Poltak Hotradero Profile picture
Co-founder GenerativeMind

Sep 1, 2020, 18 tweets

Ini keren!

Dari sekitar dua tahun lalu, para ilmuwan sudah ancang-ancang mendesain cara paling efektif untuk mengendalikan nyamuk.

Tujuannya sih untuk menekan penyakit manusia di mana vektor-nya adalah nyamuk. Malaria, DBD, Zika, Chikungunya, dll.

Nyamuk hilang, wabah pun terhenti.

Nyamuk adalah hewan pembunuh nomer wahid di dunia. Tiga perempat JUTA orang tewas tiap tahun karena penyakit yang dibawa oleh nyamuk. Terbanyak di Afrika.

Ini salah satu faktor yang membuat potensi Afrika terhambat.

gatesnotes.com/health/most-le…

Padahal Afrika sangat luas dan penduduknya bertumbuh.

Penyakit yang dibawa oleh nyamuk membuat kualitas hidup manusia di berbagai tempat di Afrika menjadi lebih rendah, sehingga ikut menekan produktivitas manusia, baik dalam kegiatan belajar maupun bekerja.

Tingkat kelahiran pun menjadi sulit diturunkan.

Kok bisa? Karena di negara berkembang kematian bayi dan balita mendorong ibu-ibu untuk lebih kembali melahirkan anak, menggantikan yang meninggal.

Bila angka kematian balita bisa ditekan, kelahiran bisa ikut turun.

Dan bila angka kelahiran bisa ditekan, maka bisa lebih banyak partisipasi perempuan dalam angkatan kerja, baik secara formal maupun informal.

Memang masalah dengan Afrika maha kompleks, tapi setidaknya nyamuk adalah satu yang bisa ditangani.

Di tahun 1970-an, para ilmuwan pernah mencoba metode irradiasi nyamuk.

Lewat seleksi alam, dibuat nyamuk "unggulan" secara fisik. Lalu nyamuk ini dipaparkan sumber radiasi supaya mandul, lalu dilepas ke alam bebas.

Di alam bebas, nyamuk ini akan mampu mengungguli para nyamuk pesaing alaminya saat kawin, tapi tidak akan mampu berkembang biak, karena mandul.

Dengan cara ini, pada siklus berikutnya jumlah nyamuk akan berkurang. Sialnya, metode ini tidak bisa permanen.

Perlu pasokan nyamuk mandul hasil radiasi secara berkali-kali supaya populasi dapat terus konsisten turun. Begitu program ini terhenti, dalam beberapa siklus - populasi nyamuk akan kembali lagi seperti semula.

Percuma.

Pelajaran lain dari kegagalan lewat metode irradiasi ini: evolusi tetap bekerja.

Saat nyamuk hasil irradiasi jumlahnya turun dan kemudian menghilang, muncul generasi baru nyamuk yang berkembang lebih cepat daripada generasi berikutnya.

Ini mirip seperti apa yang terjadi di Australia saat manusia membasmi kelinci liar.

Kelinci liar yang berkembang biak sangat cepat dan menghancurkan tanah berumput hingga menjadi gurun - dibasmi secara sistematis di tahun 1950-an.

Cara membunuhnya? Dengan virus Myxoma.

Virus Myxoma disebarkan oleh serangga (terutama kutu dan nyamuk) sengaja disebar manusia agar menggigit dan menulari kelinci liar, yang kemudian terjangkiti Myxomatosis, jatuh sakit, dan kemudian mati.

Awalnya cukup efektif. Dalam waktu singkat jutaan kelinci liar mati.

Virus Myxoma berasal dari alam bebas. Kelinci liar di benua Amerika biasa menjadi inang tempat virus ini berkembang, tapi kalaupun sampai sakit tidak akan sampai mati.

Beda halnya dengan kelinci dari Eropa. Bila terjangkiti Myxoma maka akibatnya fatal.

Masuk dari mata dan hidung - virus Myxoma kemudian menyerang alat kelamin kelinci dan berkembang biak dari sana. Dari saat terinfeksi, kelinci akan mati dalam waktu 10-14 hari.

Di antara waktu itulah virus menyebar di antara kawanan kelinci liar.

Namun sekalipun virus Myxoma ini mampu membunuh hingga lebih 99% kelinci liar di Australia, ada 1% yang lolos dan kemudian menjadi ras kelinci liar super yang bisa terjangkit virus Myxoma - tapi kemudian bisa sembuh dan tidak mati.

Dan kemudian mereka berkembang biak.

Alhasil, populasi kelinci liar di Australia naik kembali dan diisi oleh ras kelinci yang tahan virus Myxoma.

Setelah pembasmian massal di tahun 1953, perlahan-lahan populasi kelinci liar di Australia naik kembali, dan repotnya: mereka kebal Myxoma.

Jumlah kelinci liar di Australia saat ini mencapai jumlah lebih dari 300 juta ekor, padahal kelinci liar di Australia sempat hampir punah karena manusia menggunakan virus Myxoma untuk mengendalikannya.

Pelajaran dari penggunaan virus Myxoma dan kegagalan sistem pengendalian populasi nyamuk via irradiasi ini yang membuat para ahli menjadi cenderung berhati-hati dalam memberantas nyamuk.

Kehidupan selalu menemukan kembali jalannya.

Tapi apakah manusia akan menyerah?

Share this Scrolly Tale with your friends.

A Scrolly Tale is a new way to read Twitter threads with a more visually immersive experience.
Discover more beautiful Scrolly Tales like this.

Keep scrolling