𝐍𝐆𝐄𝐑𝐉𝐀𝐈𝐍 𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐌𝐀𝐁𝐔𝐊
[Sebuah utas]
.
.
.
(1) Waktu itu jam 02.⁰⁰ WIB aku melintas di sebuah jalanan.
Ku lihat bapack² berjalan sempoyongan.
Ketika mau papasan, tercium aroma alkohol yang menyengat dari mulutnya.
.
.
#gambarhanyapemanis
(2) Aku pun niat nolongin. Ku mundurkan motorku dan ku sapa dia.
Gak ada respon darinya. Dia terus berusaha berjalan ke depan.
Bahkan di lihatpun aku gak.
Aku turun dari motorku dan ku raih tangannya.
"Hati² Pak!", ucapku memapahnya.
Lalu dia akhirnya ambruk.
(3) Aku berusaha sekuat tenaga menahannya agar gak imutan ambruk dengan dia.
Aku meng-usap² dadanya, punggungnya, pantatnya, dan pahanya hampir kena ke burungnya.
Sesekali ku pencet kepalanya dan ku usap² wajah serta pipinya.
Aku pun gak sanggup memapahnya.
(4) Lagian motorku gak mungkin ku tinggal.
Akupun merebahkannya dengan hati² di tepi jalan, diatas rerumputan.
Lalu ku lakukan kembali seperti yang ku bilang tadi, meng-usap² bagian² tubuhnya.
Tak lupa ku lakukan komunikasi untuk mengetaui respon dia.
Sesekali dia meresponku.
(5) Kutanya habis banyak minum alkohol, di jawabnya iya.
Ku tanya dimana rumahnya dia pun jawab.
Kutanya tinggal sama siapa, di jawabnya sama anak istri.
Dia bilang takut pulang, pasti gak di bukakan pintu.
Gitu istrinya katanya kalau dia pulang mabuk. Dan besok pasti berantam.
(6) Lalu ku tawari lah nginap di kost ku aja.
Lama juga dia merespon. Singkatnya dia mau juga.
Dia pun berusaha berdiri dengan bantuanku.
Kami berjalan menuju motorku.
Lalu kamipun melesat ke kostku.
Aku memang kost di tempat yang sepi. Di belakang rumah besar masuk gang kecil.
(7) Cuma ada 4 kamar di belakang, dan cuma aku penghuninya, yang lain kosong semua.
Akupun bebas bawa² orang kesana, siang atau malam.
Orang yang punya rumah juga jarang dirumah. Mereka seringan diluar kota.
Sampai kost, langsung ku bowong dia ke dalam dan ku rebahkan.
(8) Aku udah deg²an, dan segera mau ngerjain mangsaku.
Aku pun membuka kaos berkerah dan berkantong yang di pakainya.
Lalu ku kompres tubuhnya dengan kain yang udah ku basahi dengan air dingin.
"Biar mendingan ya, Pak!", ucapku.
Lalu aku mengompres kakinya.
(9) Ku beranikan menurunkan celana pendek berkantong timbul kiri kanan yang dia pakai.
Celana itu memang berkancing dan ber-resleting.
Lalu ku turunkan hingga bawah lututnya.
Lalu ku kompreslah paha dan bawah pusatnya.
Aku pun melihatin anunya.
(10) Dia pakai celana dalam dari pasar², merknya campiro, warna abu².
Kulihat ada cairan basah sebesar koin Rp. 500,- di bagian depannya, tepatnya di ujung kepala burungnya.
Ku dekatin wajahku kesana mencium aromanya.
Biasa aja, gak bau pesing!
Dia memang lumayan bersih.
(11) Aku bisa membayangkan, lumayan juga ukuran burungnya.
Lalu aku pun beranikan untuk meremasnya, sambil ku lihatin ke mukanya apa respon dia.
Gak ada respon terkejut dari dia. Dia tetap diam kayak gak sadarkan diri.
Akupun mulai berani mengeluarkan kepalanya dari atas.
(11) Ku lihatin burungnya dan ku mainin dengan tangan.
Lalu ku turunkan CD itu sampai ke pertengahan paha.
Lalu akupun memainkan burungnya dengan tanganku.
Gak lama kemudian, aku langsung pakai mulut.
Ku isapi terus tanpa ada larangan dari dia.
Burungnya pun ngaceng.
(12) Aku nampak sangat hati² karna takut dia sadarkan diri dan memarahiku.
Aku pun terus mengisapnya tanpa bosan²nya.
Dia pun ber-gerak² membuatku agak kesulitan mengisapnya.
Udah setengah jam aku mengisapnya. Gak keluar² juga spermanya.
Jujur, pipiku udah pegal.
(13) Dia seperti biasa men-desah² dengan terus menutup mata.
Akupun menjalankan aksiku tanpa halangan.
Setelah 40 menit berjalan, aku kaget setelah kedua tangannya memegangi kepalaku.
Di gerakkannya pinggulnya naik turun mengentoti mulutku.
Akupun terpaksa menghentikan gerakan.
(14) Ku rasakan batangnya keluar masuk rongga mulutku.
Disitulah aku sadar, ternyata di udah tau ku kerjain.
Dia terus memacu gerakannya, tapi matanya merem.
Aku pun kelabakan.
Ku cabut batang itu dari mulutku untuk ngambil nafas.
"Naik, kau!", ucapnya.
(15) Tiga kali dia bilang itu.
Dia mau aku menduduki kontolnya.
Aku masih enggan, ku lanjut dengan ngisap.
Lalu dia meng-erang² kenikmatan. Tapi dia malas buka mata.
"Masukin ke pantatmu!", ucapnya.
Lalu aku pun buka bajuku semua dan ku tindih badannya.
(16) Ku gesek²in burungku ke burungnya.
Lalu dia menegakkan batangnya dan menjepitkannya di pahaku.
Lalu dia meng-hentak²nya.
Dia menarik pantatku keatas dan mengepaskan batangnya ke lobangku.
Dia sibuk meng-gapai² batangnya ke lobangku.
Akhirnya ku bantu juga pakai tanganku.
(18) Aku duduk.
Ku pegang batangnya dan ku paskan ke lobangku. Lalu aku menekan ke bawah.
Lalu ku gerakkan pinggulku naik turun.
Dia men-desah² terus merasakan legitnya lobang pantatku.
Akupun menjerit merasakan terjangan batang si bapack di lobangku.
(19) Akupun berhenti menghentak. Lalu dia ambil kendali. Dia terus berjuang menggerakkan pinggulnya.
"Bapack diatas!", ucapku.
Lalu akupun mencabutnya dan tidur telentang.
Dengan sigap dia bangkit dan menancap burungnya dari atas. Dengan posisi ini lebih berpower untuk dia.
(20) Dia terus menghantam lobang ekorku dengan ganas.
Mainnya kasar tapi aku suka.
Burungnya memang gede. Sekitar 17 cm lah.
Cara mainnya juga ok punya.
Dia makin menghentak lebih kuat dengan penetrasi dalam.
"Ahhh.... ahhhh.... ahhh...!"
"Bapak keluar?"
Gak ada jawabannya.
(21) Dia terkapar menindih badanku setelah mengeluarkan spermanya.
Begitu dia rebahan, aku ngocok sendiri. Ku kulum burungnya dan ku diamkan di mulutku.
Aku pun fokus mengeluarkan spermaku. Memang gak lama. Karna aku lagi ngulum burungnya itu, jadi tinggi nafsuku.
(22) Kami tidur, dan menjelang pagi kami ulangi sekali lagi.
Lagi² dia crot di lobangku.
Lalu ku antar dia pulang tepat jam 06.⁰⁰ WIB sampai ke halaman rumahnya.
Itulah pengalamanku dengan dia.
Bersambung dengan orang yang lain.........
(25) Kita lanjut lagi ya...
Malam itu aku melihat seorang bapack² tiduran di lapak kosong di tepi jalan lintas.
Lapak yang ketika pagi jualan sarapan pagi.
Lapak itu berpanggung, berlantaikan papan, dan dindingnya sebagian dari papan dan sebagian dari spanduk.
(26) Akupun mematikan motorku dan mendorongnya sampai ke samping lapak.
Akupun berjalan perlahan ke dalam lapak dan duduk di samping si bapack.
Aku belum lihat wajahnya, karna tertutup sama tangannya.
Lagian suasana agak gelap gak ada lampu jalan disana.
(27) Dari bodynya sih kayaknya bapack² idamanku. Akupun berusaha melihat wajahnya dengan cahaya screen hapeku.
Astaga... ternyata benar. Dia bapack² ganteng dengan kumis tebal.
Rambutnya lurus tebal kayak di belah tengah. Tapi waktu itu idah urak²an kuliat.
(28) Tercium olehku aroma alkohol yang sangat tajam. Sesekali dia mengerang seperti menahan sakit.
Lalu dia ber-gerak² kayak kurang nyaman dengan yang di alaminya.
Dia mengenakan kemeja polos warna krem yang dua kancing atasnya terbuka dan 2 kancing bawahnya terbuka juga.
(29) Menyembul dadanya yang besar dari balik kemejanya. Begitu juga pusat dan perutnya yang agak buncit, terpampang di hadapanku.
Dia memakai celana kain yang hitam, yang mana kancingnya udah terbuka dan resletingnya udah turun separoh.
Aku pun menyenternya dengan flash HP-ku.
(30) Astaga naga.... bapack itu gak pakai CD.
Jelas terlihat olehku bulu² kemaluannya yang menyembul keluar dari antara resletingnya yang terbuka.
Aku pun auto gemetaran. Nafasku gak beraturan.
Aku merasa aku harus dapat ngisap bapack ini.
(31) Lalu per-lahan² makin ku turunkan resletingnya sampai kandas semua.
Lalu ku lihatlah batang kemaluannya yang melipat ke bawah dan lengket ke bijinya.
Pelan² ku angkat batang itu dan ku letakkan dengan posisi ke atas.
Ku diamkan sejenak melihat kondisi.
(32) Jujur aku takut dia ngamuk kalau dia bangun.
Spaningnya lagi tinggi tuh.
Lalu ku pegang lagi burungnya pelan².
Kulihat dia sunat.
Aku pun cukup terganggu dengan lampu² mobil² besar yang menyenter ke arahku.
Aku takut aja ada orang yang melihat.
(33) Aku sih gak nampak lagi dari jalan, tapi motorku pasti nampak.
Banyak pemotor yang melihat ke arahku ketika lampunya nyenter ke motorku.
Lalu akupun menggeser motorku ke bagian belakang lapak. Sehingga kini benar² gak ada yang menyadari aku ada disana.
(34) Tapi aku takut juga jangan sampai ada orang datang mampir ke lapak itu karna mengira itu kosong.
Si bapack terus ber-gerak² ke kiri kanan, kayak cacing kepanasan. Mulutnya mengeluarkan keluhan².
Lalu dia kembali telentang dengan kaki di tegangin ke bawah.
(35) Dan kedua tangannya menggosok burungnya.
Aku pun terbelalak melihat burungnya kini udah tegang dan ber-detak².
Ya olloh...
Aku gak tahan lagi melihatnya.
Ku raba burung itu dan ku genggam.
Melihat dia gak menyadari itu, langsung ku isap burungnya.
(36) Aku berharap itu masuk ke mimpinya.
Akupun terus mengisapnya yang kini udah makin membabi buta.
Ku dengar mulutnya masih mengeluarkan keluhan². Yang kadang di barengi dengan semacam desahan.
Pengen rasanya menindih badannya. Tapi itu gak mungkin ku lakukan.
(37) Lalu dia menggeliat.
Kakinya di bujurkan lagi ke bawah.
Di renggangkannya juga kedua tangannya. Lalu di rabanya burungnya.
Uppss.. terhalang oleh mulutku.
Karna burungnya lagi di dalam mulutku.
Disitulah dia tersadar.
Dia melihat ke bawah. Dia kaget melihatku ngisap dia.
(38) "Hah...!", ucapnya dengan kaget sambil mengangkat kepalanya.
Aku langsung lepasin burungnya dari mulutku.
"Pak... tenang ya. Bapack mabul tadi. Aku nolong bapack!", ucapku.
"Ngapain kamu?", tanyanya sambil berusaha duduk.
"Maaf, Pak. Ini teraphy agar mendingan!", ucapku.
(39) Dia masih keheranan.
"Aku gak bermaksud apa², Pak. Aku hanya bantu bapack biar reda mabuknya.", ucapku.
"Kau isap...."
Belum selesai dia ngomong, aku langsung memotongnya.
"Iya, Pak. Biat sperma bapack keluar. Kalau itu udah keluar, suhu badan bapack akan kembali normal!"
(40) "Badan bapack udah panas kali karna pengaruh tuak tadi.
Bisa² pecah pembuluh darah bapack nanti.
Jalan satu²nya ku isap biar bapack nembak!", ucapku.
Kini dia udah duduk dan celananya di naikkan.
Aku pun nanya² ke dia mabuk dari kedai mana, dan rumahnya dimana.
(41) Aku pun nawari mau antar pulang dia ke rumah.
Lalu dia nanya siapa namaku dan dimana tinggal.
"Ada rokok kau?", tanyanya.
Langsunglah ku kasih rokokku dan di bakarnya segera.
"Masih mau cepat reda mabuknya, Pak?", tabyaku.
"Kenapa?", tanyanya.
Aku rada² takut jadinya.
(42) "Kalau iya biar ku lanjut isap!", ucapku.
"Udah mati.", ucapnya sambil ngeluarin batangnya.
"Nanti hidup tuh kalau ku isap.", ucapku.
"Pake duit gak, aku gak punya duit lagi. Udah habis ke tuak tadi.", ucapnya.
"Gak pake duit, Pak. Aku tulus mau membantu.", ucapku.
(43) Lalu aku pun seakan di suruh mengisapnya walaupun gak ada di suruhnya secara langsung.
Aku membantu menurunkan celananya hingga ke lutut. Lalu dia kembali rebahan.
Di taruhnya tangan kirinya sebagai bantalnya, dan tangan kanan megang rokok.
(44) Baru 5 kali angguk ku buat, burungnya langsung ngaceng kembali.
"Besar burung bapack!", ujarku.
"Besar ya...? Iya? Besar ya?", tanyanya.
"Iya, Pak.", jawabku.
"Baguslah, ndak?", ucapnya.
"Iya, Pak!", kataku.
"Lama nembak nih, banyak aku minum tadi.", ucapnya.
(45) Akupun dibuat puas mengisapi burungnya. Badannya gak bau, orangnya bersih. Pakaiannya juga bersih.
"Mana rokok kau tadi? Masih banyak isinya?", tanyanya karna yang di tangannya udah habis.
Langsung ku ambilkan dari lantai dan ku serahkan ke dia.
Kembali dia membakarnya.
(46) Dasar aku yang gak bisa menahan nafsu setanku.
Akupun pengen merimmingnya.
Entah mengapa aku merasa sanggup melakukannya.
Dan entah mengapa aku harus mau melakukan itu.
"Pak turunkan celananya lagi. Aku mau jilat lobang bapack!", ucapku.
(47) "Jilat lobang? Lobang ekorku?", tanyanya heran.
"Iya, Pak!"
"Seriuslah kau! "
"Iya, Pak!"
"Kau mau jilat itu?"
"Sinilah ku jilat."
Bapack itu benar² heran aku bilang jilat lobangnya.
Berarti dia belum pernah tau kalau itu enak di jilat.
(48) Dan bisa di pastikan dia belum pernah kena jilat.
Aku pun langsung mengangkat kakinya keatas dan menyibakkan belahan pantatnya.
"Sruuupp... srruuup."
Jilatan demi jilatan mendarat di lobang pantatnya. Jilatan yang membuat dia meng-gelepar² dan me-ronta².
(49) "Geli! Aduh geli kali.
Aduh gelinya. Aduh... aduh....!", erangnya terus²an.
"Tahan aja ya Pak. Nikmati aja.", ucapku.
Akupun fokus terus merimmingnya.
Alhasil dia pun bisa lebih tenangan menahan jilatanku yang memporak porandakan lobang pantatnya.
(50) Aku pun meninggalkan pantatnya dan kembali berkutat di batangnya.
"Pak, mau masukin ke aku gak?", ucapku.
"Ke lobang ekormu?"
"Iya."
"Gak usahlah. Jorok!"
"Pake kondom ya Pak. Biar ku pasangkan kondom!"
"Ada?"
"Ada!"
Aku pun dengan sigap memasang kondom ke burungnya.
(51) Lalu ku tanggalkan celanaku dan ku sodorkan ekorku ke dia.
Dia masih mager rebahan di lantai.
"Bapack duduk. Bapack dari atas!"
"Malas. Kaulah diatas."
"Eh gak enak, Pak. Bapacklah diatas!"
Akhirnya dia mau juga.
Aku langsung ngangkang.
Lalu si bapack menyodok lobangku.
(52) Aku meng-erang² menikmati sodokan si bapack.
Ber-kali² aku mengerang enak ke dia.
Aku sengaja biar dia semangat memacu kudanya.
Dia pun nampak berpeluh.
"Terus Pak, masukkan sampai pangkal.", ucapku.
"Udah.. udah kandas.", ucapnya.
Padahal aku juga tau itu.
(53) "Mau nembak!", ucapnya.
"Tembakkanlah Pak!, ucapku.
"Aku mau nembak!", ucapnya.
"Tembakkanlah, Pak!", ucapku.
"Arrrgggghhhh......!"
"Arhhhh!"
"Owhhhhhh!"
"Ohhh....!"
"Aaaahhh..!"
Si bapackpun crot di lobangku.
Aku benar² puas dengan genjotannya yang kasar².
(54) Benar² gaya mainnya orang mabuk.
Lalu dia mencabut kondom itu dan meletakkannya di sampingnya.
Lalu aku izin ngulum burungnya bentar biar aku ngocok sampai crot.
"Gak usah lagi, aku udah keluar.", ucapnya dengan ego.
Ku mohon terus dan ku kasih pengertian.
(55) Akhirnya dia mau ku kulum burungnya sambil aku ngocok.
"Jangan kau isap lagi.", ucapnya.
Aku menggelengkan kepala.
Aku hanya nahan burungnya di mulutku dan fokus ngocok.
Dengan cara itu aku bisa cepat crotnya.
Aku pun crot dan ku miringkan badanku ke samping.
(56) Spermaku pun nyembur ke lantai itu.
"Udah udah... udah keluar kau!", ucapnya sambil narik burungnya.
Lalu kami pun pasang celana dan duduk merokok.
"Kau naik apa?", tanyanya.
"Itu motorku!", jawabku.
"Ku antar bapack pulang ya!"
"Gak usah! Aku jalan aja."
"Ok lah!"
(57) "Gimana, Pak. Udah mendingan kan. Gak pusing lagi kepalanya!", ucapku.
"Iya...!", jawabnya simpel.
"Makasih ya, Pak!", ucapku.
Lalu dia menatapku, dia merasa aku menyindirnya.
Mungkin pikirnya harusnya dia yang berterimakasih.
"Aku bilang makasih juga!", kataku.
(58) Lalu kami pun beranjak dari lapak itu.
Aku segera memundurkan motorku dari balik lapak.
Seketika aku ingat, kondom tadi tergeletak di lantai.
Aku ingin membuangnya, tapi aku malas.
Akhirnya ku biarkan disitu aja.
Aku pun ketawa tipis membayangkannya.
(59) Matilah, besok kagetlah orang jualan sini melihat itu, gumanku.
Sial, warungku jadi tempat mesum pula, pasti itu pikirnya, gumanku.
"Masih banyak rokok kau yang tadi. Mintalah 2 batang.", ucapnya.
Lalu akhirnya ku kasih aja semuanya.
"Nih, ambil aja semua.", kataku.
(60) "Makasih ya. Hati²!!", ucapnya sambil lambaikan tangan.
Akupun menghidupkan motorku, ku klekson dia.
Tit‼️
"Yop!", sahutnya.
Akupun pulang dengan perasaan yang lega.
.
.
.
[Selesai]
Share this Scrolly Tale with your friends.
A Scrolly Tale is a new way to read Twitter threads with a more visually immersive experience.
Discover more beautiful Scrolly Tales like this.
