Alexandria Ocasio-Cortez Profile picture
Fighting for a #GreenNewDeal • Medicare for All • The Squad • Abolish ICE • she/her 🇵🇷🇺🇸

Dec 23, 2021, 95 tweets

Sejarah bangkitnya kuyang di Kalimantan.

A thread horror

11 Oktober tahun 2019, sosok putih bercahaya merah berkelebat membuat geger warga Kelurahan Teluk Lerong Ulu, Kalimantan Timur (Kaltim). Kejadiannya hari senin sekitar pukul 12 malam.

Masyarakat meyakini kalau sosok itu adalah kuyang. Kuyang merupakan makhluk halus yang berwujud kepala manusia dengan isi organ tubuh menggelantung.

Puluhan bahkan ratusan orang dewasa baik laki-laki atau perempuan sontak mencari dan mengejar makhluk yang terbang di desa mereka . Selain penasaran akan wujud mahluk jadi-jadian yang menampakkan wujudnya, warga juga mengaku resah dan ingin menangkap sosok gaib ini

Sejumlah tempat yang diyakini sebagai wadah persembuyian si hantu kuyang didatangi warga. Bahkan kolong rumah warga pun tak luput dari perhatian. Pencarian dilakukan dengan berbekal senter, warga menyorotkan senter itu ke kolong rumah.

Termasuk ke arah suara kuyang yang terbang ke pohon kelapa dan pisang.

Warga percaya hantu kuyang adalah manusia yang terjerumus ilmu hitam demi mencapai hidup abadi. Namun bagaimana sebenarnya hantu kuyang ini muncul, mari kita awali kisah ini dari sebuah desa kecil bernama desa wari di Kalimantan.

Dulu di desa Wari pernah hidup seorang wanita bernama Maharati. Di perkirakan dia hidup pada masa kerajaan Banjar.

Maharati ini terlahir dalam keadaan cacat, dia tidak punya batang hidung. Dari kecil maharati dipasangi hidung buatan dari sebuah kayu yang dipahat. Dehen yang merupakan ayahnya Maharati tidak ingin anaknya minder karena dia cacat

Ternyata upaya kedua orangtuanya itu cukup berhasil, Maharati suka dengan hidup buatan itu dan dia merasa menjadi wanita yang paling cantik di desa.

Maharati adalah anak bungsu, dia punya dua orang kakak perempuan yang umurnya tidak terpaut jauh. Kedua kakaknya itu bernama Suli dan Mayang. Berbeda dengan Maharit, Suli dan Mayang terlahir sempurna dan cantik.

Tapi kedua kakaknya itu selalu memuji-muji Maharati dengan sebutan wanita paling cantik agar Maharati ini tidak minder.

Bukan hanya kedua kakaknya, tapi ibunya Maharati juga selalu memuji-muji anaknya itu. Kehidupan Maharati seakan sempurna, dia bahagia memiliki keluarga yang sangat menyayanginya

terlebih keluarga maharati terbilang kaya. Bapaknya maharati adalah seorang peternak sukses, dia punya banyak hewan ternak di kandangnya. Jadi apa pun yang maharati mau, pasti dituruti oleh bapaknya itu.

Perlu temen-temen ketahui kalau maharati ini nggak pernah keluar rumah. Kedua orangtuanya mengurung Maharati agar dia tidak berbaur dengan anak-anak sebayanya di desa, karena kalau Maharati bergaul dengan mereka,

pasti mereka akan mengolok-olok maharati karena tidak punya hidung. Atau lebih parah lagi dikatain manusia berhidung kayu.

Tentu Dehen sebagai seorang bapak tidak akan membiarkan anaknya diolok-olok seperti itu.

Maharati pun hanya bergaul dengan kedua kakaknya setiap hari. Rumah Maharati memang terbilang besar dan punya halaman yang luas sehingga maharati tidak pernah merasa bosan berada di rumah. Ibunya Maharati juga sangat telaten mengurus anaknya itu.

Semua berjalan baik-baik saja, hingga pada suatu hari, di umur Maharati yang menginjak 19 tahun, dia mulai penasaran dengan dunia luar. Pagi itu diam-diam Maharati pergi ke halaman belakang rumahnya

dia tahu ada sebuah lubang kecil di pagar belakang rumahnya. Dia mengintip dari lubang kecil itu dan untuk pertama kalinya Maharati melihat dunia luar. Di sana banyak orang yang berlalu lalang,

Maharati sangat terkejut saat ada seseorang yang juga mengintip dari luar pagar rumahnya. Itu adalah seorang lelaki. Dia memang sering ngintip rumahnya maharati untuk sekedar melihat wanita yang memiliki hidung kayu.

“Lihat, dia ada di sini,” kata si lelaki itu pada temannya. Ternyata dia tidak sendiri.
Lalu temannya yang lain ikut mengintip dari celah lubang pagar itu.

“Wah hidungnya pake kayu,” kali ini yang ngintip adalah seorang wanita.
Maharati tersenyum, ini pertama kalinya dia menemukan teman baru.
“Hai…, keluarlah ayo main bersama kami,” kata suara perempuan dari balik pagar.

Maharati pun menjawab, “Aku tidak boleh keluar sama bapak.”
“kenapa?” tanya perempuan itu.
“Katanya di luar tidak aman buatku,” kata Maharati sambil mendekatkan mulutnya pada pagar.

“Bapakmu bohong, kalau kamu mau. Nanti sore kami akan balik lagi ke sini dan membawakanmu tali biar kamu bisa keluar dari rumah,” kata seorang lelaki dari luar pagar. Tampaknya mereka memang bertiga, dua lelaki dan satu perempuan dan mereka pasti seumuran dengan maharati.

Mendengar tawaran itu, Maharati tidak menjawab. Dia malah diam saja seperti sedang mempertimbangkannya. Tiga anak itu pun pamit pada Maharati, mereka janji sore akan kembali lagi dengan membawa tali

Sore pun tiba, diam-diam Maharati kembali ke halaman belakang rumahnya. Dia mendekatkan telinga ke pagar itu lalu terdengarlah suara gaduh tiga orang anak yang tadi pagi berbicara dengan Maharati.

“Hai, kau siap?” tanya seorang perempuan.
Maharati sebenarnya ragu, dia menoleh ke sekelilingnya untuk memastikan tidak ada orang yang melihat aksinya.
“Tapi aku tidak bisa lama-lama,” jawab Maharati.

“Iya kita sebentar saja. Kita keliling pasar, banyak hal yang harus kamu lihat,” kata si perempuan.

Sebuah tali dilemparkan dari luar pagar. Maharati pun nekat memanjat pagar rumahnya, dia dibantu tiga orang anak yang baru dia kenal kemarin. Sesampainya di luar pagar, Maharati merasakan hal yang berbeda, ini pertama kalinya dia keluar dari dalam rumahnya.

Dan dia tidak sabar ingin melihat lebih jauh lagi kehidupan di luar sana.

Ketiga teman barunya itu menyewa delman dan mengajak Maharati keliling pasar. Mahrati terkagum-kagum melihat kerawamaian pasar itu, sedangkan ketiga temannya it uterus memperhatikan betuk hidung kayu milik maharati

Mereka penasaran kenala gadis itu mengenakan hidung kayu.
“Hidung kamu kenapa?” tanya salah satu dari mereka.
“Aku tidak punya batang hidung seperti kalian,” jawab Maharati sambil tersenyum.

Delman itu keluar dari pasar dan tiba di sebuah lapangan tempat anak-anak bermain. Maharati dan ketiga temannya turun di lapangan itu. Mereka mengajak Maharati untuk bergabung dengan anak-anak lainnya.

“Aku berhasil membawanya keluar!” kata Mantir salah satu teman barunya Maharati.Semua anak di lapangan itu heran melihat hidung maharati yang terbuat dri kayu. Maharati tersenyum malu, dia pun memperkenalkan dirinya. Tapi tanpa diduga, Mantir malah membuka paksa hidung kayu itu.

“Lihat dia tidak punya hidung!” kata Mantir sambil tertawa terbahak-bahak, dua teman barunya yang bernama Purok dan Nara juga menertawakan wanita malang itu.

Ternyata mereka bertiga sengaja menjebak maharati hanya untuk mempermalukannya. Saat itu maharati nangis, di tertunduk sambil memeluk dengkulnya. Semua anak-anak yang ada di lapangan itu terus mengolok-olok perempuan tanpa batang hidung itu.

Untung saja selang beberapa menit muncullah bapaknya Maharati, dia kaget kenapa anaknya ada di lapangan. Siapa yang membawa maharati ke sini. Dehen langsung mengusir mereka, anak-anak itu lari lintang pukang sambil terus menertawakan maharati.

Dehen memungut hidung kayu milik maharati dan dia membopong anaknya pulang.Kejiwaan maharati benar2 terguncang, seumur hidupnya baru pertama kali dia mendapat olok-olok seperti itu.Dia dituduh turunan jin, anak-anak itu juga sangat kejam bahkan ada yang sempat meludahi maharati.

Seharian maharati tidak mau makan, dia mengurung diri dalam kamar. Ibunya sudah berusaha membujuk anak itu, tapi tetap saja maharati tidak mau membukakan pintu.

Dia hanya menangis sepanjang hari. Hingga malam tiba, maharati tidak mau membukakan pintu kamarnya.

Mayang yang tak lain adalah kakak keduanya maharati mengetuk pintu jedela adiknya.
“Dek, kakak bawakan kelinci baru buat kamu. Lihat warnanya bagus,” kata mayang sambil mendekatkan mulutnya ke jendela.

“Kakak dapat dari mana?” tanya Maharati dari dalam kamarnya, tapi dia belum membuka jendela.
“Bapak yang nangkep kelinci ini dari hutan, katanya buat kamu,” jawab mayang sambil tersenyum, dia senang karena akhirnya ada respon dari maharati.

“Mau lihat nggak?” tanya kakaknya.
Maharati pun membuka jendelanya, dia tampak tidak mengenakan hidung kayu. Kedua matanya bengkak karena terlalu lama menangis. Maharati mengelus kelinci itu lalu tersenyum. Akhirnya Mayang berhasil membujuk adiknya itu.

Maharati memang sudah tidak bersedih lagi, dia kembali bermain dengan kedua kakaknya. Tapi tidak bisa dipungkiri dia masih dendam dengan ketiga teman barunya itu. Dia pun ingin balas dendam. Ketiga teman barunya itu masih sering ngintip maharati dip agar belakang.

Maharati tahu itu dan di suatu sore dia mendekat ke lubang kecil tempat mereka ngintip.
“Hai, kalian apa kabar?” bisik maharati pada lubang kecil itu.
“Kami baik-baik saja, maapkan kami ya,” kata Nara.

“Aku sudah memafkan kalian. Sekarang apa kalian mau masuk ke rumahku. Kita main di sini saja,” ajak maharati.
Mereka bertiga setuju, tapi maharati menyuruh mereka untuk masuk satu persatu karena takut ketahuan ibu.

Yang pertama masuk adalah Nara, si perempuan licik yang punya ide untuk mempermalukan maharati. Nara memanjat pagar itu menggunakan tali yang dilemparkan maharati, tali itu Maharati ikat ke batang pohon sehingga mampu menahan beban mereka.

“Kalian berdua jangan dulu masuk, tunggu saja aba-abaku ya biar tidak ketahuan ibu sama bapak ya. Begitu kata Maharati.

Dia pun membawa Nara masuk ke kamarnya melaluijendela.Di dalam kamar itu Maharati menunjukkan koleksi mainan yang ia buat sendiri dari akar pohon.Saat Nara terkagum-kagum dengan buatan maharati, disaat itulah Maharati menghantamkan sebuah batu yang cukup besar tepat dikepala nara

Nara pun tewas tanpa sempat berteriak. Darah kental mengucur di lantai, Maharati segera membersihkan darah itu. Dia juga memasukkan jenazah Nara ke dalam karung besar yang sudah ia siapkan. Karung itu kemudian ia masukkan ke dalam kolong ranjang.

Maharati pun keluar dari kamarnya melalui jendela. Dia lalu mempersilakan satu orang lagi untuk memanjat pagar rumahnya. Giliran purok yang naik, seperti biasa Maharati membawa purok ke kamarnya lalu membunuhnya dengan cara yang sama.

Purok tanpak belum tewas, kedua matanya memandangi maharati, kepalanya mengeluarkan darah, dan tanpa kasihan maharati pun menghantamkan kembali batu itu tepat di wajahnya purok.

Belum ada yang mengetahui aksinya Maharati. Ibu dan kedua kakaknya sedang masak di dapur, sedangkan bapaknya maharati sedang tidak ada di rumah. Setelah purok tewas,

Maharati dengan cepat membersihkan bercak darah dan memasukkan jenazah Purok ke dalam karung. Lalu karung itu pun dimasukkan ke kolong ranjang.

Maharati keluar lagi dari dalam kamarnya melalui jendela. Kini giliran mantir, ia berhasil memanjat pagar itu. Kata Maharati, kedua temannya Mantir sedang menikmati makanan enak di rumah. Mantir kebetulan sedang lapar, dia pun masuk ke dalam kamarnya maharati.

“Mereka di mana?” tanya Mantir.
“Mereka lagi di dapur, kita di sini saja dulu.” Kata Maharati, dia sedang cari cara agar Mantir membelakanginya.
Maharati pun menyuruh Mantir untuk mengambil karung di kolong ranja

Mantri pun menurut saja. Dan dia sangat terkejut saat melihat isi karung itu ternyata mayat temannya, belum sempat ia menoleh pada Maharati, sebuah batu menghantam kepala belakngnya. Dia tewas seketika.

Tiga mayat itu disimpan di kolong ranjang. Ia sudah punya rencana yang matang untuk melenyapkannya. Setiap pagi,akan akan sebuah kereta kuda yang datang ke rumah maharati untuk mengangkut sampah, nah 3 mayat itu akan dia masukan kedalam keranjang besar lalu ditimbun dgn sampah.

Ternyata rencana maharati berhasil, tak ada satu orang pun yang curiga. Keranjang sampai itu dinaikkan ke atas kereta kuda dan dibawa pergi bergitu saja. Ketiga jasad itu akan ikut dibakar bersama sampah lainnya.

Singkat cerita beberapa tahun kemudian, maharati semakin beranjak dewasa. Kini kedua orangtuanya mengizinkan maharati untuk melihat dunia luar. Maharati sangat senang dengan keputusan kedua orangtuanya itu.

Pagi-pagi sekali Maharati dijemput sebuah delman, ia dan keluarganya naik ke atas delman. Mereka akan berkeliling desa dan mengenalkan Maharati ke dunia luar.

Namun kali ini Maharati merasa biasa saja, dunia luar bukan lagi menjadi hal baru baginya karena dulu dia pernah diajak ke pasar sama ketiga teman barunya.

Maharati tampak masih tidak percaya diri, dia tidak mau mengenakan hidung kayunya dan memilih untuk menutupi bagian hidung dan mulutnya dengan kain hitam seperti mengenakan cadar. Setelah diizinkan untuk keluar rumah,

Maharati pun sering berkeliaran di pasar untuk membeli bahan makanan.
Hingga pada suatu hari, dia bertemu dengan seorang wanita yang sudah sangat tua. Punggung wanita itu bungkuk, dia harus mengenakan tongkat kayu untuk berjalan

Wanita tua itu adalah seorang pengemis yang akhir-akhir ini mangkal di pasar dekat rumahnya maharati.

Setelah maharati member nenek itu uang, kepala si nenek perlahan menengadah pada Maharati, dia memperhatikan wajah maharati yang tertutup kain hitam. Si nenek pun tersenyum. Maharati lalu pergi begitu saja dari hadapan si nenek.

Tahun demi tahun berganti, kedua kakak maharati sudah menikah, tapi tak ada lelaki yang mau sama Maharati. Setiap kali orang tuanya menjodohkan putrinya itu, pasti lelaki itu tidak jadi menikahi Maharati lantaran wanita itu tidak memiliki hidung.

Maharati sangat sedih, setiap malam dia selalu melamun sambil menangis di belakang rumahnya. Maharati sangat khawatir, jangan-jangan sampai dia mati tidak ada lelaki yang mau menikah dengannya.

Saat Maharati melamun, tiba-tiba saja dia melihat sosok perempuan yang tubuhnya bungkuk sedang berdiri di samping pohon. Maharati perlahan menghampiri sosok itu dan ternyata itu adalah sosok nenek pengemis yang pernah ia jumpai di pasar.

Entah bagaimana si nenek itu bisa masuk ke dalam halaman rumahnya Maharati.
“Aku bisa membuatmu cantik dan abadi,” kata si nenek.
Maharati mengusap air matanya. “Bagaimana caranya Nek?” tanya Maharati.

“Kau harus meminum darah wanita yang sedang melahirkan.” Kaya si nenek itu.
Maharati terdiam, dia percaya tidak percaya dengan perkataan si nenek. Tak lama kemudian si nenek berubah wujud, dia menjadi sosok wanita muda dan cantik, dia tersenyum pada maharati.

“Benarkah apa yang kau katakana?” tanya Maharati, perlahan dia mulai percaya pada perkataan wanita itu.
“Tentu saja, kamu bisa cantik sepertiku,” kata si wanita. Maharati tidak menyadari kalau yang sedang ia ajak bicara itu adalah demit yang akan menyesatkannya.

Selang beberapa saat, sosok wanita itu pun menghilang begitu saja. Beberapa hari kemudian, hidup Maharati tidak tenang, setiap malam dalam tidurnya, dia selalu didatangi si nenek itu. Dalam mimpi itu, si nenek member maharati sebuah mantra yang ditulis di atas pelapah bambu

Ajaibnya, ketika maharati bangun di pagi hari, dia mendapati pelapah bambu itu tergeletak di sampingnya. Di atas pelapah bamboo itu juga ada mantra yang harus Maharati baca setelah meminum darah.

Maharati semakin gelisah saja, akhirnya dia membuat sebuah keputusan yang nekat. Dia akan mencoba saran si nenek. Maka hari berikutnya, tengah malam maharati mengendap-endap keluar dari rumahnya.

Dia sudah mendengar kalau di kampungnya ada wanita yang sedang hamil besar dan kebetulan malam itu si wanita sedang melahirkan.

Rumahnya tidak jauh dari rumah maharati, malam itu maharati masuk ke dalam kolong rumah si wanita yang sedang melahirkan. Dia menengadahkan kepalanya ke atas dan membuka mulutnya lebar-lebar

Saat jabang bayi itu keluar maka darah pun mengucur membasahi lantai dan merembes ke kolong rumah. Di kolongan itulah Maharati meminum darah, kedua mata maharati tertutup.

Dia meneguk darah yang mengucur deras dari atas lantai itu. Wajahnya merah terkena cipratan darah. Dan setelah darah itu habis,

maharati langsung kabur meninggalkan rumah itu. Dia mecuci wajahnya, darah yang ia telah terasa asin. Maharati sampai mau muntah.

Secara ajaib, keesokan paginya Maharati terkejut melihat kondisi wajahnya yang berubah. Dia sekarang punya batang hidung, wajahnya juga tampak lebih carah dan lebih cantik.

Ia menunjukkan batang hidung barunya itu pada keluarganya. Maharati sangat senang, semua keluarga maharati heran bagaimana hidung itu bisa tumbuh di wajahnya maharati?

Kini maharati bisa keliling desa tanpa harus menutupi wajahnya dengan kain hitam. Para lelaki pun mulai tertarik dengan kecantikan Maharati, namun kini dia jual mahal dan tidak langsung menerima pinangan para lelaki itu.

Satu bulan berlalu, keanehan mulai terjadi pada Maharati, hidung indahnya itu hilang lagi dan wajahnya kembali kumal seperti sedia kala. Maharati bingung apa yang sedang terjadi padanya

Dan tepat di malam hari ia mendengar ada yang mengetuk jendela kamarnya. Dia pun membukakan jendela itu, ternyata dia adalah si nenek misterius yang tidak diketahui namanya.

Nenek itu bilang kalau Maharati mau hidup abadi dengan kecantikannya, maka dia harus memakan bayi. Maharati benar-benar terkejut dengan perkataan si nenek.

Tapi di sisi lain Maharati tidak mau kehilangan kecantikannya itu. Dia pun menuruti apa yang si nenek katakana.

Maharati mulai mecari korban pertamanya di desa itu, dia mendatangi rumah wanita yang beberapa hari lalu baru saja melahirkan. Maharati masuk ke rumah itu melelaui jendela kamar, kebetulan bayi di kamar sedang sendirian, sedangkan ibunya lagi di dapur.

Maharati menculik bayi itu dan membawanya ke hutan. Lantas dengan keji dia membunuh bayi itu kemudian memakannya.

Belum ada yang mengetahui aksi kejinya itu, hingga tiga bulan Maharati kembali berhasil mencuri seorang bayi dan membawanya ke hutan, namun saat dia memakan bayi itu ada seseorang yang memergokinya.

Maharati pun ditangkap warga dan diarak keliling desa, tanpa diadili lagi dia langsung dipenggal oleh warga. Hal itu mereka lakukan karena pembunuhan yang dilakukan maharati terbilang keji maka harus dibalas dengan keji pula.

Tak ada yang bisa menolong wanita itu termasuk keluarganya sendiri, bahkan keluarga maharati juga diusir dari desa. Rumah mereka dibakar warga, warga menuduh kalau maharati itu menuntut ilmu hitam sehingga dia memakan bayi yang tidak berdosa.

Setelah kematian maharati, warga merasa aman. Mereka tidak lagi takut akan terror maharati, namun apa yang terjadi dengan maharati benar-benar di luar nalar. Wanita itu ternyata tidak bisa dibunuh, kepala dan tubuhnya bersatu kembali.

Share this Scrolly Tale with your friends.

A Scrolly Tale is a new way to read Twitter threads with a more visually immersive experience.
Discover more beautiful Scrolly Tales like this.

Keep scrolling