Priyo Sambadha W. Profile picture
Akungnya Ara. Republik YES, Khilafah NO. Twit pendapat pribadi.

Nov 24, 2021, 18 tweets

UTAS.
Selamat malam Indonesia Raya.
Mhn ijinkan saya cerita kejadian bersama Presiden #GusDur yg buat saya sampai sekarang masih jadi misteri. Ini beneran saya alami sendiri, gak lebih gak kurang. Setuju?

Jadi gini. Presiden Gus Dur dulu itu punya kebiasaan Salat Jumat berpindah2 masjid. Tergantung pas dimana beliau saat itu berada. Dan setelah Salat Jumat biasanya dilanjutkan dg dialog bebas dg masyarakat. Tanya jawab bebas sebebas2nya. Tanpa skenario, tanpa sensor.

Makanya buat kita staf Istana utamanya Biro Pers dan Media, itu saatnya sport jantung. Kenapa? Karena biasanya ada statement beliau yg 'menghebohkan'. Yg bisa kita lakukan hanya pasrah kepada Yang Kuasa.

Nanti lain kali kita bicarakan ttg hal apa saja yg bikin negwri ini heboh.
Kali ini saya akan cerita ttg hal ganjil yg terjadi saat itu.

Jadi kalau Presiden GusDur pas berada di istana, beliau salat Jumat di masjid istana, Masjid Bhaiturahim yg terletak di halaman Istana. Meski di dalam halaman Istana, saat itu masjid terbuka untuk umum. Siapapun boleh ikut salat di situ stlh tentu melalui pemeriksaan Paspampres.

Itu perintah langsung dr Presiden Gus Dur. Masjid Bhaiturahim harus dibuka untuk umum.
'Siaaaap!'. Iti respon kita meski harus melakukan prosedir keamanan yg cukup ribet.
Secara ini perintah Presiden langsung, gitu loh.

Nah suatu saat, PresidenGus Dur pas hari Jumat berada di istana. Jadi otomatis beliau akan salat Jumat di Masjid Bhaiturahim Istana. Nothing special.

Jadi saat itu saya juga salat Jumat di istana. Bbrp saat yg lalu setelah saya menyelesaikan bbrp tugas saya saya lalu menuju Masjid Istana. Sudah agak mepet. Masjid sdh penuh shg saya kebagian di tempat di luar masjid. Di aspal istana di bawah pohon istana yg rindang.

Saya menggelar sajadah di saf paling belakang di atas aspal istanq. Saya saksikan banyak Paspampres yg jaga berdiri tegak siaga.
'Oh Bapak Presiden sudah di dalam Masjid', pikir saya. Fine.

Lalu saya duduk di atas sajadah dengarkan khotbah Khatib.

Gak gitu lama, seseorang menggelar sajadah persis di sebelah saya. Beliau pramusaji senior di istana. Pramusaji itu sebutan buat pelayan di istana. Tugasnya antara lain menyajikan makan minum untuk Bapak Presiden dan tamu2 Presiden.

Saat itu beliau sudah cukup sepuh. Sudah puluhan tahun mengabdi di istana.
Setelah bbrp saat duduk, dia bertanya ke saya, 'Lho Pak Presiden emang sudah di masjid?'
Dia bertanya gitu mungkin setelah melihat banyak Paspampres siaga di semua sudut masjid.

Saya jawab, 'Iya sudah.
Emang kenapa pak?'

Dgn muka bingung, dia ngomong, 'Astagfirullah al adzim. Subahannallah...' sambil mengusap wajahnya dg kedua telapak tangannya.
'Lah.., kenapa Pak Warno?'.
Namanya mmg Pak Warno dari Purworejo.

'Mas Priyo, barusan saja, sebelum saya ke sini, saya menyajikan teh manis untuk Bapak Presiden di ruang kerja. Huallahi', jawabnya dg wajah mau nangis.
'Beliau minta teh anget', tambahnya.

'Ah, serius paak?', sergah saya.
'Iya maaaas. Masa saya bohong sih?'

Begitu kejadiannya. Silahkan dianalisa sendiri.
Selamat malam. Bless you all. 😇

Sbg catatan saja, saat itu memang Presiden Gus Dur sudah berada di masjid. Seperti biasa, setelah salat, dilaksanakan dialog terbuka dg masyarakat. Dialog bebas. Kita sport jantung spt biasa. 😊

Share this Scrolly Tale with your friends.

A Scrolly Tale is a new way to read Twitter threads with a more visually immersive experience.
Discover more beautiful Scrolly Tales like this.

Keep scrolling