"Di tempat itu nak, ada sebuah makam salah seorang warga." Tutur Pak Erte, sambil menunjukkan sebuah tempat tak jauh dari lokasi kami berdiri.
#bacahorror #threadmisteri #ceritahoror #ceritamisteri
"Loh, kok bisa ada makam ditempat itu pak?" tanyaku, penasaran.
"Ya, karena dulunya, lokasi itu ya masih milik keluarganya. Kalau bisa dibilang sih, pemakamannya agak kurang wajar, jadi dimakamkan di pekarangan milik sendiri", jelas Pak Erte.
"Nggak wajar gimana pak?" rasa penasaranku pun mulai muncul mendengar penuturan Pak Erte tentang lokasi itu.
"Orang yang dikubur itu," Pak Erte sedikit memberi jeda. "Bisa dibilang, dikubur hidup-hidup disana".
Bulu kudukku pun mulai berdiri mendengar penjelasan Pak Erte.
Pak Erte pun, menceritakan sebuah kisah yang pernah terjadi puluhan tahun silam, di desa itu.
*perlu di ingat sebelumnya, bahwa cerita ini sudah saya rangkum dari beberapa versi yang disampaikan oleh beberapa warga sekitar. Jadi bukan sepenuhnya versi Pak Erte*
Puluhan tahun silam, di desa ini hanya di diami oleh beberapa orang.
Letak desa ini yang bisa dikatakan jauh dari kota, ditambah lokasi sekitarnya masih berupa sawah dan hutan, membuat desa ini tak tersentuh perhatian orang luar.
Jalanan yang ada, belum sepenuhnya terhubung dengan desa-desa lain. Hanya jalan setapak yang bisa dilalui untuk bisa sampai ke desa ini. Karena perkembangan pembangunan waktu itu belum sepesat sekarang.
Jangankan penerangan jalan, penerangan rumah pun belum semua warga menikmati.
Waktu itu, salah seorang warga desa ini, ada yang telah bertahun-tahun mengidap penyakit.
Sudah sering ia diusahakan untuk berobat kemana-mana. Dari mantri satu ke mantri yang lain, bahkan dari dukun satu ke dukun yang lain.
Tapi, penyakitnya tak kunjung bisa disembuhkan.
Awal mulanya ia hanya menderita demam, tak kunjung sembuh dari demam, lama-lama tubuhnya semakin kurus, semakin lemah. Bahkan, beberapa kali ia sempat mati rasa.
Sebut saja namanya Tole.
"Ya Allah, Le, kamu ini sebenarnya kenapa?" keluh salah seorang kerabatnya.
"Mbuh iki (nggak tau ini) mbok, badanku rasanya sudah gak bisa apa-apa lagi" ucap Tole, dengan suara yang sudah serak dan lemah. "Sudah bertahun-tahun keadaanku seperti ini, gak sembuh-sembuh, gak mati-mati".
"Hus. Kamu itu ngomong apa sih Le. Jangan sembrono" Tegur si mbok.
"Lah, harus gimana lagi mbok? Aku gak bisa apa-apa seperti ini juga sudah bertahun-tahun. Apa aku gak malah jadi nyusahin keluarga?" Ucap Tole, pasrah. Air mata nya mulai menetes, tanpa mampu di usapnya.
"Sabar le. Mungkin ini ujian dari Gusti Allah"
"Sabar? Sampai kapan mbok?"
Pertanyaan itu tak pernah mampu dijawab oleh simbok yang setiap hari merawatnya.
Keluhan-keluhan seperti itu kerap kali diucapkan Tole, baik pada simbok maupun warga lain yang kerap menjenguknya.
Berbulan-bulan, tak ada perkembangan yang positif dari tubuh Tole. Kondisinya semakin memprihatinkan.
Bahkan pada akhirnya, tubuh Tole terlihat seperti tulang yang hanya terbungkus oleh kulitnya.
Karena pemikiran masyarakat pada saat itu yang tak seperti sekarang, Tole pun-
-tak mendapatkan perawatan di rumah sakit. Mungkin salah satu alasannya adalah akses desa yang belum layak. Jalanan setapak, ditambah moda transportasi saat itu belum seperti sekarang, menjadi faktor yang dipertimbangkan untuk membawa Tole Ke rumah sakit.
Hingga suatu hari, Tole mengungkapkan sebuah permintaan pada simbok.
"Mbok, keadaanku kan sudah kayak gini, dibilang hidup, tubuhku kayak orang mati. Tapi sudah bertahun-tahun kayak gini, aku gak juga mati." ucap Tole, si mbok yang sudah terbiasa mendengar perkataan itu-
-tak berkata apapun, hanya terus mendengarkan ucapan tole yang sudah terdengar seperti orang menggerutu. "Mbok, apa lebih baik, aku mati saja ya mbok?"
Mendengar perkataan Tole itu, simbok terkejut.
"Astaghfirullah Le. Nyebut Le. Nyebut!"
Share this Scrolly Tale with your friends.
A Scrolly Tale is a new way to read Twitter threads with a more visually immersive experience.
Discover more beautiful Scrolly Tales like this.
