Daemoen Profile picture
freethinker, omnivore, astrophile, sinophile, historygeek, deserts and oceans.

Sep 28, 2020, 14 tweets

Saya jarang sependapat dgn kaum konservatif. Tetapi kali ini saya setuju dgn sikap pimpinan konservatif di Quebec yg mendukung otonomi Quebec dalam menerapkan hukum sekularisme di Quebec.

Hukum ini melarang simbol2 agama di tempat2 publik.
montreal.ctvnews.ca/in-quebec-visi…

Karena semakin hari agama semakin bikin masalah. Terapkan agama di ruang pribadi, rumah sendiri. Di luar rumah atau tempat ibadah masing2, maka jadilah tempat netral dari agama.

Kalau tidak, rusuh spt yg terjadi di Swedia bulan silam.

Penganut setiap agama harus menghormati hukum sekular ditempat publik. Hanya dgn cara ini, resiko pertikaian antar agama bisa diminimalisir.

Capek sekali melihat agama2 dan simbol2nya diumbar2 di tempat publik.

Negara tidak perlu menjamin kebebasan agama di tempat publik. Agama urusan pribadi, lakukan di tempat privat sendiri.

Yg dulu memulai hak menjamin kebebasan agama sepenuhnya melakukan kesalahan besar, dan lihat dunia sekarang, agama jadi sumber masalah.

Jika ada aturan setiap orang harus memakai helm jika naik motor. Apakah yg pakai sorban boleh dikasih pengecualian?

Jelas tidak. Dia harus melepas sorban, dan memakai helm. Kalau tidak, jgn pakai motor.

Negara harus mempertahankan ruang hegemoni atas semua agama. Kekuasaan negara diatas segala jenis agama. Hukum negara ga bisa batal hanya karena kitab2 agama tertentu bilang ini itu. Atau kalau pemuka agama bikin aturan ini itu.

Jika negara sudah kehilangan kendali atas agama, agama akan berkembang seenaknya masuk ke bidang yg bukan urusannya, dan bukan wilayah haknya.

Itu sdh terjadi dimana2, dan akibatnya negara kacau dan rusuh.

Agama adalah faktor yg paling gampang disalahgunakan dalam politik identitas. Karena rakus kekuasaan, politisi korup sering menggunakan agama sebagai alat.

Karena itulah kebijakan sekular saat ini tidak populer, karena sukar digunakan untuk mendapatkan dukungan.

Krn itulah, politisi dgn ciri negarawan akan mencoba menghindarkan semua penggunaan agama dalam wilayah politik dan publik sosial. Dgn pelarangan simbol2 agama di ruang publik, maka semua usaha menyalahgunakan agama akan mendapat tantangan. Demikian juga usaha radikalisasi agama.

Kalau ada yg bilang agama minoritas yg jadi korban di Quebec, mereka tidak kenal sejarah. Proses sekularisasi Quebec sdh dimulai thn 60an lama sekali, dikenal sbg Révolution tranquille (Revolusi Senyap). Korban paling besar adalah mundurnya peran Gereja Katolik secara besar2an.

Jadi jangan dong, kalau revolusi yg menarik peran agama dominan di Quebec, yaitu katolik, semua setuju. Lalu ada agama lain ingin beda diperlakukan terpisah.

Ga bisa gitu, semua harus tunduk pada hukum sekular, semua agama harus mundur perannya ke ruang personal.

Moga2 apa yg terjadi di Quebec bisa dicopy di Indonesia.

Tapi saya sih ga bisa berharap, karena tidak ada pihak di Indonesia yg berani melakukannya. Makanya warga harus terima saja masa depan suram dgn agama semakin goyang pantat.

Permasalahan lain adalah kaum SJW yg mendominasi media2 liberal di Amerika. Mereka juga sama dgn ultra-kanan, selalu melindungi agama karena salah kaprah dari sononya, sehingga semakin banyak penganut agama yg mengambil kekuasaan dimana2, dan membuat dunia tambah kacau.

Saya menentang yg ultra-kanan pro agama tertentu maupun SJW ultra-kiri. Sikap terbaik adalah SEKULAR TOTAL, mengenyahkan agama dari ruang publik.

Kalau soal ruang privat, itu sdh urusan masing2, ga perlu dipusingin.

Share this Scrolly Tale with your friends.

A Scrolly Tale is a new way to read Twitter threads with a more visually immersive experience.
Discover more beautiful Scrolly Tales like this.

Keep scrolling