Soal tangkisan Indonesia ke Vanuatu di Sidang PBB, saya tidak mengerti knp NGO2 mempermasalahkan. Apakah Indonesia harus diam2 saja setiap kali diserang secara verbal?
Justru nama forum PBB itu GENERAL DEBATE, knp pula Indonesia ga boleh balas mendebat?
nasional.kompas.com/read/2020/09/2…
Papua secara formal diakui SEMUA negara dunia sebagai bagian dari Indonesia. Adalah sangat wajar, Indonesia selaku negara yg masih bermartabat akan mempertahankannya terhadap semua usaha separatisme.
Permasalah dgn Papua ga bisa beres, krn ada banyak campur tangan pihak luar, yg mendukung secara moril gerakan separatisme Papua. Dukungan itu sering diberikan secara tidak langsung, lewat kerja NGO2 disana.
Saya serukan supaya semua NGO yg punya sponsor luar, keluar dari Papua.
Indonesia dibuat dalam posisi kagok. Jelas2 sejak bertahun2 silam Jokowi berusaha mempertinggi kesejahteraan Papua, dgn pembangunan infrastruktur2 disana. Soal disana masih ada yg tidak bagus, eh.. coba lihat di wilayah2 lain Indonesia, apa sdh beres semua?
Seluruh propinsi Indonesia juga banyak kantong2 miskin, kantong2 dimana masih perlu banyak pembenahan. Papua sama saja. Yg penting saya lihat, pemerintah Pusat benar2 ada usaha untuk memperbaiki Papua.
Banyak NGO di Indonesia MEMBEO thp desakan2 negara2 Barat, baik lewat pemerintah ataupun "think-tank"2 yg sebenarnya diciptakan untuk kebutuhan strategis masing2 negara. Adalah kebutuhan negara spt Australia untuk memecah belah Indonesia, krn mrk merasa terancam jangka panjang.
Sementara media dunia dikuasai pembentukan opini oleh media Barat. Media Barat sama sekali tidak punya resistansi thd pembentukan opini oleh "think-tank" yg bertujuan mempertahankan hegemoni Barat di dunia ketiga.
Di Aussie, think-tank yg populer spt ASPI, Lowy Institute.
Ingat lho, cara Barat menghancurkan aborigin jauh lebih mengerikan. Lihat di Australia, aborigin sekarang dimana? Sampai sekarang penduduk aborigin terpinggirkan dgn cara lembut, dan SELURUH negeri dikendalikan keturunan kolonialis kulit putih.
Di Papua, keturunan Papua yg jadi gubernur, dan Jakarta mendorong warga Papua sekolah tinggi di Jawa. Jika kemudian warga Papua ada yg tertinggal, itu bukan kesengajaan pemerintah pusat di Jakarta. Boleh dibilang kurang sukses, tetapi jelas Papua tidak sengaja dipinggirkan.
Lagipula, Papua New Guinea di sebelah, seberapa majunya? Australia dan New Zealand dari dulu merupakan overlord disono, sampai sekarang mereka tetap miskin toh?
Australia sama sekali tidak ada keinginan u/ mensejahterakan warga Pacific Islanders, mereka perlakukan spt kolonialis
Artikel SCMP yg ditulis oleh Randy Mulyanto ini benar2 mengadu-domba. Vanuatu dikatakan menghantam Indonesia gegara faktor China! 😱😱
Mari kita lihat, darimana sumber plintiran geopolitik spt ini.
scmp.com/week-asia/poli…
Ternyata sumber adu-domba berasal dari LOWY INSTITUTE, think-tank yg terutama disponsori oleh pemerintah Australia, yg kita dari dulu tahu juga bekerja untuk kebutuhan strategis Australia. Tapi ini benar2 rendah, memplintir campur tangan Barat seakan2 itu berasal dari China.
Inilah Randy Mulyanto, jurnalis yg menuliskannya di SCMP. Dia juga menulis untuk Lowy Institute. Kelihatannya dia sdh menjadi pion dari kegiatan geopolitik kawasan, dan mudah sekali dia memutar-balikkan permasalahan. Adu domba?
Sekali lagi saya usulkan, keluarkan semua NGO2 yg punya sponsor negara2 Barat dari Papua. Dan benar2 mari bekerja keras coba tingkatkan kesejahteraan warga Papua.
Kalau kemudian dikritik Barat, so what? Suruh mereka beresin urusan domestik mereka dulu yg juga penuh ketidakadilan
Saya juga serukan pada netizen Indonesia untuk tidak menyerang Vanuatu. Biarlah toh wakil Indonesia di PBB sdh memberikan jawaban. Jangan merendahkan Vanuatu apalagi menghina mereka, ingat Indonesia negara besar. Kita harus bertingkah terhormat.
Share this Scrolly Tale with your friends.
A Scrolly Tale is a new way to read Twitter threads with a more visually immersive experience.
Discover more beautiful Scrolly Tales like this.
