kalong Profile picture
#asupanhorror baca cerita horor karyakarsa : @KALONG ig : @ceritahorormemedi kerjasama & share cerita? silahkan DM

Apr 14, 86 tweets

"KONTRAKAN TANAH JAHANAM"
Horror thread

Tolong... jika kalian membaca ini, jangan anggap ini fiksi belaka. Jika kalian merasa diawasi di rumah kalian saat ini, atau mencium aroma yang tidak seharusnya ada, keluarlah. Jangan menantang apa yang tidak bisa kalian lihat.

​Ini bukan cerita pahlawan pemburu hantu. Ini adalah kisah tentang empat orang bodoh yang membeli tiket menuju neraka seharga delapan juta rupiah.

​Tolong, doakan kami agar bayang-bayang mereka tidak terus mengikuti kami. Dan bacalah kisah ini, agar kalian tahu persis kapan harus berlari.

#bacahoror #bacahorror #kontrakantanahjahanam

Siapapun kamu yang kebetulan membaca tulisan ini... aku mohon, tolong dengarkan aku baik-baik.

​Kalau kamu sekarang sedang mencari tempat tinggal, rumah kos, atau kontrakan murah, dan seseorang menawarkanmu sebuah rumah besar, cukup lapang, tapi dengan harga sewa yang sangat tidak masuk akal murahnya... tolong, putar balik. Pergi dari sana sejauh mungkin. Jangan pernah melangkah masuk melewati pagarnya, dan jangan pernah punya niat untuk menyewanya.

​Tolong, jangan ulangi kesalahan kami.

​Namaku Aris. Dan tulisan ini, mungkin lebih tepat disebut sebagai peringatan darurat dari seseorang yang nyaris kehilangan nyawa dan kewarasannya sendiri.

Awalnya, kami berempat aku, Jono, Bowo, dan Gatot, mengira bahwa menjadi mahasiswa yang serba kekurangan adalah nasib paling menyedihkan di dunia. Kami pikir, rasa lapar di akhir bulan adalah penderitaan tertinggi. Kami salah. Kami benar-benar salah.

​Ada hal yang jauh lebih mengerikan dari sekadar kelaparan.

​Yaitu ketika kamu berbaring di atas kasurmu sendiri, di ruangan yang pintunya sudah kamu kunci rapat-rapat, tapi kamu tahu dengan pasti, kamu tidak sendirian.

Yaitu ketika udara di sekitarmu mendadak dingin, dan paru-parumu dipaksa menghirup aroma busuk kapur barus yang bercampur dengan anyir darah dan kembang kamboja.

​Mereka ada di sana. Di setiap sudut rumah, di balik pintu kamar mandi, di atas plafon, dan dimanapun itu.

​Kami pikir kami bisa bertahan. Kami mencoba rasional, mencoba mencari alasan logis untuk setiap kejadian yang terjadi. Tapi kami buta. Kemiskinan dan rasa gengsi telah membutakan insting bertahan hidup kami.

​Rumah itu tidak hanya berhantu, tapi ia menggerogoti mental kami pelan-pelan, memancing kami pada teror yang merenggut kesadaran, sebelum akhirnya ia mencoba merenggut nyawa kami satu per satu secara fisik.

​Sampai detik aku menulis pengakuan ini, tanganku masih gemetar. Setiap kali aku memejamkan mata, aku masih bisa merasakan tangan keriput nan dingin itu mencengkeram pergelangan kakiku. Aku masih bisa mendengar suara jeritan minta tolong di tengah malam.

​Tolong... jika kalian membaca ini, jangan anggap ini fiksi belaka. Jika kalian merasa diawasi di rumah kalian saat ini, atau mencium aroma yang tidak seharusnya ada... keluarlah. Jangan menantang apa yang tidak bisa kalian lihat.

​Ini bukan cerita pahlawan pemburu hantu. Ini adalah kisah tentang empat orang bodoh yang membeli tiket menuju neraka seharga delapan juta rupiah.

​Tolong, doakan kami agar bayang-bayang mereka tidak terus mengikuti kami. Dan bacalah kisah ini, agar kalian tahu persis kapan harus berlari.

KONTRAKAN TANAH JAHANAM

Kata orang, masa kuliah itu masa paling indah untuk mencari jati diri. Prek. Buatku, masa kuliah adalah masa paling brutal untuk mempertahankan isi dompet.

Namaku Aris. Dan percayalah, saat ini, melihat kecoa lewat di kamar kosku aja rasanya pengen aku ajak patungan bayar sewa.

Kalian tahu apa yang lebih kejam dari patah hati ditinggal rabi? Ibu Kos.

Sumpah, ini kamar ukurannya cuma 3x3 meter, ventilasi seadanya, kalau siang rasanya kayak lagi di-ungkep jadi ayam pop, kalau hujan bocornya udah kayak air terjun buatan. Tapi harganya? Wah, ra masuk akal. Tiap ganti semester, alasannya pasti ada aja buat naikin harga sewa. "Inflasi, Mas," katanya.

Inflasi mbahmu! Fasilitas mandek, tapi harga sewa ngejar cicilan Alphard.

Bulan ini puncaknya. Aku udah kerja part-time jaga warkop sampai subuh, jatah makan udah aku press jadi sehari sekali, tapi tetep aja kurang. Uang kiriman dari kampung makin seret gara-gara panen bapak gagal. Kalau sampai besok aku nggak bisa bayar tunggakan, kasur lipatku ini bakal berakhir di trotoar. Aku capek. Beneran capek. Rasanya pengen nyerah aja, pulang kampung, nerusin ternak lele. Mesake tenan nasibku iki...

Di titik terendah itulah, mataku nangkep satu IKLAN di facebook. Tulisannya bikin jantungku mau copot saking senengnya. "Disewakan: Rumah Besar, 4 Kamar, Halaman Luas, Suasana Tenang. Harga: 8 Juta/Tahun."

8 juta setahun untuk empat kamar? Itu jauh lebih murah dari harga kos-kosan nerakaku sebulan! Tanpa mikir panjang, aku langsung niat nyari tiga teman buat patungan.

Harusnya aku sadar... harusnya aku pakai sedikit aja sisa otakku. Di dunia ini, nggak ada yang namanya harga murah tanpa alasan. Apalagi kalau menyangkut sebidang tanah di ujung kampung.

Tapi namanya juga orang kepepet, logika udah mati duluan. Dan di rumah itulah... keputusasaanku soal uang, diganti dengan teror yang bikin kami berempat sadar: mending miskin, daripada mati konyol.

Buat ngewujudin mimpi indah nempatin rumah murah itu, aku butuh tiga tumbal... eh, maksudku tiga rekan seperjuangan buat patungan. Dan kebetulan, semesta mendukung.

Teman-teman tongkronganku nasibnya emang sedikit di atas kasur lipatku, tapi tetep aja masuk kategori mahasiswa kasta sudra.

Pertama, Jono. Bocah Tegal asli yang kalau ngomong urat lehernya pada senam aerobik. Uang sakunya sebenernya lumayan, tapi habis buat nebus utang pinjol karena ketipu beli sparepart motor palsu di online shop.

"Lha kepriben kowe ki Ris! Nyong pan mangan bae kudu ngitung receh! Kos-kosane nyong iki regane mundhak, ra ngotak pisaan. Sira pan ngajak patungan pira? Aja larang-larang laka duite nyong!"

(Gimana sih kamu ini Ris! Aku mau makan aja harus ngitung receh! Kos-kosanku sekarang harganya naik, nggak ngotak banget. Kamu mau ngajak patungan berapa? Jangan mahal-mahal, nggak ada uangnya aku!)

Kedua, Bowo. Cah Klaten yang hidupnya selow kayak di pantai, padahal IPK-nya nasakom (nasib agama koma). Dia mending telat bayar UKT daripada motor Supra X bapaknya telat ganti oli.

​BOWO nyeruput es tehnya selow. "Hayo piye to, Ris. Urip ki rasah digawe spaneng. Ning yo nek misal ono kosan sing luwih murah, aku yo gelem. Turahane duit kan iso nggo tuku karbu anyar. Lha piro to regane? Murah tenan po?"

(Ya gimana to, Ris. Hidup tuh nggak usah dibikin tegang. Tapi ya misal ada kosan yang lebih murah, aku ya mau. Sisa uangnya kan bisa buat beli karburator baru. Emang berapa harganya? Murah banget apa?)

Terakhir, Gatot. Preman Wonosari, Gunungkidul. Fisiknya paling kuat di antara kita karena tiap pulang kampung bawaannya gabah. Uang bulanannya seret, seringnya dia bertahan hidup pakai metode fotosintesis sama ngemil gaplek bawaan dari rumah.

​GATOT sambil ngunyah keripik. "Piyé jal? Lha bapakku bar adol wedhus wae duite dinggo nyaur utang tanggane e. Nek entuk sing murah, aku melu lah."

(Gimana coba? Lha bapakku habis jual kambing aja uangnya buat bayar utang tetangga e. Kalau dapet yang murah, aku ikut lah.)

Melihat target operasi udah kena umpan, aku langsung tebar pesona pakai data statistik.

"Kalian sadar nggak, rate kontrakan di Jogja sekarang itu udah nggak ngotak? Tipe rumah 4 kamar, minimal itu 15 sampai 30 juta setahun! Itu aja kadang airnya masih mati nyala. Nah, coba kalian baca ini. Cuma 8 juta, Bos! Delapan juta setahun! Dibagi berempat, satu orang cuma 2 juta. Coba bayangin, cuma 160 ribu per bulan! Dimana lagi dapet harga segitu di Jogja?!"

​Mata Jono, Bowo, dan Gatot langsung melotot ngelihat angka 8 Juta di iklan itu. Mereka saling pandang, lalu ngangguk barengan kayak paduan suara.

Tanpa pikir panjang, deal. Kami berempat sepakat patungan. Hari itu juga, aku langsung telpon nomor di iklan itu buat janjian ketemuan.

(​SUARA DI TELEPON)
"Wong papat yo, Mas? Ya wis... kuncine tak tinggal nang ngisor pot kembang kamboja ngarep omah. Panggone wis tak cepakne... mugo-mugo krasan suwe."

(Empat orang ya, Mas? Ya sudah... kuncinya saya tinggal di bawah pot bunga kamboja depan rumah. Tempatnya sudah saya siapkan... semoga betah lama)

"Kowe yakin... ki dudu omah angker, Ris?" (Kamu yakin... ini bukan rumah angker, Ris?)

Saat itu, bulu kudukku udah berdiri semua. Tapi saat melihat saldo m-bankingku yang sisa 12.500 perak, rasa takutku seketika kalah sama rasa miskin.

Suasana sore hari yang lumayan terang. Kami melewati jalanan aspal kampung yang mulai menyempit. Bermodal Google Maps dan doa restu ibu, kami meluncur ke lokasi. Awalnya aku lega, lokasinya ternyata masuk kampung yang lumayan rame. Tapi makin ke dalam, layout kampungnya mulai agak ajaib.

Jarak antar rumah di sini itu kayak orang lagi marahan, jauh-jauhan. Konsepnya mungkin eco-friendly open space. Habis rumah, diselingi kebon pisang, lalu lahan kosong, mentok kebon bambu, baru ada rumah lagi. Dan di ujung jalan buntu yang diapit dua kebon kosong inilah, istana 8 juta kami berada.

​Kami berempat turun dari motor di depan pagar besi setinggi dada yang catnya udah ngelupas. Kami berdiri sambil melihat bentuk rumahnya. Fasadnya sangat standar, cat tembok putih yang mulai menguning dan berlumut di bagian bawah, genteng tanah liat, dan jendela nako kacanya buram.

Ekspektasiku sebenarnya nggak tinggi. Tapi pas lihat wujud aslinya... ngomong kasarnya nih, rumah subsidi KPR cicilan sejuta sebulan kayaknya masih jauh lebih estetik. Nggak ada aura horor sih sebenernya, cuma auranya melarat aja.

Aku membuka grendel pagar yang berbunyi ngiiiieeeeek nyaring banget. Kami masuk ke pekarangan. Aku langsung jongkok di depan pot bunga kamboja yang lumayan besar, ngorek-ngorek tanah dan dedaunan kering di bawah pot.

Sesuai instruksi si bapak semalam, aku langsung ngecek di bawah pot kamboja. Satu menit ngorek-ngorek, nggak ketemu. Dua menit, tanganku udah belepotan tanah basah.

​JONO berkacak pinggang, "Laka kuncine! Sira pan ngapusi nyong ya, Ris?! Aja guyon lho, nyong wis kepanasen kyeh!" (Nggak ada kuncinya nih! Kamu mau bohongin aku ya, Ris?! Jangan bercanda lho, aku udah kepanasan nih!)

​BOWO senderan di tembok teras sambil kipas-kipas pakai topi. "Sabar to. Urip ki rasah kesusu. Digoleki sek sing bener, Ris. Mbok menowo kuncine nylempit." (Sabar to. Hidup tuh nggak usah buru-buru. Dicari dulu yang bener, Ris. Siapa tahu kuncinya nylempit.)

"Bentar, bentar. Gue telpon yang duwe kontrakan dulu. Sabar dikit napa, miskin aja belagu lu pada."

"Halo? Waduh, Mas Aris! Sepurane le, sepurane banget! Iki bapak lali, kuncine jebul mlebune nang saku celanaku, kebawa balik!" (Halo? Waduh, Mas Aris! Maaf nak, maaf banget! Ini bapak lupa, kuncinya ternyata masuk ke saku celanaku, kebawa pulang!)

"Lho, pripun to Pak? Terus niki kulo kalih rencang-rencang pripun? Balik riyin nopo nunggu ten mriki?" (Lho, gimana to Pak? Terus ini saya sama teman-teman gimana? Pulang dulu apa nunggu di sini?)

"Nunggu kono wae Mas, ora popo. Omahku ki mung beda RT, lurus sitik belok kiri wes tekan. Iki bapak tak budal mrono saiki nganggo motor. Entenono yo." (Nunggu situ aja Mas, nggak apa-apa. Rumahku cuma beda RT, lurus dikit belok kiri udah sampai. Ini bapak berangkat ke sana sekarang pakai motor. Tunggu ya.)

"Oh, nggih mpun Pak. Kulo tunggu ten teras nggih." (Oh, ya sudah Pak. Saya tunggu di teras ya.)

Masuk akal. Pak Bambang ternyata orang kampung sini juga, cuma beda RT doang. Kakek-kakek pikun, wajar lah kuncinya kebawa. Kami akhirnya mutusin buat duduk ngampar di lantai teras yang jebulnya panas banget.

​Jono lanjut ngedumel sambil main HP. Bowo merem senderan di pilar teras.

Di tengah keheningan sore itu, Gatot yang dari tadi diam saja, pelan-pelan berdiri. Dia berjalan mendekati jendela kaca nako yang buram di sebelah pintu utama. Gatot menyipitkan mata, menempelkan wajahnya nyaris mencium kaca, mengintip ke dalam rumah.

"Ris..." panggil Gatot.

"Hmm?"

​GATOT masih menempelkan wajahnya di kaca jendela buram. "Jarene omah iki wes suwe kosong to?" (Katanya rumah ini udah lama kosong kan?)

"Iya. Setahunan lebih kata Pak Bambang. Kenapa emang?"

"Lha terus... nek kosong... sing lagi nggodog banyu nang pawon mburi kae... sopo, Ris? Kok ana kebul-kebule..." (Lha terus... kalau kosong... yang lagi ngerebus air di dapur belakang itu... siapa, Ris? Kok ada asapnya ngepul...)

Mendengar ucapan Gatot, Aku, Jono, dan Bowo yang tadinya lagi nyantai langsung kaget. Kita bertiga serempak lari rebutan nempel di kaca nako, dorong-dorongan kayak anak TK mau lihat topeng monyet.

Mendengar kata "nggodog banyu" di rumah kosong, insting survival miskinku langsung siaga satu. Kalau beneran ada orang di dalam, berarti rumah ini sengketa! Gagal dong gue dapat kosan 8 juta setahun! Aku, Jono, dan Bowo langsung nyipitin mata, berusaha nembus buramnya kaca nako yang banyak tahi cicaknya ini.

​Dari sudut pandang kita dari luar kaca. Memang terlihat samar-samar ruang tengah yang tembus ke lorong arah dapur. Di ujung lorong itu, kelihatan ada sekelebat asap putih tipis yang mengepul pelan.

​JONO mundur selangkah, ngibas-ngibaskan tangan depan muka.

"Kowe ki blereng apa pimen, Tot? Kuwe paling tanggane lagi ngobong runtah ning mburi omah! Asape mlebu liwat ventilasi mbok! Aja gawe wedi lah, nyong pan wedinan kyeh!" (Kamu tuh silau apa gimana, Tot? Itu paling tetangganya lagi bakar sampah di belakang rumah! Asapnya masuk lewat ventilasi kan! Jangan bikin takut lah, aku mau penakut nih!)

BOWO masih ngintip santai, matanya setengah merem. "Halah, kakehan mangan gaplek dadi ngelindur kowe ki, Tot. Salah delok iku. Paling yo mung bleduk kabur kanginan utowo pantulan srengenge. Pikiranmu ki elek terus." (Halah, kebanyakan makan gaplek jadi ngigau kamu tuh, Tot. Salah lihat itu. Paling ya cuma debu ketiup angin atau pantulan cahaya matahari. Pikiranmu tuh jelek terus.)

Logika Jono sama Bowo masuk akal. Lagian, masa iya hantu sore-sore gini gabut masak air? Mau bikin teh tubruk? Aku berusaha meyakinkan diriku sendiri kalau itu cuma asep sampah. Pokoknya rumah 8 juta ini harus jadi. Titik.

​Di tengah perdebatan itu, terdengar suara motor Honda Astrea Grand mendekat dan berhenti tepat di depan pagar. Pak Bambang, pria paruh baya pakai peci miring dan jaket kulit imitasi yang kebesaran, turun sambil berlari bawa rentengan kunci.

​PAK BAMBANG tersenyum meringis, menuntun motornya masuk pekarangan.

"Aduh... sepurane ya Mas-mas ganteng. Bapak ki lali tenan. Biasa, faktor U. Wes kesuwen yo nunggune?"
(Aduh... maaf ya Mas-mas ganteng. Bapak tuh lupa beneran. Biasa, faktor U (Umur). Udah kelamaan ya nunggunya?)

Aku buru-buru salim, diikuti yang lain. "Mboten nopo-nopo, Pak. Nembe mawon kok. Monggo Pak, kulo pun penasaran daleme." (Nggak apa-apa, Pak. Baru aja kok. Silakan Pak, saya sudah penasaran dalamnya.)

​Pak Bambang maju ke pintu utama. Dia memilah kunci dari rentengan yang bunyinya gemerincing kencang, lalu memasukkan satu kunci ke lubang pintu. Cklek. Pintu kayu itu terbuka dengan suara derit pelan.

Jujur, ekspektasiku pas pintu itu kebuka adalah bau apek, sarang laba-laba segede gaban, dan debu yang bikin TBC kumat. Mengingat fasad luarnya yang mirip rumah uji nyali. Tapi begitu kami melangkah masuk, ini di luar nurul. Masuk akal nggak sih? Luarnya kumuh bin gembel, tapi dalamnya rapi, bersih, dan wanginya enak. Ini rumah kosong setahun atau kamar hotel bintang tiga?

​Jono, Bowo, dan Gatot ikutan melongo. Gatot bahkan sampai nyopot sandalnya karena takut ngotorin lantai keramik yang mengkilap itu.

Aku melihat sekeliling dengan takjub.
"Wah... daleme sae sanget lho Pak. Resik tenan niki. Padahal jarene mpun setunggal tahun kosong nggih?" (Wah... dalamnya bagus banget lho Pak. Bersih beneran ini. Padahal katanya sudah satu tahun kosong ya?)

​Pak Bambang yang baru selesai nyabut kunci dari pintu, ikut melangkah masuk. Tapi tiba-tiba langkah bapak itu terhenti. Matanya ikut menyapu seluruh ruangan. Senyum ramahnya perlahan memudar, digantikan raut wajah bingung, lalu pucat.

Aku ngarepin Pak Bambang bakal bangga dan bilang, "Iya dong, kan bapak rajin nyapu". Tapi jawaban yang keluar dari mulutnya, sukses bikin ginjalku rasanya mau copot.

"Lho... lha iyo... kok resik banget? Perasaan... wes setaun punjul omah iki ra tau tak tiliki, opo meneh tak sapu..." (Lho... lha iya... kok bersih banget? Perasaan... udah setahun lebih rumah ini nggak pernah aku tengok, apalagi aku sapu...)

​Pak Bambang perlahan menoleh ke arah lorong dapur di belakang. Mengendus udara dua kali. Wajahnya makin tegang. ​PAK BAMBANG menelan ludah, menatap kami dengan mata ketakutan.

"Mas... mambune wangi melati niki... dudu seko bapak lho..." (Mas... bau wangi melati ini... bukan dari bapak lho...)

Kami mematung. Dari arah lorong dapur yang tembus ke belakang, terdengar jelas suara air mendidih... blubuk... blubuk... blubuk... disusul suara sendok mengaduk gelas gelas kaca... Ting... ting... ting...

​Muka Jono, Bowo, dan Gatot udah seputih tembok puskesmas. Jono bahkan udah muter badan, ambil ancang-ancang lari ninggalin sendal jepitnya. Ketegangan memuncak diiringi suara blubuk-blubuk misterius, sampai tiba-tiba ​PAK BAMBANG tawanya pecah, nabok pundakku kenceng banget.

"BWAHAHAHA! Pucet kabeh raimu, Mas! Guyon, guyon! Ya ampun, cah enom kok jirih kabeh to yo!" (BWAHAHAHA! Pucat semua mukamu, Mas! Bercanda, bercanda! Ya ampun, anak muda kok penakut semua sih!)

Sumpah. Detik itu juga, kalau ini bapak-bapak sakumuran, udah aku sleding ginjalnya dari tadi.

Pak Bambang masih ngakak sambil ngusap air mata di ujung matanya. Jono, Bowo, dan Gatot langsung buang napas lega barengan sampai lemes nyender ke tembok. ​PAK BAMBANG sambil senyum lebar, nunjuk lantai.

"Omah iki yo resik mergo bapak dewe sing rutin nyapu ro ngepel seminggu pisan, Mas. Eman-eman to omah apik nek dijarno dadi sarang demit. Lha nek mambu wangi ki, bapak bar ngepel nganggo karbol wangi melati. Murah tur awet wangine." (Rumah ini ya bersih karena bapak sendiri yang rutin nyapu dan ngepel seminggu sekali, Mas. Sayang kan rumah bagus kalau dibiarin jadi sarang demit. Lha kalau bau wangi ini, bapak habis ngepel pakai karbol wangi melati. Murah dan awet wanginya.)

​GATOT masih penasaran, nunjuk ke arah lorong dapur. "Lha terus... kebul-kebul neng pawon mburi kae opo, Pak? Ana swara banyu umob sisan." (Lha terus... asap ngepul di dapur belakang itu apa, Pak? Ada suara air mendidih juga.)

​PAK BAMBANG berjalan santai menuju dapur, diikuti kami berempat.

"Oh, kuwi..."

Kami sampai di dapur belakang yang semi terbuka. Dibatasi tembok pendek sepunggung. Di seberang tembok itu, terlihat Mbah-mbah bertelanjang dada sedang jongkok, sibuk niupin tungku api kecil buat merebus air di panci blanggreng. Di sebelahnya ada tumpukan daun kering yang lagi dibakar.

PAK BAMBANG nunjuk si Mbah. "Kuwi Mbah Kardi, tonggo mburi omah. Dheweke pancen seneng ngobong godong garing neng kebon mburi, asape yo mampir rene. Swara blubuk-blubuk kuwi yo suwarane banyune Mbah Kardi sing lagi digodhog nggo gawe kopi. Kowe ki do kakehan nonton film horor po piye?"

(Itu Mbah Kardi, tetangga belakang rumah. Dia emang suka bakar daun kering di kebun belakang, asapnya ya mampir ke sini. Suara blubuk-blubuk itu ya suaranya airnya Mbah Kardi yang lagi direbus buat bikin kopi. Kalian ini pada kebanyakan nonton film horor apa gimana?)

Plong. Sumpah, lega rasanya. Ternyata cuma prank bapak-bapak gabut dan timing tetangga yang pas banget. Logika kembali berjalan, dan jiwa miskin kami kembali bergelora melihat betapa layaknya rumah ini buat ditinggali. Tapi, bukan mahasiswa namanya kalau nggak nyoba peruntungan di detik-detik terakhir. Gatot, si preman Wonosari, maju sebagai negosiator.

​GATOT masang muka memelas tapi sangar. "Pak Bambang... omah iki pancen apik. Tapi regane 8 yuto ki opo ra larang to, Pak? Awake dewe ki mahasiswa perantauan, duite kembang kempis. Piye nek 7 yuto wae? Sing sejuta nggo tuku beras ro ngisi token."

(Pak Bambang... rumah ini memang bagus. Tapi harganya 8 juta itu apa nggak kemahalan, Pak? Kita ini mahasiswa perantauan, uangnya kembang kempis. Gimana kalau 7 juta aja? Yang sejuta buat beli beras sama ngisi token.)

PAK BAMBANG tersenyum simpul, tapi geleng-geleng pelan. "Wah... wis NETT kuwi, Mas. 8 juta setahun ki neng Jogja jaman saiki wis ra ono. Iki wae bapak wenehke murah mergo mesake ndelok rai-raimu do nggrantes ngono. Nek ra gelem yo wis, liyane sing antre jik akeh lho."

(Wah... udah NETT itu, Mas. 8 juta setahun di Jogja jaman sekarang udah nggak ada. Ini aja bapak kasih murah karena kasihan lihat mukamu pada ngenes gitu. Kalau nggak mau ya udah, yang lain yang antre masih banyak lho.)

​Gatot menoleh ke aku, Bowo, dan Jono. Kami saling tatap. Aku teringat saldo m-banking. Jono teringat cicilan pinjol. Bowo teringat karburator Supra X. Kami berempat mengangguk serempak dengan mantap.

"Deal, Pak! 8 juta nggih. Niki kulo transfer dp-ne riyin, sisane besok pas pindahan sekalian bawa barang."

(Deal, Pak! 8 juta ya. Ini saya transfer DP-nya dulu, sisanya besok pas pindahan sekalian bawa barang.)

​Pak Bambang tersenyum lebar. Transaksi selesai. Pak Bambang menyerahkan kunci, lalu pamit pulang dengan motornya, meninggalkan kami berempat di rumah itu. Suasana berubah santai. Jono udah rebahan di keramik, Bowo ngecek-ngecek kamar mandi.

Hari itu, kami resmi jadi juragan kontrakan. Empat mahasiswa kere akhirnya bisa tidur nyenyak tanpa takut diusir ibu kos. Semuanya terasa sempurna. Setidaknya... sampai aku memutuskan buat ngecek kamar paling belakang yang bakal jadi kamarku.

Kamar itu bersih, sama seperti ruang tamu. Nggak ada debu. Tapi pandanganku tiba-tiba terpaku pada satu sudut ruangan yang agak gelap.

Logikanya, kalau Pak Bambang memang rutin ngepel kamar ini pakai karbol sampai bersih mengkilap, lalu siapa yang naruh sajen kembang sama dupa ini di kamarku? Karena satu hal yang pasti, Pak Bambang tadi nggak masuk ke kamar ini sama sekali.

Aku mondar-mandir di teras depan sambil gigitin kuku. Di tanganku ada HP yang menempel erat di telinga. Jono, Bowo, dan Gatot sibuk bagi-bagi kamar di dalam.

Sejam berlalu sejak penemuan 'karya seni' kembang setaman itu. Logikaku sebagai mahasiswa semester tujuh menolak pasrah. Daripada nanti malam aku dikeloni demit, aku langsung menelpon Pak Bambang minta klarifikasi.

"Halah, sajen opo to Mas Aris. Kuwi ki mung aroma terapi. Biyasa, ben kamare ra mambu apek, dadi bapak sok ngobong dupa karo kembang. Aman, Mas! Pokoke aman seratus persen! Rasah parno, dijamin ora ono opo-opo!"

(Halah, sajen apa to Mas Aris. Itu tuh cuma aroma terapi. Biasa, biar kamarnya nggak bau apek, jadi bapak suka bakar dupa sama bunga. Aman, Mas! Pokoknya aman seratus persen! Nggak usah parno, dijamin nggak ada apa-apa!)

Aroma terapi kepalamu peyang, Pak. Sejak kapan spa luluran pakai kembang kantil sama kemenyan? Tapi karena Pak Bambang ngomongnya luwes dan kelewat santai, yah... separuh hatiku lumayan lega. Mungkin memang itu kearifan lokal bapaknya buat ngusir nyamuk. Masuk akal, kan?

Separuh hatiku memang lega, tapi separuhnya lagi? Mlintir bos! Nyaliku langsung ciut seukuran kuaci. Walaupun katanya aman, tapi tidur bareng kembang setaman sisa "aroma terapi" tetep aja bikin bulu kuduk standing party. Gengsi dong kalau ngaku takut. Aku harus cari cara elegan biar ada yang nemenin tidur di kamar belakang.

"Cuy. Gue pikir-pikir, kamar belakang tuh luas banget lho. Kasur bawaanku kan kecil, sayang ruangannya nganggur. Ada yang mau sharing kamar nggak sama gue? Biar kita makin akrab gitu lho sedulur-sedulurku..."

JONO lagi sibuk nyolokin charger HP, langsung ngegas. "Moh! Nyong pan dewekan! Kamar ngarep sing cedhak dalan wis tek booking. Nyong butuh privasi nggo nangisi utang pinjol! Aja wani-wani mlebu kamare nyong!"

(Nggak mau! Aku mau sendirian! Kamar depan yang deket jalan udah aku booking. Aku butuh privasi buat nangisin utang pinjol! Jangan berani-berani masuk kamarku!)

​BOWO lagi ngelap busi motor pakai lap kotor, geleng-geleng pelan. "Aku yo emoh, Ris. Kamar tengah meh tak nggo nyimpen sparepart motorku. Gak iso campur wong. Mengko mambu oli kowe ra isoh turu. Urip ki rasah kakean ngatur kamar wong liyo to."

(Aku ya nggak mau, Ris. Kamar tengah mau aku pakai nyimpen sparepart motorku. Nggak bisa campur orang. Nanti bau oli kamu nggak bisa tidur. Hidup tuh nggak usah kebanyakan ngatur kamar orang lain to.)

Sialan. Sisa satu kandidat. Sang preman Wonosari yang lagi asyik ngunyah keripik singkong.

"Tot... lu kan preman, otot kawat balungan wesi. Lu mau kan nempatin kamar paling belakang sama gue? Hawanya sejuk lho Tot, deket dapur lagi, lu kalau malem-malem laper mau godog indomie gampang jaraknya."

​GATOT menghela napas, "Aku ngerti kowe wedi to, Ris? Wis ra usah kakean cangkem alesan sejuk-sejuk. Aku wani wae turu bareng kowe neng mburi. Tapi ono syarate."

(Aku tahu kamu takut kan, Ris? Udah nggak usah banyak omong alasan sejuk-sejuk. Aku berani aja tidur bareng kamu di belakang. Tapi ada syaratnya.)

"Sumpah, Tot?! Apa syaratnya? Lu suruh gue yang nyuci piring sebulan full juga gue jabanin!"

"Syarat pertama, piringe sajen iku buwangen sek nang pawon mburi. Syarat keloro... aku nek turu ngorokku banter banget koyo mesin diesel, trus sok ngelindur silat. Nek sesuk isuk kowe tangi-tangi babak bundas ketendang, ojo nyalahke aku."

(Syarat pertama, piring sajennya itu buang dulu di dapur belakang. Syarat kedua... aku kalau tidur ngoroknya kenceng banget kayak mesin diesel, terus suka ngigau silat. Kalau besok pagi kamu bangun-bangun babak belur ketendang, jangan salahin aku.)

Pilihan yang sangat membagongkan. Mati gaya digangguin demit, atau mati konyol ditendang preman Wonosari pas lagi tidur. Tapi demi kewarasan malam pertamaku di rumah ini, aku milih resiko medis daripada resiko mistis.

"Deal! Lu tidur sama gue malem ini, Tot!"

MALAM PERTAMA". Pukul 01:30 wib. Suara jangkrik malam yang sunyi, diiringi suara dengkuran Gatot yang super kencang... Hrrrghhh... pfffttt... Hrrrghhh... pffftttt...

Sudah jam setengah dua pagi. Syarat kedua Gatot beneran bukan ancaman kosong. Ngoroknya sukses bikin nyamuk pada putar balik. Tapi, seenggaknya rasa takutku soal sajen tadi sore udah agak hilang. Bau dupanya juga udah hilang. Ya udahlah, mending nahan budek daripada nahan takut. Aku memejamkan mata, mencoba untuk tidur.

​Aku baru saja menutup mata dengan damai. Namun perlahan, suara dengkuran Gatot... tiba-tiba berhenti total. Suasana seketika menjadi sunyi senyap. Sangat sunyi.

Eh? Kok berhenti ngoroknya?

Aku pelan-pelan membuka sebelah mata, menoleh ke arah Gatot. Gatot masih tidur, tapi posisinya berubah jadi miring membelakangi.

​Tiba-tiba, wangi karbol melati yang sangat menyengat kembali tercium menusuk hidung. Bersamaan dengan itu, dari bawah kolong kasur lipat yang tipis, terdengar suara kuku panjang yang sedang menggaruk-garuk lantai keramik... Sreeek... sreeek... sreeeek...

"Kembangku... kok dibuang to... Mas..." (Kembangku... kok kamu buang... Mas...)

"HAH! Kembangnya nggak aku buang, Mbah! Sumpah!"

Aku gelagapan melihat sekeliling. Sinar matahari pagi menembus celah ventilasi kamar. Di sebelah, Gatot masih tidur terlentang dengan mulut menganga, ngoroknya sudah turun oktaf jadi mirip suara knalpot vespa tua. Tangan Gatot rupanya asyik menggaruk-garuk perutnya sendiri sampai bunyi sreek... sreek... sreek...)

Sialan. Ternyata suara garukan itu cuma tangan Gatot yang lagi daki-an, dan suara bisikan itu cuma halusinasi saking liarnya otakku yang keparanoan. Semalaman aku nggak berani merem lagi, nungguin pagi sambil dzikir di dalam hati.

Pagi itu, dengan sisa-sisa nyawa yang ada, kami balik ke kosan. Misinya satu: ngemasin barang dan cabut dari kosan lama secepat mungkin sebelum tagihan bulan depan turun.

Ngemasin barang buat mahasiswa kere kayak aku itu nggak butuh waktu lama. Nggak ada action figure mahal, nggak ada PC gaming. Total aset kekayaanku cuma butuh satu kali angkut pakai motor.

​IBU KOS bicara dengan nada nyinyir, bibirnya mencong-mencong. "Yakin kowe pindah, Ris? Kosan rego murah saiki ki patut dicurigai lho. Ojo-ojo sarang demit. Mengko nek kowe kesurupan, rasah mbalik rene lho ya!"

(Yakin kamu pindah kos, ris? Kosan harga murah itu patut dicurigai lho. Jangan-jangan sarang demit. Nanti kalo kamu kesurupan, jangan balik kesini lho ya)

Aku tersenyum miring, menaikkan kardus ke jok belakang motor. "Mboten nopo-nopo kesurupan demit, Bu. Sing penting mboten kesurupan tagihan kos sing mundhak terus tiap semester. Kulo pamit rumiyin nggih, Bu. Mugi-mugi kamar niki ndang payu, ben ibu saged numpak Alphard." (Nggak apa-apa kesurupan demit, Bu. Yang penting nggak kesurupan tagihan kos yang naik terus tiap semester. Saya pamit dulu ya, Bu. Semoga kamar ini cepat laku, biar ibu bisa naik Alphard.)

​Aku menoleh ke belakang, disana, Ibu Kos melotot mau marah, tapi aku keburu ngegas motor meninggalkan pekarangan.

Kami bertemu di perempatan jalan. Motor mereka semua penuh muatan. Motor Jono diganduli galon air, motor Bowo ditumpuki kardus, dan Gatot menggendong karung beras 10 kilo di punggungnya.

​JONO terteriak dari atas motor maticnya yang ngeden karena keberatan muatan. "Woy Ris! Nyong pan semaput kyeh nggawa galon! Cepetan dalane, bensin nyong gari sethitik!" (Woy Ris! Aku mau pingsan nih bawa galon! Cepetan jalannya, bensinku tinggal dikit!)

"Alon-alon wae, Jon. Sing penting tekan. Nek bensinmu entek, ngko tak stut seko mburi. Selow."

(Pelan-pelan aja, Jon. Yang penting sampai. Kalau bensinmu habis, nanti aku dorong dari belakang pakai kaki. Selow.)

"Ayo ndang gas! Gegerku rasane koyo meh tugel iki nggendong beras!" (Ayo buruan gas! Punggungku rasanya kayak mau patah ini bawa beras!)

​Empat sekawan pekok itu akhirnya melaju beriringan. Musik latar berubah menjadi agak upbeat tapi perlahan temponya melambat dan nadanya berubah sedikit creepy saat mereka berbelok masuk ke gapura kampung kontrakan baru.

Akhirnya, kami kembali ke titik ini. Rumah empat kamar seharga 8 juta setahun. Kami menatap fasad rumah tua itu dengan napas lega. Merasa menang melawan kerasnya sistem kapitalisme ibu kos di Jogja.

Kami berempat memarkir motor di depan teras. Jono, Bowo, dan Gatot langsung sibuk menurunkan barang masing-masing sambil tertawa dan bercanda renyah. Tapi aku diam. Aku tidak ikut menurunkan barang.

Aku perlahan memutar tubuh menghadap lurus ke arah kamera. Menatap tajam menembus layar. Suasana di belakangnya tiba-tiba menjadi blur, dan suara tawa teman-temanku perlahan senyap. Color grading mendadak berubah menjadi cool tone yang suram.

​Aku bicara langsung ke arah kamera dengan nada serius, tatapanku menyiratkan penyesalan yang dalam.

"Mungkin kalian pikir penderitaanku selesai di sini. Punya tempat berteduh murah, bareng teman-teman, terbebas dari omelan ibu kos. Iya, awalnya aku juga mikir begitu..."

"Tapi sayangnya, di dunia ini hukum alam itu mutlak. Harga murah selalu menuntut bayaran lain. Dan kami baru akan sadar... kalau kisah horor kami yang sesungguhnya... baru saja dimulai."

​Layar tiba-tiba hitam pekat bersamaan dengan suara pintu utama rumah yang terbanting tertutup dengan sangat keras dari dalam... BLAAAM!

Hahahah udah kayak film horor belum cah?

Begitu masuk, tanpa ba-bi-bu kami langsung mindahin barang bawaan ke kamar masing-masing. Jono mantap menguasai kamar depan, Bowo di kamar tengah, dan aku... yah terpaksa berbagi oksigen sama Gatot di kamar paling belakang. Proses beres-beresnya kilat, lha wong barang yang dipindah cuma sekelas kardus mi instan, ember cucian, sama kasur kempes.

​Selesai bongkar muatan, dari siang sampai sore kerjaan kami berempat cuma glundang-glundung di ruang tengah. Gila, lantai keramiknya adem bener. Berasa kayak tiduran di atas balok es. Punggung yang tadi encok gara-gara angkat galon sama gendong karung beras 10 kilo langsung lunas terobati. Sesekali si Bowo kentut sembarangan, terus Jono misuh-misuh ngomel pakai bahasa Tegal, tapi tetep aja kami nggak ada yang mau bangkit dari lantai saking nyamannya hawa rumah ini pas siang bolong.

​Tahu-tahu suara azan Maghrib sayup-sayup kedengeran dari mushola kampung sebelah. Kami gantian mandi. Air keran di sini ternyata suhunya ngalah-ngalahin air kulkas, bikin mata yang ngantuk langsung melek seger. Habis mandi dan pakai baju yang agak mendingan, otak sosialku mulai jalan. Namanya juga nempati rumah baru, ada baiknya kita bikin syukuran kecil-kecilan.

Niatku sih nggak muluk-muluk, cukup modal gorengan dua puluh ribu sama es teh plastik.

Aku buka HP, langsung ngetik pesan di grup WhatsApp tongkrongan kelas yang isinya 20 orang.

"​Woy, cah! Aku, Jono, Bowo, Gatot nembe wae pindah kontrakan. Ayo mrene, syukuran cilik-cilikan neng omah anyar. Tak cepakne gorengan mbek es teh. Sing ra teko tak sumpahne skripsine angel tembus!"

(Woy, cah! Aku, jono, Bowo, gatot baru aja pindah kontrakan. Ayo sini, syukuran kecil-kecilan di rumah baru. Tak siapkan gorengan sama es teh. Yg gak datang tak sumpahin skripsinya susah tembus)

​Hening agak lama. Satu per satu mulai nimbrung bales, tapi isinya alasan semua. Ada yang lagi dikejar tugas, ada yang alasan nanggung drakoran, ada yang bilang gerimis. Tapi, dari 20 makhluk di grup itu, akhirnya ada empat orang yang nge-reply gas mau merapat.

​Dan sumpah, pas lihat nama siapa aja yang mau datang, mataku sama ketiga temanku langsung seger bugar mengalahkan efek air mandi tadi. Yang mau datang itu Rahma, Desi, Mita, sama Lisna.

​Gini ya, biar aku kasih konteks sedikit. Di mata kami berempat yang kasta asmaranya nyungsep di dasar kerak bumi ini, empat cewek itu ibarat bidadari turun dari kayangan yang kebetulan nyasar kuliah di kampus kami. Cantik, wangi, dan auranya seksi banget kalau lagi jalan berempat di koridor.

Tolong dicatat tebal-tebal dalam hati, ini murni menurut standar kami berempat lho ya. Standar mahasiswa kurang gizi yang seleranya gampang meroket cuma karena disenyumin pas pinjem bolpoin.

​Begitu tahu mereka berempat yang mau datang, suasana kontrakan yang tadinya santai mendadak rusuh.

​Malam pertama di kontrakan murah, langsung disamperin empat bidadari kelas. Momen ini terasa terlalu sempurna buat mahasiswa kere macam kami. Kami kegirangan nunggu di teras, senyum-senyum sendiri ngebayangin ngobrol asyik sama mereka. Kami sama sekali nggak sadar, kalau malam itu, rumah seharga 8 juta ini rupanya juga udah nyiapin sambutan hangat buat tamu-tamu cantik kami.

Jam delapan malam pas, terdengar suara dua motor matic berhenti di depan pagar. Jantung kami berempat langsung disko dadakan. Pas pintu kebuka, aroma parfum bedak bayi campur vanilla langsung nabrak hidung kami yang biasanya cuma nyium bau balsem otot sama apek baju belum kering.

Beneran, empat bidadari kampus kami datang. ​Dan yang bikin kami makin merasa kayak gembel kasta terendah, mereka datang nggak cuma bawa badan, tapi bawa dua kantong kresek gede isi sembako. Ada beras, telur, mie instan, sampai sarden kalengan. Waktu ngasih kreseknya, Rahma senyum sambil bilang, "Diterima ya Ris, kita tahu kok kalian berempat kalau di kampus sering pura-pura puasa sunah Senin Kamis, padahal aslinya emang nggak ada duit buat makan." Sialan, reputasi ngenes kami ternyata udah mendarah daging se-fakultas.

Biar kalian bisa ngebayangin seberapa aduhainya pemandangan malam itu, aku jabarin dikit profil mereka. Maaf ya kalau agak brutal dan objektifikasi dikit, namanya juga cowok-cowok kurang belaian ngelihat bening dikit langsung otomatis ke-scan dari atas sampai bawah.

​Pertama, Rahma. Dia ini ibarat kapten geng mereka. Tingginya semampai sekitar 160 senti, kulitnya kuning langsat mulus banget kayak tahu sutra baru dipotong. Orangnya hobi banget pakai kaos ketat lengan pendek. Kalau ngomongin proporsi bentuk badannya, wah, dadanya bisa dibilang paling outstanding. Penuh dan membusung. Bikin cowok-cowok satu kelas sering salah fokus ke depan dadanya kalau dia lagi jalan.

​Kedua, Desi. Anaknya agak tomboy, kulitnya sawo matang eksotis seksi karena sering ikut kegiatan mapala. Tingginya sepantaranku, bodynya padat berisi khas cewek yang hobi workout di gym. Malam itu dia pakai kemeja flanel tapi kancing atasnya sengaja dibuka dua. Alhasil, belahan gunung kembarnya kelihatan ngintip tipis-tipis, bikin iman meronta-ronta pengen murtad jadi buaya darat.

​Ketiga, Mita. Nah, dia ini paling mungil di antara mereka, tingginya paling cuma 155 senti. Wajahnya imut banget baby face, kulitnya putih pucat agak pinkish, dan sering pakai kacamata bulat. Tapi jangan salah, di balik sweater kebesarannya itu, dia menyimpan 'aset' kembar yang ukurannya bener-bener di luar nalar dan nggak sinkron sama badan mungilnya. Istilah kasarnya, kecil-kecil bawa tabung gas tiga kilo. Menonjol banget.

Keempat, Lisna. Dia yang paling kalem dan misterius. Rambutnya panjang lurus sebahu, bodynya langsing modelan gitar spanyol tapi versi meramping. Kalau Lisna ini daya tariknya ada di pantatnya yang lumayan njeplak pas pakai celana jeans ketat, ditambah tatapan matanya yang sayu sama bibirnya yang agak tebal kemerahan.

​Jujur aja nih curhat dikit, dari keempat bidadari itu, aku sebenarnya naruh hati banget sama Mita. Gemes aja bawaannya pengen ngelindungin. Tapi ya gitu... sadar diri boss. Uang yang dia keluarin buat beli skincare sama lipstik sebulan aja, harganya bisa buat nutup tunggakan kosanku yang lama.

Ngebayangin aku ngajak dia kencan makan pecel lele rasanya udah kayak penistaan agama. Aku mundur alon-alon mumpung belum patah hati beneran.

​Akhirnya kami duduk melingkar di atas karpet plastik tipis di ruang tengah. Ngobrol ngalor ngidul nyantai. Suasananya asyik banget. Sesekali Desi ketawa ngakak sampai mukul-mukul paha Jono. Si Jono yang dipukul pahanya cuma bisa nyengir kuda, komuknya nahan baper campur keenakan.

​Nah, di tengah-tengah obrolan asyik itu, bencana kecil yang membawa berkah tontonan gratis itu terjadi.
​Gorengan bakwan di piring yang posisinya agak di tengah, tiba-tiba menggelinding jatuh ke arah ujung karpet dekat lututku. Rahma yang posisinya duduk lesehan tepat di seberangku, refleks mencondongkan badannya jauh ke depan buat ngambil bakwan itu. Masalahnya, malam itu Rahma kan pakai kaos ketat dengan kerah V-neck yang potongannya lumayan rendah.

Begitu badannya membungkuk ke depan, kerah kaosnya otomatis menggantung turun ke bawah. Dari sudut pandangku, Jono, Bowo, dan Gatot, pemandangan itu langsung terpampang nyata di depan mata tanpa halangan apapun. Dua 'gunung kembar' putih mulus berbalut bra renda warna hitam menyembul mantap menantang gravitasi. Belahannya terlihat jelas dan dalam banget. Sumpah, detik itu juga waktu di ruang tengah serasa berhenti berdetak.

​Mata kami berempat auto melotot membesar nyaris keluar dari kelopaknya. ​Kami berempat ngfreeze, terhipnotis berjamaah oleh pemandangan indah yang nggak nyampe dua detik itu.

​Saking khusyuknya kami ngelihatin belahan surga dunia itu, si Gatot yang sedari tadi lagi asyik ngunyah keripik singkong pedas Maicih level 10 di mulutnya, mendadak lupa cara bernapas. Dia keselek.

​Gatot batuk kencang banget sampai nyembur dari hidung sama mulutnya. Parahnya, semburan remahan keripik singkong basah campur bumbu cabe itu terbang melesat dengan kecepatan tinggi, lurus nyasar ke muka Jono dan masuk tepat ke matanya Bowo.

​"ASU! MATAKU CUK! PEDES JINGAN!" Bowo langsung teriak histeris, guling-guling di karpet sambil ngucek-ngucek matanya yang kelilipan cabe.

​"JANCOK KOWE TOT!!" Jono misuh-misuh nyaring sambil ngelap mukanya yang penuh ampas keripik basah bekas kunyahan Gatot.

Rahma, Desi, Mita, dan Lisna langsung menjerit kaget luar biasa ngelihat kehebohan di depan mereka. Mereka panik, Rahma buru-buru ngambilin tisu, sementara Mita lari ke dapur ngambilin air putih.
​Sementara aku? Aku cuma bisa merem sambil nepuk jidat keras-keras. Gagal total. Kesempatan emas berduaan elegan sama cewek-cewek cantik kasta atas malah berubah jadi tragedi srimulat murahan. Gara-gara sekumpulan mahasiswa kurang gizi yang otak mesumnya nggak sinkron sama sistem pernapasan tenggorokannya. Ndlogok tenan asu. Punya temen kok pekok semua.

Jam sebelas malam, setelah puas ngobrol ngalor ngidul dan ngetawain komuk Bowo yang matanya masih merah berair gara-gara kelilipan keripik pedas, bidadari-bidadari itu akhirnya pamit pulang.

​Semua orang udah jalan ke depan pagar buat manasin motor. Tapi entah kenapa, pas aku mau ikut jalan keluar, Lisna tiba-tiba nahan lenganku pelan. Dia sengaja ngelambat-lambatin langkah, bikin kita berdua tertinggal di ruang tamu, sementara yang lain udah sibuk ngobrol di luar.

​Jujur, perasaanku agak campur aduk. Aku kan aslinya naksir Mita yang imut itu, tapi posisi saat ini malah kejebak berduaan sama Lisna yang auranya paling misterius dan dewasa. Suasana mendadak intens banget. Di bawah lampu ruang tamu yang agak remang, tatapan mata Lisna yang sayu itu natap lurus ke mataku. Jarak kita deket banget sampai aku bisa nyium wangi vanilla dari rambutnya.

​"Ris..." panggilnya pelan, suaranya agak serak-serak basah gimana gitu.

​"E-eh, iya Lis? Ada yang ketinggalan kah?" balasku gagap. Sumpah, aku salting parah. Tanganku sampai bingung mau ditaruh di mana, akhirnya cuma garuk-garuk tengkuk yang nggak gatal.

Rahma, Desi, Mita, dan Lisna langsung menjerit kaget luar biasa ngelihat kehebohan di depan mereka. Mereka panik, Rahma buru-buru ngambilin tisu, sementara Mita lari ke dapur ngambilin air putih.
​Sementara aku? Aku cuma bisa merem sambil nepuk jidat keras-keras. Gagal total. Kesempatan emas berduaan elegan sama cewek-cewek cantik kasta atas malah berubah jadi tragedi srimulat murahan. Gara-gara sekumpulan mahasiswa kurang gizi yang otak mesumnya nggak sinkron sama sistem pernapasan tenggorokannya. Ndlogok tenan asu. Punya temen kok pekok semua.

Jam sebelas malam, setelah puas ngobrol ngalor ngidul dan ngetawain komuk Bowo yang matanya masih merah berair gara-gara kelilipan keripik pedas, bidadari-bidadari itu akhirnya pamit pulang.

​Semua orang udah jalan ke depan pagar buat manasin motor. Tapi entah kenapa, pas aku mau ikut jalan keluar, Lisna tiba-tiba nahan lenganku pelan. Dia sengaja ngelambat-lambatin langkah, bikin kita berdua tertinggal di ruang tamu, sementara yang lain udah sibuk ngobrol di luar.

​Jujur, perasaanku agak campur aduk. Aku kan aslinya naksir Mita yang imut itu, tapi posisi saat ini malah kejebak berduaan sama Lisna yang auranya paling misterius dan dewasa. Suasana mendadak intens banget. Di bawah lampu ruang tamu yang agak remang, tatapan mata Lisna yang sayu itu natap lurus ke mataku. Jarak kita deket banget sampai aku bisa nyium wangi vanilla dari rambutnya.

​"Ris..." panggilnya pelan, suaranya agak serak-serak basah gimana gitu.

​"E-eh, iya Lis? Ada yang ketinggalan kah?" balasku gagap. Sumpah, aku salting parah. Tanganku sampai bingung mau ditaruh di mana, akhirnya cuma garuk-garuk tengkuk yang nggak gatal.

Lisna senyum tipis, bibirnya yang kemerahan itu kelihatan manis banget. "Enggak kok. Cuma mau bilang... kalian kan baru pindah, pasti banyak kurangnya. Kalau butuh apa-apa, bilang aja ya ke aku. Aku mau kok bantuin kamu."

​Duar! Kata-kata "bantuin kamu" di akhir kalimat itu ditekankan banget sama dia. Lututku seketika berasa kayak jelly. Jantungku langsung marathon. Belum sempat otakku memproses modus bidadari ini, tiba-tiba Lisna meraih tangan kananku.

​Dia nunduk, lalu nyium punggung tanganku lembut banget, persis kayak adegan istri solehah yang lagi salim nganterin suaminya berangkat kerja.

​"Aku pulang dulu ya, Mas Aris," bisiknya pelan, lalu berbalik jalan keluar nyusul teman-temannya.

​Aku? Aku cuma bisa mematung. Berdiri kaku kayak kanebo kering. Senyumku mengembang lebar banget tapi dengan komuk paling pekok sedunia. Mataku berkedip-kedip menatap punggung tanganku sendiri. Ini nyata atau aku lagi koma gara-gara kebanyakan makan indomie?

Di saat temen-temenku cuma dapet tontonan dadakan, aku malah dapet treatment VVIP dari Lisna. Asli, malam ini aku merasa jadi raja.

​Setelah motor mereka beranjak menjauh dari kontrakan, kami berempat masuk lagi ke dalam rumah. Jono dan Bowo masih heboh ngebahas pemandangan 'gunung kembar' tak terduga tadi, sementara Gatot anteng ngabisin sisa gorengan. Aku sendiri masih senyum-senyum ndlogok ngingetin wangi rambut Lisna.

​Tapi buat kalian yang lagi baca cerita ini, aku mau ngingetin satu hal.
​Mungkin kalian pikir malam pertama kami bakal ditutup dengan senyum damai, tidur nyenyak, dan mimpi basah berjamaah setelah dapat asupan 'vitamin susu' tak sengaja dan perlakuan manis Lisna.

Sayangnya, realita nggak seindah film bokep Jepang, Kawan. Di rumah berharga 8 juta ini, jatah kesenangan kami cuma dikasih sampai jam dua belas malam kurang. Karena setelah bidadari-bidadari itu pergi, di situlah teror horor kami yang sesungguhnya baru dimulai.

Saat kami berempat lagi asyik rebahan ngampar di karpet ruang tengah buat siap-siap tidur, tiba-tiba dari arah depan terdengar suara yang sangat jelas.

​Tok... tok... tok...
​Ketukan di pintu utama. Temponya pelan dan teratur. ​Kami berempat serempak bangun dan saling pandang. Jono tersenyum nakal, menyikut lenganku. "Wah, palingan Mita ana barang sing keri. Cie, rejekine sapa kyeh sing mbukak lawang?" godanya.

​Pikiranku juga sama. Paling lipstik atau kuncir rambut mereka ada yang jatuh. Tanpa curiga sedikit pun, aku berjalan ke arah pintu depan, diikuti Jono, Bowo, dan Gatot yang ngekor di belakangku karena kepo pengen lihat muka cewek-cewek itu lagi.
​Tanganku memutar kunci, lalu menarik gagang pintu.

​Cklek... kreeek...

​Pintu terbuka lebar. Angin malam langsung berhembus masuk, membawa hawa dingin yang anehnya bikin bulu kuduk kami meremang serempak.

​Di depan pintu... kosong. Nggak ada siapa-siapa. Teras sepi. ​Aku mengernyitkan dahi, melangkah maju satu langkah ke teras. Mataku menyapu pekarangan depan. Dan tepat di ujung sana, di bawah pohon mangga besar di dekat pagar besi yang berkarat, mataku menangkap sesuatu yang putih.

​Bukan, itu bukan kresek sampah. Itu sesosok guling putih lusuh, berlumur tanah kotor. Sosok itu berdiri kaku menatap ke arah kami. Wajahnya hitam legam, terbungkus ikatan kain kafan di atas kepalanya. Dan perlahan, sosok pocong itu menggerakkan kepalanya, miring ke kanan... lalu miring ke kiri... patah-patah.

​Hening cipta selama tiga detik. Jantung kami berempat berhenti berdetak bersamaan.

​"ASUUUU!" teriak Jono.
"JANCOK!" pekik Bowo.

​Detik itu juga, kami berempat loncat mundur, saling tubruk saking paniknya pengen nutup pintu itu rapat-rapat.

Brak!

​Aku membanting pintu utama sekencang mungkin sampai debu di kusennya pada rontok. Tanganku gemetar hebat saat memutar kunci dua kali dan mendorong grendel atas bawah secepat kilat. Kami berempat langsung mundur teratur, napas kami memburu kayak habis lari maraton.

​"Udah, fix! Malam ini kita tidur bareng di satu kamar! Nggak ada yang misah-misah!" putusku sepihak, mataku masih melotot ngeri ke arah pintu kayu jati di depan kami.

​Anehnya, tiga preman kampung yang tadi sore pada sok-sokan butuh privasi itu sekarang nggak ada yang protes. Mereka bertiga cuma bisa ngangguk cepat kayak bobblehead di dashboard angkot. Gengsi dan kejantanan kami udah runtuh total gara-gara senam leher pocong di bawah pohon mangga tadi.

Kami berempat akhirnya numplek di kamar tengah, kamarnya Bowo, karena posisinya paling aman, nggak mepet pintu depan dan nggak mepet dapur. Bayangin aja, kasur lipat ukuran single dipakai buat empat pria dewasa. Posisinya udah kayak ikan pindang dijemur. Kepalaku ketemu keteknya Jono, kakinya Gatot nangkring di atas perut Bowo, dan selimut seadanya kami tarik buat nutupin empat kepala. Sumpah, jangankan bau ketek, bau siksa kubur aja kayaknya rela kami cium asalkan nggak sendirian di luar sana.

​Lampu kamar sengaja kami matikan, nyisain cahaya remang dari ventilasi. Kami nyoba merem sambil komat-kamit baca doa campur aduk. Tapi, baru juga sekitar dua puluh menit kami meringkuk ketakutan, rumah jahanam ini mulai show off lagi.

​Dari arah dapur belakang, sayup-sayup kedengaran suara keran air dinyalakan. Disusul denting perabotan yang saling beradu.
​Clontang... clinting... srek... cring... Persis banget suara orang lagi nyuci piring kotor. Iramanya teratur, kadang ada suara air yang diguyur pelan ke bak cuci.

​"Ris..." bisik Bowo, suaranya bergetar hebat di sebelah telingaku. "Sopo sing isah-isah neng pawon jam semene? Piringe sopo sing dikumbah? Wong piring bakwan wae isih neng ngarep TV..." (Ris... siapa yang cuci piring di dapur jam segini? Piring siapa yang dicuci? Orang piring bakwan aja masih di depan TV...)

​Belum sempat aku jawab tebak-tebakan horornya Bowo, dari arah depan, tepat di teras tempat kami lihat pocong tadi, terdengar suara lain menyusul.

​Srek... srek... srek...
​Suara sapu lidi yang digesekkan panjang-panjang ke lantai keramik teras. Suaranya khas banget, pelan, teratur, layaknya mbah-mbah yang lagi rajin nyapu halaman. Masalahnya, ini jam setengah satu pagi! Siapa yang kurang kerjaan cleaning service teras di jam segini?! Setan di rumah ini ternyata pecinta kebersihan banget ya?

​"Nyong pan balik bae lah! Omah kyeh asline markas lelembut! Nyong ra sudi mati konyol neng kene!" (Aku mau pulang aja lah! Rumah ini aslinya markas setan! Aku nggak sudi mati konyol di sini!) kqta Jono sambil wajahnya dibekap rapat-rapat pakai bantal guling.

​"Cangkemmu meneng sek to, Jon! Ojo banter-banter, mengko ndak krungu setane..." (Mulutmu diam dulu to, Jon! Jangan kenceng-kenceng, nanti kedengeran setannya...) Tegur Gatot, sang preman Wonosari.

​Aku cuma bisa menelan ludah yang rasanya sepahit empedu. Keringat dingin membanjiri kausku. Kami berempat saling peluk erat, nahan napas berjamaah. Suara orang nyuci piring di belakang dan suara orang nyapu di depan itu mengalun bersamaan, seolah sengaja mengepung kamar kami dari dua arah.

​Tapi ternyata, itu belum puncaknya.
​Di saat kami berempat lagi fokus menahan kencing saking takutnya, tiba-tiba... kedua suara itu berhenti serempak. Suara air keran mati. Suara sapu lidi menghilang. Hening. Sepi yang luar biasa mencekam.

​Kami saling pandang. ​Lalu, dari balik pintu kamar kami yang tertutup rapat, terdengar ketukan pelan.

​Tok... tok... tok...
​Ketukan kulit jari beradu dengan kayu. Pelan, tapi jaraknya sangat dekat. Setan itu sekarang berdiri tepat di depan pintu kamar kami.

​Mata kami berempat melotot nyaris keluar dari kelopaknya. Otot kami kaku seketika. Nggak ada yang berani bergerak sejengkal pun. Jantungku rasanya berhenti berdetak saat sebuah suara parau, berat, dan bergetar mengalun merambat dari celah bawah pintu kamar kami.

​"Mas... sajenku ndi?... Kok dibuang?..."

Malam jahanam itu akhirnya ditutup bukan dengan adegan kesurupan atau kami lari terbirit-birit keluar rumah. Kami berempat malah ketiduran. Iya, ketiduran. Ternyata kalau ketakutan manusia udah sampai di ubun-ubun dan mentok nggak bisa ngapa-ngapain lagi, sistem pertahanan tubuh bakal otomatis nge-shut down otak. Pingsan berjamaah berkedok tidur pulas sambil pelukan.

Paginya, kami bangun dengan posisi yang nggak karuan. Leher tengeng, badan pegal, dan bau napas naga saling bertabrakan di kamar tengah itu. Tanpa banyak ngomong, kami langsung mandi bebek, ganti baju, dan melarikan diri ke kampus secepat mungkin. Pokoknya menjauh dulu dari rumah horor ini.

​Di kampus, kami kembali ke setelan pabrik. Lupa sama pocong dan suara piring gaib. Aktivitas berjalan normal ala mahasiswa kasta bawah, masuk kelas (tapi cuma titip absen atau tidur di barisan belakang), nongkrong di kantin sambil pesen es teh dan tentu saja... cuci mata.

​Duduk di koridor fakultas ngelihatin mahasiswi-mahasiswi glowing lewat itu emang healing paling ampuh buat kami. Sesekali mata ini jelalatan nyariin rombongannya Mita, Rahma, Desi, sama Lisna. Kalau pas berpapasan dan mereka senyum, wah... rasanya kayak dapet subsidi silang dari pemerintah. Otak mesum dan jiwa pekok kami benar-benar bekerja maksimal buat ngalihin trauma semalam.

​Tapi, kebahagiaan itu ada batas waktunya. Begitu matahari mulai lengser ke barat dan langit mulai jingga, hawa horor itu perlahan merayap naik ke kepala kami lagi.

Nongkrong di burjo sampai jam sembilan malam, kami berempat saling diam. Mikir dua kali, bahkan sepuluh kali buat balik ke kontrakan.

​"Balik ra kyeh? Nyong agi mbayangna raine pocong sing wengi, asu lah nganti merinding maning," keluh Jono sambil ngaduk-ngaduk es tehnya yang udah hambar. (Balik nggak nih? Aku lagi ngebayangin muka pocong semalam, anjing lah sampai merinding lagi.)

​"Yo kudu balik to, Jon. Kowe gelem turu neng emperan burjo po piye? Duit 8 juta wis masuk e, eman-eman nek ra dienggoni," timpal Bowo santai, walau mukanya kelihatan agak pucat juga. (Ya harus balik to, Jon. Kamu mau tidur di emperan burjo apa gimana? Uang 8 juta udah masuk e, sayang kalau nggak ditempati.)

​Benar kata Bowo. Mau sengeri apapun rumah itu, jiwa miskin kami jauh lebih mengerikan. Kami nggak punya pilihan lain. Uang udah ludes, kosan lama udah diisi orang. Ya udahlah, bismillah aja jadi tumbal proyek.

​Akhirnya kami memaksakan diri pulang. Sampai di depan pagar, kami sempat berhenti agak lama, ngecek bawah pohon mangga. Aman. Nggak ada guling lusuh numpang cosplay. Pas pintu utama dibuka, suasananya juga anehnya biasa aja. Nggak ada wangi melati, nggak ada suara aneh. Sepi, adem, dan normal.
​Saking normalnya, nyali kami yang tadinya seukuran biji kacang hijau mendadak mekar lagi. Daripada overthinking, aku ngeluarin kartu remi dari dalam tas.

​"Main remi wae lah, sing kalah raine diolesi bedak bayi. Wani ra?" tantangku.

​Tawaran itu langsung disambut antusias. Kami berempat duduk melingkar di ruang tengah, buka lapak. Di tengah-tengah ada botol bedak bayi bekas merk Zwitsal yang entah punya siapa, nemu di sisa-sisa kardus pindahan.

​Suasana malam itu langsung berubah jadi warung kopi pasar malam. Teriakan, misuh-misuh, dan tawa ngakak pecah memenuhi seisi rumah. Tingkah pekok kami kumat. Jono yang paling sering kalah udah nggak kelihatan lagi wujud aslinya. Mukanya putih cemong tertutup bedak bayi, ketambahan urat lehernya yang keluar tiap kali ngomel pakai bahasa Tegal karena dituduh curang ngintip kartu.

​Bowo mainnya paling tenang, tapi kartunya ampas terus, alhasil jidatnya penuh coretan bedak. Gatot malah asyik ngunyah sambil sesekali nyabet kartu, bikin mukanya sebagian putih, sebagian belepotan bumbu keripik.

Aku sendiri nggak luput dari hukuman. Kalau ada orang luar yang ngintip lewat jendela malam itu, mereka nggak bakal mikir ini rumah hantu. Mereka bakal mikir ini asrama tuyul kurang gizi yang lagi pada kumpul kebo.

​Kami main berjam-jam sampai lupa waktu, lupa tempat, dan lupa kalau semalam nyawa kami hampir copot di ruangan yg sama.

​Menjelang jam satu dini hari, kami akhirnya bosen. Mata udah sepet banget, perut rasanya kram gara-gara kebanyakan ketawa ngelihat muka Jono yg mirip adonan mendoan. Ketakutan kami bener2 menguap entah ke mana. Saking ngerasa amannya, rasa gengsi kami sebagai pria sejati muncul lagi.

"Wis ah, ngantuk pol aku," kataku sambil nguap lebar dan ngelap sisa bedak di pipi. "Malam ini kayaknya aman nih, setannya lagi libur shift malam. Balik kamar masing-masing aja lah, pegel badanku umpel-umpelan mulu."

​Nggak ada yang nolak. Mungkin karena capek, atau mungkin karena emang suasananya lagi nggak mencekam, Jono dan Bowo langsung setuju. Gatot juga udah jalan duluan ke dapur buat minum sebelum tidur. Akhirnya, dengan wajah masih cemong bedak bayi, kami bubar jalan dari ruang tengah dan masuk untuk rebahan di kamar masing-masing. Nyari posisi paling nyaman buat nebus kurang tidur semalaman.

Aku baru aja merem, nikmatin rasa ademnya lantai beralas kasur lipat tipis. Gatot di sebelahku udah mulai warming up ngoroknya, suaranya masih konstan kayak mesin diesel manasin mesin. Suasana rumah bener-bener sepi, cuma kedengeran suara jangkrik dari kebon kosong Pak Bambang di sebelah.

​Tiba-tiba, dari arah kamar tengah, kamarnya Bowo, sayup-sayup kedengaran suara langkah kaki disusul ketukan pintu pelan.

​Nggak lama, terdengar suara engsel pintu kamar ditarik kasar. Cklek!
​"Asu kowe Ris, Tot! Rasah ngganggu wong turu to! aku ngantuk!" seru Bowo dari luar. (Asu kamu Ris, Tot. Gak usah ganggu orang tidur! Aku ngantuk)

​Sepi. Nggak ada balasan.

​Brak! Pintu kamar kami tiba-tiba didorong kencang dari luar. Bowo berdiri di ambang pintu, komuknya masih cemong bedak bayi, matanya mendelik kesal natap aku sama Gatot.

​"Kowe ki kurang gawean po piye, Ris? Nganggo nirok-nirokne swara penagih pinjol sisan. Kuwi Jono sing utang, dudu aku! Meh guyon yo ojo jam semene to," cerocos Bowo, nada selownya hilang berganti jengkel. (Kamu tuh kurang kerjaan apa gimana, Ris? Pakai niru-niruin suara penagih pinjol segala. Itu Jono yang utang, bukan aku! Mau bercanda ya jangan jam segini to.)

​Aku sama Gatot cuma bisa mlongo, saling tatap dengan muka bantal campur bego.

​"Lah? Sopo sing ngganggu kowe to, Wo? Aku ro Gatot ket mau wis rebahan neng kene. Kae lho Gatot wis ngorok," balasku bingung. (Lah. Siapa yg ganggu kamu Wo. Aku sama gatot daritadi tiduran disini. Itu lho gatot sudah ngorok)

​Gatot ngusap mukanya kasar, nyawanya belum kumpul. "Ho'oh, asu. Aku lagi ngimpi mangan sate gule kok mbok gugah ki ngopo to, Wo?" (Ho'oh, anjing. Aku lagi mimpi makan sate gule kok kamu bangunin tuh ngapain to, Wo?)

​Bowo mengerutkan kening. Dia ngelihatin muka kami berdua bergantian, nyari kebohongan. Tapi ngelihat komuk kami yang sama-sama pekok dan capek, dia akhirnya cuma mendecak pelan.

​"Halah, ra usah ngapusi. Yo wis lah, nek ra ngaku. Awas kowe nek ngetuk-ngetuk maning, tak banting lawange." (Halah, gak usah bohong. Yaudahlah, kalo gak ngaku. Awas kamu kalo ngetuk2 lagi, tak banting lawangnya) Bowo misuh-misuh pelan lalu balik badan, masuk lagi ke kamarnya dan nutup pintu kencang.

Aku menelan ludah. Hawa dingin tiba-tiba berhembus masuk dari celah ventilasi. Gatot nggak banyak bacot, langsung narik selimut ngelewatin dada. Kami mencoba mikir positif, mungkin Bowo cuma ngelindur atau salah dengar. Yaudahlah, mending lanjut tidur, besok masih ada kelas pagi.

​Tapi, baru lima belas menit kami memejamkan mata dan suasana kembali hening.

​Tiga ketukan keras dan menggelegar terdengar serentak menghantam daun pintu. Dan gilanya, suara gedoran itu nggak cuma di pintu kamar kami! Dari arah depan, terdengar gedoran yang sama persis di pintu kamar Jono dan kamar Bowo, di detik yang sama, dengan irama yang benar-benar sinkron!

​"Woy! Sira aja kakehan guyon ya!" (Woy! Jangan kebanyakan bercanda ya) teriak Jono dari kamar depan.

​"Ris! Tot! Kowe tenan lho ya!" teriak Bowo dari kamar tengah.

​Aku dan Gatot refleks loncat dari kasur. Jantungku serasa mau meledak. Tanpa pikir panjang, kami berdua lari dan menarik gagang pintu kamar kami berbarengan.

​Cklek! Cklek! Cklek!
​Pintu kamar depan, kamar tengah, dan kamar belakang terbuka di detik yang nyaris bersamaan. Aku, Gatot, Bowo, dan Jono melangkah keluar kamar dan bertatapan di lorong ruang tengah.

​Kami berempat mematung. Saling pandang dengan mata melotot dan mulut setengah terbuka. Mlongo parah. Muka cemong bedak bayi kami bikin suasana makin absurd.

​"Sira sing ngetrok lawange nyong?!" tuduh Jono, urat lehernya langsung keluar nuding aku sama Gatot. (Kamu yang ngetuk pintuku?!)

​"Lho! Kowe sing ngetuk lawangku to, Jon?!" balas Bowo, nggak kalah ngegas nuding Jono. (Lho! Kamu yang ngetuk pintuku to, Jon?!)

​Aku menggeleng pelan, napasku ngos-ngosan. "Gendeng... sopo sing ngetuk? Pintu kita digedor barengan, Cuk. Barengan! Nek aku sing ngetuk, masa tanganku iso melar tekan kamar ngarep?!"

​Kesadaran itu menghantam kami sekeras gedoran pintu barusan. Empat mahasiswa kere saling tuduh, sampai logika akhirnya menampar sisa-sisa otak kami. Nggak mungkin ada satu orang yang bisa gedor tiga pintu sejajar di waktu yang bersamaan persis. Nggak mungkin.

​Hening seketika. Umpatan tertahan di tenggorokan. Suasana rumah yang tadinya lumayan normal, mendadak berubah jadi dingin.

​"Cah... rapat darurat saiki. Neng meja mangan." (Cah... rapat darurat sekarang. Di meja makan.)

​Kami bertiga cuma mengangguk kaku, langkah kami diseret pelan menuju satu-satunya meja kayu di dekat dapur. Horor Kontrakan jahanam ini resmi ngereset kewarasan kami.

Kami berempat duduk melingkar di meja makan kayu yang bunyinya kriet-kriet tiap kali disenderin. Mukaku, Jono, dan Bowo masih belang-belang sisa bedak bayi, bikin nuansa rapat darurat ini lebih mirip kumpul kebo pemain pantomim gagal daripada diskusi serius.

​Aku berdiri, narik napas panjang, dan mulai orasi dengan gaya sok wibawa walau lututku masih agak lemas.

​"Kawan-kawan, mari kita pakai logika! Kita ini penyewa sah! Kita udah bayar delapan juta tunai ke Pak Bambang. Secara de facto dan de jure, teritori ini milik kita selama setahun ke depan! Demit, pocong, atau jin koclok apapun yang ngetuk pintu barusan itu statusnya ilegal! Mereka itu liar, ngekos nggak bayar!"

​Bowo yang sedari tadi ngelus-ngelus jidatnya yang cemong, tiba-tiba nyaut dengan gaya sok intelek. Tangannya disedekapkan di dada, matanya menatap tajam ke arahku.

​"Bener kowe, Ris. Nek ditinjau seko kacamata hukum, iki mlebu tindak pidana perbuatan tidak menyenangkan. Pasal 335 KUHP! Hantu iku iso dituntut pidana mergo ngganggu ketertiban umum juncto teror mental terstruktur dadi pelanggaran HAM."

Plak!

​Sebuah geplakan lumayan keras mendarat mulus di belakang kepala Bowo. Gatot pelakunya. Preman Wonosari itu melotot kesal, remahan keripik di mulutnya sampai nyembur dikit ke meja.

​"Cangkemmu belibet, Wo! Setan kok mbok bacoti pasal! Kowe meh ngelaporne pocong neng Polsek po piye?! Ndlogok!" omel Gatot emosi.
(Mulutmu belibet, Wo! Setan kok kamu bacotin pasal! Kamu mau ngelaporin pocong ke Polsek apa gimana?! Bego!)

​Bowo cuma bisa ngusap kepalanya sambil mendengus cemberut. Suasana meja makan malah jadi ajang debat kusir. Jono sibuk nyalahin aku karena ngajak patungan, aku sibuk nyari pembenaran, Bowo masih ngedumel soal hukum perdata alam gaib, dan Gatot sibuk ngunyah sisa gorengan dingin dengan beringas.

​Kami terlalu asyik bacot dan sibuk menyalahkan satu sama lain, sampai kami nggak sadar kalau rumah ini mulai muak sama kepekokan kami.

​Pet!

​Tiba-tiba, lampu bohlam di ruang depan mati total. Gelap gulita. Padahal lampu di atas meja makan kami dan lampu dapur masih menyala terang.

​Mulut kami serempak mingkem. Debat hukum dan makian langsung tersangkut di tenggorokan. Seperti dikomando militer, empat kepala ini menoleh pelan-pelan ke arah ruang depan yang sekarang gelap pekat.
​Mata kami menyipit, berusaha keras menembus kegelapan ruangan itu. Suasana mendadak hening banget. Nggak ada suara jangkrik, nggak ada suara angin di luar. Yang ada cuma suara aneh yang perlahan mulai terdengar.

​Dari sela-sela kaca ventilasi di atas pintu utama, cahaya lampu jalanan kampung masuk malu-malu, membentuk satu garis sinar redup agak kebiruan yang membelah ruang tamu. Dan tepat di tengah-tengah garis cahaya itu... ada seseorang yang berdiri membelakangi kami.

​Jantungku langsung mencelos sampai rasanya mau tembus ke usus buntu.

​Itu sosok laki-laki. Bajunya lusuh, compang-camping nggak karuan bentuknya. Tapi yang bikin otakku error, badannya basah kuyup! Air menetes deras dari ujung baju dan celananya, membentuk genangan di lantai keramik. Padahal di luar sana sama sekali nggak hujan.

​Tapi, bukan baju basahnya yang bikin nyali kami runtuh sampai ke inti bumi. Lewat remangnya cahaya ventilasi, mataku menangkap kejanggalan paling fatal dari anatomi laki-laki itu.
​Pundaknya kosong. Nggak ada leher, apalagi kepala.

​Lalu di mana kepalanya? Mataku gemetar turun ke arah tangan kanannya. Laki-laki itu memegang rambut kepalanya sendiri! Dan yang bikin pemandangan itu makin sinting, dia nggak menenteng kepalanya dengan biasa. Dia menentengnya terbalik, mengayun-ayunkannya pelan layaknya orang lagi nenteng kresek isi belanjaan sayur dari pasar. Darah kental menetes dari potongan leher yang terbalik itu, bercampur dengan genangan air di lantai keramik.

​Kami berempat benar-benar mati kutu. Tubuhku kaku, lumpuh total layaknya disuntik bius. Kami seolah sengaja dihipnotis, dikunci secara tak kasat mata untuk terus menonton kengerian di ruang tamu itu.

​Keheningan yang mencekik itu berlangsung selama beberapa detik. Sampai akhirnya, sosok tubuh tanpa kepala itu memutar badannya pelan-pelan, menghadap ke arah kami di meja makan.

Kepala yang ditenteng di tangan sosok basah kuyup itu... perlahan membuka kedua kelopak matanya yang putih pucat. Matanya melotot menatap tepat ke arah kami. Bibirnya yang robek perlahan bergerak kaku. Suara serak, berat, dan basah berkumur cairan tiba-tiba menggema di seluruh penjuru ruangan.

​"Mas... tulung... pasangno ndasku..."
(Mas... tolong... pasangkan kepalaku...)

​Hipnotis ketakutan kami pecah seketika.

​"ASUUUUUUU!!!"
"LAILAHAILALLAH!!!" teriak kami berempat nyaris bebarengan dengan sisa-sisa tenaga yang ada.

​Meja makan sampai terdorong dan nyaris terbalik. Kami berempat saling senggol, saling injak, sikut-sikutan layaknya lagi antre rebutan sembako gratis. Nggak ada lagi adab, nggak ada lagi solidaritas pertemanan. Pokoknya yang penting masuk kamar!

​Dengan kecepatan di luar nalar, kami berempat ngacir lari saling tindih masuk ke kamar tengah, kamarnya Bowo, lalu menyungsep ke dalam. Pintu dibanting sekuat tenaga, dikunci double, dan Bowo langsung mendorong lemari plastiknya buat mengganjal pintu.

Malam itu, gelar preman dan mahasiswa sok intelek resmi lenyap, berganti jadi empat pengecut yang saling peluk sambil menangis tanpa suara di pojokan kasur.

Di dalam kamar, kami berempat meringkuk di pojokan kasur lipat saling tumpang tindih. Selimut ditarik sampai nutupin kepala, napas kami ngos-ngosan nyaris habis oksigen. Lemari plastik milik Bowo yang udah disenderin ke pintu rasanya nggak memberikan rasa aman sama sekali.

​Di tengah kepanikan yang nyaris bikin gila itu, bukannya pada dzikir atau baca ayat kursi, teman-temanku malah ngeluarin pertanyaan-pertanyaan yang pekoknya menembus batas nalar.

​"Ris... setane nggawa obeng ra yo? Nek deweke mbongkar engsel lawang seko jaba pimen kyeh?!" bisik Jono panik, suaranya gemetar parah.
(Ris... setannya bawa obeng nggak ya? Kalau dia bongkar engsel pintu dari luar gimana nih?!)

​"Sing dadi pikiranku ki malah seje, Jon," sahut Bowo dengan nada serius tapi bergetar. "Nek misale dewe pasangke ndase, tapi dipasang kuwalik madep mburi, kiro-kiro mlakune dadi mundur opo tetep maju yo?" (Yang jadi pikiranku tuh malah beda, Jon. Kalau misalnya kita pasangin kepalanya, tapi dipasang kebalik menghadap belakang, kira-kira jalannya jadi mundur atau tetep maju ya?)

​Gatot yang biasanya sok jagoan, sekarang ikut-ikutan menimpali dengan komuk pucat pasi.

"Lha terus masange piye, Cuk? Nganggo lem Alteco opo paku payung ben ra ucul maneh? Kok deweke ra nggawa lem dewe to... asu tenan."
(Lha terus pasangnya gimana, Cuk? Pakai lem Alteco apa paku payung biar nggak lepas lagi? Kok dia nggak bawa lem sendiri to... anjing beneran.)

​"Lambemu do meneng asu! Setan neng ngarep pintu malah do mbahas tutorial puzzle masang ndas! Pikirno nyawamu dewe-dewe blok!" (Mulutmu bisa pada diem gak! Setan di depan pintu malah pada bahas turor puzzel masang kepala! Pikirin nyawa kali masing-masing, blok) sungutku dengan suara tertahan, saking jengkelnya pengen nangis.

Tiba-tiba, obrolan pekok kami terputus. Keheningan yang mencekam kembali merayap. Dari balik pintu, suara yang sedari tadi kami hindari mulai terdengar mendekat.

​Ceplok... ceplok... ceplok...
​Suara langkah kaki basah telanjang yang menginjak lantai keramik. Pelan... sangat pelan... dan langkah itu berhenti tepat di depan pintu kamar kami.

​Kami berempat menahan napas bersamaan.

​Tok... tok... tok...
​Tiga ketukan pelan dari arah luar. Disusul suara serak dan basah yang mengalun dari celah bawah pintu.

​"Mas... bukaken lawange... Tulung mas... tulung..." (Mas... bukakan pintunya... Tolong mas... tolong...)

​Malam itu juga, pertahanan pria dewasa kami hancur lebur. Kami berempat resmi jadi laki-laki cengeng. Kami berempat saling peluk erat, pasrah kalau malam ini jadi malam terakhir kami sebelum dijemput malaikat maut.

​"Ris... Aris! Jono! Buka pintunya dong, ini kita bawa sarapan!"

​Sayup-sayup terdengar suara perempuan dari arah luar rumah, diiringi ketukan keras di pintu depan.

Aku perlahan membuka mata yang rasanya lengket dan bengkak parah.
​Sinar matahari pagi udah terang banget. Aku menoleh ke sekeliling. Kami berempat masih dalam posisi saling peluk di lantai kamar. Muka kami luar biasa hancur. Cemong bedak bayi sisa semalam udah luntur kecampur air mata dan keringat, menghasilkan adonan abstrak di wajah kami.

​"Woy! Tangi, Cuk! Ono swara cah wedok neng ngarep!" kataku sambil nendang paha Gatot dan Bowo.
(Woy, bangun cuk. Ada suara cewek di depan)

​Mendengar kata "cah wedok", mereka langsung terbangun gelagapan. Kami berempat buru-buru bangun, ngusap muka asal-asalan, dan menyingkirkan lemari yang mengganjal pintu.

Dengan langkah gontai dan nyawa yang masih ketinggalan di alam mimpi, kami berjalan ke arah depan.

​Cklek...
​Pintu depan kubuka. Dan benar saja, di teras sana, empat bidadari kampus berdiri dengan senyum cerah. Rahma, Desi, Mita, dan Lisna datang lagi pakai baju kasual yang cakep banget. Di tangan mereka masing-masing menenteng bungkusan plastik isi bubur ayam dan nasi uduk.

​"Pagi, cowok-cowok ngenes! Kita bawain..." ​Kalimat Rahma terhenti di udara. Senyum keempat cewek itu mendadak luntur, digantikan ekspresi kaget bercampur bingung melihat wujud kami berempat.

​"Astaga... kalian ini habis ngapain?!" pekik Mita kaget, matanya yang di balik kacamata bulat membesar.

​"Kalian kenapa nangis? Kok matanya bengkak semua? Terus itu muka kenapa pada putih-putih cemong gitu?" sambung Desi, menunjuk wajah Bowo dan Jono.
Kami berempat mematung. Malu? Banget! Gengsi dong masa mau ngaku kalau semalam kami berempat nangis. Preman macam apa kami ini di mata mereka?

​Aku berdeham, berusaha mengumpulkan sisa-sisa wibawa pria sejati yang udah menguap entah ke mana.

​"Ehem... oh ini... eeee, semalam kita nonton film India, Ta. Wah, sedih banget filmnya, parah. Bikin cowok tegar kayak kita aja bisa nangis bombay. Kalau bedak ini... biasa, skincare malam biar glowing," jawabku ngeles, diiringi anggukan mantap dari Jono, Bowo, dan Gatot yang pura-pura masang muka macho.

Aku langsung mempersilakan mereka masuk. Sementara Rahma dan kawan-kawan sibuk gelar karpet di ruang tengah buat nyiapin sarapan, kami berempat ngacir ke kamar mandi buat cuci muka, sikat gigi kilat, dan rapi-rapi dikit biar nggak kelihatan kayak gembel stasiun yang baru bangun tidur.

​Pas kami balik ke ruang tengah, ada satu hal yang bikin kami berempat kompak mengernyitkan dahi.

TKP tempat sosok basah kuyup tanpa kepala semalam berdiri... garing total. Nggak ada sisa genangan air, nggak ada jejak kaki basah, apalagi sisa darah dari potongan leher yang ditenteng setan koclok itu. Lantainya bersih kinclong.

Jono nyenggol sikutku, matanya melotot nanya tanpa suara, seakan bilang "Lho, banyune neng ndi?". Aku cuma bisa mengangkat bahu. Jujur, kami bingung. Tapi ya udahlah, bodo amat! Otak kami mendadak korslet dan memilih lupa sama kengerian semalam begitu melihat pemandangan indah di depan mata. Urusan setan tanpa kepala minggir dulu, apel pagi dari bidadari jauh lebih penting.

​Pemandangan pagi itu bener-bener kontras banget sama penampakan horor semalam. Kalau semalam kami nggak berani melek, pagi ini kami berempat nyaris lupa caranya berkedip. Empat bidadari ini kayaknya emang sengaja niat bikin iman kami runtuh berjamaah.

​Rahma pagi ini pakai kaos olahraga ketat warna abu-abu. Bodynya yang aduhai itu makin njeplak, bikin Jono dari tadi nelen ludah mulu, matanya nggak lepas dari dua bukit kembar Rahma yang membusung mantap. Desi yang tomboy pakai tanktop hitam dibalut kemeja flanel yang sengaja nggak dikancingin, belahan dadanya ngintip malu-malu bikin Bowo mendadak jadi pendiam saking fokusnya mengamati mahakarya Tuhan itu.

Gatot? Preman Wonosari itu matanya udah terkunci rapat ke arah Mita yang pakai sweater kebesaran, tapi entah kenapa aset kembarnya yang over-size itu tetep aja menonjol menantang zaman dari balik baju longgarnya.

​Dan aku... mataku cuma tertuju pada satu titik. Lisna.

​Pagi ini dia pakai kaos V-neck putih yang lumayan tipis dipadu celana pendek sepaha. Rambutnya digelung asal-asalan ke atas, memperlihatkan leher jenjangnya. Tapi yang bikin otakku langsung travelling bukan lehernya, melainkan pemandangan gunung kembarnya yang nyembul jelas dari balik V-neck putihnya itu tiap kali dia membungkuk nata kotak bubur ayam. Bulat, padat, dan posisinya bener-bener bikin jantungku disko pagi-pagi buta.

​Kami berempat masing-masing udah punya incaran lock-on target. Udah kayak harimau kelaparan ngelihat daging wagyu kualitas premium.

​Aku duduk bersila di atas karpet plastik, tepat di tengah-tengah formasi melingkar. Lisna yang kebagian bagi-bagiin mangkok bubur ayam, berjalan mendekat ke arahku sambil bawa dua mangkok panas.

​Nah, mungkin karena lantai keramik TKP semalam itu emang masih nyimpen energi negatif, atau emang Lisna kurang keseimbangan, tiba-tiba tragedi membagongkan itu terjadi.
​Pas Lisna melangkah tepat di depanku, ujung kakinya nyangkut di lipatan karpet plastik.

​"Eh... eh... Kyaaa!"
​Lisna kehilangan keseimbangan. Badannya oleng ke depan dengan kecepatan tinggi. Mangkok bubur ayam melayang entah ke mana, dan tubuh Lisna jatuh ambruk tepat ke arahku yang lagi duduk bersila.

​Bruk!
​Kejadian itu berlangsung cuma sepersekian detik. Waktu seakan berhenti. Ruang tengah yg tadinya ramai suara obrolan mendadak hening seketika.

​Mataku melotot sampai mau copot. Rahangku jatuh sampai lantai. Temen-temenku dan cewek-cewek yang lain juga sama-sama kaget setengah mati melihat posisi jatuhnya Lisna.

​Gimana nggak heboh, wajah Lisna mendarat dengan sangat akurat, presisi, dan mantap tepat di selangkanganku. Iya, hidung dan wajah Lisna menabrak langsung "senjata" masa depanku yg lagi anteng di balik celana kolor. Posisinya bener-bener absurd banget.

​"WADUH!" teriak Bowo kaget.
"JANCOOOOK!" Jono refleks misuh kenceng.

​Wajah Lisna memerah semerah tomat rebus saat dia sadar mendarat di area sensitif mana. Dia buru-buru mendongak, menatapku dari posisi bawah dengan mata yang berkaca-kaca panik, napasnya ngos-ngosan nyapu area resleting kolorku.

​"M-maaf Ris! Sumpah aku nggak sengaja, kesandung karpet!" seru Lisna panik, buru-buru merangkak mundur.

​Aku? Aku salting parah! Mukaku panas kayak digoreng dadakan. Senjataku yang tadinya tidur pulas, kena tabrakan wajah mulus dan aroma wangi vanilla dari rambut Lisna, mendadak kaget dan bereaksi.

Aku buru-buru nutupin area bawah pusarku pakai tangan, senyum-senyum gaje kayak orang kesurupan siluman monyet.

​"E-eh... iya Lis, rapopo, santai wae. Posisinya... eh maksudnya lantainya emang licin," balasku terbata2, nyawa sama otakku udah misah beda alam.

Sementara Mita, Rahma, dan Desi sibuk nanyain keadaan Lisna sambil ngelapin tumpahan bubur, ketiga sahabat pekokku malah ngelihatin aku dengan tatapan iri dengki tingkat dewa. Gatot nyenggol kakiku sambil berbisik sinis.

​"Asu kowe Ris. Menang akeh kowe esuk-esuk wis entuk pendaratan darurat." (Asw kamu Ris. Menang banyak kamu pagi-pagi dapet pendaratan darurat)

​Aku cuma bisa nelan ludah, mencoba menenangkan detak jantung dan senjataku yang mendadak salah tingkah di balik tangan. Horor semalam bener-bener udah nggak ada harganya dibanding kejadian brutal barusan.

Setelah insiden 'pendaratan darurat' yang membagongkan itu, suasana emang sempat canggung. Tapi untungnya tertutup sama obrolan cewek-cewek yang langsung switch ke mode gibah. Ketiga temanku asyik ikut nimbrung, nyari muka di depan incaran masing-masing.

​Tapi di sela-sela obrolan heboh itu, ada satu hal yang cuma aku yang sadar.

​Lisna. Dari tadi dia duduk agak mojok, tapi matanya diam-diam terus mencuri pandang ke arahku. Tiap kali aku nggak sengaja noleh ke dia, mata kami ketemu. Lisna buru-buru buang muka sambil benerin rambutnya ke belakang telinga, dan aku bisa lihat jelas pipinya merona merah nahan senyum.

​Asli, makin lama aku makin gimanaaa gitu sama Lisna. Perasaanku yang tadinya fokus ke Mita pelan-pelan mulai geser. Maksudku, siapa sih cowok yang nggak luluh diginiin? Memang sih, aku nggak tahu pasti perasaan Lisna yang sebenarnya kayak gimana. Tapi, kalau menyimpulkan dari kejadian semalam pas dia cium tanganku, ditambah insiden tabrakan wajah di area selangkanganku barusan... ya wajar dong kalau radarku menangkap ada sinyal-sinyal hijau dari dia. Seneng banget rasanya tiap kali dia ada di dekatku, auranya beda.

​Karena kebetulan hari itu hari libur, empat bidadari ini betah banget nongkrong di rumah jahanam kami. Mereka gelar tiker, buka laptop, drakoran bareng, sampai numpang tidur siang beralaskan karpet ruang tengah yang adem.

Seharian itu, teror setan otomatis menguap dari otak kami. Energi rumah ini mendadak suci tersapu wangi parfum bedak bayi dan vanilla.
​Sampai akhirnya, jam menunjukkan pukul 5 sore. Matahari udah mulai condong ke barat.

​"Eh, sumpek juga ya seharian rebahan. Jalan yuk?" cetus Rahma tiba-tiba sambil meregangkan badannya yang seksi.

​"Ke mana? Ke amplaz?" tanya Mita sambil benerin kacamatanya.

​"Malioboro aja lah, jajan pecel lele apa nongkrong di Titik Nol. Udah lama nih nggak ke sana," usul Desi penuh semangat. "Kita kan bawa dua motor, cowok-cowok juga bawa motor kan? Pas tuh, boncengan aja sepasang-sepasang."

​Dengar kata "boncengan sepasang-sepasang", mata Jono, Bowo, dan Gatot langsung berbinar-binar kayak senter hansip baru diganti batu baterainya. Ini kesempatan emas buat boncengin incaran masing-masing!

​"Wah, ide bagus kuwi! Kebetulan cuacane cerah nggo jalan-jalan sore," sahut Bowo gercep, padahal mukanya belum mandi sore.

​"Oke, kalau gitu kalian cowok-cowok mandi sana gih, bau keringet tau," ledek Lisna sambil ngelirik ke arahku sambil senyum tipis. Sumpah, damage-nya nembus ginjal.

​"Siap, Bos! Kami mandi kilat!" seruku semangat.

​Kami berempat langsung ngacir ke area belakang. Tapi, alih-alih langsung masuk kamar mandi, aku menarik kerah baju Jono, Bowo, dan Gatot, menyeret mereka masuk ke dapur. Aku nutup gorden dapur biar nggak kelihatan dari ruang tengah.

​Rapat darurat jilid dua. Kali ini bukan soal demit, tapi soal realita kasta sosial.

"Cuk! Cek dompet kalian masing-masing saiki! Cek!"
​Jono, Bowo, dan Gatot buru-buru pandangannya melihat ke atas, kayak lagi inget-inget duit mereka masih berapa. Suasana di dapur mendadak tegang.

​JONO dengan muka melas. "Asu... duit nyong gari rong puluh ewu kyeh. Nggo tuku bensin sepuluh ewu, turahane mung cukup nggo tuku es teh loro." (Anjing... uangku tinggal dua puluh ribu nih. Buat beli bensin sepuluh ribu, sisanya cuma cukup buat beli es teh dua.)

BOWO, "Aku gari limolas ewu, Ris. Motorku bensin e meh entek pisan, kari sak strip. Nek diajak mangan neng Malioboro, iso-iso aku ngumbahi piring neng warung pecel lele-ne." (Aku tinggal lima belas ribu, Ris. Motorku bensinnya hampir habis juga, tinggal satu strip. Kalau diajak makan di Malioboro, bisa-bisa aku nyuci piring di warung pecel lelenya.)

​GATOT menghela napas panjang, "Aku mung iso modali parkir, Cuk. Saldo e-wallet ku kari telung ewu perak, ora isoh ditarik." (Aku cuma bisa modalin parkir, Cuk. Saldo e-wallet ku tinggal tiga ribu perak, nggak bisa ditarik.)

​Aku nepuk jidat keras-keras. Mengusap wajahku yang kucel dengan frustrasi. Saldoku sendiri juga cuma dua belas ribu lima ratus perak. Total kekayaan kami berempat kalau digabungin bahkan nggak nyampe gocap! Buat beli terang bulan keju di Malioboro aja pasti masih kurang bayar!

​Aku menatap ketiga temanku dengan tatapan ngenes yang paling dalam.

"Terus gmn iki, Jingan?! Moso kita jalan sama bidadari-bidadari itu mokondo sih?! Modal titit doang?! Gengsi dong anjir! Masa cewek yang bayarin makan sama bensin?! Mau ditaruh di mana harga diri kita sebagai pria sejati?!"

​Kami berempat terdiam ngenes di dapur remang-remang itu. Bingung antara mau seneng dapet jatah boncengan sama cewek cantik, atau mau nangis gara-gara dompet menjerit sekarat. Benar-benar derita mahasiswa kere tiada akhir.

Mentok mikir sampai ubun-ubun berasap pun kami tetep nggak nemu solusinya. Karena cewek-cewek udah nunggu di ruang tengah, akhirnya kami mutusin buat tetap mandi. Air keran yang dinginnya kayak es batu itu sama sekali nggak bisa mendinginkan harga diri kami yang lagi kebakaran mikirin saldo dompet.

​Selesai mandi dan makai baju kemeja paling bagus yang kami punya (yang baunya perpaduan deterjen curah sama pewangi sasetan), kami berempat jalan gontai nyamperin mereka.

​Rahma, Desi, Mita, dan Lisna udah berdiri rapi, wangi banget, siap tempur menaklukkan aspal Jogja sore ini.

Sementara kami berempat malah berdiri kaku berjejer di depan mereka kayak tersangka kasus pencurian jemuran yang lagi diinterogasi warga.
​Suasana mendadak hening. Krik... krik... krik...

​Kami berempat saling lirik, sikut-sikutan pakai siku, kasih kode lewat gerakan mata soal siapa yang mau jadi juru bicara buat nyampein berita duka cita finansial ini. Bingung! Asli bingung banget mau ngomong apa. Gengsi sebagai pria sejati rasanya setinggi Gunung Merapi, tapi realita saldo memaksanya longsor ke dasar jurang. Mau nolak gengsi, mau berangkat bensin aja kembang kempis.

​Di tengah keheningan yang super canggung itu, tiba-tiba Gatot... si preman Wonosari dengan tingkat kepekokan di luar nalar manusia normal, nyeletuk dengan polosnya. Polos banget sampai rasanya pengen aku mutilasi.

​Gatot menggaruk-garuk belakang kepalanya yang sebenarnya nggak gatal, masang muka melas tanpa dosa, menatap langsung ke arah empat bidadari itu, dan dengan logat Gunungkidul-nya yang kental dia nyeplos...

​"Cah... tapi awakdewe lagi gak duwe uange, je. Pie yo?" (Temen-temen... tapi kita lagi nggak punya uang nih. Gimana ya?)

​Duar! Rasanya kayak ada granat meledak di tengah ruang tamu.
​Seketika, leherku, leher Bowo, dan leher Jono patah menoleh ke arah Gatot dengan kecepatan cahaya. Mata kami bertiga melotot sempurna nyaris keluar dari kelopaknya. Kalau tatapan mata bisa ngeluarin laser mematikan, badan Gatot pasti udah bolong-bolong tembus ke belakang.
​Di dalam hati, kami bertiga misuh-misuh berjamaah membabi buta.

Asu kowe Tot! Cocotmu ra dipilter blass! batinku menjerit-jerit. Harga diri yang susah payah aku bangun seharian ini runtuh seketika rata dengan tanah. Bener-bener mokondo go public secara live tanpa sensor.
​Aku bisa ngelihat jakun Jono naik turun nelan ludah dengan kasar. Aku yakin seratus persen di dalam hatinya dia lagi ngabsen seluruh isi kebun binatang sama isi ragunan pakai bahasa Tegal ngumpatin Gatot.

Sementara Bowo, tangannya udah mengepal kuat di samping paha, napasnya kembang kempis nahan emosi, natap Gatot dengan tatapan psikopat tingkat tinggi.

​Ndlogok tenan! Punya temen kok urat malunya udah digadaikan dari lahir. Habis sudah. Tamat riwayat asmara kami. Bayanganku soal boncengan mesra sama Lisna keliling Malioboro langsung lenyap diganti bayangan ngemis di perempatan Titik Nol.

Mendengar kejujuran Gatot yang brutal dan tanpa filter itu, aku udah pasrah kalau keempat bidadari ini bakal ilfeel dan langsung pulang detik itu juga. Muka memelas Gatot bener-bener definisi gembel yang minta dipungut.

​Tapi, realita memang kadang lebih aneh dari fiksi. Bukannya ilfeel atau merendahkan kami, Lisna malah tersenyum manis banget sampai matanya menyipit. Dia menatapku sekilas, lalu beralih ke Gatot.

​"Ya ampun, santai aja kali, Tot. Kan kita yang ngajak jalan sore ini. Jadi urusan bensin, parkir, sampai makan malam nanti gampang, biar kita-kita aja yang cover. Kalian cukup nemenin kita jalan dan jagain kita aja, oke?" ucap Lisna dengan nada lembut yang menenangkan jiwa.

​Rahma, Desi, dan Mita juga ikut ngangguk setuju tanpa beban sama sekali.

​Sumpah, detik itu juga, aku, Jono, dan Bowo rasanya pengen sujud syukur cium keramik. Harga diri sebagai pria sejati yang tadi sempat runtuh, sekarang mendadak diganti dengan mental sugar baby jalur subsidi silang. Bodo amat dibilang mokondo, yang penting sore ini jadi jalan bareng bidadari!

​Tapi... baru juga kami mau melangkah riang gembira ke arah teras buat ngeluarin motor, tiba-tiba terdengar suara rintik air menabrak genteng.

​Hujan turun. Nggak pakai aba-aba mendung gelap, tahu-tahu langsung gerimis lebat se-lebat-lebatnya. Kami semua langsung terdiam di ambang pintu, menatap nanar ke arah halaman pekarangan yang langsung basah kuyup.

​Pupus sudah harapan boncengan mesra di bawah senja Jogja. Kami berempat cuma bisa menghela napas pasrah. Dan tentu saja, di saat suasana lagi hening meratapi nasib, Gatot kembali beraksi dengan mulut tanpa remnya.

​"Walah malah udan... rasido pacaran iki," celetuk Gatot santai, tanpa tedeng aling-aling, sambil berkacak pinggang natap hujan di luar. (Walah malah hujan... nggak jadi pacaran nih.)

​Hening sebentar. Lalu...
​"Bwahahaha!" Rahma dan Desi langsung ketawa ngakak denger celetukan Gatot yang super jujur itu. Mita senyum-senyum malu, sementara Lisna menunduk nyembunyiin tawanya, tapi matanya ngelirik gemes ke arahku.

​Cewek-cewek mungkin ketawa ngerasa itu lucu. Tapi buat kami bertiga? Celetukan Gatot itu rasanya kayak ngajak baku hantam.

​Bowo langsung nyikut perut Gatot lumayan keras sampai si preman Wonosari itu agak bungkuk.

​"Mbok dadi wong lanang ki rasah cangkeman ngono to, Tot. Marai pie ngono rasane... isin asu," desis Bowo pelan tapi penuh penekanan di telinga Gatot. (Kalau jadi cowok tuh nggak usah terlalu banyak mulut gitu lho, Tot. Bikin gimana gitu rasanya... malu anjing.)

​"Lah, lha wong nyatane ngono oge, daripada mbatin," balas Gatot nggak mau kalah, sambil ngelus perutnya. (Lah, orang kenyataannya gitu kok, daripada batin.)

​Aku dan Jono cuma bisa mijit pelipis. Akhirnya, rencana jalan-jalan itu resmi batal total. Kami semua masuk lagi ke dalam ruang tengah.

​Hujan di luar bukannya reda, malah makin brutal. Angin kenceng sesekali bikin jendela nako bunyi bergetar. Waktu berlalu lambat banget. Dari yang awalnya ngobrol asyik, main truth or dare pakai botol bedak bayi, sampai akhirnya cewek-cewek itu mulai rebahan lagi di karpet sambil main HP karena bosen.

Nggak kerasa, jam dinding udah menunjukkan pukul sepuluh malam. Hujan di luar masih awet menderas, seolah sengaja ngurung kami semua di rumah ini.

​Makin malam, suasana makin dingin. Tapi anehnya, otak kami berempat malah makin panas dan liar. Aku, Jono, Bowo, dan Gatot diam-diam mundur teratur ke arah dapur dengan alasan mau bikin kopi sama teh hangat.

​Begitu sampai di dapur, Jono langsung narik kerah bajuku, matanya melotot berbinar-binar.

​"Cuk... kyeh ujane awet nemen. Kiro-kiro cewek-cewek pan nginep ra kyeh? Nek nginep, wah... rejeki nomplok kyeh! Seumur-umur nyong urung tau nginep sekandang karo bidadari!" bisik Jono antusias banget. (Cuk... ini hujannya awet banget. Kira-kira cewek-cewek mau nginep nggak nih? Kalau nginep, wah... rezeki nomplok nih! Seumur-umur aku belum pernah nginep sekandang sama bidadari!)

​"Iyo, Ris. Ndelok ujane koyo ngene, ra tegel aku nek ngeculke deweke do mulih. Bahaya neng dalan," tambah Bowo sok perhatian, padahal senyumnya udah mesum banget ngebayangin hal-hal pekok. (Iya, Ris. Lihat hujannya kayak gini, nggak tega aku kalau ngelepas mereka pulang. Bahaya di jalan.)

​Aku awalnya mau ikutan senyum, ngebayangin bisa ngobrol semalaman sama Lisna. Tapi... mendadak ada satu kesadaran yang menghantam otakku lebih keras dari petir di luar sana. Senyumku langsung luntur, diganti raut wajah pucat pasi.

​"Cuk... kalian sadar nggak sih?" bisikku pelan, suaraku tiba-tiba bergetar.

​Gatot, Jono, dan Bowo menatapku bingung.

​"Kalau mereka nginep di sini... terus nanti malam jam satu si 'tamu' tanpa kepala kita itu datang lagi gimana?! Atau si pocong ngetuk pintu depan?! Kowe meh ngenalke Mita karo pocong?! Kowe meh pamer nang Desi carane masang ndas wong mati?!" seruku panik, membeberkan realita pahit rumah jahanam ini.
(Kamu mau ngenalin Mita sama pocong? Kamu mau pamer ke Desi cara masang kepala orang mati)

​Deg!
​Wajah Jono, Bowo, dan Gatot yang tadinya mesum penuh harap, seketika berubah jadi sepucat kapas. Bayangan senyum manis bidadari mendadak bertabrakan dengan bayangan laki-laki basah kuyup nenteng kepala berdarah minta dipasangin.

​Kami berempat saling pandang di dapur yang remang-remang itu. Bingung sebingung-bingungnya orang bingung. Di satu sisi, otak mesum dan jiwa jomblo ngenes kami meronta-ronta pengen cewek-cewek itu nginep. Tapi di sisi lain... nyawa dan kewarasan kami bisa melayang kalau sampai teror malam kedua terjadi dan cewek-cewek itu ikut jadi korbannya!

Eh, time out bentar. Sebelum aku lanjutin ceritanya, lewat tulisan ini aku, Aris, atas nama pribadi dan mewakili ketiga temanku yang pekoknya natural, mau minta maaf yang sebesar-besarnya sama kalian para pembaca.

​Kalau dari tadi narasi atau diksiku pas mendeskripsikan teman-teman cewekku, terutama pas ngebahas fisik dan 'gunung kembar' mereka terasa terlalu frontal, vulgar, atau agak brutal, sumpah aku minta maaf. Bukannya aku mau ngarang bebas atau ngelecehin mereka di cerita ini, tapi memang riil 100% begitu adanya! Penampilan mereka di dunia nyata emang se-aduhai itu. Buat kami berempat, gerombolan mahasiswa kasta sudra yang jarang lihat yang bening-bening, pemandangan kayak gitu ibarat jackpot yang bikin otak otomatis korslet. Nggak ada yang dilebih-lebihkan, aku cuma mendeskripsikan apa yang ditangkap oleh mata keranjang kami dengan sangat jujur. Jadi, mohon dimaklumi ya, namanya juga insting cowok ngenes.

​Oke, kita balik lagi ke kontrakan jahanam.

​Setelah rapat darurat yang gagal total di dapur tadi, kami berempat akhirnya kembali ke ruang tengah. Hujan di luar masih turun dengan brutalnya, sukses menjebak kami semua di dalam. Kami duduk melingkar lagi, berusaha mencairkan suasana dengan ngajak cewek-cewek itu ngobrol ngalor-ngidul. Main tebak-tebakan garing, cerita horor receh (yang tentu saja kami sensor bagian rumah ini), sampai gibahin dosen.

Waktu pelan-pelan merangkak mendekati jam setengah dua belas malam. Obrolan mulai putus-putus. Suara tawa Rahma dan Desi udah nggak senyaring tadi. Mita beberapa kali nyopot kacamatanya buat ngucek mata yang mulai merah, sementara Lisna udah nyender di tembok sambil merapatkan jaket tipisnya, nahan dingin.

​Kami berempat diam-diam memperhatikan mereka dengan saksama. Jujur, di balik otak mesum kami, ada rasa kasihan yang tulus.

​"Mesake woy... Mita wis manthuk-manthuk koyo manuk gemak ngono," bisik Gatot pelan ke telingaku saat cewek-cewek itu lagi fokus nonton video lucu di HP Rahma.
(Kasihan woy... Mita udah ngangguk-ngangguk kayak burung puyuh gitu.)

​"Iyo, Cuk. Lantai keramik kene ki atise nembus balung. Nek cewek-cewek dipaksane turu neng karpet tipis iki, sesuk isuk iso masuk angin kabeh," balasku berbisik, ngelihat Lisna yang agak menggigil. (Iya, Cuk. Lantai keramik sini tuh dinginnya nembus tulang. Kalau cewek-cewek dipaksain tidur di karpet tipis ini, besok pagi bisa masuk angin semua.)

​Bowo dan Jono yang duduk di sebelah kami ikut ngangguk setuju. Insting gentleman kami mendadak bangkit mengalahkan ketakutan. Biarlah nyawa kami jadi taruhan asalkan bidadari-bidadari ini bisa tidur nyenyak dan aman.

​Kami berempat akhirnya berembuk kilat lewat tatapan mata dan bisikan super pelan. Keputusannya bulat, kami harus ngorbanin kamar untuk mereka.

​"Ehem," aku berdeham lumayan keras, memecah fokus keempat cewek itu dari HP. "Cah... hujannya kayaknya awet sampai pagi ini. Daripada kalian kedinginan tidur di lantai ruang tengah, mending kalian tidur di kamar aja. Pakai kamar yang tengah aja, kamarnya Bowo. Paling luas, kasurnya lumayan lah buat empuk-empukan berempat."

​Rahma menoleh, agak sungkan. "Eh? Seriusan Ris? Terus kalian berempat tidurnya gimana? Masa tuan rumah malah tidur di luar?"

​"Halah, santai bae, Ma. Nyong karo bocah-bocah wis biasa turu neng sembarang tempat. Neng emperan masjid bae nyong tau turu, lha pimen maning," timpal Jono dengan gaya sombongnya, padahal aslinya takut setengah mati kalau harus tidur di luar kamar. (Halah, santai aja, Ma. Aku sama anak-anak udah biasa tidur di sembarang tempat. Di emperan masjid aja aku pernah tidur, lha mau gimana lagi.)

​"Iya, tenang aja. Kalian pakai kamar tengah. Aku sama Jono bisa tidur di kamar depan," sambung Bowo sok pahlawan.

​Mita tersenyum tipis, kelihatan lega banget. "Wah, makasih banyak ya. Maaf lho kita jadi ngerepotin dan ngambil kamar kalian."

​Lisna menatapku dalam-dalam, senyumnya lembut banget bikin hatiku kembali meleleh. "Makasih ya, Ris."

​Aku cuma bisa nyengir sambil ngangguk sok cool.

​Cewek-cewek itu akhirnya mindahin barang-barang mereka masuk ke kamar tengah. Pintu ditutup rapat. Suasana ruang tengah langsung sepi.
​Sekarang, tinggal kami berempat yang saling pandang dalam keheningan yang mulai mencekam. Bowo dan Jono udah resmi booking kamar depan yang relatif paling aman dari jangkauan area belakang.

​Itu artinya... aku menelan ludah dengan susah payah, menoleh pelan ke arah Gatot. Sang preman Wonosari itu membalas tatapanku dengan wajah yang sama-sama pucat pasi.
​Karena kamar tengah dipakai cewek-cewek dan kamar depan dipakai Bowo dan Jono, mau nggak mau, suka nggak suka... aku dan Gatot harus rela kembali tidur di kamar kami yang asli. Kamar paling sudut. Kamar paling belakang yang lembab. Kamar yang di pojokannya... ada sisa piring tanah liat dan kembang setaman bekas sajen.

​"Tot..." bisikku bergetar.

​"Rasah kakean cangkem, Ris. Ayo mlaku neng mburi. Moco surat Yasin dalem ati wae sing akeh," balas Gatot pasrah, suaranya parau menahan ngeri. (Nggak usah banyak ngomong, Ris. Ayo jalan ke belakang. Baca surat Yasin dalam hati aja yang banyak.)

​Demi kelangsungan hidup dan harga diri di depan cewek incaran, malam itu aku dan Gatot berjalan pelan menuju kamar belakang bagaikan tahanan yang lagi digiring ke ruang eksekusi mati.

Begitu kita sudah mapan di kamar masing-masing, suasana mendadak senyap. Sumpah, sepi banget. Aku nggak tahu apa yang lagi dilakuin Bowo sama Jono di kamar depan, entah mereka udah molor atau masih pelukan ketakutan. Yang jelas, di kamar belakang ini, hawanya beda. Lembab, anyep, dan ada sisa-sisa bau dupa tipis yang entah datang dari mana.

​Aku sama Gatot cuma bisa telentang kaku. Mata kami ketap-ketip natap langit-langit kamar. Dari tadi kerjaanku cuma ngitungin jumlah kotak plafon triplek yang ada noda bocornya. Satu... dua... tiga... bosen, balik lagi ke satu. Kami berdua hening, nggak ada obrolan sama sekali. Kami lagi sibuk perang sama isi kepala dan ketakutan masing-masing. Di telingaku rasanya masih terngiang-ngiang suara setannya minta tolong pasangin kepala semalam. Bikin merinding sampai ke selangkangan.

​Nah, gara-gara merinding sampai ke selangkangan itu, ditambah hawa dingin lantai keramik dan efek kebanyakan minum es teh pas sore tadi... tiba-tiba ada alarm darurat dari dalam perutku.

​Kandung kemihku mendadak penuh. Nyut-nyutan minta dikosongin.
​Sialan. Kenapa harus sekarang sih?! Kenapa nggak besok pagi aja nunggu matahari terbit?! Ngebayangin harus buka pintu kamar, jalan ke lorong belakang arah dapur, dan masuk ke kamar mandi yang letaknya persis di sarang lelembut itu rasanya kayak jalan sukarela masuk ke liang lahat.

​Aku gelisah. Posisiku miring ke kanan, miring ke kiri, telentang lagi, sambil nyilangin paha rapet-rapet. Gatot yang dari tadi diam rupanya ngerasain kasur lipat kami goyang-goyang karena tingkahku.

​"Duh, pie iki, Tot?" (Duh, gmn ini, Tot) bisikku pelan, suaraku nyaris kayak orang mau nangis.

​Gatot menoleh patah-patah ke arahku. Matanya melotot tajam di tengah remangnya kamar.

​"Pie apane to, Ris? Nek takon sik jelas. Ojo gawe aku mikir sing ora-ora," balas Gatot berbisik, nadanya ngegas tapi tertahan karena takut kedengaran sampai luar. (Gimana apanya to, Ris? Kalau tanya yang jelas. Jangan bikin aku mikir yang enggak-enggak.)

​Aku nelan ludah, meremas ujung selimut dengan tangan gemetar.

​"Kebelet nguyuh aku, Tot... sumpah, wis neng pucuk iki rasane. Anterin ke kamar mandi yuk? Sedelok wae..." rengekku memelas dengan komuk paling ngenes. (Kebelet kencing aku, Tot... sumpah, udah di ujung ini rasanya. Anterin ke kamar mandi yuk? Bentar aja...)

​Mendengar kata "kamar mandi", mata Gatot makin melotot nyaris keluar dari soketnya. Preman Wonosari itu langsung narik selimutnya sampai nutupin leher, menggelengkan kepalanya dengan brutal.

​"Gendeng! Kowe meh nguyuh opo meh setor nyawa?! Kamar mandi kuwi panggone neng mburi dewe, jejer pawon! Kowe lali mbengi setane isah-isah piring neng kono?! Emoh! Nguyuho neng botol Aqua kono lho!" tolak Gatot mentah-mentah. (Gila! Kamu mau kencing apa mau setor nyawa?! Kamar mandi itu tempatnya di belakang sendiri, sebelah dapur! Kamu lupa semalam setannya cuci piring di situ?! Nggak mau! Kencing aja di botol Aqua sana lho!)

​"Botol Aqua gundulmu! Bolongane ra cukup blok! Iki senjataku standar nasional, dudu tutup pentil!" balasku nggak kalah emosi, tapi tetap dengan suara berbisik. (Botol aqua kepalamu! Lubangnya gak cukup blok! Ini senjataku standar nasional, bukan tutup ban)

"Ayo to Tot, temenin bentar aja. Cuma kencing doang, semenit kelar. Sumpah aku nggak tahan, bisa jebol ginjalku kalau ditahan sampai pagi!"

Gatot memalingkan wajah, pura-pura merem. "Deritamu, Ris. Pokoke aku emoh metu seko kamar iki. Nek kowe kebelet, budalo dewe. Aku tak moco Yasin." (Deritamu, Ris. Pokoke aku gak mau keluar dari kamar ini. Kalo kamu kebelet, keluar sendiri aja)

​Aku ngusap wajahku frustrasi. Perut bagian bawahku udah mules nggak karuan. Kalau aku nekat kencing di kasur, selain pesing, besok cewek-cewek pasti nyium baunya. Hancur lagi harga diriku di depan Lisna. Tapi kalau aku jalan sendiri ke kamar mandi... nyawaku taruhannya. Di saat kritis begini, rumah jahanam ini kembali menguji seberapa besar nyali seorang mahasiswa kere.

"Yawis, aku tak nguyuh dewe, tapi mengko nek neng kamar iki ono demite ojo njaluk tulung aku yo, Tot!" ancamku pelan, sambil nyibak selimut. (Ya udah, aku kencing sendiri, tapi nanti kalau di kamar ini ada setannya jangan minta tolong aku ya, Tot!)

​Padahal sumpah, ini murni gertakan yang dipaksakan. Modal nekat doang. Kalau sampai beneran ada dedemit yang login ke kamar ini pas aku lagi di luar, boro-boro nolongin dia, aku pasti udah lari ninggalin kontrakan telanjang kaki.

​Tapi di luar dugaan, ancaman recehku ternyata ampuh meruntuhkan mental preman Wonosarinya. Bukannya nolak atau ngelempar aku pakai guling, Gatot malah langsung bangun. Dia berdiri dengan gerakan cepat, raut wajahnya tegang campur panik.

​"Gek ndang! Rasuisui lho, ndes!" ketusnya dengan suara tertahan.
(Buruan! Jangan lama-lama lho, ndes!)

​Ternyata, membayangkan ditinggal sendirian di kamar lembab yang pojokannya ada bekas kembang setaman jauh lebih mengerikan buat Gatot daripada sekadar nganterin aku kencing.

​Sebelum keluar, aku ngasih pengarahan kilat bak komandan regu operasi khusus. Syaratnya cuma dua: Gatot harus standby berdiri persis di depan pintu kamar mandi, dan yang kedua, pintu kamar mandinya sengaja nggak boleh ditutup! Harus kebuka lebar! Bodo amat sama privasi, bodo amat senjataku dilihat jin atau masuk angin. Yang penting, kalau tiba-tiba dari bak mandi muncul tangan pucat atau ada yang manggil namaku, akses rute pelarianku seratus persen clear tanpa halangan buka-tutup engsel pintu.

​Cklek...
​Pintu kamar kami buka pelan-pelan. Hawa anyep nan dingin langsung menampar wajah kami. Aku mematung sejenak di depan pintu kamar, menatap lurus ke arah lorong belakang yang gelap. Cahaya cuma ngintip sedikit dari arah ventilasi atap dapur.

​Aku nelan ludah, membayangkan jarak tempuhnya. Di siang bolong, jarak dari kamar ini ke kamar mandi itu paling cuma lima atau sepuluh meter. Dekat banget. Tapi jam segini? Dalam kondisi rumah yang habis neror kami dengan adegan nenteng kepala? Jarak sepuluh meter itu mendadak terasa sejauh jalan kaki dari Jogja ke Magelang. Otakku malah sibuk memetakan blind spot, di mana kira-kira setan bisa sembunyi, di balik mesin cuci rusak kah, atau di sudut dapur.

​Melihatku yang malah ngfreeze kelamaan di ambang pintu, aku akhirnya menghela napas panjang meratapi nasib.

​"Ealah, gur arep nguyuh we kakean mikir," celetukku pelan, merutuki diriku sendiri. (Ya elah, cuma mau kencing aja kebanyakan mikir.)

​Gatot yang posisinya ngekor mepet banget di belakang punggungku, langsung nyahut ketus dari belakang.
​"Yo nek udu kowe yo ora to, Ris."
(Ya kalau bukan kamu ya enggak to, Ris.)

​Bener juga sih kata Gatot. Cuma gara-gara kandung kemihku yang nggak support diajak uji nyali, kami berdua harus keluar zona aman.

​Dengan napas ditahan dan langkah berjinjit mengendap-endap persis maling ayam amatiran, kami berdua akhirnya mulai berjalan menyusuri lorong menuju arah kamar mandi. Keheningan malam itu cuma dipecahkan oleh suara telapak kaki kami yang bergesekan dengan lantai keramik yang dinginnya minta ampun.

Begitu kami sampai di depan pintu kamar mandi, insting religiusku mendadak aktif maksimal. Kalau udah tersudut ketakutan begini, satu-satunya yang kuingat cuma Tuhan. Sambil melangkah masuk, bibirku komat-kamit baca doa masuk kamar mandi, nyambung ke ayat kursi, sampai niat wudhu pun kayaknya kebawa. Pokoknya semua doa yang aku hafal keluar semua.

​Sesuai kesepakatan, pintu kubiarkan terbuka lebar. Gatot berdiri tegak di ambang pintu, membelakangiku menghadap ke arah dapur yang gelap, jadi semacam bodyguard anti-demit.

​Nah, horornya tuh dimulai dari sini.
​Pas aku lagi menuntaskan hajat, suasana sepi banget. Suara pancuran air senjataku yang nabrak lantai kamar mandi malah kedengaran nyaring memecah keheningan. Biar nggak overthinking dan ngerasa takut, aku sengaja ngajak Gatot ngobrol terus. Aku ngoceh ngalor-ngidul nggak jelas.

"Tot, kowe ojo mlayu lho ya. Awas wae nek aku mbok tinggal, tak obong kasurmu," ocehku sambil nahan napas biar cepet kelar. (Tot, kamu jangan lari lho ya. Awas aja kalau aku kamu tinggal, aku bakar kasurmu.)

​"Hm," balas Gatot singkat dari luar, suaranya agak berat dan serak.

​"Sumpah, adem banget banyune. Kowe ra pengen nguyuh sisan po, Tot? Mumpung neng kene, sisan wae," tanyaku lagi, nyoba mastiin dia masih di sana. (Sumpah, dingin banget airnya. Kamu nggak pengen kencing sekalian apa, Tot? Mumpung di sini, sekalian aja.)

​"Iyo, ngko gantian," jawab Gatot lagi, nadanya datar banget. Tanpa menoleh ke belakang sama sekali. (Iya, nanti gantian.)

​Begitu tugasku selesai dan resleting udah aman terkendali, aku melangkah keluar dengan perasaan lega yang tiada tara. Plong rasanya ginjalku.

​"Dah, gantian nek kowe meh nguyuh," kataku sambil menepuk pundaknya.
​Gatot nggak ngomong apa-apa. Dia cuma nunduk, melangkah masuk ke dalam kamar mandi, lalu... cklek. Pintu kamar mandi ditariknya sampai tertutup rapat.

​Aku sempat mbatin, lho kok ditutup? Tadi katanya biar bisa langsung lari kalau ada apa-apa? Tapi ya udahlah, mungkin preman Wonosari ini emang butuh privasi ekstra.

​Karena tenggorokanku lumayan kering habis panik, aku melangkah dua langkah ke sebelah kamar mandi. Kebetulan galon air dan gelas plastik sisa kami nongkrong tadi ada di meja kecil dekat situ. Sambil minum air putih, aku nungguin Gatot.

​Satu menit berlalu. Masih wajar.
​Dua menit... tiga menit... sampai lima menit. Gatot belum keluar juga.

​Tapi dari dalam kamar mandi, suara air keran kedengaran nyala terus. Byur... byur... byur... kayak orang lagi nyiduk air pakai gayung buat nyiram WC, tapi nggak kelar-kelar. Iramanya konstan banget.

​Aku mulai agak jengkel. Ini anak ngapain sih? Jam setengah dua pagi malah asyik main air.

​"Tot! Kowe ngopo to? Adus wajib po piye?! Buang-buang banyu, asu! Ndang cepet, hawane ra uenak ki!" omelku dari luar pintu. (Tot! Kamu ngapain to? Mandi wajib apa gimana?! Buang-buang air, asu! Buruan cepet, hawanya nggak enak nih!)

​Nggak ada balasan. Cuma suara air yang terus diguyur. Byur... byur...
​Emosiku mulai naik. Rasa takutku kalah sama rasa mangkel. Tanpa ba-bi-bu, tanganku langsung menggebrak pintu kamar mandi lumayan keras, lalu memutar kenopnya yang ternyata nggak dikunci dari dalam.

​Brak! Pintu terbuka lebar.
​Mataku langsung tertuju ke arah bak mandi dan kloset. Dan detik itu juga... nafasku berhenti total.

​Kamar mandi itu kosong melompong.
​Nggak ada Gatot. Nggak ada siapa-siapa. Cuma ada gayung yang ngambang di bak air, dan air keran yang mengalir kecil.

​Lututku seketika lemas. Aku clingak-clinguk, nengok ke kanan kiri dapur yang remang-remang. Mana mungkin Gatot bisa keluar tanpa ngelewatin aku? Pintu belakang juga kekunci rapat dari tadi sore. Ke mana makhluk gempal pemakan keripik itu?!

​Di tengah kebingunganku yang mulai berubah jadi teror panik, dari arah sudut atas plafon dapur yang gelap, tiba-tiba terdengar suara yang bikin jiwaku rasanya pengen log out dari bumi.

​"Hihihihi... hihihihi..."
​Suara tawa cewek. Melengking, tipis, dan bergema pelan di sekelilingku. Nada ketawanya itu lho, persis kayak lagi ngeledek kebodohanku yang udah berhasil dikibulin dari tadi.

​"JANCOOOOK! DEMIT PEKOOOOK!"
​Aku nggak peduli lagi sama rasa haus, nggak peduli sama gelas plastik yang jatuh gelinding. Tanpa menoleh ke atas, aku putar balik dan lari sekencang-kencangnya menyusuri lorong menuju kamarku. Kakiku nyaris kepleset lantai keramik saking paniknya.

Brak! Aku menabrak pintu kamarku sendiri, menerobos masuk, lalu membanting dan mengunci pintunya dengan brutal.

​Dan pemandangan yang menyambutku di dalam kamar, sukses bikin kewarasanku benar-benar putus.
​Di atas kasur lipat kami... Gatot sedang tidur telentang. Selimutnya melilit sampai leher, mulutnya sedikit terbuka, dan suara dengkurannya mengalun stabil. Pules banget!

​Emosiku meledak. Rasa takut, marah, dan bingung campur aduk jadi satu. Aku langsung melompat ke kasur dan mengguncang-guncang tubuh Gatot dengan bringas.

​"Tangi asu! Tangi kowe Tot! Tangi ndlogok!" teriakku berbisik, memaki-maki tepat di depan mukanya. (Bangun anjing! Bangun kamu Tot! Bangun bego!)

​Gatot gelagapan. Matanya terbuka setengah, nyawanya masih terbang entah ke mana. Dia ngusap mukanya bingung ngelihat aku yang lagi ngos-ngosan dengan komuk berantakan.

​"Opo to Ris?! Kowe ki ngopo nggugah wong turu wae? Ngimpi ketemu Mita malah mbok buyarke!" protes Gatot dengan suara khas orang bangun tidur, serak dan malas. (Apa to Ris?! Kamu tuh ngapain bangunin orang tidur terus? Mimpi ketemu Mita malah kamu bubarin!)

​"Kowe sing ngopo asu! Kurang ajar tenan kowe ninggal aku dewekan neng kamar mandi! Kowe mlayu mlebu kamar lewat ngendi blok?!" cecarku, masih nyengkram kerah kaosnya. (Kamu yang ngapain asu! Kurang ajar beneran kamu ninggalin aku sendirian di kamar mandi! Kamu lari masuk kamar lewat mana blok?!)

​Mendengar tuduhanku, dahi Gatot langsung berkerut dalam. Nyawanya perlahan terkumpul, dan matanya mulai terbuka lebar menatapku dengan kebingungan yang sangat murni.

​"Ninggalin? Sopo sing ninggal? Aku lho ket mau turu neng kene, Ris! Gak obah blass seko kasur!" jawab Gatot serius, nggak ada nada bercanda sama sekali di suaranya. (Ninggalin? Siapa yang ninggal? Aku lho dari tadi tidur di sini, Ris! Nggak gerak sama sekali dari kasur!)

​Hening. Sunyi. Waktu rasanya berhenti berdetak di kamar lembab itu.

​Tanganku yang tadi mencengkeram kerah Gatot perlahan melemas dan jatuh ke kasur. Darah di seluruh tubuhku rasanya berhenti mengalir. Aku menelan ludah dengan susah payah, menatap Gatot dengan mata berkaca-kaca menahan ngeri yang teramat sangat.

​"Nek kowe ket mau turu neng kene..." suaraku bergetar, nyaris nggak terdengar. "Njuk... njuk sopo mau sing nunggoni aku nguyuh, Tot?!" (Kalau kamu dari tadi tidur di sini... terus... terus siapa tadi yang nungguin aku kencing, Tot?!)

Mendengar jawaban Gatot yang kelewat jujur dan polos itu, kakiku langsung lemes. Aku merosot duduk di lantai keramik kamar. Otakku nge-blank, loading keras memproses kenyataan absurd yang baru saja terjadi.

​Kalau Gatot dari tadi molor di kasur, terus makhluk gempal siapa yang dari tadi berdiri membelakangiku di depan pintu kamar mandi? Siapa yang aku ajak ngobrol?! Siapa yang nyautin ocehanku tadi?!

​"Ris? Kowe ngopo to?" Gatot mulai ikutan panik melihat reaksiku. Dia menyingkap selimut dan duduk bersila di depanku. (Ris? Kamu kenapa to.)

​Dengan suara gemetar dan napas yang masih putus-putus, aku nyeritain rentetan kejadian di kamar mandi barusan. Mulai dari aku yang ngoceh, Gatot yang masuk ke kamar mandi, suara air keran yang nggak berhenti, sampai ketawa ngikik cewek dari atas plafon dapur.

​Mata Gatot perlahan melebar maksimal. Preman Wonosari itu langsung menelan ludah kasar.

​"Sumpah demi Allah, Ris, udu aku! Aku lho lagi wae melek iki mau gara-gara kowe njerit-njerit!" Gatot refleks ngangkat dua jari berbentuk 'V' saking paniknya minta dipercaya. (Sumpah demi Allah, Ris, bukan aku! Aku lho baru aja melek tadi gara-gara kamu jerit-jerit!)

"Iyo, Tot, aku ngandel! Masalahe saiki, demite kuwi iso nyamar dadi kowe, Cuk! Rupane, porsi awake, tekan suarane podo plek!" balasku setengah histeris tapi suaranya kutahan sebisa mungkin. (Iya, Tot, aku percaya! Masalahnya sekarang, setannya itu bisa nyamar jadi kamu, Cuk! Mukanya, ukuran badannya, sampai suaranya sama persis!)

​Suasana kamar yang lembab itu mendadak terasa sepuluh kali lipat lebih mencekam. Kami berdua saling tatap dalam diam. Insting bertahanku aktif. Aku merangkak mundur, menjauh dari kasur dan menyenderkan punggungku ke dinding di sebelah pintu kamar. Mataku waspada menyapu seluruh sudut ruangan.

​Nah, pas aku lagi nyender dan ndongak ke atas itu... mataku menangkap sebuah pemandangan ganjil.

​Tepat di atas kusen pintu kamar kami, terselip di antara celah tembok dan kayu yang berdebu, ada sebuah benda kecil yang dibungkus kain putih usang. Bentuknya sekepalan tangan anak kecil. Itu sebuah jimat yang dibungkus kain mori, diikat kencang dengan benang merah yang warnanya sudah memudar. Posisinya benar-benar tersembunyi, nggak bakal kelihatan kalau nggak mendongak dari sudut yang pas.

​Pantas saja hawa kamar ini dari awal rasanya beda. Piring sajen kembang setaman di pojokan, ditambah jimat kain mori di atas pintu.

​Belum sempat aku ngasih tahu Gatot soal jimat itu, tiba-tiba...

​Tok... tok... tok...
​Pintu kamar kami diketuk dari luar. Pelan, tapi iramanya teratur.
​Aku dan Gatot serempak berhenti bernapas. Gatot langsung melompat dari kasur dan ikut nyender di dinding sebelahku merapat.

​"Ris..." terdengar suara dari balik pintu. Suara itu berbisik serak,persis banget sama suara Gatot. "Ris... jare meh gantian nguyuh... ayo to, Ris... kancani aku..." (Ris... katanya mau gantian kencing... ayo to, Ris... temenin aku...)

​Gatot di sebelahku langsung nutup mulutnya pakai kedua tangan, matanya berkaca-kaca menahan nangis. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan brutal ke arahku, seolah menegaskan, Itu bukan aku, Cuk! Aku di sini!

​Bener-bener Kontrakan tanah jahanam! Setan ini ngajak main games.

​Baru saja aku mau komat-kamit baca ayat kursi untuk mengusir jin copycat di luar sana, tiba-tiba terdengar suara jeritan melengking yang sangat nyaring. Suaranya bukan dari luar kamar kami, melainkan dari arah ruang tengah!

​"AAAAA!!! PERGI!!! TOLOOONG!!!"
​Itu suara Mita! Disusul jeritan panik Rahma dan Desi. Suaranya bener-bener histeris, disusul bunyi barang-barang yang berjatuhan dan dibanting.

​Brak! Prang! Aku dan Gatot tersentak kaget. Rasa takut kami pada 'Gatot palsu' di balik pintu mendadak bertabrakan dengan insting pahlawan kesiangan kami. Mereka dalam bahaya! Mita menjerit ketakutan, dan Lisna... ya Tuhan, Lisna ada di sana!

​"Tot! Cah wedok, Tot!" seruku panik.

Terdengar suara tangisan Lisna yang bikin hatiku langsung mencelos. Persetan dengan setan! Kalau sampai pujaan hatiku kenapa-napa gara-gara aku sembunyi kayak pecundang, mending aku telan galon sekalian!

​"Minggir, Tot! Bismillahirrohmanirrohim, minggat kowe demit!"

​Aku nekat menarik grendel, memutar kenop, dan membuka pintu kamar kami sekuat tenaga.

​BRAK! Pintu terbuka lebar, membentur tembok. Aku dan Gatot memejamkan mata sambil teriak serabutan, siap menerjang makhluk apapun yang ada di depan pintu. Tapi ternyata... lorong itu kosong! Setan 'Gatot palsu' itu udah hilang.

​Tanpa buang waktu, kami berdua lari terbirit-birit menuju kamar tengah. Di depan kamar itu, Jono dan Bowo ternyata juga baru keluar dari kamar depan mereka dengan muka bantal. Kami berempat saling tubruk di depan pintu kamar cewek-cewek yang masih tertutup rapat, sementara jeritan dari dalam terus terdengar sahut-sahutan.
​"Mita! Lisna! Buka pintunya!" teriakku sambil menggedor pintu dengan brutal. Situasi benar-benar kacau, horornya sudah di luar batas kendali!

Cklek. Pintu kamar tengah tiba-tiba terbuka dari dalam. ​Begitu pintu terbuka lebar, bau busuk yang luar biasa menyengat langsung menampar wajah kami berempat. Ini bukan bau karbol wangi melati kayak kemarin sore. Ini murni bau kembang kamboja yang sudah layu dicampur bau tajam kapur barus. Persis banget sama bau ruangan tempat memandikan mayat yang siap dikafani. Perutku langsung mual.

​Di sudut kamar, Mita, Lisna, dan Rahma saling berpelukan erat sambil menangis histeris. Mereka menunjuk ke arah tengah kasur dengan tangan gemetar parah.

​Di sana, Desi si cewek tomboy yang biasanya paling berani dan bar-bar, duduk bersila dengan kepala menunduk. Rambutnya yang sebahu menutupi wajahnya, bajunya berantakan. Tapi bahunya bergetar hebat. Dari mulutnya, perlahan keluar suara tawa tipis, melengking, dan panjang banget.

​Hihihihihi... hihihihihihi...
​Tawanya bergema, mengisi seluruh sudut kamar yang pengap itu. Bulu kudukku bukan cuma berdiri, tapi rasanya kayak mau rontok semua.

Suara itu persis dengan tawa cewek yang ngeledek aku di kamar mandi tadi! Desi kesurupan kuntilanak.

​Jono dan Bowo refleks mundur, saking takutnya mereka sampai nabrak kusen pintu. Aku sendiri kaku, rasanya nyawaku ditarik paksa. Belum sempat kami bereaksi atau nolongin cewek-cewek yang lain, Desi tiba-tiba mendongak. Matanya melotot tajam, bagian putihnya mendominasi, dan senyumnya menyeringai lebar.

​Dalam sekejap mata, tubuh Desi melompat dari kasur dengan kelincahan yang di luar nalar manusia normal. Dia menerobos kami berempat yang berdiri mematung di depan pintu, berlari kencang menyusuri lorong menuju arah dapur dan pintu belakang.

​"Desi! Mau ke mana?!" teriak Rahma panik, langsung lari menyusul sambil terisak, yang otomatis bikin kami semua ikut mengejar.

​Kami mengejarnya sampai ke pintu belakang yang ternyata sudah terbuka. Hujan di luar masih rintik-rintik, membasahi pekarangan kebon kosong milik Pak Bambang yang penuh pohon pisang dan bambu rimbun.

​Di tengah kebon yang berlumpur dan gelap gulita itu, pemandangan sinting tersaji di depan mata kami. Desi menari-nari. Gerakannya patah-patah tapi luwes, tangannya melenggok ke kanan dan ke kiri seperti penari, tapi dengan tempo yang aneh dan sangat mengerikan. Tawanya makin kencang, suaranya sampai serak beradu dengan suara rintik hujan.

​Gatot yang biasanya sok jagoan, sekarang cuma bisa berdiri kaku di ambang pintu belakang, bibirnya bergetar parah nyebut nama Tuhan.

​Tiba-tiba, tarian Desi berhenti. Tubuhnya ambruk, berlutut di atas kubangan tanah lumpur yang basah. Dan yang bikin kami semua nyaris jantungan, tangannya mulai mengeruk tanah becek itu. Tanpa jeda, dia memasukkan segenggam penuh tanah lumpur basah itu ke dalam mulutnya dan mengunyahnya dengan rakus.

​"Ya Allah, Desi! Jangan dimakan, Des!" Lisna menjerit histeris. Dia nyaris lari ke tengah hujan tapi langsung kutahan lengannya kuat-kuat. Terlalu bahaya mendekati orang kesurupan yang lagi lepas kendali di kebon gelap begitu.

​Sambil masih mengunyah tanah, kepala Desi perlahan menoleh ke arah kami. Mulutnya belepotan lumpur. Matanya menatap kami satu per satu dengan kilat amarah dan kebencian yang sangat pekat.

​Lalu, dengan suara serak dan berat, suara yang benar-benar bukan suara Desi, sosok yang merasuki tubuhnya itu berteriak lantang menembus derasnya hujan.

​"KOE SING LUNGO, OPO BOCAH IKI SING MATI!!!" (Kamu yang pergi, atau anak ini yang mati!!!)

​Suaranya menggelegar, langsung menusuk ulu hati kami. Ancaman itu benar-benar nyata dan ditujukan langsung ke kami semua. Rumah ini mengusir kami paksa, dengan nyawa teman kami sebagai jaminannya.

Detik berikutnya, mata Desi berputar ke atas. Tubuhnya kejang sesaat sebelum akhirnya ambruk sepenuhnya, jatuh tengkurap dan pingsan di tengah kubangan lumpur kebon belakang.

​Keadaan langsung keos total. Tangisan Mita dan Rahma makin pecah. Tanpa peduli lagi sama demit atau hawa dingin, insting kemanusiaan kami bergerak. Aku dan Gatot langsung lari menembus hujan, mengangkat tubuh Desi yang basah kuyup dan anehnya terasa sangat berat, melebihi bobot aslinya.

​Dengan susah payah, dibantu Bowo dan Jono yang menahan pintu, kami membopong Desi masuk dan membaringkannya di atas karpet ruang tengah. Suasana rumah jahanam ini benar-benar histeris.

​Rahma dan Lisna langsung sibuk ngelapin muka Desi yang penuh tanah basah pakai tisu. Mita lari ke dapur ngambil segelas air putih. Jono sibuk mijitin jempol kaki Desi sekuat tenaga, sementara Bowo ngolesin minyak kayu putih banyak-banyak ke hidung, leher, dan perutnya. Aku cuma bisa berlutut di dekat kepalanya, komat-kamit baca ayat kursi dengan suara bergetar, berharap sosok keparat itu benar-benar sudah melepaskan tubuh Desi.

​Setelah nyaris sepuluh menit kami mencoba segala cara dalam kepanikan yang luar biasa, jari-jari tangan Desi mulai bergerak pelan. Kelopak matanya bergetar, lalu terbuka perlahan.

​"Des... Desi?" panggil Rahma sambil sesenggukan.

​Desi mengerjap-ngerjapkan matanya, linglung. Dia melihat ke langit-langit, lalu menatap kami satu per satu dengan wajah kebingungan. Sedetik kemudian, dia mulai batuk-batuk, memuntahkan sisa-sisa tanah basah dan lumpur yang menyangkut di tenggorokannya. Rasanya ngilu sekaligus ngeri melihatnya.

​"Uhuk... hoekk... a-aku... aku kenapa? kok bajuku basah kotor semua?" suara Desi lemah, raut wajahnya mulai berubah ketakutan saat menyadari kondisinya sendiri.

​Melihat temannya sudah kembali sadar, Lisna dan Mita langsung menerjang, memeluk Desi erat-erat. Tangisan mereka meledak bersamaan. Desi yang awalnya masih bingung, perlahan ikut menangis histeris. Dia membalas pelukan teman-temannya erat sekali, seolah jiwa aslinya tahu ada sesuatu yang sangat ngeri baru saja mengambil alih raganya, meskipun dia tidak ingat kejadiannya.

​Malam itu, nggak ada yang berani kembali ke kamar. Kami berdelapan duduk di ruang tengah, beralaskan karpet dan diterangi satu lampu bohlam. Cewek-cewek saling berpelukan menangis, dan kami berempat para cowok cuma bisa tertunduk memandangi lantai dengan pikiran yang hancur berkeping-keping.

​Nggak ada lagi yang berani tidur, nggak ada lagi candaan pekok atau asupan pemandangan indah. Bau kapur barus dan kamboja itu masih tertinggal samar di udara, mengunci kewarasan kami.

​Malam itu resmi ditutup sebagai kejadian paling horor, paling sinting, dan paling traumatis yang pernah kami alami seumur hidup. Kalimat ancaman dari sosok di kebon tadi terus berulang-ulang di kepalaku. Kontrakan ini bukan sekadar murah, ini jebakan. Demit di Kontrakan jahanam ini nggak main-main, mereka benar-benar menginginkan nyawa. Kayaknya.

Di tengah isak tangis dan napas kami yang masih ngos-ngosan, tiba-tiba dari arah pintu dapur belakang terdengar suara ketukan.

​Tok... tok... tok...
​"Kulonuwun, Mas."

​Seketika, ruang tengah yang tadinya penuh suara isak tangis langsung senyap. Hening sehening-heningnya. Kami berdelapan kicep, mematung. Tangis cewek-cewek langsung tertahan. Mataku, Jono, Bowo, dan Gatot saling lirik. Setan apa lagi ini yang ngetuk pintu belakang?! Masa kuntilanaknya bawa bekingan?!

​Tok... tok... tok...
​"Mas... iki aku Mbah Kardi. Eneng opo, Mas, kok bengok-bengok wengi-wengi?" (Mas... ini aku Mbah Kardi. Ada apa, Mas, kok teriak-teriak malam-malam?)

​Mendengar nama "Mbah Kardi" disebut, nyawa kami yang tadi udah di ujung tanduk rasanya ditarik balik masuk ke raga.

Plong! Itu lho, kakek-kakek tetangga belakang rumah yang kemarin bikin geger gara-gara ngerebus air blanggreng! Kami berempat langsung menghembuskan napas lega berjamaah.

Alhamdulillah, manusia! ​Tapi... kelegaan itu cuma bertahan tiga detik. Detik keempat, otakku mulai merespons realita sosial.

​Mati aku. Jam segini. Di dalam rumah ada empat cewek. Kalau warga sampai salah paham, ini namanya ngundang penggerebekan! Mending digerebek warga terus dinikahin paksa sama Lisna sih aku ikhlas lahir batin, lha kalau digebukin warga sampai bonyok terus diusir dari kontrakan? Uang 8 juta lenyap, besok tidur di kolong jembatan flyover Janti dong!

​"Cuk, pie kyeh? Alesane opo eneng cah wedok jam semene?!" bisik Jono panik. (Cuk, gimana nih? Alasannya apa ada anak cewek jam segini?!)

​Karena otakkku udah terlalu capek buat mikir skenario kebohongan yang masuk akal, aku mutusin buat pasrah. Bodo amat dicurigai kumpul kebo, daripada kami mati konyol diganggu demit.

​"Wis, meneng kabeh. Tak hadepi Mbah Kardi," kataku sambil berdiri dan melangkah gontai ke arah dapur belakang.

​Aku membuka slot pintu kayu itu pelan-pelan. Cklek.

​Di luar, berdiri Mbah Kardi pakai sarung kotak-kotak dan kaos oblong putih gambar partai yang udah kusam, tangannya memegang senter warna kuning. Wajah sepuhnya kelihatan khawatir.

​"Ono opo to, Le? Kok bengkak-bengok koyo ono sing kesurupan, Mbah krungu seko omah mburi," tanya Mbah Kardi sambil menyorotkan senternya pelan ke arah dalam dapur. (Ada apa to, Nak? Kok teriak-teriak kayak ada yang kesurupan, Mbah dengar dari rumah belakang.)

​Pertahanan mentalku langsung bobol ngelihat sosok sepuh yang menenangkan ini. Tanpa ba-bi-bu dan mikir panjang, aku langsung nyerocos menceritakan semuanya. Jujur sejujur-jujurnya. Nggak ada yang ditutup-tutupin demi damage control.

Aku ngomong ngos-ngosan nyaris mau nangis. ​Mbah Kardi mendengarkan curhatanku dengan tenang. Nggak ada raut kaget, nggak ada raut marah atau curiga ngomel-ngomel soal kami bawa masuk cewek. Beliau cuma manggut-manggut pelan sambil ngebenerin lipatan sarungnya, sesekali matanya melirik ke arah pekarangan gelap di sebelah rumah.

​Setelah ceritaku selesai dan aku ngambil napas panjang, Mbah Kardi cuma nanya satu kalimat. Suaranya pelan, datar, tapi sukses bikin otakku langsung connecting the dots.

​"Kancamu sing wedok kuwi... lagi datang bulan po, Le?" (Temenmu yang cewek itu... lagi datang bulan ya, Nak?)

​Deg.
​Pertanyaan Mbah Kardi ibarat kunci jawaban dari semua soal ujian yang bikin otak kami error dari tadi.

​Aku terdiam, menganga sedikit. Dalam tradisi dan urban legend Jawa yang sering aku dengar dari kecil, cewek yang lagi 'kotor' atau datang bulan itu ibarat mercusuar buat makhluk halus. Bau darah menstruasi, apalagi kalau pembalutnya nggak dibersihkan dengan benar atau dibuang sembarangan, itu konon katanya paling disukai sama demit-demit kasta bawah kayak kuntilanak.

​Pantesan dari kemarin terornya cuma sebatas suara-suara dan penampakan numpang lewat, tapi begitu malam ini para cewek ini nginep, setannya langsung ngamuk brutal sampai ada adegan hardcore makan tanah lumpur! Pemicunya ternyata bukan cuma karena kami pekok, tapi karena ada tamu tak kasat mata yang terpancing aroma kedatangan bulan dari salah satu cewek itu.

"Nggih Mbah, mriki pinarak rumiyin," (iya mbak, sini masuk dulu) kataku sambil mempersilakan Mbah Kardi masuk. Rasanya kayak kedatangan bantuan back-up bintang lima di tengah kepungan zombi.

Begitu Mbah Kardi melangkah masuk ke ruang tengah, hawa yang tadi sesak dan bau kamboja perlahan mulai netral, berganti bau tembakau lintingan khas kakek-kakek.
​Mbah Kardi langsung mengambil kendali. Beliau menatap Desi yang masih lemas dengan tatapan yang sulit diartikan.

​"Nduk, kancamu iki gowonen neng jedhing disik. Resikono awaké," perintah Mbah Kardi ke Rahma, Mita, dan Lisna. (Nduk, temanmu ini dibawa ke kamar mandi dulu. Bersihkan badannya dulu.)

Dengan sisa tenaga dan air mata, ketiga cewek itu membopong Desi ke kamar mandi belakang. Kami berempat cuma bisa berdiri kaku di ruang tengah, nggak berani bantu karena ya... sungkan juga kalau harus masuk kamar mandi bareng mereka dalam kondisi begitu.

​"Le, jupukne banyu putih," kata Mbah Kardi padaku.

​Aku lari ke dapur secepat kilat, ngambil air galon di gelas plastik. Begitu aku balik, Desi udah selesai dibersihkan dan dibawa duduk lagi di karpet.

​Mbah Kardi menerima gelas itu, lalu mulai komat-kamit. Mulutnya bergerak cepat tapi nggak ada suara yang keluar. Kami berempat, aku, Jono, Bowo, dan Gatot, ngeliatin dengan khusyuk. Baru saja Mbah Kardi mau nyodorin gelas itu ke bibir Desi, tiba-tiba...

​KRAAAK!
​Leher Desi berbunyi kencang kayak ranting patah. Kepalanya mendongak patah-patah, matanya melotot putih semua, dan seringai mengerikan itu balik lagi.

​"HIHIHIHI! ORA SUDI!!!" teriaknya dengan suara melengking yang bikin telingaku pengang.

​"Cepet cekeli bocah iki! Ojo nganti ucul!" seru Mbah Kardi lantang.
(Kalian berempat! Pegangi anak ini! Jangan sampai lepas!)

​Kami berempat langsung menyerbu. Aku megangin tangan kanan, Jono tangan kiri, Gatot meluk kakinya yang nendang-nendang brutal, dan Bowo nahan pundaknya. Sumpah, badan Desi yang kecil itu mendadak punya kekuatan kayak kuli panggul pasar! Kami berempat sampai kewalahan, terseret-seret di atas karpet.

​Desi yang kerasukan itu menatap Mbah Kardi dengan kebencian luar biasa. Tangannya yang aku pegang berusaha menggapai-gapai wajah Mbah Kardi. Telunjuknya menunjuk tepat ke hidung Mbah Kardi.

​"PILIH BOCAH IKI MATI, OPO KOE..." suaranya berat, bikin jantungku mau copot. "OPO KOE SIK LUNGO SEKO KENE!!!" (Pilih anak ini mati, atau kamu... atau kamu yang pergi dari sini!!!)

​Mbah Kardi? Beliau cuma diam. Tenang banget. Nggak ada rasa takut sedikit pun di wajah keriputnya. Beliau seolah tahu kalau itu cuma gertakan biar beliau pergi. Mbah Kardi nggak menjawab sepatah kata pun. Beliau malah makin intens komat-kamit, tangannya memegang gelas air tadi dengan sangat erat.

​Suasana makin mencekam. Lampu ruang tengah tiba-tiba kedap-kedip. Angin kencang masuk dari celah jendela padahal sudah ditutup. Desi terus meronta, misuh-misuh pakai bahasa Jawa yang kami nggak paham artinya.

​Tiba-tiba, Mbah Kardi berhenti komat-kamit. Beliau menarik napas panjang, lalu...

​BYAARR!
​Air di gelas itu dicipratkan langsung ke wajah Desi dengan gerakan mantap.

​"ALLAHU AKBAR! MINGGATO!!!" teriak Mbah Kardi.

​Desi menjerit. Suaranya bukan lagi suara manusia, tapi teriakan melengking yang menyayat hati, persis kayak suara hewan yang lagi disiksa. Tubuhnya kejang-kejang hebat di bawah pegangan kami, lalu tiba-tiba... pluk.

​Desi lemas seketika. Kepalanya terkulai di bahu Bowo. Sosok itu sudah keluar.

​Bau busuk dan hawa dingin itu mendadak hilang, berganti hawa hangat yang aneh. Mbah Kardi menghela napas panjang, meletakkan gelas kosong di lantai, lalu mengusap wajahnya.

​"Wis... wis metu," kata beliau pelan. (Sudah... sudah keluar.)

​Kami berempat melepaskan pegangan dengan lemas. Gatot langsung terduduk sambil ngatur napas, Jono nyeka keringat di dahinya. Cewek-cewek yang lain langsung mendekat, nangis sambil melukin Desi yg pingsan lagi.

​Mbah Kardi berdiri, membetulkan sarungnya, lalu menatap kami berempat dengan serius.

​"Le, kowe cah papat ojo turu. Jogo kancamu wedok-wedok iki tekan subuh. Ojo dipisah, kumpul neng kene kabeh," pesan Mbah Kardi tegas. (Nak, kalian berempat jangan tidur. Jaga temanmu cewek-cewek ini sampai subuh. Jangan dipisah, kumpul disini semua)

"Sajen neng mburi wis tak gowo. Mengko nek wis subuh, bocah wedok-wedok iki kon bali wae. Omah iki pancen lagi 'panas'." (Sajen di belakang sudah aku bawa. Nanti kalau sudah subuh, anak2 perempuan ini suruh pulang saja. Rumah ini memang lagi 'panas'.)

​Setelah Mbah Kardi pamit lewat pintu belakang, kami berdelapan nggak ada yang berani gerak dari ruang tengah. Kami duduk, melindungi cewek2 di tengah.

Malam itu, kami benar-benar jadi penjaga paling siaga sedunia. Sambil nunggu subuh, nggak ada obrolan mesum, nggak ada candaan pekok. Kami cuma bisa saling diam dalam ketegangan, menatap setiap sudut ruangan yang gelap, sambil nunggu cahaya matahari datang buat mengakhiri malam paling horor dalam hidup kami di kontrakan tanah jahanam ini.

Sebesar apapun tekad kami buat melek jago seperti pesan Mbah Kardi, yang namanya manusia biasa pasti ada batasnya. Setelah ketegangan yang nguras fisik dan mental semalaman, nyatanya kami berdelapan tepar berjamaah di atas karpet ruang tengah. Nggak ada yang sadar kapan pastinya kami tertidur, tahu-tahu sinar matahari pagi udah terik menembus jendela kaca nako.
Kami bangun kesiangan.

​Pagi itu suasananya canggung campur melas. Muka cewek-cewek masih pada sembab. Desi apalagi, dia cuma diam peluk lutut, masih trauma berat habis dipakai 'numpang cosplay' sama demit. Saking takutnya kalau harus balik dan ditinggal sendirian di kos, Rahma akhirnya buka suara, mewakili teman-temannya minta izin buat stay di kontrakan kami sampai kondisi Desi benar-benar stabil.

​Jujur aja nih, di dalam hati kecil kami, para buaya kurang gizi ini langsung sujud syukur nyium lantai. Rejeki nomplok dari mana coba bisa satu atap bareng empat cewek kampus?

Otak mesum Jono dan Bowo bahkan udah ngebayangin hal-hal pekok, kelihatan dari senyum mereka yang ditahan-tahan biar nggak kelihatan kegirangan.

​Tapi ya, namanya juga hidup bersosial di kampung orang. Senang sih senang, tapi kami sadar diri. Empat cowok dan empat cewek satu atap berhari-hari itu secara hukum adat namanya ngundang penggerebekan satpol PP jalur laporan warga. Kami takut banget di cap jelek atau difitnah kumpul kebo.

​Untungnya, setelah kami sowan sebentar ke rumah Pak RT ditemani Mbah Kardi buat ngejelasin kondisi darurat ini, tanggapan mereka bener-bener di luar dugaan. Kampung sini warganya top cer, mereka bisa ngerti dan mentolerir karena ini murni urusan musibah mistis, bukan niat maksiat.

​"Alhamdulillah, aman Cuk. Gak sido diarak keliling kampung," bisikku lega ke Gatot pas kami jalan balik ke kontrakan. (Alhamdulillah, aman Cuk. Nggak jadi diarak keliling kampung.)

​Karena urusan perizinan udah beres, muncul masalah baru. Cewek-cewek ini butuh baju ganti dan peralatan mandi. Dengan sigap dan penuh pesona pahlawan kesiangan, aku langsung mengajukan diri jadi relawan dadakan buat ngambilin barang-barang mereka di kosan.

​"Biar aku yang temenin Aris ya. Kasihan kalau dia nyariin baju kita sendiri, ntar malah bingung," sahut Lisna tiba-tiba, sambil beranjak berdiri.

​Dengar Lisna ngomong gitu, jantungku langsung jump start. Jono, Bowo, dan Gatot serempak menatapku dengan tatapan iri dengki tingkat dewa. Aku cuma bisa nyengir sok cool, lalu minjam kunci motor maticnya Jono.
Perjalanan dari kontrakan kami ke daerah kos-kosan Lisna sebenarnya nggak jauh-jauh amat, paling cuma lima belas menit. Tapi siang itu, di atas motor matic Jono yang spionnya agak oblak, aku merasa jadi cowok paling beruntung se-Jogja Raya.

​Awalnya kami cuma diam. Lisna duduk di belakang, tangannya cuma pegangan ujung behel motor. Angin siang yang sepoi-sepoi membawa aroma parfum vanilla dari rambutnya, sesekali menyapu wajahku. Bikin mabuk kepayang, Bos!

​"Ris..." panggil Lisna setengah berteriak ngelawan suara angin.

​"Ya, Lis? Kenapa? Aku bawa motornya kekencengan ya?" balasku sambil menoleh sedikit ke belakang. Padahal sumpah, kecepatanku cuma 30 km/jam! Sengaja pelan-pelan biar durasi boncengannya makin lama.

​"Enggak kok..." suaranya melembut.
​Tiba-tiba, aku merasakan kedua lengan Lisna maju melingkari perutku. Dia memelukku dari belakang! Nggak cuma itu, dia menyandarkan sisi wajahnya tepat di punggungku. Sentuhannya hangat banget, sukses bikin senyumku merekah lebar sampai nyaris robek ini pipi.

"Makasih ya, Ris..." bisik Lisna pelan, tapi suaranya kerasa jelas di punggungku. "Makasih udah mau repot. Aku nggak tahu bakal gimana jadinya kalau nggak ada kalian."

​Aku salting brutal! Tanganku yang megang stang motor sampai agak gemetar saking deg-degannya. Perutku rasanya kayak ada ribuan kupu-kupu yang lagi pada tawuran.

​"E-eh... santai aja, Lis. Udah tugasnya cowok buat ngelindungin kalian kok. Kan aku juga udah bilang, anggep aja kontrakan itu rumah sendiri, biarpun setannya agak kurang ajar dikit," jawabku sekenanya, berusaha melawak buat nutupin suara detak jantungku yang mungkin kedengaran sampai ke belakang.

​Lisna tertawa kecil, pelukannya di perutku malah makin erat. "Kamu tuh ya, masih bisa-bisanya bercanda."

​Siang itu, jalanan aspal Jogja yang panas rasanya berubah jadi sejuk. Teror setan menguap hilang dari kepalaku. Digantikan dengan kehangatan pelukan Lisna dari belakang.

​Saking nikmatnya momen romantis itu, aku sempat mbatin, "Nek ngene carane, tiap dino diteror pocong yo aku ikhlas lilo legowo, asalkan imbalane dibonceng peluk Lisna koyo ngene." (Kalau begini caranya, tiap hari diteror pocong ya aku ikhlas pasrah, asalkan imbalannya dibonceng peluk Lisna kayak gini.)

Sumpah, yang namanya laki-laki normal, dikasih treatment pelukan erat dari belakang sama cewek kampus tuh bukan cuma bikin hati doang yang jedag-jedug. Ada organ lain yang ikut merespons tanpa bisa dikompromi.

​Gini ya, posisi jok motor matic Jono itu kan agak nungging ke belakang. Otomatis, pas Lisna meluk perutku erat-erat, badannya maju ke depan. Dan dampaknya? Dua 'gunung kembar' milik Lisna yang dari pagi sukses bikin mataku jelalatan itu, sekarang nempel dengan sangat presisi, padat, dan full cover di gegerku (punggungku)!

​Setiap kali motor ngelewatin polisi tidur atau jalanan aspal yang agak keriting, gesekan demi gesekan halus itu terjadi. Ya Allah... cobaan macam apa ini?! Niat hati mau jadi pahlawan relawan, malah diuji pakai simulasi surga dunia.

​Otakku berusaha keras mikirin hal-hal sedih biar netral.Tapi gagal total! Wangi Lisna dan empuknya 'sandaran' di punggungku ini terlalu overpower.
​Alhasil, 'senjata masa depanku' yang lagi anteng di dalam celana kolor mendadak standing party. Tegang parah boss!

​Aku mulai keringat dingin dan banyak polah. Dudukku jadi nggak tenang. Geser kanan, geser kiri, majuin pantat mepet ke ujung jok depan biar senjataku ini punya ruang buat napas dan nggak terlalu ketara.

​"Ris? Kamu kenapa? Joknya nggak nyaman ya?" tanya Lisna polos dari belakang, kepalanya masih bersandar di pundakku.

​"E-eh... nggak kok, Lis. Ini... anu, celanaku agak nyelempit dikit, hehe," balasku ngeles.

Dalem hati aku misuh-misuh sendiri. Asu, iso edan aku nek dalane isih adoh. (Bisa gila aku kalau jalannya masih jauh.)

​Aku sengaja bawa motor pelan banget. Tiap mau ngerem, aku tarik tuas remnya sehalus mungkin, takut dikira cowok mesum yang sengaja cari kesempatan dalam kesempitan. Padahal ya... dalam hati sih menikmati banget. Ndlogok emang.

​Syukurlah, siksaan nikmat itu berakhir saat kami sampai di kosan cewek-cewek itu. Kebetulan banget, mereka berempat ini ngekos di satu bangunan yang sama, kamarnya deretan. Jadi Lisna nggak perlu repot muter-muter beda alamat.

Begitu motor berhenti, Lisna langsung turun. ​"Aku masuk dulu ya, Ris. Kamu tunggu sini aja, paling sepuluh menitan aku pilihin baju buat anak-anak," kata Lisna sambil bergegas masuk ke gerbang kos.

​Aku cuma bisa ngangguk cepat sambil posisi duduk agak membungkuk ke depan. Sumpah, butuh waktu sekitar lima menit sambil narik napas panjang buat 'menidurkan' kembali pasukanku yang sempat berontak tadi.

​Sekitar lima belas menit kemudian, Lisna keluar bawa dua tas tote bag besar isi baju ganti, handuk, dan alat makeup seadanya punya dia, Rahma, Mita, dan Desi. Aku buru-buru turun ngebantuin naruh tas itu di dek depan motor matic.

"Udah semua, Lis?" tanyaku, sudah kembali ke mode cowok normal.

​"Udah, Ris. Yuk, balik. Kasihan anak-anak pasti nungguin," jawab Lisna sambil kembali naik ke boncengan.

​Tapi sebelum aku ngegas motor, perutku tiba-tiba bunyi krucuk-krucuk nyaring banget. Saking tegangnya dari semalam sampai siang ini, kami semua lupa sarapan. Lisna yang dengar suara perutku langsung ketawa kecil.

​"Laper ya?" godanya manis banget. "Sama, aku juga. Mampir beli makan dulu yuk, sekalian beliin buat anak-anak di kontrakan. Tuh, di depan jalan besar arah balik ada mie ayam legendaris Jogja. Kita beli itu aja ya dibungkus?"

​"Wah, Mie Ayam Tumini po? Boleh banget kuwi, Lis! Tapi..." aku garuk-garuk kepala, nyaliku ciut lagi inget saldo. "Uangku..."

​Lisna langsung nyentil pelan lenganku dari belakang. "Kan aku udah bilang, urusan logistik kita yang cover. Kamu sama temen-temenmu kan udah ngasih bantuin kita. Anggap aja ini bayarannya."

​Bidadari tanpa sayap emang nyata adanya, Kawan. Kami pun mampir ke warung mie ayam legendaris yang antrenya selalu mengular itu. Bau kuah kentalnya yang manis gurih khas Jogja langsung bikin cacing di perutku pada dangdutan. Lisna memesan delapan bungkus mie ayam ceker super komplit plus es teh plastikan.

​Melihat Lisna asyik ngeluarin uang pecahan seratus ribu dari dompetnya buat bayar makanan kami semua, aku berjanji dalam hati, kalau suatu saat aku udah sukses, Lisna bakal jadi cewek pertama yang aku ajak makan di restoran all you can eat paling mahal se-Jogja. Tapi buat sekarang... ngemper makan mie ayam gratisan dibayarin cewek pujaan hati udah kerasa kayak nikmat Tuhan yang paling agung.

Setibanya di kontrakan, rumah yang tadinya kerasa kayak markas sekte aliran sesat ini mendadak berubah jadi lumayan adem. Tiga kantong kresek isi delapan porsi Mie Ayam Tumini langsung aku taruh di tengah ruang tamu.

​Satu per satu cewek itu bergantian masuk kamar mandi buat bersih-bersih dan ganti baju. Bau anyep kamboja dan kapur barus perlahan kalah telak sama wangi sabun mandi cair dan sampo floral yang menguar dari kamar mandi.

​Setelah ritual bersih-bersih selesai, mereka berempat keluar dan duduk melingkar mengelilingi bungkusan mie ayam.

Nah, di momen inilah tabir misteri kehidupan kampus terkuak. Untuk pertama kalinya, kami berempat melihat wajah asli mereka ini tanpa filter bedak, tanpa lip tint, tanpa pensil alis, dan tanpa skincare tebal. Murni bare face!

​Jujur, ternyata realitanya nggak sesempurna di Instagram. Rahma ternyata punya mata panda yang lumayan gelap. Mita punya jerawat di pipi. Lisna pucat banget bibirnya kalau nggak pakai lipstik. Desi apalagi, wajahnya masih sayu sisa kesurupan semalam.

​Melihat pemandangan itu, Gatot si mulut tanpa rem blong yang lagi ngaduk mie ayamnya, tiba-tiba nyeletuk santai.

​"Wkwkwk, dandanane neng kampus kemlinthi, jebul nek ra nggo make-up yo tetep rupo-rupo ndeso," celetuk Gatot sambil ngunyah pangsit.

(Wkwkwk, dandanannya di kampus gaya banget, ternyata kalau nggak pakai make-up ya tetep muka-muka ndeso/kampungan.)

​Mendengar itu, bukannya tersinggung, Rahma, Desi, Mita, dan Lisna malah ngakak berjamaah. Rahma bahkan sampai ngelempar gulungan karet gelang mie ayam ke muka Gatot.

​"Sialan lu, Tot! Namanya juga cewek, wajar dong! Daripada muka lu, pakai bedak bayi aja malah mirip adonan mendoan basi!" balas Rahma sambil tertawa lepas.

​Suasana bener-bener cair. Ketegangan horor semalam menguap total tergantikan oleh tawa renyah, kuah mie ayam yang kental, dan obrolan receh.

Setelah makan siang yang agak kesorean itu selesai, Jono, Bowo, dan Gatot, yang perutnya udah kenyang dan butuh asupan nikotin, beranjak ke teras depan buat sebat (udud).

Sementara aku, karena kebetulan terakhir selesai makan, milih stay di dalam buat beresin plastik sampah sisa mie ayam dan gelas es teh.

Di ruang tengah, empat cewek itu lagi duduk nyantai senderan ke tembok. ​Nah, pas aku lagi ngiket kresek sampah, Desi tiba-tiba berdiri. Tapi baru aja dia tegak, badannya langsung oleng. Kakinya lemas, dan dia nyaris ambruk ke depan.

​"Eh, Des!"

​Insting refleksku jalan. Aku langsung melompat maju dan menangkap lengan Desi sebelum dia nyium keramik. Karena badannya masih bener-bener nggloyori (sempoyongan) dan lemas banget sisa dikuras tenaganya sama demit semalam, aku spontan ngerangkul bahu dan pinggangnya erat-erat biar dia bisa berdiri tegak.

​"Aduh, kepalaku masih muter banget, Ris. Mau numpang pipis ke belakang," keluh Desi dengan suara lemah, kepalanya nyender ke dadaku saking lemasnya.

​"Pelan-pelan, Des. Sini aku papah sampai depan pintu kamar mandi," balasku, murni karena kasihan. Nggak ada niat mesum sama sekali, sumpah!

​Aku pun memapah Desi pelan-pelan menyusuri lorong menuju kamar mandi. Tapi... di ujung mataku, aku sempat menangkap sesuatu. Lisna. Dia lagi duduk bersila, tapi matanya menatap tajam ke arah tanganku yang melingkar erat di pinggang dan bahu Desi. Senyum Lisna mendadak luntur, digantikan raut wajah datar yang terkesan dingin. Dia langsung buang muka dan pura-pura sibuk main HP.

​Waduh. Radarku langsung bunyi.
​Setelah nungguin Desi di luar kamar mandi dan memapahnya kembali duduk di karpet bareng teman-temannya, aku berniat nyusul Jono, Bowo, dan Gatot ke teras depan buat sebat.

​Aku melangkah ke arah pintu utama. Kebetulan banget, Lisna berdiri dari duduknya, mau jalan ke arah dapur bawa gelas kosong. Rute kami berpotongan. Lorong ruang tamu lumayan sempit.

​Saat kami berpapasan, bahu kami hampir bersentuhan. Lisna nggak menoleh ke arahku sama sekali, matanya lurus ke depan. Tapi, saat jarak kami tinggal sejengkal, dia memiringkan kepalanya sedikit ke arahku, dan berbisik pelan dengan nada yang super sinis dan dingin.

​"Desi cantik ya, Ris?"

​Deg!
​Langkahku langsung berhenti total. Jantungku kayak dikagetin suara klakson tronton. Aku refleks menoleh ke arah Lisna.

​"Eh? L-Lis, maksudnya?" tanyaku gelagapan.

​Lisna berhenti sebentar. Dia menoleh ke arahku, menaikkan sebelah alisnya. Komuknya bener-bener perpaduan antara cemberut, kesal, dan jutek. Tatapannya itu lho... tajem banget, beda drastis sama tatapan lembut pas dia meluk aku di atas motor tadi siang.

​Dia nggak jawab pertanyaanku. Lisna cuma mendengus pelan, lalu memalingkan wajah dan melenggang pergi meninggalkanku menuju dapur tanpa dosa.

​Aku mematung di tengah ruangan. Mulutku setengah mangap, otakku buffering memproses kejadian barusan.

​Cewek incaran barusan nanya "Desi cantik ya?" dengan muka jutek habis aku ngerangkul cewek lain. Sialan! Lisna cemburu?! Beneran cemburu?!
​Antara kaget, bingung, salting, dan girang kegirangan campur aduk jadi satu di dadaku. Kalau aja nggak ingat di dalam masih ada cewek-cewek lain, pengen rasanya aku salto dari ruang tengah sampai teras depan saking senengnya.

Horor rumah ini ternyata bawa berkah asmara yang nggak terduga buat pria kasta bawah sepertiku!

Langkahku yang tadinya udah mau nyampe pintu depan mendadak rem blong. Batal! Otak dan kakiku sepakat buat putar balik. Mana bisa aku nyebat santai di luar kalau di dalam ada Lisna yang lagi cemburu? Ini momen langka yang mungkin cuma terjadi sekali seumur hidup buat mahasiswa kere macam aku!

​Aku berbalik, mengendap-endap menyusul Lisna yang lagi nyuci gelas plastik di wastafel dapur. Suasana dapur sepi, cuma kedengeran suara air keran mengalir kecil dari luar.

Aku bersandar di kusen pintu dapur, melipat tangan di dada sok cool (padahal jantung udah mau koprol).

​"Ehem..." aku berdeham pelan, memecah keheningan.

Lisna menoleh, kaget ngelihat aku ngikutin dia. Mukanya masih ditekuk, bibirnya agak manyun. Gemes banget sumpah, pengen tak bungkus bawa pulang ke kampung.

​"Cemburu yo, Lis?" godaku terang-terangan, sambil masang senyum tengil yang paling menyebalkan.

​Lisna mematung sebentar. Matanya membesar lucu. Bukannya ngeles atau buang muka, dia malah naruh gelas yang baru dicucinya dengan agak kasar, lalu berjalan cepat menghampiriku.

​Belum sempat aku bereaksi, tangan kanannya melayang dan...
​Pletakk! Bukan nampar, tapi jari telunjuk dan jempolnya mendarat mulus di perutku, mencubit lemak tipisku di balik kaos dengan sangat brutal dan penuh perasaan.

​"Aw! Aw! Loro, Lis!" keluhku sambil meringis, nyoba ngelepasin cubitannya.

​Lisna nggak ngelepasin jarinya, dia malah mendongak menatap mataku lekat-lekat. Mukanya yang tadi jutek berubah jadi perpaduan antara gemes, malu, dan sedikit nantang. Dan dengan logat medok Jawanya yang tiba-tiba keluar, dia nyeletuk,
​"Kalo iya pie?!"

​Pertanyaan itu rasanya kayak petir di siang bolong yang nyamber tepat di ubun-ubunku. Akal sehatku langsung disconnect. Logikaku putus. Entah dorongan hormon purba dari mana, atau mungkin efek kelamaan jomblo ngenes, tubuhku bergerak sendiri di luar kendali otak.

​Tangan kananku refleks meluncur ke bawah, meraih pinggang Lisna, dan menarik tubuhnya dengan kuat ke arahku.

​Grep.
​Tubuh kami bertubrukan ringan. Jarak yang tadinya selangkah, sekarang hilang tanpa sisa. Wajah Lisna cuma berjarak beberapa senti dari wajahku. Aku bisa merasakan embusan napasnya yang hangat menerpa daguku, wangi vanilla dari rambutnya yang setengah basah menyeruak masuk ke paru-paru, dan tentu saja... lekuk tubuhnya yang nggak sengaja menempel di dadaku, bikin jantungku dan 'senjataku' di bawah sana langsung standing ovation.

​Lisna tersentak kaget. Matanya melebar sempurna menatapku, napasnya seolah tertahan di tenggorokan. Cubitannya di perutku terlepas, berganti menjadi kedua telapak tangannya yang kini menahan dadaku secara refleks.

​Kami berdua membeku dalam dekapan itu selama beberapa detik. Nggak ada kata yang keluar, cuma suara detak jantung kami berdua yang kayaknya lagi balapan saking kencangnya. Dunia seolah berhenti muter.

​Sadar posisinya terlalu bahaya dan bikin jantungnya nyaris meledak, wajah Lisna seketika merona semerah kepiting rebus. Dia buru-buru mendorong dadaku pelan.

​"Aapaan sih, Ris!" bisiknya panik campur salting parah.

​Tanpa nunggu jawabanku, Lisna langsung membalikkan badan dan lari terbirit-birit keluar dapur menuju ruang tengah. Dia nyamperin teman-temannya sambil nunduk.

​Aku? Aku masih berdiri mematung di kusen dapur. Tanganku yang tadi melingkar di pinggangnya masih menggantung di udara. Senyum idiot selebar jalan tol langsung terukir di wajahku. Sambil ngusap-ngusap perutku yang masih perih bekas cubitan Lisna, aku mbatin kegirangan.
​Asli, nyawaku dadi tumbal omah iki yo ra popo lah, sing penting aku wis tau ngerangkul Lisna! (Asli, nyawaku jadi tumbal rumah ini juga gpp, yg penting aku sudah pernah rangkul Lisna)

Sumpah kui momen paling absurd dan paling gak bisa aku lupain, cah. Koe-koe pasti tau merasakan to, pie rasannya seneng karo cah wedok terus ternyata de'e yo seneng? Wkwkwk. Ibarate koyo lagune Gilga sing judule Nemu.

"Nemu kowe pas ati ambyar-ambyare..."

Pas lagi hancur-hancurnya dihajar horor kontrakan jahanam, eh malah dapet rejeki dipeluk bidadari. Asli, atiku rasane mak pyarr!

​Dengan dada membusung, hati berbunga-bunga, dan senyum idiot yang masih menempel rapat di wajah, aku melangkah keluar menuju teras depan. Di sana, tiga sahabat miskinku lagi duduk ngampar di lantai beralaskan sandal jepit dan koran bekas. Mereka lagi asyik sebat (udud) sambil ngobrolin entah apa. Kepulan asap rokok dari mulut Jono dan Bowo beradu dengan udara luar yang masih agak sejuk sehabis hujan.

Gatot kelihatan paling khusyuk. Preman Wonosari itu lagi duduk selonjoran, tangan kanannya menjepit rokok, sementara matanya fokus menatap gelas kaca berisi kopi hitam panas yang baru aja dia seduh. Asap tipis mengepul dari permukaan kopi itu, kelihatan nikmat banget.

​Karena mood-ku lagi di puncak piramida kebahagiaan, insting pekok dan jahilku otomatis kumat. Aku berjalan santai menghampiri mereka, lalu dengan gerakan kilat tanpa permisi, aku nyerobot duduk nyempil di sebelah Gatot dan langsung menyambar gelas kopinya tepat sebelum tangan Gatot berhasil memegangnya.

​"Sruuuuputtt... aahhh!"
​Aku menenggak kopi hitam itu dengan rakus sampai isinya susut setengah, lalu meletakkan gelasnya kembali ke lantai dengan bunyi prak pelan.

​"Mantap kopine, Tot! Manise pas koyo esemane Lisna," kataku tanpa dosa sambil ngelap sisa kopi di bibir.

​Gatot yang tangannya masih menggantung di udara langsung kaku. Matanya melotot sempurna natap gelas kopinya yang sekarang tinggal ampas sama air warna coklat keruh. Sebatang rokok di jarinya sampai nyaris jatuh saking syoknya.

​"JANCOOOOK KOWE RIS!" umpat Gatot ngegas, urat lehernya langsung keluar sebesar kabel charger. "Kopi gari sak sruputan mbok srobot, asu! Nyong nggawe kuwi banyune tak taker ben kenthel, gulane tak itung ben pas, malah mbok rusuhi ndlogok!"
(Jancook kamu Ris! Kopi tinggal seseruputan kamu serobot, anjing! Aku bikin itu airnya tak takar biar kental, gulanya tak hitung biar pas, malah kamu rusuhi bego!)

​Aku cuma bisa ketawa ngakak sampai batuk-batuk ngeliat muka Gatot yang merah padam nahan emosi. Pengen mukul, tapi sadar kopinya udah telanjur nyampur sama asam lambungku.

​"Halah, kopi rego rong ewu wae kok dipermasalahkan to, Tot. Mengko tak ganti nek saldoku wis cair," balasku santai sambil nyender ke tembok. (Halah, kopi harga 2rb aja kok dimasalahin sih tot. Nanti tak ganti kalo saldoku udah cair)

​Jono dan Bowo ikutan ngakak ngekek ngeliat Gatot yang cuma bisa misuh-misuh sendiri meratapi nasib kopinya.

​"Raimu sumringah men to, Ris? Bar entuk wangsit po piye?" goda Bowo yang sedari tadi merhatiin senyumku yang nggak wajar. (Mukamu sumringah banget to, Ris? Habis dapat wangsit apa gimana?)

​Aku cuma menaikkan sebelah alisku, sok misterius. Nggak mungkin dong aku ceritain adegan di dapur barusan. Bisa-bisa ketiga buaya kelaparan ini ikutan tantrum berjamaah. Biarlah momen manis ditarik pinggang itu jadi rahasia kecilku sama Lisna, jadi penawar dari segala kengerian yang mengintai di rumah kontrakan ini.

Lagi asyik-asyiknya dengerin Gatot misuh-misuh soal kopi, tiba-tiba HP di saku celanaku bergetar. Ada notifikasi WhatsApp masuk.

​Lisna: P

​Melihat nama pengirimnya, mataku langsung melotot seger. Bodo amat sama harga diri yang katanya cowok harus cool dan balasnya agak lama dikit. Otak bulusku langsung perintahkan jempol buat sat-set ngetik balasan saat itu juga.

​Aris: Ada apa, Lisna?

​Nggak nunggu semenit, centang birunya langsung muncul.

​Lisna: Anterin aku, Ris.

​Dada ini rasanya langsung ditabuh marching band. Tanpa pamit dan tanpa ngasih aba-aba ke tiga curut yang lagi nongkrong, aku langsung berdiri dan melangkah cepat masuk ke dalam rumah.

​"Meh neng ndi kowe, Ris?!" teriak Jono dari belakang.
(Mau ke mana kamu, Ris?!)

​"Biasa, panggilan alam!" balasku asal teriak, nutup pintu depan pelan-pelan.

​Di ruang tengah, Lisna ternyata udah berdiri nungguin aku. Dia nyender pelan di tembok dekat lorong menuju belakang, tangannya dimasukin ke saku jaket. Temen-temennya yang lain lagi asyik pada tiduran di karpet sambil main HP, nggak ada yang ngeh sama pergerakan kami berdua.

​"Mau dianterin ke mana, Lis? Ke depan beli jajan po?" tanyaku dengan suara dipelankan.

​Lisna menggeleng pelan. Dia natap aku pakai tatapan yang... aduh, susah dijelasin. Antara ragu, gemes, tapi ada keberanian di sana.

​"Anterin ke halaman belakang, Ris. Aku penasaran ada apa di sana," bisiknya.

Mendengar kata "halaman belakang", nyaliku refleks menciut sedikit. Lah, halaman belakang kan TKP si Desi nari-nari sinting makan tanah semalam?! Tapi, ngelihat wajah Lisna yang manisnya ngalahin gula tebu ini, rasa takutku langsung kalah telak sama gengsi pria sejati.

​"Oh... ayo, Lis. Santai, ada aku," jawabku sok gagah, padahal dalam hati komat-kamit baca ayat kursi.

​Aku jalan duluan, membuka pintu kayu belakang yang mengarah langsung ke kebon kosong milik Pak Bambang. Hawa sore sehabis hujan ini memang beda. Tanah yang basah ngeluarin aroma petrichor yang lumayan enak, nutupin hawa mistis semalaman.

​Kami berdiri bersisian di teras belakang, menatap ke arah rimbunnya pohon pisang dan bambu. Suasananya sepi banget, cuma ada suara daun yang bergesekan kena angin.

​"Ternyata di sini sejuk ya, Ris," buka Lisna, suaranya pelan banget, memecah keheningan. Angin sore meniup rambutnya yang agak terurai. Sumpah, cantik banget.

​"Iya, Lis. Sejuk... asal nggak pas malem aja ke sininya," balasku mencoba mencairkan suasana dengan candaan.

​Lisna tertawa kecil. Tapi setelah itu, dia terdiam agak lama. Dia menunduk, memainkan ujung sepatunya ke tanah. Aku ikutan diam, nungguin apa yang mau dia sampaikan. Suasana mendadak kerasa beda. Jantungku yang tadinya udah agak kalem, sekarang mulai disko lagi.

​Tiba-tiba, Lisna mendongak. Dia menatap lurus ke mataku. Sorot matanya bener-bener serius.
​"Ris... aku suka sama kamu."

​Kalau ada petir nyamber kepalaku saat itu juga, rasanya pasti nggak sekaget ini. Mulutku sampai mangap. Otakku nge-blank total, gagal memproses kombinasi kata-kata yang baru saja keluar dari bibirnya.

​Ini gimana konsepnya?! Hukum alam mana yang lagi berjalan ini?! Kok kebalik?! Kok cewek secantik kayak Lisna yang nembak aku duluan?! Ini dunia nyata apa aku masih tidur di kasur bareng Gatot?!

​"L-Lis... kowe becanda to? kok kowe sing nembak aku?" tanyaku gelagapan, saking paniknya logat jawaku keluar semua. (Kamu bercanda kan? Kok kamu yg nembak aku)

​Lisna tersenyum tipis, matanya mulai agak berkaca-kaca. "Aku serius, Ris. Aku ngerasa nyaman aja di deket kamu. Aku suka sama kamu, Aris."

​Mendengar pengakuan jujur itu, dadaku rasanya mau meledak saking senengnya. Tapi di detik yang sama, realita kehidupanku langsung menampar wajahku keras-keras. Wajahku yang tadinya merah merona, mendadak jadi sendu. Aku menghela napas panjang, menatap Lisna dengan perasaan campur aduk.

​"Lis... jujur, aku juga seneng banget sama kamu. Banget, Lis. Dari pertama kali lihat kamu," kataku pelan, akhirnya ngeluarin semua yang ada di hati. "Tapi... aku ki sadar diri."

​Lisna mengerutkan kening, bingung. "Sadar diri kenapa, Ris?"

​"Lis, aku ini mahasiswa kasta paling bawah," aku tertawa getir, ngetawain nasibku sendiri. "Ya tau sendiri kan, Lis. Nasib ekonomiku gimana. Buat makan aja kadang aku ngutang di burjo. Motor yang aku pakai nganterin kamu tadi itu motornya Jono. Aku... aku nggak punya apa-apa, Lis. Aku nggak mau ngejalin hubungan terus ujung-ujungnya aku malah ngerepotin kamu. Aku nggak mau kalau sampai dicap mokondo, Lis. Harga diriku rasanya hancur kalau pacaran tapi malah ceweknya yang harus modalin ini itu."

Lisna terdiam. Dia menatapku tanpa. Aku udah pasrah, mikir mungkin setelah dengar realita kemiskinanku ini, dia bakal sadar dan narik kata-katanya kembali.

​Tapi... namanya juga Aris, se-ngenes apapun ceritanya, insting ndlogok-nya nggak bakal pernah hilang. Aku nyengir tipis, menggaruk belakang kepalaku yang nggak gatal.

​"Tapi ya... namanya rejeki nomplok dikasih bidadari, mosok aku nolak kamu sih, Lis? Aku yo ra se-goblok kuwi nolak cewek se-sempurna kowe," lanjutku sambil cengengesan, meruntuhkan suasana melankolis barusan.

​Mendengar kejujuranku yang diselingi kepekokan khas pria kere itu, Lisna ketawa. Sedetik kemudian, dia malah tersenyum manis banget. Nggak ada raut ilfeel, nggak ada raut nyesel. Dia melangkah maju satu langkah, mengikis habis jarak di antara kami berdua.

"Aku nggak butuh cowok kaya, Ris. Aku butuh cowok yang jujur dan bisa ngejagain aku," bisiknya lembut.

​Sebelum otakku sempat memproses kalimat manis itu... Lisna berjinjit sedikit. Kedua tangannya memegang pundakku, dan...

​Cup.
​Bibir Lisna mendarat tepat di bibirku. Cuma beberapa detik, singkat, tapi kelembutannya sukses bikin sistem saraf pusatku meledak berkeping-keping. Dunia rasanya berhenti berputar. Halaman belakang yang horor ini mendadak berubah jadi taman bunga di surga. Kakiku rasanya nggak napak di tanah.

​Saat dia melepaskan ciuman kilat itu, wajahnya merah merona, tapi matanya berbinar bahagia menatapku yang masih mematung dengan mata melotot dan bibir setengah terbuka.

​Lisna tersenyum malu-malu, lalu memukul pelan dadaku.

​"Berarti, kita udah jadian kan, Ris?" tanyanya lembut.

​Aku masih speechless. Sambil megang bibirku sendiri yang masih terasa manis, aku cuma bisa ngangguk-ngangguk cepat.

​Hari itu, di pekarangan belakang rumah kontrakan jahanam tempat kuntilanak semalam makan tanah, aku, Aris si mahasiswa kere, resmi jadian sama bidadari kampus. Sumpah, kalau ini mimpi, tolong jangan bangunin aku!

Setelah ngasih senyum paling manis yang sanggup meruntuhkan iman, Lisna berbalik dan melangkah ringan kembali ke ruang tengah. Langkahnya santai banget, seolah dia baru aja ngasih aku permen, bukan ngasih ciuman pertama yang bikin sistem sarafku korslet total.

​Sementara aku? Aku masih mematung di teras belakang. Tanganku memegangi kusen pintu, kakiku lemas. Mataku menatap kosong ke arah rimbunnya pohon pisang Pak Bambang, tapi yang kulihat bukan pohon, melainkan masa depan cerah penuh bunga-bunga. Aku meratapi nasib bahagiaku. Ya Allah, mahasiswa kere dapet jackpot!

Ini kalau aku bikin buku how to get a girl, Gatot pasti jadi pembeli pertamaku.

​Tapi, di tengah euforia kasmaran yang meluap-luap itu... tiba-tiba otak realistisku melakukan reboot otomatis.

​Bayangan-bayangan indah itu mendadak nge-glitch, digantikan oleh tayangan kompilasi adegan drama asmara pait. Di kepalaku, tiba-tiba muncul proyeksi masa depan yang sangat kejam.

​Aku ngebayangin Lisna ngajak malam mingguan ke kafe estetik di daerah Jakal, sementara aku cuma bisa pesen air mineral botolan karena uangnya habis buat bayarin matcha latte sama croffle dia.

Aku ngebayangin Lisna ngajak nonton bioskop premiere, sementara aku harus puasa mutih tiga hari demi beli tiketnya.

​Pacaran sama bidadari itu butuh modal, Bos! Nggak bisa cuma dibayar pakai puisi sama cinta tulus!
​Seketika, senyum idiot di wajahku luntur. Pundakku yang tadi membusung gagah mendadak merosot lesu. Aku mengusap wajahku kasar, membuang napas panjang yang terasa berat banget. Realita kemiskinan ini emang musuh terbesar romansa.

​"Haaaah..." aku menghela napas pasrah, menatap langit sore yang mulai menguning. "Yowislah, lakoni sik wae." (Ya sudahlah, jalani dulu aja.)

​Gimana besok urusan bayar kencan, ya dipikir besok lagi. Ngutang Pinjol atas nama Gatot juga masih bisa diusahakan. Yang penting sekarang aku udah sold out sama Lisna!

Dengan tekad nekat itu, aku balik kanan dan masuk ke dalam rumah, kembali bergabung dengan para sobat pekok dan bidadari-bidadari lainnya.

​Singkat cerita, sisa sore itu kami habiskan dengan obrolan ringan. Sesekali aku dan Lisna curi-curi pandang, saling lempar senyum rahasia yang sukses bikin jantungku salto lagi. Temen-temenku nggak ada yang sadar kalau di pekarangan belakang tadi baru saja terjadi proklamasi cinta kasta sudra.

​Namun, kebahagiaan dan tawa renyah itu perlahan mulai menyusut seiring berjalannya waktu.

​Matahari akhirnya benar-benar tenggelam. Azan Magrib berkumandang dari masjid kampung, membawa serta pergantian hawa yang sangat drastis. Langit di luar jendela nako berubah menjadi biru gelap, lalu hitam pekat.

Malam pun tiba.
​Dan seiring datangnya malam, aura 'kontrakan jahanam' murah ini kembali menguar. Udara di dalam ruang tengah mendadak turun beberapa derajat, terasa lebih anyep dan lembab. Bau mie ayam Tumini yang tadi sore mendominasi, kini perlahan mulai kalah oleh aroma samar-samar yang kembali menyelinap dari arah ventilasi.

​Kami berdelapan yang tadinya asyik bercanda, pelan-pelan mulai terdiam. Mita mulai merapatkan jaketnya, Desi menggeser duduknya merapat ke Rahma, dan Jono... Jono udah mulai gigitin kuku jarinya sendiri. Teror malam ketiga di rumah ini bersiap untuk dimulai.

Malam ketiga di kontrakan itu, kami berempat udah masang mode siaga satu. Formasi tidur umpel-umpelan di ruang tengah dipertahankan. Segala macam doa udah dirapal, mental udah disiapin buat ngadepin kepala melayang atau kuntilanak makan tanah part dua. Kami melek sampai jam dua pagi sambil keringat dingin.

​Tapi nyatanya? Zonk!
​Jangankan suara sapu lidi atau ketukan pintu, suara jangkrik aja malam itu kedengaran males-malesan. Nggak ada gangguan sama sekali. Setannya kayaknya lagi ambil cuti bersama. Akhirnya, saking capeknya nungguin jumpscare yang nggak muncul-muncul, kami tepar dan tidur nyenyak sampai pagi.

​Keesokan harinya, rutinitas gembel kami kembali berjalan normal. Para cewek itu akhirnya pamit buat balik ke kosan mereka sendiri karena nggak enak juga kelamaan numpang (dan jujur aja, jantungku butuh istirahat dari senyumnya Lisna biar nggak serangan jantung usia muda).

Setelah nganterin mereka, kami lanjut ngampus yang lebih banyak titip absennya terus nongkrong di burjo sampai sore.

​Begitu balik ke kontrakan tanpa kehadiran cewek-cewek, rumah ini kembali ke setelan pabrik. Bau wangi vanilla dan floral hilang seketika, diganti bau apek keringat empat pria kurang gizi dan semerbak bau balsemnya Jono.

​Nah, sore itu, kejadian horor kembali menimpa kami. Tapi kali ini pelakunya bukan demit, melainkan makhluk real yang nyata adanya.

​Ceritanya, Gatot lagi nyantai di ruang tengah. Entah kesambet angin apa, preman Wonosari itu ngeluarin speaker bluetooth murahan miliknya, disambungin ke HP, lalu nyetel lagu kebangsaan anak warnet, Avenged Sevenfold - Dear God. Volume-nya nggak tanggung-tanggung, digeber mentok kanan sampai speaker-nya kresek-kresek sember!

​Gatot asyik headbang sambil merem melek nyanyi nggak jelas.

​Brak! Brak! Brak!
​Tiba-tiba pintu depan digedor dengan sangat brutal. Lebih brutal dari gedoran setan manapun yang pernah kami alami.

​Aku yang lagi rebahan di kamar langsung lari ke depan. Gatot buru-buru matiin speaker-nya.

​Di luar, berdiri seorang bapak-bapak gempal, pakai kaos singlet oblong, kumisnya tebal melintang, dan wajahnya merah padam menahan emosi. Itu Pak Yanto, tetangga beda gang yang rumahnya agak mepet ke samping kontrakan kami.

​"Woy! Kowe cah-cah kuliahan duwe utek ra to?! Nyetel musik banter-banter jam semene! Anakku lagi mumet garap tugas mbok ganggu! Iso cilikne ra?! Opo perlu tak banting speaker-mu!" bentak Pak Yanto meledak-ledak. Urat lehernya sampai kelihatan mau putus. (Woy! Kamu anak kuliahan punya otak gak to! Nyetel musik keras2 jam segini! Anakku lagi pusing ngerjain tugas malah di ganggu! Bisa dikecilkan gak! Apa perlu tak banting speakermu!)

​Seketika, nyali Gatot yang biasanya sok keras langsung ciut jadi seukuran biji ketumbar. Horor tetangga ngamuk ternyata jauh lebih menakutkan daripada demit! Mending disuruh masang kepala hantu daripada diarak warga gara-gara nyetel Dear God.

​"N-nggih Pak, ngapunten sanget... kulo sing salah. Mboten dibaleni malih," jawab Gatot nunduk-nunduk, suaranya halus banget kayak putri keraton. ( I-iya Pak, mohon maaf banget... saya yang salah. Tidak diulangi lagi.)

​Setelah Pak Yanto pergi sambil terus misuh-misuh, kami berempat cuma bisa ngelus dada. Gagal sudah konser tunggal Gatot sore itu.

Sumpah ya, Cah. Sebenarnya kalau mau diceritain dari A sampai Z, kejadian horor dan apes di kontrakan tanah jahanam ini tuh masih buanyaaak banget. Nggak cuma demit, tapi urusan sama tetangga, urusan perut, sampai urusan konyol yang bikin kami hampir mati konyol.

​Ada masa di mana air sumur tiba-tiba keruh bau darah, ada masa di mana Jono dikunciin di kamar mandi dari luar padahal kami semua lagi di teras, sampai kejadian Bowo ngigau pakai bahasa Belanda padahal dia yes no aja masih mikir.

​Tapi... kalau semua cerita itu aku ketik dan ceritain di sini secara detail dari hari ke hari, ini cerita panjangnya bakal ngalahin naskah skripsi Bab 1 sampai Bab 5! Kalian yang baca juga pasti bakal keriting matanya.

​Jadi, biar urat leher dan kewarasan kita tetap terjaga, ceritanya aku time-skip dan aku rangkum aja, ya. Aku cuma bakal ceritain kejadian-kejadian puncak yang paling serem, paling pekok, dan yang bener-bener jadi alasan kenapa pada akhirnya kami nyerah sama kontrakan ini.

Oke, guys? Tarik napas panjang, karena setelah malam ini, teror aslinya baru bener-bener dimulai.

Sumpah, Cah... kalau disuruh nginget-nginget bagian ini, dadaku rasanya masih sesak. Ngetik ini aja tanganku agak gemetar. Kalau selama ini teror di rumah jahanam itu cuma mengancam kewarasan kami, sore itu, realita jalanan Jogja hampir aja ngerenggut nyawa salah satu dari kami.

​Hari itu, langit Jogja lagi mendung gelap. Kami berempat jalan pulang dari kampus menuju kontrakan. Karena motor Jono bensinnya udah diisi (hasil patungan), Jono boncengan sama Gatot di depan, sementara aku sama Bowo ngikutin dari belakang pakai motorku.

​Jalanan Ringroad sore itu lumayan padat. Kami jalan santai di jalur kiri. Jarak motorku sama motor Jono paling cuma sekitar sepuluh meter. Jono bawa motornya juga gak kencang, wajar. Gatot di belakangnya kelihatan lagi nyantai sambil sebat.
​Lalu, malapetaka itu terjadi dalam hitungan detik.

​Dari arah kanan belakang, sebuah mobil sedan hitam melaju ugal-ugalan dengan kecepatan tinggi, nyalip dari kiri ke kanan secara zig-zag. Pas mobil itu nyalip mepet ke kiri, body kirinya ngehantam keras stang kanan motor Jono.

​CIIIIIITTT.... BRAAAAKKK!!!
​Kejadiannya cepat banget. Motor Jono oleng hebat, hilang kendali, lalu terbanting keras ke aspal. Jono terlempar ke pinggir jalan, tapi Gatot... ya Allah. Gatot terpelanting jauh, badannya menghantam trotoar pembatas jalan sebelum akhirnya berguling di atas aspal yang keras.

​Sedan hitam keparat itu sempat ngerem sebentar, tapi begitu ngelihat korban terkapar, dia langsung tancap gas kabur gitu aja ngilang di persimpangan. Tabrak lari!

​"GATOOOT! JONOOO!"
​Aku menjerit sekuat tenaga. Bowo di belakangku udah teriak histeris. Aku banting motorku gitu aja di pinggir jalan, nggak peduli lecet atau patah, aku langsung lari kesetanan ke arah mereka. Orang-orang di sekitar mulai berkerumun.

​Aku nyamperin Jono duluan. Dia lagi berusaha duduk, jaket denimnya robek, darah ngucur dari siku dan lututnya. Jono shock berat, matanya nanar, tapi dia langsung nunjuk ke arah depan.

​"Ris... Gatot, Ris! Gatot!" teriak Jono histeris sambil nangis, suaranya pecah.

​Aku ninggalin Jono yang lagi ditolong warga, lalu lari ke arah Gatot yang dikerubungi orang. Begitu warga ngasih jalan dan aku ngelihat kondisi sahabatku... lututku langsung lemas.

​Gatot terkapar diam nggak bergerak. Wajahnya penuh darah dari pelipis yang robek. Tapi yang bikin jantungku rasanya berhenti berdetak adalah kaki kanannya. Kakinya bengkok dengan posisi yang sama sekali nggak wajar. Patah tulang. Darah segar menggenang di bawah kakinya, nyampur sama aspal jalanan.

​"Tot! Tot! Bangun, Cuk! Istighfar, Tot!" teriakku histeris. Aku berlutut di aspal, naruh kepala Gatot di pangkuanku.
Tanganku gemetar hebat pas nyentuh wajahnya yg mulai dingin.

​Bowo datang nyusul, dia langsung lemas jatuh terduduk ngelihat darah yang keluar. "Panggil ambulans! Tolong panggil ambulans, Pak!" jerit Bowo ke arah warga sambil nangis sejadi-jadinya.

Nggak ada lagi gengsi. Nggak ada lagi sosok preman atau cowok cool. Sore itu, di pinggir jalan Ringroad, kami bertiga nangis meraung-raung ngelihat saudara kami meregang nyawa. Demit se-sangar apapun di kontrakan jahanam itu, sumpah demi Tuhan, nggak ada apa-apanya dibanding rasa takut kehilangan sahabat lu sendiri di depan mata.

​Kami berakhir di IGD rumah sakit. Bau obat bius dan alkohol kerasa menyengat banget. Jono cuma luka lecet dan memar, dia udah diperban. Tapi sejak nyampe rumah sakit, Jono nggak berhenti nangis. Dia duduk di lantai lorong IGD sambil mukulin kepalanya sendiri ke tembok.

​"Asu sedan goblok! Nyong sing kudune neng kono, Ris! Nyong sing bawa motor, nyong sing salah! Nek Gatot kenapa-kenapa, nyong ra iso maafne awakku dewe, Ris!" raung Jono, air matanya deras banget.
(Asu sedan goblok! Aku yang harusnya di sana, Ris! Aku yang bawa motor, aku yang salah! Kalau Gatot kenapa-kenapa, aku nggak bisa maafin diriku sendiri, Ris!)

​Aku merangkul Jono erat-erat, ikut nangis bareng dia. "Iki musibah, Jon. Udu salahmu. Sing salah sing nabrak! Gatot kuat, de'e preman Wonosari, pasti kuat." (Ini musibah, Jon. Bukan salahmu. Yang salah yang nabrak! Gatot kuat, dia preman Wonosari pasti kuat)

​Gatot langsung masuk ruang operasi. Tulang kakinya hancur dan harus segera dipasang pen, ditambah ada pendarahan di kepalanya. Kami bertiga duduk di depan ruang operasi dengan baju yang masih penuh bercak darah Gatot.

Pikiran kami kalut. Gimana kalau operasinya gagal? Gimana kalau dia cacat? Gimana kalau... astagfirullah, aku buru-buru tepis pikiran buruk itu.

​Dua jam kemudian, hal yang paling kami takuti datang. Keluarga Gatot tiba dari Wonosari.

​Bapak dan Ibunya Gatot lari menyusuri lorong rumah sakit dengan wajah pucat pasi. Ibunya Gatot langsung ambruk begitu ngelihat kami bertiga duduk berjejer dengan baju penuh darah.

​"Gatot, Le... Gatot neng ndi? Anakku neng ndi, Ris?!" histeris Ibunya Gatot, mencengkeram bajuku erat banget sambil nangis gemetar. (Gatot, Le... Gatot dimana? Anakku dimana, Ris)

​Bapaknya Gatot berdiri di belakang ibunya, matanya merah menahan tangis, raut wajahnya hancur banget ngelihat ruang operasi yang pintunya masih tertutup rapat.

​Cah... di momen itu, lidahku kelu. Aku, Jono, dan Bowo cuma bisa bersimpuh di lantai, di depan kaki orang tua Gatot. Kami nangis sesenggukan, nggak sanggup natap mata mereka.

​"Maaf, Bu... maafin kami, Pak..." cuma itu kata yang bisa keluar dari bibirku. Suaraku parau. "Gatot lagi dioperasi..."
​Ibunya Gatot makin histeris. Beliau mukul-mukul dadanya sendiri. Jono bersujud di depan Bapaknya Gatot, minta maaf berkali-kali karena dia yang bawa motornya.

Tapi tau nggak apa yang bikin hati kami makin hancur? Bapaknya Gatot malah ikut berlutut, memeluk kami bertiga satu-satu sambil nangis.

​"Wis, Le... wis. Iki cobaan. Ojo nyalahke awakmu dewe. Kowe kabeh dulure Gatot, kancani de'e nang kene yo..." ucap Bapak Gatot dengan suara bergetar hebat. (Sudah, Nak... sudah. Ini cobaan. Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Kalian semua saudaranya Gatot, temani dia di sini ya...)

​Pelukan Bapaknya Gatot itu rasanya pedih banget. Kami semua bersaudara. Nggak ada hubungan darah, tapi kami disatukan oleh nasib yang sama, makan sepiring berempat, tidur selimut berempat, diteror hantu berempat. Dan sekarang, satu dari kami lagi berjuang nyawa di dalam ruangan dingin itu.

​Malam itu, nggak ada yang pulang ke kontrakan. Kami bertiga bermalam di lorong rumah sakit nemenin keluarganya. Duduk meringkuk di lantai dingin, merapalkan doa tanpa henti, berharap Tuhan nggak ngambil nyawa sahabat pekok kami yang paling berharga.

Lampu merah di atas pintu ruang operasi itu akhirnya mati.

​Sudah lewat jam tiga pagi saat dokter bedah dengan pakaian hijau yang tampak lelah keluar dari ruangan. Aku, Jono, Bowo, dan kedua orang tua Gatot langsung serempak berdiri dan mengerumuni dokter itu. Napas kami tertahan.

​"Keluarga Mas Gatot?" tanya dokter itu sambil menurunkan maskernya.

"Kulo bapak e, Dok. Pripun anak kulo?" jawab Bapak Gatot dengan suara gemetar. (Saya bapaknya, Dok. Bagaimana anak saya?)

​Dokter itu tersenyum tipis, senyum yang langsung melepaskan ribuan ton beban dari pundak kami. "Alhamdulillah, operasinya berjalan lancar, Pak. Pendarahan di kepalanya tidak sampai mengenai saraf vital, hanya gegar otak ringan. Untuk tulang kaki kanannya yang patah sudah kami pasang pen. Mas Gatot sekarang masih dalam pengaruh obat bius dan akan dipindahkan ke ruang perawatan. Masa kritisnya sudah lewat."

​Mendengar itu, Ibunya Gatot langsung sujud syukur di lantai rumah sakit sambil menangis haru. Aku, Jono, dan Bowo langsung berpelukan erat. Air mata yang tadi isinya ketakutan, sekarang berubah jadi air mata kelegaan. Ya Allah... preman Wonosari kami selamat! Dia masih dikasih umur panjang!

​Sekitar jam sepuluh pagi, sinar matahari udah masuk lewat jendela ruang rawat inap. Gatot berbaring di atas ranjang rumah sakit. Kepalanya diperban putih, kaki kanannya digips tebal dan digantung sedikit. Wajahnya masih pucat, tapi matanya perlahan mulai terbuka.

​Aku, Jono, dan Bowo yang dari tadi duduk lesehan di lantai langsung melompat mendekati ranjang.

​"Tot... Tot! Kowe krungu suaraku, ora?" panggilku pelan, mataku berkaca-kaca lagi.(Tot kamu denger suaraku gak)

​Gatot mengerjap-ngerjapkan matanya, menyesuaikan diri dengan cahaya lampu ruangan. Dia meringis pelan, matanya melirik ke arah kami bertiga secara bergantian. Suasananya haru banget. Jono bahkan udah siap-siap mau nangis lagi sambil megangin tangan Gatot.

​Gatot membuka bibirnya yang kering. Suaranya serak dan sangat pelan. Kami bertiga mendekatkan telinga ke mulutnya, bersiap mendengarkan kata-kata pertama dari sahabat kami yang baru lolos dari maut. Mungkin dia mau minta maaf, atau mungkin dia mau bilang terima kasih.

​"Ris..." bisik Gatot lemah.

​"Iyo, Tot. Aku neng kene. Kowe butuh opo?" jawabku cepat. (Iya, Tot. Aku di sini. Kamu butuh apa?)

​"Ris... Mita... dikabari urung? Nek urung... fotoke aku sik koyo ngene, kirimne Mita, ben de'e nangis..."
(Ris... cewek-cewek... Mita... dikabari belum? Kalau belum... foto aku dulu yang kayak gini, kirimin ke Mita, biar dia nangis...)

​PLAK! Jono refleks menempeleng bahu Gatot yang nggak luka, padahal air matanya masih netes.

​"ASU KOWE TOT! Nyong wis nangis getih ngira kowe pan mati, tangi-tangi utekmu isih mikir wedokan! Ndlogok tenan!" omel Jono antara emosi, lega, dan pengen ketawa. (ASU KAMU TOT! Aku udah nangis darah ngira kamu mau mati, bangun-bangun otakmu masih mikir cewek! Bego beneran!)

​Aku dan Bowo langsung ngakak ngekek sampai perut kami kram. Bapak dan Ibunya Gatot yang baru masuk bawa makanan juga ikut ketawa sambil geleng-geleng kepala.

Suasana yang tadinya penuh duka langsung cair seketika. Preman kami benar-benar udah kembali! Se-kritis apapun kondisinya, tingkat kepekokannya ternyata sama sekali nggak berkurang.

​Nggak lama setelah itu, pintu ruang rawat terbuka. Rahma, Desi, Mita, dan Lisna datang menjenguk setelah aku kabarin. Mereka bawa parsel buah dan wajah yang kelihatan panik.
​Begitu melihat kondisi Gatot, Mita benar-benar nutup mulutnya dan mulai menangis. Gatot yang ngelihat Mita nangis untuknya, mendadak masang muka paling memelas, sok tegar, dan sok jagoan. Dia senyum tipis ke arah Mita seolah bilang "Aku ra popo, Dek". Asli, pengen tak colok matanya!

​Di sela-sela obrolan mereka, aku mundur sedikit ke arah sudut ruangan, memberi ruang buat yang lain. Tiba-tiba, Lisna ikut mundur dan berdiri di sebelahku.

​Tanpa banyak bicara, tangan kanan Lisna menyelinap meraih tangan kiriku. Dia menggenggam tanganku erat banget, menyalurkan kehangatan yang langsung bikin rasa capekku begadang semalaman menguap. Aku menoleh, dia menatapku dengan senyum lembut dan mata yang penuh arti.

​Dadaku rasanya mau meledak bahagia. Digenggam Lisna di momen kayak gini rasanya ibarat dikasih infus vitamin dosis tinggi.

"Kulo bapak e, Dok. Pripun anak kulo?" jawab Bapak Gatot dengan suara gemetar. (Saya bapaknya, Dok. Bagaimana anak saya?)

​Dokter itu tersenyum tipis, senyum yang langsung melepaskan ribuan ton beban dari pundak kami. "Alhamdulillah, operasinya berjalan lancar, Pak. Pendarahan di kepalanya tidak sampai mengenai saraf vital, hanya gegar otak ringan. Untuk tulang kaki kanannya yang patah sudah kami pasang pen. Mas Gatot sekarang masih dalam pengaruh obat bius dan akan dipindahkan ke ruang perawatan. Masa kritisnya sudah lewat."

​Mendengar itu, Ibunya Gatot langsung sujud syukur di lantai rumah sakit sambil menangis haru. Aku, Jono, dan Bowo langsung berpelukan erat. Air mata yang tadi isinya ketakutan, sekarang berubah jadi air mata kelegaan. Ya Allah... preman Wonosari kami selamat! Dia masih dikasih umur panjang!

​Sekitar jam sepuluh pagi, sinar matahari udah masuk lewat jendela ruang rawat inap. Gatot berbaring di atas ranjang rumah sakit. Kepalanya diperban putih, kaki kanannya digips tebal dan digantung sedikit. Wajahnya masih pucat, tapi matanya perlahan mulai terbuka.

​Aku, Jono, dan Bowo yang dari tadi duduk lesehan di lantai langsung melompat mendekati ranjang.

​"Tot... Tot! Kowe krungu suaraku, ora?" panggilku pelan, mataku berkaca-kaca lagi.(Tot kamu denger suaraku gak)

​Gatot mengerjap-ngerjapkan matanya, menyesuaikan diri dengan cahaya lampu ruangan. Dia meringis pelan, matanya melirik ke arah kami bertiga secara bergantian. Suasananya haru banget. Jono bahkan udah siap-siap mau nangis lagi sambil megangin tangan Gatot.

​Gatot membuka bibirnya yang kering. Suaranya serak dan sangat pelan. Kami bertiga mendekatkan telinga ke mulutnya, bersiap mendengarkan kata-kata pertama dari sahabat kami yang baru lolos dari maut. Mungkin dia mau minta maaf, atau mungkin dia mau bilang terima kasih.

​"Ris..." bisik Gatot lemah.

​"Iyo, Tot. Aku neng kene. Kowe butuh opo?" jawabku cepat. (Iya, Tot. Aku di sini. Kamu butuh apa?)

​"Ris... Mita... dikabari urung? Nek urung... fotoke aku sik koyo ngene, kirimne Mita, ben de'e nangis..."
(Ris... cewek-cewek... Mita... dikabari belum? Kalau belum... foto aku dulu yang kayak gini, kirimin ke Mita, biar dia nangis...)

​PLAK! Jono refleks menempeleng bahu Gatot yang nggak luka, padahal air matanya masih netes.

​"ASU KOWE TOT! Nyong wis nangis getih ngira kowe pan mati, tangi-tangi utekmu isih mikir wedokan! Ndlogok tenan!" omel Jono antara emosi, lega, dan pengen ketawa. (ASU KAMU TOT! Aku udah nangis darah ngira kamu mau mati, bangun-bangun otakmu masih mikir cewek! Bego beneran!)

​Aku dan Bowo langsung ngakak ngekek sampai perut kami kram. Bapak dan Ibunya Gatot yang baru masuk bawa makanan juga ikut ketawa sambil geleng-geleng kepala.

Suasana yang tadinya penuh duka langsung cair seketika. Preman kami benar-benar udah kembali! Se-kritis apapun kondisinya, tingkat kepekokannya ternyata sama sekali nggak berkurang.

​Nggak lama setelah itu, pintu ruang rawat terbuka. Rahma, Desi, Mita, dan Lisna datang menjenguk setelah aku kabarin. Mereka bawa parsel buah dan wajah yang kelihatan panik.
​Begitu melihat kondisi Gatot, Mita benar-benar nutup mulutnya dan mulai menangis. Gatot yang ngelihat Mita nangis untuknya, mendadak masang muka paling memelas, sok tegar, dan sok jagoan. Dia senyum tipis ke arah Mita seolah bilang "Aku ra popo, Dek". Asli, pengen tak colok matanya!

​Di sela-sela obrolan mereka, aku mundur sedikit ke arah sudut ruangan, memberi ruang buat yang lain. Tiba-tiba, Lisna ikut mundur dan berdiri di sebelahku.

​Tanpa banyak bicara, tangan kanan Lisna menyelinap meraih tangan kiriku. Dia menggenggam tanganku erat banget, menyalurkan kehangatan yang langsung bikin rasa capekku begadang semalaman menguap. Aku menoleh, dia menatapku dengan senyum lembut dan mata yang penuh arti.

​Dadaku rasanya mau meledak bahagia. Digenggam Lisna di momen kayak gini rasanya ibarat dikasih infus vitamin dosis tinggi.

Tapi, kebahagiaan itu harus terjeda oleh realita. Ibunya Gatot mendekatiku.

​"Ris... Ibu njaluk tulung yo, Le. BPJS, KTP-ne Gatot, karo klambi gantine kan isih neng kontrakan kabeh. Iki pihak rumah sakit njaluk berkas-berkase nggo urusan administrasi. Kowe iso tulung jupukne neng omah?" pinta Ibunya Gatot dengan nada memelas.
(Ris... Ibu minta tolong ya, Nak. BPJS, KTP-nya Gatot, sama baju gantinya kan masih di kontrakan semua. Ini pihak rumah sakit minta berkas-berkasnya buat urusan administrasi. Kamu bisa tolong ambilin di rumah?)

​Aku terdiam sejenak. Jono dan Bowo nggak mungkin ninggalin rumah sakit karena motor tinggal satu dan mereka harus standby bantu Bapaknya Gatot angkat-angkat atau beli obat. Cewek-cewek juga abis ini mau langsung ada kelas pengganti.
​Itu artinya... aku harus balik ke kontrakan jahanam itu. Sendirian.

​"Nggih, Bu. Kulo jupukne saniki mawon ben cepet beres," jawabku mantap, meski di dalam hati mulai ada rasa was-was. (Iya, Bu. Saya ambilkan sekarang saja biar cepat beres.)

​Lisna melepaskan genggamannya pelan. "Hati-hati ya, Ris. Jangan lama-lama."

​Aku ngangguk, mengambil kunci motor, dan melangkah keluar rumah sakit.

​Perjalanan dari rumah sakit ke kontrakan memakan waktu sekitar empat puluh lima menit karena macet. Pas aku sampai di depan pagar rumah kontrakan, langit sore mulai berubah jingga. Jam menunjukkan pukul setengah enam sore. Waktu surup (menjelang magrib). Waktu di mana energi mistis biasanya lagi kuat-kuatnya.

​Rumah itu kelihatan sangat sunyi. Karena dari semalam nggak ada yang nempatin, auranya kerasa beda banget. Lebih suram, lebih gelap, dan lebih dingin dari biasanya.
​Aku memutar kunci pintu utama.

Cklek.
​Pintu terbuka. Bau apek yang bercampur dengan samar-samar wangi melati langsung menyambut indra penciumanku. Nggak ada Gatot yang nyetel lagu, nggak ada Jono yang misuh, nggak ada Bowo yang ngopi. Cuma ada aku, keheningan yang memekakkan telinga, dan mereka yang mungkin sedari tadi udah nungguin aku pulang sendirian.

Aku narik napas panjang. Bodo amat! batinku. Persetan sama bau melati, persetan sama aura gelap, persetan sama hawa dingin yang mulai nusuk tulang. Otakku sekarang cuma ke-set di satu misi, ngambil berkas, ambil baju ganti, dan cabut balik secepat kilat. Keselamatan sahabatku lebih penting daripada ngeladenin cosplay demit.

​Aku melangkah masuk dengan langkah cepat dan sengaja dientak-entakkan.

Brak! Pintu depan sengaja kubanting nutup. Lampu ruang tamu, ruang tengah, sampai dapur aku nyalain semua. Tapi entah kenapa, cahayanya kayak redup, ketelan sama gelapnya hawa rumah ini di waktu Magrib.

​Tanpa ba-bi-bu, aku langsung setengah lari menuju kamar belakang, kamarku dan Gatot. Begitu pintu kubuka, hawa pengap langsung nampar muka. Aku bergegas jongkok di depan lemari plastik reyot punya Gatot, ngacak-ngacak tumpukan bajunya buat nyari dompet, KTP, kartu BPJS, dan narik asal tiga potong kaos sama celana kolor buat ganti.

​Nah, pas aku lagi sibuk ngeberantakin laci sambil masukin barang-barang itu ke dalam kresek minimarket, gangguan ndlogok itu datang.

​Awalnya dari arah belakang leherku, kerasa ada hembusan angin yang bener-bener dingin! Bukan dingin angin sore, tapi anyep. Terus, dari kolong kasur lipat persis di belakangku, pelan-pelan terdengar suara gesekan, disusul suara tawa.

​"Hihihi... dewean wae, Mas... kancane ndi..." (Hihihi... sendirian aja, Mas... temennya mana...)

​Itu suara cewek, melengking dan bergema persis di belakang telinga kiriku. Di saat yang bersamaan, ujung belakang kaosku yang menjuntai ditarik kuat ke arah bawah kolong ranjang. Sreeet.

​Kalau dalam kondisi normal, aku pasti udah teriak nangis, kencing di celana, terus lari nabrak kusen pintu. Tapi sore itu, sumpah, hatiku lagi panas-panasnya habis ngelihat darah sahabatku tercecer di jalanan. Rasa sedih, capek, dan panik ngurusin urusan rumah sakit bikin urat takutku putus total sementara waktu, diganti urat emosi yang meledak-ledak.

Bukannya lari, aku malah langsung berdiri tegak. Aku balik badan, melotot tajam ke arah kolong kasur yang gelap itu.

​"CANGKEMMU MENENG, SU!" bentakku sekencang-kencangnya sampai suaraku menggema di seluruh kamar. "Kancaku lagi mlebu rumah sakit, kae lho! Utekku lagi mumet mikir administrasi, kowe malah melu-melu ganggu! Demit ra duwe utek! Minggir, aku ra ono wektu ngurus kowe!"
(MULUTMU DIAM, SU! Temanku lagi masuk rumah sakit, itu lho! Otakku lagi pusing mikir administrasi, kamu malah ikut-ikut ganggu! Setan nggak punya otak! Minggir, aku nggak ada waktu buat ngurus kamu!)

​Saking emosinya, aku nendang pinggiran kasur lipat itu keras-keras sampai kasurnya tergeser nabrak tembok. Brak!

​Anehnya, setelah aku bentak pakai amarah tingkat dewa dan absen kebun binatang lengkap, suara ketawa itu langsung berhenti. Tarikan di ujung kaosku juga langsung lepas. Kamar itu kembali hening, seolah setannya kaget atau insecure karena baru kali ini ada manusia yang lebih galak dari dia.

​"Minggir!" omelku sekali lagi sambil nyomot kresek isi baju Gatot tadi.

​Aku jalan keluar kamar sambil terus misuh-misuh nggak jelas sepanjang lorong. Aku matiin semua lampu, keluar rumah, ngunci pintu utama pakai sisa tenaga, dan langsung lompat ke atas motor matic.

​Sepanjang jalan balik ke rumah sakit, dadaku masih naik turun nahan emosi. Lucu sih kalau dipikir-pikir. Ternyata kalau manusia lagi benar-benar marah, stress, dan dipenuhi beban kehidupan, kayak mikirin keselamatan teman yang lagi kritis, rasa takut sama setan itu bisa kalah telak.

Ya kali aku mau mati jantungan gara-gara demit, sementera administrasi RS sahabatku belum beres!

​Setengah jam kemudian, aku udah sampai lagi di lorong ruang rawat inap. Begitu menyerahkan KTP, kartu BPJS, dan baju ganti Gatot ke ibunya, perasaanku baru bisa bener-bener lega. Tugasku kelar. Gatot aman, administrasinya lancar, dan yang terpenting, aku nggak perlu buang-buang waktu ngeladenin demit baperan di rumah jahanam itu.

Buat kalian yang belum tahu, pasien patah tulang yang habis dioperasi pasang pen plus ada riwayat gegar otak ringan kayak Gatot itu nggak bisa langsung pulang hari itu juga. Walaupun masa kritisnya udah lewat, dokter tetap mewajibkan Gatot buat rawat inap sekitar lima sampai tujuh hari. Tujuannya buat mantau perkembangan jahitan operasinya, mastiin nggak ada infeksi, sekaligus ngajarin dia cara jalan pakai tongkat penyangga atau kruk.

​Selama seminggu itu, kami bertiga gantian jaga di rumah sakit. Tidur di lantai beralaskan tiker tipis udah jadi makanan sehari-hari.

​Menjelang hari kepulangan Gatot, sempat ada perdebatan alot di ruang rawat inap. Bapak dan Ibunya Gatot ngotot minta dia pulang aja ke Wonosari buat recovery total.

​"Le, kowe ki cuti kuliah sik wae sak semester. Mulih neng Gunungkidul, dirawat Ibu ben balungmu cepet nyambung. Ojo meksakne manggon neng kontrakan," bujuk Ibunya Gatot sambil ngelus kepala anaknya. (Nak, kamu cuti kuliah dulu aja satu semester. Pulang ke Gunungkidul, dirawat Ibu biar tulangmu cepat nyambung. Jangan maksain tinggal di kontrakan.)

​Tapi, di luar dugaan, si preman yang biasanya cengengesan ini mendadak masang muka serius. Gatot nolak mentah-mentah usulan buat cuti.

​"Mboten, Bu. Gatot mboten ajeng cuti," tolak Gatot tegas. "Kanco-kanco wis mulai nyicil skripsi. Nek Gatot cuti, mangke lulus e keri dewe. Kulo mboten pengen ngrepoti Bapak kalih Ibu luwih suwe nggo bayar UKT. Pokoke Gatot tetep manggon neng kontrakan, tetep kuliah senajan mlaku nganggo kruk!"

(Enggak, Bu. Gatot nggak mau cuti. Temen-temen udah mulai nyicil skripsi. Kalau Gatot cuti, nanti lulusnya belakangan sendiri. Saya nggak pengen ngerepotin Bapak sama Ibu lebih lama buat bayar UKT. Pokoknya Gatot tetep tinggal di kontrakan, tetep kuliah walaupun jalan pakai kruk!)

​Sumpah, denger alasan Gatot, aku, Jono, dan Bowo sampai merinding. Baru kali ini kami ngelihat sisi dewasa dari seorang Gatot.

Setelah nego yang lumayan panjang dan diwarnai sedikit drama tangisan ibu-ibu, akhirnya Bapaknya Gatot luluh. Gatot diizinkan tetap tinggal di kontrakan, dengan syarat mutlak, aku, Jono, dan Bowo harus jadi babysitter siaga 24 jam buat ngurusin segala keperluannya.

​Begitu Gatot resmi balik ke kontrakan jahanam kami dengan kaki digips dan jalan tertatih-tatih pakai kruk, suasana rumah mendadak berubah jadi kayak posko peduli bencana.

​Kenapa? Karena empat cewek-cewek itu jadi rajin banget datang jenguk!
​Hampir tiap sore sepulang kuliah, Rahma, Desi, Mita, dan Lisna selalu mampir. Kadang bawa buah, kadang bawa lauk mateng, kadang cuma datang buat nemenin ngobrol biar Gatot nggak bosen di kasur.

Sejak kejadian kesurupan itu, ketakutan mereka sama kontrakan ini kayaknya udah ketutup sama rasa solidarity pertemanan yang makin kuat. Apalagi Mita, dia jadi perhatian banget sama Gatot, bikin si preman Wonosari itu senyum-senyum mesum tiap hari meskipun kakinya cenat-cenut.

​Tapi, dari semua kehebohan itu, ada satu hal yang makin intens dan bikin dunia serasa cuma milik berdua. Aku dan Lisna.

​Sejak "insiden tembak-tembakan" di pekarangan belakang tempo hari, hubungan kami berdua bener-bener makin nempel kayak prangko. Walaupun kami belum berani go public di depan anak-anak, love language kami jalan terus di belakang layar.

​Kalau anak-anak lagi pada sibuk nonton TV, Lisna sering diam-diam nyelipin tangannya buat pegangan tanganku. Kalau aku lagi nyapu atau cuci piring, Lisna pasti datang nemenin, kadang ngebantuin sambil curi-curi nyubit pinggangku gemes.

​Puncaknya terjadi di suatu sore. Kami berdelapan lagi ngumpul di ruang tengah. Jono lagi asyik ngegodain Bowo yang baru aja ditolak cewek anak akuntansi. Aku duduk di sebelah Lisna, berjarak sekitar sejengkal.

​"Wah, parah kowe Wo! Mangkane, rupo standar, dompet megap-megap, kok wani-wanine nembak kembang kampus! Ditolak to kowe? Berkaca pada Aris iki lho, ngerti awake kere, mangkane milih jomblo seumur hidup ben ra nanggung isin!" ejek Jono sambil ketawa ngakak, tangannya nunjuk ke arahku yang lagi anteng minum es teh. (Wah parah kamu Wo. Makanya, muka standar, dompet kembang kempis kok beranikan nembak cewek kampus. Ditolak kan kamu. Berkatalah pada Aris itu lho, tau orangnya gak punya, makanya milih jomblo seumur hidup biar gak nanggung malu)

​Aku langsung tersedak. Asu Jono, lagi anteng malah dibawa-bawa.

​Tapi, belum sempat aku misuh ngebales ejekan Jono, tiba-tiba Lisna bergeser mendekat. Tanpa aba-aba, tangan kanannya langsung menggandeng tanganku erat-erat, diangkat sedikit biar kelihatan sama semua orang di ruangan itu.

​"Eh, kata siapa Aris jomblo?" celetuk Lisna dengan nada santai tapi lantang.

​Suasana ruang tengah yang tadinya ribut ketawa langsung senyap seketika. Hening. Tujuh pasang mata langsung tertuju pada tangan kami yang saling bertautan, lalu perlahan naik menatap wajah Lisna dan wajahku bergantian.

​Bowo yang tadinya lagi manyun langsung melotot. Jono mangap. Gatot yang lagi senderan di tembok mendadak kaku, kruknya sampai melorot jatuh ke lantai.

​"Lisna... kamu ngomong apa, sih?" tanya Rahma, kaget setengah mati ngelihat sahabatnya ngegandeng tanganku.

​Lisna tersenyum lebar, senyum paling manis dan paling savage yang pernah aku lihat. Dia menatap teman-temannya satu per satu, lalu beralih menatap Jono dengan tatapan menantang.

​"Iya, aku sama Aris udah jadian. Terus kenapa kalau dia kere? Yang penting dia tanggung jawab dan bikin aku nyaman. Jadi mulai sekarang, jangan ada yang ngejek cowokku jomblo lagi ya," deklarasi Lisna dengan sangat lugas dan tanpa beban.

​Kalau di dalam komik, rahang Jono, Bowo, dan Gatot pasti udah copot ngegelinding ke lantai. Mereka bertiga shock berat, komuknya bener-bener nggak bisa dikondisikan. Mita dan Desi saling pandang sambil nutup mulut saking kagetnya.

Aku? Aku cuma bisa nyengir, dada membusung bangga nahan tawa ngelihat tampang ngenes sobat-sobatku. Diakui secara live dan go public sama bidadari kampus di depan teman-teman yang hobi ngebully itu rasanya... ah mantap! Validasi tertinggi bagi seorang pria kere. Selamat tinggal gelar jomblo ngenes, selamat datang kehidupan asmara penuh bunga (walaupun kantong merana)!

Deklarasi Lisna di ruang tengah tadi sukses bikin seisi rumah kena serangan jantung mendadak. Tapi dari semua rentetan kejadian hari itu, ada satu momen rahasia yang bener-bener bikin lututku nyaris copot, dan itu terjadi beberapa saat sebelum cewek-cewek pamit pulang.

​Momen Rahasia di Kamar Belakang
​Ceritanya, Gatot ngeluh kakinya yang nggak digips kerasa pegal. Dia minta tolong ambilin minyak urut yang ada di laci lemariku di kamar belakang. Karena Jono dan Bowo lagi asyik ngehabisin sisa gorengan, aku akhirnya berdiri buat ngambil.

​"Aku bantuin nyari ya, Ris. Tadi sekalian ada jepit rambutku yang kayaknya ketinggalan di sana pas bantuin naruh baju Gatot," kata Lisna tiba-tiba, ngekor di belakangku.

​Kami berdua masuk ke kamar yang sempit itu. Lampu kamar nyala terang, tapi hawa pengapnya masih kerasa. Lisna sibuk ngecek area dekat bantal, sementara aku jongkok ngubek-ngubek laci plastik paling bawah nyari botol minyak urut.

​"Nah, ini dia ketemu minyaknya!" seruku lega, langsung berdiri sambil muter badan ke belakang.

​Apesnya (atau malah untungnya), Lisna ternyata juga baru aja selesai ngambil jepit rambutnya dan muter badan di waktu yang bersamaan. Jarak kami terlalu dekat. Kamar ini terlalu sempit.

​Brukk!
​Kami tabrakan. Lisna kaget dan refleks mundur, tapi tumitnya malah kesandung ujung kasur lipat Gatot yang agak tebal. Badannya oleng ke belakang.

​"Eh, Lis!"
​Sistem refleks ninjaku otomatis aktif. Tangan kananku langsung melingkar cepat menahan pinggangnya sebelum dia jatuh telentang, sementara tangan kiriku menarik bahunya. Karena tarikan refleksku agak kekencengan, tubuh Lisna malah terdorong maju nabrak dadaku.

​Deg!
​Wajah kami cuma berjarak beberapa milimeter. Aku bisa ngerasain hembusan napasnya yang tertahan di wajahku. Matanya yang bulat menatapku dengan panik, tapi perlahan berubah jadi tatapan yang bikin duniaku slow motion. Nggak ada suara selain detak jantungku yang kayaknya udah over limit.

​Entah siapa yang mulai duluan, magnet di antara kami terlalu kuat. Wajah Lisna sedikit mendongak, dan wajahku otomatis menunduk.
​Dan... cup.

​Bibir kami bertemu. Awalnya cuma nempel ringan karena nggak sengaja tabrakan, tapi bukannya mundur, kami berdua malah sama-sama memejamkan mata. Dari yang niatnya cuma nolongin biar nggak jatuh, malah keterusan jadi momen french kiss amatiran berdurasi beberapa detik yang manisnya ngalahin gula tebu pabrikan. Bau apek kamar dan sisa-sisa horor kemarin langsung menguap diganti wangi vanilla dari napasnya Lisna.

​Kami baru buru-buru melepaskan diri pas denger suara teriakan Jono dari luar.

​"Woy Ris! Ngopo suwe men?! Lagi nggawe anak po piye?!" (Woy Ris! Kenapa lama banget?! Lagi bikin anak apa gimana?!)

​Aku dan Lisna langsung mundur selangkah, salah tingkah parah. Wajah Lisna merah padam kayak tomat rebus. Dia nunduk sambil benerin rambutnya yang agak berantakan, sementara aku garuk-garuk kepala belakang yang sama sekali nggak gatal sambil senyum-senyum idiot.

​"A-aku keluar duluan ya, Ris," bisik Lisna cepat, lalu buru-buru setengah lari keluar kamar.

​Aku masih matung lima detik ngerasain bibirku, sebelum akhirnya nyusul keluar dengan perasaan menang banyak.

​Setelah itu sidang Paripurna: Perang Pertanyaan Pekok

​Sekitar jam empat sore, keempat bidadari itu akhirnya pamit balik ke kosan. Aku nganterin mereka sampai depan gerbang, dadah-dadah ke Lisna dengan senyum paling lebar, lalu nutup pagar.

​Begitu aku muter badan dan buka pintu depan buat masuk ke dalam rumah... atmosfernya mendadak berubah.

Cklek. Pintu ruang tamu langsung dikunci rapat dari dalam sama Jono.
​Di ruang tengah, udah ada formasi pengadilan jalanan. Bowo narik kursi plastik dan duduk sambil lipat tangan di dada dengan muka garang yang dipaksain. Sementara Gatot, meski kakinya digips, dia duduk tegap di karpet sambil mukul-mukul tongkat kruknya ke lantai layaknya palu hakim.

​"SIDANG PARIPURNA DIMULAI! Terdakwa Aris, silakan duduk di tengah!" seru Gatot lantang.

​Aku ketawa ngakak, tapi tetep ngikutin permainan mereka. Aku duduk bersila di tengah-tengah kepungan tiga sahabat pekok yang lagi terbakar api cemburu dan rasa penasaran tingkat dewa ini.

​"Oke, silakan ditanya. Pakai asas praduga tak bersalah ya, Bos," kataku songong.

​"Praduga gundulmu!" semprot Jono langsung ngegas. Dia duduk jongkok di depanku sambil nunjuk-nunjuk mukaku. "Jujur kowe, Ris! Kowe nganggo pelet opo?! Jaran goyang, semar mesem, opo susuk samber lilin?! Mosok bidadari kampus koyo Lisna iso klepek-klepek karo gembel macem kowe?!" (Praduga gundulmu! Jujur kamu, Ris! Kamu pakai pelet apa?! Jaran goyang, semar mesem, atau susuk samber lilin?! Masa bidadari kampus kayak Lisna bisa klepek-klepek sama gembel macam kamu?!)

​"Bener!" sahut Bowo ikut maju. "Kowe mbayar dukun pira?! Lha wong tuku udud we kowe isih ngeteng njaluk aku, kok iso-isone nyewa dukun ampuh! Info dukune daerah ngendi, ndang shareloc saiki!" (Bener! Kamu bayar dukun berapa, Cuk?! Lha wong beli rokok aja kamu masih ngecer minta aku, kok bisa-bisanya nyewa dukun ampuh! Info dukunnya daerah mana, buruan shareloc sekarang!)

​Aku makin ngakak sampai mukul-mukul lantai. "Dukun matamu kuwi! Iki jenenge karisma pria sejati, Jon, Wo. Cinta itu buta, nggak mandang saldo!"

​Gatot nggak mau kalah. Dia mukul kruknya lagi ke lantai. Tuk! Tuk!

​"Ora iso! Logikaku ra tekan, Cuk!" protes Gatot dengan komuk paling ngenes. "Kowe rupo standar nasional, motor we nyilih Jono, dompet isine resi penarikan ATM sing saldone nol! Mesti kowe nggawe pesugihan to?! Ngaku kowe! Kowe wingi pas mburi omah njaluk tumbal demit yo ben iso entuk Lisna?! Kowe ngepet to asu?!"
(Nggak bisa! Logikaku nggak nyampe, Cuk! Kamu muka standar nasional, motor aja minjem Jono, dompet isinya resi penarikan ATM yang saldonya nol! Pasti kamu pakai pesugihan to?! Ngaku kamu! Kamu kemarin pas di belakang rumah minta tumbal demit ya biar bisa dapet Lisna?! Kamu ngepet to asu?!)

​"Ngepet ndasmu mlocot, Tot! Sing jaga lilin sopo nek aku ngepet?! Kowe kabeh kan turu ngebo!" balasku balas ngegas, tapi sambil ketawa puas banget. (Ngepet kepalamu mlocot, Tot! Yang jaga lilin siapa kalau aku ngepet?! Kalian semua kan tidur ngebo!)

​Ruang tengah itu langsung pecah oleh tawa kami berempat. Perang panas itu isinya cuma pertanyaan-pertanyaan konyol nggak masuk akal dari tiga jomblo ngenes yang nggak terima kenyataan kalau temannya ini sudah sold out duluan dapet kembang kampus.

​Jono misuh-misuh nyumpahin aku bakal dipelorotin Lisna, Bowo minta diajarin trik fuccboi berkedok cowok melas, sementara Gatot terus-terusan meratapi nasib kakinya yang patah karena ngira sialnya dia itu efek dari "tumbal pelet" yang aku lakuin.

​Pokoknya sore itu, suasana kontrakan jahanam ini kerasa bener-bener hangat. Nggak ada bayang-bayang hantu, nggak ada teror mencekam. Yang ada cuma rasa persaudaraan, tawa lepas, umpatan-umpatan pekok ala mahasiswa Jogja pinggiran, dan perayaan kecil-kecilan buat kemenangan asmaraku. Biarpun kami kere dan tinggal di rumah sarang demit, tapi selama ada mereka... kewarasanku seenggaknya masih aman terjaga.

Oke, mari kita fast forward dan kembali ke mode survival horror.
​Kayak yang udah aku bilang tadi, euforia asmara dan tawa lepas itu ibarat cuma jeda iklan sirup Marjan di tengah-tengah film Suzanna. Singkat, manis, tapi setelah itu kamu tetep harus ngadepin setannya.

Kejadian puncak ini, malam jahanam yang bener-bener jadi titik nadir kewarasan kami dan bikin kami mutusin buat angkat kaki malam itu juga, terjadi sekitar tiga minggu setelah Gatot pulang dari rumah sakit. Kakinya masih belum sembuh total, masih harus pakai satu tongkat kruk buat jalan.

​Malam itu, Jogja diguyur hujan badai yang nggak ngotak. Anginnya kencang banget sampai suara atap seng rumah sebelah bunyi glodak-glodak. Listrik sekampung mati total sejak habis Magrib. Otomatis, kontrakan kami cuma diterangi dua batang lilin sisa ngepet (bercanda) yang ditaruh di ruang tengah.

​Kami berempat lagi duduk melingkar, merapatkan jaket. Nggak ada yang main HP karena baterai udah pada sekarat. Suasana sumpek, lembab, dan gelap.

​Awalnya, gangguan malam itu cuma gangguan standar operasional prosedur (SOP) demit kontrakan. Bau menyan tipis-tipis, suara orang nyapu di halaman depan, sampai suara keran air kamar mandi yang nyala mati sendiri.

Kami masih berusaha cool. Jono bahkan sempat nyletuk, "Wis jarno, setane lagi gabut ra isoh nonton sinetron mergo mati lampu." (Biarin, setannya lagi gabut nggak bisa nonton sinetron karena mati lampu).

​Tapi... pas jam menunjukkan angka sebelas malam kurang sepuluh menit, atmosfer rumah itu mendadak berubah drastis.

​Lilin yang tadinya nyala terang, apinya tiba-tiba mengecil, lalu plesss... mati. Dua-duanya mati di waktu yang bersamaan, padahal nggak ada angin masuk. Ruang tengah langsung gelap gulita segelap-gelapnya.

​"Tot, uripne korekmu, Tot!" kataku panik, tanganku raba-raba lantai nyari HP. (Nyalain korekmu, Tot!)

​Ctek... ctek... Gatot nyalain korek gasnya. Cahaya kecil warna kuning menyala, menerangi muka kami berempat yang udah pucat pasi.

​Di tengah cahaya remang-remang itu, dari arah dapur belakang... terdengar suara gamelan.

​Bukan gamelan sayup-sayup kayak dari hajatan kampung. Ini suaranya jernih banget, berat, dan bertalu-talu.

Nang... ning... nong... neng... Iramanya pelan, mistis banget, dan asalnya bener-bener dari dalam dapur kontrakan kami!

​"Cuk... kowe krungu ra?" bisik Bowo, suaranya gemetar parah.

​"Krungu, su! Wis, metu saiki! Metu!" Jono langsung berdiri, panik tingkat dewa. (Denger, su! Udah, keluar sekarang! Keluar!)

​Kami berempat serempak bangkit. Aku nuntun Gatot yang jalannya masih pincang pakai kruk. Jono lari duluan ke arah pintu utama, narik grendel dan muter kenopnya.

​Cklek! Grak! Grak!
​"Ris! Lawange ra isoh dibukak, Ris!!" Jono berteriak histeris, narik-narik gagang pintu sekuat tenaga sampai urat tangannya mau putus. (Pintunya nggak bisa dibuka, Ris!!)

​"Minggir, Jon! Tak tendange!" Aku maju, mundur selangkah, lalu menendang pintu kayu itu sekuat tenaga. Brak! Gagal. Pintunya kerasa alot banget, kayak disemen dari luar. Padahal kami tahu persis nggak ada kunci gembok di luar sana!

​Sementara kami panik di depan pintu utama, suara gamelan di dapur makin kencang. Dan puncaknya... disusul oleh suara seretan benda berat dari lorong dapur menuju ruang tengah.

​Sreeeeg.... sreeeeg.... sreeeeeg.... Bunyinya persis kayak karung goni basah yang diseret di atas lantai keramik. Hawa di ruangan itu mendadak turun drastis, dinginnya menusuk tulang. Bau kapur barus, kembang melati, dan daging busuk meledak jadi satu, bikin perutku langsung mual pengen muntah.
​Gatot menyorotkan cahaya korek gasnya yang bergetar ke arah lorong dapur.

​Dan di sanalah mereka menampakkan wujud aslinya. Bukan cuma satu, Cah. Bukan.

​Di ujung lorong yang gelap, berdiri sosok Pocong yang tingginya nyaris nyentuh plafon. Kain kafannya udah nggak putih lagi, tapi coklat kotor penuh tanah dan bercak merah darah.

Wajahnya... ya Allah. Wajahnya hancur, gosong kayak habis terbakar, dengan kapas yang menyembul dari lubang hidung dan matanya. Dia menatap kami dengan mata merah yang menyala di kegelapan.

Dan di bawah kaki pocong itu, merangkak sosok perempuan dengan rambut panjang menutupi seluruh tubuhnya. Rambutnya basah kuyup, meneteskan air hitam ke lantai. Perempuan itu merangkak maju, menyeret badannya sendiri... sreeeg... sreeeg... sambil ketawa melengking.

​"Hihihihihi... arep neng ndi, Mas... ngancani aku neng kene..." (Hihihihi... mau ke mana, Mas... temenin aku di sini...)

​Ini bukan lagi teror psikologis. Ini eksekusi! Tanah jahanam ini bener2 mau nelan kami hidup2 malam itu juga!

​"ALLAHU AKBAR!!"

​Saking paniknya, Gatot yang preman Wonosari itu melakukan hal paling pekok dan out of the box. Dia ngangkat tongkat kruk alumuniumnya pakai satu tangan, lalu... WUSSS! Dia ngelempar kruk itu sekuat tenaga ke arah lorong!

​Kruk itu melayang layaknya tombak sparta dan... CLANG! Nabrak tembok dengan keras, sama sekali nggak ngenain setannya.

​"Goblok Gatot! Krukmu malah mbok buang, kowe mlaku nganggo opo ndlogok?!" teriakku histeris antara takut mati dan emosi sama kepekokannya. (Krukmu malah kamu buang, kamu jalan pakai apa bego?!)

​"Lali Cuk! Refleks! Gendong aku Ris, gendong!" Gatot panik parah, loncat-loncat pakai satu kaki.

​Di sudut lain, Jono udah lemas. Dia nyender di tembok sambil nangis sesenggukan, "Mak... nyong pan mati Mak... nyong urung rabi Mak..." (Mak... aku mau mati Mak... aku belum nikah Mak...)

Sementara Bowo merem rapat-rapat sambil komat-kamit baca entah doa apa, tapi saking paniknya yang keluar malah teks proklamasi. "Kami bangsa Indonesia... asu lali doane...!"

​Sosok merangkak itu makin dekat. Jaraknya tinggal tiga meter dari kami. Bau busuknya udah bikin mataku perih.

​Otakku kerja sejuta kali lipat lebih cepat. Pintu depan dikunci, pintu belakang sarangnya mereka. Satu2nya jalan keluar... jendela kaca nako di ruang tamu!

​"Jon! Wo! Jendelane pecahne!" teriakku.

​Bowo langsung melek. Tanpa ba-bi-bu, dia ngambil asbak kaca tebal di meja ruang tamu, lalu menghantamkannya ke kaca nako sekuat tenaga. PRANG! PRANG! Kaca pecah berhamburan. Nggak peduli tangan Bowo berdarah kena serpihan kaca, dia langsung narik Jono buat manjat keluar jendela.

​"Tot! Kowe manjat! Tak dorong seko ngisor!" kataku.

​Aku narik kerah Gatot, memaksanya manjat jendela yang penuh pecahan kaca. Gatot dengan satu kaki berjuang setengah mati. Tubuhnya yang gempal nyangkut di kusen.

​Sosok pocong tinggi besar itu tiba-tiba melayang maju dengan sangat cepat. Hawa dinginnya udah nyentuh tengkukku. Suara ketawa perempuan yg merangkak itu meledak persis di belakang telingaku.
​"Hihihihihi..."

​"CEPETAN TOT! BOKONGMU CILIKNE SITIK ASU!" teriakku histeris sambil ngedorong pantat Gatot sekuat tenaga sampai dia akhirnya jatuh terjungkal ke pekarangan depan. (Cepetan Tot! Pantatmu kecilin dikit asu!)

​Begitu Gatot lolos, aku langsung melompat naik ke kusen jendela. Tapi apes... tepat saat aku mau menjatuhkan diri ke luar, pergelangan kaki kiriku ditangkap oleh sesuatu!
​Cengkeramannya dingin banget. Aku tertahan di kusen jendela dengan posisi setengah badan di luar, setengah di dalam.

​"RIS!" teriak Jono dari bawah guyuran hujan.

​Aku menoleh ke belakang. Perempuan berambut basah itu lagi mendongak natap aku. Wajahnya pucat pasi, matanya putih semua tanpa pupil, nyengir lebar mamerin gigi2nya yg hitam dan tajam. Tangan keriputnya nyengkeram pergelangan kakiku kencang banget.

​Emosiku, ketakutanku, dan insting bertahan hidupku meledak jadi satu. Aku meronta-ronta gila-gilaan.

​Aku nendangin muka setan itu pakai kaki kananku yg bebas dengan brutal. Brak! Brak! Nggak tahu kena apa, tapi aku nendang sekuat tenaga.

​Akhirnya, cengkeraman itu terlepas. Aku langsung meluncur jatuh ke tanah pekarangan depan, menimpa badan Gatot.

​Kami berempat bangun, nggak peduli hujan badai, nggak peduli kaki Gatot sakit, nggak peduli darah di tangan Bowo. Kami lari ngibrit ninggalin halaman rumah itu, nembus derasnya hujan. Gatot yg kakinya patah bahkan bisa lari ngesot dipapah Jono dan Bowo dgn kecepatan ngalahin atlet lari estafet!

Kami lari sampai ke pos ronda RT yang jaraknya lumayan jauh dari rumah itu. Di sana, kami berempat ambruk di lantai pos yang dingin. Napas kami putus-putus, baju basah kuyup kena hujan dan lumpur, gemetar hebat nahan dingin dan shock yang luar biasa.

​Malam itu, di pos ronda sambil meluk lutut di bawah guyuran hujan lebat, aku menatap tiga sahabatku yang komuknya udah berantakan nggak karuan.

​Nggak ada yang ngomong. Nggak ada yang misuh. Kami cuma saling tatap dengan pandangan yang sama: Kita nyerah.

​Rumah kontrakan jahanam itu menang telak. Delapan juta melayang nggak masalah, dompet kosong bisa cari utangan lagi, tapi nyawa dan kewarasan kami cuma satu. Malam itu juga, dalam diam, kami berempat mengikrarkan sumpah: Besok pagi, begitu matahari terbit, kami angkat kaki dari kontrakan jahanam itu untuk selama-lamanya. Bodo amat sama sisa kontrak, bodo amat sama barang-barang sisa. Kami cabut!

Pagi harinya, cahaya matahari yang terik dan suara bising mesin motor bebek sukses membangunkan kami dari tidur darurat berselimutkan angin malam.

​Aku mengerjap-ngerjapkan mata. Badanku rasanya remuk semua karena semalaman tidur meringkuk di lantai keramik pos ronda yang dingin. Begitu nyawaku terkumpul, aku kaget setengah mati. Pos ronda tempat kami berlindung itu ternyata sudah dikerubungi sama ibu-ibu yang mau berangkat ke pasar dan bapak-bapak yang mau ke sawah!

​"Lho, Le? Iki kowe kabeh cah mahasiswa sing ngontrak neng omahe Pak Bambang to? Lha ngopo kok pating glethak neng pos ronda kene? Koyo pindang dipepe wae," tegur Pak RT yang kebetulan lagi sepedaan pagi. (Lho, Nak? Ini kalian semua anak mahasiswa yang ngontrak di rumahnya Pak Bambang kan? Lha kenapa kok pada tiduran di pos ronda sini? Kayak ikan pindang dijemur aja.)

​Gatot, Jono, dan Bowo langsung gelagapan bangun sambil ngusap-ngusap mata dan benerin baju mereka yang masih cemong kena sisa lumpur semalam.

​Karena udah kepalang tanggung jadi tontonan warga, aku akhirnya duduk bersila dan nyeritain semuanya. S-E-M-U-A-N-Y-A. Tanpa ada yang ditutup-tutupi.

​Mendengar ceritaku yang menggebu-gebu dan muka melas kami berempat, warga malah pada hening. Mereka saling lirik satu sama lain dengan raut wajah penuh arti.

​Lalu, seorang ibu-ibu berdaster batik yang bawa keranjang belanjaan sayur, menghela napas panjang dan melangkah maju.

​"Ya Allah, Le... kowe cah papat ki do ra ngerti sejarahe omah kuwi po piye to pas awal nyewo?" tanya ibu itu dengan nada prihatin. (Ya Allah, Nak... kalian berempat ini pada nggak tahu sejarahnya rumah itu apa gimana to pas awal nyewa?)

​Kami berempat serempak menggeleng polos.

​Ibu itu mulai bercerita, dan ceritanya sukses bikin bulu kuduk kami yang udah tidur kembali standing party di pagi bolong.

​Ternyata, jauh sebelum rumah itu direnovasi dan disewakan, rumah aslinya adalah tempat kejadian perkara (TKP) pembunuhan tragis satu keluarga. Konon katanya, kasusnya ngeri banget dan pelakunya sempat buron lama. Makanya, tanah di sana auranya "gelap" dan kotor banget.

​"Sakjane bar direnovasi kalih Pak Bambang, omah kuwi wis disewakke bola-bali, Le. Tapi ra tau eneng sing awet! Kowe cah papat iki rekor lho. Sadurunge kowe, wis eneng korban lima keluarga sing nyewo mlayu ra kuat. Paling suwe seminggu do njaluk pindah mergo diganggu," lanjut ibu itu lagi. (Sebenarnya habis direnovasi sama Pak Bambang, rumah itu udah disewakan berkali-kali, Nak. Tapi nggak pernah ada yang awet! Kalian berempat ini rekor lho. Sebelum kalian, udah ada korban lima keluarga yang nyewa lari nggak kuat. Paling lama seminggu pada minta pindah karena diganggu.)

​JDER! Fakta itu ibarat tamparan keras buat kewarasan kami. Pantesan harga sewanya miring banget! Pantesan tetangga pada maklum pas ada cewek kesurupan! Pantesan setannya main keroyokan!

Jono langsung mukul jidatnya sendiri. "Asu tenan! Pantesan regane murah! Tiba'e awake dewe dadi tumbal percobaan! Kok yo isoh-isohe awake dewe betah tekan sasi-sasian neng kono!" (Asu beneran! Pantesan harganya murah! Ternyata kita jadi tumbal percobaan! Kok ya bisa-bisanya kita betah sampai berbulan-bulan di sana!)

​Bapak RT ikut nyeletuk sambil ketawa getir. "Lha wong kowe kabeh ki cah mahasiswa pekok. Sing liyane mlayu wedi demit, kowe isih betah mergo wedi ra duwe omah! Yo menang kowe to, Le!" (Lha orang kalian semua ini anak mahasiswa pekok. Yang lainnya lari takut setan, kalian masih betah karena takut nggak punya rumah! Ya menang kalian to, Nak!)

​Kami berempat cuma bisa meringis ngenes. Alasan kami bertahan ngalahin 5 keluarga sebelumnya murni cuma karena ekonomi dan nggak punya uang buat pindah, bukan karena kami sakti. Pekok!

​Singkat cerita, pagi itu juga, kami nyamperin rumah Pak Bambang, si pemilik kontrakan. Nggak ada tawar-menawar, nggak ada debat. Kami balikin kunci, menceritakan teror semalam, dan menyatakan resign jadi penyewa. Pak Bambang cuma bisa minta maaf berkali-kali, sadar diri kalau rumahnya memang nggak layak huni buat manusia normal. Bodo amat soal sisa uang sewa, nyawa kami lebih berharga.

​Siangnya, setelah ngehubungin Lisna dan anak-anak cewek buat ngasih kabar (yang bikin Lisna panik dan langsung video call aku sambil nangis lega karena aku selamat), kami balik ke kontrakan jahanam itu siang bolong buat beres-beres.

​Kami packing secepat kilat. Nggak nyampe dua jam, semua barang udah masuk kardus. Kami patungan sisa-sisa uang jajan buat nyewa mobil pick-up jasa angkut pindahan.

​"Terus saiki awake dewe meh manggon neng ndi, Ris? Turu pinggir dalan po piye?" tanya Gatot dari atas bak pick-up, kakinya diselonjorin. (Terus sekarang kita mau tinggal di mana, Ris? Tidur pinggir jalan apa gimana?)

​Aku tersenyum tipis, menepuk kap mobil bak itu. "Wis, tenang. Supire wes tak arahne. Saiki awake dewe minggat nang omahku. Neng Bantul kidul. Kamar omahku lumayan ombo nggo nampung asu-asu koyo kowe kabeh sementara waktu, sakdurunge awake dewe nemu kosan anyar."
(Udah, tenang. Sopirnya udah aku arahin. Sekarang kita minggat ke rumahku. Di Bantul selatan. Kamar rumahku lumayan lebar buat nampung anjing-anjing kayak kalian semua sementara waktu, sebelum kita nemu kosan baru.)

​Siang itu, di bawah terik matahari Jogja, mobil pick-up bak terbuka itu melaju meninggalkan kontrakan, membawa kami berempat menjauh dari kontrakan tanah jahanam itu untuk selama-lamanya. Kami berempat duduk di bak belakang, di antara tumpukan kardus dan kasur lipat. Angin menerpa wajah kami yang lelah tapi bener-bener lega.

​Nah, Cah... begitulah akhir dari kisah panjang kita berempat di kontrakan tanah jahanam itu. Gila? Emang. Horor? Nggak usah ditanya. Absurd? Banget!

​Suka duka udah bener-bener kami rasain bareng-bareng di sana. Dari yang awalnya cuma musuhan perkara rebutan gorengan, diuji nyali sama pocong, diteror kuntilanak, sampai ujian persahabatan pas Gatot nyaris lewat di jalanan. Bahkan, di tempat paling ngeri sekalipun, Tuhan masih berbaik hati ngasih aku rejeki paling indah lewat senyum dan pelukan Lisna.

​Semua kejadian itu ngajarin aku satu hal: Setan itu emang nyeremin, tapi jadi mahasiswa kere yang nggak punya duit buat bayar kosan itu jauh lebih mematikan!

​Makasih udah mau nemenin aku, Jono, Bowo, dan Gatot nyusuri kisah pekok kami. Pesan dari aku, kalau kalian dapet tawaran rumah kontrakan murah dengan fasilitas lengkap, jangan langsung girang. Cek dulu, tanyain warga, atau minimal... pastiin klosetnya nggak ada sisa kembang setamannya.

​Eh, sik sik! Hampir kelupaan satu hal penting! Sebelum beneran bubar jalan, aku mau ngasih update sedikit soal urusan asmaraku.

Ya kali kisah horornya epic, tapi ending asmaranya gantung, to?

Buat kalian yang penasaran gimana kelanjutan hubunganku sama Lisna setelah minggat dari kontrakan jahanam itu... Alhamdulillah, sampai detik aku nyeritain ini, hubungan kami masih aman, tentram, dan bucin abis!

Bidadari kampus itu nyatanya bener-bener nerima aku apa adanya.
​Malah ya, ada satu momen yang bikin aku sadar kalau Lisna ini bukan cuma sekadar cewek cantik, tapi bener-bener titisan malaikat (atau mungkin dia yang agak pekok karena mau aja sama aku).

​Suatu hari, pas libur semesteran dan aku lagi mudik, dia tiba-tiba nge-chat minta shareloc rumahku. Aku pikir cuma iseng, eh ternyata dia beneran nekat mampir ke rumahku sendirian naik motor matic-nya! Sendirian, Cah!

​Bayangin ya, kosan dia itu di daerah Sleman. Sementara rumahku? Di ujung selatan bumi Mataram, tepatnya di daerah perbatasan Imogiri - Panggang! Jauhe ra umum! Itu jaraknya puluhan kilometer ngelewatin kota, ringroad, sampai masuk jalanan kabupaten.

Pas dia nyampe depan rumahku dengan muka agak cemong kena debu jalanan tapi masih nyengir manis, rasanya aku pengen sujud syukur di aspal saat itu juga. Ibuku sampai kaget anak lanangnya yang kere ini tiba-tiba diapeli kembang desa dari kota.

​Nah... ngomong-ngomong soal rumahku di perbatasan Imogiri - Panggang, aku mau ngasih sedikit spoiler nih buat kalian.

​Kalian pikir setelah lolos dari kontrakan itu hidupku bebas dari demit? Oh, tentu tidak semudah itu, Ferguso.

​Buat kalian yang orang Jogja atau pernah main ke daerah kidul (selatan), pasti tahu gimana medannya jalan raya Siluk - Panggang.

Daerah rumahku itu lokasinya di perbukitan karst. Jalannya nanjak ekstrim, berkelok-kelok patah, dan kanan kirinya itu alas jati (hutan jati) yang gembel banget. Kalau siang emang view-nya cakep buat sepedaan, tapi kalau udah jam sembilan malam ke atas?

Lampu penerangan jalan minim, kabut sering turun, dan sepinya ngalahin kuburan.

​Di daerahku ini, legendanya bukan cuma pocong atau kunti ngetuk pintu. Di sini, demitnya main fisik!

​Pernah suatu malam, aku balik dari dolan sekitar jam setengah dua belas malam. Motorku ngeden pas ngelewatin tanjakan Siluk yang paling sepi dan diapit tebing. Pas lagi fokus nahan gas, dari arah kaca spion, aku ngelihat ada cahaya merah terang di belakangku. Aku pikir itu lampu motor orang.

​Tapi pas aku lirik lagi... cahaya itu melayang sekitar dua meter dari aspal. Bentuknya bulat, apinya berkobar, dan anehnya, api itu ngeluarin suara kretek-kretek persis ranting dibakar.

​Itu Banaspati, Cah! Hantu bola api legenda alas selatan yang katanya suka ngejar orang sampai celaka!

​Dan bener aja, bola api itu makin lama makin dekat, terbang ngikutin kecepatan motorku. Hawa panasnya bahkan sampai kerasa nyengat di tengkuk belakangku. Gimana rasanya dikejar bola api di jalanan hutan jati gelap gulita yang kanan-kirinya jurang?

Sumpah, rasanya lebih parah dari diganggu pocong!

​Gimana kelanjutan aku lolos dari Banaspati itu? Terus ada juga kejadian pasar gaib yang sering ngecoh pengendara di alas Panggang?

​Sabar... simpang dulu rasa penasaran kalian. Kalau ceritanya aku bongkar sekarang, nanti nggak surprise lagi. Yang jelas, horor di alas jati rumahku itu nggak kalah hardcore dari kontrakan jahanam kemarin.

​Sekarang, biarin aku Aris, si mahasiswa pekok kesayangan Lisna, bener-bener pamit undur diri dulu. Sampai ketemu di kisah ngeri dari bukit selatan. Matur nuwun udah dengerin curhatanku!

SELESAI

Share this Scrolly Tale with your friends.

A Scrolly Tale is a new way to read Twitter threads with a more visually immersive experience.
Discover more beautiful Scrolly Tales like this.

Keep scrolling