DUSUN MAYIT DI BIOSKOP! Profile picture
DUSUN MAYIT SEDANG TAYANG DI BIOSKOP! | Akun ini dibuat untuk membagikan kisah dari 'Mereka' yg tak mampu lagi dipendam sendiri

Mar 6, 2023, 57 tweets

“Dia mengaku 15 tahun, tapi raut wajahnya tua, gigi bagian atas hitam dan tertawa mirip kuntilanak, kami semua gak sadar, digiring pergi pakai baju hijau, nyaris saja mati.”

“Selendang Hijau Selatan : Pengantar Tumbal”

-A Thread-

Yes! New Thread.
Maleman ya gw mulai, thread ini agak berbeda, kejadian yang di alami narasumber terjadi belum lama ini.

Silahkan Tandai, titip-titip, RT atau pun Bookmark judul thread di atas agar tidak terlewat update-nya.

---Mari Kita Mulai---

Pernah nggak kamu kenalan sama orang asing via daring atau media sosial?...

Ini pengalaman pertamaku dan langsung bikin aku kapok, yang mana orang yang aku temui justru seperti menjadikanku sasaran tumbal.

Panggil aja aku tiyas, aku tinggal di dataran tinggi kaki gunung salak, kawasan Bogor.
Lima tahun lalu, aku kenalan dengan orang via Facebook,

sebut aja namanya Ayu. Dia mengaku berasal dari Sukabumi (Pelabuhan Ratu) dan menurutku, dia orang yang sangat baik. Kami sering komunikasi via messenger, selain sebagai teman cerita, perhatian dari Ayu membuatku merasa seperti punya saudara baru.

Meskipun komunikasi kami terbilang intens, namun aku masih membatasi diri untuk tidak memberitahu hal-hal pribadi seperti; nama lengkap, tanggal lahir, alamat tepat, dan sebagainya, bahkan, identitasku di Facebook pun bukan identitas yang sebenarnya.

Mulanya tak ada yg janggal, sampai keanehan mulai terjadi ketika dia memberikanku paket hadiah ulang tahun,

di situ aku bertanya-tanya—dari mana dia tau tanggal lahir dan alamat lengkap rumahku?! Berkali-kali aku merenung, tapi aku yakin, bahwa aku belum pernah memberi tahu dia tentang tanggal lahir dan alamat rumah.

Ketika aku tanya, dia hanya menjawab,

“Apa sih yang aku gaktau tentang kamu?

Berikutnya, dia bahkan tau nama desaku, dan nama orang-orang terdekatku, baik yang di lingkungan rumah, atau pun yg di sekolah.

Setiap aku tanya, dia selalu menjawab hal yang sama seperti di atas. Seolah dirinya telah mengetahui segala tentangku.

Kala itu, aku masih mencoba berpikir positif, sampai pada tahun lalu, dia tiba-tiba mengatakan bahwa sedang berada di Bogor dan meminta izin padaku untuk silaturahmi menginap di rumahku.

Tentu, aku menerima. Sekian lama akrab via daring, akhirnya kami hendak bertemu darat.

Aku meminta teman dekatku untuk mengantarkanku menjemput Ayu di tempat kami janjian, kita jalan 2 motor.

Di perjalanan cuaca sangat panas terik, tapi ketika sudah dekat lokasi tiba-tiba hujan mendadak deras, disertai petir saling bersahut dan angin kencang yang membuat beberapa pohon tumbang.

Cuaca mendadak buruk, kami menepi di toko matrial untuk meneduh, tukang matrialnya pun sampai bergumam,

“Haduh, ini ada apa ya, angin kenceng banget. Gak biasanya”.

Maklum, biar pun Bogor kota hujan, tapi kawasan tempat aku janjian dikenal kawasan gersang dan panas.

Aku masih tidak berpikir aneh-aneh, begitu hujan reda kami lanjut ke tempat tujuan.

Sesampainya di sana, aku agak terkejut ketika melihat Ayu, rupanya seperti bukan anak 15 tahun—

perawakannya gemuk, raut wajahnya menggerut keriput tipis khas wanita usia 30-40 an, serta gigi bagian atasnya hitam, mata Ayu berwarna putih buram (seperti Mata ayam) dan maaf, juling.

Aku sempat berkali-kali bertanya guna memastikan benarkan dia Ayu yang kumaksud.

Lantas kami buru-buru beranjak pulang menembus rintik yang membuat baju kami basah lembab.

Sesampaikan di rumahku, bapakku juga sempat kaget melihat rupa Ayu, tapi dia tidak mengatakan apapun, takut menyinggung kemudian menyarankan untuk segera berganti pakaian ke kamar mandi.

“Neng, kamar mandinya yang dibawah ya, di atas rusak. Eneng ganti baju dulu, basah kan itu.” Ujar Bapak.

“ENENG WEH ENENG!” Ayu menggerutu, dirinya seperti tidak suka dipanggil dengan sebutan Eneng.

Padahal di Sunda, panggilan Eneng pada anak perempuan ialah hal yang wajar, mengingat bapakku taunya dia berusia 15 tahun.

Bapak sempat terheran, tapi lagi-lagi memilih untuk nggak menanggapi serius.

Lalu gak lama kemudian, kalian tau?

Dia tiba-tiba keluar kamar mandi mengenakan kain jarik dan selendang hijau yang dililit menjadi seperti kemben.

Aku sekeluarga kaget melihatnya, tapi kami tidak ingin menyinggungnya jika mengomentari pakaiannya.

Namun, menurut kalian aneh gak sih, ketika bertamu ke rumah orang untuk pertama kali tapi tiba-tiba berganti pakaian seperti itu? ...

Singkat cerita, malam harinya kami pergi keluar untuk mencari makan, dia mengendari motor seperti pembalap, jalan menurun dan menikung tajam seperti L di gas pol tanpa rem.

Jalan di desaku, masih rimbun pohon dan memang untuk ke jalan besar harus melalui pemakaman umum. Nah, ketika melintasi makam, jelas sekali, aku pertama kalinya mendengar suara perempuan mirip kuntilanak tertawa.

Aku merinding dan takut setengah mati, di situ dia malah melambatkan laju motor,

“Ayo ih, buruan!” pintaku.

“Kenapa? Kamu takut? Gapapa da, dia temanku.”

Aku berpikir kala itu dia berguyon, dan karena aku juga lagi panik, jadi gak terlalu menanggapi serius.

Sesampainya di rumah, dia tidak mau diajak makan makanan yang tadi dibeli, katanya masih kenyang, padahal seharian aku belum lihat dia makan.

Malam itu, dia tidur di kamarku. Tengah malam, aku tersadar ketika merasa pipi dan rambutku di elus-elus pelan olehnya.

Aku takut, tapi entah kenapa memilih untuk pura-pura terus tidur.
Cara dia membelai, itu seperti Nenek-nenek yang mengelus anak kecil.

Esok harinya, dia minta diantarkan pulang ke Sukabumi oleh kami tapi lewat jalur belakang—mengitari bukit, membelah hutan, jalan kecil perbatasan sukabumi-bogor.

“emang biasanya pulang ke Sukabumi kalau dari Bogor naik apa?”

“naik bus” jawabnya.

“Kalau naik Bus, berarti lewat kota ya?”

“nggak kok, lewat belakang.”

Kami terheran-heran, setahu bapak, tidak ada angkutan umum yang lewat situ, apalagi bus, jalanannya menukik tajam. Nyaris tidak mungkin bisa dilalui oleh bus.

Tapi dia bersikeras bahwa memang ada Bus yang melewati jalur tersebut.

Tadinya, hanya sepupuku yang hendak mengantarkannya ke Sukabumi, namun bapakku merasa khawatir.

Akhirnya kami 3 motor yang mengantarkannya ke Sukabumi,

-Aku dengan temanku,
-Ibuku dengan sepupuku,
-Dan Ayu dibonceng dengan sepupuku yg lainnya memimpin jalan di depan

Di perjalanan melintasi jalan meliuk-meliuk tiba-tiba ban motor yang kunaiki meletus, temanku panik. Nyaris saja kami terperosok ke jurang, tapi syukur kami masih selamat.

“halah, ieu meledak neng, bannya sobek. Kudu ke bengkel ieu mah.” Ucap temanku.

Pelan-pelan kami menuntun motor sampai ke bengkel terdekat, dan kalian tahu? Ketika di bongkar , ada kain hijau sepanjang sekitar 1 meter yang menggulung di dalam ban motor.

Kami kaget, padahal itu motor baru belum ada 2 bulan, ketika gulungan kain itu ditarik, keluar percikan air, seolah didalam ban seperti dipenuhi air.

Aneh, dari mana bisa ada kain hijau di dalam ban motor? ...
Air itu juga dari mana?...

Dan detik itu, kami baru sadar bahwa kami berdua memakai baju hijau, tidak hanya kami, tapi ternyata semua orang yang ikut mengantar itu kompak mengenakan baju warna hijau tanpa sadar,

padahal sebelumnya sudah diperingati bapak untuk tidak menggunakan baju hijau karena kami ingin ke kawasan pelabuhan ratu yang memiliki mitos kental terkait pantangan baju warna hijau.

“wah kok bisa, gak beres ini mah neng” temanku mulai cemas.

Aku pun demikian, tapi ibu dan sepupuku sudah lebih dulu jalan. Tidak mungkin kami berdua putar balik tanpa mereka.

Penuh kehati-hatian kami melanjutkan perjalanan menyusul mereka yang menunggu di depan.

Dari jalan utama pelabuhan Ratu, kami memasuki gang dengan jalanan tanah dan pohon-pohon rimbun, cukup jauh sampai akhirnya menemui rumah pertama, namun sepanjang jalan, aku tidak melihat adanya aliran listrik,

bahkan rumah yang kulihat masih pakai penerangan lampu obor. Rasanya tidak mungkin di tahun 2022, di kawasan Sukabumi tidak terjangkau aliran listrik.

Tapi apa yang tertangkap mataku demikian, tidak ada jaringan kabel, setiap rumah yang kulewati ada dua perempuan paruh baya yang sedang menyerit rambut seperti mencari kutu—

mereka mengenakan kain jarik, wajahnya datar, bahkan ketika aku lewat seperti tidak menghiraukan keberadaan kami, aku sapa pun tak dijawab.

Desa ini aneh, hanya ada beberapa rumah yang terhitung jari,

kami melewati satu rumah yang sepertinya sedang berduka, tapi rumah tersebut kosong , tak ada yang melayit,

aku hanya melihat dua orang tengah duduk menghadap jenazah yang dibaringkan di ruang tengah dengan pintu terbuka.

“astagfirullah”

Di situ aku merinding bukan main, hingga akhirnya kami sampai di rumah Ayu, rumah yang terbuat dari kayu dan rajutan bambu, berlantai tanah dan tanpa listrik.

Di sini lah kami terancam, pertama kalinya aku merasa dekat dengan mereka “yang tak kasat mata”

---Bersambung---

Ini adalah Charity Thread untuk Pesantren Yatim Piatu Nurul Khoir, yuk donasi sekaligus dapat asupan horror karena para donatur berhak mendapat 5 E-Book Horror bergambar Jeropoint, gratis!
Info lengkap kalian bisa cek poster di bawah,

Selain materil dan kebutuhan pokok, sumbangan akan diberikan berupa buku-buku bahan ajar. Jadi teman-teman yang mau menyumbangkan buku juga boleh ya,

Donasi via E-wallet, klik link berikut :
saweria.co/JeroPoint

Kapan lagi berbagi sekaligus dapat asupan horror.

Kita lanjut besok, diakhir thread nanti gw akan up potongan suara dari wawancara gw dengan tiyas (narasumber)

So stay tune, besok!

Share this Scrolly Tale with your friends.

A Scrolly Tale is a new way to read Twitter threads with a more visually immersive experience.
Discover more beautiful Scrolly Tales like this.

Keep scrolling