mengatakan: "orang-orang kaya membawa pahalanya"..

Ceritanya: Rasulullah SAW mengajarkan dzikir pada kaum faqir, dzikir yang pahalanya menandingi berinfaq, ternyata orang-orang kaya juga berdzikir yang sama, akhirnya kaum fakir agak sedih".

Rasululullah SAW menjawab: "Itulah anugerah Allah yang diberikan pada siapa yang dikehendaki-Nya".

Nah, dari hadits itu menunjukkan bahwa orang kaya yang bersyukur afdhal..

Dan para wali karena mengetahui sulitnya kefakiran pada diri seseorang, sementara jalan kewalian adl dengan melawan nafsu, maka kefakiran lebih pas untuk mengobati hawa nafsu dari pd kekayaan yang sesuai dg keinginan/naluri diri.

Jadi kenapa kefakiran afdhal menurut para wali?

Karena mengobati nafsu, melawannya, melawan keinginannya yang ada dari kecintaan pada harta.

Karena semakin kamu melawam nafsumu maka kamu semakin dekat dengan Tuhanmu..

Sementara orang kaya; kekayaan itu sesuai dengan naluri diri, membuat nafsu makin kuat..

Makanya orang kaya yang bersyukur afdhal menurut para ulama, lebih baik dari orang sabar yang bersyukur, yang menurut para wali afdhal.

Karena para wali menilai pada usaha melawan nafsu bukan pada hal yang sesuai dengan nafsu.

Dan thareqat al-Yusriyah dalam menghimpun 2 pendapat para ulama & para wali adalah apa yang ditaqdirkan padamu adalah afdhal untukmu.

Karena "Sebagian dari hamba-Ku yang tidak cocok kecuali kaya, apabila Aku miskinkan, dia jadi rusak. Sebagian hamba-Ku ada yang tidak cocok kecuali kefakiran sehingga jika kaya dia jadi rusak".

Jadi orang fakir yang ditaqdirkan faqir; jangan berandai-andai menjadi kaya, karena boleh jadi kalau seandainya dia kaya, dia mungkin saja menjadi orang jahat.

Biarkan dia dalam kefakirannya, duduk bedzikir memegang tasbih ma sya Allah, duduk di masjid Sayyidi ad-Dardir & menghadiri dars Shahih al-Bukhari... suatu yang indah..

Tapi boleh jadi seandainya Allah SWT Memberikannya banyak harta, dia mungkin saja duduk di sisi seorang penari perempuan, di depannya gelas khamr sambil bermain judi.

Jadi apa yang lebih pas untuknya?

Tentu saja kefakiran & dia duduk di sini.. "Sebagian hamba-Ku ada yang tidak cocok kecuali kefakiran".

Jadi mengumpulkan kedua pendapat dari para ulawa & awliya adalah pada keridhaan dengan yang ditaqdirkan Allah SWT.

Apabila Allah SWT Mentaqdirkan untukmu kekayaan, maka itu lebih baik untukmu, dan kamu berkewajiban bertaqwa pada Allah dalam kekayaanmu.

Apabila Allah SWT Mentaqdirkan untukmu kefakiran, maka bersabar & bersyukurlah pada-Nya atas apa yang ditaqdirkan padamu.

Jadi keridhaan dengan yang ditaqdirkan adalah karamat sesungguhnya.

Fahamkan Ya Sayyidi?

Jadi keridhaan dengan yang ditaqdirkan adalah karamat sesungguhnya

Yang kaya tidak perlu mendambakan faqir, dan yang miskin tidak perlu mendambakan jadi kaya..

Masing-masing ridha pada yang ditaqdirkan oleh Allah SWT..

Begitulah keseluruhan cerita untuk mengumpulkan pendapat para ulama & para awliya karena kadang terjadi pertengkaran antara para ulama & para awliya..

Terjemah dari faedah Maulana Syekh Yusri Rusydi hafizhahullah:
الرضا بالإقامة عين الكرامة . - د. يسري جبر

Foto oleh Firdaus Irwan

Share this Scrolly Tale with your friends.

A Scrolly Tale is a new way to read Twitter threads with a more visually immersive experience.
Discover more beautiful Scrolly Tales like this.

Keep scrolling