ienas Tsuroiya Profile picture
A proud stay-at-home mom, mbak admin Ngaji Ihya, baker at Dapur Mbak Admin dengan produk andalan #TiramisuMbakAdmin (sementara ini dapurnya tutup dulu😊)

Sep 17, 2020, 20 tweets

Pondok Pesantren bukanlah tempat yg kebal dari virus. Faktanya, bbrp Kyai/Ustadz wafat dalam kondisi positif covid. Ada juga Ponpes yg menjadi klaster baru, ratusan santri terpapar virus.

Tulisan Mas Ulun ini layak dibaca, sebagai pengingat buat semua.

jabar.nu.or.id/detail/dariman…

Sejak pertengahan Maret, Abah @gusmusgusmu sudah membatalkan semua agenda ceramah beliau di luar kota. Ada juga beberapa undangan walimah, beliau juga tak hadir. Sikap ini dilandasi kehati-hatian, mengikuti saran para dokter. Saya mendukung 100%.

Sampai sekarang, santri Ponpes Raudlatut Tholibin belum semuanya diijinkan kembali ke pondok. Hanya beberapa santri senior saja. Pun pengajian umum Selasa-Jumat, yang dihadiri ribuan orang, sampai sekarang masih diliburkan.

Saya--melalui adik yg di Rembang, berusaha menjaga sebisa mungkin membatasi tamu yg sowan Abah, terutama dari luar kota.

Beberapa kali Abah sempat mengeluh: kangen bertemu orang. Sangat bisa dimaklumi, lha wong sehari-hari biasanya beliau menerima tamu dari pagi hingga malam.

Kondisi ini memang berat buat semua, termasuk para santri. Ada beberapa yang akhirnya memutuskan boyong/pindah ke ponpes lain.

Tapi menurut saya, keputusan yg dilandasi kehati-hatian ini adalah yg terbaik, demi keselamatan semua, sekaligus untuk menekan laju penyebaran virus.

Sayangnya, tak semua Kyai/Ustadz pengasuh PonPes mengambil sikap tegas dan disiplin seperti Abah. Ada juga beberapa Kyai yang terkesan meremehkan virus corona ini (ada beberapa pernyataan semacam ini di YouTube).

Selain mengijinkan santri2 kembali ke Ponpes, sebagian Kyai jg tetap aktif melakukan kegiatan di luar, baik ceramah, ziarah atau walimah. Beberapa di antara beliau, berkenan memakai masker (bahkan ada yang dengan faceshield👍), tapi ada juga yang abai. Ngga pake masker samsek.

RMI (Rabithah Ma'ahid Islamiyyah), lembaga NU yg menaungi ponpes di lingkungan NU, sudah menerbitkan panduan/SOP yang harus diikuti oleh pesantren sebelum aktif kembali.

Bisa dibaca beritanya di sini:

republika.co.id/berita/qas4ok3…

Sayangnya, lagi-lagi tak semua Ponpes mematuhi panduan/SOP yang telah disusun oleh RMI itu. Belakangan terbukti, ada Ponpes yang menjadi klaster baru penyebaran covid. Untungnya, rata-rata santri yg positif OTG atau bergejala ringan. Insya Allah semua bisa sembuh.

Dan kemudian yang menjadi kekhawatiran kami (yang sejak awal percaya betapa bahayanya virus ini) pun terjadi. Berita lelayu hadir bertubi-tubi. Kyai, Nyai, Gus, Ning...
Tentu tak semua karena covid, tapi beberapa di antaranya sudah confirmed, baik oleh dokter maupun keluarga.

Terpapar virus corona bukanlah aib.
Tapi dalam masyarakat, hal ini belum sepenuhnya dipahami. Stigmatisasi masih saja ada. Tak mengherankan ketika ada berita seorang Kyai dinyatakan wafat karena covid (cnfirmed), para alumni sibuk membantah. Akhirnya jadi simpang siur beritanya.

Ada juga ponpes yg beberapa santri-nya mulai bergejala anosmia (tak bisa membaui sesuatu, salah satu tanda covid19), tapi berusaha menutup-nutupi dan malah memulangkan santri ke rumah ortunya. Menurut saya ini berbahaya, karena bisa menular ke orang2 di rumahnya.

Solusi terbaik jika ada santri yang bergejala, adalah langsung bekerjasama dengan Dinas Kesehatan setempat, supaya bisa di test secara massal, dan yang positif segera dipisahkan dari yang sehat, hingga sembuh.
RMI juga sudah mempunyai Satgas Covid19. Pasti siap membantu.

Tapi kenyataan di lapangan tak semudah teori di atas kertas. Ada berbagai hambatan, terutama jika berhadapan dengan Kyai sepuh yang sikapnya masih "denial". Harus didekati dengan cara persuasif. Buat teman2 Satgas Covid RMI + para dokter, semangat yaa.. 💪💪💪

Saya ngga akan menyebut nama, tapi sudah ada bbrp Kyai/Bunyai pengasuh Ponpes yang semula skeptis dan tak menganggap corona sebagai ancaman serius, akhirnya terpapar dan harus dirawat di RS. Bahkan ada juga yang putrinya ikut (+) juga.

Kebetulan saya berteman dengan putrinya di facebook. Ketika mendengar berita terpaparnya keluarga pesantren ini, saya iseng ngecek akunnya. Dan alangkah kagetnya saya, ternyata penuh dengan foto2 bermacam kegiatan. Sama sekali tak ada "sense of crisis".

Mudik Lebaran, kumpul2 keluarga, walimah, ziarah, piknik keluarga.. dan segala macam kegiatan normal lainnya. Seolah ngga ada pandemi.

Jauh berbeda dengan saya, yang stop semua kegiatan ke luar kota. Bahkan mudik pun tak berani karena khawatir membahayakan keluarga Rembang.

Dengan segala kerendahan hati, saya memohon buat Gus dan Ning yg kebetulan membaca utas ini.. Yuk lebih ketat menjaga Pakyai dan Bunyai. Sebisa mungkin membatasi tamu, menghindari salaman, dan selalu pake masker jika harus ke luar rumah/bertemu orang.

Berikut ini pesan Abah yang disampaikan dalam acara Tahlil Akbar mendoakan para Kyai dan tenaga medis yang wafat selama pandemi, Sabtu (12/9) lalu.

Sejak Maret belum berani mudik, salah satu pelipur rindu adalah postingan Abah di WAG Keluarga setiap pagi ketika JJS (JalanJalan Subuh).

Sehat selalu ya Abah.. 😍

Share this Scrolly Tale with your friends.

A Scrolly Tale is a new way to read Twitter threads with a more visually immersive experience.
Discover more beautiful Scrolly Tales like this.

Keep scrolling