Bela  Ulama Profile picture
Belajar tak kenal henti Beribadah hingga mati9

Sep 18, 2020, 16 tweets

BEDA ANTARA PESAN SYEKH ALI JABIR DAN GUS NADIRS

Ada perbedaan antara komentar gus @na_dirs dgn pernyataan syekh Ali Jaber. Syekh Ali berbicara ttg sikap jgn suka menghakimi orang lain. Sedangkan gus @na_dirs berkomentar, jangan menghakimi amalan ibadah atau maksiat orang lain.

Syekah Ali berbicara tentang menghukumi orang, Gus @na_dirs berbicara tentang menghukumi perbuatan. Menghukumi seseorang sbg ahli maksiat dsb, memang tdk baik. Tetapi menghukumi perbuatan, bahwa ini benar menurut Islam dan ini maksiat, asalkan dgn ilmu, itu kebaikan.

Jadi ini dua hal yang berbeda. Misalnya kita ambil contoh ttg wanita dan jilbab. Melihat wanita yg tdk berjilbab, maka seperti yg dikatakan oleh Syekh Ali Jaber, jgn vonis dia wanita yg buruk begitu saja. Boleh jadi ada kebaikan2 tersembunyi yg dia lakukan tdk kita ketahui.

Akan tetapi bhw memakai jilbab/menutup aurat di depan publik bagi wanita adalah wajib dan menanggalkannya berarti meninggalkan kewajiban syariat semestinya harus diyakini setiap muslim. Artinya menilai kewajiban berhijab dan mengingkari sikap melanggarnya adalah keharusan.

Memang ada dua sikap dlm melihat kemunkaran yg patut dievaluasi. Pertama semangat dakwah yg menggiring pada sikap mudah memvonis objek dakwahnya, spt vonis kafir, sesat, ahli neraka, dll. Kedua, sikap permisif yg cenderung mencari pembenaran atas berbagai kemunkaran yg terjadi.

Kelompok yg pertama tdk dipungkiri keberadaannya. Dalam beberapa kasus sering didapatkan, mudah memvonis orang perorang. Akan tetapi sependek pengalaman saya berdakwah, hal ini tdk umum terjadi khususnya di kalangan dai bahkan di kalangan awam sekalipun.

Lihat saja di sekitar kita, perkumpulan2 rt, komunitas2, bahkan dlm satu keluarga, ada saja yg pake jilbab dn yg tdk, umumnya akur2 saja. Di masjid2 banyak wanita yg ingin shalat tdk berjilbab, tdk ada yg usir atau dikatain macam2. Ada satu dua kasus, jgn digeneralisir.

Cuma masalahnya, banyak org menilai, misalnya, kalau ada dai menjelaskan ttg kewajiban berjilbab dan bahwa meninggalkannya berdosa. Atau ada seseorang menasehati kawannya utk menutup aurat karena itu wajib, ini oleh sebagian orang dianggap sebagai tindakan penghakiman.

Lalu yg menyampaikannya dianggap sok suci dan yg disampaikan merasa dirinya dilecehkan atau direndahkan. Itukan soal sudut pandang. Padahal kalau hal itu dilihat sebagai nasehat dari saudaranya yg mencintainya agar dirinya tdk meninggalkan ajaran Allah, kan jadi beda nilainya.

Yang terjadi adalah semacam sikap baper. Alih2 dia menerima nasehat itu dgn lapang dada, yg walaupun dia belum dpt melaksanakannya, tapi dia akui kekurangannya dlm hal tsb, ini malah dia menuduh macam2 org yg ingin menasehatinya, kadang dianggap sok suci, radikal, dll.

Adapun kelompok kedua, ini tdk kalah bahaya. Dgn alasan jgn suka memvonis orang, yg terjadi adalah sikap permisive, mencari pembenaran atas perbuatan maksiat. Pesan syekh Ali Jaber ini oleh kelompok spt ini sangat disukai, krn dianggap sesuai dgn sikap mrk; jgn suka menyalahkan.

Padahal kalau kita lihat contoh Rasulullah saw, betapa beliau sering menegur para sahabat atas kesalahan mereka. Dalam shalat, puasa, haji, berdagang, berhias, berumah tangga, dll. Kalau pake logika gus @na_dirs ini jadi gak boleh. Bahkan maksiat pun gak boleh dihakimi.

Di sisi lain, pesan Syekh Ali Jabir ini harus ditempatkan pada tempatnya. Yaitu orang yang merasa telah berada dalam kebaikan dan ketaatan, jangan suka merendahkan orang lain yg dia anggap tdk sebaik dan setaat dia. Ini sangat bagus.

Tapi pesan ini akan bermasalah jika ditangkap sebagai pembenaran oleh mereka yang meninggalkan sebagian syariat. Bisa jadi akan ada yg merasa tenang walau tdk shalat, tdk berjilbab, krn dia merasa toh saya baik dgn org tua, toh saya suka shalat tahajud, dll. Itu namanya ghurur

Ghurur artinya terpedaya oleh bisikan setan, keburukan dihias seakan bagus. Perkara ini jadi mirip dgn hadits Nabi ttg keutamaan pemberi utang yg memberikan kemudahakn kpd org yg berutang, apakah dianggap lunas atau diberi penangguhan tempo pembayaran.

Pengemplang utang kalau baca hadits ini akan senang, dan akan marah kepada penagihnya dgn anggapan tdk menjalankan pesan Rasulullah saw. Padahal ada banyak hadits ancaman bagi orang yg mengemplang utang jika tdk ada uzur. Nah hadits ini tdk mereka tengok....Wallahu a'lam.

Share this Scrolly Tale with your friends.

A Scrolly Tale is a new way to read Twitter threads with a more visually immersive experience.
Discover more beautiful Scrolly Tales like this.

Keep scrolling