Menolak Lupa: Katanya Covid ga berbahaya dan bisa sembuh sendiri, tapi kok bikin Vaksin Nusantara (Vaknus)? Terus vaksinnya buat apa?
_________
Masih ada yang belain vaknus? Udah pernah saya bahas detil sebelumnya.
Ini rangkumannya:
Sel dendritik punya teknologi lebih keren dari vaksin covid lainnya? Benarkah?
Padahal semua vaksin menginduksi sel dendritik juga, bedanya di dalam tubuh, sedang vaknus di luar tubuh (ex-vivo) yg malah bahaya, rawan kontaminasi.
Vaknus sebagai vaksin pencegahan untuk covid seharusnya TIDAK LOLOS uji klinis.
Jangankan prosedur ilmiah yg dilanggar, teori dasarnya saja sudah tidak tepat:
1. Jargon pembohongan ‘bersifat personal/individual’
Vaknus berbasis sel dendritik bukan teknologi baru sebagaimana klaimnya, sudah marak di pakai TERAPI kanker sejak tahun 2010.
Terapi kanker butuh pendekatan personal, karena sel kanker setiap orang memiliki kombinasi UNIK perubahan genetik berbeda tiap orang. Makanya butuh vaksin PERSONAL.
Tujuan terapi kanker dengan vaksin dendritik adalah menginduksi sistem imun spesifik agar bisa mengenali & membunuh sel2 kanker yg oleh sistem imun awalnya tidak dianggap ancaman karena bagian dari sel2 dalam tubuh sendiri.
frontiersin.org/articles/461395
Sekarang bandingkan dengan jargon vaknus, apanya ang bersifat personal?
Yg dilawan adalah pathogen dari LUAR TUBUH (virus SARS-Cov2) yg antigennya mudah dikenali sistem imun cukup lewat suntik vaksin biasa (dalam tubuh), tanpa harus dikerjakan secara ex-vivo (di luar tubuh).
Lagipula apanya yang personal? Antigennya sama semua, dari virus SARS-Cov2? Kalaupun virus bermutasi juga tidak berbeda antar pasien dalam wilayah yg sama.
Vaknus ini idenya cacat untuk diteruskan ke uji klinis. Bahkan uji hewan yg seharusnya dikerjakan juga tidak ada. Banyak prosedur ilmiah yg dilanggar, karena dasar teorinya saja sudah keliru.
2. Dilakukan secara ex-vivo justru BAHAYA karena rawan kontaminasi.
Butuh sterilitas tinggi untuk darah diambil lalu disuntikkan kembali ke tubuh pasien.
Butuh tenaga ahli dan fasilitas mahal yg tidak tersedia merata di negeri kita untuk ex-vivo (beda dengan vaksin yang tinggal suntik bisa didistribusikan merata hingga pelosok).
Vaknus sangat tidak realistis untuk vaksinasi masal ratusan juta rakyat Indonesia.
Kalau sampai harganya murah, maka fasilitasnya pasti tidak memadai untuk menjamin keamanannya. Ya maklum bahkan bisa diracik kayak jamu di depan meja DPR.
3. Ngaku-ngaku mulai dipakai di LN, padahal vaksin dendritik yg dipakai di LN untuk terapi bukan vaksin pencegahan.
Sebagai vaksin terapi, banyak diusulkan peneliti:
pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/33221134/
link.springer.com/article/10.100…
Yang di China itu juga vaksin dendritik untuk terapi, bukan pencegahan.
clinicaltrials.gov/ct2/show/NCT04…
Kenapa sebagai terapi?
Penggunaan vaksin dendritik sangat tepat untuk terapi pasien, karena pembentukan kekebalan adaptif bisa DIPERCEPAT & MASIF secara ex-vivo dengan teknologi sel dendritik yg bisa dikerjakan di lab dalam beberapa hari saja.
Baik pasien kanker, maupun pasien covid semua BERBURU WAKTU.
Kalau sebagai vaksin PENCEGAHAN?
Tidak perlu vaknus yg dilakukan secara ex-vivo, tidak mendesak untuk memberantas pathogen karena dilakukan pada orang sehat. Disuntikkan vaksin biasa dalam sebulan untuk membentuk kekebalan juga tidak masalah.
Karena itu, vaknus benefit tidak sebanding dengan biaya dan risiko kontaminasinya.
***
KESALAHAN PROSEDUR ILMIAH
1. Tidak mengikuti tahapan penelitian, tidak melewati uji pra-klinis (uji pada hewan), tapi langsung loncat ke uji klinis
2. Tidak ada transparansi data & penelitian, tapi langsung overklaim (mirip charlatan/tukang obat)
3. Hasil uji klinis fase 1 di mana 71,4% mengalami kejadian tidak diinginkan KTD, bahkan sampai grade 3 tapi tidak dihentikan dan dianalisa.
Padahal grade 3 merupakan syarat penghentian uji klinis. Ini pelanggaran serius!
cnnindonesia.com/nasional/20210…
cnnindonesia.com/nasional/20210…
***
Dengan track record di atas, apakah Vaknus masih layak diteruskan?
Tambahan :
Lagian kenapa sih yg diramein Vaknus terus? Sampe ada tuduhan gak cinta karya anak bangsa pada yg mengkritisi Vaknus. Padahal kita ada Vaksin Merah Putih yg prosesnya lebih 'lurus' dibandingkan Vaknus
Tambahan (2) :
1. Vaksin lain lebih cepet krn udah ada teknologi sequencing, jadi in vitro in vivo yg butuh 10th an bs disingkat jd bbrp bulan, udah pernah saya tulis lengkap ttg ini setaun lalu
2. Vaknus ga lolos uji klinis fase 1, tapi lanjut fase 2 lolos ya tergantung siapa reviewernya, kalau mereka sendiri ya parameternya beda, KTD grade 3 diignore.
***
Baca juga wawancara dgn peneliti utama AZ yg jelaskan cara mrk mempercepat riset vaksin
sciencedirect.com/science/articl…
Lalu ada yg menambahkan info juga di kolom komentar FB
Tambahan (3) :
Pembahasan lebih lengkap tentang cepatnya pengembangan vaksin Covid-19
Tambahan (4) :
Vaksin Merah Putih ttp melewati semua tahap pra-klinis & klinis vaksin plus proses dari BPOM
Jadi tuduhan bahwa BPOM menghambat vaksin karya anak bangsa itu tidak berdasar ya
Tambahan (5) : Ulasan dari dr. Alim
Sumber : facebook.com/ahmad.m.alim/p…
Share this Scrolly Tale with your friends.
A Scrolly Tale is a new way to read Twitter threads with a more visually immersive experience.
Discover more beautiful Scrolly Tales like this.
