- Profile picture
-

Mar 29, 2024, 35 tweets

Mengapa segelintir muslim cenderung menggunakan epistemologi yg keliru dlm memahami ajaran agamanya sendiri, yaitu agama Islam?

Berikut penjelasan sederhana tentang Islam dan Penjajahan Epistemologi

🧵 utas 🧵

Saya baru saja membaca sebuah artikel menarik yang ditulis oleh Joseph E. B. Lumbard, seorang profesor ilmu al-Qur'an di Hamad bin Khalifa University, Qatar.

Artikel tsb berjudul "Islam and the Challenge of Epistemic Sovereignty" mdpi.com/2077-1444/15/4…

Sebelum kita masuk lebih jauh, sebenarnya, apa itu epistemologi?

Dalam penjelasan yg paling sederhana, epistemologi adalah cabang ilmu yg mempelajari ilmu pengetahuan: apa saja sumbernya, apa saja jenisnya, dan bagaimana cara yang benar untuk mendapatkannya.

Artikel yg ditulis Pak Joseph bertujuan untuk mendiagnosis, salah satunya, fenomena yg saya kritik dlm utas yg saya lampirkan pada tweet pertama.

Fenomena tsb adalah penggunaan sistem epistemologi yg keliru, oleh seorang muslim, dalam mengkaji agama Islam.

Untuk meringkas pembahasan, saya hanya akan mengelaborasi beberapa penggalan penting dalam artikel Pak Joseph yang berkaitan dengan tiga hal, yaitu (1) karakter epistemologi Islam, (2) pengaruh peradaban Barat, dan (3) bagaimana mewujudkan kedaulatan epistemologi Islam.

(1) Karakter Epistemologi Islam

Mengutip Karim Lahham, salah satu aspek menonjol dlm epistemologi Islam adalah kesatuan (unity) yg ditandai dengan saling bergantungnya ilmu logika, metafisika, dan etika.

Aspek yg mendasari itu semua adalah paradigma al-Qur'an tentang ilmu pengetahuan yang berhulu dan berhilir pada Allah ﷻ

Aspek tsb menciptakan kondisi keseimbangan (mizan) atau yang didefinisikan Sayyid Naquib al-Attas sebagai "keadilan".

Dalam epistemologi Islam, metafisika adalah aspek pertama dan paling mendasar. Metafisika Islam bertumpu dan berpusat pada Wahyu Allah ﷻ, yaitu al-Qur'an.

Dari prinsip metafisika inilah, cabang ilmu lainnya dikembangkan dlm tradisi keilmuan Islam.

Pengakuan atas wahyu sebagai prinsip metafisika paling mendasar adalah ciri khas epistemologi Islam karena bersifat sebagai postulat atau aksioma (sesuatu yang tidak lagi dipertanyakan dan diyakini status kebenarannya).

Selama 1400-an tahun, tradisi Islam memegang teguh postulat tersebut dan mengembangkan cabang ilmu lainnya berdasarkan pada wahyu Allah ﷻ

Mulai dari Aqidah, Fiqh, Tafsir, Mantiq, Kalam, Sains Alam, dan lain-lain.

Tradisi epistemologi Islam tidak memberikan ruang bagi sekulerisme yang menolak metafisika ataupun posmodernisme yang menolak adanya kebenaran absolut.

Tren posmodernisme yg lain juga terwujud pada anggapan bhw manusia tidak mungkin mencapai kebenaran sejati.

Padahal, ilmu pengetahuan dlm Islam tidak dibangun atas keragu-raguan (skeptisisme) sebagaimana pada sekularisme ataupun posmodernisme.

Proses pencarian ilmu yang dibimbing oleh wahyu Allah ﷻ disertai metodologi yg benar akan mengantarkan hamba-Nya pada kebenaran sejati.

Lantas, bagaimana menjelaskan fenomena masa kini, yaitu absennya epistemologi Islam yg sahih dalam perbincangan soal ilmu-ilmu Islam, misal ilmu tafsir?

Mengapa segelintir muslim cenderung menggunakan epistemologi yg asing, bahkan berlawanan dengan epistemologi Islam?

(2) Efek Peradaban Barat

Ketakjuban segelintir orang pada kecanggihan teknologi dan kemajuan sains dlm peradaban Barat membuat mereka, dengan buta, menggunakan pendekatan sekuler dalam mempelajari agamanya sendiri (Islam).

Tren yg muncul kemudian adalah mengganti postulat wahyu menjadi sekadar dugaan belaka (manusia tdk mungkin sampai pd kebenaran sejati).

Akibatnya, epistemologi Barat-Sekuler menjadi lebih dominan dibanding penggunaan epistemologi Islam itu sendiri.

Apa sebabnya? Sebabnya adalah orientalisme (studi tentang ketimuran) tidak mengizinkan yang "lain" untuk memiliki agensi/kedaulatan.

Identitas yg "lain" tersebut salah satunya adalah Islam. Epistemologi Islam, secara kultural dan ideologis, berupaya untuk dijinakkan.

Mengutip Santos, istilah yg menarik utk menggambarkan fenomena tsb adalah "epistemicide" atau "pembunuhan ilmu pengetahuan" yg sama maknanya dengan "pembunuhan epistemologi".

Tentu maksudnya bukan umat Islam tidak lagi dapat mengetahui sesuatu.

Namun, epistemologi (sumber, jenis, dan cara memperoleh pengetahuan) Islam dimodifikasi sedemikian rupa agar tunduk pada hegemoni epistemologi Barat yg sekuler.

Saat banyak negara bekas jajahan Eropa dan Inggris memperoleh kemerdekaan, kolonialisme mungkin telah berakhir.

Tetapi, ada yg blm berakhir sampai saat ini, yaitu kolonialitas (coloniality).

Fenomena tsb mengacu kepada pola pemikiran tertentu yg mempengaruhi budaya dan produksi ilmu pengetahuan (epistemologi) dari masyarakat yg terjajah.

Akibat dari kolonialitas ini, epistemologi non-Barat dianggap tidak mampu melakukan aktivitas intelektual yang ketat dan cermat.

Situasi ini yg kemudian memunculkan "erosi epistemik", yaitu ketika umat Islam tdk lagi dapat berpikir sesuai dengan tradisinya sendiri.

Ketidakberdayaan epistemologi tersebut menyebabkan segelintir umat Islam merasa harus meminjam epistemologi sekuler, termasuk posmodernisme, untuk menjelaskan agama mereka dalam percakapan ilmu pengetahuan.

Mengutip Garfield, tradisi intelektual Barat, secara taken for granted (begitu saja), mengasumsikan superioritas epistemologi sekuler mereka yg berakibat pada peminggiran (marginalisasi) tradisi intelektual non-Barat.

Ironisnya, kecenderungan ini masih saja ditemui pada beberapa sarjana yang mengusung ide posmodernisme dan poskolonialisme.

Dalam kasus epistemologi Islam, pengusung poskolonialisme justru lebih memilih epistemologi kolonial (sekuler) dalam mengkaji agamanya sendiri.

Fenomena nyata yg terjadi sebagai akibat dari akumulasi faktor-faktor di atas adalah penjajahan epistemik disertai pelabelan negatif terhadap epistemologi Islam sebagai "naif", "nostalgik", dan "fundamentalis".

(3) Menuju Kedaulatan Epistemologi

Untuk melawan penjajahan epistemologi, umat Islam tdk perlu mengabaikan sama sekali diskusi mengenai tradisi intelektual sekuler-modern.

Hal tsb disebabkan ketidakmungkinan kita utk menghindar dari hegemoni Barat di berbagai sisi.

Sebagai muslim, yang perlu kita lakukan adalah menganalisa secara kritis (tahqiq) epistemologi dan ragam pemikiran dari Barat berdasarkan prinsip epistemologi Islam, dan bukan dari posisi keterjajahan, posisi korban, ataupun posisi subordinasi.

Bukan hanya mempelajari warisan para ulama, kita juga harus mempelajari latar belakang epistemologi dan pandangan hidup (worldview) yg memungkinkan warisan-warisan tersebut tumbuh untuk pertama kalinya.

Mengutip Dagli, kita harus mempelajari mereka (para ulama dan pemikir Islam) serta melanjutkan karya mereka agar semakin relevan dengan kondisi sekarang.

Untuk melanjutkan tradisi Islam, kita harus mampu berdialog dgn setara. Tidak sebagai korban & tidak pula sebagai objek yg terpinggirkan (marginalized).

Kita juga harus mampu bekerja sama, dalam batas tertentu, dengan tradisi lain yg juga mjd korban dari penjajahan epistemik

Simpulan

Epistemologi Islam memiliki kekhasan dan kesepakatan pada aspek-aspek seperti arti eksistensi manusia, realitas manusia, dan pengetahuan mengenai ciptaan yang berkaitan erat dengan Yang Hakiki dan Yang Absolut, yaitu Allah ﷻ

Epistemologi Islam tidak akan berkembang dalam cengkeraman dan susupan epistemologi humanisme sekuler ala Barat yang mereduksi pemahaman menjadi sekadar pengalaman empiris semata.

Upaya kita untuk mencapai kedaulatan epistemologi dapat diraih dengan mempelajari worldview (pandangan hidup) Islam yang telah diterapkan oleh para ulama sejak 1400 tahun yang lalu.

Dengan kesungguhan, kita akan mampu mengenali tradisi Islam secara lebih menyeluruh dan mampu menerapkan nilai dari tradisi tersebut demi kebaikan seluruh manusia.

Wallahu A'lam Bisshowab.

Agar lebih nyaman dalam membaca, bisa via Rattibha melalui tautan berikut ya kakak kakak 🙏

@threadreaderapp unroll pls

Share this Scrolly Tale with your friends.

A Scrolly Tale is a new way to read Twitter threads with a more visually immersive experience.
Discover more beautiful Scrolly Tales like this.

Keep scrolling