Menurut artikel ini, ada 3 faktor penting yang menyebabkan Indonesia menjadi "juara" dalam jumlah kasus CoViD19 di Asia Tenggara:
*kurangnya tes (penting utk tracing)
*pemerintah yg tak konsisten (sending mixed messages)
*buru-buru melonggarkan aturan karantina wilayah
Kapan itu Menkes bilang, serapan dana rendah karena "kasusnya masih sedikit" (?). Kenapa tidak dialokasikan untuk tes massal ya. Makin cepat ketahuan, bisa segera diisolir dan ngga merembet ke mana-mana.
Poin kedua, pemerintah yang tak konsisten. Ini sejak dari awal banget udah terlihat jelas. Saat Presiden sudah menghimbau utk mulai pake masker, jaga jarak, hindari kerumunan, Menkes malah bikin acara seremonial, pake salaman2 pula. Diliput TV nasional. Dan ngga cuma sekali lo.
Poin ketiga, sudah cukup jelas ya.
Saat ini pertambahan kasus tiap hari masih sangat tinggi. Belum ada tanda2 kurva akan melandai. Tapi lihatlah sekeliling kita, sudah banyak yang gak peduli lg dgn protokol kesehatan. Masih banyak yg tak bermasker di ruang publik.
Ditambah lagi masih banyak tokoh masyarakat (online maupun offline) yang masih meragukan betapa seriusnya penyakit ini. Ada yang krn percaya teori konspirasi, ada yang menganggap media terlalu lebay, ada jg yg meyakini kalau tenaga medis ambil untung dari wabah ini.
Sedih..🙁
Saya yang kebetulan punya bbrp teman+saudara yg berprofesi sebagai tenaga medis, pengen nangis mendengar tuduhan2 itu.
Mungkin saja ada oknum nakes yg "nakal", tp mbok ya jangan nggebyah-uyah. Jauh lebih banyak nakes yg tulus bekerja, dan bahkan sampe skg ndak dapat tunjangan.
Buat yang masih skeptis dan terkesan meremehkan wabah ini, saya ingin bertanya, bagaimana menyikapi berita bergugurannya para nakes di berbagai daerah?
Ada satu keluarga di Madura, bapak-ibu dan anak, semuanya tenaga kesehatan, meninggal dalam waktu yang berdekatan.. 😢
Tak cuma nakes. Beberapa hari ini rasanya makin sering mendengar berita lelayu, kyai2 pengasuh pondok pesantren yang meninggal dunia. Beberapa di antaranya masih muda. Tentu tak semuanya karena covid, tapi yang terbukti positif pun cukup banyak. Suatu kehilangan besar buat umat.
Maka pesan Abah dalam acara bersama PDNU (Perhimpunan Dokter Nahdlatul Ulama) kmrn menjadi penting, al: "untuk soal kesehatan, termasuk urusan virus, kita harus mendengar kata dokter. Tawakkal saja tak cukup, tp kita juga harus hifdun-nafs (menjaga diri)"
instagram.com/tv/CCyDaeUDsky…
Doa dan dukungan saya pada semua tenaga kesehatan yg berjuang di garis depan. Sebagai rakyat biasa, yang bisa saya lakukan hanya itu saja. Tentu dengan tetap mematuhi protokol: menghindari keramaian, selalu pake masker jika harus keluar, jaga jarak dan sering2 cuci tangan.
...plus makan yang benar, istirahat cukup, dan jangan lupa bahagia..😊
Kaus dari Abah ini, bertuliskan "Aku menyayangimu dan menghormatimu, maka aku memakai masker"..
Mohon maaf kaus-nya sementara ini masih limited edition, hanya untuk keluarga..🙏
Have a nice day😊
Another example of "mixed messages" : pejabat pemerintah yang memberi contoh buruk pengabaian protokol kesehatan.
Catat ya gaes, pake faceshield saja tak cukup, harus tetap pake masker juga.
Share this Scrolly Tale with your friends.
A Scrolly Tale is a new way to read Twitter threads with a more visually immersive experience.
Discover more beautiful Scrolly Tales like this.
