𝕂𝕖𝕟 ℕ𝕕𝕒𝕣𝕦 Profile picture
Mantan tapol jaman Suharto | PlayBooks https://t.co/IPPpsVhMLz | Storial https://t.co/AHTE15nGXV | Karya Karsa https://t.co/5aadQ8Rmqq

Sep 17, 2020, 26 tweets

Tukang nasi goreng merangkap intel? Intel kok ngaku? Wartawan kok tegap dan cepak?

Bnyk mitos ttg intel, tpi kek mana sbnarnya intel bekerja? Bdasarkan pengalaman berhadapan dgn intel Indo, ada 3 fungsi yg mrka lakukan:
1/ intimidasi
2/ penyusupan
3/ netralisasi ancaman.

1/ Intimidasi

Fungsi inilah yg paling banyak ditemui oleh masyarakat, terutama di era ORBA. Intimidasi sbnarnya adlh salah 1 taktik netralisasi juga, tp sifatnya pasif.

Intel nasgor ga enak, wartawan cepak, memang tugasnya menampilkan diri. Sbg peringatan: we're watching you.

Kenapa kok ga diem2 aja, trus tiba2 melakukan penangkapan? Belasan tahun setelah ORBA berakhir, baru aku dapat alasannya: krna biaya proses perkara itu mahal. Kalau org tak jadi melakukan kejahatan/melawan negara krn takut, itu sdh cukup.

Intel narkoba, intel resmob, lebih suka kalau ga usah menangkap. Cukup kalau di wilayah tanggung jawab mereka, org takut melakukan kejahatan krn mengira intel ada di mana2.

Scare tactic ini mmg berpotensi memindah wilayah kejahatan saja. Tp cukup efektif utk cegah petty crime.

Taktik intimidasi seringkali ditujukan jg ke aktivis atau mrka yg dianggap membahayakan negara. Gak terlalu efektif krn aktivis adalah org yg punya tujuan.

Tp pasti tetap dijalankan, bagian dari upaya cegah-tangkal.

Lagipula, selama org beranggapan intel Indo kualitasnya hanya selevel nyamar jadi tukang nasgor ga enak, upaya2 intelijen lain yg lebih halus ga akan jadi perhatian.

Macam taktik red herring lah.....

2/ Penyusupan

Inilah core dari kerja intelijen. Thankless work, kalau kita mau berempati dgn para petugas intelijen. Para aktivis, dpt dipahami, nyaris tuna empati pd petugas intelijen. Tp intel tdk melulu mengurusi aktivis. Aktivis tuh gampang, kunciannya udah kepegang smua.

Petugas intelijen yg kebagian ngurus aktivis itu dapat liburan sbnarnya. Yg suwek adlh yg kudu menyusup ke jaringan narkoba, perdagangan manusia, apalagi teroris.

Beberapa operasi intelijen ini benar2 resikonya mati tanpa nama, tanpa berita.

Penyusupan ini bnyk ragam operasinya. Beberapa yg aku tahu, krn pernah menemui kasusnya: agen sekedar cari info, agen tidur, atau agen provokator.

Tugas penyadap info yg paling enteng: berbaur saja di tengah massa, ato jadi anggota biasa low profile.

Yg susah dikenali adlh agen tidur dan agen provokator. Mereka ini bs jadi anggota organisasi yg sangat bersemangat/militan, dipercaya, bahkan memegang jabatan tinggi dlm organisasi.

Hanya teknik kontraintelijen yg bs membongkar keberadaan kedua jenis agen ini.

Agen tidur adlh agen yg gak melakukan aktivitas intelijen sampai diaktivasi.

Yg nangkap aku dulu adlh seorang agen tidur. Dia aktivis PDI-Mega, wakil ketua Satgas Pengamanan Kantor PDI di Diponegoro, yg diduduki massa PDI-Mega.

Pasca Kerusuhan 27 Juli, aku ditugaskan trus berhubungan dgn aktivis2 PDI Mega yg selamat dr penyerbuan kantor DPP PDI di Diponegoro. Ni org dianggap bs dipercaya dong, penyintas 27 Juli masih terus berjuang....

Bgitu aku ketemu dia, keluar pistolnya. Dan temen2nya... suwek.

Agen provokator lebih aktif bekerja. Dia bisa menyusup dalam. Jadi aktivis militan, bahkan pengurus organisasi. Tugas utamanya: mengadu domba, memecah organisasi, menyebarkan kabar palsu di dalam organisasi. Ini bagian dari upaya netralisasi ancaman tp mainnya lebih soft.

Contoh kasusnya ga akan nyebut nama atau organisasinya tapi orgnya aku kenal pribadi.

Ni org rekam jejaknya selalu terlibat dlm perpecahan internal organisasi yg dia ikuti. Selalu jd bagian/faksi yg melepaskan diri dari induknya.

Ketika ada organisasi yg dia ikuti terancam split, aku mengalami sendiri org ini aktif menjelek2kan si anu atau si ani, menyebarkan gosip dan fitnah. Setelah BG-check, aku kasih peringatan ke pimpinan organisasinya: dia ini intel.

Ga didengar.

Lalu orgnisasi itu pecah. Sokor.

Tidak smua perpecahan dlm organisasi adlh akibat kerja intelijen. Dan bibit2 perpecahan selalu ada dalam organisasi, trutama menyangkut "beda pendapat karena beda pendapatan", atau krn kepemimpinan terlalu otoriter.

Bahkan memang ada perpecahan yg absah krn sdh beda keyakinan.

Tp waspada saja. Tiap ada konflik keras di organisasi, periksalah dgn kepala dingin apakah perbedaan pendapat itu wajar atau tidak. Periksa latar belakang dan sejarah org2 yg aktif terlibat konflik. Siapa tahu ada tangan luar yg bermain.

Jika smua pihak yg berkonflik internal bs ambil sikap berkepala dingin, konflik jg akan lebih mudah ditemukan resolusinya.

Jangan juga dikit2 nuduh lawan konflik sbg intel..... tp kalo konflik muncul krn ada fitnah/gosip, kemungkinan besar intel bermain di situ.

3/ Netralisasi Ancaman

Well, di sinilah kerja intel yg paling high profile. James Bond, Nick Carter, bahkan Tom Keen adalah bagian dr fungsi ini.

Sejauh yg aku tahu, hny ancaman paling serius yg akan dijadikan target netralisasi oleh komunitas intelijen.

Mungkin agak beda dgn di jaman ORBA, ketika negeri ini adalah Negara Intel. Baru jadi kolap saja sudah bisa diculik dan dibawa ke Kramat V.

Dan selalu ada kasus khusus, kepentingan pribadi pejabat atau salah assessment, yg bs mengacau prioritas.

Dalam fungsi netralisasi inilah kita temui wajah intelijen yg tak berjantung. Sabotase, penculikan, bahkan pembunuhan.

Munir, misalnya, adlh korban dari dilaksanakannya fungsi ini.

Apakah fungsi semacam ini absah dilakukan oleh aparat pemerintah?

Aku sendiri susah menjawabnya secara lugas. Di satu pihak, ada pelanggaran hukum yg memang sangat kejam dan ga peduli adab kemanusiaan: perdagangan orang, sindikat narkoba, teroris, komplotan perencana kudeta.

Di pihak lain, cara2 itu melanggar HAM, bahkan penjahat pun pnya HAM.

Jd aku tdk akan memberi penilaian atas fungsi Netralisasi Ancaman ini. Biarlah para ahli HAM atau tata negara berdebat dgn komunitas intelijen soal ini.

Yg aku tahu, praktek Netralisasi sdh jadi bgian integral operasi intelijen sejak jaman Musa. Ga gampang klo mau menghapusnya.

Oh ya... lupa. Kelewat tadi, karna ada distraksi.

Soal penyusup, salah satu teknik andalannya adalah rekayasa sosial. Yakni mengusahakan target memberitahukan hal2 sensitif tanpa dia sadari.

Waspadalah, karena mayoritas hacking yg sukses dilakukan lewat rekayasa sosial.

Aku gak akan masuk ke detil soal rekayasa sosial ini... kalo emang ni aktivis2 peduli soal keamanan, bikinlah Safety Rules, atau Safety Plan.

Dah gitu aja. Gua mah gitu orangnya.

Jadi, kamu sdh mulai diintimidasi, brarti kmu sdh dianggap sbg gangguan. Belum sbg ancaman.

Kalo sdh jadi ancaman, organisasimu akan disusupi dan dipecah-belah.

Klo kmu sdh dianggap sangat berbahaya, kamu akan dinetralisir.

Share this Scrolly Tale with your friends.

A Scrolly Tale is a new way to read Twitter threads with a more visually immersive experience.
Discover more beautiful Scrolly Tales like this.

Keep scrolling