MEREKA YANG MASUK "KLUSTER PENGAMANAN" BTS
[Utas]
Sembari baca-baca tren planga plongo, enakan Twitter, Mark Zuckenberg & Mbah Nun, jgn bergeser sejengkal pun ihwan perkara BTS. Usai Menpora Dito, nama lain penerima uang haram ini bermunculan. Antara lain, Ahsanul Qosasi.
Sbgmn utas saya pekan lalu, Menpora milenial Dito Ariotedjo merupakan satu di antara yg diduga menerima uang hasil tilepan BTS. Ia pun sdh dipanggil Kejagung utk menjalani pemeriksaan bbrp hari lalu.
Menurut pengakuan Irwan Hermawan, Komisaris PT Solitechmedia Sinergy sekakigus satu dari 8 terdakwa, Dito mendapat jatah Rp 27 miliar. Duit ini ditengarai utk meredam pengusutan korupsi BTS yg mulai terendus akhir thn lalu.
Politisi Golkar itu mengklaim, seperti yg diterangkan Irwan pada penyidik, bisa membantu lewat salah seorang kenalan di lembaga penegak hukum agar kasus ini tak lagi berlanjut.
Duit puluhan miliar itu diserahkan pada Dito melalui Windi Purnama, suruhan Irwan yg juga termasuk 8 terdakwa, secara bertahap sebanyak 2x ke rumahnya di Jl. Denpasar, Jaksel.
Selasa pagi kemarin, Maqdir Ismail, pengacara Irwan, mengatakan ada seorang yg mengaku-ngaku dari pihak swasta mengantar uang ke kantor firma hukumnya utk diserahkan ke Kejaksaan. Jumlah fulus ini sama persis dgn yg diterima Dito, yakni Rp 27 miliar.
Meski bukti keterlibatannya cukup kuat, hingga detik ini Dito blm jelas status hukumnya. Yg menarik, Irwan juga menandai nama-nama lain yg diklaim bisa meredam pengusutan perkara. Orang-orang ini disebut Irwan sbg "kluster pengamanan".
Jumlah duit yg dibagikan ke para broker hukum itu itu pun bombastis, yaitu Rp 243 miliar. Salah satu nama cukup tenar di telinga. Ahsanul Qosasi. Irwan tak menyebut namanya langsung, sbb ia menyerahkannya ke Sadikin.
Dari Sadikin, sosok yg sampai kini masih misterius krn blm juga muncul ke publik & blm pernah sekalipun diperiksa Kejagung, uang peredam perkara itu mengalir ke pihak BPK. Fulus haram yg diterima Sadikin sekitar Rp 40 miliar.
Sbgm sdh dikonfirmasi BPK, Sadikin bukan pegawai di lingkungan auditor milik negara itu. Namun, Sadikin diakui memang dekat dgn salah seorang pimpinan BPK.
Selama ini, pengauditan proyek menara signal milik Kemenkominfo itu sendiri diserahkan Ahsanul Qosasi, yg merupakan Anggota lll BPK.
Uang dari Sadikin itu diduga agar petinggi auditor plat merah ini memanipulasi data. Dgn begitu, mangkraknya proyek BTS yg menghabiskan uang negara mencapai Rp 28 triliun itu supaya tak lagi dicurigai adanya penyelewengan anggaran.
Irwan mengaku, uang itu ia antar ke Sadikin di Grand Hyatt, Jakpus, melalui Windi yg dikemas dlm koper. Di samping nama-nama di atas, mereka yg masuk dlm "kluster pengamanan" lagi ialah Nistra Yohan, staf ahli anggota Komisi l DPR RI dari Fraksi Gerindra Sugiono.
Nistra dikatakan mendapat jatah Rp 70 miliar. Dari Nistra-lah uang korupsi itu diduga mengalir ke sejumlah orang Senayan di Komisi itu, termasuk bosnya sendiri yakni Sugiono. Uang ini juga utk meredam perkara BTS agar tak lagi disinggung di rapat DPR.
Selain Nistra, nama Naek Parulian Washington alias Edward Hutahaean juga masuk dlm pusaran "kluster pengamanan". Edward diklaim menjadi broker utk meredam perkara BTS di lingkungan lembaga penegak hukum. Ia menerima sekitar Rp 15 miliar.
Edward sendiri merupakan Komisaris di anak usaha PT Pupuk Indonesia (Persero) di bidang perniagaan, yaitu PT Pupuk Indonesia Niaga, terhitung sejak 25 Mei 2022. Sblmnya, ia menjabat Deputi Chief de Mission Kontingen Indonesia dlm Paralimpiade Tokyo 2020.
Share this Scrolly Tale with your friends.
A Scrolly Tale is a new way to read Twitter threads with a more visually immersive experience.
Discover more beautiful Scrolly Tales like this.
