AYAH PENYAYANG Profile picture
Thread Ayah adalah murni tulisan sendiri. Kalau ada yg mau memuat di medsos lain, harus dibubuhi source dgn user name akun ini. Ayah cuma ada di Twitter.

Mar 3, 2023, 61 tweets

𝐊𝐀𝐓𝐀 𝐃𝐔𝐊𝐔𝐍 𝐓𝐇𝐄 𝐏𝐎𝐖𝐄𝐑 𝐎𝐅 𝐋𝐎𝐕𝐄

[Sebuah utas]
.
.
.

(1) Waktu itu aku umur 33 th. Aku pacaran dgn Pak Yamin (51 th). Pak Yamin tiba2 diserang penyakit aneh yg begitu parah, yg membuatnya hanya terbaring lemah dirumah dan bolak balik RS.

#fotohanyapemanis

(2) Saat itu usia pacaran kami baru jalan 2 th. Aku udah dikenal baik oleh anak istrinya dan sering datang main2 kerumah itu. Aku bahkan sering nginap dirumah mereka karna kami udah kayak keluarga.

Aku sangat sedih dan terpukul dgn penyakit yg menimpa Pak Yamin.

(3) Udah ber-bulan2 Pak Yamin gak pernah bisa bekerja, sehingga uang jajanku jadi stop. Padahal sebelumnya selalu lancar karna Pak Yamin emang sangat baik dan gak pelit samaku.

Selain itu kami tentunya udah gak pernah ML lagi. Ya gimana caranya, Pak Yamin aja lagi sakit kan.

(4) Kalau nginap dirumahnya kami gak prnh ML, karna kami slalu jaga rahasia. Kami biasanya ML di hotel atau ditempat kostku.

Cuma utk sekedar nyuri2 kiss2an, pelukan, sekedar isap tipis2, sering kami lakukan.
Namun gak prnh ada yg namanya crot dirumah itu.

(5) Ada saatnya kami berduaan dirumah itu, yaitu ketika bininya jemput anaknya ke sekolah. Selain itu kalau misalnya istrinya pergi ke pesta sendirian.

Udah pasti kami isap2an tipis2 namun gak prnh selesai. Soalnya kami jantungan melakukannya. Kami gak mau gegabah.

(6) Ketika tidur dimalam hari, Pak Yamin gak selalu bareng istrinya dikamar. Gak jarang dia nemani aku tidur diruang tamu.

Dan jujur kami sering ciuman, grepe2an, atau nyepong tipis2, sblm akhirnya tidur jaga jarak agak jauhan biar istrinya gak curiga.

(7) Aku yg hobby nyepong ini, sering banget nyepongin Pak Yamin ketika tidur. Sementara dia gak ngapa2in aku.

Dia juga emang bisikin seperti mempersilakan aku isap2 punyanya. Udah barang tentu aku gak pernah nolak atau keberatan. Dengan senang hati aku pasti selalu menurutinya.

(8) Bahkan ketika tidur disamping anaknya yg waktu itu duduk di bangku kelas 10, kami nekad melakukannya. Caranya aku doang yg isap2 Pak Yamin, sementara punyaku gak prnh diisap Pak Yamin.
Pak Yamin biasanya pake celana longgar berkaret sehingga gampang diturunin.

(9) Pak Yamin juga sering sengaja gak pake CD ketika tidur biar aku gampang isap2 kontolnya.

Kalau aku lihat sih, dia itu sengaja lepasin CD pas mau tidurnya aja. Tadinya dia pake, tp pas mau tidur dilepasnya. Soalnya celana pendeknya jg sering digantinya kalau mau tidur.

(10) Misalnya tadinya wkt habis mandi sore, dia pake celana pendek jeans, tp pas mau tidur digantinya dgn celana longgar.
Sambil mendekat kearahku dia pun bisikin "aku gak pake CD!"

Lalu aku pun auto grepe2 dan ngeluarin batangnya yg masih loyo itu dan memainkannya dgn tanganku.

(11) Kalau lg di moment tidur sih gak pernah kuisap sampai crot. Tapi udah permainan kami sehari-hari aja nyuri² begituan kalau pas mau tidur.

Kami berdua sangat² saling mencintai. Cuma karna gak mungkin aja kami menikah. Kalau soal rasa cinta, kami berdua udah sama² 100%.

(12) Udah dulu ya ceritain tentang kisah cinta dan kisah ML kami. Kembali ke kondisi Pak Yamin aja yg lagi sakit parah.

Berbagai cara dilakukan agar Pak Yamin sembuh. Berbulan-bulan di Rumah Sakit dgn biaya yg gak sedikit, tapi penyakitnya gak kunjung sembuh.

(13) Untung aja Pak Yamin termasuk orang berduit sehingga mampu menanggulangi biaya RS.

Entah mengapa ada yg nyaranin berobat kampung, atau katakanlah ke dukun. Dan itupun langsung ditempuh hanya supaya Pak Yamin bisa sembuh.

(14) Saat itu tubuh Pak Yamin udah menyusut. Makin hari makin kurus aja dia. Dan yg pasti dia terlihat begitu tersiksa serta begitu menderita. Kegantengannya pun udah makin memudar.

Tiap hari aku cuma bisa menangis tersedu-sedu mikirin Pak Yamin yg kucintai.😭

(15) Pak Yamin gak bisa lagi beranjak dari tempat tidurnya. Dia hanya bisa berbaring saban hari. Bahkan utk duduk aja mesti dibantu, itu pun duduknya gak bisa tahan lama.

Tubuhnya udah begitu lemah tak berdaya. Ngomongnya udah terbata-bata. Suaranya pun udah pelan sekali.

(16) Makin hari makin memprihatinkan aja kondisi Pak Yamin. Selang infus gak pernah lepas dari tangan dan hidungnya. Dia cuma bisa meraung-raung sambil telentang diatas kasur.

Aku sangat takut! Takut Pak Yamin udah gak lama lagi. Aku sangat takut kehilangan dia.

(17) Bahkan Pak Yamin udah makin gak bisa merespon kata². Sekian banyak kerabat, saudara, dan handai taulan yg datang menjenguk, tapi Pak Yamin sadar lagi.

Dia gak tau lagi siapa² aja yg datang, berdoa baginya sambil memegang tangannya dgn berurai air mata.😭

(18) Semua keluarga dekat udah panik. Semua nangis sambil mengguncang-guncang tubuh Pak Yamin. Semua teriak memanggil-manggilnya sambil menangis.

"Pak, jangan tinggalkan kami!"

"Bapak bangun Pak! Liat kami Pak!"

"Yang kuat ya Pak, Bapak harus sembuh!"

(19) "Bapak gak boleh pergi. Bapak harus sembuh😭!"

Tanpa kuduga si dukun udah ada diantara orang banyak. Entah apa yg dia bilang disana aku gak bisa dengar.

Yang aku tau dia menyarankan anggota keluarga supaya nangis diatas kepala Pak Yamin. Dimulai dari istri dan anak².

(20) Entah mengapa si dukun seperti mengkoordinir supaya yg menangisi Pak Yamin ganti-gantian secara beraturan. Setelah istrinya, lalu anak-anaknya.

"Nangisnya diatas kepala. Nangisnya diatas kepala bapak, ya!", ujar si dukun.

(21) Selesai semua anak-anaknya, si dukun menghimbau kepada keluarga lain seperti abang atau adek Pak Yamin, ponaannya, dsb. yg ada disana supaya melakukan hal yg sama, yaitu menangis diatas kepala Pak Yamin.

Selesai anggota keluarga kini kerabat/handai taulan dan rekan².

(22) Entah apa yg diperhatikan si dukun. Dia terlihat fokus mencermati satu² orang² yg bergiliran menangisi Pak Yamin.

Namun wajah si dukun juga jadi ikut menahan sedih menyaksikan semuanya. Kondisi Pak Yamin juga udah gak siuman dgn mulut menganga dan nafas ditenggorokan.

(23) Sesekali si dukun geleng² kepala dgn raut wajah yg sedih. Nafas Pak Yamin udah satu² dan patah². Aku udah makin gemetaran karna menurutku Pak Yamin akan segera menghembuskan nafas terakhir.
Aku pengen mengekspresikan kesedihanku namun aku enggan menunjukkannya.

(24) Jujur, aku bisa pastikan, setelah anak istrinya, akulah yg paling sedih disana. Tapi aku takut mengekspersikan rasa sedihku didepan orang².
Aku sadar, aku bukan siapa² bagi mereka. Aku bukan saudara, ponaan, atau siapalah yg masih ada hubungan darah. Aku cuma orang lain.

(25) Aku takut ekspresi rasa sedihku diartikan lain oleh orang². Kok bisa sih sesedih itu, emang dia siapanya. Iya, aku takut ada pikiran itu.

Akhirnya aku pun sebisa mungkin menahan tangisku agar gak pecah ketika orang² bergiliran menangisinya diatas kepalanya.

(26) Tapi ternyata sampai juga giliranku. Aku pun ikut didaulat maju ke depan kerumunan dan menangisi Pak Yamin dekat mukanya atau tepat diatas kepalanya.

Aku adalah antrian terakhir setelah semua yg hadir disana selesai semua. Kali ini aku gak bisa menahan tangisku.

(27) Tangisku akhirnya pecah sambil memegangi kedua pipi dan dagu Pak Yamin. Sesekali ku usap rambutnya, sambil mengucap sepatah dua kata dengan tangisan yg tiada henti.

Air mataku pun berjatuhan membanjiri wajah dan pipi Pak Yamin yang segera ku lap dgn tangan dan tissue.

(28) Sementara mulut Pak Yamin terus menganga dengan nafas tersendat-sendat. Aku gak lagi mikirin apa² saking terlarut dalam kesedihan melihat kondisi Pak Yamin yang makin memburuk.

Aku benar² menganggap Pak Yamin adalah ayah kandungku saat itu. Jadinya aku totalitas nangisnya.

(29) Rasa cinta, kasih, sayangku ke Pak Yamin membuatku gak bisa menahan-nahan sedihku. Aku benar² tulus menginginkan kesembuhan baginya.

Aku mengingat segala kebaikannya selama ini ke aku. Dialah yg kuanggap Ayah angkatku di perantauan ini. Aku menangis sejadi-jadinya.😭

(30) Aku terus menangis dan sesekali mencium Pak Yamin. Namun si dukun selalu menyuruhku agar menaikkan lagi kepalaku keatas agar berjarak sekitar 20 cm dari wajah Pak Yamin.

Saking fokusnya nangis dgn mata yg udah kabut oleh air mata, aku hampir gak tau apa yg terjadi.

(31) Ternyata Pak Yamin perlahan membuka mata dan mulai bisa menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Peristiwa itu di iringi dgn ucapan² syukur dari sekeliling orang.

Aku pun memperhatikannya. Sejenak tangisku terhenti. Namun kembali menangis menatap wajah Pak Yamin.

(31) "Pak.. sembuh ya, Pak!", ucapku sambil kembali menangis.

"Joni...!", ucap Pak Yamin pelan.

"Iya, Pak. Bapak sembuh, ya.😭", ucapku diringi tangisanku kembali.

Semua yg ada disana ikut menangis dan memanggil-manggil Pak Yamin.
Namun banyak juga yg akhirnya bisa lega.

(32) Ku usap kedua pipi Pak Yamin, ku usap keningnya, lalu kuseka buliran air mata yg mengalir dari pelupuk matanya.

"Bapak udah siuman!"

"Bapak udah sadar!"

Begitulah anak-anaknya berucap.

Semua jadi terharu dan bahagia, melihat Pak Yamin sekarang udah makin membaik.

(33) Pak Yamin udah bisa merespon setiap ucapan orang². Dia udah mengucapkan beberapa kalimat meski masih dengan suara pelan. Tapi lama² makin lancar dan suaranya makin jelas.

Anak istrinya berebut memeluk dan menciuminya. Disusul oleh saudara² atau yg msh ada hubungan keluarga.

(34) Pak Yamin di dudukkan biar lebih enak ngobrolnya. Dia dikasih minum dan makan roti serta buah yg dibawa para pengunjung. Dan dia memakannya.

Dia bilang dia memang udah lapar. Akhirnya semuanya bisa lega dan senang. Kini seisi ruangan jadi tertawa bahagia bersama Pak Yamin.

(35) Semua seperti gak percaya dgn perubahan dan perkembangan yg dialami Pak Yamin. Tapi itulah kenyataannya.

Dia benar² sehat dan pulih saat itu juga. Dia benar² gak merasakan sakit apa² lagi. Dia menggerakkan beberapa anggota tubuhnya seperti sedang olahraga.

(36) "Aku udah sehat!", ucapnya.

Semua mengucap syukur.

"Kok kurus kali aku, ya!", ucapnya.

"Nanti dikembaliin lagi, Pak!", ujar salah seorang yg ada disana.

Dia begitu lahap memakan roti dan buah yg ada. Semuanya yg ada disana juga ikut menyantap kue dan aneka buah²an.

(37) Si dukun pun bercerita mengapa dia tadi menyuruh semua menangis diatas wajah Pak Yamin.

Dia bilang, penyakit aneh yg menghinggapi tubuh Pak Yamin cuma bisa diobati dengan air mata seseorang yang paling menyayanginya dari antara yg sangat menyayanginya.

(38) "Aku tadi ngira, kalau gak Ibu, ya adek² ini. Tau²nya lewat semuanya.", ucap si dukun.

"Jadi disinilah kita tau siapa sebenarnya yg paling² atau sangat² menyayangi bapak ini. Mungkin kita semua yg ada disini sayang sama Pak Yamin, tapi yg dicari tuh yg paling menyayangi."

(39) "Ibu sama adek² gak perlu malu, kalau ternyata rasa cinta atau rasa sayang kalian ke bapak itu ternyata belum bisa menyelamatkan nyawa bapak.
Itu gak bisa dibuat-buat atau direkayasa memang. Seperti itulah adanya.", tambah si dukun.

(40) "Makanya kita suruh semua yg hadir disini ikut, biar tau ada gak disini yg dicari itu. Ada gak obat bapak itu disini. Ya, alhamdulillah ternyata ada. Syukurlah.

Karna cuma itu obat satu-satunya yg bisa menyembuhkan bapak. Kalau gak ada itu bapak gak tertolong!", ucapnya.

(41) "Jadi begini, penyakit bapak itu hanya bisa sembuh oleh air mata orang yg paling dan sangat mencintainya, yg jatuh langsung dari pelupuk matanya dan masuk ke rongga mulut bapak.
Aku perhatikan tadi, air mata adek ini ada jatuh tepat kedalam mulut bapak.", jelas si dukun.

(42) Dia ngomong gitu sambil nunjuk aku.

"Aku langsung lega karna bulir air mata itu tepat mengenai mulut bapak. Disitu aku langsung memperhatikan, tubuh bapak langsung merespon dgn gerakan², seperti membuka mata, menatap ke langit², menatap sekeliling!", ucapnya.

(43) "Bahkan gak pake lama, bapak kan langsung ngomong, ya. Langsung manggil nama adek ini. Joni, katanya tadi gitu. Itu tandanya obat itu udah langsung bekerja dgn sangat cepat. Dan ini buktinya bapak udah benar² sembuh!", jelas si dukun.

Semua orang pun melihat ke aku.

(44) Aku grogi dan kayak salting. Apa yg kutakutkan kembali menghantui pikiranku. Jangan sampai orang² pada curiga, sesayang dan secinta apa sih aku ke bapak. Kok bisa rasa cintaku jauh lebih besar dibanding rasa cinta anak istrinya ke dia. Ini gawat! Gumanku dalam hati.

(45) Tapi sejauh pengamatanku, gak ada satu orang pun yg menaruh curiga atau tanda tanya dgn itu semua. Tapi gak tau jugalah ya didalam hati.

Apalagi anak istri Pak Yamin, mereka seolah gak mikirin itu. Mereka sepertinya lbh fokus mensyukuri kesembuhan Pak Yamin.

(46) "Awalnya aku udah ragu, ada gak ketemu obat Bapak ini, ya. Karna aku gak tau itu di siapa yg ada. Tapi aku cuma taunya itulah obat bapak ini. Dengan cara itulah bapak ini bisa sembuh.", jelasnya.

"Kesungguhan! Kebersihan hati! Rasa sayang yg alami!", tambahnya.

(47) "Semuanya cuma ada di adek ini.", ucapnya sambil menepuk bahuku.

"Makasih ya, dek! Udah menyelamatkan nyawa bapak ini!", ucapnya lagi.

Lalu anak² dan istri Pak Yamin pun mengucapkan trimakasih yg setulus-tulusnya ke aku karna udah menyelamatkan bapak/suaminya.

(48) Gak ketinggalan para kerabat, handai taulan dan semua yg hadir disana juga ucapin trimakasih ke aku.

Lalu Pak Yamin mengucapkan satu hal yg sangat mengejutkanku. Di depan istri dan anaknya, dia menegaskan akan mengangkat aku jadi anaknya secara resmi.

(49) "Anakku gak cuma 3 orang lagi sekarang. Udah 4 orang anakku. Dan kaulah anak pertamaku, joni. Karna umurmu masih diatas anak sulungku. Mulai hari ini kau resmi jadi anakku. Kau punya hak yg sama dgn ketiga adekmu ini. Kau yg berjasa membuat aku masih hidup saat ini."

(50) "Kalau gak karna kau, aku udah meninggal. Aku rasa gak ada yg keberatan anak dan istriku!", ucapnya sambil melirik ke anak istrinya.

"Gak ada, Pah. Gak ada! Kami semua setuju dan menyambut baik kehadiran abang ini di tengah² keluarga kita!", ucap anak-anaknya.

(51) "Aku juga setuju, Pa. Joni anak kita.", ucap istrinya.

Lalu kami ber-enam pelukan dan bergandeng tangan. Mereka semua menciumiku dgn tulus.

"Nak!", panggil Bu Rani, istri Pak Yamin.

"Bang!", panggil anak-anaknya.

Aku gak nyangka aku jadi resmi anggota keluarga mereka.

(52) "Baguslah, Pak. Bapak bisa bertindak seperti itu. Adek ini wajar mendapat itu semua.", ucap si dukun.

"Iya, kami semua berutang nyawa jadinya, Pak.", ucap Bu Rani.

"Itulah, Bu. Makanya kubilang baguslah. Kalian bisa berpikir begitu!", jawab si dukun.

(53) "Gak perlu ku suruh lagi, berikan kebahagiaan ke adek ini. Samakan haknya dgn anak kandung yg dilahirkan.", tambah si dukun.

"Itu pasti, Pak.", ucap Bu Rani

"Kami akan kuliahin dia sampai bisa dapat PNS kalau dia mau PNS.", tambah Bu Rani.

(54) "Ingatlah, tanpa adek ini bapak ini udah meninggal. Gak ada yg bisa menolongnya selain tulusnya rasa sayang adek ini ke bapak.

Maaf cakapnya kalian aja yg udah istri dan anaknya masih gak bisa. Lebih besar rasa sayang adek ini ke bapak dari yg kalian punya.", ucap si dukun.

(55) "Jadi inilah ``The Power of Love`` itu. Dan itulah obat untuk penyakit bapak. Gak bisa diobati selain dgn kekuatan cinta atau sayang dari seseorang yg benar² bisa 100% menyayangi bapak.", tambah si dukun.

"Kau kuliah ya, nak! Biar bisa jadi orang hebat!", ucap Pak Yamin.

(56) "Jawab bapakmu itu, nak!", ucap Bu Rani.

"Iya, Pak. Makasih, Pak.", ucapku.

Dalam hati aku bingung. Kok bisa ya kegini endingnya. Apa si dukun sebenarnya tau ya apa yg terjadi diantara aku dan Pak Yamin. Jangan² dia tau kami ini sesungguhnya merupakan pasangan kekasih.

(57) Otakku masih gak bisa memahami apa yg sedang kualami. Otakku masih kepikiran dgn apa yg selama ini udah kulakukan dgn Pak Yamin dlm keadaan telanjang.

Selama ini sih Pak Yamin juga udah menganggapku sebagai anaknya, namun belum seresmi ini anjirrr.
Ini benar² kayak mimpi.

(58) Kulihat wajah Pak Yamin makin sumringah dan bersemnagat. Kayaknya ini merupakan impian dia juga. Karna dengan diresmikannya aku jadi anaknya, maka skandal kami berdua juga akan semakin lancar tiada hambatan. Anak istrinya gak bakal curiga atau kepikiran sama sekali.

(59) Kualitas dan kuantitas ML kami pasti akan meroket kedepannya. Dan kebahagiaan kami sebagai pasangan sejenis akan semakin bisa terbungkus rapi.

Satu hal yg sangat membuatku bahagia adalah, aku akan kuliah dikuliahin oleh mereka sesuai janji mereka. Aseeekkk!!!

(60) Aku pun makin mendapat fasilitas dari mereka dan kebutuhanku selalu terpenuhi dirumah mereka.

Aku pun jadi anak kebanggan buat orangtuaku dikampung. Aku udah sarjana dan jebol jadi ASN. Itu karna pasangan sejenisku yg menjadi ayah angkatku diperantauan.

Tamat.

Share this Scrolly Tale with your friends.

A Scrolly Tale is a new way to read Twitter threads with a more visually immersive experience.
Discover more beautiful Scrolly Tales like this.

Keep scrolling