𝙇𝙤𝙪 Profile picture
All tweets are my personal view. Football, mostly.

Jan 22, 2022, 76 tweets

Sebuah utas analisis mengenai AFC Ajax musim 1994-95 di bawah asuhan Aloysius Paulus Maria "Louis" van Gaal.

Sebelum memulai lebih jauh, inilah squad penuh yang dipunyai Van Gaal selama musim 1994-95. Rata-rata merupakan produk akademi pemain muda Ajax. Danny Blind menjadi pemain paling tua, sekaligus kapten Ajax yang berusia 33 tahun.

Referensi untuk match yang ditonton ialah ketika melawan PSV (di speelronde 8) dan final liga UCL melawan AC Milan. Untuk tulisan, dikutip dari
- Buku Michael Cox, berjudul Zonal Marking
- Artikel dari Four-Four Two: fourfourtwo.com/features/when-…

Sedikit mengenai Van Gaal, dia ini disebut-sebut sebagai orang yang lebih arogan ketimbang Cruyff. Waktu dia menggantikan Leo Beenhakker di bulan September 1991, dia bilang ke manajemennya Ajax begini:
“Selamat, karena sudah menunjuk manajer terbaik di dunia”.

Dia jelas dapat perlawanan dari publik & fans. Dan kalo diingat-ingat, gaya perkataan Van Gaal ini sepertinya menurun ke muridnya. Waktunya sama ketika ditunjuk juga sebagai pelatih baru, hanya saja perkataanya yang berbeda. Beliau bilang begini: “… I think I am a special one”.

Oke, lanjut lagi ke bagian staf pelatih. Selain pelatih kiper legenda Frans Hoek, Van Gaal membawa beberapa nama yang background-nya bukan dari sepakbola. Misal seperti, Laszlo Jambor (pelatih lari sekaligus mantan pemain basket) dan

Joy Geysel (fisiologis yang metodenya sukses di olahraga Hockey). Tujuannya dia merekrut berbagai pelatih bidang berbeda karena dia percaya bisa diaplikasikan ke sepakbola & tentunya berdampak buat Ajax. Selain membawa pelatih dri berbagai bidang, untuk mengukur efisiensi setiap

latihan, setiap pemain harus memakai monitor detak jantung, dan lemak tubuh mereka akan dinilai berulang kali. Ini jelas kontras dengan metode di era tersebut yang mana daya tahan (endurance) dianggap sebagai kualitas fisik utama yang diperlukan untuk bersaing di level atas.

Van Gaal ini pendekatannya berbeda dengan Cruyff. Van Gaal bakal mempelajarin calon lawan dengan detail, begitu juga dengan penggunaan data yang mana dia mempekerjakan Max Reckers untuk mengukur performa para pemainnya.

Sebagai pengingat, di era itu data analis itu blm menjamur seperti sekarang. Cruyff itu sebaliknya. Dia engga mempelajari hal tsb, serta percaya para pemainnya bisa bermain lebih bagus dri siapa aja. Dan dia bilang kalau kualitas hebat sepakbolanya engga terdeteksi sama komputer.

Oke, saatnya masuk ke ranah taktikal. Nanti akan ada lanjutan dari hal tersebut. Jadi Ajax ini bermain dengan sistem 1-3-4-3. Ide awal 3 di belakang ini memang karena lawan-lawan di Eredivisie bermain dengan 2 pemain depan, sehingga menciptakan keunggulan jumlah di belakang.

Line up tersebut diambil ketika melawan Milan di UCL. Sepertinya ini starting line up yang terus dipakai sama Van Gaal. Tentunya akan ada rotasi, misalnya Overmars dengan Van Vossen. Litmanen – Nwankwo Kanu atau Seedor – Kluivert.

Masuk ke bangun serangan, Ajax akan membentuk berlian mini di belakang yang dibentuk oleh 4 pemain, yaitu F. De Boer (5), Blind (3), Reiziger (2) & Rijkaard (4). FB yaitu Frank De Boer & Reiziger melebar di bawah,

sedangkan kelebaran di atas dipegang oleh dua pemain sayap, yaitu Overmars & Finidi. Kedua FB ini cukup sering mengirim bola panjang diagonal ke arah pemain depan/sayap sehabis menerima bola dari kiper. Dari sini attack bisa terprogres lewat bola kedua.

Nah, pos 6 ini tidak selalu diisi oleh Rijkaard. Blind di sini juga akan menjadi 6, bergantian dengan Rijkaard. Selain itu, Litmanen (10) dan R. De Boer (9) akan terlibat dalam proses bangun serangan. Salah satu dri mereka akan turun menjemput dan mensirkulasikan bola.

Pos 8 yaitu Seedorf & Davids akan banyak membantu serangan di depan, yang mana akan membentuk 6 pemain.

Selain bermain dari bawah, bola langsung dari kiper ke arah pemain depan/sayap juga cukup sering dilakukan. Biasanya diarahkan ke Ronald De Boer, dengan pemain sayap di sekitarnya (Vossen-Finidi) bersiap menerima bola kedua seperti klip di bawah

Ada momen ketika Blind/Rijkaard ini akan turun ke belakang sehingga membentuk 4 orang di belakang. Di klip melawan PSV ini, Blind yg turun menerima bola dari kiper. Seperti yang sudah dikatakan di awal, Litmanen turun dri pos 10 utk mensirkulasikan bola.

Oh iya, Van Der Sar ini krusial ketika melakukan bangun serangan. Dalam model permainannya Van Gaal dibutuhkan kiper yang tenang, stabil dan lihai dalam membaca ruang di sekitar areanya. Van Der Sar ini menjadi pondasi yang bagus dalam proses bangun serangan.

Nah Frans Hoek juga bilang kalau Edwin ini sudah paket yang lengkap, jadinya Ajax tidak perlu lagi mencari-cari kiper yang tepat lagi. Di era tersebut masih jarang kiper seperti Edwin karena kebanyakan mereka ialah “line keepers”.

Enggak heran kalau Edwin ini menjadi idola kiper-kiper hebat seperti Neuer, De Gea, Courtois, dll.
Jonathan Wilson di bukunya berjudul The Outsiders bilang kalau VdS ini kiper pertama yang beroperasi sebagai “genuine sweeper”.

Ajax bertahan dengan blok yang tinggi. Lini belakangnya akan naik sampai ke garis tengah lapangan. Nah, dlm situasi blok rendah, mereka ini bertahan dalam 1-4-5-1, yang mana Ronald De Boer menjadi pemain solo di depan, sementara Litmanen akan turun ke lini tengah membentuk 5.

Sangat sulit bagi lawan utk membongkar pertahanan Ajax karena selain rapat, padu, dan padat serta disiplin, mrk ini agresif dlm menekan.

Lawan pun dipaksa utk long ball ke depan (yg mana lini belakang mrk udah lebih dari siap utk bola kedua), atau memaksa mrk melakukan kesalahan.

Contohnya dipertunjukkan dalam klip di bawah. Mereka memaksa lawan untuk melakukan kesalahan umpan lewat menekan secara kolektif yang mereka lakukan. Dua gelandang di pos 8, yaitu Seedorf dan Davids ini juga perlu diapresiasi lebih karena mereka ini gelandang yang energik sekali.

Terlihat Seedorf di klip ini patut diacungi jempol dengan menekan secara frontal yang berbuah kesalahan umpan oleh bek lawan serta mencetak gol kedua untuk Ajax.

Sebelum masuk ke bagian attack, kita akan lihat sedikit perspektif dari Van Gaal soal ini. Jadi beliau itu orientasi besarnya adalah sistem & kolektivisme. Sepakbola itu kan permainan tim, kalau ada pemain yang tidak melaksanakan tugasnya dgn baik, maka kawannya akan kesulitan

karena mereka bergantung antara satu dengan yang lainnya. Maka dari itu para pemainnya harus disiplin. Kalau Total Voetbal terlihat lebih chaos, maka permainan posisional ala Van Gaal lebih tergorganisir dengan penugasan yang lebih jelas (Ryan Tank, Inside Wing hal 116).

Dan, di permainan posisional Van Gaal ini gelandang itu tinggal di belakang pemain sayap. Untuk apa? Agar strukturnya tidak rusak kata beliau.

Nah, karena kedua pemain sayap ini yang memegang kelebaran di atas, idenya Van Gaal adalah untuk mengisolasi mereka dengan lawan. Jadi prinsipnya adalah ketika mereka berhadapan dengan situasi 1v1, mereka bisa mengalahkan lawannya baru memberikan umpan silang ke pemain depan.

Kalau bertemu dengan 2 pemain bertahan atau lebih, mereka diinstruksikan untuk belok ke dalam lalu switch ke sisi berseberangan.

Ini salah satu momen ketika Blind memberikan umpan yang memecah lini lawan kepada R. De Boer yang turun menjemput bola. Dari sini, seperti yang di awal dikatakan, mereka membentuk 6 pemain dalam menyerang.

Yaitu, R. De Boer & Litmanen di tengah, sayap kiri & kanan oleh Van Vossen – Finidi,serta di ruang apit kiri & kanan adalah Seedorf-Davids. Dari sini, Ronald De Boer berhasil melewati lawan, serta membuat situasi 2v1 bagi defender lawan.

Litmanen patut diberikan kredit lebih soal pergerakan tanpa bolanya, tetapi De Boer lebih memilih untuk menyelesaikannya sendiri yang berbuah gol pertama Ajax.

Situasi di mana pemain sayap terisolasi dengan defender lawan membentuk 1v1. Vossen di klip ini mencoba melewati lawan sesuai dengan prinsip yang tadi dijelaskan, tetapi sayang ada bek tengah lawan yang meng-cover.

Kalau di klip tadi di sisi kiri Ajax, di sini ialah sisi kanan, di mana Finidi beroperasi. Kedua sayap ini cukup sering disuplai bola oleh gelandang terdekat, sehingga jika tercipta 1v1 bisa dilewati, baru memberikan umpan silang ke pemain depan.

Salah satu pola serangan Ajax, di mana di klip ini Litmanen yang turun membantu mensirkulasikan bola. Kalau Limtnanen yang turun, maka Ronald De Boer yang memberikan kedalaman ketika menyerang, begitu juga sebaliknya.

Atau bisa juga kalau Litmanen belum kembali pada posnya, serta Ronald sedang turun menjemput bola, salah satu gelandang bisa naik membuat kedalaman. Di klip ini, yaitu Davids. Soal Litmanen ini akan dibahas lebih lanjut nanti.

Ketika kesulitan dalam membongkar blok rapat pertahanan lawan, pada klip ini yaitu membongkar pertahanan Milan di UCL, salah satu solusinya ialah dengan memasukkan striker jangkung nan cepat, yaitu Kanu (1,97 m – lebih pendek dari Vds 0,02 m!).

Dari sini attack dapat berprogres lewat bola kedua, kombinasi 1-2 dengan pemain sayap, dan memainkan umpan pantul. Ronald De Boer akan bermain lebih ke dalam, yaitu sebagai gelandang menggantikan Seedorf di ruang apit kanan.

Selain memasang striker berbadan tinggi untuk membongkar blok rendah, switch play memainkan peran krusial dalam sistem Van Gaal. Pada klip ini, Kluivert menggantikan Litmanen di pos 10, melakukan perpindahan bola dari tengah ke kanan, sisi Finidi.

Sesuai prinsip, ketika bertemu lebih dua defender lawan, maka ia melakukan switch ke arah Overmars. Di sisi Overmars pun ia harus menemui 2 defender lawan sekaligus, otomatis ia memindahkan bola kembali ke tengah.

Dengan melakukan perpindahan inilah, lini bertahan lawan ikut bergeser terus menurus, yang mengakibatkan Rijkaard mempunyai ruang kosong di sisi tengah untuk mengumpan ke Kluivert.

Kluivert berhasil mencetak gol tunggal di laga ini, sekaligus membawa Ajax juara UCL (kredit juga kepada Ronald De Boer yang melakukan menjepit defender lawan, sehingga Kluivert dapat bergerak tanpa kawalan).

Tidak bisa dipungkiri tim Ajax secara individual sangat bagus. Tidak bisa semua yang bisa saya highlight, tetapi Danny Blind & Litmanen memikat mata saya. Litmanen ini baik dari segi ofensif dan defensifnya sama-sama bagus.

Klip di bawah merupakan contoh bagaimana ia dapat mengidentifikasi dengan cepat ruang kosong di antara lini tengah-bertahan lawan. Sayang, defender lawan dapat memotong umpan Litmanen ke arah Ronald.

Walaupun berposisi sebagai nomor 10, Litmanen ini tidak malas untuk melakukan track back terhadap lawannya. Ia akan melakukan menekan secara agresif untuk memenangi kembali penguasaan bola.

Selain banyak terlibat dalam aspek bangun serangan, ia di sini menjadi orang pertama yang mengulang kembali serangan Ajax.

Sedikit tambahan dari Michael Cox soal Litmanen. Selain bisa mengolah bola sama baiknya dengan kedua kakinya, ia juga pandai mencari ruang kosong dan mempunyai sentuhan pertama yang luar biasa. Tidak heran kalau Rijkaard bilang kalau

“Dennis Bergkamp brilian untuk Ajax tetapi No.10 terbaik yang pernah kami miliki adalah Jari.” Fans Ajax pun banyak yang memangil ia dengan sebutan “Merlin” karena keajaiban yang ia bawa ke lapangan.

Rijkaard dan Blind merupakan kedua pemain yang sama bagus dan pentingnya untuk Ajax. Tetapi saya terkagum dengan Blind, yang walaupun usianya menginjak 33 tahun di era tersebut, ia mampu tampil sangat baik & disiplin.

Di klip di bawah menjadi contoh, bagaimana ia melakukan delay terlebih dahulu, tidak langsung sekali ambil terhadap bola, siap mengubah arah larinya ketika lawan mulai mengumpan ke dalam dan menunggu momen yang tepat untuk melancarkan tekel krusial kepada lawan.

Hampir mirip dengan situasi di klip sebelumnya, Blind melakukan hal yang sama untuk mencegah counter-attack dari lawan. Sabar menunggu timing yang pas untuk mengambila bola serta secara pelan-pelan mulai mendekati lawan.

Ketika lawan mulai mencoba melewatinya merupakan pemicu untuk ia mengintersep bola.

Saat mendapat transisi positif, Ajax tidak terburu-buru untuk langsung mengirimkan bola ke depan, terutama ketika mendapatkan bola di sepertiga akhir sendiri. Mereka akan menghidup ulangkan kembali attack mereka seperti di klip di bawah ini.

Secara kolektif, ketahanan tekanan mereka cukup bagus. Yang ini dilakukan Ajax di sini adalah memindah permainan dari sisi kiri ke sisi kanan. Lawan yang menekan dengan cukup agresif pun dapat dilewati dengan baik akibat dari ketahanan tekanan ini.

Walaupun bola dapat berpindah ke sisi kanan, eksekusi dari Seedorf kurang baik, sehingga dapat diintersep lawan.

Dalam momen transisi negatif, secara disiplin mereka akan kembali ke bentuk pertahanan mereka. Ketika bola Overmars dapat dipotong oleh Desailly, progress ke tengah pun langsung dilakukannya.

Akan tetapi lawan yang mengumpan ke rekannya di ruang apit kiri dengan segera ditutup oleh dua pemain Ajax, yaitu Ronald & Reiziger. Ketika lawan Kembali berhasil berprogresi ke arah sayap kanan, Overmars & Frank De Boer sudah siap menutup pergerakannya.

Ketika mendapat sepak pojok, Finidi mengambil dengan outswing yang mana targetnya adalah Davids-Frank De Boer-Litmanen, di mana tercipta 3v1 dengan nomor 10 lawan.

Cara membukanya adalah Rijkaard (4) menarik keluar 2-3 lawan dari tiang dekat menuju ke penendang, sementara Litmanen akan keluar dari gawang untuk masuk ke sisi buta lawan.

Ronald De Boer (9) berada di tiang jauh, kemungkinan besar untuk mengantisipasi bola rebound, yang mana ia juga tetap berada di sisi buta lawan.

Sebaliknya ketika lawan mendapat sepak pojok, mereka akan melakukan man-marking terhadap lawannya. Baik di sisi jauh ataupun sisi dekat, lawan sudah dipegang oleh orangnya masing-masing. Misal, di sisi jauh ada 2v2, di sisi dekat ada 4v4, dan ada 2 pemain yang tidak terlibat,

yaitu Blind & Davids (?). Fungsi Blind di sini adalah sebagai “sweeper”, menyapu bola liar yang ada di kotak, seperti yang terlihat pada klip ini. Davids ada di dalam gawang untuk mencegah bola yang akan disasar oleh lawan.

Salah satu kekurangan yang terlihat adalah ketika pemain depan, Ronald De Boer tidak melakukan tekanan ke defender lawan. Defender lawan pun akhirnya dapat membawa bola,

mengidentifikasi ruang kosong lawan, lalu memprogresikannya ke area sayap. Hal ini dikarenakan juga FB kiri Ajax sudah diikat (luring) ke dalam oleh pemain depan lawan, sehingga tercipta ruang kosong di area sayap.

Kalau Anda pernah menyaksikan Van Gaal dengan gayanya yang seperti ini:

Jauh sebelum itu ia juga melakukannya ketika memprotes kaki tinggi Desailly ke pemain Ajax. Memang ikonik:

Salah satu latihan Ajax yang bisa Anda saksikan di YouTube:

Pemain Ajax seperti Rijkaard, Ronald & Frank De Boer berbaris di tempat lalu bergerak ke kiri dan ke kanan serta menendang ke udara dengan kaki yang berlawanan. Para pemain kemudian berputar 360 derajat dan bertepuk tangan mengikuti irama musik,

lalu sesi kelas ditutup dengan berbagai gerakan yang berhubungan dengan sepak bola, termasuk melompat dan menyundul bola (imajinasi). Latihan ini disusun oleh Rene Wormhoudt, salah satu pelatih strength & conditioning yang direkrut Van Gaal dari

Amsterdam Admirals (American Football Team). Latihan ini, kata Ronald membuat fleksibel dan lebih cepat di kaki. Serta mempercepat reaksi & korrdinasi tim. Latihan ini disebut sebagai soccer aerobics.

KONKLUSI:
Suka atau tidak suka Anda kepada Van Gaal, ia telah membuat sejarah di sepakbola bersama Ajax. Tidak terkalahkan di liga Belanda dengan rasio kemenangan 79,41%, memenangi UCL & Dutch Supercup, rekor

ini hanya ternodai oleh Feyenoord di KNVB Cup di quarter final. Van Gaal sukses membentuk tim yang rataanya para pemain muda akademi Ajax dibalut dengan pemain senior dan membuat publik belajar akan hal baru dalam sepakbola. Inilah cerita salah satu tim terbaik sepanjang sejarah.

Terima kasih sudah membaca sejauh ini. Karena utasnya cukup panjang, tidak ada kata selain terima kasih dari saya. Buat temen-temen admin saya izin juga untuk melakukan tag. Segala feedback & share sangat diapresiasi 🙏🏻❤️

Kalo ingin membaca utas-utas lainnya ataupun visualisasi data, bisa berkunjung di mari 😁

Share this Scrolly Tale with your friends.

A Scrolly Tale is a new way to read Twitter threads with a more visually immersive experience.
Discover more beautiful Scrolly Tales like this.

Keep scrolling