NU Mendayung antara Masyumi dan PKI.
Oleh: H. Abdul Mun’im, Dz
Sewaktu NU mengadakan
Sumber: nu.or.id (15/1/2009) dan diterbitkan di buku Fragmen Sejarah NU Menyambung Akar Budaya Nusantara, Pustaka Compass, hal. 389
Sumber foto : bangkitmedia.com
1. Muktamar ke-20 di Medan, Des 1956 Sdg bergolak akibat tindakan yang dilakukan oleh Dewan Gajah pimpinan Kol. Simbolon. Di Sumatera Barat, Dewan Banteng pimpinan Kol. Ahmad Husein Yg jg melakukan tindakan sm hgga Muktamar b’lgsg dibwh dentuman meriam & tekanan bayonet.
2. Untungnya semua hambatan bs diatasi. Muktamar siap dgn lancar, meski bbrp peserta tmsk Idham Cholid & Djamaludin Malik sempat tertahan.
Siap Muktamar, NU dikejutkan lg dgn rencana Masyumi utk menarik pr menterinya dikabinet. NU berusaha krs m’bujuk agar Masyumi ttp di kabinet
3. sbb kalau pss itu ditinggalkan, mk akan diduduki PKI. Nasehat NU tdk digubris. Masyumi ttp mnrk diri dr kabinet hgga Ali-Rum-Idham bubar.
Mengingat keadaan negara waktu itu sdg genting, maka Presiden Soekarno pd 14 Maret 1957 mengumumkan negara dlm keadaan bahaya (SOB).
4. Pdhal saat itu sangat dibutuhkan keamanan mengingat para wakil rakyat di konstituante sdg giatnya menyusun UUD Republik Indonesia. Dengan demikian, kehidupan sosial politik menjadi terganggu. Seluruh peraturan normal tidak berjalan lagi dalam mengatur kehidupan negara.
5. Tepat tengah mlm pd 15 Februari 1958, Kiai Wahab terkejut bukan main mendengar Masyumi bergabung dgn pemberontak Dewan Banteng dan Dawan Gajah yang memproklamirkan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Tanpa menunggu waktu lama, Rais Aam PBNU itu segera mengutus
6. santrinya utk memanggi Ketua Umum PBNU KH. Idham Cholid & yg lainnya utk melakukan koordinasi.
Ketika mendapat panggilan dari Rais Aam, tanpa berpikir pjg Idham Cholid segera bangun & bergegas berangkat. Tentu saja isterinya kaget di tengah mlm spt itu Sang Kiai hendak pergi.
7. Idham hanya bilang pd isterinya, “Sy sdg m’dpt tugas dari Pangti (Panglima Tertinggi),” demikian Idham biasa menyebut Rais Aam. Sang isteri segera mafhum thdp watak Pangti-NU yang cerdik dan tak kenal lelah itu sehingga membiarkan suaminya pergi.
Ketika sampai di rumahnya,
8. ternyata di sana telah berkumpul beberapa orang. Kiai Wahab segera menyambut Idham Cholid dan berkata, “Celaka Masyumi melakukan pemberontakan dan membentuk pemerintahan sendiri dengan cara kekerasan dengan memproklamirkan PRRI di Sumatera Barat.”
“Wah ini sudah jelas bughot,
8. tdk bs dibenarkan, lalu apa yg mst kita lakukan kiai?” tanya Idham Cholid, “Kita hrs sgr m’buat statement(pernyataan/sikap) agr tdk didului oleh klmpk PKI krn PKI akan manfaatkan prstw ini utk menggebuk Masyumi & umat Islam. Krn itu kita keluarkan pernyataan sikap ini dgn 7an.
9. Pertama, agar PKI tahu bahwa tdk semua Islam setuju dgn pemberontakan PRRI. Kedua, agar dunia int’l jgn sampai anggap bhw pemerintah pusat sdh sepenuhnya dikuasai PKI, sbgmn dipropagandakan Masyumi & PSI untuk menggalang dukungan internasional.” Tandas Kiai Wahab dengan yakin.
10. “Kapan statement kita keluarkan?” tanya Kiai Idham. “Mlm ini kita rapat utk menyusun draftnya, bsk pagi sdh harus diumumkan.”Jawab Kiai Wahab tegas, layaknya seorang Pangti.
Walaupun NU selalu bergandengan tangan dengan Masyumi, tetapi soal pemberontakannya tetap tdk setuju.
11. Bagi NU, Masyumi merupakan mitra penting dlm menghadapi PKI. Karena itu ketika Masyumi dibubarkan thn 1960, akibat pemberontakan PRRI itu, NU merasa sgt kehilangan mitra perjuangan, sehingga NU berjuang sendiri mlwn PKI dlm Kabinet & Nasakom.
Tetapi sejarawan berbicara lain.
12. NU dituduh ikut mendorong pembubaran Masyumi, kemudian dituduh oportunis karena ikut msk dlm pemerintahan Bung Karno. Pdhl di sana NU tdk hanya bertopang dagu menikmati kekuasaan, melainkan berjuang sendirian menyelamatkan Islam negara & Bung Karno dari cengkeraman PKI.
Share this Scrolly Tale with your friends.
A Scrolly Tale is a new way to read Twitter threads with a more visually immersive experience.
Discover more beautiful Scrolly Tales like this.
