BEDHONG MAYIT 1 (Part 4 - A)
"Kuburkanlah 'Kain Rombeng' itu bersama jasadku, atau kalian semua akan menanggungnya".
#Thread #bacahorror #menghorror #idnhorror @bacahorror @menghorror @IDN_Horor
Sebelumnya di @X
1.
2.
3.
Di @karyakarsa_id BEDHONG MAYIT 1 (1-4)
karyakarsa.com/AgilRSapoetra/…
Baca juga squelnya, yang masih berlangsung di @karyakarsa_id
1. GUMBOLO PATI (Bedhong Mayit 2)
1.
2.
3.
4.
5.
6. karyakarsa.com/AgilRSapoetra/…
karyakarsa.com/AgilRSapoetra/…
karyakarsa.com/AgilRSapoetra/…
karyakarsa.com/AgilRSapoetra/…
karyakarsa.com/AgilRSapoetra/…
karyakarsa.com/AgilRSapoetra/…
“Bedhong Mayit”. Part 4 (A)
Masih di malam yg sama,
Di rumah Mbah Mangun, tampak wajahnya yg resah, berulang kali ia juga terlihat keluar masuk dari rumahnya, yg mana itu Mbah Mangun lakukan untuk melihat keadaan sekitar Gapura Desa yg kebetulan bs terlihat jelas dari terasnya.
“Sudah Pak.. Njenengan itu tidur saja, sudah malam lho ini.. Malah wara-wiri ndak jelas”. Kata Mbah Sulami (istri Mbah Mangun) ketika melihat Mbah Mangun yg kembali masuk lagi kerumahnya.
“Bentar Bune, Cuma mau memastikan saja, apakah ‘mereka’ benar2 bisa tertahan”. Jawabnya.
“Halah, Demit kok ditunggui, ini sudah jam 12 lebih lho”. Tanggap Mbah Sulami dengan kesal, namun ia tetap saja kembali duduk diruang tamu itu dan tidak mau meninggalkan suaminya gelisah sendirian.
“Sudah bune, kalau sampean ngantuk, tidur saja dulu”. Sambut Mbah Mangun.
“Hah.. Emoh ah, sampean ini apa ndak ngerti kalau saya ini takut!!”. Kata Mbah Sulami dan segera ditanggapi oleh Mbah Mangun dengan isyarat jarinya.
“Ssssst!!!, sek bune, dengar ndak?”. Kata Mbah Mangun.
“Denger opo sih Pak!!, mbok jangan nakut-nakuti to!!”. Kata Mbah Sulami-
-yg terperanjat bangkit & langsung memegang lengan suaminya.
“Sstttt!! Itu lho, rame-rame di luar!!”. Kata Mbah Mangun yang seketika membuat Mbah Sulami mau tak mau harus turut mencermati.
Dan benar, samar namun jelas,-
-terdengar ditelinga Mbah Mangun dan istrinya, suatu riuh keramaian yang tidak bisa dijelaskan. Sumbernya tak jauh dari depan rumahnya, dan patut diduga itu pastinya berasal dari sekitaran gapura Desa yang jaraknya tidak sampai 100 meter dari rumah Mbah Mangun itu.
Mbah Mangun ingin segera keluar untuk memeriksanya, namun dicegah oleh istrinya.
“Mbok sudah to Pak.. Ndak usah di lihat!!”. Sembari menarik lengan mbqh Mangun.
Mbah Mangun pun urung keluar dari rumahnya, tapi mereka tak beranjak & malah masih mencermati suara riuh itu dari-
-ruang tamu. Hingga beberapa saat setelah itu, secara perlahan, suara riuh keramaian itu seperti semakin mendekat di pendengaran mereka.
“Kok makin jelas! Sudah to Pak, kita masuk kamar saja!”. Ucap Mbah Sulami ketakutan.
“Sek Bune, ini kalau sampai berhenti di depan rumah,-
-kita bisa celaka!!”. Tanggap Mbah Mangun.
“Terus mau gimana sih!!”. Ucap Mbah Sulami yang setelah itu segera di antarkan oleh Mbah Mangun untuk masuk dulu ke dalam kamar karena suara keramaian itu benar-benar terdengar semakin dekat dengan rumahnya.
“Sudah bune, sampean tak antar masuk dulu saja”. Kata Mbah Mangun singkat, sembari sedikit menggeret istrinya menuju kamar.
Mbah Mangun pun beranjak meninggalkan istrinya, & kini sembari menenteng ‘Sapu Gerang’ (Sapu lidi yang sudah kikis) , ia pun keluar dari rumahnya untuk-
-menghadapi keramaian ganjil itu.
Dan memang benar dugaannya, karena di luar, ia segera di perlihatkan oleh sebuah pemandangan ganjil.
“Agstafirullah”. Kata Mbah Mangun yang saat itu masih berdiri di lantai teras rumahnya.
Melihat itu, Mbah Mangun hanya bisa berdzikir dalam-
-hati, sembari meremas ‘Sapu Gerang’ yang ia genggam, untuk menata dan mengumpulkan keberaniannya.
Sebenarnya Mbah Mangun sudah sedikit terbiasa melihat lelembut atau semacamnya, tapi untuk kali ini sepertinya apa yang tampak di matanya, sudah di luar dari kebiasaannya, karena-
-pemandangan ganjil itu, nyata-nyata tidak hanya satu, tapi berupa gerombolan lelembut berbaju putih yang tampaknya tinggal beberapa meter lagi akan benar-benar sampai di depan rumahnya.
Tak ada jalan lain lagi, Mbah Mangun pun memaksakan dirinya turun ke jalan untuk menghadang-
-para lelembut itu agar tidak sampai masuk ke desanya lebih dalam.
Walau dengan sedikit meragu, Mbah Mangun pun berdiri di tengah, sambil mengacungkan ‘Sapu Gerang’ yang di bawanya, ke arah para lelembut yg nampak melayang-layang di depannya itu,-
-dan sama sekali tak ia duga, ternyata usaha serampangannya ini malah berhasil membuat rombongan ganjil itu berhenti mendekat dan perlahan mundur menjauh.
Mbah sempat heran sendiri, bagaimana caranya ‘Sapu Gerang’ ini bisa menakut-nakuti lelembut sebanyak itu.
“Ah Entahlah..”. Batin Mbah Mangun di antara degup jantungnya yang masih kencang Itu, bersamaan pula dengan riuh ramai ganjil yang terasa semakin jauh dan akhirnya menghilang.
Setelah itu, ia pun kembali masuk, dengan tubuhnya yang agak terasa gemetar. -
“Hah.. Lama ndak seperti ini, ternyata saya sudah tak senekat dan seberani dulu!!”. Ucap dalam hati setelah ia berada di dalam rumahnya.
*****
Hingga singkatnya, malam itu pun berlalu dan berganti dengan pagi yg cukup tenang, kabar baik juga segera tersiar hari itu,-
-perihal ‘Dawuh’ ketiga sesepuh yg sepertinya berhasil menghentikan teror itu.
“Alhamdulilah Mbah, Saya semalam sengaja tidak tidur, dan sampai subuh, saya sama sekali tak mendengar ‘wilwo’ maupun ketukan seperti biasanya”. Kata Pak Carik yg pagi ini sudah berada di rumah Mbah-
-Roso untuk melaporkan hal itu.
Mbah Roso mengrenyit heran, “Oh berarti dedemit-dedemit itu hanya mendatangi saya”. Batinnya yg ternyata semalam juga mengalami hal serupa seperti Mbah Mangun.
“Oh ya?, syukurlah kalau begitu”. Tanggap Mbah Roso walau sambil menyimpan keraguan dalam hatinya.
“Tapi untuk agenda pencarian Bedhong Mayit itu, tetap harus kita teruskan lho Pak Carik, saya merasa ini hanya bersifat sementara”. Tambah Mbah Roso yg terjeda oleh kedatangan-
-Parmin si penggali kubur, dengan wajahnya yg tampak pucat.
“Kulonuwun...”. Ucap Parmin di ambang pintu, yg langsung di sambut untuk turut duduk bersama mereka.
“Kita berhasil Kang Min.. Jimat yang semalam kita kuburkan itu berhasil menghilangkan gangguan yang sudah bertahan di desa kita selama berhari-hari itu”. Ucap Pak Carik kepada Parmin dengan senyuman lebar, yang mana tak lama kemudian justru ditanggapi Parmin dengan wajah lesunya.
“Ya memang benar Pak Carik.. Kromoleo & kawan2nya tidak lagi berkeliling desa.. Tapi semalam saya benar2 dibuat ndak tidur, karena ‘Wilwo’ itu tertahan di dekat rumah saya, dari tengah malam sampai subuh!”. Kata Parmin muram yg malah di tanggapi Mbah Roso dengan terkekeh.
“hahahah..Owalah Min..min, saya baru ngeh.. Kalau rumahmu itu dekat dengan mulut jalan 'Gumuk Pati’.. Ya jelas.. Kalau Kromoleo itu tidak bisa masuk, & pastinya memang akan tertahan di jalan itu..”. Kata Mbah Roso yg membuat Parmin hanya bisa menghela nafasnya sembari berkata.
“Sudah lah.. Sudah terlanjur juga, itung-itung perjuangan untuk desa ini, Eh tapi Mbah.. Kalau bisa ya jangan setiap malam seperti itu.. Bisa-bisa saya malah pindah dari desa ini”. Kata Parmin.
“Halah... Tenang..tenang.., sedang kami urus kok.. “. Tanggap Mbah Roso.
Mereka pun sejenak berbincang-bincang di pagi itu, hingga sekira 30 menit kemudian, Pak Carik dan Parmin pun berpamitan.
-Bersambung-
Karena Part 4 ini lebih panjang dari part-part sebelumnya, jadi akan saya bagi menjadi beberapa bagian, yang akan saya up 'Setiap Hari' (Jumat ini, sabtu, minggu - pokoknya sampai selesai). Semoga berkenan nggih 🙏 sampai jumpa besok sore.. 🙏
Matursembahnuwun 🙏
Share this Scrolly Tale with your friends.
A Scrolly Tale is a new way to read Twitter threads with a more visually immersive experience.
Discover more beautiful Scrolly Tales like this.
