Sanad Media 🍉 Profile picture
Ulama Al-Azhar & Ahlus Sunnah # Dakwah # Kajian # Kelas Online Kampus Sanad. Support Kami! https://t.co/dfja9nVcLD

Sep 13, 2020, 25 tweets

Kisah Kesederhanaan Guru Besar Al Azhar Yang Masih Naik Angkot

"Sebagian lagi ingin membawakan sepatunya, tapi ia tolak, kalau ada yang memaksa ia akan marah, ia tak ingin anak muridnya memegang sepatunya. Sangat sederhana, sangat rendah hati."

(Utas)
#sanad #sanadmedia

Perkuliahan masih libur ketika itu. Seorang lelaki berusia 83 tahun merapikan baju-dasi-jasnya bersiap-siap pergi dari rumah sederhananya menuju Masjid Al-Azhar.

Setiap Selasa ia sudah terbiasa menuju stasiun kereta berjalan kaki dengan menenteng satu tas koper kecil berisi dua kitab: Al-Quran dan Dalailul I’jaz yang sudah terlihat sangat lusuh, hampir setiap ikatan lembarnya terlepas.

Dari stasiun Maadi Jadidah ia lanjut harus berjejal dengan ratusan orang yang menaiki kereta menuju Atabah, lalu lanjut lagi menaiki angkot menuju Masjid Al-azhar. Lebih dari satu jam ia habiskan dalam perjalanan.

Sangat sederhana u seorang guru besar bergelar professor, bergelar Syaikhul Balaghiyyin.

Sebelum zuhur ia sdh sampai ke Masjid Al-Azhar, ia tunaikan shalat 2 rakaat, lalu azan dikumandangkan, ia tegakkan lagi 4 rakaat qabliyah lalu selesai shalat, ia lanjutkan 4 rakaat bakdiyah.

Beberapa org datang untuk sungkem kepadanya, ingin mencium tangan berkahnya yg sudah menulis 30an lebih karya luar biasa itu, dengan sigap ia menarik tanggannya enggan untuk dicium. Sebagian yg lain ingin membawakan tas kecilnya, tapi ia tolak, kecuali ada yg benar-benar memaksa.

Lalu dalam majlis ia sampaikan, bahwa bakti sebenarnya seorang murid kepada guru bukanlah dengan mencium tangannya atau membawakan tasnya, tapi dengan memahami pelajaran yang disampaikan dengan baik, kemudian menyampaikannya dengan baik pula kepada orang lain.

Lalu lanjut beliau, tugas saya adalah untuk memahami ilmu dan memahami cara menyampaikan ilmu, karena ilmu yang dipahami tapi tak mampu disampaikan adalah ilmu yang tak ada nilainya.

Seorang guru harus semangat dalam menyampaikan ilmu sebagaimana (ia dahulu) semangat untuk mendapatkan ilmu. Saya akan sedih ketika diujung hidup melihat generasi setelahku tidak dekat dengan ilmu.

Kalau madrasah kita hari ini lebih baik dari hari kemarin, generasi hari ini lebih baik daripada generasi kemarin, generasi esok lebih baik dari hari ini berarti kita dalam trek yang benar.

Tapi kalau generasi hari ini sama dengan kemarin berarti kita menghadapi kemunduran, kalau lebih buruk berarti kita sedang bersiap menghadapi bencana.

Guru yang Dicintai

Seorang guru yang baik adalah guru yang mengajarkan muridnya ilmu dan mengajarkan cara mengolah ilmu, cara mengambilnya dari perut-perut kitab turast, cara mengeluarkannya dari gudang harta karun tulisan para ulama.

Kalau seorang guru hanya menyampaikan maklumat, sekadar pengetahuan, permasalahan-permasalahan, maka semua itu bisa didapatkan dengan mudah di internet.

Maka beliau sgt konsen untuk mengajari muridnya cara membaca yang benar, mengajari cara menikmati & merasakan keindahan tulisan para ulama, lalu memecahkan setiap rahasia² yg disembunyikan para ulama dlm taqdim, dlm ta’khir, dalam makrifah, dlm nakirah, dlm setiap pilihan kata.

Beliau sangat senang mengulang perkataan Imam Muzani, “saya telah membaca Kitab Ar-risalah (milik Imam Syafii) 500 kali, setiap pembacaan itu saya mendapati faedah dan ilmu yang belum saya temukan dalam pembacaan sebelumnya.”

Lalu beliau tekankan, siapa Imam Muzani yang mau membaca ar-Risalah sebanyak 500 kali? Padahal ia setara dengan imam Syafi’i, atau kalau mau disebut hanya sedikit levelnya di bawah Imam syafii.

Coba perhatikan sekali lagi angka 500 kali dan kata faidah, berarti ada pengetahuan yang tidak beliau dapatkan dalan 499 kali membaca ar-Risalah.

Hanya beliau dapatkan ketika pembacaan yang ke-500. Karena setiap kita membaca kalam para ulama, kita mendapatkan ilmu dalam tulisan mereka dan mendapat inspirasi melahirkan ilmu dari tulisan mereka.

Ada lagi cerita Abu Jakfar at-Thabary yang menceritakan kepada Muhammad bin yazid dengan rasa takjub dan tak percaya, “aku mendengar Abu Umar al-Jirmi mengatakan, bahwa ia berfatwa dalam fikih selama 30 tahun menggunakan kitab nahwunya Sibawaih.”

Muhammad bin Yazid menjawab, “Q jg mendengar dg telinga sendiri al-Jirmi mengatakan demikian” Lalu ia menjelaskan mksd dr al-Jirmi, “al-Jirmi sblmny adl ahli hadis, stlh bljr Kitab Sibawaih, ia bljr dlm kitab itu cara berfikir & meneliti. Lalu ia berfatwa dlm fikih dg kaidah itu”

Dari cerita ini kita tahu bahwa al-Jirmi tidak hanya mengambil materi nahwu dalam kitab Sibawaih, tapi mengambil cara berpikir penulisnya, lalu menggunakannya untuk beristinbat mengeluarkan hukum-hukum fikih.

Al-jirmi membaca kitab sibawaih dan mampu mengeluarkan atau menghasilkan ilmu yang sebelumnya tidak ada, dan bahkan membangun dan menambahkannya dalam permasalahan fikih.

Begitulah seharusnya kita membaca tulisan para ulama, bukan hanya untuk mendapatkan pengetahuan, tapi juga untuk mengetahui cara berfikir mereka dan mengetahui cara mereka membangun ilmu pengetahuan.

Dari situlah lahir ide di bawah ide, lahir makna setelah makna. Ada kaidah yang dikandung oleh kaidah. Tahta kulli ma’nan ma’na. dalam perut setiap makna ada makna yang disembunyikan, yang hanya ditemukan oleh orang yang benar dalam membaca, teliti dalam melihat.

Baca lanjutannya di sini

sanadmedia.com/kisah-kesederh…

Share this Scrolly Tale with your friends.

A Scrolly Tale is a new way to read Twitter threads with a more visually immersive experience.
Discover more beautiful Scrolly Tales like this.

Keep scrolling