“Ibuku suka pake ajian dan rajah, katanya untuk penglaris usaha.
Tpi udh 2 tahun ini dia sakit-sakitan dan jadi aneh, paling parah dia pernah mencekikku pas lagi tidur. Kami udh berobat kemana-mana, kata orang ‘bisa’, Dia sudah bukan Ibu.
Tolong aku.”
-A Thread-
#bacahorror
ada kiriman cerita dari narsum beberapa minggu lalu lewat email. Setelah komunikasi beberapa kali, ternyata kejadiannya memang cukup serius--perkara perdukunan.
Sebentar lagi ya kita up, silahkan RT dulu atau tandai judul thread di atas agar tidak hilang.
Desc:
Segala bentuk nama dan tempat telah disamarkan. Due of content issue, mohon untuk tidak menjudge narasumber dengan hate speech, beliau hanya ingin bercerita dan berharap dapat solusi.
Thread ini menggunakan POV 1, ditulis langsung oleh narsum, saya hanya sedikit merapihkan
--Mari Kita Mulai--
Panggil aja aku vira, aku bingung mulai cerita dari mana, keluargaku lagi kacau banget sekarang. Maaf ya, kalau ceritanya lompat-lompat.
Baru tadi tengah malam, ketika orang-orang rumah lagi tidur, ibu tiba-tiba masuk ke kamar masku dan memukul-mukul mas dengan sapu batang kayu sampai mas teriak-teriak kesakitan.
Satu rumah bangun mendengar suara teriakan mas, ketika kami keluar, ibu tiba-tiba lari ke halaman belakang, tingkahnya seperti, maaf, kayak monyet. Dia melompat-lompat sampai memanjat-manjat pagar belakang.
Kami mengejar, tapi sampai di halaman belakang gak ada yang berani mendekat, ibu menatap kami satu per satu, matanya melotot tajam, serem banget. Tiba-tiba dia berteriak dengan suara serak,
“SOPO SENG GELEM MELU AKU MATI?” (siapa yang mau ikut aku mati)
Melihat kami ketakutan, dan gak ada yang berani mendekat, ibu tertawa memekik keras,
beruntung pamanku yang tinggal di sebelah rumah datang dan langsung memeluk ibu, menahan tubuhnya sembari membaca ayat-ayat doa.
Ibu terus tertawa, sambil mengoceh dalam bahasa jawa yang intinya mengancam pamanku juga bakal mati.
Ibu bahkan mengumbar aib-aib pamanku yang menurutnya, itu tak pernah diceritakan ke ibu.
Tak lama, badan ibu melemas, dan kami langsung membawanya ke kamar. Paman mengikat kaki dan tangan ibu.
“Supaya gak kejadian lagi kayak tadi, kalian bisa mati beneran” kata Paman.
Semua bermula dari semenjak perceraian ibu dengan bapak. Ibu menjadi lebih berambisi, dari cara berpakaiannya pun berbeda, bahkan sekarang ibu selalu bersolek (make up) setiap hari (hal yang sebelumnya jarang dilakukan).
Ibu membuka salon di sisi rumah, hal-hal aneh bermunculan semenjak Ibu pergi ke yang katanya “orang pintar” kenalan dari teman lamanya.
Dari situ hal-hal tak lazim dilakukan ibu, dia mandi kembang, menabur sesaji ke sekitaran rumah, sampai benda-benda klening di bungkus kain kafan lalu dikuburkan di halaman,
“ini penarik, biar mendatangkan rezeki” kata ibu.
Tak sampai disitu, hampir seminggu sekali ibu pergi ke tempat orang yang lebih cocok disebut dukun dibanding “orang pintar”, setiap pulang, di sepanjang lengan dan kakinya selalu dipenuhi dengan huruf-huruf rajah yang ditulis dari cairan mirip minyak merah--
--(kata bang jero kemungkinan menggunakan minyak jaffaron, minyak yang biasa digunakan untuk ritual hitam atau merawat pusaka).
Pernah satu waktu, aku memergoki ibu tengah berendam di bathtub dengan air penuh kembang dam lilin-lilin serta dupa di sekitarnya sebagai penerang karena lampu kamar mandi sengaja di matikan—
yang paling mengejutkan ialah bukan hanya lengan dan kaki rupanya, melainkan badan belakang ibu dipenuhi huruf-huruf rajah.
Aku terkejut bukan main, ibu melihatku mengintip, dia tampak marah, setelah mandi dia memperingatiku,
“Lain kali, jangan begitu, kamu bisa mencelakakan semuanya.” Ucap Ibu.
Bagiku, sebagai anak perempuan yang paling dekat dengan ibu sedari dulu, aku sangat merasakan perubahan sikap darinya, ibu menjadi lebih tempramental,
emosional ibu tidak stabil, pernah satu waktu hanya karena aku pulang telat sehabis kerja kelompok, ibu marah sampai membanting gelas.
Aku takut, seumur-umur ibu tidak pernah seperti itu.
Sejak perceraian orang tuaku, mas juga jarang ada di rumah, dia menjadi cuek, lebih sering menginap di tempat bapak, padahal aku tau sebenarnya dia tidak juga di tempat bapak, tapi di tempat teman-temannya.
Pernah aku protes dan cerita ke mas soal ibu, tapi mas cuma menjawab,
“Kamu kan anak kesayangan ibu dari dulu, kamu lah yang bicara ke ibu.”
Sikap yang berubah dari semuanya membuat aku benar-benar merasa sendiri, gak punya siapa-siapa :(
Bertahun-tahun ibu seperti itu, kian hari kian aneh, bau minyak yang ibu gunakan, serta dupa yang dibakar di rumah membuat aku tak nyaman berada di rumah,
percaya atau tidak, aku sering merasa diawasi dari berbagai arah. Entah oleh apa, yang pasti itu bikin aku ketakutan hampir setiap malam
Paling takut, ketika ibu bilang harus memadamkan listrik satu rumah, aku juga disuruh mematikan ponsel. Seluruh elektronik gak boleh menyala, dan ibu melakukan ritual di kamarnya—
saat itu, aku merasa hawa rumah menjadi panas, banyak suara derap langkah yang lalu lalang di ruang tengah, aku gak berani keluar kamar.
Tidur pun tidak bisa, HP di sita mama,
kebayang kan gimana aku di kamar sendiri sepanjang malam?
Ohiya, pernah satu waktu, Ibu pulang dengan wajah pucat, aku tanya kenapa (?) tapi ibu tidak menjawab.
Dia masuk ke dalam kamar, lalu aku mendengar suara Ibu nembang lagu jawa, seperti nyinden yang mengayun.
Aku merinding, aku ketuk kamar ibu, tapi ibu gak jawab, dia malah terus nyanyi menghiraukan panggilanku.
Rumah terasa seperti bukan rumah, aku merasa terancam di rumah sendiri. Buru-buru aku masuk ke kamar,
gak lama aku dengar suara langkah ibu ke luar, aku menoleh ke depan, kulihat ibu berjalan ke dapur, dia mengambil pisau daging dan memotong-motong ayam utuh dengan keras seperti orang sedang emosi,
Ibu seketika menatapku yang sedang melihatnya dari pintu kamar, tatapannya tajam, refleks aku tutup pintu karena ketakutan.
Waktu itu ibu benar-benar keliatan beda,
dan gak lama, HP kubunyi,
kamu tahu?
Ada telepon dari Ibu, sementara dari luar, aku masih bisa mendengar suara pisau beradu dengan talenan kayu, Kuangkat telepon itu dengan gemetar,
“Vira, kamu di rumahkan? Ibu masih di pasar nih, kita masak apa ya buat makan nanti?”
Dhegg! Jantung tuh kayaknya mau copot
Sumpah, detik itu badan aku langsung kaku, dan suara pisau beradu talenan itu semakin keras, aku mau mengadu ke ibu tapi tidak bisa.
Aku gemetar, tenggorokanku seperti tercekat, badanku lemas, sampai HP digenggaman juga terlepas jatuh.
Kalau ibu di pasar, siapa itu yang di dapur ? --
Aku ketakutan setengah mati, kamar kukunci rapat, aku buru-buru chat ibu menanyakan kapan pulang.
Untung pintu rumah gak kukunci, jadi aku diam di kamar sampai ibu benar-benar pulang, waktu terasa lambat, aku telepon mas juga gak diangkat-angkat.
Sumpah inget kejadian itu aja aku masih gemetar sampai sekarang.
Beberapa jam terasa lama banget sampai ibu pulang, aku menceritakan semua yang kulihat tadi, tapi ibu malah tersenyum, dia bilang--
“tenang, dia teman ibu, baik kok, gak usah takut ya” sambil mengelus-ngelus rambutku.
Mendengar ucapan ibu, aku malah semakin merinding dan takut.
Hari-hari setelahnya semakin janggal, banyak hal-hal mengerikan yang kalau aku ceritakan satu per satu terlalu panjang, mulai dari suara-suara aneh, derap langkah di ruang tengah,--
-- suara ledakan tengah malam dari atap rumah, aroma-aroma melati yang entah berhembus dari mana, sampai suara ibu nembang yang sering kudengar—tiap dengar suara itu, aku meyakini bahwa itu bukan ibu, melainkan sosok menyerupai ibu yang pernah kulihat.
Apalagi, kala ibu melakukan ritual rutinan yang listrik satu rumah dipadamkan, itu rumah rasanya penuh dan panas. Padahal gak ada siapa-siapa selain aku dan Ibu.
Tapi memang kuakui, salon ibu selalu ramai meski dibuka dari rumah yang jauh dari jalan besar. Ada aja pelanggan yang datang, sebagaian besar dari mereka yang kebetulan melintas lalu langsung mampir ke salon ibu, seperti ketarik.
Semakin ramai salon ibu, dia semakin menjadi-jadi dan sering mengunjungi dukun itu.
Bukan hanya di dalam rumah, tapi beberapa tetangga mengaku melihat ibu malam-malam mengenakan pakaian serba putih sedang duduk di atas atap rumah sembari uncang-uncang kaki.
Padahal ibu tidak pernah melakukan itu, dan aku yakin itu bukan ibu.
Kejadian-kejadian aneh itu terus terjadi hingga akhirnya Ibu sakit, dia mengeluh nyeri pinggang hingga tidak bisa bangun. Dia menelepon dukun itu, anehnya, gak lama ibu membaik dan dia langsung pergi ke dukun itu .
Setiap pulang dari dukun itu, ibu menjadi sehat seperti sediakala, tapi beberapa minggu kemudian kumat lagi, dan begitu seterusnya.
Capek banget, ibu jadi sering marah-marah, kalau dengar suara adzan aja, dia teriak
“BERISIK!”
Kalau ditegur atau diingatin oleh pamanku sekalipun, dia malah lebih marah.
Dua bulan terakhir ini ibu semakin parah, puncaknya waktu satu malam, di kamar mandi ibu tiba-tiba teriak-teriak, menangis terus tertawa.
Setelah lebih dari 2 jam di kamar mandi aku curiga. Aku akhirnya mengintip, dan aku kaget banget liat ibu sedang menyayat-nyayat tangannya sendiri dengan silet, dia seperti sedang menulis rajah dengan darahnya sendiri.
Anehnya, bukan hanya ditangan, siletan rajah juga tertulis jeras di punggungnya dengan darah yang masih mengucur.
Bagaimana bisa ibu melakukan itu di badan belakangnya sendiri?
Tapi di rumah itu benar-benar cuma ada aku dan ibu.
Melihatku, dia marah-marah dalam bahasa jawa cepat, suaranya serak, matanya melotot, dia menunjuk-nunjuk aku dengan silet itu. Karena takut, aku lari ke rumah paman, menangis minta tolong,
Paman dan anak pertamanya buru-buru datang ke rumah, tapi di kamar mandi ibu sudah tidak sadarkan diri. Setelah itu, setiap tengah malam, ibu selalu ke luar ke pekarangan rumah, tingkahnya aneh seperti monyet. Dia sering mengamuk, suka memukul-mukul kami ketika tidur.
Aku pernah dicekik kala tidur, dia bilang
“MELU IBU!!!”
Lalu Mas nyaris tertusuk, ketika ibu masuk ke kamarnya sambil mengacungkan pisau.
Namun ketika sedang tenang, kami tanya, ibu menjawab tidak ingat dengan apa yang dia lakukan.
Lalu setiap siang, ibu sering shalat, tapi menghadap ke arah matahari, cara shalatnya pun aneh, duduk tahyat akhir dirubah seperti posisi meditasi.
Aku pernah tanya,
“Ibu ngapain?”
“Ibadah. Sini ikut ibu.” Jawabnya sambil tersenyum lebar dan matanya mendelik.
Berdasarkan saran keluarga, ibu pernah di bawa ke RSJ, tapi sampai di RSJ ibu nampak sehat, tidak ditemukan tanda-tanda keanehan seperti waktu di rumah, al hasil ibu langsung dipulangkan dari RS di hari yang sama (tidak dirawat) .
Namun ketika sampai di rumah, bahkan sedari diperjalanan pulang, dia aneh lagi. Tertawa memekik seperti sedang menertawakan kami.
Pernah ketika makan, ibu minta air panas , aku kira buat kompres, karena memang badan ibu penuh luka-luka lebam setiap bangun tidur.
Aku berikan satu gelas besar air mendidih yang asapnya masih mengepul, tapi tiba-tiba ibu minum air itu panas-panas dalam satu tenggak sampai habis, lalu tertawa keras memekik.
Ibu juga sudah dibawa ke beberapa orang pintar, dari di jawa barat sampai yang dijawa timur.
Terakhir, orang pintar yang kami datangi dari ujung timur pulau jawa bilang--
“Dia sudah bukan ibumu, ikat terus jangan sampai lepas, bahaya. Segera cari pertolongan. Saya gak sanggup, saya masih punya keluarga.”
Orang yang kami harap dapat menyembuhkan ibu malah berkata seperti itu.
Aku benar-benar bingung sekarang, ibu kian parah.
Tolong, apa yang harus aku lakukan?
Aku takut banget, bahkan suara ibu nembang dan langkah kaki di ruang tengah masih sering terdengar setiap malam.
Sejujurnya, belakangan ini, semakin aku tolak, firasatku juga semakin yakin kalau orang yang ada di rumahku sekarang sudah bukan lagi ibu.
Share this Scrolly Tale with your friends.
A Scrolly Tale is a new way to read Twitter threads with a more visually immersive experience.
Discover more beautiful Scrolly Tales like this.
