, 152 tweets, 20 min read Read on Twitter
KUBANG WALINGI

A Thread

@bacahorror #threadhorror

(Maaf apabila ada kesamaan nama dan tempat. Jika pembaca sempat mencari 'kubang walingi' di google saya pastikan bukan tempat itu yang dimaksud cerita ini)
Kubang Walingi, menurutku dari namanya tempat ini seolah memiliki aksen Sunda. Entah menurut para pembaca. Tak seperti tempat angker kebanyakan, yang digambarkan dengan deskripsi seram. Kubang Walingi tak begitu, tempat ini 'cuma' sebatas petak sawah yang
tidak pernah dicocoki tanaman di atasnya. Bukan tanpa sebab, justru disinilah letak misteri itu berada. Di bawah ini sekilas denah yang akan dibahas dalam alur cerita.
Keterangan:
1 & 2 : Areal Pemakaman
5 & 6 : Sawah
3 : KUBANG WALINGI
7 : Jalan (bukan jalan raya)
8 : Beberapa rumah warga
4 : Gedung Sekolah MTs.
Aku, duduk di bangku MTs, kelas 8. Bagiku dan temanku MTs itu asal kata dari Madrasah Tepi Sawah, karena memang dikelilingi oleh persawahan. Jauh dari jalan utama, juga begitu mantap melihat areal pemakaman. Sepertinya kami dididesain untuk ingat mati. huhuhu
Bukan soal sekolah yang terisolir dari keramaian dan kuburan-kuburan yang membuat takut, lebih dari itu ada satu tempat sungir yang dalam pandangan mata lahir tak begitu kentara keseramannya tetapi tempat ini memiliki tingkat keramat tinggi. KUBANG WALINGI
Ya di atas sudah disebut, Kubang Walingi itu sepetak sawah yang tak ditanami apa-apa luasnya sekitar 7x5 meter saja. Tapi keangkerannya sudah terkenal seantero kelurahan kami. Menurut orang-orang Kubang Walingi bisa disebut dengan kerajaan gaib atau setidak-
nya pintu menuju alam lelembut. Hal ini diketahui jauh bertahun-tahun sebelum kami lahir.
Untuk memudahkan penyampaian cerita dan memahaminya, alur waktu akan dibagi menjadi 3 bagian. 1. periode awal (era Abah Rawi)
2. periode pertengahan (era bapakku)
3. periode kini (aku ada disini)
Masing-masing waktu memiliki estimasinya sendiri.
(periode pertengahan) Keangkeran Kubang Walingi, awalnya diimani sekedar sebagai mitos isapan jempol belaka. Dongeng pengantar tidur untuk menakut-nakuti anak kecil. Sebelum kejadian berturut-turut menimpa satu keluarga yang kemudian ditafsiri oleh masyarakat
dengan sebutan tuah Kubang Walingi. Cerita ini di dapat dari penuturan bapakku.
°°°
Pak Wahyu adalah pemilik sawah yang di dalam satu petak sawah tersebut terdapat Kubang Walingi. Antara percaya dan tidak, dia tak pernah mencoba untuk menanami Kubang Walingi
meskipun masih dalam lingkup sawahnya. Semua itu karena kabar yang beredar di masyarakat mengenai Kubang Walingi amat mengerikan. Pantang bagi siapapaun untuk bercocok tanam di atas Kubang Walingi. Siapapun melanggar, harus siap dengan semua akibat buruknya.
Mitos ini sudah beredar secara turun temurun, generasi ke generasi tapi bagi Pak Wahyu mitos ini tak pernah terbuktikan sepanjang dia hidup di kelurahan Beringin. Terlebih dia pemilik sawah itu. Artinya dia juga pemilik Kubang Walingi. Diantara perasaan
dilematis untuk memenuhi tambahan ekonomi. Dalam benak Pak Wahyu: eman-eman tanahnya nganggur. Artinya dia harus melanggar pantangan untuk membiarkan Kubang Walingi bebas dari aktivitas pertanian. Akhirnya suatu hari tanpa berkompromi terlebih dulu dengan
keluarganya, dibukalah Kubang Walingi untuk lahan ladang padi. Dicangkul, digemburkan, ditanami padi. Apakah dalam proses itu ada yang melarang Pak Wahyu untuk tak menuntaskan niatnya ?. Banyak, bukan satu dua orang, termasuk larangan datang dari istrinya.
Pak Wahyu tetap pada jalan petaninya. Ya ! menanami Kubang Walingi dengan padi. Padahal, tanah ini sudah menganggur puluhan (mungkin ratusan) tahun lalu.
***
Kubang Walingi sudah ditanami padi. Pak Wahyu masih tetap sumringah. Tapi tidak dengan istrinya.
Dari minyak wajahnya tak dipungkiri dia tengah gelisah.
"Pak e, opo ra masalah, kubang walingi kita tanami ?" Istri Pak Wahyu membuka obrolan setelah sholat magrib.
"Ora, lah wong kubang walingi iku sawah kita" Pak Wahyu menjawab.
"Tapi pak, semalam kulo
mimpi didatangi manuk Kukuk Beluk (burung hantu)"
"Ah cuma mimpi, ndak perlu dipikirin".
***
Percakapan ini terjadi lepas 5 hari dari Pak Wahyu menanami Kubang Walingi.
Keesokan harinya. Seperti biasa Pak Wahyu pergi ke sawah, melihat-lihat barangkali ada sesuatu yang terjadi dengan Kubang Walingi. Pak Wahyu sendiri tak mungkir terhadap perasaan takut yang melingkupi pikirannya. Tapi berulangkali timbul takut, buru-buru dia
menghalaunya.
"Ah ini sawah nyatanya baik-baik saja, ndak ada yang aneh muncul dari Kubang Walingi, berarti selama ini penunggu Kubang Walingi cuma dongeng, tak benar masyarakat Beringin. Jangan-jangan isu itu sengaja disebar biar aku ndak tanami Kubang
Walingi".
°°°
Adzan Duhur berkumandang, sementara itu di rumah istri Pak Wahyu meminta anaknya yang sudah pulang sekolah untuk mengantarkan bekal ke sawah buat bapaknya.
°°°
Sesampainya di sawah dia teramat kaget melihat kondisi bapaknya. Seolah tak percaya
dengan apa yang dia lihat, dia berulang kali mengucek mata meyakinkan terhadap pandangannya sendiri. Ternyata matanya memang tak berbohong, tak sengaja ia jatuhkan bekal, dan lari tunggang langgang.
°°°
Rumah Pak Wahyu cukup dekat dari Kubang Walingi,
anaknya yang sudah sampai buru-buru berteriak memanggil ibunya.
"Ibu ibu... bapak bu..." Setengah nafasnya ngos-ngosan. Tapi belum juga dia temui ibunya. Tetangga terlebih dulu memasuki rumahnya.
"Ono opo too Rusdi bikin geger wae ?" Tanya Pakde Leman.
"Iku pakde, bapak .. ning sawah koyo lagi sawan (kejang).
"Astaghfirullah, bener le ?"
"Yo bener pakde, ayo ndang kita kesana"
Sekitar 6 orang termasuk Rusdi anak pak Wahyu berlarian menuki Kubang Walingi. Sedangkan istri pak Wahyu belum juga kelihatan
batang hidungnya.
°°°
Setelah tiba di sawah, Pakde, Rusdi dan warga lainnya hampir serempak berteriak "Gusti".
Pak Wahyu didapati tengah telanjang bulat, dia mencabuti setengah padi dari seluruh padi yang ditanam di Kubang Walingi. Padi tersebut dibuang ?
Salah. Padi yang ia cabuti dimakannya dengan lahap. Ya campur dengan akar, rumput-rumput sekaligus lumpur.
Tubuh Pak Wahyu yang telanjang, kotor berbalur lumpur.
"krauk krauk.." dia terus memamah padi-padinya.
Sedang warga masih tertegun melihat keadaan
Pak Wahyu.
°°°
Entah karena perasaan takut terhadap perilaku Pak Wahyu, atau justru tidak mau berurusan dengan Kubang Walingi yang membuat warga enggan menolong Pak Wahyu. Mereka memperhatikan sambil mengelus-elus dada. Rusdi hanya menangis menjerit-jerit.
Akhirnya setelah beberapa saat, pakde Rusdi memerintahkan salah satu warga untuk memanggil Mbah Slamet. Konon mbah Slamet ini seorang ahli yang bisa menetralisir orang kesurupan. Sambil menunggu mbah Slamet datang, pakde Rusdi berinisiatif untuk tetap berjaga
disekitaran Kubang Walingi khawatir Pak Wahyu semakin bergolak dan membahayakan dirinya sendiri. Khawatir sekedar khawatir karena pada nyatanya mereka tetap tak berani menolong.
***
Sesaat mbah Slamet tiba.
"Ya Allah gusti, iki piye ceritane kok Kubang
Walingi isone ditanami pari ?" Komentar pertama dari mbah Slamet malah mengarah ke Kubang Walingi yang ditanami padi bukan pada Pak Wahyu yang terus-terusan memamah padi.
"Iku Wahyu dipegangi, ayo podo turun ning sawah, ati-ati bismillah" Mbah Slamet meminta.
Meski diliputi perasaan ragu dan takut, warga tetap turun membantu mbah Slamet memegangi pak Wahyu.
°°°
Pada saat warga menahan pak Wahyu supaya tak makan padi, mbah Slamet membacakan do'a khusus pengusir jin. "Puuhhh" ditiupnya pak Wahyu. Sadar ?. belum.
Karena ternyata 5 orang yang memegangi pak Wahyu justru dibanting oleh pak Wahyu. Seperti gerombolan pegulat mereka berlumuran lumpur. Untuk sekian kalinya mbah Slamet memerintah warga menahan tenaga pak Wahyu.
"Kita bawa saja dulu ke atas mbah" Usul pakde
Rusdi.
"Yo ayok, dibawa ning dalan" jawab mbah Slamet.
(note: terjadi beberapa salah sebut nama. Pakde Rusdi harusnya Pakde Leman. Rusdi sendiri adl anak pak Wahyu). Mohon maklum, karen nama ini sekedar rekaan. Mana mungkin cerita dng nama asli..
Sekarang. Mbah Slamet, pakde Leman, Rusdi dan ke empat warga sudah berada di jalan tak terkecuali pak Wahyu.
Mbah Slamet kembali komat-kamit bermaksud menyadarkan pak Wahyu. Usahanya tak sia-sia, karena pak Wahyu sudah lemas tak berontak seperti tadi. Hanya
kemungkinan dia pingsan.
"Ayok diangkat, digowo muleh" Perintah mbah Slamet.
Pak Wahyu masih dalam keadaan telanjang ketika dibawa ke rumahnya, hanya dibagian alat vitalnya ditutupi secarik kain. Di jalan, semua orang yang melihat iring-iringan mbah Slamet
yang membawa pak Wahyu riuh bertanya, ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.
°°°
Setiba di rumah, warga menidurkan pak Wahyu diteras. Kemudian Rusdi berinisiatif mengambil kain untuk membersihkan tubuh bapaknya.
Dalam situasi ini, istri pak Wahyu belum
nampak juga. Hal itu mengundang tanya dari mbah Slamet.
"Ibu e ning ndi le ?" Tanya mbah Slamet ke Rusdi.
"Mboten ngertos mbah" Rusdi menjawab sembari mengelap tubuh bapaknya yang kotor oleh lumpur.
"Coba dicari le !"
"Nggih mbah"
Rusdi pun mencari ke dalam
rumah. Beberapa menit mencari tak kunjung ketemu. Akhirnya Rusdi mencari ke kamar mandi. Dan apa yang ditemukan oleh Rusdi sungguh diluar dugaan.
"Ibuuu" Rusdi berteriak kencang. Warga yang berada di luar buru-buru menuju arah teriakan.
"Kenapa le ?" Tanya
pakde Leman.
"Itu ibu, kenapa pakde?". Rusdi menjawab dengan telunjuk mengarah ke wc. Ternyata ibunya sedang dalam posisi seperti orang buang hajat. Cuma matanya melotot tatapannya kosong. Dimulutnya tersumpal tanaman padi yang masih hijau. Bukan memamah
seperti apa yang dilakukan oleh suaminya. Melainkan memuntahkan. Kejadian ini mungkin sudah lama karena di depan istri pak Wahyu sudah tercecer padi-padi yang berlendir. Pak Wahyu belum sadar betul, kini giliran istrinya yang mengalami masalah aneh yang
sulit dicerna akal sehat. Warga semakin banyak saja yang menonton. Pak Wahyu belum siuman, istrinya masih muntah tumbuhan padi. Dan mbah Slamet semakin linglung, dia tak paham apa yang harus diperbuatnya.
°°°
Karena ada pembaca yang tak paham bahasa jawa. Dalam penulisan ini kita gunakan bahasa Indonesia saja.
"Panggil mas Diri, mungkin beliau bisa bantu mengobagi pak Wahyu dan istrinya". Ucap mbah Slamet.
°°°
(periode kini).
"Oh jadi akhirnya warga memanggil bapak ?" Tanyaku pada bapak.
"Ya begitulah Wafa, waktu itu bapak beberapa bulan baru pulang dari padepokan.
ilmu yang ada di bapak lagi anget-angetnya".
"Bapak bisa nyembuhin?". Aku penasaran.
"Sabar.. ceritanya masih berlanjut" Tegas bapakku.
°°°
(kembali ke cerita)
"Assalamualaikum" Sembari mengetuk pintu, seseorang uluk salam.
"Waalaikumussalam eh pak Yanto, silahkan masuk" Jawab bapak waktu itu yang masih bujangan
"Nggih, saya di luar saja, ini lagi darurat mas Dir," Pak Yanto gemetaran
"Ada apa to pak ?"
"Anu.. itu pak Wahyu sama istrinya diganggu demit"
"Loh masih sore kok sudah diganggu demit ?"
"Saya ndak paham mas, ayok langsung saja ke rumah pak Wahyu." Ajak pak Yanto.
"Nggih,ayok"
Berangkatlah bapak bareng pak Yanto ke rumah pak Wahyu
Setibanya di rumah pak Wahyu.
"Mas Diri, kami minta tolong, tolong obati pak Wahyu sama istrinya" Pinta pakde Leman
"Nggih insyaallah pakde, saya usahakan, saya minta segelas air dicampur garam"
"Nggih". Pakde Leman mengambil segelas air bercampur garam.
"Ini mas Diri airnya"
"Matur suwun pakde, tolong orang-orang yang berkerumun di dekat pak Wahyu disuruh minggir dulu"
"Nggis mas Dir."
°°°
Setelah warga yang berkerumun di dekat pak Wahyu menepi, bapak mendekat.
"Bismillahirrahmanirrahim.."
Sembari mencelup-
kan dua jarinya ke dalam air lalu mengoleskannya tepat diantara dua alis, di ubun-ubun dan di dua telapak kaki. Selang 1 menit pak Wahyu membuka mata, sadar.
note: untuk lbh mudah memahami maka cerita ini akan berubah sudut pandang. memakai sudut pandang aku adl bapakku sendiri (mas Diri)
Setelah menyadarkan pak Wahyu, kini giliran istri pak Wahyu yang butuh penanganan. Warga membopong istri pak Wahyu dari dalam kamar mandi ke ruang tamu. Dengan memakai air tadi, ku celupkan jari dan ku sentuhkan di lehernya. Seketika mulutnya yang muntah
padi, berhenti. Tapi suaranya masih mengeram, tanda istri pak wahyu belum sepenuhnya siuman. Ku sentuhkan lagi jari di kedua matanya. Dan diantara ubun-ubun kepalanya. Alhamdulillah berkat kuasa Tuhan, istri pak Wahyu sadar.
°°°
Ternyata terornya tak berhenti
sampai disini. Ibarat bertamu, jin tersebut baru saja mengetuk pintu. Sekedar memberi pertanda bahwa dia akan datang.
"Kok jadi begini sih pak, gimana ceritanya?" Aku bertanya pada pak Wahyu.
"Saya juga kurang tahu mas Dir" Jawab dia.
"Apa ada sesuatu yang
bapak lakukan kaitannya dengan Kubang Walingi ?". Pertanyaan ini bagiku cukup mendasar mengingat dari desas desus warga, pak Wahyu berani menanami Kubang Walingi yang sebelumnya dibiarkan kosong.
"Saya menanam padi di Kubang Walingi, apa salah saya ? itukan
bagian dari sawah saya juga mas ?". Pak Wahyu mencoba menjawab sekenanya.
"Nggih leres (iya benar), tapi apa bapak ndak tahu kalau Kubang Walingi itu akeh demite (banyak hantunya)?" Tanyaku,lagi.
"Siapa yang tahu, wong saya belum pernah dirawuhi" Jawabnya.
"Sekarang sudah dirawuhi, bapak percaya ?" Celetuk mbah Slamet.
"Ya mau gimana lagi" Timpal pak Wahyu.

°°°
Adzan magrib berkumandang, warga yang memadati rumah pak Wahyu perlahan pulang. Aku masih tertegun, memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Aku masih ingat cerita-cerita dari orang tua jaman dulu, bagaimana ganasnya penunggu Kubang Walingi. Meski akhirnya rajany mampu ditaklukan dan dibuang jauh oleh Abah Rawi tapi setelah beliau meninggal jin Kubang Walingi kembali ke tempat asalnya.
(Periode awal)
Abah Rawi merupakan salah satu tokoh yang dihormati oleh masyarakat. Selain ilmu agamanya yang mumpuni, beliau juga memiliki ilmu hikmah tingkat tinggi. Awal mula persinggungannya dengan penghuni Kubang Walingi ialah ketika ada seorang lelaki
paruh baya yang ditemukan tewas mengenaskan di atas tanah Kubang Walingi. Kematian tak wajar itu masih diselimuti misteri gelap. Mayatnya dalam keadaan sujud, di punggungnya membekas dua telapak kaki berwarna merah, tak memakai baju cuma celana pendek,
dan seluruh mukanya gosong seperti bekas terbakar. Semenjak itulah Kubang Walingi menjadi mengerikan. Bukan hanya karena penemuan mayat tetapi pencarian jawaban dari adakah pertalian sabab musabab antara mayat itu dengan Kubang Walingi sendiri.
Nyatanya kejadian ganjil itu selalu berputar-putar dalam benak Abah Rawi. Merasa harus mencari jawaban beliau memanggil 3 santrinya yaitu Mas Karto, Mas Endang, dan Mas Ujang. Ketiga santri tersebut diperintah untuk mempersiapkan perlengkapan semedi.
Tepat malam Selasa Kliwon. Perlengkapan semedi telah siap. Abah Rawi dan ketiga muridnya memasuki ruangan gelap hanya bercahaya lampu minyak, ceplik. Setelah sholat taubat, sholat hajat, dan sholat istikhoroh keempatnya duduk membuat lingkaran. Masing-masing
ditangan kananya mengenggam tasbeh. Sedangkan disebalik punggung Abah Rawi terikat sebuah keris. Prosesi ini dimaksudkan untuk melakukan perjalanan astral atau bahasa awam dikenal dengan ngerogo sukmo.
"ya lathif.ya lathif." kompak keempatnya berdzikir pelan.
"Nanti setelah sukma kita sampai di Kubang Walingi, jangan mengamati terlalu dekat, biar ndak memancing perhatian apalagi keributan, jauh saja yang penting mata kita mengawasi keadaan Kubang Walingi, apabila ada yang sudah tidak kuat berlama-lama di alam
lelembuat, boleh untuk kembali lebih dulu dan jangan sampai meninggalkan wadag yang belum kembali, paham?"
"Insyaallah paham abah" ketiganya serentak menjawab.
"Baiklah, baca asma ngerogo sukmo, ikhlaskan. laa haula walaa quwwata illa billahil 'aliyil azhiim"
Setttt.. sukma abah Rawi dan ketiga muridnya meninggalkan jasad kasar mereka.
Sukma mereka melayang menuju Kubang Walingi. Namun demi keamanan mereka sendiri, ke empatnya hanya mengawasi dari kejauhan aktivitas apa saja yang ada di sana. Nampak, Kubang Walingi begitu ramai. Rupa-rupa makhluk ada di tempat itu. Genderewo, kuntilanak,
pocong, banaspati sampai makhluk jenis siluman pun ikut berbagi peran. Dan nampaklah di dimensi kegaiban paling dalam seorang raja berwujud makhluk besar yang keseluruhan tubuhnya dipenuhi mata. Yang kemudian hari makhluk ini oleh masyarakat dijuluki
"Moto Sewu". Kenapa abah Rawi tahu makhluk tersebut adalah rajanya, karena makhluk-makhluk yang lain menyembah dan mengagungkannya. Diapun duduk di singgasana yang kilauannya menyilaukan mata. Ada yang aneh, kenapa ada perwujudan manusia yang ikut melayani
sang Moto Sewu. Dari raut muka mereka menggambarkan kelelahan, ketakutan, serta penyesalan yang tak berperi. Bukan cuma lelaki ada juga perempuan-perempuan. Kesemua mereka digelangi rantai besi. Sungguh menyedihkan melihatnya.
°°°
Akhirnya setelah puas
ngetik banyak2 malah gagal ke tweet disitu rasanya pengen berkata kasar.

KASAAAARRRRRRR
mengamati Kubang Walingi abah Rawi menyimpulkan bahwa Kubang Walingi bukan sembarang tempat yang bisa dijamah manusia. Kemudian keempatnya kembali ke jasad masing-masing.
°°°
Keesokan harinya. Abah Rawi menyempatkan pergi ke Kubang Walingi.
Beliau mengambil sejumput tanah dari Kubang Walingi. Dibungkusnya dengan kain hitam tanah tersebut. Lalu dibawanya pulang. Untuk apa ? Entahlah. Tapi dari sebab itulah awal mula teror Kubang Walingi mulai merebak diantara para penduduk.
Setelah thread Kubang Walingi tamat akan ada judul "Teluh Pengasihan" diilhami dari curhatan seorang gadis korban pelet.
Ba'da magrib seorang warga berteriak. Hal ini memancing warga lainnya untuk berkerumun.
"Ono opo kang ?" Tanya mereka.
"Ada Banaspati terbang, arahnya dari Kubang Walingi tadi lama mengitari perumahan warga, mosok ndak pada lihat ?"
"Ndak igh.. kira-kira
pertanda apa ya ?".
"Kulo mboten ngertos, dari sejak kemarin ada yang mati di Kubang Walingi kampung kita jadi ada aneh-aneh. Kemarin Pak Saripin didatangi tamu kakek-kakek bongkok, pakeannya serba hitam lusuh, dia membawa tongkat, mukanya keriput, dari sudut
bibirnya ada inang, dan katanya matanya hitam pekat."
"Kakek asli apa jadi-jadian kang?" Tanya salah seorang warga.
"Demitlah.. wong kakinya gak keliatan napak di tanah. Katanya lagi ini yang membuat pak Saripin sakit dan ogah ikut ronda bareng kita. Mungkin
masih trauma. Dan bukan cuma pak Saripin yang didatangin kakek itu. Dari cerita warga yang pernah ditemui, kakek itu mencari Rojo Galuh"
"Kira-kira siapa Rojo Galuh itu ya ?. Memangnya warga kita ada yang bernama Rojo Galuh?"
Ternyata dalam percakapan ini
salah satu santri abah Rawi ikut mendengarkan. Dia berkeyakinan apa yang dia dengar secepatnya harus dilaporkan kepada gurunya.
Di rumah abah Rawi. Sang santri bercerita mengenai warga yang disatroni demit berwujud kakek-kakek menyeramkan. Kata mereka kakek tersebut menanyakan tentang seorang yang bernama Raja Galuh.
"Maaf abah, bukankah Raja Galuh itu nJenengan ?"
"Iya"
"Tapi kenapa
jin itu mencari nJenengan ?, apakah perkara soal kemarin hari yang kita memasuki kawasan Kubang Walingi ?" Tanya si santri.
"Bukan sebab itu, tapi kemungkinan karena abah mengambil tanah dari sana. Sengaja ingin memancing salah satu dari mereka keluar."
"Sekarang sudah ada yang keluar dan meneror warga, bukan satu makhluk saja. Dari laporan warga ada yang melihat banaspati, kuntilanak, pocong, genderewo, tuyul dan lainnya. Apa yang abah akan lakukan?"
"Nanti malam ahad, kamu akan mendapatkan jawabannya"
Malam ahad yang ditunggu-tunggu pun tiba. Sekitar pukul 9. Seseorang terlihat mondar-mandir di depan pagar pondok abah Rawi.
"Assalamualaikum.." Uluk salam orang itu.
"Waalaikumsalam. Silahkan masuk pak, ada apa nggih ?"
"Abah Rawi ada ?" Jawabnya tergesa.
"Ada, pripun nggih?"
"Itu istri saya kerasukan"
"Astagfirullah. Bapak pulang dulu nanti saya sama abah menyusul".
" Matur suwun mas, saya pamit dulu"
Di kamar abah Rawi.
"Abah, barusan ada orang yang datang memberitahuan kalau istrinya sedang kerasukan."
"Abah sudah paham, mari kita ke rumah Pak Naryo. Istrinya sedang menunggu kita"
Setiba di rumah Pak Naryo. Istri pak Naryo begitu mirip tingkahnya seperti seorang kakek-kakek, dia tengah mondar-mandir di dalam rumah. Jalannya membungkuk, tangannya seolah memegang tongkat. Wajahnya menengadah marah. Mulutnya komat-kamit.
"Abah tolong istri saya, abah.." Pak Naryo memohon.
"Apakah istri bapak kedatangan tamu tadi selepas isya ?".
"Sepertinya begitu abah, tadi saya dengar dia membukakan pintu. Tapi ujug-ujug jadi kaya gini"
"Yang masuk di badan istrimu adalah Rowogeni, asalnya
dari Kubang Walingi."
Pas.. ketika abah Rawi menyebut Rowogeni. Si istri pak Naryo yang sedang kerasukan ini menengok ke arah abah Rawi.
"Oh ternyata sampeyan Rojo Galuh, saya sudah mencari sampeyan ke berbagai tempat" Suaranya berubah menjadi lelaki.
"Saya sudah disini, kamu mau apa? Jangan ganggu orang ini".
"Ganggu gak ganggu urusan saya, kenapa kamu jadi yang ngatur-ngatur"
"Demi kebaikanmu dan kebaikan istri pak Naryo, silahkan kamu keluar"
"Loh loh. silahkan saja keluarkan saya kalau kamu sanggup".
"Kalau saya sanggup keluarkan kamu, kamu janji gak bakal ganggu keluarga ini lagi?"
"Heleh.. saya mengganggu warga di sini yo gara-gara kamu ngambil tanah wingit Kubang Walingi. Saya ditugaskan raja untuk mengambil tanah itu lagi. Kalau kamu mau apa-apa dari
Kubang Walingi, kamu harus sembah sujud ke raja kami."
"Kalau saya menyembah, akan dapat apa ?"
"Apa yang kamu minta semuanya bisa didapat di Kubang Walingi. Dimulai dari jabatan, kesaktian, harta benda, istri cantik, segalanya bisa terkabulkan asal kamu
memenuhi syarat-syaratnya."
"Apa syaratnya ?" tanya abah Rawi.
"Nyawa. 1 Nyawa keluargamu untuk 8 bulan kekayaan. Lepas 8 bulan kamu harus tambah 1 nyawa lagi."
"Saya tak sudi. Kamu menipu saya, saya juga bisa menipu kamu. Daritadi saya cuma sedang mengorek
informasi tentang Kubang Walingi. Ternyata benar dugaanku, itu tempat pemujaan pesugihan. Rajamu namanya Cempaka Merah berwujud siluman ular. Tapi dia menyembunyikam wujud aslinya dibalik wujud Moto Sewu."
"Argh kamu tahu darimana Rojo Galuh?"
"Allah yang
memberi petunjuk kepadaku"
"Ahrrg panas. Jangan sebut nama itu, panas"
"Sekarang kamu keluar dari jasad ini. Melaporlah kepada rajamu, 3 purnama yang akan datang saya beserta poro santri akan menyerang kerajaanmu di Kubang Walingi."
"Hahaha.. sombong sekali"
"Allahumma rojo sulaiman..." Ditiuplah ubun-ubun istri pak Naryo. Diiringi teriakan Rowogeni, istri pak Naryo tersadar.
Beberapa hari setelah kejadian istri pak Naryo kesurupan. Kubang Walingi kembali geger. Kalau kemarin ada mayat manusia yang ditemukan. Hari ini ada bangkai kambing hitam dengan darah yang masih segar. Apakah ini perbuatan orang muja ?
Tak dipungkiri, berita tentang Kubang Walingi sebagai tempat muja tersebar luas di masyarakat. Ada sebagian yang takut, dan ada juga justru yang penasaran. Setiap malam tertentu di Kubang Walingi nampak kelip cahaya lampu minyak. Masyarakat sudah berpandangan
bahwa Kubang Walingi senantiasa harus segera ditutup keberadaannya. Hal ini disetujui oleh abah Rawi selaku tokoh agama di kelurahan itu. Tapi tak mau gegabah abah Rawi menunggu waktu yang tepat. Yaitu lepas 3 purnama tepat di malam Selasa Kliwon.
Selama 3 purnama abah Rawi mengasah ilmunya. Tirakat, puasa, berdzikir, semua dilakukannya demi mempersiapkan pertarungan dengan raja Kubang Walingi.
°°°
Bagi orang awam yang tak percaya dengan kegaiban, mungkin perkara peperangan antara manusia dengan jin itu mustahil dilakukan. Atau malah mereka menolak mentah-mentah. Tapi bagi abah Rawi dan santrinya, peperangan dengan penunggu Kubang Walingi harus dikobar
kan. Karena tempat tersebut sudah menjadi sarang iblis akibat pemujaan-pemujaan itu.
°°°
3 purnama berlalu. Malam pertempuran sudah mulai dekat. Tapi tak tahu cerita pertarungannya seperti apa. Hanya saja warga mengetahui kalau abah Rawi berhasil menundukkan
Raja Moto Sewu. Dan membuangnya di suatu daerah di Banyuwangi. Satu minggu setelah itu Kubang Walingi dibuka menjadi lahan sawah pertanian. Malam-malam menjelang magrib, warga sering kedapatan mendengar gamelan jawa bersenandung yang arah suaranya datang dari
Kubang Walingi. Ya hanya itu, lama-kelamaan masyarakat terbiasa. Selagi tak ada gangguan yang berarti masyarakat jadi tak takut lagi.
°°°
Sekitar 15 tahun dari peristiwa pertempuran di Kubang Walingi. Abah Rawi wafat. Lalu 40 setelah meninggalnya beliau
Padi-padi yang siap panen di Kubang Walingi tiba-tiba mati layu seketika. Apakah Moto Sewu sudah kembali ? atau justru penunggu lain yang lebih kuat mengambil alih Kubang Walingi ?.
°°°
Nah begitulah, periode awal dari ceritera Kubang Walingi.
Orang-orang tua mempercayai bahwa cerita itu benar-benar terjadi. Meskipun saksi hidupnya sudah tak ada lagi.
Kembali ke (periode pertengahan).
Pak Wahyu dan istrinya memang sudah sadar dari kerasukan. Bukan berarti gangguannya sampai disini saja. Anak semata wayang mereka nyaris mati sebab mencoba gantung diri. Untung saja diketahui ibunya. Dari penuturannya ada
sesuatu yang terus-terusan berbisik di telinganya untuk melakukan bunuh diri.
°°°
"Bu, bapak semalam mimpi, mimpi ini sudah sekian kali bapak alami" Di suatu pagi pak Wahyu memulai obrolan.
"Mimpi apa to pak?" Tanya istrinya.
"Mimpi ditawari batangan emas bu.
Ceritanya bapak ada di Kubang Walingi lagi garap sawah. Terus ada suara tanpo rupo memanggil-manggil nama bapak. Katanya: Kamu gak perlu capek-capek nyangkul sawah. Kalau mau kaya dan hidupmu lebih dari berkecukupan datanglah ke Kubang Walingi di hari pasaran
Legi. Bawalah serta olehmu kambing hitam. Tapi ingat jangan sampai ada orang lain yang tahu maksud dan tujuanmu."
Mendengar cerita ini istri pak Wahyu bergidik ngeri.
"Pak pak, itu setan nawari pesugihan. Ojo dituruti. Ojo pak. Ojo"
"Tapi bu, kita bisa kaya,
juga gak perlu repot-repot nyangkul sawah toh ndak ada hasilnya."
"Nyebut pak nyebut.. Ibu ndak mau yo kita kaya hasil dari muja iblis, iku musyrik jenenge."
"Halaah ibu sok-sokan jadi santri. Sholat aja ibu jarang-jarang."
Pak Wahyu kekeh dengan niatnya untuk meminta bantuan ke Kubang Walingi. Sedang istrinya masih saja menolak.
Di suatu malam yang dingin. Tanpa sepengetahuan istrinya. Dia berjalan perlahan, pergi meninggalkan rumah. Dalam keremangan malam, pak Wahyu masuk ke
sebuah kandang yang jauh dari rumahnya. Ya.. dia mengambil seekor kambing hitam yang disembunyikannya siang tadi supaya tak diketahui istrinya kalau dia mau melakukan pemujaan di Kubang Walingi.
***
Pak Wahyu menembus kegelapan jalanan setapak menuju sawah.
Sesampainya di sawahnya, yg tak lain dan tak bukan ialah Kubang Walingi itu sendiri. Ia uluk salam.
"Permisi.. Kulo izin bertamu"
Entah darimana datangnya, tetiba semilir angin membawa suara menakutkan.
"Ada apa datang kemari?"
"Kulo nyuwun pitulung".
"Apa yang kamu minta?"
"Kulo kepengen sugeh (kaya)"
"Itu soal gampang. Apa yang kamu persembahkan?"
"Kambing hitam.."
"Tak cukup dengan kambing hitam"
"Lantas pripun?"
"Persembahkan seluruh jiwa dan kehidupanmu untuk Raja kami. Bagaimana, kamu bersedia?"
"Hhh.." Pak Wahyu ketakutan.
"Hey.. manusia, kamu bersedia tidak ?. Jangan ingin kaya tapi tak mau berkorban".
"Nggih..nggih.. Kulo bersedia"
"Hahaha.. bagus. Sekarang pulanglah tinggalkan kambing itu disini. Nikmati harta bendamu yang ada dibawah kasur
tempat tidurmu, tapi ingat.."
"Apa yang harus kulo ingat ?"
"Lepas 8 bulan setelah kamu menikmati kekayaanmu, kamu harus datang lagi kesini membawa oleh-oleh"
"Oleh-oleh apa yang mbah maksud?"
"Hahaha.. nanti kamu sendiri akan tahu".
Suara tanpa rupa itu terus saja tertawa, nyaring sekali. Membuat pak Wahyu ketakutan.
Diapun lari, tunggang langgang. Sembari berharap sampai di rumah dan menemukan harta yang dijanjikan penunggu Kubang Walingi.
Sampai rumah, pak Wahyu mengumpulkan nyawa di teras. Tak mau istrinya curiga, dia pelan-pelan buka pintu. Dan langsung menuju kamar guna mencari sesuatu di bawah ranjangnya. Ya.. sesuatu yang dijanjikan penunggu Kubang Walingi. Dan benar.. Pak Wahyu menemukan
11 emas batangan. Yang satu batang emas beratnya hampir 2 kiloan. (waktu itu jarang yang punya emas batangan). Sontak pak Wahyu begitu kaget bercampur senang. Tapi dia masih bingung, apa hendak dicerita kepada istrinya. Bukankah istrinya tak setuju perbuatan
nya itu.
"Ah.. nanti bilang saja nemu di sawah pas nyangkul. Biar ndak curiga nemunya satu per satu. Sekarang disimpan dulu, diambil nanti pas butuh". Pikir pak Wahyu.
Siang harinya. Sehabis dari sawah pak Wahyu menemui istrinya.
"Bu.. bu.. lihat bapak nemu
1 batang emas".
"Owalaah gusti.. nemu darimana pak?"
"Dari sawah tadi pas nyari rumput. Tapi ibu ndak usah bilang siapa-siapa, takutnya orang lain juga nyari ke sawah kita."
"Nggih..nggih pak.. alhamdulillah" Tanpa ada kecurigaanpun di hati istri pak Wahyu.
Terus saja berbulan-bulan pak Wahyu mencari-cari alasan supaya dapat menjual emas batangannya. Dari hasilnya itu dia sudah mampu beli sapi, kerbau, kambing. Memperbagus rumah. Dan membeli motor yang pada waktu itu masih jarang orang punya.
Tentu saja kekayaan pak Wahyu yang ujug-ukug menjadi biah bibir masyarakat. Banyak dari warga yang bertanya-tanya asal muasal harta pak Wahyu. Toh sekarang lagi banyak sawah yang gagal panen. Tapi pak Wahyu justru mampu membeli hewan-hewan ternak. Membeli
sawah juga. Darimana ia dapatkan uang. Begitu pikir masyarakat. Sampai suatu malam ada warga yang memergoki pak Wahyu keluar dari rumahnya membawa seekor kambing hitam. Ketika dibuntuti pak Wahyu sampai di Kubang Walingi dan meninggalkan kambing itu begitu
saja. Bukan sekali dua kali warga memergoki perilaku pak Wahyu yang aneh ini. Mungkin ada lima kalinya. Anehnya siang hari ketika warga ingin membuktikan kebenaran bahwa pak Wahyu setiap sebulan sekali membawa kambing hitam ke Kubang Walingi. Kambing tersebut
tak pernah ada di sana. Ya menghilang tanpa jejak hanya meninggalkan merah darah di tanah yang sudah mengering. Maka timbullah desas-desus kalau pak Wahyu muja, ngepet dan lainnya.
Lambat laun omongan warga sampai juga di telinga istri pak Wahyu.
"Pak.. tadi ibu dari pasar, ndak sengaja dengar obrolan warga, kalo ndak salah mereka bilang bapak sering bawa kambing hitam tengah malam buta ke Kubang Walingi. Opo bener to pak ? kok ibu ra tau diceritakno ?"
"Halah ibu ngurusi omongane wong liyo, koyo gak
ono kerjaan lain."
"Opo bener bapak mujo?"
"Bu..cukup" Pak Wahyu berteriak.
Waktu bergulir terasa begitu cepat. 8 bulan telah berlalu. Malam perjanjianpun menanti pak Wahyu untuk menyambangi Kubang Walingi.

"Tidak.. tidak. Apakah iya saya harus menebus semua harta yg telah diberikan kpd saya dengan nyawa?".
Pak Wahyu kaget alang kepalang mendengar permintaan oleh-oleh dari penunggu Kubang Walingi.

"Hey manusia, semua hartamu itu milik kami. Kalau kamu tetap mau menikmatinya. Persembahkan istri atau anakmu untuk Kubang Walingi"
"Ampun tuan.. tapi sebelumnya
tak ada perjanjian semacam ini".
"Tak usah banyak tapi. Laksanakan saja perintah kami. Silahkan makan daging ayam yang tadi kamu bawa paha atau kepalanya". Bentak jin penunggu Kubang Walingi.

Dengan perasaan ragu pak Wahyu memberanikan diri untuk memakan
ayam. Antara paha dan kepala. Akhirnya dia memilih paha.
"Hahaha.. bagus bagus anak manusia. Sekarang pulanglah, hartamu akan semakin banyak saja"
°°°
Pagi sekali istri pak Wahyu berteriak-teriak meminta tolong. Warga yang berbondong-bondong mengerubungi rumah pak Wahyu sembari menahan heran seolah tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Ya.. anak semata wayang pak Wahyu meninggal.
Kondisi mayatnya nampak tak wajar. Matanya membelalak, mulutnya terbuka lebar dan daging tubuhnya mengering. Kematian yang mendadak ini ditafsiri oleh masyarakat sebagai bukti penguat kalau pak Wahyu memang muja.
°°°
Lepas 7 hari pasca kematian anaknya, istri pak Wahyu masih belum hilang kesedihannya. Ya.. kondisi itu menyebabkan ia enggan makan, susah istirahat, tidur tak teratur. Bahkan kondisi psikisnya sedikit terganggu. Setiap dia melihat anak-anak yang seumuran
dengan usia anaknya yg telah wafat selalu saja ia kejar-kejar untuk dipeluknya. Pak Wahyu hanya termenung kenapa ini semua terjadi kepadanya. Hartanya sekarang sudah banyak tapi siapa yang mau menikmatinya. Anaknya meninggal, istrinya gila. Ya gila selama
40 hari terhitung dari hari anaknya wafat. Karena setelah itu istri pak Wahyu ditemukan gantung diri di dalam kamar.
°°°
Di suatu malam..
"Hey setan Kubang Walingi, saya sudah tak sudi menjadi budakmu lagi. Anak saya kamu ambil, istri saya juga sudah bunuh diri. Saya mau membatalkan perjanjian yang telah kita buat. Silahkan ambil kembali hartamu. Saya sudah tidak butuh". Pak Wahyu berteriak.
"Tidak semudah itu anak manusia. Perjanjian akan terus berjalan sampai kamu mati."
"Saya tak mau kamu kibuli lagi. Saya minta perjanjian kita cukup sampai malam ini"
"Terserah apa katamu, tapi perjanjian tetap perjanjian. Pulanglah"
Mau tak mau pak Wahyu pulang dengan perasaan dongkol, marah, bingung. Dia mencari cara supaya terlepas dari jeratan iblis itu. Lalu pak Wahyu menemukan salah satu cara yaitu dengan tidak memberikan persembahan Kambing Hitam setiap bulannya. Dengan begitu
ia berharap penunggu Kubang Walingi melupakan dirinya. Tapi perasangka itu salah.
°°°
8 bulan berlalu. Malam itu seharusnya pak Wahyu kembali ke Kubang Walingi. Tapi tidak. Tekadnya sudah bulat untuk menentang Kubang Walingi. Tapi tengah malam.
Seseorang tiba-tiba muncul di kamar pak Wahyu. Wujudnya mengerikan. Setengah badannya ular dan setengahnya lagi manusia tapi mulutnya bertaring.
"Wahyu.. kenapa kamu tidak menepati janjimu ?"
"Saya sengaja memang tidak mau menepati janji"
"Apa kamu tahu akibatnya kalau kamu tidak menepati janji ?. Nyawamu adalah tebusannya.
"Kamu tidak punya hak atas nyawaku"
Tiba-tiba pak Wahyu tersungkur, seolah ada beban berat di punggungnya yg memaksa dia untuk bersujud.
"Kebiasaan manusia pemalas, ingin kaya, setelah diberi kekayaan tidak mau berkorban. Sekarang jadilah kamu budak di kerajaan Kubang Walingi"
Pak Wahyu tak berkata-kata lagi.
Keesokan harinya, ia ditemukan tewas dengan kondisi tubuhnya dipenuhi pijakan kaki sedangkan mukanya berlumuran darah, dan yang lebih mengerikan kedua matanya hilang entah kemana. Dalam sakunya terdapat secarik kertas
berisi cerita pemujaan dia terhadap iblis Kubang Walingi dan permintaan maaf untuk istri serta anaknya. Pak Wahyu dimakamkan berdekatan dengan makam istri dan anaknya. Semua hartanya ? tak satupun ditemukan. Biaya pemakamannya pun ditanggung oleh warga.
(Periode Kini)
"Setelah itu apa yang terjadi dengan Kubang Walingi pak ?" Aku bertanya pada bapakku.
"Dulu Kubang Walingi sempat bapak pagari secara gaib, biar penghuninya ndak berjalan keluar kawasannya dan biar tidak ada warga yang tertarik dengan tempat
itu"
"Kenapa bapak tak melakukan sepertimana yang dilakukan abah Rawi ?"
"Ya karena ilmu bapak tak setinggi ilmu beliau, dan dulu bapak belum memiliki khodam pendamping untuk sekedar membantu masuk ke dimensi gaib mereka"
"Sekarang bagaimana keadaan Kubang
Walingi dari pandangan gaib bapak ?"
"Alhamdulillah.. sudah tak seganas dulu. Mungkin karena warga kita sudah lebih sadar mengenai pentingnya ketaatan kepada Tuhan sehingga memberi efek terhadap Kubang Walingi".
"Syukurlah kalau begitu pak"
Penulis akhiri thread Kubang Walingi ini. Diucapkan banyak terima kasih bagi para pembaca, pe-love, pe-rettweet, dan pe-follow. Jika ada cerita horor yang ingin disampaikan ke khalayak netizen tapi malas mengetik silahkan VC/VCall di nomer WA.
Missing some Tweet in this thread?
You can try to force a refresh.

Like this thread? Get email updates or save it to PDF!

Subscribe to Babah Arif
Profile picture

Get real-time email alerts when new unrolls are available from this author!

This content may be removed anytime!

Twitter may remove this content at anytime, convert it as a PDF, save and print for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video

1) Follow Thread Reader App on Twitter so you can easily mention us!

2) Go to a Twitter thread (series of Tweets by the same owner) and mention us with a keyword "unroll" @threadreaderapp unroll

You can practice here first or read more on our help page!

Follow Us on Twitter!

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just three indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3.00/month or $30.00/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!