Katakuri Profile picture
tidak ada keterangan

Sep 13, 2020, 96 tweets

GANGGUAN

KISAH YANG SULIT MASUK NALAR
@bacahorror
@ceritaht
@IDN_Horor

#bacahorror

Hallo apa kabar,,
Semoga semuanya baik baik saja,
Saya kembali membawakan sebuah cerita yang tak jauh dari kediaman saya,
Cerita yang akhirnya teroecahkan sebab musabab'nya,

Semua yang berhati sangat di luar nalar manusia
Berawal dari hal yang sepele yang berakibat fatal.

Oke saya titip dulu nanti tak ceritaiin

Wan kan wong kenang apa sih gidro bae wedi rang dadie,,
(Wan itu orang kenapa sih heboh ajah bikin saya takut).
Tanyaku pada iwan sahabatku

Oww kaen,,,dawa ceritae coh ,
(Oww itu,,,panjang ceritanya bro),
Jawab iwan dengan santai.

Sumi yang pada saat itu tengah berlari tiba tiba menghentikan langkahnya dan memandangi kami berdua dengan mata yang melotot,
Saya kaget,,ngeri di buatnya

Tatapan sumi sepwrti sangat tidak suka jika ia di bicarakan,

Oww ia perkenalkan namanya sumi,
Usianya sekrang mungkin sudah 33 tahun,
Entahlah saya tak tau pasti tapi yang jelas perempuan ini terlihat lebih tua dari usia yang sebenarnya,

Ayo coh aja kanda ning kene mangkat bae,,

(Ayo bro jangan di sini ngobrolnya kita pindah ajah)
Ajak iwan kepadaku,

Ayoo cabut,,

Saya dan iwan pun pergi mengendarai sebuah mobil sedan merah menuju cafe di pinggir jalan pantura tempat dimana biasa kami nongkrong melepas penat dunia

Tak berapa lama kami pun sampai dan memesan kopi untuk menemani bincangan kami malam ini.

Kaen kenapa sih kaya wong kurang temen mlayu mlayu berek berek bli karuan,,
Ngumbangi ngumbangi sapa nelayu dewekan bae, sewot dewek bae,

(Tuh orang kenapa sih kaya orang (maaf) stres,
Lari-lari sendiri,teriak-teriak sendiri gak karuan,
Lari sendiri marah sendiri,
Tanyaku pada iwan,

Jawab malah plengas plengos,
Saya membentak,

Ko dikit coh deleng keadaan dikit kanggo ngeyakinaken,

(Ntar dulu bro lihat keadaan dulu biar yakin)'.
Jawab iwan

Kenapa sih emnge?
(Kenapa sih emangnya)?
Tanyaku.

Masalahe kuh ora sembarangan,
Rang melang kenang apa apa tolie
(Masalahnya tih engga sembarangan,saya takut kenapa napa nantinya)

Emng gawat banget yaa,
Saya menekankan

Ia soale ddu urusane karo menusa tapi karo memedi,
(Ia soalnya urusannya bukan sama manusia tapi sama setan),
Terang iwan

Wah menarik ini,,
Ucapku

Soale baka ana sing ngomongaken kuh jare'e bakal di tekani ning jin karena bli terima di omongi

(Ia soalnya kalo ada yang ngomongin katanya bakal di datengin sama jin karena gak terima ia di omongin).
Jelas iwan berucap

Kenapa kenapa,,
Santai bae ana rang,ko baka apa apa tak bantu wan,
(Santai ajah ada saya,nanti kalo ada apa apa saya bantu wan),
Ucapku meyakinkan iwan

Wah rewangi apa ira kuh,,
Bisa apa irae ko di tekai mah nangis ira,,
( ah bisa apa kamu,,nanti di datengin mah bisa nangis ketakutan kamu),
Ucap iwan mengejek

Lah sembarangan kamu yaa,,
Balasku

Ya dadi mekenen awal mulae kenang apa sumi bisa dadie mkonon kuh,
(Ya jadi begini awal mulanya sumi bisa jadi seperti itu),

Tepat di belakang rumah pak harto di samping rumah sumi ada sebuah kolam pemandian kuno yang sudah sejak dulu ada

Kolam yang kecil dan sekarang sudah rusak,
Berukuran panjang 2 meter dan lebar setengah meter yang sudah mengering dan sudah tak terurus dan di pakai lagi,
Kolam yang sudah ada sejak jaman belanda dahulu,

Hari Kamis di bulan januari 2006,

Sumi baru saja pulang dari pondok pesantren di mana ia menimba ilmu,
Sementara iwan sedang bermain bola di pekarangan belakang rumah sumi yang luas yang memang biasa di jadikan lapangan sepak bola oleh anak setempat,

Jam 5 sore

Iwan masih asik bermain sepak bola dengan teman temanya,
Hanya adzan magrib lah pertanda akhir dari permainan mereka,
Terlihat oleh iwan dan yang lainya sumi sedang menyapu halaman belakang rumahnya yang kotor oleh dedaunan kering yang berserakan

Daun kering yang berasal dari pohon ketapang besar yang berada di belakang rumah sumi,

Sumi terlihat binggung di mana ia harus mengumpulkan daun kering tersebut,
Setelah menimbang akhirnya ia menaruh semua daun tersebut di dalam kolam yang tadi saya ceritakan

Sumi mengumpulkan semua daun dan sampah yang berserakan di dakam kolam yang sudah tak terpakai tersebut,

Sum ira arep apa?
Aja di bakar ning kono kumali,
(Sum kamu mau apa?
Jangan di bakar di situ pamali)
Teriak iwan dari jauh.

Namun sumi tak menghiraukanya,
Ia mengambil sebuah korek kayu lantas membakarnya di dalam kolam kering tersebut,,

Iwan terlambat menghentikanya,
Api sudah membakar daun yang kering,
Mengepulkan asap yang terlihat jelas oleh sekitarnya,

Angin berhembus kencang menerpa dedaunan dan tubuh semua orang yang ada di situ,

Firasat tak enak iwan rasakan,
Sekujur badanya merinding tak karuan dari kaki sampe kepala,

Sumi terdiam menyender di tembok bata belakang rumah pak harto,
Matanya terpejam dan dia hanya diam

Iwan dan teman teman mendekat untuk melihat keadaan,

Sum,,,sumi,,
Ucap iwan pelan

Sumi tak menjawab,,

Sum,,
Kembali ucap iwan

Bruuugghhh,,
Sumi jatuh terlentang seketika

Astagfirulloh,,,

Iwan kaget dan segera menghampiri tubuh sumi,,

Belukna bapane agian ,,
(Panggilan bapaknya cepetan)
Perintah iwan kepada temanya,

Pak karim pun datang fan dengan segera membopong tubuh anaknya masuk ke dalam rumah,
Iwan dan para tetangga lainya segera berkerumun

Memenuhi rumah pak karim,
Mereka antusias untuk melihat keadaan

Tak lama adzan magrib pun berkumandang,
Iwan pulang untuk membersihkan badan dan menunaikan kewajibannya,
Kejadian barusan membuat iwan merasa ngeri ngeri sedap di buatnya,

Ia khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi pasca insiden tersebut,

Ketika selesai sholat ia di kagetkan dwngan teriakan warga yang panik dari rumah pak karim tepat dimana sumi tadi tergolek tak sadarkan diri,

Seketika iwan langsung menghampiri sumber keramaian tersebut

Ana apa ana apa?
(Ada apa ada apa?)
Iwan bertanya pada warga di sekitar

Ika sumine wan manek ning wungwungan kaya gonggo,,
Mana delengen dewek bae ning jero,
( itu sumi'nya wan naik ke atas langit rumah kaya laba laba,
Liat sendiri ajah di dalam)
Jawab seorang warga

Iwan pun merangsek masuk dan mendapati kejadian di luar nalarnya,,

Sumi tengah bergelayut di sebuah kayu penyangga atap rumahnya dengan posisi kerudung yang terlepas dan rambutnya yang acak acakan,
Iwan pun kaget,

Bagaimana bisa sumi bisa bertingkah seperti itu

Sumi ayoo mundun,,
Eling nok
(Sumi ayoo turun..yang sadar neng)
Ucap ayahnya,,

Huwaaaaaaaa,,
Sumi tertawa dengan nada yang berat lalu meringkih seperti suara laki laki,

Hussshhhh bruggghhh
Sumi jatuh tertelungkup di atas tekel ubin

Ibu nya menjerit histeris atas kejadian tersebut namun tak ada seorang pun yang berani mendekat,

Tubuh sumi mengejang hebat lalu tak lama ia mencoba kembali bangkit yang menimbulkan suara gemeretak seperti tulang yang patah

Belukna ustad gagian kon nolongi sumi,,
(Panggilin pak ustad cepetan suru nolongin sumi),
Ucap salah seorang warga

Darah keluar dari dalam mulut sumi yang masi mencoba bangkit,
Pemandangan di depan mata iwan begitu mengerikan,
Kejadian tak tak mungkin ia lupakan

Sumi masih mencoba bangkit,
Gemeretak tulang kian nyaring terdengar,

Para tetangganya kini sama sama membaca surat yasin
Berharap semua menjadi lebih baik,

Tak lama pak ustad idrus pun datang,
Beliau langsung membaca sesuatu sembari terus menghitung tasbih di tanganya

Setelah di rasa cukup pak ustad pun bertanya kepada pak karim tentang apa yang sebenarnya terjadi,

Menurut penuturan pak karim
Selepas iwan dan teman temanya pergi sumi masi dalam keadaan tak sadarkan diri namun begitu adzan magrib berkumandang

Mendadak sumi seperti orang kerasukan,
Tubuhnya merinta ronta dan berucap panas panas secara terus menerus,

Pak karim bersama para tetangga lainya berusaha memeganginya sekuat tenaga namun tenaga sumi terlampu besar,
Mustahil rasanya sumi punya tenaga begitu besar

Bahkan 4 orang yang yang menahan tubuhnya semuanya terpental,
Tenaga dari ke 4 orang dewasa ini tak mampu menandingi rontahan dari sumi.

Sumi melepas kerudng yang ia kenakan dan menjabak jambak rambutnya secara terus menerus,

Semua yang ada di di situ merasa keanehan yang begitu nyata di depan mata kepala mereka sendiri,
Mata sumi melotot tajam kepada semua orang,
Ia tersenyum dengan senyum meremehkan yang begitu menyeramkan

Istighfar nok istighfar,,
Ucap ibunya,

Hahahahahahah
Tawa lelaki kekuar dalam mulutnya,
Tak lama sumi pun mengeram dan yang lebih anehnya lagi ia merangkak dan naik keatas tembok,
Medan gravitasi sperti tidak berpengaruh kepadanya,

Pak ustad pun mengangguk,

Ia menyuru semua orang untuk mundur terlebih dahulu,

Dengan langkah tenang dan pasti oak ustad mendekati sumi yang masi susah payah untuk mencoba berdiri

Surat surat kembali di lantunkan oleh pak ustad,

Hahahahahahaha,,
Tawa sumi yang nengerikan,
Begitu berat,,

Ilmu sira ora sebanding karo reang,,
Mangkat apa tak gawek celaka sira,,
Nagalihh,,
(Ilmu tidak sebanding denganku,
Pergi atau saya celakakan kamu)

Ucap nakluk yang ada di dalam tubuh sumi,
Pak ustad tentu tidak gentar,
Ia masih nampak tenang namun dengan keringat yang bercucuran dari wajahnya,

Punten sing sejene pada ngaliha dikit bokatan koe kenang apa apa,,
Aja kosong pikirane,,
Sing akeh pada istighfar'e

(Permisi,,yang lain keluar saja dulu takut kenapa napa,
Jangan samapai kosong pikiranya,
Terus istighfar),
Perintah pak ustad kepada warga lainya,

Dengan segera semua orang yang ada oun menunggu di luar rumah,
Tinggal pak karim,pak ustad dan ibu sumi saja yang tersisah

Bi yam (buk maryam ibu sumi)
Kula jaluk banyu putih karo uya segegem,
Uya wadag aja uya alus,
(Buk yam saya minta air outih sama garam kasar jangan yang halus se genggam),
Ucap pak ustad kepada buk maryam,
Buk maryam pun mengangguk tanda bersedia

Tak lama buk maryam pun kembali membawa apa yang pak ustad minta,

Ehh bocah wani nantang rupane hahahahaa,,
(Ternyata ni anak berani nantang)
Ucap sosok yang ada di dalam tubuh sumi,,

Namun tak lama adzan isya berkumandang,
Membuat tubuh sumi tergelepar di lantai

Arrgggzzzhh Panasss,,,panasss,,
Mari,,,mariaa,,,,
(Panas,,,panas,,hentikan,,hentikan)
Ucap sosok tersebut,
Dengan segera pak ustad pum membaca sesuatu ke dalam air putih dan garam kasar yang ada di tanganya,

Air di siramkan terlebih dahulu ke tubuh sumi lali di lanjut dengan garam yang di lemparkan,
Tubuh sumi menggeliat terkejang,

Tanpa terasa darah mengalir dari dalam mulut pak ustad,
Ia jatuh terduduk ke bekakang sebelum akhirnya pak karim mempobong tubuh sang ustad

Walah serem temen cahh,,
Terus piyen Maning kuh wan,
(Lah serem banget yaa,terus gimana lagi tuh wan)?
Tanyaku pada iwan

Y masi dawa ceritae kuh,
(Y masih panjang ceritanya tuh),
Jawab iwan

Y wis lanjut,
Pintaku

Ah ws bengi,,balik bae dikit yu wis jam sewelas kih

(Ah sudah malam,,pulang ajah dulu yu udah jam 11 nih)

Lah tanggung wan ceritae,
(Lah tanggung ceritanya wan)!
Bujuk ku padanya,

ah ko maning balik bae dikit,
( ah ntar ajah pulang ajah dulu)

Yo wis karepmu,,

Kami pun pulang dari cafe tersebut,
Di sepanjang jalan nampak arus lalu lintas yang sudah lengngang,
sepih
Dan akhirnya kami sampai di jalan yang menuju arah desa kami,
Jalanan yang gelap dan sepih,
Mungkin kalo udah baca thread saya bakal tau bagaimana keadaan dan kondisi

Jalan yang harus saya lewati untuk masuk ke dalam desa,
Jalan yang sepih,gelap sesikit mencekam dan rawan tindak kejahatan

Saat di tengah perjalanan memasuki jalan menuju desa tiba tiba iwan menginjak pedal rem begitu dalam yang membuat saya sampe terpelatuk,

Sing bener nyetire koplok,,
(Yang bener nyetirna sialan)
Ucapku dengan nada greget setengah marah,

Iwan tak menjawab,

Justru ia malah mendongakan wajahnya sebanyak dua kali,
Yang memveri oertanda bahwa saya harus melihat ke depan mobil yang kami tumpangi

Apaa itu,,
Ucapku

Tabrak be tah?
(Tabrak ajah tah)?
Ucap iwan kepadaku,

Aja aja,,,dudu lawan kin mah wan,,
(Jangan jangan,,bukan lawan ini mah wan)
'Tegasku kepada iwan

Di dalam mobil ber AC sepwrti ini tubuh kami malah basah oleh keringat,
Aneh rasanya,,

Tepat 50 meteran di depan kami melihat sesosok makhluk yang aneh,
Tubuhnya tidak terlalu tinggi,
Sekujir tubuhnya berwarna merah dengan mata hijau yang menyala,
Bahkan tubuhnya seperti tak ada kulitnya atau mungkin kulitnya terbakar habis,

Ada sepsang tanduk besar dan panjang di kepalanya,

Ia menatap begitu dalam le arah kami yang duduk terdiam di dalam mobil,

Puter balik,,puter balik,,
Perintahku kepada iwan

Namun bukan hal yang muda untuk memutar balik sebuah mobil di jalan yang sempit ini,
Yang dimana kanan kirinyabmeruoakan sungai kecil irigasi sawah warga,

Kamu harus tetap tenang,
Menahan rasa takut sebisa mungkin agar tak terjadi kecelakan kepada kami berdua

Tenang wan sing tenang,,
Ucapku pada iwan

Tenang matane ira merojol tah,,
(Tenang matamu jatuh)
Balas iwan yang kesal

Mundur plok gagian,,
(Mundur ajah cepetan)

Kami pun berjalan mundur sampai menemukan jalan yang di rasa lebih lebar untuk memutar balikan kendaraan kami

Begitu bisa memutar arah kami pun langsung tancap gas sejauh mungkin,
Tujuan kami adalah tempat yang terang dan sedikit ramai untuk menghilangkan ketegangan dan ketakutan,

Selang beberapa lama kami pun menepi di sebuah minimarket yang masih buka

Plok koplok,,
Wis tua mekenen masi di wedeni bae yaa,
(Sialan sialan,,udah tua begini masih ajah di takuti setan)

Itulah kata yang pertama saya ucapkan begitu sampai di depan minimarket,

Kami belum keluar dari mobil,
Masi sama sama mengatur nafas yang masih ngos ngosan

Setelah di rasa cukup kami keluar untuk membeli minuman dan makanan ringan untuk mencairkan suasana,

Uwahh ademmm,
Begitu masuk ke dalam minimarket,

Norak,
Ucap iwan

Setelah cukup kami pun memilih untuk duduk santai di depan minimarket

Melemaskan otot otot yang kaku dan tegang serta untuk mencari solusi tentang apa yang akan kami lakukan selanjutnya,

Cukup lama kami duduk iwan pun menelpon temanya,
Yang pada intinya ia meminta untuk menginap di rumah temanya tersebut

Hayuk lah,,
Saya pun menyetujuinya,

Setelah di rasa tenang dan enak kami pun menuju rumah teman iwan yang tidak terlalu jaih dari sini.

Sesampainya di sana saya langsung tueun di susul iwan yang masih membereskan makanan dan minuman yang ada di dalam mobil

Ah dadakan bae ira mah,,
Bukapa senget sore tah pen nginep ning kene kuh,
(Ah dadakan ajah kamu mah,,
Ko ya gak dari sore ngomong pengen nginep di sini,)
Ucap ian teman iwan,

Ya mbuh kagok,,
Manjing b gah dikit yu aja ning jaba,
(Tau ah kagok,masuk ajah dulu yuk jangan di luar)

Jawab iwan,

Woy kin umahe rang kenapa malah ira sing Ngongkon manjing,,
(Woy ini rumah saya kenapa malah kami yang nyuru masuk)
Ucap ian

Ah wis lah manjing dikit yu,,
(Ah udahlah ayo masuk)
Ajak iwan kepadaku,

Saya dan iwan pun masuk terlebih dahulu

Sementara ian masih terlihat memandangi mobil kami di luar,,

Weyy ayo manjing aja isin isin maning,,
(Wey ayo masuk jangan malu malu lagi),
Ajak iwan kepada ian selaku pemilik rumah,

Kaen batur sijie ora kon manjing tah,,apa ora turu ning kene,,

(Itu temen satunya gak sueu masuk tah, apa gak mau tidur di sini),
ucap ian kepada kami berdua

Saya dan iwan saling memandang satu sama lain,

Siapa memangnya,,
Sedari rumah kami cuma berdua di dalam mobil,
Lalu siapa yang di lihat oleh ian di dalam mobil?

Wis endah bae,,jorna bae,,
(Udah biarin,,liatin ajah)
Ucap iwan kepada ian,

Saya dan iwan tak mau berdebat di saat seperti ini,
Kami hanya ingin istriahat dengan tenang malam ini,

Kejadian tadi seperti begitu menguras tenaga kami berdua

Singkat cerita kami pun semua tertidur ,
Menikmati waktu malam dan istirahat

Iwan terbangun dari tidurnya
Rasa ingin kencing begitu menggangu tidurnya,
Iwan pun pergi ke kamar mandi,
Tentu ia tau karena ia sering menginap di rumah ian ini.

Saat berada di depan pintu kamar mandi tetnyata pintunya terkunci dari dalam,

Ah mungkin ada orang pikir iwan setengah sadar

Terdengar pupa bilasan air dari dalam kamar mandi,
Dalam kondisi setengah mengantuk ia pun menunggu di depan pintu,,

Lama menunggu iwan pun menggedor pintu ,,
Tok tok tok,,
Yan gagian,,range butung nguyu,,
(Yan cepetan,,saya kebelet kencing),,
Ucap iwan sambil menggedor pintu
Tak ada jawaban sementara riak air masih terdengar dari dalam

Woyy gagian,,,
(Woy cepetan)
Iwan menggedor pintu dengan keras namun tak ada sahutan arau jawaban sama sekali,

Lah bocah piyen,,dlogdog,,
(Lah bocah kenapa,,kurang ajar)
Gerutu iwan nan kesal).

Iwan pun kembali ke ruang tamu di mana saya,iwan dan ian tertidur untuk mengambil hape'nya,
Iwan kaget bukan kepalang,
Ternyata ian masih nampak tertidur dengan pulas,
Terus siapa yang tadi di kamar mandi?

Ah tak mungkin orang tua ian,
Karena ian brkata orang tuanya tengah pergi

Dan tak ada orang lain di rumah ini selain kami bertiga,,
Karena penasaran iwan pun kembali berbalik,
Melangkah menuju kamar mandi untuk memastikan apa yang ia dengar dan lihat barusan bukanlah hal halusinasi'nya,

Saat iwan berada di depan pintu ia ragu,,
Tanganya gemetaran

Rasa takut mulai menghampiri dirinya,
Dengan ragu iwan meraih knok pintu ,
Naun anepintunya tak rerkunci,
Dengan was was ia pun perlahan membuka pintu
Dannn kosong,,,

Tak ada apapun,,
Bahkan lantainya kering,
Tak ada bekas air sama sekali

Iwan menelan ludah,
Ia pun berjalan mundur keluar dari dalam kamar mandi,

Keringat mulai menetes di atas keningnya,

Iwan berbalik dan mendapati jejak kaki yang basah yang mengarah ke belakang rumah,

Tapi aneh pintu belakang rumah dalam keadaan terkunci dari dalam

Sementara jejak kaki yang basah tersebut berakhir di hadapan pintu,

Iwan takut sejadi jadinya,,
Ia segera berkari ke arah saya dan ian yang masi tertidur pulas

Sore hari,,

Iwan menceritakan pasal apa yang terjadi sewaktu menginap di rumah ian semalam,

Entah kenapa gangguan terus saja muncul sewaktu ia menceritakan kisah sumi.

Dadi piyen lanjut apa beli?
(Jadi gimana lanjut apa enggak?).
Ucapku kepada iwan

Duhh wesi dadie range,,
(Duh saya jadi takut),
Jawab iwan ragu,

Wis sih lanjut ws tanggung telese,,
(Udah sih lanjut udah tanggung basah ini).
Saya menyakinkan.

Keadaan sumi membaik,
Ia terlihat tenang
Matanya terpejam dan nafasnya teratur,
Pal katim segera membopong tubuh anaknya masuk je dalam kamar untuk mengistirahatkanya,

Jam 01 malam,

Pak karim terbangun karena samar-samar terdengar ada sebuah obrolan dari ruang tamun'nya

Suara siapa gerangan,
Pak karim penasaran lantas mengintip dari balik pintu yang sedikit terbuka,

Pak karim terheran-heran,
Banyak orang di ruang tamunya namun tak satupun terlihat wajah dan wujudnya,
Hanya siluet hitam yang bisa ia lihat karena keadaan yang gelap

Siapa mereka?
Pikir pak karim

Apakah ada orang yang bertamu?
Namun siapa yang bertanu di tengah malam buta seperti ini,
Tapi ia juga merasa heran karena ada suara anaknya sumi yang terdengar merintih,

Saat sedang mengamati dan sedikit memicingkan mata karena gelap pak karim tersentak kaget,
Bagaimana tidak,,,
Kini semua sosok yang ada di ruang tamunya semua menatap ke arah pak karaim yang mengintip dari balik pintu,

Matanya berwana merah dan hijau
Menyala dalam gelapnya ruangan,

Pak karim langsung menutup rapat pintu kamarnya tersebut,
Jantungnya berdegup tak karuan karena ketakutan,
Kakinya gemetaran dan lemas

Dari arah luar pintu kamarnya di gedor dengan keras,
Pak karim beringsut sambil melompat mengerahkan tenaga yang tersisah,
Suara gedoran pintu begitu keras terdengar namun aneh,,
Istrinya yang tengah tertidur sperti tak terusik sama sekali

Bahkan saat di bangunkan pak karim istrinya tersebut tak kunjung bangun sperti orang yang sedang pingsan,
Pak karim menggunakan sarung yang ia kenakan untuk menutup wajahnya
Berharap ia tak melihat wujud menyeramkan dari para makhluk tersebut

Sudah hampir 2 jam berlalu di rasa pak karim
Suara gedoran pintu tersebut masih terdengar,
Tak mengendur sama sekali,
Semua surat dan bacaan yang ia bisa pun sudah bolak balik oak karim baca namun tak kunjung bisa mengusir makhluk tersebut

Esok harinya sat istrinya bangun ia kaget melihat keadaan suaminya yang seprti orang linglung,
Wajahnya begitu pucat,
Pak karim di berdiri di pojokan kamar,
Isterinya pun langsung mengambil segelas air dan tak lupa di bacakan doa doa lalu meminumkanya kepada pak karim

Semua itu barula awal dari semua kejadiian yang aneh yang pak karim harus hadapi,

Anaknya,,sumi kini tingkahnya menjadi aneh,
Ia tak mau lagi menggenakan kerudung seperti biasanya,
Tingkah dan gelagat sumi pun menjadi sangat aneh

Ia tak mau makan dan minum sama sekali,
Orang tuanya pun merasa kebingungan

Di siang bolong yang teriak suaran teriakan dari ayam di belakang rumah mengagetkan pak karim dan istrinya,

Pak karim pun segera menuju sumber suara

Astagfirulloh sumi,,
Terlihat di mata'nya sendiri sumi tengah menggit leher ayam dan merobek kulitnya,

Pak karim beejalan mendekat dengan ngeri,
Ia berjalan sambil berjinjit mendekati sumi

Tanpa rasa jijik dan enek sumi memakan kepala ayam yang masih mentah tersebut,
Darah segar dari ayam kampung yang di gigit masih mengalir di mulut sumi,
Dengan segera pak karim menangkap tangan sumi dan segera menggered'nya menjauh dari bangkai ayam tersebut

Namun sumi justru berontak dan melepaskan genggaman tangan ayahnya tersebut,
Dengan segera ia mengambil ayam yang tadi terlempar dan memakanya kembali,

Pak karim menarik baju sumi yang membuat sumi terjengkang ke belakang,

Sumi menatap pak karim dengan penuh amarah,
Sumi memukul tubuh ayahnya di bagian dada dan anehnya pak karim langsung terpental cukup jauh ke belakang,

Merasa ada yang tak beres dan itu bukanlah sumi anaknya yang ia kenal pak karim pun langsung beranjak bangkit dan pergi

Ia tau harus kemana meminta pertolongan,

Dengan setengah berlari pak karim menuju salah satu sepuh desa yang rumahnya cukup jauh berada di pojokan pekarangan bambu

Setelah cukup lama ia pun sampai,

Ia beruntung karena abah amin yang merupakan sesepuh desa di sini sedang ada di ruamhnya,

Terlihat abah amin tengah duduk di depan rumah sambil menghisap rokok tembakau andalanya,

Pak karim mengucap salam
Abah amin pun membalasnya,

Pak karim langsung mengutarakanya niatnya datang ke rumah abah amin ini,
Dengan santai abah amin pun mempersilahkan pak karim untuk duduk terlebih dahulu

Haloo gimna masi pengen di lanjut atau tidak

Nanti saya Pulang dulu

Share this Scrolly Tale with your friends.

A Scrolly Tale is a new way to read Twitter threads with a more visually immersive experience.
Discover more beautiful Scrolly Tales like this.

Keep scrolling