Banyuwangi, 1998. Perang Ilmu Hitam, Intrik Politik, sampai pemenggalan kepala di gantung di pohon menjadi bagian dari catatan kelam pada tragedi "Pembantaian Dukun Santet"
-LEMAH SANTET BANYUWANGI-
A Thread.
Banyuwangi dikenal sebagai tanah luhur nan "Sakti", namun pada 1998 silam, oknum misterius melakukan pembantaian secara sadis yang menargetkan Para Dukun Santet, pondok-pondok, serta adu domba alim ulama.
Pada masa itu, ragam peristiwa mengerikan di luar nalar hingga konspirasi politik tercecer diingatan hingga menanggalkan bekas trauma
Salah satunya bagi Satrio (Narasumber) yg menyaksikan keluarganya yg dikenal "sakti" justru di bantai di hadapannya sendiri.
Thread ini akan di up agak malam ya, saya masih ada kegiatan dulu.
Silahkan tinggalkan jejak, tandai, RT, atau markah judul thread paling atas agar tidak hilang atau ketinggalan update-nya .
Sambil menunggu, barangkali di sini teman-teman ada yang familiar dengan tragedi pembantaian dukun santet banyuwangi 1998 ?
Boleh di share di reply ya.
Nanti malam kita kupas tuntas, stay tune!
izinkan saya mengisahkan cerita ini melalui sudut pandang orang pertama (narasumber).
Segala bentuk nama dan tempat pada cerita ini telah disamarkan untuk melindungi privasi pihak-pihak terkait.
---Mari Kita Mulai---
Masih terekam jelas diingatan kala aku menyaksikan orang-orang dibunuh begitu cepat secara sadis di depan mataku sendiri.
Panggil aja aku Satrio, waktu tragedi itu terjadi usiaku masih 11 tahun, saat itu aku sedang mondok di salah satu padepokan yang terletak di timur pulau Jawa, tepatnya, di tanah Banyuwangi, tanah yang tersohor akan kesaktian, magis dan klenik.
Satu malam, aku mendapat telepon dari paman yang mengabari kalau bapakku telah meninggal, dia dibunuh oleh orang misterius, namun pelakunya tak tertangkap.
Belum selesai telepon kututup, tiba-tiba aliran listrik di pondok padam, mati lampu total. Nggak lama, terdengar suara teriakan dan tangisan dari berbagai penjuru.
Dari atap-atap pondok aku mendengar suara derap langkah seperti ada yang berlarian cepat di atasnya.
Aku mengintip lewat jendela, banyak orang-orang berhamburan lari histeris ketakutan.
Semua orang-orang di kamarku juga ikut panik, pintu dibuka dan mereka ikut berlarian ke luar.
Semula, aku kira ada kebakaran atau huru-hara. Aku ikut rombongan keluar kamar, namun di luar aku melihat orang-orang berpakaian serba hitam tengah menyeret tubuh guru-guru di pondok yang sudah bersimbah darah.
Tiap kali mengingat kejadian itu aku masih gemetar, benar-benar mencekam. Kepikiran bapakku, dan saat itu aku berpikir, mungkin aku juga akan menyusul bapak.
Kami semua berteriak ketakutan, satu dari mereka datang menghampiri kami sembari menyeret Pak Rohim (Guru kami).
Di hadapan kami, orang berpakaian serba hitam dan bertopeng mirip ninja itu menundukkan Pak Rohim tak berdaya, lalu mengacungkan tinggi sebilah pedang panjang dan menebas kepala Pak Rohim dengan cepat.
Darah memuncrat kemana-mana, kami histeris, seolah belum cukup, sosok mirip ninja itu mengerang seperti orang kesetanan menggorok leher Pak Rohim hingga putus.
Bisa kamu bayangkan? …
Aku masih ingat betul ekspesi wajah Pak Rohim kala kepalanya terpisah dari tubuhnya.
Sosok itu lalu pergi begitu saja meninggalkan jasad Pak Rohim yang masih mengucurkan darah di atas tanah.
Aku melihat orang-orang berpakaian serba hitam itu melompat tinggi ke atap-atap, lalu menghilang dalam sekejap seperti bukan manusia normal.
Nggak lama, aliran listrik dan lampu kembali menyala. Bersama dengan itu, terlihat jelas mayat guru-guru kami yang kuingat waktu itu jumlah ada 4 orang termasuk Pak Rohim yang tewas secara mengerikan, banyak orang yang luka-luka, dan kyai (guru besar) pondok kami hilang diculik.
Di setiap dekat jasad-jasad yang tewas, sosok misterius itu memberi tanda silang lalu pesan bertuliskan,
"DUKUN BIADAB!"
Peristiwa itu mengegerkan satu Banyuwangi, rupanya bapakku juga dibunuh oleh komplotan misterius itu dengan cara yang kurang lebih serupa.
Tidak lama setelahnya, baru kuketahui, beredar kabar bahwa komplotan yang dijuluki ninja itu mengincar dukun-dukun santet untuk dibunuh.
Entah apa motifnya, mereka seolah memerangi klenik tanpa rasa takut.
Kuakui, praktik ilmu hitam khususnya pada masa itu masih amat kental dilakukan secara terang-terangan di tanah Banyuwangi.
Kami yang tinggal di desa terbiasa melihat bola-bola api banaspati berterbangan di atap-atap rumah, ritual mistis hingga pagebluk sudah tidak menjadi hal asing bagi kami yang tinggal di desa tersebut.
Namun, bukan berarti kami menormalisir praktik perdukunan–kekentalan budaya yang mengakar, kepercayaan turun temurun dan ketakutan kami terhadap hal magis telah menjadi hal lumrah yang sudah ada sejak aku lahir.
Hampir setiap desa, pasti punya juru kunci, dukun, atau minimal orang yang dipercaya memiliki kesaktian supranatural.
Tapi, Tragedi Banyuwangi 1998, menjadi kali pertama pergerakan masif yang manyasar para dukun-dukun santet untuk dibantai tanpa ampun.
Kami semua sangat ketakutan, seluruh sudut Banyuwangi mendadak senyap dan mencekam.
Tidak ada orang yang berani keluar setelah magrib, bahkan untuk sekedar shalat berjamaah dimasjid kami was-was.
6 Februari 1998, Bupati Purnomo Sidik waktu itu mengedarkan radiogram berisi perintah ke seluruh jajaran perangkat desa di Banyuwangi agar mendata orang-orang yang dianggap memiliki kesaktian atau kekuatan magis (dukun santet) guna mendapat perlindungan dari aparat.
Namun yang terjadi setelahnya justru pembantaian di Banyuwangi kian menjadi-jadi. Jumlahnya bertambah, dan para korbannya ialah orang-orang yang terdata di desa.
Komplotan misterius tersebut kian sadis, jasad dukun-dukun santet yang menjadi korban pembantaian digantung di pohon-pohon.
Kami benar-benar ketakutan, melihat kejadian tersebut, pendataan terhadap orang-orang sakti semakin digencarkan, namun seiring dengan hal tersebut bertambah pula orang-orang yang diduga dukun tewas secara mengenaskan dengan tubuh yang terpotong-potong.
Kala itu, masyarakat sudah tidak lagi percaya pada aparat. Sebagian besar bahkan menuding ini semua perbuatan oknum politik karena pada tahun yang sama (1998) juga terjadi reformasi orde baru.
September 1998, jumlah orang yang dibantai kian meluas mencakup tak hanya dukun santet, tapi juga dukun suwuk (penyembuh), kyai, dan bahkan guru-guru ngaji.
Setiap hari ada saja jasad mengenaskan yang berjatuhan, dalam tempo waktu singkat–Oktober 1998, korbannya sudah mencapai ratusan.
Jika kalian ada di masa ketika teror ninja ini meluas, kalian pasti ingat kalau tidak hanya Banyuwangi, tapi satu pulau Jawa juga siaga, karena waktu itu beritanya menggemparkan media-media nasional yang sumbernya sebagian besar masih dari koran, majalah dan TV.
Desa-desa di Banyuwangi siaga, poskamling digencarkan, bahkan di pondokku sampai kami semua belajar ilmu bela diri untuk jaga-jaga menghadapi situasi terburuk lagi.
Namun Desa-desa siaga tak membuat komplotan itu mengendurkan serangannya, bahkan di desa seberang (gak jauh dari pondok kami) banyak orang-orang tewas karena keracunan,
Menurut berita yang beredar, sumur-sumur di desa tersebut telah di racun.
Kyai kami yang hilang belum juga ketemu, pencarian masih terus dilakukan secara mandiri oleh orang-orang di pondok tanpa melibatkan aparat.
Waktu itu, seluruh praktisi supranatural (dukun-dukun) akhirnya bersatu memberikan perlawanan.
Namun situasi menjadi semakin parah kala tak hanya yang teror yang nampak, namun fenomena tak kasat mata juga memakan korban secara mengerikan,
kala itu terjadi perang ilmu terbagi menjadi dua kubu, paling parah ialah peperangan ilmu hitam yang begitu nyata terasa dampaknya bahkan oleh masyarakat biasa sepertiku.
Di pondokku misalnya, entah ritual apa yang diperbuat oleh beberapa oknum membuat malam-malam di pondok terasa berbeda.
Tercium aroma kemenyan dimana-mana, beberapa kali terjadi kerasukan di pondok, paling parah dialami oleh Bu Yeti, pengurus pondok yang kerasukan sampai berjalan kayang cepat di lorong asrama.
Tidak ada satu pun yg berani keluar kamar asrama,
"Tutup dan Kunci Pintu!"
"Jangan Ada yang keluar!" Pak Samir (guruku) berteriak dari jauh seraya mengejar Bu Yeti yang lebih dulu merangkak kayang dengan cepat.
"piye caramu ngusir setan yen kon bolonan karo setan!"
(Gimana bisa kalian ngusir setan, jika kalian saja bersekut dengan setan)
Sosok yang merasuk Bu Yeti seolah mengejek Pak Samir, sekali pun menyaksikan dari sudut intip jendela, tetap saja aku merasa takut dan merinding, wajah Bu Yeti pucat dan penuh urat-urat membiru dari dalam kulitnya yang menonjol keluar.
Entah siapa yang memulai, tapi kala itu seluruh santri membaca doa-doa dengan keras secara serentak dari dalam kamar asrama masing-masing untuk membantu Pak Samir.
Malam itu, menjadi kali pertama aku melihat orang kerasukam sebegitu ngerinya, bahkan dia sampai mampu menyakiti orang di sekitarnya.
Kudengar Pak Samir sebelumnya sempat tersayat pisau ketika berhadapan dengan Bu Yeti di area masak (dapur bersama) sebelum Bu Yeti merangkak kayang ke lorong asrama.
Gak habis pikir, bagaimana kejadian itu bisa terjadi di pondokku.
Mungkinkah akibat sesaji yang dipasang untuk menangkal ninja-ninja itu? Atau dampak dari perang ilmu hitam yg terjadi di sekitar kami?
Waktu itu, kami benar-benar ketakutan. Apalagi setelah pembantaian dukun santet oleh ninja terjadi bukan hanya di malam hari, mereka semakin sporadis dengan berani membunuh di siang hari.
Masyarat cemas ketakutan, membuat Banyuwangi kala itu seperti kota mati karena warganya takut untuk keluar rumah.
Perang ilmu tak kasat mata semakin gencar terjadi, kami kerap mendengar suara ledakan kala malam.
Korban-korban berjatuhan meninggal secara tak wajar dan aku ingat betul, gak lama setelah itu banyak gelandangan (orang gila) yang mendadak bermunculan–
Mereka di duga segelintir ninja yang kalah saat adu ilmu.
Namun ajaibnya, setelah pergerakan para ninja itu berhenti, para orang gila tersebut juga hilang begitu saja, lenyap entah kemana seperti satu kesatuan entitas.
Syukur Alhamdulillah, kyaiku berhasil ditemukan dalam kondisi kritis sedang diikat di pohon bersama mayat-mayat yang bergelimpangan dimana-mana di tengah hutan pohon karet.
Jika kuceritakan bagaimana kyaiku ditemukan mungkin akan jadi sangat panjang, intinya hal-hal diluar nalar terjadi, peperangan ilmu, kirim-kiriman santet dan lalu lintasnya yang mengerikan benar-benar membuat Banyuwangi kala itu gak kalah sama kota sihir yg film-film.
Sampai sekarang, sungguh gak jika menyebut para ninja itu manusia biasa , mereka bisa melakukan pergerakan yang di luar batas kemampuan manusia normal.
Siapa mereka sebenarnya?
-----------
Sementara thread ini selesai, saya berencana ke Banyuwangi dalam waktu dekat untuk riset lebih dalam, bertemu Satrio (narasumber) dan rekan-rekan di pondoknya yg turut menjadi saksi,
Konon mereka sebenarnya sudah mengetahui siapa entitas ninja itu sebenarnya.
Namun kebenaran yang mereka dapat terpaksa harus di kubur rapat demi kelangsungan hidup yang tentram.
Satu yg pasti, ninja-ninja itu nyata, mereka adalah entitas yang mengakar dan sistematis tak ubahnya sekte yg memiliki kekuatan magis di luar nalar manusia normal.
Tandai, RT, atau bookmark judul thread paling atas agar kalian tidak terlewat apabila thread "Lemah Santet Banyuwangi" ini gw update setelah perjalanan dari Banyuwangi.
Btw, share opini kalian dong, menurut kamu, siapa ninja-ninja ini sebenarnya?
Share this Scrolly Tale with your friends.
A Scrolly Tale is a new way to read Twitter threads with a more visually immersive experience.
Discover more beautiful Scrolly Tales like this.
