SANTET TALI GHAIB
~Pertarungan Ghaib~
Berbagai mahluk Kembali merasuki Maya, dan kepribadian yang berubah-ubah.
Bisakah Maya terlepas dari Terror santet yang ia alami?
@JeroPoint @IDN_Horor @C_P_Mistis #ceritaserem #santet #pocong #Genderowo
Halo! Balik lagi dengan gue, Mito. Kali ini gue akan melanjutkan kisah yang di alami oleh Maya (Narasumber). Bagaimana akhir dari berbagai Terror yang di alami Maya?
Sebelum lanjut. Gue mau minta tolong buat temen temen pembaca. Mohon bantuannya untuk Like, RT dan Follow akun @mitologue , agar gue lebih semangat berbagi kisah tentang 'mereka' yang ada di sekitar kita.
Bab 2
Petarungan Gaib
Esok harinya.
Maya berbaring lemah di atas ranjang. Dari dalam kamar, dia tak sengaja mendengar suara orang sedang berbincang-bincang samar-samar.
Dia mengenali suara itu. Itu adalah suara Nenek dan Kyai, yang kemarin mengobatinya.
Akibat penasaran, Maya nekat beranjak turun meski tenaganya sudah tak tersisa.
Sesekali dia meringis menahan sakit akibat sekujur tubuhnya terasa remuk, seakan-akan tulang-tulangnya bergeser dari tempatnya.
Maya menapaki kaki lemahnya ke lantai. Namun, belum sempat dia berdiri, sekelilingnya tampak berputar-putar gara-gara sempoyongan.
Gara-gara Maya sering terperangkap dalam dimensi mengerikan sehingga energinya selalu terkuras habis.
Meski gadis itu sudah beristirahat sepanjang hari dan makan makanan bergizi, tetapi tubuhnya tetap tak menunjukkan perubahan apa pun.
Tubuhnya makin kurus seperti mumi, menyebabkan tulang-tulangnya tampak menonjol keluar.
Bahkan, dia takut untuk sekadar menatap bayangannya di depan cermin.
Maya sangat kesal sekaligus sedih. Hidupnya berubah drastis.
Dampak dari santet itu sangat meluluhlantakkan seluruh kehidupannya sekaligus berhasil merampas seluruh kebahagiaan Maya.
Sebab, setiap hari dia harus berhadapan dengan rasa takut gara-gara diteror setan tanpa alasan.
Dengan susah payah, Maya memaksakan diri untuk bangkit berdiri.
Sebab, kedatangan Kyai itu menyangkut dirinya, jadi dia harus mendengar percakapan Nenek, Kyai dan orang asing yang belum dikenalnya itu secara langsung.
Dia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan hidupnya akhir-akhir ini.
"MAYA!" pekik Nenek mengagetkan Maya.
Suara wanita tua itu menggelegar di kamarnya yang sepetak.
Padahal dia baru saja melangkah hendak menuju pintu.
"Apa yang kamu lakukan, Sayang! Kenapa kamu nekat turun dari kasur?! Kenapa kamu bandel sekali, sih!" Nenek mengomeli Maya.
Dia segera memapah sang cucu dan menuntunnya kembali duduk di tepi kasur.
"A-aku cuma mau menemui Kyai saja, Nek," jawab Maya lirih, suaranya serak khas orang bangun tidur.
Mendengar teriakan Nenek, Kyai dan rekannya bergegas menyusul wanita paruh baya tersebut ke kamar Maya.
"Ada apa Nek?! Apa Maya kesurupan lagi?!" sergah Kyai panik.
"Tidak, Kyai. Maya tadi nekat turun dari kasur. Maaf sudah bikin panik." Nenek terkekeh kikuk.
Kyai menghela napas lega. "Saya pikir setan kemarin kembali menyerang Maya.
Antara syok, takut dan waswas.
Apakah dia orang pintar juga? batin Maya menerka-nerka. Melihat dari cara berpakaiannya, pria itu layak disebut dukun, ditambah tatapannya tajam menusuk.
"Si-siapa dia, Nek?" tanya Maya tanpa melepaskan tatapan intensnya. Entah kenapa, tubuhnya mulai beraksi.
Badannya merasa gerah, gelisah dan tak nyaman.
Keringat dingin mulai membanjiri tubuhnya yang kurus kering.
Semua ini pasti karena dampak kehadiran kedua orang sakti tersebut sehingga batin Maya pun bergejolak hebat, seakan-akan menolak Kyai dan rekannya.
Apakah mungkin ini respons makhluk astral kemarin?
"Halo, Maya. Saya Jajang, tapi sering dipanggil Kang Ujang." Jajang tersenyum ramah.
Maya hanya tersenyum simpul menganggapinya.
Sebab dia tengah sibuk berjibaku melawan energi gaib yang mencoba menerobos masuk untuk menguasai dirinya.
Dia tak mau jatuh ke dalam lubang yang sama berkali-kali seperti yang sudah-sudah.
Cukup selama ini dia disiksa dalam dunia mimpi buruk.
"Bagaimana keadaan kamu? Sudah lebih baik?" Kang Ujang bertanya. Kyai sudah memberi tahu dirinya bahwa kemarin dia sudah mengobati Maya.
Namun, karena jin itu terlalu kuat dan enggan meninggalkan raga Maya, Kyai langsung mengajaknya karena ia sudah terkenal lama berkecimpung dalam dunia gaib.
"Kang Ujang bisa melihatnya sendiri. Untuk mempertahankan kesadaran saja, rasanya susah setengah mati," keluh Maya frustrasi.
"Aku hanya ingin hidup normal lagi. Aku sudah capek banget." Dia berusaha menunjukkan senyum kecil, tetapi air mata jatuh menetes.
Kang Jajang mengangguk sambil tersenyum.
Tangannya menepuk-nepuk pundak Maya, berusaha memberikan semangat.
"Kamu pasti bisa sembuh. Kang Ujang akan melakukan segala cara untuk membebaskan Maya dari jerat jin terkutuk itu.
Tetapi Maya juga harus kuat dan bertahan, ya. Karena yang bisa mengalahkan jin itu hanya kamu sendiri."
"Terima kasih—" Maya mendadak pingsan.
Santet Tali ghaib
~Pertarungan Ghaib~
Part 1 selesai.
Lanjut lusa.
Tapi tenang Untuk yang mau baca duluan atau sekedar mendukung bisa download versi ebook di link berikut ya :
Chapter 1 : karyakarsa.com/mitologue/sant…
Chapter 2 : karyakarsa.com/mitologue/sant…
See you soon
"YA AMPUN! MAYA!" Nenek memekik syok, ia menepuk-nepuk pipi agar cucunya bangun. "Maya, sadar! Kamu kenapa?! Ya Allah, Nak!" Nenek menangis terisak-isak.
Kyai dan Kang Jajang pun panik.
"Cepat Nenek baringkan Maya yang benar, lalu cepat ke luar!-
- sementara Kyai dan murid-murid lainnya cepat berdoa untuk membentengi rumah ini agar jangan banyak makhluk lain menerobos masuk untuk berebut merasuki tubuh Maya seperti kemarin!" Kang Jajang menginstruksi, yang segera diangguki oleh kedua orang itu.
Nenek segera membenarkan posisi Maya yang acak-acakan, sementara Kyai memanggil tiga pemuda kemarin untuk segera berdoa.
Maya kejang-kejang dengan mata memelotot. Dia mengeram seperti singa sembari meracau tak jelas. Tangannya mencakar-cakar tangan, wajah dan tubuhnya hingga terluka.
"Ya Ampun, Nak! Kenapa kamu harus menderita seperti ini!" Nenek menangis tersedu-sedu sambil membelai rambut Maya.
"Sebaiknya Nenek keluar saja. Tangisan Nenek malah makin menambah kepanikan! Bisa-bisa kami bisa tak konsentrasi mengobati Maya!" pinta Kang Jajang.
Pria itu juga tampak tegang, padahal dia sudah sangat berpengalaman mengurus permasalahan ini. Namun, gara-gara merasakan aura mencekam dan kuat, dia tak bisa menutupi kerisauannya.
"Ba-baiklah." Terpaksa, Nenek ke kuar dan hanya bisa menyaksikan dari ambang pintu.
Sementara Kyai dan ketiga anak didiknya melantunkan selawat, Kang Jajang membaca mantra sembari menekan jidat Maya dan bagian tubuh lainnya yang menjadi jalan masuk para jin untuk menguasai raga seseorang.
Maya mengerang kesakitan sembari mencakar-cakar Kang Jajang, tapi dukun itu berhasil menghindar.
Akibat Maya melawan, Kyai dan tiga pemuda itu makin melantangkan ayat-ayat suci Al-Quran sehingga Maya tak berkutik akibat rasa panas yang membakar dirinya.
"PANAS! PANAS! PANAS! HENTIKAN! ARGH!" Maya menjerit histeris sambil menutup kedua telinga.
Jin yang mengendalikan diri gadis tersebut membanting tubuh Maya ke lantai dengan kasar, berguling-guling tak beraturan akibat tak sanggup melawan doa Kyai.
“MANEH SHOLAWATAN KENEH WAE?! EREUN MOAL?! BOSEN HIRUP MANEH?!” Maya memelototi pria berserban itu murka. Mata apinya berkobar-kobar penuh kebencian.
("KAU TAK BOLEH BERSELAWATAN LAGI! CEPAT BERHENTI! APA KAU SUDAH BOSAN HIDUP, HAH?!")
Namun, Kyai tetap fokus berselawat, demikian dengan para anak didiknya, enggan menggubris kecaman tak berarti gadis itu.
"Kurang ajar! Dasar Bebal!" Maya berlari menerjang Kyai, tetapi Kang Jajang segera menghadangnya.
"Kalau berani kau menyentuh Kyai, aku tidak akan segan-segan mengirimmu ke neraka!" bentak Kang Jajang tak main-main.
“JIGA NU ENYA WAE MANEH!?, ILMU SAKITU MAH EWEUH NANAONA NGALAWAN AING!”
("APA KAU PIKIR KAU BISA, HAH?! ILMUMU YANG TAK SEBERAPA ITU TIDAK AKAN MEMPAN MELAWANKU!")
“DEMIT BALAGA MANEH! NANTANG MANEH!? TINGGALIKEUN!”
("DASAR SETAN BELAGU! JADI KAU MENANTANGKU?! BAIKLAH! KITA BUKTIKAN SIAPA YANG AKAN KALAH!")
Kang Jajang langsung mencabut keris pusaka yang terselip di pinggangnya.
Mulut pria itu komat-kamit membaca mantra dengan khusyuk. Sesekali dia bergerak sendiri mengundang arwah nenek moyang masuk ke dalam benda sakti itu.
"ARGH!" Maya meraung-raung kesakitan. “JEMPE! ENGGEUS! EREUN! TEU SAROPAN!”
("HENTIKAN! HENTIKAN! KALIAN BENAR-BENAR KURANG AJAR!")
Amarah Maya makin membara. Dia nekat mengacak-acak apa pun yang ada di kamar itu dan melemparnya ke arah Kang Jajang.
Namun, secara gaib, benda-benda yang melayang itu memantul mengenai Maya, seakan ada tameng yang melindungi Kang Jajang.
Kang Jajang menggerak-gerakkan kerisnya yang membuat Maya makin melolong pedih.
‡‡‡
Sementara di dimensi lain, Maya sedang terkurung di sebuah ruang gelap.
Begitu gelap sampai tidak ada setitik cahaya pun yang memerangi tempat dia berada.
"Di mana aku?" Maya memeriksa sekelilingnya. Namun, dia tidak dapat melihat apa pun.
"Halo! Apakah ada orang di sini?" Maya memanggil. Suaranya menggema di ruangan yang menurutnya agak luas itu.
Sedetik kemudian, Maya menyadari dia sedang duduk bersila di atas genangan air. Pakaiannya basah.
Dia meraba-raba sekitarnya, ternyata air cukup banyak di sekeliling. Aroma anyir menyeruak tajam menggelitik indra penciumannya.
Aku sebenarnya di mana?
Maya ketakutan setengah mati. Dia yakin ia sedang terjebak dalam ilusi makhluk astral itu lagi.
Tanpa basa-basi, dia segera beranjak berdiri dan mencari-cari pintu.
Dia tak ingin bertemu dengan makhluk-makhluk yang sudah menyiksanya lahir dan batin.
Namun, setelah mengitari ruangan itu berkali-kali, dia tak dapat menemukan pintu keluar. Seluruhnya hanya tembok yang mengepungnya.
"Aku di penjara?" gumam Maya syok. Tungkainya gemetaran hebat hingga nyaris ambruk.
Akan tetapi, dia mati-matian mempertahankan kesadarannya sebelum dia kembali dilemparkan ke dimensi lain, yang mungkin lebih mengerikan.
Maya bimbang. Dia ingin berteriak meminta tolong, tetapi di sisi lain, dia takut malah mengundang setan datang kepadanya.
Bagaimana ini?
Maya memutar otak sambil berjalan mondar-mandir. Jantungnya berdegup kencang diiringi peluh yang mengucur deras. Dia sedang berada di ambang kematian.
"Kau harus mati, Maya! KAU HARUS MATI!" Teriakan misterius itu menggema di penjuru ruangan. Maya tersentak kaget dan langsung mundur di pojokan.
Suara itu terdengar tidak main-main. Penuh intimidasi dan kebencian. "Si-siapa kamu sebenarnya? Kenapa kamu ingin aku mati? Apa salahku?"
Maya bertanya dengan suara bergetar menahan tangis. Dia takut karena tidak ada seorang pun yang sanggup menariknya ke luar dari dunia kejam ini.
Dia mencoba bangun dari permainan iblis. Tak peduli bagaimana caranya. Maya terpaksa mencubit tangannya berkali-kali agar rohnya kembali pada raga yang dia tinggalkan. Namun, hasilnya nihil. Dia tetap tertahan di dimensi terkutuk ini.
"Percuma saja, Maya! Kau tidak akan pernah lepas dari cengkeramanku! Camkan itu!" Tawa jahat itu menggelegar memenuhi ruangan.
Maya menangis histeris sambil berteriak-teriak memanggil nama-nama orang yang ia kenal.
Termasuk Azis. Berharap mereka dapat meluputkan dari dunia gaib tersebut. Namun, tidak ada tanggapan apa pun.
Di balik kegelapan, Maya menangkap sesosok mengerikan berdiri agak jauh darinya.
Sampai kapan pun, dia tak akan pernah lupa makhluk yang pernah meninggalkan kesan menakutkan itu dalam sejarah hidupnya.
Tubuhnya terbalut kain kafan yang kotor terkena tanah basah dan mengeluarkan aroma bangkai yang menyengat.
Maya sampai mual-mual karena menghirup bau menjijikkan itu.
Akibat gelap lebih mendominasi ruangan, Dia tak bisa melihat wajah setan itu secara jelas sehingga ia tak mengenalinya.
Sebenarnya Maya takut untuk bertatapan dengan pocong itu. Namun, demi mengobati rasa penasarannya, mau tak mau, Maya harus mencoba memeriksa pemilik wajah gosong, busuk dan mengeluarkan belatung tersebut.
Dalam sekejap, sosok itu sudah berdiri tepat di depan Maya. Kini matanya dipenuhi wajah mengerikan itu.
Maya memekik histeris dan jatuh pingsan.
~SANTET TALI GHAIB - PERTARUNG GHAIB~
PART 2 SELESAI!!!
LANJUT LUSA!
Tapi tenang Untuk yang mau baca duluan atau sekedar mendukung bisa download versi ebook di link berikut ya : Chapter 1 : karyakarsa.com/mitologue/sant…… Chapter 2 : karyakarsa.com/mitologue/sant…
See you~
‡‡‡
"Aduh, kepalaku …." Maya meringis kesakitan saat kepalanya terasa nyeri seperti dihantam oleh benda tumpul. Dia berusaha duduk dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
"A-aku di mana?"
Hawa mencekam yang terasa asing menyelimuti diri Maya. Bulu kuduknya meremang saat angin asing berembus menyentuh kulitnya.
Tempat ini sangat asing. Sekelilingnya hanya terdapat tembok tanah yang seakan sedang mengepungnya.
Setelah mengumpulkan segenap kesadaran, ternyata dia berada di dalam liang lahat.
"Kenapa aku bisa di dalam sini?!" Maya memekik syok. Dia buru-buru bangkit berdiri dan hendak meloncat keluar. Namun, suara keramaian orang sedang mengumandangkan ayat-ayat suci menghentikan aktivitas Maya.
Suara itu seperti gerombolan orang sedang mengiringi jenazah menuju tempat pemakaman. Suara isak tangis dan raung kepedihan memenuhi telinga Maya.
Dia sangat mengenal suara itu.
Siapa yang meninggal? batin Maya penasaran.
Entah kali ini nyata atau hanya sekadar ilusi. Seingatnya dia tadi berada di sebuah ruangan gelap yang tak berpintu. Apakah dia benar-benar sudah kembali ke dunia nyata?
Maya berusaha mencari sumber khalayak ramai itu. Akibat tubuhnya sedikit pendek, dia harus meloncat-loncat agar bisa melihat ke luar.
Dari kejauhan, dia mendapati gerombolan ibu-ibu dan bapak-bapak mengenakan pakaian serba hitam berjalan ke arah Maya. Beberapa pemuda menggotong sebuah keranda, dan semuanya menangis pedih.
Maya tersenyum senang. Sebab di antara orang banyak terdapat Ayah, Ibu Nenek serta Azis. Akhirnya dia bisa bebas dari liang lahat ini.
"Ibu! Ayah! Aku di sini!" Maya berteriak memanggil sambil melambai-lambaikan tangan agar mereka bisa menemukannya.
Tak lama kemudian, akhirnya mereka tiba di liang lahat tempat Maya terjebak.
"Ayah! Ibu! Nenek! Azis! Ini aku!" teriak Maya lebih lantang, girang. Anehnya, mereka tak merespons sama sekali dan terus menangis, seakan tidak mendengar suaranya. Termasuk semua rombongan pengiring jenazah.
"IBU! AYAH! INI AKU!" Maya berteriak sekeras-kerasnya sambil mengulurkan tangan. Namun, mereka semua tetap tak menggubris teriakan Maya.
Kyai berdoa sesaat, kemudian mempersilahkan tiga anak didiknya membuka keranda jenazah, sementara beberapa orang sudah terjun ke liang lahat, termasuk Azis dan Ayah.
"Ayah! Azis! Aku sangat takut!" Akhirnya Maya dapat kesempatan dan menghamburkan pelukan pada keduanya. Anehnya dia seperti memeluk angin sehingga Maya mematung syok. Tubuhnya menembus kedua pria itu.
"A-apa yang sebenarnya terjadi?" Maya bergumam panik. Dia pun kembali mencoba menyentuh Azis dan Ayah, tetapi tak bisa.
"Ke-kenapa tanganku menebus tubuh mereka? Apa yang telah terjadi?!" Maya menangis histeris. Dia takut karena orang-orang yang ia cintai itu tak bisa menyadari kehadirannya.
"AYAH! LIHAT AKU! KENAPA AYAH TIBA-TIBA TULI?! JANGAN BERCANDA, AYAH! AKU TAKUT!" Maya tetap berusaha membuat sang Ayah menyadari kehadirannya. Namun, pria tua itu hanya menangis terisak-isak hingga wajahnya memerah.
Ketiga pemuda di atas mengeluarkan seorang jenazah dan menyerahkannya pada orang-orang yang sudah di liang lahat.
"Sebenarnya siapa yang meninggal?" Maya berupaya melihat wajah seseorang yang sudah tak bernyawa itu. Tubuhnya kaku seperti papan kayu.
"MAYA! JANGAN TINGGALKAN IBU,! KENAPA KAMU HARUS PERGI SECEPAT INI?! KENAPAAA?!" Ibu menjerit-jerit histeris membuat suasana makin sedih. Wanita paruh baya itu sampai harus ditenangkan oleh beberapa ibu karena hampir jatuh pingsan.
"Maya?!" Maya terbelalak syok. Dia mematung tak percaya. Ia yakin telinganya masih berfungsi dengan baik. Ibunya baru saja meraung-raung memanggil namanya begitu lantang.
Maya sontak menatap jenazah itu. Setelah ayah membuka penutup wajahnya, tubuh Maya hampir ambruk saat mendapati jenazah itu adalah dirinya.
Air mata Maya meluruh. "Tidak … ini tidak mungkin! Aku masih hidup! Kenapa aku malah dimakamkan?! Pasti ini hanya mimpi!" Maya menepuk-nepuk pipinya.
‡‡‡
Kang Jajang masih berjibaku melawan banyak makhluk gaib yang berusaha melesat masuk mengendalikan tubuh Maya. Gadis malang itu tak lelah berontak sambil sesekali tertawa, memaki bahkan menyerang Kang Jajang.
Kang Jajang memainkan keris sakti itu. Tiap kali benda itu dia goyangkan, Maya makin menjerit-jerit kesakitan.
"LEPASKAN AKU! LEPASKAN!" Kang Jajang mengikat Maya dengan tali gaib sehingga gadis itu hanya mematung di tempatnya tanpa berdaya melepaskan diri.
"Tak akan! Kalau kau mau bebas, cepat keluarlah dari raganya! Dan, Jangan pernah mengganggunya lagi! Paham?!" bentak Kang Jajang tegas.
"Ba-baiklah." Hantu itu pasrah dan meninggalkan raga Maya. Alhasil, gadis itu jatuh terkulai lemas dan tak sadarkan diri.
Untung saja, selama proses penyembuhan, tidak ada makhluk astral yang tangguh sehingga proses berjalan cukup musuh. Para jin yang bersarang di tubuh Maya hanya makhluk-makhluk tak berkekuatan besar.
“AING-EUN EUY!”
("SEKARANG GILIRAN AKU YANG MERASUKINYA!")
“NAON! AING HEULA, TI KAMARI GUES NUNGGUAN!”
("TIDAK! AKU! AKU SUDAH MENGINCARNYA SEJAK KEMARIN!")
Kang Jajang menangkap suara keributan yang bersumber dari luar rumah. Suara itu bukan manusia, melainkan para bangsa jin yang sedang berebut mengambil alih Maya.
"Kyai! Tolong makin keras dan khusyuk membaca doa-doanya! Karena makin banyak setan-setan yang berusaha menerobos masuk ke rumah ini!" pinta Kang Jajang.
Kyai makin melantangkan suaranya. Demikian juga dengan ketiga anak didiknya. Keempatnya bertugas untuk membentengi rumah Nenei agar pada makhluk tak kasat mata tak dapat menembus masuk supaya jangan memperburuk keadaan Maya.
Sementara Nenek hanya bisa menangis menyaksikan cucunya jadi bulan-bulanan setan.
Terdengar suara mesin motor berhenti di depan teras membuat Nenek berpaling ke arah pintu. Seorang pemuda tergesa-gesa menghampirinya dengan wajah panik.
"Apa yang terjadi, Nek?! Kenapa Maya berteriak-teriak kesakitan?" sergah Azis panik.
"Ma-maya sedang dilakukan ritual pengusiran oleh Kang Ujang dan Kyai." Nenek berkata di sela-sela isak tangis.
"Memangnya Maya kenapa!?" Azis terbelalak syok.
"Pengusiran apa?!"
"Maya dirasuki oleh banyak jin, Azis. Sekarang Kang Ujang dan Kyai sedang berusaha mengusir mereka dari tubuh Maya," sambung Nenek membuat Azis mematung tak percaya.
Kekasih Maya itu berpaling pada gadis yang sedang meronta-ronta sambil meraung-raung histeris.
Hatinya sangat sobek menyaksikan Maya sudah bukan seperti gadis yang ia kenal.
Raut wajahnya tampak garang, sorot matanya membeliak tajam, dan tubuhnya terlihat lemas dan letih tetapi dipaksa berontak.
"ARGH!" Kang Jajang terpental saat Maya menubruknya.
“TONG NGAGANGGU BUDAK IEU, BUDAK IEU NU AING!”
("JANGAN MENGGANGGUKU DAN GADIS INI! GADIS INI MILIKKU!")
Maya menduduki Kang Jajang yang terkapar, dan mencabik-cabik tubuhnya. Sontak Kyai dan Azis segera menjauhi Maya dari dukun itu.
"LEPASKAN AKU! LEPASKAN!" Maya melawan Kyai dan Azis.. Dia menendang tubuh kedua pria yang mengekangnya itu untuk meloloskan diri.
"Tenanglah, Maya! Ini aku .. Azis!" Azis berusaha menenangkan sang kekasih, berharap Maya segera kembali ke raganya saat mendengar suara ia. Bukannya tersadar, Maya malah makin menyerang Azis hingga pria itu terduduk keras ke lantai.
“MANEH TONG NGAGANGGU BUDAK IEU DEUI! BUDAK IEU NU AING!”
("KAU JANGAN PERNAH MENGANGGU GADIS INI LAGI! DIA MILIKKU!")
Maya memelototi Azis murka.
Mata Azis berkaca-kaca. "Sadarlah, Maya! Istigfar!" teriaknya lantang, berusaha menebus bawah alam sadar gadis itu.
“PARCUMA, BUDAK IEU NGILU JEUNG AING!”
("PERCUMA! GADIS INI AKAN TETAP BERSAMAKU!")
Maya tertawa jahat, terdengar mengerikan bagi telinga semua orang di situ.
Kang Jajang menotok tengkuk Maya sehingga gadis itu ambruk tak sadarkan diri. Dia mentransfer energi pada Maya supaya gadis itu bisa melawan jin yang menguasai tubuhnya.
Maya membujur kaku di lantai membuat semua orang panik.
"Apa yang terjadi, Kang?! Kenapa Maya jadi kayak gini?!" Azis menjerit histeris. Gadis itu menjelma bagai mayat.
Kang Jajang tak menjawab, turut bingung.
Tiba-tiba Maya membeliak menatap dukun itu dingin. Kang Jajang menantang dengan balik memelototinya.
"Kenapa?! Kau mau menantangi saya?!" Kang Jajang berkacak pinggang.
Maya melengkung senyum mengejek.
“TONG MIMPI NGAREBUT BUDAK IEU TI AING! AING JEUNG BUDAK IEU GEUS KA IKET, MANEH MOAL BISA NGELEHKEUN AING”
("JANGAN PERNAH BERMIMPI UNTUK BISA MEREBUT ANAK INI DARI SAYA! SAYA DAN ANAK LEMAH INI SUDAH TERIKAT! JADI KAMU TIDAK AKAN BISA MENGALAHKAN AKU!")
Suara Maya berubah jadi suara seorang pria tua. Teriakannya menggema di kamar kecil itu.
Kang Jajang memperoleh kesempatan untuk menginterogasi, katanya, "Siapa kamu?! Siapa yang sudah menyuruhmu mengganggu anak ini, hah?!"
"ITU BUKAN URUSANMU!"
"Jelas itu ada urusannya denganku!" bentak Kang Jajang menolak takut. "Karena kamu tidak berhak merampas makhluk ciptaan Allah!"
Setan itu hanya tertawa terbahak-bahak menganggapi celotehan Kang Jajang. Dia tampak tak takut meski Kang Jajang mengancamnya serius, sampai membawa nama Allah.
Maya hanya tergelak jahat sambil berbaring di lantai. Setan dalam diri gadis itu seperti tak berniat memberontak lagi. Karena itu, Kang Jajang berani mendekat dan duduk di sampingnya. Dia meminta air putih dan segera diambil oleh Nenek.
Mulut Kang Jajang komat-kamit sambil membaca mantra untuk mendoakan air putih, kemudian memercikkan sekujur gadis itu.
Azis hanya bisa menangis terisak-isak bersimpuh di samping Maya, dia tak berani menyentuh tangan kekasihnya yang mengepal kuat-kuat.
Maya terus tertawa tanpa alasan. Itu membuat Azis kadang bergidik ngeri karena suara Maya terdengar menakutkan. Suara lemah lembut yang selalu mampu menenangkan hatinya, kini berubah jadi kakek-kakek.
Sebenarnya apa yang telah terjadi?
Tak lama kemudian, Maya tertidur dalam mimpinya. Wajahnya kembali ayu seperti sediakala, walaupun wajahnya pucat pasi.
"Apakah Maya sudah baik-baik saja, Kang?" tanya Nenek dan Azis kompak.
Kang Jajang melakukan penerawangan. Aura jahat dan kuat mulai berangsur-angsur lenyap.
"Roh jahat itu sudah pergi meninggalkan Maya. Sebaiknya kamu angkat Maya dan pindahkan kasur. Biarkan dia istirahat karena tenaganya suara terkuras habis." Kang Jajang memerintah Azis yang langsung diangguki.
"Nek, kita harus bicara sebentar di luar. Ada hal penting yang harus saya katakan."
Nenek tampak khawatir, tetapi tak menolak ajakan Kang Jajang. Semuanya pergi keluar, ke ruang tamu. Sementara Azis membopong Maya dan membaringkannya di kasur.
Samar-samar pria itu mendengar percakapan Nenek dan sang dukun serta kedua orang tua Maya.
Akibat penasaran, Azis ikut menimbrung ke tengah-tengah mereka dan meninggalkan Maya dalam pengawasan anak didik Kyai dan anggota keluarga Maya.
"Ini bukan masalah sepele. Dampaknya sudah sangat berbahaya dan bisa mengancam nyawa Maya."
Azis menegang mendengar itu. Dunianya seketika runtuh.
"Apa yang harus kami lakukan, Kang?!" Ibu Maya menangis terisak-isak.
SANTET TALI GHAIB - PERTARUNGAN GHAIB SELESAI!
Lanjut ke Bab 3
~Menampakkan Diri~
Buat mau yang baca duluan. Bab 1-3 sudah tersedia di Karyakarsa.
Tersedia Ilustrasi kejadian yang di alami maya saat itu.
Share this Scrolly Tale with your friends.
A Scrolly Tale is a new way to read Twitter threads with a more visually immersive experience.
Discover more beautiful Scrolly Tales like this.
