Rubber Game Profile picture
Bahkan setelah rubber game berakhir, bulu tangkis tak sepenuhnya berhenti || #OverheardBadminton, trivia, dan analisis seputar bulu tangkis

Sep 1, 2022, 15 tweets

Jepang adalah kekuatan baru di dunia bulu tangkis, tetapi nama mereka sebetulnya sudah harum dan berkelindan di olahraga ini sejak jauh sekali, bahkan sebelum #JapanOpen2022 hadir ke dunia.

Minoru Yoneyama yang jadi aktornya, seorang pendiri Yonex yang legendaris.

A THREAD

Kisah Yoneyama dan Yonex adalah tentang warisan dan bertahan hidup. Suatu hari ia baru kembali dari Perang Dunia II dengan hati perih: Ia melihat banyak sekali kematian. Dari sekian banyak orang-orang yang meninggal itu, salah satunya adalah sang ayah.

Selain sakit tak terperi, ada satu hal lain yang ayahnya wariskan: Sebuah mesin pemotong kayu. Dengan mesin inilah Yoneyama memulai sihirnya. Bermula dari mesin itulah Yonex hadir.

Tapi Yonex tidak tiba begitu saja. Mulanya, Yoneyama memproduksi pelampung kayu dan jaring ikan. Ketika teknologi makin maju, yg salah satunya ditandai dengan kehadiran pelampung plastik, bisnis Yoneyama mengalami kemunduran.

Jepang adalah tempat bagi orang-orang disiplin. Mereka yg hidup di sana enggan tunduk pada apa yg disebut sebagai hari buruk. Hari buruk, bagi mereka, justru menjadi kesempatan untuk menciptakan peluang yg lebih besar.

Itu yang bikin Yoneyama tetap berdiri tegak. Enggan terinjak-injak oleh teknologi, ia memutuskan banting stir. Keahliannya di bidang teknik memunculkan ide untuk memproduksi raket bulu tangkis. Waktu itu tahun 1957.

Sejak beralih menjadi produsen raket, Yoneyama tak mau lagi kalah dari teknologi. Alih-alih, ia ingin Yonex selalu berada di depan. Tak heran jika akhirnya Yonex menjadi pelopor dalam banyak hal.

Saat produsen lain masih menciptakan rakat dari kayu, Yonex sudah beralih ke aluminium. Ketika aluminium masih banyak digunakan, raket buatannya sudah berinovasi dengan serat karbon.

Inovasi terbesar yg Yonex bawa terjadi pada 1992. Kala itu, mereka merilis raket dengan desain rangka kepala yang lebih besar dan melebar dari yang sebelumnya sedikit bulat dan ramping. Sekilas, bentuknya bahkan agak 'mengotak'.

Bulu tangkis hari ini mengenal inovasi itu sebagai teknologi 'isometric'. Desain ini sudah dipatenkan. Namun, karena mampu menghasilkan wilayah pukulan yg sangat luas dan akurat, produsen raket lain tetap mengikuti dengan sejumlah penyesuaian.

Jika kemudian sangat banyak pebulu tangkis dunia memilih Yonex sebagai sponsor utama, kita tahu ini tidak mengejutkan. Kita bisa sebut satu per satu, mulai dari Taufik Hidayat di masa lalu hingga Viktor Axelsen, Minions, serta FaJri di masa sekarang.

Bahkan, pada praktiknya, Yonex tak hanya memproduksi raket bulu tangkis. Mereka juga membuat raket tenis dengan kualitas yang sama baiknya dan menjadi sponsor untuk petenis-petenis dunia seperti Naomi Osaka.

Meski sudah mendunia, menariknya, mereka tak mau mengambil jalan serupa banyak produsen olahraga lain (seperti Nike) yang menggunakan para pekerja lepas dengan biaya murah di negara-negara berkembang untuk membantu proses produksi.

Yonex tetap memegang teguh prinsip mereka: Bahwa produksi akan selalu berlangsung di Jepang. Bahkan meskipun Yoneyama meninggal pada 2019, saat usianya 95 tahun, prinsip tersebut masih digunakan.

Meminjam kalimat Chris Oddo dlm artikelnya di Courts, prinsip itu ibarat kontrak spiritual Yoneyama, yg ditandatangani dengan darah, keringat, dan air mata. Mustahil mengkhianatinya, tak mungkin mengubahnya.

Sebab prinsip itu yg membawa Yonex mampu menciptakan raket berkualitas.

Share this Scrolly Tale with your friends.

A Scrolly Tale is a new way to read Twitter threads with a more visually immersive experience.
Discover more beautiful Scrolly Tales like this.

Keep scrolling