TUJU
(BAB 10: sebAb)
Izin tag, ya! ๐
(Cerita ini masih draft awal, setelah tamat nanti akan direvisi)
@Penikmathorror @HorrorBaca @IDN_Horor @ceritaht @ceritaserem @bacahorror_id @bacahorror_id @threadhoror
#bacahorror #ceritahorror
#threadhorror #horrortwt
Link Bab 9
Sebelum mulai, saya mau memberitahukan bahwa perjalanan menuju Desa Setan akan segera dilakukan bulan depan. Jadi, siapkan uang untuk membeli tiketnya! ๐๐๐ป
Andi bergegas lari ke arah kamar, tetapi tak dia dapati apa yang dicari.
"Ibu? Ke mana Ibu?"
Mendengar suara tangisan Dian, Andi tersadar, dan secepat mungkin kembali ke tempat wanita yang merawat ibunya.
"Apa yang terjadi? Ke mana Ibu?" tanyanya panik pada Dian.
Dian menceritakan saat dia kembali dari menyiapkan air hangat untuk membersihkan tubuh Bu Sri, ibu dari Andi itu sudah berdiri tegak sambil tersenyum dengan ekspresi menakutkan. Namun, bukan itu penyebab tubuh wanita muda yang ada di hadapan Andi sekarang bergetar hebat.
"I-i-ibu Anda melangkah mendekat ... ke arah saya, l-l-lalu berbisik dengan suara menyeramkan seorang pria."
"Apa katanya?"
"D-d-dia bilang ...," ucap Dian menggantung.
"Apa?" tanya Andi kembali dengan suara meninggi.
"Jangan menahanku jika kau tak ingin mati!"
Andi membelalak. "Dia mengancammu?"
Dian mengangguk.
"Lalu apalagi yang terjadi setelahnya?"
"S-s-setelah itu ... dia berlari ke arah dapur, dan pergi keluar rumah dari pintu belakang," jelas Dian sambil terisak.
Andi menghela napas, lantas membuangnya kasar, lalu jatuh berlutut.
"Maafkan saya tak bisa menahannya." Dian menyesali ketidakmampuannya menjaga amanah Andi.
"Pulanglah," ucap Andi lemah, membuat Dian menatap matanya.
Andi tak marah dengan Dian, dia paham yang Dian rasakan, tetapi kini bertambah lagi masalahnya.
"Saya tidak marah denganmu, hanya saja saya tak ingin kamu ikut menjadi korban selanjutnya."
Dian sedikit bernapas lega, ucapan Andi setidaknya mengurangi rasa bersalahnya, meski tak membuatnya hilang sepenuhnya.
"Saya tak bisa lepas tangan. Saya mau membantu mencari ibu Anda," jawab Dian yang mulai mampu menahan tangisnya.
Andi ingin menolak niat baik Dian, tetapi dia mengurungkannya setelah melihat tatapan memohon Dian.
"Tetapi ... ke mana kita akan mencari ibu Anda?"
Keduanya lantas terdiam, merenung memikirkan jawaban atas pertanyaan Dian. Semakin merenung, semakin mereka tak menemukan jawabannya.
"Tak ada pilihan lain," ucap Andi membuat Dian kembali menoleh ke arahnya. "Pak Ujang! Kita harus ke rumahnya lagi!"
"Sungguh?"
"Masih ada kesempatan untukmu pulang."
Dian menunduk. Ucapannya ingin membantu mencari ibu Andi itu sungguh-sungguh, tetapi pergi ke rumah dukun sakti di malam hari menurutnya bukan ide yang bagus.
"Tunggu!" Andi sudah hampir keluar pintu depan saat Dian menghentikannya. "Saya ikut!"
Berboncengan menggunakan sepeda motor Andi, mereka berdua menerobos jalanan desa yang mulai menggelap dan sepi karena sudah Magrib, tak ada yang masih terlihat berada di luar rumah, pun pos ronda masih kosong.
"Boleh saya bertanya?" Andi membuka obrolan selama di perjalanan.
"Boleh."
"Saya belum lama mengenalmu, tak seperti Ibu. Kenapa kamu sebegitu peduli dengannya?"
Dian menghela napas. Pertanyaan Andi membuatnya mau tak mau membuka luka lama. Soal kejadian yang menimpanya di hari-hari pertama dia bekerja di Puskesmas Kendawangan.
"Dian? Kamu dengar?" Andi bertanya kembali.
"Seandainya tidak ada Bu Sri-ibu Anda-mungkin saya tidak ada lagi di dunia ini," jawab Dian lirih.
"Maksudmu?"
Dian menghela napas pelan, lalu mengembuskan perlahan. "Bu Sri menggagalkan upaya bunuh diri saya."
Mendengar hal itu, Andi memelankan laju kendaraannya.
"Maaf, tapi ... kenapa kamu mau bunuh diri?"
Dian membisu, tak keluar sepatah kata lagi dari mulutnya hingga beberapa menit berlalu, membuat Andi paham bahwa yang ditanya tak ingin menjawab pertanyaan tersebut.
"Baiklah, tak perlu menjawab jika itu mengusik-"
"Saya diperkosa oleh anak tante Anda," ucap Dian dingin, memotong ucapan Andi, membuat Andi menepi dan mematikan mesin motornya.
"Rusli memerkosamu?" tanya Andi yang kini menatap ke mata Dian.
Dian menarik bibir ke dalam mulutnya. Matanya kembali berair setelah tak lama menumpahkan air mata.
"Rusli-anak Bik Nur-melakukannya?"
Dian mengangguk pelan.
Apa yang Dian sampaikan membuat Andi terkejut, sebab cerita yang dia dengar dari ibunya, Rusli dipenjara karena kedapatan mencuri di rumah warga.
"Apa karena itu?" gumam Andi menghubungkan masalah Rusli dengan apa yang menimpa ibunya.
"Siapa yang melapor hingga Rusli dipenjara?"
"Bu Sriโibu Anda," jawab Dian, membenarkan dugaan Andi sebelumnya.
Andi memejamkan mata, lantas menunduk. Kini dia paham kenapa Bik Nur tega melakukan hal tersebut kepada ibunya.
Dalam diam Andi menyalakan mesin motornya kembali. Melaju ke arah tujuan semula.
Hatinya disesaki dengan rasa marah kepada bibinya itu, marah karena membuat ibunya menderita sebab kelakuan anaknyaโRusliโyang memang biadab.
Akhirnya mereka tiba di halaman rumah Pak Ujang. Andi menyadari ada sesuatu yang berbeda dari kunjungan dia sebelumnya ke rumah itu.
"Dia pergi dari sini?" gumam Andi melihat pintu rumah Pak Ujang yang terbuka lebar, ditambah tak ada satu pun lampu yang menyala, hanya cahaya bulan yang membantu penglihatan mereka.
Andi turun dari motornya setelah meminta Dian untuk turun terlebih dahulu.
"Tunggu di sini," pinta Andi pada Dian yang terlihat menahan rasa takut.
"Di sini? Tidak ikut denganmu?"
"Saya hanya memastikan keadaan sebentar, jika sudah aman saya akan memanggilmu."
Meski enggan melakukannya, Dian tak menolak, dia tak ingin membebani pikiran Andi.
"Baiklah," ucap Dian.
Pelan Andi melangkah, menghindari ranting dan dedaunan yang berserakan di tanah dengan hati-hati selama menuju rumah sang dukun. Keringat di dahinya terasa dingin oleh angin malam yang menerpa wajahnya.
Tak lama dia pun sudah berdiri di bawah palang pintu rumah Pak Ujang, menyalakan lampu senter di ponselnya, dan menyorot ke dalam rumah.
"Tak ada siapa pun," gumamnya setelah menyorot cahaya sentar ke seisi rumah.
"ANDI!!"
Suara teriakan yang nyaring itu, membuat Andi menoleh ke arah wanita yang dipintanya menunggu di dekat motor.
"DIAN!" teriak Andi yang melihat Dian sudah berada dalam dekapan sosok kuntilanak bergaun hitam.
"TOLONG!!" teriak Dian sebelum dirinya dibawa terbang dan menghilang dalam gelapnya malam oleh sosok itu.
Andi ingin berlari mengejarnya, walau mustahil untuk merebut Dian kembali. Namun, kakinya tak bisa digerakkan, bukan karena kelu, tetapi ada tangan dari yang menahan kedua kakinya dengan sangat kuat.
"Tak sopan jika baru saja datang bertamu, sudah mau langsung pergi."
Andi menoleh perlahan ke arah belakang, ke dalam rumah, dan mendapati Pak Ujang berdiri dengan melipat tangan di dada.
"Ya, ini aku-si tuan rumah-bukan sosok yang menahan kakimu itu," ucapnya dengan tatapan mengarah ke lantai tempat Andi berdiri.
Andi yang penasaran, mengikuti arah tatapan Pak Ujang, dan betapa terkejutnya dia melihat sosok yang menahannya.
Bersambung.
Sampai ketemu di bab selanjutnya.
Jangan lupa RT dan love-nya, biar saya secepat kilat melanjutkan kisahnya. ๐๐๐ป
Oh, ya! Judul babnya salah, ini harusnya judul untuk bab 11, jadi saya koreksi di sini saja.
TUJU
(BAB 10: menGhilang)
Share this Scrolly Tale with your friends.
A Scrolly Tale is a new way to read Twitter threads with a more visually immersive experience.
Discover more beautiful Scrolly Tales like this.
