Teguh Faluvie Profile picture
Waktu berkarya dan ruang berbagi cerita | Meong Hideung Universe | Upload cerita horror #kamismalam | Download eBook, klik tautan KaryaKarsa.

Feb 8, 2024, 182 tweets

KAMPUNG JABANG MAYIT 3

Sudah tidak terhitung, berapa banyak nyawa bayi dalam kandungan yang mati untuk persembahan ritual.

“A THREAD”

[Part 5]

@bacahorror @IDN_Horor
#bacahorror

Penebusan bernama tumbal itu tak bisa lagi dihindari, jabang bayi yang mati bukan tanpa alasan, namun ada yang menghendaki.

Untuk yang belum baca part sebelumnya, bisa langsung klik tautan dibawah agar mempermudah. Bantu tinggalkan REPOST, QOUTE dan LIKE pada thread agar yang lain ikut membaca juga cerita ini yah..

Part 1 – Kepala Tanpa Jasad


Part 2 – Sang ‘Penerus’


Part 3 – Kiriman Kematian


Part 4 – Perjanjian Ni Itoh



[Info eBook:]

Download semua cerita horror dalam bentuk eBook, termasuk Kampung Jabang Mayit 1 & 2 sudah tersedia, sambil memberikan support dan dukungan bisa langsung klik tautan KaryaKarsa. Kita tunggu yah kunjungan teman-teman, karena sangat berarti.
karyakarsa.com/qwertyping

Mari kita mulai ceritanya, dan selamat memasuki Kampung Jabang Mayit!!!

Part 5 - Dua garis merah‘Tumbal’

“Dari hulu menuju hilir, ancaman kejadian keji empat tahun lalu akan segera terulang. Dipersiapkan oleh seorang Nyai;

maka jabang bayi yang mati belum bisa melunasi apa yang sudah disepakati. Sebelum keturunan Ambar Wijaksana menderita lalu dijemput kematian.”

[Digjaya Adiguna Gama:]

Sore ini, langit dipenuhi warna jingga yang merona, memberikan pertanda sang senja sudah tiba sedari tadi. Di tengah keramaian jalan aku sedang duduk diatas kendaraan roda dua.
Aku perlahan tenggelam dalam segala pikiran yang telah aku lalui

empat tahun silam ketika dirasa permasalah di kampung jabang mayit telah usia, namun ternyata saat ini menyisakan marabahaya yang sudah tiba di depan mata. Bukan hanya membahayakan keluarga besar Arya, namun keluargaku sendiri.
“Tenang Gam, tenangkan dirimu..” bisiku dalam hati.

Terus mencoba merangkai segala teka teki dari semua kejanggalan yang tiba. Dan berfokus pada jalanan yang semakin ramai dengan lampu-lampu kendaraan yang mulai menyala.
Sorotan cahaya itu memperjelas banyak hal yang perlu aku pertimbangkan, agar tidak ada lagi korban berjatuhan

setelah Ibu Mulyani mertuaku sendiri kini masih terbaring, dalam masa pemulihan oleh Mang Idim dan Ki Duduy.
“Jika memang ini balasan, cobaan bahkan pembalasan yang disiapkan oleh-mu, maka segeralah kuatkan aku, berikan jalan agar permasalahan ini -

- dapat aku selesaikan,” ucapku perlahan meminta perlindungan dari sang pencipta.
Setelah tak pernah reda dzikir yang aku ucapkan dalam hati. Serta mengirimkan doa kepada Ki Langsamana.
Gerbang rumah sudah terlihat terbuka, Mang Tahrim langsung memperlebar gerbang itu

agar roda dua yang aku kendarai dapat masuk.
“Ada Iman dengan Indra yah Mang?” tanyaku sambil turun.
“Iyah ada, tadi bawa dedaunan yang di pesan Mang Idim. Luka bekas tusukan di perut Ibu Mulyani mulai membaik. Namun beberapa kali dalam tidurnya sering mengigau, -

- tidak jarang ketawa suara nenek menyeramkan,” jawab Mang Tahrim.
Langit sore baru saja pamit, ketika suara adzan maghrib telah berkumandang dengan merdu. Terlihat juga olehku Iman dan Indra baru saja keluar dari pintu rumah dengan berjalan tergesa-gesa.

“Pak Gama, Iman sama Indra pamit pulang dulu,” ucap Iman sambil mencium tangan Gama.
“Iyah Pak masih perlu mencari dedaunan malam ini yang dipesan Abah Idim,” lanjut Indra.
“Baik-baik, hati-hati kalian berdua yah. Bukanya sholat magrib dulu disini,” ucapku

langsung mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam saku celana.
Iman yang terlepas dari masalah punggel ireng dan masa lalu bersama ibunya itu kini tumbuh dan hidup bersama Mang Idim, bersekolah dan membantu Indra berjualan rotan.

“Gam..”
“Gama..”
Suara serak paruh baya terdengar dari depan rumah, keluar dari Ki Duduy yang berdiri.
“Sana Pak Gama, biar amang saja yang parkirkan motor, dari tadi Ki Duduy nunggu Pak Gama.” Sahut Mang Tahrim.
Aku langsung berjalan tergesa-gesa ke arah dimana Ki Duduy

baru saja duduk dengan jarinya menjempit rokok yang sudah terbakar.
“Assalamualaikum Kek,” ucapku langsung mencium tangan.
“Waalaikumsalam Gama, Dewi seharian kakek sarankan tidak dahulu membuka toko bangunan, Mang Idim sedari asar sudah duduk bersila menelusur -

- dari darah perut Ibu mertua kamu..”
“Toko dalam pengintaian beberapa orang yang tidak dikenal setelah Mang Ade melapor,” ucap Ki Duduy sambil menghisap rokoknya secara dalam.
“Dampak dari masalah Arya dan keluarganya kek?” tanyaku semakin cemas.
“Dampak dari kita semua, -

- dan kamu tahu hal apa yang perlu kita lakukan setelah gangguan dan marabahaya tiba pada keluarga Arya dan kita ini?” ucap Ki Duduy sambil menepuk pundakku.
Dari kejauhan mata kuning menyala berlari terpincang-pincang ke arahku, meong hideung langsung meloncat ke arah pangkuan.

“Selesaikan dengan tanggungjawab Kek, tidak ada cara lain. Dan Gama sudah mengetahui setidaknya dari mana garis gangguan yang sekarang kita hadapi,” jawabku sambil mengelus kepada meong hideung.
“Begitu juga dengan Mang Idim, dan Wahyu sudah mendapatkan banyak berita -

- dari beberapa surat kabar yang semoga mengarah dan tidak salah menuduh hingga menjadi fitnah saja, selesai kamu mandi dan shalat kita perlu bicarakan ini..” ucap Ki Duduy menatap kosong.
“Sambil menunggu kabar Budi dan Mang Panjul di rumah Arya, kita bersiap!” lanjut Ki Duduy.

Dewi yang sudah membawa satu gelas air putih di atas wadah tampah, langsung mengurungkan niatnya berjalan ke arah Gama dan Ki Duduy karena melihat suami dan kakeknya itu sedang terlibat pembicaraan serius.
...

Tidak ada yang berani mengusik duduk bersila seorang lelaki dengan meong hideung disampingnya itu didalam mushola, lelaki itu memejamkan matanya dengan sangat dalam. Tasbih yang dipegang oleh tangnya itu terus berputar digerakan oleh jari telunjuknya.

Hampir dua jam dari waktu shalat isya yang sudah berlalu, Dewi, Mang Idim, Ki Duduy dan Pak Wahyu hanya berani sesekali memastikan untuk melihat keadaan Gama.
“Tunggu dulu saja Gama, yang terpenting Dewi dan Teh Anggit -

- periksa keadaan Ibu dulu yah,” sahut Ki Duduy beranjak dari duduknya.
“Gama masih duduk bersila Kek,” sahut Mang Idim.
“Budi bagaimana?” tanya Ki Duduy.
“Barusan sudah mengirimkan pesan, melalui nomor Mang Panjul sudah berada di sekitar rumah Arya, -

- setelah ada kejadian aneh sosok perempuan di dalam kantor material. Kedatangan Darma Surya mempengaruhi kejadian itu Kek,” jawab Mang Idim menjelaskan.
Ki Duduy hanya mengangguk perlahan, setelah melihat Pak Wahyu di meja makan sedang merapikan beberapa surat kabar

dan kertas yang sudah dicetak, berisikan berita-berita penting yang ia dapatkan setelah dibantu oleh Arsa Priyanto, seseorang yang pernah dibantu oleh Gama dalam permasalah bangkar sukma.
“Biar kakek pastikan dulu Gama yah Dim, sesekali hubungin Budi dan Mang Panjul -

- juga pastika keadaan Ibu Mulyani dengan luka yang sudah mulai kering itu,” jawab Ki Duduy.
Dari malam yang perlahan semakin larut, berserta udara dingin yang terbawa angin malam itu tidak membuat tubuh Gama ikut merasakan kedinginan, tetesan keringat sudah membanjiri tubuhnya.

Duduk bersila nya sama sekali tidak bergerak atau berpindah sedikitpun, begitupun kedua matanya tak pernah lagi terbuka. Hanya hatinya yang terus membacakan amalan serta dzikir yang dibaca berulang-ulang.

Setiap nafas yang keluar dari dua lubang hidungnya itu adalah pertanda kepasrahan, sedang meminta kepada sang pencipta dari rasa takut dan cemas yang semakin begejolak dalam dirinya.
Sayup-sayup pandangan gelap matanya kini menampakan sebuah leuwueng

yang tidak pernah Gama lihat dalam hidupnya. Beberapa hutan lebat itu bergeser ke arah ujung dengan rumah megah.
“Ru – rumah, ujung hutan..” bisikku dalam hati.
“Kawasa iblis atawa setan ngaganggu jelema mangrupakeun salah sahiji janjina ka pangeran Gama, eta geus kacipta -

- sacaan jelema hirup dialam samantara ieu..”
(Kuasa Iblis atau setan mengganggu manusia sudah merupakan salah satu janjinya kepada gusti Allah Gama, itu sudah tercipta sebelum manusia hidup dialam sementara ini)
Suara yang tidak asing kini masuk kedalam dua lubang telingaku.

“Buyut, dimana tempat itu?” tanyaku, ketika melihat rumah megah dan besar itu di depannya terdapat banyak obor, dengan api yang semakin berkobar walau tidak terkena sekalipun hembusan angin.
“Patempatan jelema ngalangar aturan hirup, wani micen ku cara bengis -

- titipan nu maha kuasa, saukur minuhan nafsu. Tapi deui aya sapasang pamajikan jeung salaki nu narima, jeung ngajieunkeun orok-orok nu kuduna hirup kalah dipaehan Gam,”
(Tempat manusia melanggar aturan hidup, berani membuang dengan cara keji titipan yang maha kuasa, -

- untuk memenuhi nafsu. Akan tetapi ada satu pasang istri dan suami yang menerima, untuk membuat bayi-bayi yang seharusnya hidup malah di bunuh Gam,)
Kobaran api itu menjelma menjadi bulatan-bulatan semakin besar, setiap cahayanya bak membakitkan sesuatu yang sedang terkubur

disalah satu kamar yang terdapat didalam rumah megah.
“Kamar? Beralaskan tanah, tanpa keramik?” ucapku, ketika melihat semakin jelas, seorang perempuan sedang terbaring dengan perut sedang hamil muda.
Perempuan itu sudah membuka pahanya secara lebar, ketika perempuan cantik

mendekat sambil tersneyum lebar, lalu mendekatkan obor sebagai pencahayaan diarahkan keantara celah pahanya.
AAAAAA!!!
Teriakan kencang langsung terdengar menyakitkan masuk kedalam telingaku, berulang-ulang semakin kencang.

Seketika tampah dibawa oleh seorang lelaki yang tidak dapat aku lihat jelas wajahnya, tampah terbuat dari rotan itu langsung mendarat sebuah janin penuh darah.
“JANGANNNN!!!” teriakku kencang, ketika perempuan cantik berambut lurus indah itu

menarik pedang panjang, dari bawah ranjang kayu.
“JANGAN!” teriakku semakin kencang, tak ingin melihat kejadian selanjutnya.
SREETTTT!!!
Satu kali sayatan pedang panjang itu mendarat dileher perempuan yang sedang terbaring.

“Kuburkan! Bersama janin! Setiap tahun harus ada kepala yang terkubur dikamar ini!”
Deru nafasku semakin kencang, ketika setiap cangkul yang bergerak membongkar tanah sebagai lantai itu terus bergerak oleh seseorang dengan matanya kini menyala merah.

Berserta perempuan yang membawa tampah berisikan janin dengan darah itu seketika wajahnya menjadi seorang nenek tua, serta tiba-tiba kobaran api menyala begitu saja.
“Sakuduna raray nini eta masih keneh ku ajeun ingeut Gam..”

(Seharusnya wajah nenek itu masih kamu ingat Gam..) bisikan suara Ki Langsamana semakin jelas terdengar.
Satu kali usapan sorban putih Ki Langsamana mendarat di bagian wajah dengan sangat terasa dingin menusuk kulit, dan hal ini baru pertama kali aku rasakan.

“Ni Itoh!” teriakku kencang.
Seluruh isi kamar itu seketika menjadi gelap gulita, ketika api mulai padam dengan secara tiba-tiba.
Hanya merah darah dan beberapa jabang bayi yang kini mulai terlihat bermunculan dari tanah,

berserta aku merasakan panas yang menerpa seluruh tubuhku begitu kuat.
“Cu – cukup Gam, buka mata kamu, sekarang, perlahan..”
“KAKEK!”
“Tenangkan dirimu, jika kamu lanjutkan tubuhmu sendiri yang akan terbakar,” bisik Ki Duduy di dekat telinga,

sambil memberikan satu gelas berukuran besar penuh dengan air putih.
Tubuh yang sebelumnya kering, kini sudah banjir dengan keringat. Tidak satupun bagian tubuhku yang tidak basah.
“Jelas Kek, semuanya jelas sekarang, Gama paham..” ucapku.
ARGGHHHHH!!!

Usapan telapak tangan Ki Duduy langsung aku rasakan mendarat dipunggungku, dengan mata meong hideung yang sudah menyala kuning itu sudah berdiri disamping paha.
“Bahkan meong hideung bisa merasakan apa yang kamu lihat dalam gelapnya kedua matamu tertutup itu,” ucap Ki Duduy.

Gelang gengge yang berada di dalam saku celanan seketika menjadi dingin, bersamaan tubuhku terasa sedikit melemah.
“Pulihkan dulu kondisimu, kita bicara dengan apa yang sudah Idim serta Wahyu dapatkan malam ini, sebelum kamu menyusul Budi ke rumah Arya..” ucap Ki Duduy

kemudian berdiri dan keluar dari mushola terlebih dahulu.
Aku hanya menganggukan kepala, sambil berusaha untuk mengatur nafas yang sudah ngos-ngosan. Kedua tanganku terus menerus kepala meong hideung yang kini berada dalam pangkuanku.

“Kali ini kekuatan Ni Itoh jauh lebih gila, entah bagaimana dia bisa selamat dalam kematiannya empat tahun lalu. Kamu siap-siap!” ucapku, semakin perlahan mengusap kepala meong hideung dengan tatapan yang jauh lebih tenang.
...

Meja makan yang biasanya menjadi saksi kebahagiaan keluarga, kini terasa terasa penuh dengan ketakutan dan ancaman. Lampu-lampu redup menyinari wajah-wajah tegang yang duduk di sekitar meja. Hanya menyisakan Dewi dan Teh Anggit yang menyaksikan dari dalam kamar Ibu Yani

dengan pintu yang terbuka lebar.
“Ini yang aku dapatkan Gam, berbagai kabar tentang sebuah keluarga Darma Surya dan segala kasus kejangalan di kampung Rancasirah berserta leweung Ujungsirah,” ucap Kang Wahyu membuka pembicaraan.

Aku dan Ki Duduy langsung melihat segala tumpukan kertas yang sudah disiapkan Kang Wahyu.
“Dari istiqoroh yang Amang lakukan, serta informasi dari Budi dan Mang Panjul yang sekarang berada di rumah Arya, mengenai Darma Surya sudah bukan tuduhan liar, tapi pasti..” sahut Mang Idim

Tingkat kecemasan meningkat. Mereka semua kini lebih terfokus pada perasaan marabahaya yang mengancam. Pandangan mata yang terlihat khawatir dan serius.
“Ba – bahkan kasus kematian dengan nama Juragan Karman pernah muncul di surat kabar ‘tanpa kepala’ namun tengelam lagi -

- dan tidak ada satupun jejak ke arah sana, kekayaan dan kekuasaan Darma Surya sangat singkat menjadi penguasa kayu termasuk di hutan Ujungsirah,” lanjut Kang Wahyu.
Aku dan Ki Duduy hanya menganggukan kepala, terutama bayangan dalam duduk bersilaku barusan masih aku ingat jelas.

“Ja – jadi apa sebenarnya Kek yang Darma Surya inginkan?” tanyaku perlahan.
“Dendam kematian! Jika memang memanfaatkan Ni Itoh yang kini bukan lagi menyembah Iblis, namun telah menjadi Iblis. Dengan syarat nyawa-nyawa keluarga Arya menjadi persembahan..” ucap Ki Duduy.

Ucapan Ki Duduy membuat suasana menjadi tegang, ucapanya terdengar juga oleh Dewi dan Teh Anggit dari arah kamar Ibu Mulyani.
“Terlebih keluarga kita keturunan Ki Langsamana, menjadi incaran utama juga Gam,” lanjut Ki Duduy menepuk pundak Gama.
“Budi bicara nama Haris, -

- itu yang harus digaris bawahi Gam,” sahut Mang Idim.
“Dan kawasan Kampung Rancasirah semua tunduk pada kekayaan Darma Surya berserta istirnya yang merupakan dukun beranak disana yaitu Ratih Anggerani, hanya foto ini yang Akang dapatkan Gam,” sahut Kang Wahyu.

Foto cetakan lama kusam sedang aku lihat, beberapa kali mataku terpokus pada foto Ratih Anggraeni.
“Mi – mirip, seperti perempuan itu..” bisiku dalam hati.
“Nyai! Orang-orang memanggilnya Nyai!” tegas Kang Wahyu.
“Sumber utama..” ucap Ki Duduy.

Terus saja foto Nyai Ratih Anggraeni itu aku tatap, hingga wajah kusam yang tercetak dalam foto itu bisa aku ingat, diikuti sebuah usapan kepala meong hideung yang sedari tadi dekat dengan kaki.
“Ini semua sudah cukup, sebagai bukti, dan aku harus pastikan keadaan Budi -

- dan Mang Panjul, sebelum Budi aku perintah untuk datang ke kampung Rancasirah secepatnya,” ucapku perlahan.
Ki Duduy hanya menganggukan kepala, langsung memerintah Mang Idim untuk berjaga lebih ketat malam ini. Bukan hanya pada keadaan Ibu Mulyani

namun kepada Dewi, Teh Anggit dan keadaan keluarga Umi Esih.
“Hati-hati Gam, mereka yang telah terikat dengan perjanjian akan membuat segala cara adalah benar, mereka tidak akan pilih nyawa atau belas kasih, jangan sampai kali ini menyisakan apapun juga..” bisik Ki Duduy

sambil mengantarkan Gama ke depan rumah.
“Ga – Gama paham Kek,” jawabku perlahan, sambil melihat Dewi menundukan kepala bak pertanda memberikan izin dan doa untuk aku malam ini.
“Titip kepada Budi, tidak ada aturan apapun kali ini, semua bereskan sampai ke akar-akarnya..”

lanjut Ki Duduy berbisik sambil menerima cium tangan Gama.
Kepala Ki Duduy beberapa kali melihat raut kecemasan ke arah Dewi dan Teh Anggit terlebih Ibu Mulyani sementara baru dapat membuka kedua matanya dengan perlahan.

Menahan rasa sakit yang ia rasakan serta rasa trauma ketika ditinggalkan selamanya oleh suami tercinta, kala mendapatkan masalah ‘Sekutu’ saat bertepatan setelah Gama menikahi Halimun Dewi.
“Ja – jangan sampai ada korban berjatuhan lebih banyak lagi, -

- seperti kejadian empat tahun lalu,” ucapku dalam hati.

***

Menyusuri tapak tilas diwaktu yang semakin larut malam ini menuju rumah Arya bukanlah untuk tujuan silaturahmi atau menjenguk keadaan Ibu Gina, ibunda Arya. Melainkan memastikan keadaan bagaimana Budi dan Mang Panjul berjaga.

Bayangan sebuah hutan dan rumah mewah, serta kekejian yang aku saksikan sebagai petunjuk dari mana marabahaya itu tiba, sudah tak perlu aku ragukan lagi. Dengan pertanda bukti satu nama Darma Surya yang terus menarik ingatanku akan nama tersebut.

“Disana! Iyah bahkan aku masih ingat Budi empat tahun lalu menyembunyikan motor, sebuah pohon besar yang masih terdapat bak sampah,” ucapku tepat menarik rem tangan kendaraan roda dua.
Setelah memastikan tidak ada yang mengikuti langkahku, segera aku sembunyikan motor

dari balik pohon yang pasti terhalangi tumpukan sampah.
Langkah perlahan penuh kehatian-hatian terus aku lakukan menyusuri samping tembok yang menjulang tinggi rumah Arya, hatiku terus mengucapkan dzikir amalan.

Srek.. srekk..
Dua kali langkah cepat membuat segala pandangan mataku buyar, meong hideung berlari kencang dengan terpincang-pincang menyusul, dengan pancaran cahaya kuningnya itu sudah menyala.
“Pertanda!” ucapku, langsung mempercepat langkah.

Beberapa saat langkah yang sedari tadi tergesa-gesa aku lakukan, seketika langsung terhenti, pandangan mataku seolah tidak percaya dengan apa yang aku dapati saat ini.
“Tidak mungkin Budi atau Mang Panjul yang membongkarnya! Dengan serapi ini!” tegasku heran.

Lubang tembok empat tahun lalu yang aku ingat sudah Arya tutup kembali, setelah menjadi jalan utama dan Budi untuk masuk melalui halaman belakang rumah Arya kini sudah tidak utuh lagi.
“Ada yang sengaja membuka, bahkan mempersiapkannya,” ucapku

setelah memperhatikan lubang yang sangat rapi, seperti sudah disiapkan sebelumnya.
Gelang gengge yang semakin panas dan suara getar handphone terasa.
“Arah jam 10 Gam, aku dan Mang Panjul sedang berjaga sudah ada yang datang lebih dahulu dari pada kamu, hati-hati.”

Pesan dari nomor Mang Panjul yang diketik oleh Budi langsung aku baca.
Kepala meong hideung beberapa kali aku lihat tidak memperhatikan sekitaran halaman belakang rumah Arya, kepalanya terus bergilir dari kiri ke kanan namun sambil melihat ke arah atas.

“Astagfirullah..” ucapku kaget.
Segumpal bola api tiba-tiba sudah melayang dan menghantam ke arah salah satu kamar yang masih dapat aku lihat dengan jelas.
“BUKAN KAMAR ARYA, TAPI KAK YUNI!” tegasku, masih ingat kejadian empat tahun lalu

bahkan aku masuk ke dalam kamar, yang kini dengan kencang ditabrak bola api.
Walau anehnya bola api itu sama sekali tidak menyambar kayu jendela hanya mengeluarkan asap, asap yang kemudian masuk ke arah lubang erang-erang diatas jendela menuju kamar Kak Yuni.

“Ba – bahaya!” tegasku.
Seketika gelang gengge berubah menjadi panas. Sementara meong hideung langsung berlari terpincang-pincang ke arah jendela kamar Kak Yuni.
“Seharusnya Budi ada di sekitaran sini,” ucapku terus berhati-hati melangkah.

Tidak ingin bola api tersebut hanya merupakan pancingan, dari seseorang yang sudah menyiapkan segalanya malam ini, termasuk pesan dari Budi barusan.
Sttt!
Stttt!!
Baru saja aku akan tiba di dekat jendela kamar Kak Yuni, suara pertanda terdengar oleh telinga.

“Gam..” ucap Budi dari balik sebuah pohon.
Selintas bayangan hitam dan asap aku lihat dari kamar Kak Yuni, yang baru aku sadari ternyata gorden jendela sudah terbuka lebar, seperti sengaja dibuka.
“BOLA API GAM,” ucap Budi berjalan ke arahku.
“Mang Panjul?” tanyaku cemas.

Budi menunjuk sambil menundukan kepala ke arah halaman belakang rumah.
Mang Panjul seketika melambaikan tanganya, memberikan pertanda sebuah bahaya, setelah aku melihat bayangan langkah seseorang sedang berjalan ke arah kamar Pak Akbar dahulu berdiam.

“ARYA!” ucapku ketika melihat Arya dan seorang anak kecil bernama Salwa yang merupakan anak Kak Yuni baru saja masuk ke dalam kamar.
“Pasti Arya akan menuju kamar Bapaknya Gam,” sahut Budi.
“Pesan dari Ki Duduy, tidak ada aturan dan habisi sampai ke akar-akarnya Bud, -

- cepat bergerak!” tegasku.
Budi yang masih menundukan kepala itu aku lihat tersenyum dingin penuh arti, ketika mendengar dengan jelas pesan dari Ki Duduy.
Aku dan Budi bergerak ke arah kamar Kak Yuni, setelah melihat Mang Panjul mengeluarkan golok dari sangkarnya.

“Maaf Gam kita bisa masuk lewat pintu samping itu,” ucap Budi.
“Buka dulu jendela kamar Kak Yuni, aku pastika keadaan Salwa dan kamu pastikan keselamatan Arya,” jawabku.
Dengan menggunakan seutas kawat yang sudah Budi siapkan,

hanya butuh beberapa detik kamar jendela Kak Yuni terbuka dengan perlahan.
Krekettt!!!
“Cepat, pastikan keadaan Arya, Bud.” Ucapku semakin cemas, serta sudah merasakan panas dari gelang gengge, ketika meong hideung sudah meloncat terlebih dahulu.
...

Kedua telapak kakiku baru saja menyentuh kamar Kak Yuni yang tempati, Salwa yang sedang berusaha menaiki ranjang dimana Kak Yuni sedang terbaring itu hanya menatap ke arahku dengan heran.
Hembusan angin malam yang masuk melalui jendela itu kini mampu membuat bulu kuduk berdiri

dengan sendirinya, apalagi kini aku tak mendapati kemana asap hitam yang ditimbulkan oleh bola api yang sebelumnya menabrak jendela kamar.
“Su – sudah di lindungi kamar ini ternyata, apa yang sebenarnya ingin Haris lakukan,” bisiku dalam hati.
“Om, siapa?”

“Kok masuk lewat jendela?” ucap Salwa.
Aku hanya memberikan pertanda jari telunjuk ke arah mulut, agar Salwa berhenti berbicara.
Salwa hanya mengangguk sambil berusaha susah payah naik ke atas ranjang.
“Om temannya Arya, sudah yah Salwa tidur,” ucapku pelan di dekat telinga Salwa

Pandangan mata Salwa hanya melihat ke arah meong hideung, ia seperti tidak ingin mendengarkan apa yang aku ucapkan barusan.
Tubuhku terasa semakin panas bersamaan dengan gelang gengge yang terus mengeluarkan panas juga, hingga terasa di kulit paha walau terhalang kain celana

yang sedang aku gunakan.
“Me – mendekat, ayo hadirkan wujudmu!” tegasku dalam hati.
Dari ujung mataku aku melihat sepintas sosok perempuan yang sedang berdiri, menampakan wujudnya dengan perlahan melalui cermin lemari.
PRAKKK!!!
Kaca cermin tiba-tiba pecah dengan sendirinya.

SREEEEKK!!!
Tubuh Salwa langsung terseret ke atas ranjang, dengan jambakan pada rambutnya dan mulutnya tertutup.
Dari pecahan kaca di depan mataku itu, aku melihat Kak Yuni sudah merangkak, menyeret Salwa dengan kasar.
HA-HA-HA..

Suara teriakan Kak Yuni sambil menatapku tajam menggema didalam kamar, sambil terus membekap Salwa.
“Tidak, tidak akan..”
“Anak ini kesepakatan..”
Mata Salwa sudah melotot sekuat tenaga, tinggal beberapa detik akan kehilangan nyawa.
DUK! DUK! DUK!

Tiga kali totokan jari telunjuk dan jari tengah langsung mendarat di wajah dan dua pundak Kak Yuni, yang aku lakukan dengan cepat. Hingga membuat tubuhnya itu seketika mematung.
BRUK!!!
Tubuh Salwa langsung terjatuh ke atas ranjang dengan kencang, berserta rambut bekas jambakan

ibunya yang membuat berantakan, serta di mulutnya sudah terdapat bekas lima jari.
HA-HA-HA..
“Seperti si bangsat itu akan selamat saja.”
Mulut Kak Yuni terus meracau sebuah ancaman didepan mataku, dengan cepat aku keluarkan gelang gengge dan aku tempelkan tepat di jidatnya
AAAA!!

Satu kali usapan di wajah Kak Yuni membuatnya semakin berteriak, namun aku dengan cepat menutup mulutnya.
DUK! DUK! DUK!
Tiga kali totokan kembali aku lakukan seperti sebelumnya, agar ilmu lumpuh raga keluar dari tubuh Kak Yuni, yang sudah dirasuki sosok perempuan

yang sudah aku ingat muncul dalam bayanganku ketika duduk bersila di mushola.
Membuat tubuh Kak Yuni kembali terbaring di dekat tubuh Salwa yang sudah terpejam.
“Hanya beberapa urat wajah saja, tidak akan lama lagi sadar,” bisiku dalam hati setelah memastikan keadaan Salwa.

Meong hideung langsung menabrak pintu kamar Kak Yuni yang seketika terbuka.
“Gam! Gama..”
Suara yang sudah lama tidak aku kenali kini masuk ke dalam telinga dari sosok perempuan tua, yang mempunyai leluhur dan pengabdian pada keluarga Ambar Wijksana.
“Mak..” ucapku.

Mak Ela langsung menunjuk kamar Pak Akbar.
“Arya didalam, barusan Budi juga masuk, keadaan semakin buruk malam ini..” ucap Mak Ela setelah menerima cium tanganku.
“Bi – biarkan Mak yang urus Salwa dan Yuni,” lanjut Mak Ela.

Meong hideung sudah berada didepan pintu kamar yang di tunjuk Mak Ela, merupakan kamar Pak Akbar ketika hidup.
...
DUARRRR!!!
BRUKKK!!!
AAA!!!
Suara ledakan tiba-tiba menggema dari dalam kamar, menimbulkan suara yang begitu sangat kencang, hingga aku menutup kedua telingaku.

TOLONG! SALWA! TOLONGGG!!!
ADA PEREMPUAN DIDALAM RUMAH!!!
TOLONGGG!!
SALWA MATI!!!
Asap-asap putih seketika keluar dari celah bawah pintu kamar, sebuah asap yang sebelumnya aku lihat di kamar Kak Yuni.
DUGGG!!!
Dengan kencang aku tendang pintu kamar sekuat tenaga.

Uhuk! Uhuk!
“Salwa, Gam!” tegas Arya.
“Tenang, Salwa dalam keadaan tidak sadarkan diri saja,” ucapku.
“ITU PEREMPUAN YANG DI MAKSUD KAK YUNI!” lanjutku ketika melihat meong hideung berlari dan meloncat ke arah jendela.

Perempuan dengan rambut disanggul serta tubuh semampai berjalan perlahan menuju sebuah lobang yang sudah aku lewati sebelumnya.
“Sialan! Entah ledakan apa barusan itu Gam, Si Pincang itu lolos! Tapi sudah aku tandai bagian perutnya dengan luka, -

- apa karena perempuan itu juga,” ucap Budi.
“Me – menghilang begitu saja Bud?” tanyaku.
“Satu kali lagi pertemuan denganku, aku janji dia tidak akan bisa berjalan dengan satu kaki,” jawab Budi, menunjukan darah yang sudah bersarang di pisau andalannya itu.

Dari ujung kamar, tepatnya di dekat jendela aku mendapati Mang Panjul sedang kebingungan sambil meloncat masuk.
“Barusan benarkan Haris!” tegas Kang Panjul heran.
“Be – benar Mang, Arya lihat sendiri!” sahut Arya.

“Bisa sama-sama menghilang hanya dalam satu ledakan dan asap!” bisik Kang Panjul.
“Tapi kaki kiri Haris sudah terkena sabetan golok puluhan tahun ini, kita lihat seberapa kuat ia berjalan dan menutupi lukanya,” lanjut Kang Panjul ketika asap di kamar Pak Akbar mulai menghilang

terbawa angin malam.
Memperjelas bekas darah dari Kang Haris sudah bersarang di mengkilatnya golok yang baru saja dimasukan oleh Mang Panjul ke dalam sangkar.
“ARYA! KAMU DI DALAM!”
“ARYA ADA APA INI!”
“Perhatikan Haris..” ucap Mang Panjul menepuk pundak Arya.

“Salwa dengan luka di leher, serta beberapa otot kecilnya itu akan segera pulih hitungan detik Arya, katakan kepada Ibu kamu dan semua orang di rumah ini, kematian bukan urusan manusia, kecuali manusia itu sendiri tidak percaya kepada tuhan,” sahutku.

“Kita berjaga di luar rumah!” tegas Mang Panjul.

***

[Arya Pradipta:]

Tangis histeris pecah malam ini aku dengar, bentakan suara Kak Yuni sudah tidak terkendali saat aku perlahan keluar dari kamar yang bekas bapak tempati, setelah menutup jendela dan melihat Gama, Budi dan Mang Panjul berjaga diluar rumah.

“APA YANG SUDAH KAMU LAKUKAN ARYA! SUDAH GILA KAMU INI!” bentak Kak Yuni.
“Tenang Yuni kendalikan diri kamu, pelan-pelan,” sahut Ibu.
Tubuh Kak Yuni terus diusap-usap oleh Ibu Yani, agar sedikit membuat emosinya reda.
“Salwa Bu! Salwa tidak sadarkan diri, - -

- seperti anak yang mati! Dan siapa perempuan itu hah! Apalagi semua ini Arya?” ucap Kak Yuni berbicara jauh kencang, menggema di waktu yang baru saja lewat dini hari.
“Se – semua bisa aku jelaskan Kak, ini tentang keselamatan keluarga kita,” jawabku

berusaha mengendalikan keadaan yang semakin rumit.
“Bukan keselamatan yang ada kamu ingin membunuh keluarga ini dengan perlahan, dengan ketakutan tanpa alasan! Lihat kaki kamu penuh darah! Apa yang sudah kamu lakukan di kamar Bapak hah?” ucap Kak Yuni.

Nafas seolah berhenti, dengan kedua bola mataku seolah ikut tidak berkedip, bukan kepada ucapan Kak Yuni yang semakin memojokkanku malam ini, dengan darah bekas tindakan Budi.
Melainkan ketika melihat Mak Ela dan Kang Haris baru saja keluar dari kamar,

Kang Haris memangku tubuh Salwa, sementara Mak Ela membawa dua tas berukuran besar.
“Kang Haris aku dapati di kamar Bapak, Ibu harus percaya kepadaku!” tegasku.
“Arya hanya menyusul masuk dan sudah ada orang asing didalam, lalu Kang Haris masuk melalui jendela!” lanjutku.

“Bohong! Kang Haris tidur di sebelahku ketika bangun, bagaimana bisa dia masuk lewat jendela, dan perempuan itu dia berkata suruhanmu Arya!” tegas Kak Yuni.
Aku terus memperhatikan cara berjalan Kang Haris yang terlihat biasa, luka dari sayatan golok Mang Panjul

seolah tidak berdampak apapun untuk tubuhnya itu.
“Sudah cukup! Jangan jadi bertengkar! Cukup!” tegas Ibu berusaha melerai.
“Tanyakan saja pada Mak Ela, dimana Haris ketika ia masuk kamar!” ucap Kak Yuni semakin emosi.

Ruangan tengah rumah yang sudah lama tidak diselimuti kehatangan itu, kini sedang mempertontokan sebuah ketegangan. Bukan lagi memperjelas kenapa gangguan kembali mendatangi keluargaku, melainkan marabahaya selanjutnya yang tak pernah aku bayangkan.

“Mak! Bicara saja tidak apa-apa agar Arya paham,” sahut Kang Haris dengan wajah kecewa menatapku, sambil memangku Salwa yang masih terpejam.
“BICARA MAK! MAK ORANG PALING TUA DI RUMAH INI! WALAU BUKAN BAGIAN KELUARGA KAMI” tegas Kak Yuni.

“KAK! TIDAK SEPANTASNYA MULUTMU BICARA ITU!” bentaku, yang sudah tidak dapat menahan emosi yang bergejolak.
Seketika suasana rumah menjadi hening, Mak Ela menatap ke arahku, sementara aku memperhatikan dari segala perubahan sikap Kak Yuni

walau aku sangat mewajarkan Kak Yuni tersulut emosinya karena melihat keadaan Salwa. Namun keadaan malam ini menjadi terbalik menyudutkan aku.
Apalagi Kang Haris yang berdiri tidak jauh dariku itu masih berdiri tegak, tidak menunjukan rasa sakit di kakinya

dan sudah mengganti celana yang ia kenakan.
“Iy – iyah Kang Haris tidur disamping Mak, ketika Mak melihat Salwa sudah dalam keadaan terbaring dengan mulut merah dan rambut bekas jambakan,” ucap Mak Ela.
Ibu, dan Ibu Gina hanya menggelengkan kepalanya perlahan ke arahku.

“SUMPAH BU! ARYA LIHAT KANG HARIS DI KAMAR BAPAK! DAN SI RONI ORANG KEPERCAYAAN DARMA SURYA YANG INGIN MEMBUAT KEJADIAN EMPAT TAHUN LALU TERULANG!” tegasku.
Mak Ela hanya menundukan kepalanya ke arahku, walau aku tidak percaya dengan kalimat penjelasan Mak Ela barusan.

“Sudahlah Arya semakin ngelantur..”
“Keputusan aku untuk pindah dari rumah ini membawa Yuni dan Salwa keputusan benar, apalagi tuduhan Arya hanya fitnah belaka, namun aku memaafkan, dan maaf juga aku harus membawa Salwa lebih cepat malam ini dan -

- Yuni untuk segera ditangani medis,” ucap Kang Haris.
“Dan untuk Salwa serta aku dapat hidup tenang, dari pada harus selalu dekat dengan kematian!” tegas Kak Yuni.
Kang Haris langsung menggenggam tangan Yuni, untuk segera melangkah keluar dari rumah.

“Kematian bukan urusan manusia, kecuali manusia itu sendiri tidak percaya kepada tuhan,” ucapku mengingat pesan Gama yang ia titipkan kepadaku.
“CUKUP! SUDAH ARYA!” bentak Ibu yang tidak dapat lagi menahan Kak Yuni, Salwa dan Kang Haris untuk tinggal di rumah ini.

Ibu langsung menarik tangan Ibu Gina agar mengikuti langkahnya, seolah ada sesuatu hal yang harus mereka berdua bicarakan malam ini juga, sementara Mak Ela hanya mematung dihadapanku yang sedang memperhatikan langkah Kang Haris semakin mendekat ke arah pintu utama rumah.

“NAH!” bisiku dalam hati, bak mendapatkan angin segar dari penglihatanku.
“Tapi kaki kiri Haris sudah terkena sabetan golok puluhan tahun ini, kita lihat seberapa kuat ia berjalan dan menutupi lukanya,”
Ucapan Kang Panjul didalam kamar bapak yang aku ingat

perlahan memberikan bukti, langkah Kang Haris mulai menunjukan perbedaan dari sebelumnya.
SRETT!!
Dengan cepat gorden yang memberikan pandangannya ke arah garasi aku buka sedikit, untuk melihat lebih jelas Kang Haris yang sedang memangku Salwa.

Kini langkah Kang Haris dengan kaki kirinya itu semakin gontai aku lihat, namun hal itu diselamatkan ketika Paijo membantunya berjalan dan membuka pintu mobil.
“Ti – tidak salah lagi kebiadaban Haris!” bisiku dalam hati semakin kesal.
“Apa kamu percaya Arya dengan -

- ucapan Mak barusan tentang kesaksian Haris berada di kamarnya?”
Suara Mak Ela membuayarkan padanganku, ketika sorotan kendaraan roda empat yang membawa Salwa dan Kak Yuni itu keluar dari rumah.
“Seharusnya tidak Mak!” tegasku.
Mak Ela masih mendukan kepalanya sedari tadi.

“Be – benar, Mak sengaja berbohong, kalau tidak..” ucap Mak Ela semakin pelan.
Aku langsung berbalik badan, semakin dibuat penasaran oleh keputusan Mak Ela berbohong barusan.
“In – ini sangat perih dan menyakitkan Arya..” ucap Mak Ela perlahan mengerakan leher.
“MAK!!!”

Kulit leher keriput tua Mak Ela sudah terdapat satu garis luka, yang secara perlahan mengeluarkan darah.
“Beruntungnya tidak terlalu dalam, dan Haris tidak membuat Mak mati konyol malam ini Arya,” ucap Mak Ela langsung kembali menundukan kepala,

ketika mendengar langkah kaki Ibu dan Ibu Yani yang kini berjalan dari arah kamar Kak Yuni.
“Ja – jangan beri tahu Gina ibu kamu dan Yani, tentang luka di leher ini. Ini juga bagian dari perintah Budi, nanti kamu paham..” bisik Mak Ela ketika Ibu dan Ibu Yani semakin mendekat

dengan wajah cemas tak elakan lagi.
Aku melihat Ibu membawa sesuatu dari genggaman telapak tangannya, semakin mendekat Ibu Yani sudah meneteskan air mata.
“Ini alasan kenapa Ibu tidak ingin kakak kamu Yuni keluar dari rumah,” ucap Ibu perlahan berusaha menahan air mata

yang akan segera jatuh melewati pipinya.
Mak Ela hanya menganggukan kepala yang semakin tertunduk, agar darah di lehernya tidak semakin banyak keluar.
“Ini lihat sendiri!” ucap Ibu.
Aku langsung memegang sebuah alat tes kehamilan, dengan dua garis merah yang tidak aku pahami.

“Artinya apa alat ini Bu, Arya tidak paham sama sekali, kenapa diberikan kepada Arya?” tanyaku semakin penasaran.
Ibu langsung mendapatkan pelukan dari Ibu Yani, sebuah tarikan nafas panjang Ibu ambil dan menghembuskan dengan perlahan.
“Yuni sedang mengandung! -

- Kandunganya kini sudah 2 bulan, tapi anehnya tidak pernah nampak dalam perut Kakak kamu itu Arya..”
Ucapan Ibu sontak membuat aku semakin mematung, mulutku terkunci, dan bayangan tentang sesuatu buruk dalam pikiranku sedang perlahan tumbuh membentuk ketakutan.

Menjadi pelengkap waktu dini hari yang terasa berputar semakin lambat.
“Ibu menghitung dan tak pernah ada tanda kehamilan, walau riwayat kehamilan serta beberapa dokumen tes dia sudah menunjukkan kepastian kehamilan yang Ibu ketahui..” lanjut Ibu tak kuasa menahan air matanya itu

sudah melewati pipinya.
Hening dan sunyi seketika menyelimuti, tidak ada kata yang mampuh terucap dari mulutku, begitu juga tetesan darah dari leher Mak Ela sudah mengenai baju yang ia kenakan.

“Ini yang Ibu takutkan dari kehamilan Yuni, dan apa mungkin Yuni dan Haris akan..” ucap Ibu langsung menghentikan ucapannya.

***

Kampung Rancasirah

[Budi;]

Di suatu siang yang cerah, sebuah mobil bak yang akan mengangkut kayu bakar meluncur dengan cepat membelah sebuah hutan lebat. Tujuannya adalah sebuah hutan bernama Ujungsirah.

“Apa benar lelaki gondrong seperti orang gila itu akan menuju hutan ini?” ucap sopir sambil terus menginjak pedal gas dan sesekali melihat ke arah kaca tengah.
“Ah sudah jangan dipikirkan orang dia hanya numpang pagi tadi, sepertinya sudah melakukan perjalanan panjang!”

jawab kenek mobil sambil terus menghisap rokok.
Di belakang mobil bak tepat diantara terpal, seorang lelaki dengan rambut gondrong berantakan tengah tertidur, dengan tubuh yang terguncang-guncang setiap kali roda mobil bak melibas jalan yang tak rata.

Tinggal hitungan menit mobil bak itu akan segera memasuki kampung Rancasirah, hanya hitungan jari selama empat tahun semua warga kampung bisa hidup sejahtera.
Ketika satu pasangan suami istri mampu menjelma bak malaikat penolong, dengan resiko kampung itu harus sering dikunjungi

perempuan-perempuan sedang mengandung dan akan pulang dengan perut yang kembali rata.
DUK! DUK! DUK!
Tiga kali ketukan pada kaca mobil yang dilakukan sopir agar membangunkan lelaki gondrong itu hanya berbuah sia-sia.
“HAH! KEMANA LELAKI ITU!” bentak sopir.

“Hilang? Padahal baru tadi kita lihat dan ini akan segera sampai!” jawab kenek kebingungan.
Beberapa kali tepukan kedua tanganku pada celana dan baju yang sudah sangat lusuh aku lakukan berulang, membersihkan sisa-sisa debu yang bahkan jauh lebih banyak bersarang

pada rambut gondrongku setelah melewati perjalanan panjang selama 14 jam ke arah timur menguras tenagaku.
Begitu pohon-pohon yang menjulang tinggi dan suara ranting yang sedang aku injak bak sebuah wahana permainan, apalagi sudah aku pastikan tujuanku ke hutan Ujungsirah ini

tidaklah salah. ketika aku melihat jelas satu orang pekerja kayu bakar dengan wajah tua penuh keringat sedang memanggul kayu dan berjalan perlahan.
“Handphone..” ucapku, ketika meraba saku celana.
Beberapa lembar uang yang Gama titipkan, serta handphone sudah aku dapati

dalam keadaan mati, hingga aku dengan perlahan menghidupkannya, agar menghemat baterai apalagi ini adalah handphone Indra yang aku pinjam.
“Yuni dalam keadaan mengandung aneh Bud, kehamilannya tidak menunjukan pertanda apapun, informasi ini aku dapatkan ketika kamu sudah pergi -

- dihantarkan Mang Panjul. Yuni, Haris dan anaknya Salwa sudah pergi dari rumah Arya. Kamu seharusnya paham dan semoga tidak satu tujuan denganmu ke Rancasirah.”
Pesan pertama dari Gama aku baca perlahan, kabar paling mengejutkan tentang Yuni

membuat rasa haus di tenggorokanku bak berhenti seketika.
“Jika perjalan ke Rancasirah kurang lebih 14 jam, seharusnya ketika kamu membaca pesan ini sudah sampai dan jika memang Haris tujuannya ke kampung itu juga artinya tidak akan lama sampai, -

- mungkin selisih 1 jam atau 30 menit saja, segera berikan aku kabar,”
Pesan kedua Gama membuat aku langsung berjalan perlahan, agar tidak dapat diketahui para pekerja kayu, walau sebuah kertas yang kini sedang aku lihat diberikan Mang Panjul

berisikan peta lokasi hutan Ujungsirah dapat membantu langkahku.
“Paham Gam, segera aku berikan kabar dan semoga Haris bukan ke kampung ini tujuannya keluar dari rumah Arya,” bisiku dalam hati.
Lelaki tua yang sedang memanggul kayu itu masih aku lihat,

kini ia berdiam diri sambil beberapa kali mengelap keringat, lalu mengeluarkan satu jerigen berisikan air.
“SURYONO!”
Suara teriakan tiba-tiba aku dengar, membuat aku langsung menyelinap dibalik pohon, terus bergerak mendekat ke arah lelaki tua.

Satu orang lelaki muda dengan mengenakan topi lusuh sudah berjalan tergesa-gesa ke arah lelaki tua yang baru aku ketahui namanya itu.
BRUKKK!!!
Satu kali hantaman lutut lelaki muda itu langsung mengenai kepala Kakek Suryono yang lemah, hingga membuat ia dan tumpukan kayu

serta jerigen berisikan air terlepas dari tangan, dan kepalanya langsung mengenai tanah.
“Bayar hutangmu pada Darma! Bajingan!”
“Ak – akan aku bayar, janji,” ucap kakek Suryono.
“Jika tidak sanggup anak perawanmu itu malam ini aku jemput, paham!”

“Ja – jangan! Jangan!” ucap Kakek Suryono memaksakan tubuhnya itu bangkit.
BRUKKK!!!
Satu kali pukulan keras mendarat di wajah Suryono, sementara langkahku semakin mendekat.
CUIHHH!!!
Ludah lelaki itu langsung mendarat di wajah Kakek Suryono,

sambil berbalik badan dan berjalan perlahan.
SLEBBB!!!
AAAA!!!
BANGSATTTT!!!
Pisau andalanku langsung bersarang di betis sebelah kiri lelaki muda, dengan menancap cukup dalam.
Dengan langkah cepat tanpa mengeluarkan suara, tubuhku sudah berada dibelakang lelaki muda,

kuncian tanganku kini sudah mengikat lehernya.
“SIAPA KAMU!” ucap lelaki muda itu kesulitan berbicara.
KREKKK!
Kuncian tanganku pada lehernya langsung aku putar dengan perlahan, hingga mata lelaki muda itu terpejam dan tubuhnya lemas.

Langsung aku cabut pisau andalanku dari betis lelaki muda itu, hingga memancarkan darah.
Kakek Suryono hanya mampu menyaksikan dengan raut wajah ketakutan menatapku.
“Saya tidak pernah melihat kamu di kampung ini?” ucap Kakek Suryono ketakutan.

“Kearah mana rumah Darma Surya, Kek?” tanyaku sambil membantunya berdiri dengan luka di mulutnya mengeluarkan darah.
“Sa – sana ke arah sana,” jawab kakek Suryono.
Jerigen berisikan air langsung aku buka dan aku habiskan setengahnya.
“Tutup mulut saja dengan apa yang kakek lihat-

-barusan, orang itu akan terbangun sore/ malam ini setelah darahnya perlahan berkurang, akan membawa kesadaran untuk di bangun,” ucapku.
“Ba – baik, saya akan tutup mulut, tapi siapa kamu dan untuk apa tujuanya ke kampung ini..”
“Ini kampung kutukan jabang mayit! -

- Dan jangan berurusan dengan Darma Surya,” jawab Kakek Suryono.
“Jika kita berjumpa lagi Kakek akan tahu siapa saya, dan jaga anak perawan kakek,” ucapku, langsung memberikan sisa air di jerigen agar Kakek Suryono meminumnya.

Kakek Suryono hanya melihatku berjalan semakin jauh, untuk menuju rumah Darma Surya, apalagi kini aku harus berkejaran dengan waktu memastikan isi pesan dari Gama dan mengetahui banyak hal tentang kampung Rancasirah.
...

Sudah hampir 30 menit aku menemukan tempat persembunyian di ujung kampung Rancasirah yang ternyata merupakan dimana rumah Darma Surya berada, rumah sangat luas dan megah dengan beberapa orang penjaga.
Satu perempuan baru saja keluar dari rumah itu dengan dibantu lelaki

masuk ke dalam mobil, langkahnya seperti menahan sakit dan kedua tanganya terus berada didalam perut.
“Tidak salah, tempat aborsi,” ucapku.
Pesan dari Mang Idim juga sudah aku baca agar segera aku memberikan kabar, karena keadaan semakin buruk menimpa keluarga Arya,

luka di leher Mak Ela tak kunjung sembuh serta mengeluarkan bau busuk yang sedang ditangani Gama, sementara Mang Panjul pagi tadi sudah tak diketahui keberadaanya oleh Gama dan juga Arya.
Dua mobil aku lihat baru saja tiba, dengan satu mobil sedan hitam di depannya,

yang pernah aku lihat parkir di halaman matrial Arya.
“Ja – jangan sampai!” ucapku.
Darma Surya dan Roni keluar dari mobil sedan, langsung disambut perempuan muda cantik dengan rambut panjang terurai.
Nafasku bak berhenti, ketika melihat Kang Haris, Yuni dan Salwa

keluar dari mobil belakang. Dengan Haris yang berjalan mengenakan kaki kirinya itu di seret.
“Sial, tujuan Haris ke kampung ini juga, benar pesan Gama!” tegasku.
Baru saja Haris, Yuni dan Salwa menerima sambutan istri Darma Surya, tiba-tiba dua orang lainnya datang dengan

membawa tubuh pemuda yang barusan aku habisi di hutan.
Roni langsung memeriksa luka di betis pemuda itu yang terus menerus mengeluarkan darah segar, dan langsung mendapat bisikan dari Darma Surya. Walau aku masih kaget ketika istri Darma Surya

melemparkan senyum tepat ke arah aku bersembunyi.
Roni dengan terpincang-pincang, dan beberapa kali memegang perut yang sudah aku tandai sebuah luka itu berjalan ke dalam rumah di ikuti Darma Surya, Kang Haris, Yuni dan Salwa.

“Haris, Yuni dan Salwa sampai di Rancasirah,”
Aku kirim pesan itu kepada Gama dan Mang Idim.
“TIDAK! SAYA TIDAK TAU SUMPAH! TIDAK TAHU LELAKI ITU!” teriak seorang kakek tua yang sedang diseret ke halaman belakang rumah Darma Surya,

oleh dua orang lainnya yang merupakan ‘anjing-anjing’ Darma.
“Kakek Suryono,” bisiku dalam hati, terus memperhatikan sekitar walau sekarang aku mendengar sebuah langkah kaki mendekat.
Tanpa mengeluarkan langkah suara, tubuhku yang berada di semak-semak bergerak perlahan.

“Percuma kau bersembunyi dimanapun akan aku ketahui! Cepat atau lambat anak Yuni dan kandunganya adalah persembahan untuk Nyai Ratih!”
Suara yang tidak aku kenali semakin mendekat.
“Tumbal janin di kampung ini belum cukup tanpa satu persatu keturunan Ambar Wijaksana -

- dan Langsamana! Ni Itoh yang aku sembah dan aku puja bukan Ni Itoh empat tahun lalu..”
Aku hanya berdiam, memastikan pergerakan lelaki yang terus menginjak semak-semak, yang aku yakini adalah Darma Surya.
“Lebih baik kau keluar Jalu Kertarajasa, manusia pecundang! -

- Berlaga ingin menyelamatkan keluarga orang lain dan mencampuri urusanku! Ibu dan Bapakmu mati saja di kampung Ujung Wetan Tilasjajah kau tidak bisa berbuat apa-apa, manusia tidak berguna!”
Ucapan Darma Surya tidak lagi membuatku hanya berdiam, apalagi ia sudah membangkitkan

kenangan buruk masa laluku, membuat gejolak dalam diriku semakin berkobar kuat. Ledakan dan luapakan dalam diriku akan segera aku tuntaskan karena menyebut dua orang berharga dan kenangan buruk masa laluku.

“Arya keadaan kritis, seseorang telah menusuk perutnya didalam rumah, hati-hati jangan gegabah Bud, Haris bersekutu dengan Darma Surya dan Ratih!” pesan dari Gama aku baca dengan perlahan, berbarengan dengan suara langkah Darma Surya semakin mendekat.

***

[ BERSAMBUNG PART 6 ]

Kenyataan lain sudah Gama dapati, berserta kedatangan Budi yang telah tiba di kampung Rancasirah, akankah Arya selamat dari keadaan kritisnya atau Budi akan menuntaskan ucapan Darma Surya yang telah mengetahui masa lalunya itu.

Lantas apa dari balik persekutuan Haris dan Darman Surya? Atas kehamilan dan keselamatan Salwa yang kini dipertaruhkan, akankah banyak nyawa yang melayang?

[Info eBook:]

Part (6) sudah tersedia, untuk teman-teman yang ingin langsung membaca tanpa harus menunggu, silahkan klik tautan KaryaKarsa dibawah.
karyakarsa.com/qwertyping/kam…

Share this Scrolly Tale with your friends.

A Scrolly Tale is a new way to read Twitter threads with a more visually immersive experience.
Discover more beautiful Scrolly Tales like this.

Keep scrolling