Rodri Tanoto (陳曉陽) Profile picture
🧠: Medicine, Global Health | ✊: Social Justice, Empowerment | ❤️: History, Folklore | 🧐: He/Him/'Koh'. Personal opinion; no quoting please.

Jul 27, 2020, 14 tweets

Teman-teman yang baik, tidak disangka, hampir 8 bulan sejak kasus pertama COVID-19 ditemukan. Dengan simpang siurnya badai informasi, tidak heran jika kemudian ada yang meragukan kondisi COVID-19 ini sebenarnya. Saya akan menjabarkan sebisanya, berdasarkan pengetahuan saya.

Dgn berat hati saya harus bilang bahwa COVID-19 ini memang ada, dan bukan manipulasi media, apalagi buatan lab. COVID-19 terjadi karena ekosistem virus di alam liar mendekat ke manusia, shg virus yang bersarang di hewan liar, dapat hinggap, berubah, dan berbahaya bagi manusia.

Hal ini terjadi karena berbagai faktor, termasuk kerusakan hutan, perubahan iklim, dan sebagainya, namun intinya adalah eksploitasi yang menyebabkan kerusakan alam. Pesan nenek moyang soal jangan merusak alam? Sayangnya, penunggu hutan itu benar adanya, dan bukan makhluk halus.

Apakah benar COVID-19 semengerikan yg diceritakan di media? Saya tidak tahu; mengerikan itu relatif. Walaupun bacaan kita sama, interpretasi bisa berbeda. Yg jelas, per 27 Juli, terdapat 16 juta kasus positif, dan 646 ribu kasus meninggal. Penambahan kasus 200.000 perhari.

Sbg gambaran, jumlah penduduk Jakarta 11 juta jiwa. Kasus kematian akibat HIV di dunia adalah 770 ribu pada tahun 2018. Seperti itu kurang lebih kontekstualisasi dari angka kasus COVID-19. Dan ini terjadi dalam kurun waktu 8 bulan, dengan segala macam usaha pencegahan.

Jadi, jika tidak ada orang yang anda kenal yang terkena COVID-19, anda sungguh beruntung. Maksud saya, benar-benar beruntung dalam hal anda punya privilese yang tidak dimiliki sebagian besar manusia di dunia ini. Privilese? Sayangnya, iya.

COVID-19, seperti halnya penyakit menular lainnya (dan juga penyakit tidak menular), lebih berdampak kepada mereka yang terpinggirkan. Kelompok pekerja informal yang tak kerja maka tak makan, keluarga miskin yg hrs tinggal berhimpit-himpitan di wilayah kumuh, ....

Perempuan yang harus mengorbankan karirnya atas nama keluarga dan anak, lansia dengan berbagai penyakit komplikasi, dan sebagainya. Saya bicara aspek mudah tertularnya, maupun dampak sosial dari COVID-19 itu sendiri. Bersyukurlah yg pny tabungan, bisa WFH, dan gaji tdk dipotong.

Maka sebagai manusia yang baik, berbaik hatilah dan lakukan apapun yang anda bisa lakukan untuk tidak menambah beban hidup mereka yang terpinggirkan. Jangan memperburuk kondisi COVID-19, karena anda tidak pernah tahu anda pembawa atau bukan. Bisa saja anda akan menulari mereka.

Atau sebaliknya. Bagaimana caranya? Tidak bosan-bosannya saya mengatakan: pakai masker, #DiRumahAja, cuci tangan secara rutin, dan menjaga jarak. Tujuannya simpel, perlambat laju penularan virus, sehingga sistem kesehatan punya kesempatan untuk bekerja.

Sekarang ini adalah adu balap-balapan antara sistem kesehatan dan persebaran virus. Dalam hal belum adanya obat yang efektif, maka kunci pencegahan penularan adalah test, trace, isolate, and support. Biarkan sistem kesehatan bekerja, jangan sampai mereka kewalahan.

Jika anda masih belum percaya juga, saya hanya ingin menekankan bahwa menipu 216 teritori itu tidak segampang menipu anak bahwa Sinterklas itu nyata. Hampir tidak mungkin membuat sebuah konspirasi yang melibatkan 216 teritori dan ratusan lembaga internasional.

Maka jauh lebih masuk akal jika kenyataannya adalah kemungkinan yang paling sederhana, bahwa COVID-19 itu benar adanya. Dan sebenarnya, bukan berarti kengerian dari COVID-19 ini hanya bisa membuat kita pasrah. Tidak sama sekali.

Karena sebenarnya, COVID-19 bisa dikendalikan dengan sebuah gotong royong yang sederhana, sekali lagi; pakai masker, cuci tangan rutin, jaga jarak, dan #DiRumahAja.

Salam sehat dan sejahtera untuk kita semua.

Share this Scrolly Tale with your friends.

A Scrolly Tale is a new way to read Twitter threads with a more visually immersive experience.
Discover more beautiful Scrolly Tales like this.

Keep scrolling