, 206 tweets, 30 min read Read on Twitter
MANTRA

A Thread

@bacahorror #threadhorror @InfoMemeTwit
Percayakah kalian bahwa ada kalimat-kalimat yang bilamana kalimat tersebut dibacakan dengan maksud dan tujuan tertentu, maka hal itu bisa tercapai. Percaya ?
Pernahkah kalian mendengar sebuah mantra aneh ? berbahasa jawa ? sunda atau bahasa daerah lainnya ?. Atau bahkan bahasa arab ?. Sebelum thread ini dimulai ada baiknya untuk menjawab pertanyaan ini.
Anantari. Aku memperkenalkan diriku dalam cerita ini. Lahir dari keluarga yang memegang teguh adat Jawa. Diberi nama, diasuh dan dibesarkan oleh ajaran-ajaran Jawa. Yang lekat akan unsur mistisme, kedigdayaan lahiriah sekaligus batiniyah. Aku perempuan.
Ayahku menurut riwayatnya masih keturunan abdi dalem keraton. Aku tak mau menyebut keraton yang mana. Sedangkan ibuku seorang dukun bayi. Apa agamaku ?. Meskipun aku tak pernah bersyahadat, di KTP tertera Islam.
Sebagai anak Kejawen apa yang aku bisa ? Ya sebut saja kebisaanku sepertimana masyarakat modern menyebutnya: INDIGO. Aku tahu pasti ini diturunkan dari darah ayahku. Kenapa ? karena ayahku orang pertama yg tahu aku mempunyai kemampuan melihat sesuatu yang
orang biasa tak melihatnya. Kalau ada yang bertanya kenapa ayahku tahu soal itu, jawabannya karena dia juga memiliki kemampuan. Jangan ditanya seberapa jadug ayahku. Unsur materi dan immateri ayahku sudah mumpuni. Ya dulu pada masa mudanya. Sekarang usianya
kisaran 68 an tapi nampak masih segar dan berwibawa. Ayahku sering sekali kedatangan tamu dari masyarakat biasa sampai orang-orang penting di kepemerintahan. Mereka datang dengan beragam hajat. Dari mulai meminta menyaring hujan sampai naik jabatan.
Berhasil ? Aku tak tahu persis perbandingan jumlah keberhasilan dengan kegagalannya. Cuma setiap orang akan datang lagi bila keperluan yang diminta lancar terkendali. Percayakah kalian bahwa ada seseorang yang seperti ayahku ? mempunyai kekuatan adikodrati.
Tadi sedikit tentang ayahku. Sekarang sekelumit mengenai rumahku. Rumah kami tak berbeda dari rumah warga lainnya. Dari luar tak ada kesan mistis apalagi horor. Tapi, setelah orang masuk ke dalam dan melihat isi ruangan dijamin awal mula yang dirasakan
bergidik ngeri. Ya itu sih menurut sebagian orang. Nyatanya teman-teman sekolahku nyaman saja bertamu di rumahku. Memang ada satu ruangan khusus yang potongan bangunannya seperti pendopo dibiarkan tanpa pintu jadi orang dapat melihat seluruh isinya.
Ada gunungan wayang yang diapit kanan kirinya keris. Ada tempat dupa kemenyan. Kendi-kendi dari gerabah. Tombak. Trisula. Dan sejenisnya. Alhasil setiap orang memandang seolah ditarik ingatannya ke masa silam. Pernah ada satu kejadian unik.
Pagi sekitar subuh, ibuku mendapati seseorang berdiam mematung di pendopo. Tubuhnya tak bergerak, cuma bola matanya yang melirik kesana kemari dan mulutnya komat-kamit tak mengeluarkan suara. Melihat kejadian itu, ibuku langsung membangunkan ayahku.
Setelah ayahku datang, barulah orang itu bisa bergerak. Dan langsung sujud menciumi kaki ayahku meminta ampun. Ayahku cuma bilang.
"Yowes, kono muleh, ojo diulangi maneh yo ! (Yasudah sana pulang, jangan diulagi lagi ya)" Hardik ayahku.
Saat aku bertanya
orang itu kenapa, jujur aku baru mendapati orang seperti itu selama di rumahku.
"Ah biasa meh maling pusoko."
"Tapi kenapa kok malah jadi patung ?"
"Ya karena niat buruknya itu to nduk, jadi kamu jangan punya niatan buat mengambil barang milik orang lain."
Di lain kesempatan ayahku pernah dikeluh kesahi oleh seorang tetangga. Seorang bapak-bapak. Dalam pengakuannya ia telah kehilangan seekor burung tadi malam. Ayahku sudah menasehati untuk mengikhlaskannya saja. Toh bisa beli lagi. Tapi orang itu kekeh ingin
burung piaraannya balik. Ayahku cuma bilang.
"Yasudah, asal semua resiko kamu tanggung."
"Nggih, kulo sanggup pakde."
Pulanglah lelaki itu diiringi ayahku. Aku penasaran apa yang hendak dilakukan ayahku akhirnya aku membuntuti di belakang mereka. Sesampainya di
rumah korban maling burung itu. Ayahku meminta ditunjukan tempat dimana burung itu hilang.
"Disini pakde, di kandang ini. Kandangnya ndak ikut di maling, burungnya tok."
"Yowes minta korek api."
"Nggih ini pakde."
Aku mengamati dengan seksama apa sebenarnya
yang hendak dilakukan ayahku. Pertama ayahku mengeluarkan isi korek api itu. Kemudian mengaturnya melingkar dengan sumbu saling bertemu sedemikian rupa di lantai. Ayahku diam sejenak, membaca mantra. Kemudian.
'jres' satu korek api dinyalakan dan disulutkan
ke lingkaran korek api itu. Setelah semua terbakar. Ayahku baru berbicara.
"Nanti malam kalau ada yang kesini, kamu harus maafkan dia. Jangan di dzolimi."
"Nggih pakde, maturnuwun sanget."
"Anantari ayok pulang."
Di jalan saat akan pulang, aku bertanya.
"Pak tadi tuh bapak ngapain ?"
"Membakar jejak kaki si maling."
"Tujuannya apa pak ?"
"Tentu too biar burungnya di kembalikan."
"Bisa begitu ?"
"Ya mudah-mudahan saja terkabul."
"Tapi beneran bisa ?"
"Lihat saja nanti
nduk."
"Membakar jejak kaki si maling, artinya bapak membakar kaki si maling dong ?"
"Begitulah kira-kira."
"Bapak gunakan jejak kaki si maling jadi media santet ?"
"Hus sembarangan, itu bukan santet, nduk. Lagian apa yang kamu tahu soal santet ?"
"Santet
seperti yang dulu dialami mbak Sariwati kan ?". Kakak perempuanku pernah terkena santet yang dikirim oleh musuh ayahku. Tujuan santetnya diarahkan ke ayahku. Tapi yang kena malah ka Sari.
"Iya itu santet, tapi yang bapak tadi lakukan bukan santet."
"Lah apa pak ?"
"Nanti pada masanya kamu juga akan tahu dan bisa mempelajarinya."
"Kapan ?"
"Kalau kamu sudah gede."
Usiaku waktu itu baru 17 tahun.
"Sudah kok pak."
"Bongsor."
"Hih bapak. Malah ngece."
"Hehe. Jangan cepat-cepat jalannya bapak capek."
"Mbuh"
(Iklan: Untuk yang suka puisi amatiran, silahkan follow @Arifabuya rencananya akan ada thread perihal "HATI")
Magrib menjelang. Aku sudah tak sabar ingin segera mendengar kabar soal burung tetanggaku yang hilang. Benarkah akan kembali lagi diantarkan si maling ? atau itu cuma bisa-bisanya ayahku saja buat menghibur tetanggaku tadi. Ah mana mungkin ayahku berbohong.
Aku lihat di keremangan seorang lelaki nampak setengah berlari menuju ke rumahku. Setelah dekat, ternyata itu tetanggaku yang tadi siang mengadukan burung piarannya yang digondol maling.

"Pakde ada ?" Tanyanya, terengah.
"Nggih ada. Sebentar ta panggilkan"
"Nggih."
"Silahkan bapak duduk dulu."
"Matur nuwun."
Aku pun ke kamar bapak. Biasanya ayahku sholat magrib di kamarnya.
"Pak. Pak." Sembari mengetuk pintu.
"Pripun nduk ?" Jawab ayahku. Ternyata sudah selesai sholat.
"Tetangga yang kemarin kehilangan burung
balik lagi, sekarang lagi nunggu di depan, pak."
"Kamu sediakan air dulu, belajar menghormat tamu, sebentar lagi bapak ke depan."
"Nggih pak." Aku segera ke dapur, menyiapkan teh hangat untuk dihidangkan pada tetanggaku tadi.
Tak lama ayahku tiba.
(Ralat: usianya bukan 68 tapi 58, maaf keliru).
"Pakde, burungku dibalikin maneh." Nampak gembira sekali bapak itu.
"Syukurlah."
"Tapi ada yang aneh pakde." Mimik mukanya berubah serius.
"Apa itu ?"
"Kakinya melepuh, seperti bekas terbakar."
"Tapi ndak terlalu parah to?"
"Ndak sih pakde, cuma saya kasihan"
"Ituloh yang saya maksudkan kamu harus tanggung semua resikonya."
"Jadi pripun pakde ?"
"Ya kalo kamu kasihan, kamu kasih uang secukupnya buat dia berobat."
"Gitu pakde ?"
"Iya, dan ndak perlu koar-koar ke orang lain kalo si itu yang nyuri."
"Siap pakde."
Aku benar dibuat bingung oleh ilmu ayahku ini. Bagaimana nalar bisa menangkapnya ? Tak logis.
Suatu hari ayahku bercerita.
"Nduk, jadi orang jawa itu ya harus kelihatan jawanya. Jangan cuma bicaranya saja yang jawa tapi tingkah lakunya gak mencerminkan kejawen. Kejawen itu bukan agama tapi semacam aturan laku lampah hidup."
"Apakah orang kejawen musti
mempunyai ilmu mistik pak ?"
"Ndak harus itu. Kita berpegangan pada ucapan-ucapan leluhur kita suro diro joyoningrat lebur den ing pangastuti."
"Nggih pak, tapi gimana jika saya belajar ?"
"Ya ndak masalah asal belajar ilmu yang sekiranya membawa manfaat bagi
lain orang. Juga kalau sudah mempunyai ilmunya, yo jangan sombong. Prinsipnya kan ngalih, ngalah nah baru ngamuk, hehe."
"Kalau ilmu yang kemarin ayah praktekan itu ?"
"Wah itu berat, kamu ndak pasti bisa menguasainya."
"Emang kenapa pak ?, susah ya pak ?"
"Ya iyo, kudu rekosi, wani tirakat berbulan-bulan, bahkan sampai tahunan."
"Ceritakan dong pak, sedikit saja."
"Sedikit ya, dulu bapak belajar ilmu ini dari kakekmu. Pertama, bapak harus membersihkan diri, lahiriyah dan batiniyah. Caranya yo dengan puasa.
Tapi puasa khusus. Langkah kedua ? kita lanjut kapan-kapan saja ya. hehe."
"Hih, bapak bikin penasaran saja. Lanjutin pak."
"Iya besok lagi. Kamu belajar sana."
"Huh.. iya deh, besok ya."
"Iya, wis sana."
°°°
Waktu-waktu berlalu begitu cepat. Sekarang aku sudah jadi mahasiswa semester 1 di universitas yang ada di Semarang. Pagi, ketika pertama kali masuk ke gerbang kampus, nampak pada penglihatan batinku. Seorang perempuan sesenggukan menangis di teras gedung.
Ada apa gerangan ?. Dalam isaknya dia menengok kepadaku. Kita beradu sorot mata. Seolah dia hendak mengatakan suatu berita penting tapi takut akan bahaya, atau justru malu pada sekitarnya. Ah.. aku tak mau terlalu melibatkan diri dalam urusan gaib. Toh aku
pergi jauh dari rumah tujuannya kuliah bukan hendak berhubungan lagi dengan perkara demikian.
°°°
Teman-temanku tak ada yang tahu aku mempunyai penglihatan selain terhadap realitas. Aku juga tak menceritakannya kepada mereka. Buat apa. Tak penting.
Suatu hari di perkuliahan aku terlibat perbincangan mengenai penampakan-penampakan hantu. Siapa sih yang tak penasaran pada dunia mereka. Buktinya mereka begitu antusias membincang mistisme itu.

"Heh tahu gak, katanya di gedung Bahasa ada penunggunya loh."
Ungkap Khamid teman sekelasku.
"Yo ada yang nunggui, satpam. Haha." Timpal Sofyan, komting kelas.
"Hih bukan satpam, tapi setan." Papar Khamid.
"Tahu darimana kamu ?" Tanya yang lain.
"Mau tahu gak ceritanya ?"
"Iya-iya ceritain dong." Balas Sofyan sementara
aku dan yang lain mengangguk. Kami berlima terlibat obrolan dedemit-logi. Haha. Aku, Sofyan, Khamid, Ayu dan Riki.
"Aku mendapat cerita ini tadi di kosan sebelum kuliah, dan yang punya cerita bilang kejadiannya tuh kemarin malam."
"Ya terus lanjut ah."
Riki nampak tak sabar.
"Sek too, sabar. Jadi di gedung bahasa itu biasanya ada yang ngelembur, nah kebetulan malam itu ada dua pegawai sedang lembur. Tapi di ruangan berbeda. Bapak yang satu, di lantai bawah. Bapak satunya lagi di lantai atas. Paham ?"
"Kamu
kaya lagi presentasi, belibet kalo ngomong." Goda Ayu.
Aku cuma mendengarkan saja obrolan mereka.
"Hih, wes tak lanjutno. Yang dilantai bawah itu tiba-tiba teriak sambil lari keluar. Disusul juga sama bapak yang di lantai atas."
"Lah ngapain mereka lari-
larian ?" Aku memotong.
"Aku lagi cerita dipotong terus, sek too."
"Yo-yo lanjutkan ndang." Sofyan memerintah.
"Nah pas sudah sampe luar, bapak yang dari lantai atas itu kaget.."
"Ben gak bingung, dikasih jeneng loh, bapak lantai atas bapak lantai bawah,
biar aku paham." Ayu menggerutu.
"Ya Tuhan, kapan aku ceritane kalo dipotong-potong terus. yowes ta kasih nama, yang dari lantai atas namanya pak Karno dan yang di bawah pak Ali."
"Loh pak Karno kan emang ketua lembaga bahasa, pak Ali juga pegawai sana."
Tambah Riki.
"Lah iya emang mereka yang mengalami kejadian itu." Khamis teriak.
"Haha. Yo santai to, lanjutin ceritanya." Riki tertawa.
"Nah pak Karno tuh kaget, kok pak Ali di luar juga. Terus mereka saling bertanya dan bercerita. Kata pak Ali, dia melihat
printer nyala sendiri, terus ngeprint satu kertas. Kaget dong pak Ali, tapi dia memberanikan diri buat melihat apa yang tertulis di kertas itu. Dan ternyata tulisannya tuh "MAS ALI, MAU GAK KAMU NIKAH SAMA AKU ?" Setelah baca itu, pa Ali langsung ngibrit.
Nah beda lagi sama pak Karno, justru pak Karno ini langsung melihat wujud solid sosok perempuan sedang bertengger di lemari sambil senyum dan tangannya melambai-lambai. Kata pak Karno, awalnya dia cuma dengar suara tok. Jadi gak takut, eh pas dinampakan
wujudnya, akhirnya lari juga keluar."
"Wujudnya kaya gimana ?" Aku ingin tahu.
"Meneketehe. Lihat saja sendiri sana ke gedung bahasa."
"Ya ayok bareng kamu." Aku ajak Khamid.
"Ogah dah."
"Bilang aja kalo kamu takut." Sofyan menimpali.
Mungkin yang pak Karno lihat sosok di atas lemari itu sama dengan yang aku lihat di emperan gedung bahasa. Tapi ada apa kok dia sampai menangis ?. Makin hari rasa penasaranku tak terbendung lagi. Akhirnya aku niatkan untuk mengunjunginya di gedung bahasa.
Aku berkirim pesan dengan Khamid.
"Mid, mau temani aku ndak nanti malam sehabis isya."
"Temani kemana ? jalan-jalan ?"
"Iya, jalan-jalan."
"Asyik, ayok, kemana ?"
"Ke gedung bahasa."
"Lah kok ke gedung bahasa, gak ada tempat lain apa ? Lagian kamu mau apa ?"
"Kita ke gedung bahasa dulu. Yang penting kamu ikut nanti juga tau kemauanku apa."
"Okelah. Habis isya ya."
"Iya."
Aku ajak Khamid karena intuisiku mempercayai dia. Habis isya kampus sudah tak terlalu ramai. Meskipun ada sebagian yang kuliah magrib.
Jam 19.45. Khamid mengirim pesan.
"Anantari. Aku ke kosanmu ya, berangkat bareng aja. Biar kamu gak jalan kaki."
"Lengkap banget manggil namanya, iya sini aku sudah siap."
"Meluncur."
°°°
Singkat cerita. Aku dan Khamid sudah berada di halaman gedung bahasa.
Di kanan gedung tersebut ada satu pohon yang lumayan gede. Pohon beringin. Suasananya tak seseram yang dibayangkan. Karena memang lampu-lampu masih menyala.

"Hey, kita sudah di gedung bahasa nih. Kamu mau ngajak aku ngapain ?"
"Pikiranmu jangan ngeres mid."
"Hahaha.."
"Jangan keras-keras ketawanya. Ituloh di pohon beringin ada yang lihatin kamu."
"Hih serius, siapa emang ?"
"Wewe gombel."
"Ah ngarang aja kamu."
"Kalo gak percaya tatap terus aja pohonnya."

Khamid nampak menuruti ucapakanku, dia memelototi pohon
beringin itu.
"Tari, kok aku jadi merinding ya, keringatku dingin banget."
"Haha." Sekarang giliranku tertawa.
"Kamu jangan ketawa doang bisanya, kamu indigo ya ?"
"Indomie, enak dimakan."
"Kamu cantik, sayang doyan indomie."
"Haha. Sudah bercandanya,
nih kamu minum dulu." Aku menyodorkan air mineral.
"Makasih, sekarang kita mau apa ?."
"MENERAWANG HANTU YANG KEMARIN NGAJAK NIKAH PAK ALI." Mataku melotot menatap Khamid.
"Anjrit, kamu serem banget. Aku pulang ah."
"Eh sabar. Belum apa-apa sudah mau pulanh."
Aku tak merasakan Khamid ketakutan. Yang aku yakini, dia sedangenggodaku saja. Masalah dia merinding, siapapun orangnya bisa merinding.
"Mid, kita jalan-jalan ke belakang yuk."
"Mad mid mad mid, enak banget manggilku kaya gitu, ditambahi mas ke atau apa."
"Mas Khamid ayo kita ke belakang gedung ini."
"Iya dek yuk, mumpung sepi."
"Hey awas ya lu, kita mau nyari hantu bukan pacaran."
"Hehe, iya iya bawel."
Baru saja kami hendak ke belakang gedung, ada suara yang memanggil.
"Anantari.. Khamid. Lagi pada ngapain?"
"Eh, Riki, biasa nyari dedemit." Khamid menjawab.
"Lambemu itu loh dijogo." Sambil aku injak kakinya.
"Wah bau bau petualangan nih, aku ikut boleh ?"
"Ya ayok." Aku menyetujui.
"Kamu habis apa Ki, kok ada di kampus ?" Tanya khamid.
"Biasa wifi-an."
"Ayok jangan ngobrol terus." Sembari aku berjalan ke belakang.
"Mid, kok aku merinding ya."
"Nikmati aja, tuh kata Tari di pohon beringin ada Wewe Gombel."
"Ah yang bener ? Wewe Gombel bukannya yang teteknya gede itu ya ?"
"Iya kenapa emang, kamu mau netek ?"
Jawabku menggoda.
"Ih amit-amit. Tar, kamu tau darimana di pohon itu ada Wego nya ?"
"Wego ?"
"Iya, Wewe Gombel."
"Wes gak penting."

Kami sudah tepat berada di belakang gedung bahasa. Suasananya temaram. Minim penerangan. Di belakang gedung bahasa
tak ada bangunan lain selain pondasi.
"Tar, kita sudah di belakang nih. Terus meh opo ?"
"Bawel ah, sek to mas Mid, diem."
"Waduh, Anantari manggil Khamid mas, jangan-jangan." Telunjuk Riki mengarah ke Khamid.
"Diem Ki, bawel ah." Khamid menjawab.
Aku duduk di lantai diikuti Khamid dan Riki.
"Kalian diam ya, jangan berisik, jagain aku, jangan pada kabur."
"Siap." Jawab mereka kompak.
Aku memejamkan mata, konsentrasi untuk beberapa saat. Setelah di rasa cukup.
"Ayok pulang." Ajaku pada mereka.
"Sudah ?"
Khamid menyela.
"Ya sudah, ngapain lagi coba."
"Gini aja Tar petualangan kita ?"
"Kamu mau apalagi Ki ?"
"Maksudku gak ada yang lebih seru gitu ?"
"Ya nanti aku ceritakan aja sama kalian." Jawabku.
"Hmm. Tar, itu apa yang di pojokan sana ?" Khamid menunjuk
ke arah kiri kami.
"Itu namanya POCONG." Sengaja aku bisikan di telinganya Khamid.
"Asuu tenan, iku pocong." Khamis nampak begitu kaget. Riki juga begitu.
"Mana mana, aku mau lihat pocong." Balas Riki.
"Ituloh di pojokan." Tunjukku ke arah pocong itu berada.
"Ah gak keliatan." Timpal Riki.
"Ayo wes muleh, aku lemes di sini lama-lama." Ajak Khamid sambil bergegas jalan setengah berlari.
Akhirnya kami pulang. Dan sepakat untuk membahas kejadian ini besok saat kuliah.
°°°
Seperti sudah menjadi kebiasaan.
Kami berlima berkumpul lagi bercerita ngalor-ngidul. Kali ini aku punya hutang untuk menjelaskan apa sebenarnya maksudku ke gedung bahasa tadi malam.

"Sobat-sobatku sekalian, ternyata teman kita yang satu ini, si Anantari ini indigo." Papar Khamid.
Ayu, Riki, Sofyan. Mereka terperanjat.
"Bener po Tar ?" Ayu seolah ingin kepastian dariku.
"Yo ngono lah, ndak usah diceritakan ke banyak orang."
"Ya Allah, aku punya temen mirip Roy Kiyosi." Teriak Ayu sembari memelukku.
"Hey udah kamu jangan kecentilan."
Kata sofyan.
"Ayo Tar, ceritakan kejadian semalam." Khamid memberi aba-aba.
"Ya, kalian pasang telinga, jadi begini, pertama kali aku masuk kampus ini ada satu sosok yg menyita pandanganku. Perempuan cantik, tapi di wajahnya ada dua tiga sayatan luka,
memakai gaun putih cuma sudah lusuh sedang duduk di teras gedung bahasa. Awalnya aku kita mahasiswi, tapi kok gak berkerudung. Jadi aku pastikan itu sesuatu yg lain. Nah kebetulan Khamid kemarin bercerita soal peristiwa printer itu. Makanya aku penasaran buat
mengunjungi si perempuan itu. Tadi malam aku, mas Khamid juga Riki. Kami bertiga pergi ke gedung bahasa. Dan sambutannya lumayan WAW. Di pohon beringin ada 3 Wewe Gombel, pokoknya di sekitaran gedung itu memang banyak hantunya. Nah pas aku di belakang itu
sebenarnya hendak komunikasi dengan si hantu perempuan tadi. Alhasil aku dapat beberapa informasi dirinya."
"Lanjut-lanjut." Cakap Ayu.
"Iya, namanya Maemunah, menurut penuturannya, ia dulunya kembang desa. Karena merasa cantik, ia terlalu sering menolak
pinangan lelaki. Sampai suatu ketika, sedikitnya 10 lelaki yang pernah ia tolak berkomplot. Menculik Maemunah dari rumah, diperkosa oleh mereka, dan di bunuh, lalu mayatnya di buang di hutan yang sekarang jadi gedung bahasa itu."
Suasana berubah hening.
"Kok serem ya ?" Ayu nampak meringis.
"Tar, itu yang gangguin pak Ali sama pak Karno Maemunah juga ?" Tanya Khamid.
"Yap betul, nah Maemunah tuh suka sama pak Ali. Makanya dia ngajuin lamaran kaya gitu. Haha. Sebenarnya sama pak Karno juga suka, tapi
kata Maemunah dia gak mau jadi pelakor." Pungkasku.
"Kasihan, tapi lucu ya, hantu masih punya norma." Balas Sofyan.
"Kalo pocong yang dilihat mas Mid itu, dia ngikutin sampean loh mas."
"Mosok ? arep opo dia ngikut segala ?"
"Katane meh pdkt."
"Anjir,
suruh pergi dong Tar."
"Kok diusir, wong dia mau bersahabat sama kamu mas. Haha."
"Pantesan tadi malam aku tindihen. Jangan-jangan dia yang meluk."
"Adanya juga kamu yang meluk pocong, pocong kan cuma bisa loncat doang." Riki menggoda.
"Anjir tenan."
(Note: Maemunah bukan nama sebenarnya)
Maemunah adalah salah satu yang paling fenomenal di kampus kami. Selain isu-isu ke-hantua-an lain. Ya menurut kabar sih di kampus 2. Menurut teman-temanku ada semacam gerbang gaib. Entab betul atau tak. Karena aku sendiri belum membuktikannya langsung. Toh
aku juga kuliah di kampus 3 jadi jika tak ada keperluan mendesak tak pernah menyambangi kampus 2. Kecuali memang diniatkan buat pembuktian. Sampai suatu hari kami berlima sepakat untuk berpetualang lagi. Tentu mereka mengandalkan aku buat mengungkap misteri
ini. Disepakatilah malam minggu. Mereka begitu antusias. Aku juga semangat. Jarang-jarang aku bisa ekspos ditemani banyak orang begini. Sekedar memberitahu, jadi di kampus 2 itu ada dua gedung yang disambung dengan jembatan penyebrangan mahasiswa. Nah tempat
Senja sabtu perlahan jatuh di ufuk barat. Malam minggu tiba. Untuk melancarkan aksi ini. Sengaja kami membuat grup WA: HORORISME.
Setengah 8 malam.
"Nanti kumpul langsung di gerbang kampus 2. Aku otw." Khamid memulai.
Yang lain menyahut iya, termasuk aku.
Aku berangkat. Ternyata mereka sudah sampai duluan.
"Wah dukune malah telat ig." Sofyan nyeletuk.
"Biasa jagoan datang terlambat." Tambah Ayu.
"Ah apaan sih ? aku bukan dukun apalagi jagoan. Ayo ah langsung cek TKP."
Kami berlima pun jalan santai menuju
gedung yang dimaksud. Setelah sampai. Kami duduk melingkar.
"Duh, aku pengen boker nih." Riki meringis memegang perutnya.
"Aduh, lagi genting begini malah boker." Ejek Khamid.
"Yaudah to sana boker, berani kan ?" Ayu mengusir.
"Tunggu ya, aku ke WC dulu."
"Iya sana, biasa boker di celana sekarang gengsi mau di WC." Khamid nyeletuk diikuti gelak tawa kami semua.
"Anjir kamu Mid." Riki berlari ke WC.
°°°
Sekitar 15 menit berlalu nampak dari keremangan Riki menuju ke arah kami.
"Puas ?" Tanya Sofyan.
"Plong.. tapi tadi ada sesuatu." Jawab Riki.
"Sesuatu apa ?" Tanyaku. Kami semua nampak serius.
"Jadi tuh kamar mandinya gelap banget, gak ada lampu. Nah kamar wc nya kan ada dua bersebalahan. Aku tahu di sebelahku ada orang. Terus dia keluar, aku kan panik
takut dia ngunci pintunya dari luar. Mana aku belum selesai lagi. Aku beritanda saja pake suara 'huy huy' biar dia tahu kalo ada orang di dalam. Eh dia nyahut, 'dalem'. Tapi aku diem tok. Eh dia malah bilang 'SETAN JANCUK.' Buset aku dikira setan."
Kami berempat saling menatap muka. Bingung harus bagaimana menanggapi cerita Riki itu.
"Terus kami harus apa ?" Tanya Khamid.
"Ya harus ketawa dong, kan lucu."
"Garing anjir." Khamid berteriak.
Nampaknya petualangan kali ini penuh humor. Tunggu, apa itu di
tangga. Seorang anak kecil, sedang duduk. Kedua tangannya menyangga dagu. Matanya garang melotot.
"Hey teman-teman, kita kedatangan tamu nih." Aku memberitahu mereka.
"Siapa ?" Tanya Ayu.
"Seorang anak kecil di tangga arah jam 3.
Mereka berempat kompak
melirik.
"Dia suka gak sama kita ?" Khamid bertanya.
"Sepertinya dia terganggu."
"Waduh, bahaya nih." Tambahnya.
"Santai, biar aku ajak komunikasi dulu, siapa tahi dia mau ngasih info."
Aku mencoba membuka kanal komunikasi dengan anak itu. Siapa tahu ada hal penting mau ia sampaikan perihal gedung ini.
"Gimana Tar ?" Khamid penasaran
"Hmm dia cuma nanya, kita mau ngapain kesini ?"
"Bilang aja ada kuliah gitu."
"Huss ngaco. Makhluk kaya dia
tuh tau maksud dari hati kita. Artinya dia bisa mengira-ngira dengan betul gitu." Jelasku.
"Apa betul tubuh kita memancarkan aura warna yang bisa ditangkap dan diterjemahkan oleh mereka Tar ?" Tanya Sofyan.
"Wah ini anak tumben cerdas." Oceh Riki.
"Soal itu
bisa jadi, ya seperti tadi yang aku bilang, dia tau tujuan kita."
"Apa dia masih di sana ?" Khamid penasaran.
"Masih, kamu mau kenalan ?"
"Ah kalo cewek cantik, aku mau."
"Haha.. Gimana nih kita lanjutin gak petualangannya ?."
"Lanjutin dong masa gini doang."
Jawab Sofyan.
"Kalau begitu, aku pinjem korek." Pintaku.
"Ini aku bawa." Khamid menyerahkan korek gas. Kebetulan dia memang perokok.
"Kalian pernah bermain jailangkung ?" Tanyaku, memulai aksi.
Mereka kompak menjawab belum, cuma pernah menonton di tv.
"Piye kita meh maen jelangkung ?" Tanya Ayu.
"Nggak juga. Haha." Jawabku.
"Lah terus ngapa kamu tanya kaya gitu ?"
"Ya ada deh." Aku mengeluarkan satu dupa, aku bakar dan menancapkannya di tanah.
"Wah buat apa tuh Tar ?" Riki penasaran.
"Pewangi." Kataku.
"Softener so klin ?" Khamid memastikan.
"Biasanya nih orang yang ngajak bercanda itu dia lagi ketakutan." Aku ketus.
"Hehe, ko tau."
Aku sudah membakar dupa. Aromanya merebak, sengaja biar mereka betah dengan bau ini dan mendekati kami.
"Apa di sini ada yang
pernah kesurupan ?" Aku menyelidiki.
"Belum" Jawab Riki.
"Belum juga." Khamid.
"Amit-amit dah." Ayu.
"Belumlah." Sofyan.
"Berarti kalian beruntung, karena makhluk di sini sudah banyak yang berdatangan. Tapi gak sampai berani nyentuh kalian."
"Alhamdulillah."
Jawab Ayu.
"Orang yang sudah pernah kesurupan, mereka akan mudah buat kesurupan lagi, terlebih semisal lubang atau tempat mereka masuk ndak segera ditutup." Paparku.
"Jadi langkah selanjutnya apa ?" Tanya Riki
"Sebentar, aku akan ceritakan dulu apa saja yang
sudah berkerumun di dekat kita.
"Apa aja emangnya ?" Tanya Ayu yang tambah mepet ke tubuhku.
"Rupa dan bentuknya macam-macam. Tapi yang paling dominan itu makhluk hitam, berbulu lebat, bermata besar, bertaring panjang, bertanduk."
"Tar, apa mungkin itu genderewo ?" Tanya Khamid pelan.
"Sepertinya itu sebutan yang paling tepat. Toh aku juga belum kenalan."
"Yaudah toh sana kenalan, sekalian ajak kencan." Khamid menggodaku.
"Asem koe, sek aku ta komunikasi sama satu makhluk dulu."
Lama aku memejamkan mata.
"Piye Tar hasil tapanya ?" Sofyan
lagi-lagi penasaran.
"Ada dua kabar, kabar buruk dan kabar baik. Mau mana dulu ?"
"Kabar baik dulu." Riki menimpali.
"Kabar baiknya kita disuruh pulang dengan damai."
"Kabar buruknya ?" Giliran Ayu bertanya.
"Sama, kita disuruh pulang. Artinya kita gak boleh
berlama-lama di wilayah kekuasaan mereka. Sekarang jam berapa ?"
"Jam setengah 10." Jawab Ayu.
"Oh masih sore, kita ke angkringan yuk, ntar ta ceritakan di sana." Aku sengaja mengajak teman-temanku ke angkringan demi keselamatan mereka. Kami beranjak pergi.
Aku biarkan dupa tetap menyala. Itu juga permintaan mereka. Sudah pasti mereka senang dengan aroma itu. Masa bodoh ! yang penting tak ada satupun dari temanku kena gangguan mereka. Ternyata oh ternyata isu dugaan gerbang gaib menuju kerajaan jagading lelembut
benar adanya.
°°°
Di angkringan.
"Tar, bisa gak kamu ngelakuin sesuatu seperti yang dipertontonkan di tv ?" Tanya Sofyan.
"Maksudnya ?" Aku memang tak paham.
"Itu loh kaya mediumisasi begitu."
"Owalah.. Aku pernah belajar. Cuma kalo praktek, aku kasihan sama
kalian semisal jadi mediator."
"Kenapa begitu ?"
"Karena mediumisasi itu susah perlu latihan khusus, paham ?"
"Ooo begitu."
"Ceritain dong hasil komunikasi mu tadi, kita kan juga pengen tau." Pinta Ayu.
"Iya sek sabar, kita jajan dulu."
Di waktu kami asyik makan cemilan. Khamid memanggil seseorang.
"Mas.. Hey, disini juga ternyata, sudah lama ?" Khamid nampak akrab.
"Lumayan, kamu ramean, lagi pada ngapain ?" Tanya teman Khamid itu.
"Biasa ngumpul tok."
"Abis ngebolang ? Itu siapa ?"
Dia mengarahkan pandangannya padaku.
"Haha, yang ditanyain kok dia tok ?"
"Hehe, terlihat istimewa. Aku boleh ikut gabung kan ?" Paparnya.
"Boleh lah silahkan, iya ini namanya Anantari, Maba sekelas sama aku."
Karena namaku disebut, aku mengulurkan tangan.
Mengajak salaman.
"Anantari, masnya siapa ?"
"Aku Arif. Salam kenal, Anan ? Tari ?" Sembari memperlihatkan senyum di wajahnya.
"Panggilnya Tari aja."
"Oh iya, mas kenalan sama yang lain juga to. Masa sama Tari tok." Ejek Khamid.
"Haha.. Iya-iya"
°°°
"Jadi gini mas, kami tuh tadi pergi ke kampus 2, tepatnya mengunjungi gedung yang ada penyebrangannya itu loh. Tujuannya buat mencari kebenaran tentang gerbang sebuah kerajaan gaib ada di sana." Khamid menjelaskan.
"Owalah, aku kok gak diajak terus piye?"
"Kami di sana juga sebentar, katanya makhluk-makhluk penghuni situ gak seneng kami datang."
"Katanya siapa ?" Tanya mas Arif.
"Nih.. Katanya Tari."
"Tari ini indihom mas." Timpal Ayu.
"Indihome ?"
"Maksudnya indigo." Jelas Ayu.
"Haha indihom, terus gimana ?"
"Sekarang kita berikan waktu sepuas-puasnya buat Tari menceritakan komunikasinya tadi sama makhluk di sana." Sofyan seolah memoderatori percakapan kami.
"Yaudah dengerin jangan ngobrol dewek wae. Jadi di sekitaran gedung itu emang ada semacam gerbang gaib
menuju sebuah kerajaan dedemit atau jin. Cuma karena keterbatasan kemampuanku, pandanganku gak mampu menembus lapisan demi lapisan penghalang di sana. Sampai akhirnya ada satu makhluk yang mencurigai usahaku. Terjadilah dialog yang kurang lebih intinya dia
memperingatkanku untuk tak mengusik keberadaan mereka. Ya aku jawab dong, kedatanganku cuma buat memastikan di situ ada gerbang gaib atau gak sebagaimana isu yang berhembus selama ini. Ternyata emang betul ada. Terus aku tanya lagi, lah itu anak kecil siapa ?
dia cuma jawab "seseorang membuangnya disini." Aku gak terlalu paham, tapi mungkin pernah ada bayi atau janin yang dibuang disitu." Aku menyelesaikan ceritaku.
"Tapi Tar, apa kamu gak tanya mereka pernah ganggu mahasiswa gak gitu ?" Tanya Riki.
"Pernah,
tapi paling berwujud pocong atau kuntilanak. Itu juga malam-malam pas sudah sepi. Ya nakut-nakutin mahasiswa yang begadang wifian."
"Ya, aku pernah denger kalo disitu emang sering ada penampakan, bahkan sampe dibikin berita loh sama pers mahasiswa." Papar
mas Arif.
"Iyakah mas ?" Tanya Ayu.
"Iya, cuma kan kita gak tau makhluk yang mewujud itu masih satu koloni dengan makhluk kerajaan gaib itu."
"Nah gimana itu Tar, tanggapanmu ?" Kata Sofyan.
"Masih satu koloni kok, pendatangnya cuma di dekat gerbang kampus
mereka gak berani masuk sebab ada kerajaan itu." Aku memberi penjelasan.
"Hey, ada sesuatu yang lebih menarik buat diungkap. Hantu tanpa kepala di tanjakan Silayur." Mas Arif memberi ide petualangan.
"Iya iya tuh, aku pernah dengar ceritanya." Khamid semangat
(Iklan: yang mau mutualan DM aja)
"Boleh aku bercerita sedikit." Pintaku pada mereka.
"Yaelah, pake izin segala, cerita dong." Khamid nyeplos paling awal.
"Sebenarnya kalian semua ada bakat loh dalam hal mistisme ini." Aku berseloroh.
"Mosok ?" Tanya Sofyan.
"Ya semua orang punya pemantiknya"
"Aku bisa ?" Tanya Khamid.
"Disini kamu punya peluang yang paling besar. Mungkin gara-gara bapakmu dalang." Jelasku.
"Aku ada ?" Tanya mas Arif.
"Semuanya ada, Riki, Sofyan, Ayu dan mas Arif. Eh tapi tunggu di dada mas Arif ada apanya ya ?"Aku melihat sesuatu
"Apa Tar ?" Mas Arif terlihat penasaran.
"Sebentar, jadi tuh ada dua lingkaran. Satu lingkaran di dada kiri di atas susu berwarna biru dan satu lingkaran di dada kanan di bawah susi berwarna merah. Itu apa ya mas ?"
"Waduh, aku yo gak paham." Terang mas Arif.
"Tapi apa mas Arif pernah laku spritual ?"
"Pernah, mengamalkan satu asma yang kata guruku untuk jaga diri. Mau tahu bunyi do'anya ?" Mas Arif menawarkan.
"Begini mantranya: PUJIKU PANGROSO SEKTI JAGAT TULI BUMI BISU TUMBUNG IRUNGMU MLEKAH KUPINGMU PICEK
MATAMU PESTI PESTI PESTI MATI MATI MATI LAA ILAAHA ILLA ALLAH MUHAMMAD KANG MATENI GUSTI ALLAH KANG NGIDZINI."
"Hmm, mungkin auranya memang dari mantra ini. Ada lagi ?"
"Ya pernah, puasa mutih 1 minggu. Tapi bukan buat hal-hal aneh loh." Nampak mas Arif orang
yang begitu terbuka. Tak ada yang dirahasiakannya.
(NB: dilarang keras mengamalkan mantra di atas !)
"Apakah itu mantra kolo cokro ?" Tanyaku padanya.
"Betul, kok kamu tahu ?"
"Ada yang memberitahu barusan."
"Kamu keren. Nanti kalo mau berpetualang ajak-ajak aku ya." Dengan mimik muka dipenuhi kekaguman mas Arif memujiku.
"Ya, sama teman yang lain juga."
Setelah semua selesai. Kami pun bubar barisan.
°°°
Di grup WA. Kami kembali membahas tentang petualangan selanjutnya. Kebetulan mas Arif menawarkan untuk mengungkap misteri hantu kepala buntung di tanjakan Silayur. Yang konon menurut kabar, hantu ini sering
menampakan diri dan membuat celaka orang. Antara percaya dan tidak. Memang setiap hari jum'at selalu saja ada kecelakaan di jalanan itu. Entah ada kaitannya atau tidak dengan hantu kepala buntung tersebut.
"Oh iya, jangan lupa sebelum tidur mandi dulu ya."
"Kenapa harus mandi Tar ?" Tanya Ayu.
"Biasakan kalo habis dari tempat angker kita bersihkan badan dulu, baru tidur, syukur-syukur sholat dulu ."
"Oh begono."
Biasanya energi dari makhluk gaib masih menempel di tubuh kita. Sehingga perlu dibersihkan.
Bukankah mereka diciptakan dari api ?. Bukankah api itu panas ?. Jadi air itu mampu menetralisir panas yang diakibatkan oleh perilaku mereka. Begitulah aku diajari ayahku.
Nitip minyak wangi
Malam jum'at.
Kami ber lima ditambah mas Arif tiba ditanjakan silayur. Mas Arif menunjuk satu pohon beringin besar di kanan jalan. Konon menurut ceritanya pohon tersebut dihuni oleh genderewo yang sangat galak.
"Dulu, ada orang nebang pohon itu, keesokan
harinya orang itu tewas." Papar mas Arif.
"Kok bisa gitu mas ?" Tanya Ayu
"Katanya sih dicekik penunggu pohon itu."
"Apa bisa seperti itu ?" Tanya Khamid.
"Aku juga kurang paham, tapi mungkin bisa."
"Artinya ?" Khamid melanjutkan.
"Ya bisa aja itu terjadi."
"Tar, masih ada gak genderewo nya ?" Nampak Sofyan ketakutan.
"Ada. Tapi aku gak tau dia atau bukan yg dimaksud dalam cerita mas Arif itu."
"Tapi dia gak akan ganggu kita kan ?"
"Ya tergantung. Kalo kita ganggu dia, dia bakal ganggu kita."
"Lah kalo dia
ganggu kita duluan ?"
"Kita lari aja. Haha." Aku jawab sambil tertawa nyaring sekali.
"Hih malah ngelucu, gak lucu tau." Sofyan kesal.
"Hey kita kemana nih ?, mosok dari tadi jalan gak jelas gini." Kata Riki.
"Lurus saja, aku merasa sesuatu yang kuat disana."
"Yaudah kamu yang mimpin Tar." Pinta Sofyan.
"Yuhu, ayok." Aku merasakan ada energi cukup kuat yang menyita perhatianku di depan sana. Entah apakah dia hantu kepala buntung itu atau sesuatu yang lain.
"Masih jauh Tar ?" Tanya Ayo nafasnya ngos-ngosan akibat
jalan menanjak.
"Stop disini. Jam berapa sekarang ?" Aku menghentikan langkah.
"Jam 10 lebih dikit." Jawab Khamid.
"Baiklah kita lakukan seperti yang kita lakukan kemarin malam. Ayok kita ke halte itu." Aku mengajak mereka untuk duduk di halte BRT.
(Iklan; Disini yang punya kucing bagus mau dihibahkan tolong DM ya)
Seperti biasa aku membakar satu dupa.
"Loh kok pake ginian segala ?" Mas Arif terlihat kaget ketika aku melakukannya.
"Biar ndak bau apek mas."
"Owalah.. Aku kira mau manggil dewa dewi."
"Ndak mas. Aku juga Islam kok." Aku mengarahkan senyum ke mas Arif.
"Iya dek, kamu sudah pantes jadi istri yang sholehah."
"Hahaha jurus gembelnya keluar." Khamid tertawa diiringi tawa yang lainnya.
"Uy, kalian merinding gak ?" Riki meraba leher belakangnya.
"Iya nih, agak bau amis juga." Ayu menimpali.
Di jalanan nampak
kendaraan masih lumayan berlalu lalang. Tak ramai.
"Yang kita mau temui, sudah hadir." Aku memberitahu mereka.
"Siapa Tar ? Si han.." Belum selesai Sofyan bicara aku potong duluan.
"Hati-hati jangan sampe membuat dia tersinggung."
°°°
"Kenapa Tar, kok malah
nangis ? Ada apa ?" Ayu dan teman yang lainnya nampak kebingungan melihat tangisanku.
"Aku diperlihatkan masa lalu dari hantu tanpa kepala itu." Sembari terus terisak.
"Ada apa dengan dia Tar ?"
"Tragis sekali kematiannya. Kasihan Yu, aku gak tahan."
Aku masih terkoneksi dengan hantu itu.
"Yasudah Tar, disudahi saja." Kataas Arif menyarankan.
Aku menyudahi komunikasiku dengan dia, setelah dirasa cukup mendapat informasi.
"Gimana mau cerita sekarang ?, besok ? Atau kapan ?" Tanya Ayu.
"Sekarang juga gak apa-apa, asal kita pindah tempat. Jangan disini." Pintaku.
"Ya udah ke angkringan yang kemarin, sekalian istirahat." Ajak Khamid.
Kami pun sepakat pergi ke angkringan demi
kenyamanan.
°°°
Di angkringan.
"Jadi, tadi dalam komunikasi aku sama dia, dia mengaku korban rampok puluhan tahun silam, tubuhnya dimutilasi dan dibuang ditempat terpisah. Ternyata, bukan kepalanya aja yang hilang. Setengah tubuhnya dari pinggang ke kaki juga
buntung. Wajar kalo tadi kalian cium bau amis atau merinding."
"Mengerikan sekali." Ayu menyedekapkan tangannya. Yang lain berubah mimik mukanya terlihat takut. Kecuali mas Arif. Dia anteng saja.
"Jadi dia semacam korin, Tar?" Tanya mas Arif.
"Dia arwah mas"
"Arwah orang mati maksudnya ?"
"Iya. Kenapa mas ?"
"Aku agak sangsi, maaf ya. Tapi setauku orang mati gak bisa jadi hantu."
"Kenyataannya bisa."
"Kenyataan itu kamu dapat darimana ?" Mas Arif terus saja bertanya. Seolah ada sesuatu yang mengusik pendiriannya.
"Ya dari apa yang aku lihat dan aku dengar."
"Oke oke.. Kita diskusikan ini secara serius, tapi jangan baper ya." Kata Khamid.
"Haha.. Ayok aku sih setuju." Mas Arif mengangguk.
"Boleh, aku juga mau cari ilmu tambahan."
"Yang lain gimana ?" Tanya Khamid.
Dan semuanya mengankat jempol.
"Sepengetahuanku soal orang mati, mereka ndak jadi hantu. Roh/arwah mereka langsung jadi urusan Tuhan."
"Itu idealnya, tapi pada kenyataannya orang yang mati gak wajar. Seperti tabrak lari, korban begal, tabrak kereta, dibunuh, gantung diri, mati pas hamil
atau mau melahirkan, dll. Semua sifat mati yang menurut orang jawa dikenal dengan mati basah, arwah mereka akan gentayangan. Jadi arwah penasaran. Seperti kasus yang tadi hantu kepala buntung itu."
"Aku ndak setuju sama konsep yang kamu ajukan Tar." Sembari
senyum mas Arif kontra.
"Lalu pendapat mas Arif gimana ?"
"Sepengetahuan awamku, manusia itu mempunyai pendamping yg dinamakan korin. Korin ini fisiknya serupa dengan orang itu. Misal aku, korinku sama persis seperti aku. Nah korin ini bisa dikatakan dadi bangsa jin yg kafir.
Dari itulah mereka sering membisiki di telinga kita keburukan-keburukan. Ini tak termasuk korin nabi Muhammad loh. Korin beliau sudah diislamkan oleh Allah."
"Terus mas ?" Khamid mempersilahkan lagi.
"Terus bila orang mati ndak wajar semisal yang dicontohkan
Tari tadi, itu kemungkinan yang menjadi hantu bukan roh nya orang itu. Melainkan korinnya atau jin jahat lain yang sengaja berbuat seperti itu buat menggoda kita. Hal serupa ketika ada korban tumbal pesugihan, yang dijadikan budak di kerajaan jin pesugihannya
itu bisa jadi korin. Bukan roh atau arwah orang yang mati."
"Ternyata kita memiliki dua sisi pandangan yang lumayan jauh berbeda ya mas." Aku menanggapi penjelasan mas Arif.
"Ya itu sepengetahuanku, wallahu a'lam."
"Baik diskusinya menarik, ini bisa jadi 2
atau 4 sks. Jadi kita bisa melanjutkan kapan-kapan saja. Oke man teman. Kita jajan dulu." Khamid memoderatori.
Setelah semua selesai. Kami pun pulang. Tak dinyana tiba-tiba di tengah jalan Ayu tertawa cekikikan.
"Berhenti dulu berhenti, ini Ayu kenapa." Sofyan yang berboncengan dengan Ayu memelankan laju motornya.
"Ayo ke pinggir dulu." Teriak Khamid yang berboncengan
dengan mas Arif.
Aku dan Riki pun mengikuti arahan mereka. Suasana menjadi mencekam. Di sebuah terowongan jalanan sepi. Ayu kerasukan. Dia tertawa bak begitu bahagia. Dan mukanya menunduk. Rambutnya yang sebahu berjuntai-juntai menutup mukanya. Kami duduk di
trotoar jalan.
"Haduh.. Ini Ayu kenapa lagi ?" Nampak Riki begitu tak nyaman.
"Wah kerasukan nih pasti." Sofyan menimpali.
"Yu.. Ayu. Jangan ngeprank, gak asyik tau." Khamid menggoyang-goyangkan bahu Ayu.
"Hus. Ngaco dia emang kesurupan beneran." Jawabanku.
"Ini siapa ? Tolong jangan ganggu teman kami." Khamid mencoba komunikasi.
"Hihihi hihihi." Ayu cuma tertawa lirih.
"Aduh repot, kami gak ngerti bahasamu." Sepertinya Khamid memang niat melucu.
"Siapa kamu ? Dan apa mau kamu ?" Aku dengan tegas bertanya.
Ayu langsung menengok ke arahku. Kedua matanya bertirai rambu melotot memandangiku.
"Kowe lancang." Ayu membuka suara.
"Lancang pripun ?" Tanyaku memperjelas.
"Hihihi.. Pikiro dewek (pikirkan sendiri."
"Yasudah kamu ndak perlu ganggu teman saya."
"Aku ora
ganggu. Bocah iki mambu wangi (anak ini bau wangi)."
Aku curiga jangan-jangan Ayu tengah datang tamu bulanan.
"Kamu kuntilanak ?" Mas Arif duduk berhadapan langsung dengan Ayu.
"Kowe mau apa ?" Ayu menjawab dengan pertanyaan.
"Kamu mau saya keluarkan baik-
baik atau dipaksa, atau malah mau dibakar ?" Mas Arif mengancam.
"Aku mau bawa anak ini."
"Ya silahkan kalo bisa." Mas Arif menyentuhkan telunjuknya di kening Ayu.
"Ahhhhhhhh panasssss."
"Panas ? Dingin gini kok panas."
"Panaassss."
"Mau ditambah panasnya ?"
"Ampuunn."
"Sekarang masih panas ?" Mas Arif menyentuhkan lagi jari tangannya di kening.
"Sudah adem."
"Nih dengerin, aku gak butuh komunikasi sama kamu. Kamu mau aku keluarkan. Insyaallah. Kalo masih mau melawan silahkan coba tahan."
Mas Arif meniup Ayu tiga
kali. Ayu pun langsung lunglai.
"Mas Khamid, tolong ambilkan minyak di tasku."
"Siap mas. Ini minyaknya."
"Ayu, ini minyak misk putih, kamu hirup buat memulihkan kondisi batinmu." Mas Arif nampak menyodorkan minyak wangi di sebuah botol mini.
Setelah Ayu terlihat membaik.
"Kamu lagi datang bulan Yu ?" Tanyaku meskipun agak kurang sopan. Apa boleh buat sekedar memastikan.
"Iya Rat. Lah ini aku kok di sini ?"
"Ah ndak apa-apa, ayok pulang." Mas Arif tak ingin menceritakan kejadian tadi.
"Ayo, tapi
kepalaku agak pusing nih ?" Ayu memegangi kepalanya.
"Ntar juga baik kok. Sudah malam. Kita pulang." Aku memapah Ayu.
°°°
Di kampus aku memberitahu Ayu kalau semalam dia kerasukan.
"Oh.. Pantesan kepalaku pening. Aku ingat tuh pas di motor tiba-tiba ada sinar
terang banget meluncur ke arahku. Habis itu aku sudah ndak ingat apapun."
"Iya.. Untung ada mas Arif. Dia yang nanganin kamu."
"Wah aku harus berterima kasih dong sama dia."
"Ya harus, ajak makan malam." Aku menggoda Ayu.
"Ah ntar kamu cemburu."
"Hih ngaco."
Ketika kami mengobrol. WA ku berdering. Ternyata mas Arif telpon.
"Waduh nih orang panjang umur. Lagi diomongin langsung muncul." Aku sembari mengangkat telpon.
"Yaudah angkat to Rat, mau ngajak jalan kali. Hahaha."
"Ah gak mungkin... Hallo mas."
"Rat, aku
ganggu ndak ?"
"Ndak, kenapa emange ?"
"Gini, nanti malam aku mau ke kontrakan teman ada acara diskusi kecil-kecilan gitu. Kamu mau ikut ndak ?"
"Aduh gimana ya mas, emang gak apa-apa aku ikut ?"
"Ya ndak to, aku malah seneng kalo mau ikut, tapi gak maksa
juga sih."
"Yaudah siap. Jam berapa mas ?"
"Asyik.. Tengah delapan aku jemput kamu ke kos. Nanti sharelok kosanmu ya."
"Iya mas.. Pakean formal apa gimana ?"
"Yah santai aja. Yang penting kelihatan cantik. Haha.. Canda."
"Haha.. Oke deh."
Mas Arif pamit dan
menutup saluran telpon.
"Ekhm ekhm.. Yang nyuruh aku ngajak makan malam, malah dirinya ngembat duluan. Eh."
"Hahaha sorry Yu, dia milih aku ternyata."
"Yasudah dinikmati. Aku ikhlas. Hahaha."
"Mi goreng kali dinikmati."
"Sudah siap ?" Mas Arif chat di WA.
"Sampun mas."
"Aku meluncur ya."
"Iya.. Aku di depan. Biar mas ndak nyasar."
"Okuy."
10 menit berlalu.
"Ayok naik." Ajak mas Arif untuk menduduki motornya.
"Iya. Pelan-pelan ya mas."
"Oh siaapp."
"Kita langsung ke tempat
seniornya mas ?"
"Iya.. Atau kamu mau makan dulu ?"
"Nanti aja pas pulang, aku belum lapar kok."
"Yaudah ntar beli minum aja."
°°°
30 menit berlalu kami sudah tiba di rumah seniornya mas Arif. Artinya seniorku juga, cuma aku belum kenal.
"Mas.." Aku menepuk
pundak mas Arif.
"Iya, kenapa Tar ?"
"Sebentar, rumahnya kok serem gini ya." Aku masih berdiri mematung di depan gerbang rumah itu.
"Serem gimana Tar ?"
"Percaya gak mas kalau rumah ini istimewa ?"
"Dalam hal ?"
"Di kanan kiri gerbang itu ada tanaman."
"Iya, mangga sama rambutan."
"Bukan itu mas."
"Lah apa ?"
"Macan."
"Aduh.. Maksudmu ada yang menanam macan ?"
"Iya, mungkin pemilik rumah ini."
"Tapi ganggu nggak ?"
"Sepertinya gak, mereka penjaga. Kalau kita niatnya baik mereka gak bakal ganggu."
"Untung."
"Tapi.." Baru kali ini aku merasakan takut. Bahkan ingin pulang saja tak mau bertamu.
"Tapi ? Kenapa Tar ?"
"Di dalam rumah ada macan yang lebih garang."
"Ini rumah apa penangkaran macan, kok banyak banget."
"Huss, ndak boleh gitu mas. Yang di rumah tuh beda"
"Beda dari yang dua di sini ?".
"Iya, yang di rumah itu punya orang lain."
Belum selesai aku dan mas Arif berdialog si empunya rumah menyambut dan mempersilahkan masuk.
"Kok diem-diem bae sih Rif ?"
"Biasa lagi ngambil ancang-ancang dulu."
"Ayok masuk."
Ajak seorang lelaki yang beberapa menit kemudian aku tahu namanya mas Andri.
"Ayo Tar masuk. Ini yang menempati rumah, namanya mas Andri."
"Hallo mas, Aku Tari." Sembari salaman.
°°°
Malam itu kami berdiskusi kecil. Soal organisasi dan semacamnya.
(Note: thread ini akan tamat nanti malam -semoga- dan untuk thread selanjutnya berjudul DIA YANG INDIGO. Di judul ini mungkin akan lebih banyak soal roman picisan ketimbang cerita horor. Bagaimana ?
Setelah selesai diskusi. Orang-orang pulang. Tinggal aku, mas Arif, mas Andri, mas Hamdi, dan mas Syamsul kami ngobrol ngalor ngidul sampai pada sebuah pembahasan tentang hal-hal berbau mistis.
"Nduk, dari tadi kok gak mau masuk ke dalam ?" Mas Andri tanya.
Waktu itu kami berbincang di luar rumah di terasnya yang lumayan luas.
"Hehe. Ndak apa-apa kok mas." Jawabku sekenanya.
"Loh." Mas Andri nampak bingung.
"Mas, Tari ini punya penglihatan lain." Mas Arif menjawab keheranan mas Andri.
"Ooh semacam indigo gitu ?"
"Wah langsung nyambung ig." Kata mas Arif.
"Iyalah aku paham og, Tar kalo boleh bercerita di sini ada apa aja ?"
"Haha.. Gimana ya mas aku ndak enak mau cerita juga." Jelasku.
"Ya gak apa-apa, berbagi pengetahuan."
"Bener nih gak apa-apa ?" Aku cuma mau
memastikan apa yang aku buka di sini tak menyinggung perasaan orang lain.
"Iya. Monggo diceritakan."
"Jadi mas, tadi tuh kenapa kami lama di luar gerbang, sebabnya itu di kanan kiri gerbang rumah ini ada macan. Tapi ndak galak kecuali sama orang yang masuk
ke rumah ini dengan niat jelek. Nah kenapa daritadi aku gak mau masuk ke dalam rumah, ada macan yang lebih garang daripada yang di gerbang tadi. Ternyata eh ternyata, macan itu khodam atau perwujudan kekuatan dari mas Hamdi. Hehe maaf mas Ham." Aku menjelas
kan penglihatan-penglihatan ini kepada mereka pada saat menyebut nama mas Hamdi, dia senyum-senyum saja.
"Owalah, mengenai macan yang di gerbang itu mungkin ditanam langsung oleh pemilik rumah ini. Soalnya beliau kiyai. Sekarang kita main tebak-tebakan."
Mas Andri nampak semakin ingin tahu.
"Apa mas ?" Tanyaku. Teman-teman yang lain menjadi pendengar setia saja.
"Di tangga ke lantai atas adakan ?"
"Iya, sosok perempuan, ini persis kuntilanak."
"Pantes, di kamar depan ini ada juga kan ?"
"Iya, anak kecil, ini
yang paling buat aku takut, soalnya die iseng. Tuh sekarang juga lagi ngintip di atas." Aku menunjuk celah di tembok.
"Pantes, nah di pohon rambutan itu ada juga kan ?"
"Ada, kalau ini orang sering nyebut wewe gombel."
"Pantes, terus dimana lagi yang ada ?"
"Kok daritadi mas Andri, bilang pantes-pantes terus, apa mas juga bisa lihat mereka ?"
"Ah nggak, cuma aku sensitif, ngerasa gitu tok."
"Owalah, mau tahu gak dimana yang paling kuat ?"
"Dimana ?"
"Tuh lagi lihatin kita di bawah mobil, ada genderewo."
"Hmm aku daritadi merinding terus, pantes."
"Disini ada orang yang diikuti sosok perempuan loh." Kataku.
"Siapa ?"
"Mas Syamsul."
"Loh aku ?" Mas Syamsul kaget.
"Iya, nampaknya perempuan itu suka sama kamu mas."
"Suka piye ?"
"Mungkin karena auramu bagus, dia
sudah lama ngikutin njenengan."
"Yo asal jangan ganggu aku aja, kalo ganggu aku usir langsung." Ternyata memang mas Syamsul ini seorang santri yang taat. Pantas bila mereka menyukai auranya yang positif.
Malam itu kami terus saja berbincang mistisme. Sampai
kejadian di tanjakan silayur soal hantu berkepala buntung itu juga ikut dijadikan topik pembicaraan. Yang mana mereka juga mengetahui mengenai mitos keberadaannya. Dan ternyata si hantu tersebut muncul di sini mendengarkan perbincangan kami.
"Mas-mas, si hantu kepala buntung itu, ngikut loh ke sini. Sekarang ada di sini." Jelasku.
"Astagfirullah."
"Kenapa mas Syam ?" Mas Syamsul nampak kaget.
"Itu loh lihat, di pojokan"
"Aku menoleh ke pojokan yang ditunjuk mas Syamsul, ternyata si hantu itu
sedang menampakan wujudnya ke mas Syamsul."
"Takut mas ?" Tanyaku.
"Nggak, aku cuma kaget, sering aku dinampakin kaya begituan. Gak pernah takut. Yo cuma agak jijik."
"Haha ternyata punya potensi juga." Kata mas Andri sembari menepuk bahu mas Syamsul.
"Mas andri, nih aku mau minta izin, di wc rumah ini ada satu tangan milik si hantu buntung , katanya dia mau ngambil, boleh gak ?"
"Anjir, ya ambil aja gak usah minta izin segala, bawa pulang sana. Aduh aku jadi takut mau ke wc."
"Hahaha.. Kok bisa ada disini
tangannya ? Ah." Aku bingung kenapa tangannya diketemukan di rumah ini. Apa mungkin dulu di buangnya di sini jasadnya itu. Ah biarlah aku tak mau ambil pusing.
Iklan. Ternyata dari salah satu follower ada yang tahu tanjakan silayur.
Setelah pembicaraan selesai sekitar pukul 2 dini hari. Aku memutuskan untuk pulang bersama mas Arif.

"Tar, kapan hari aku mau bikin novel judulnya ANANTARI mengupas soal kamu dan penglihatan-penglihatanmu, sepertinya bagus ya ?" Mas Arif menyampaikan maksud.
"Hahaha.. Silahkan."
"Sip. Sudah dapat izin."
"Kapan mulai menulisnya ?"
"Setelah skripsiku selesai. Eh tapi ada gak yang mau menerbitkan novel dari seorang pencipta karya yang belum jelas juntrungannya ?"
"Hmm gak tahu. Hahaha."
"Hih ketawa."
Baiklah. Demikian thread MANTRA ini dimuat. Ada yang merasa janggal ? Yap judul dan isinya gak nyambung. Khawatir beberapa mantra yang akan disebutkan di cerita ini disalahgunakan. Termasuk asma kolo cokro itu saya mendapat teguran kenapa sampai dibocorkan
publik. Jadi isinya lebih ke petualangan-petualangan kecil Anantari. Kapan hari saya akan membuat novel ini. Mudah2an.

Terima kasih kepada para pembaca. Mohon maaf yang sebesar-besarnya. Ambil manfaat jika ada. Buang semua kejelekan yang ada di cerita ini.
Berdasarkan hasil poling judul selanjutnya ialah DIA YANG INDIGO akan segera ditulis. Insyaallah..

Salam hangat bagi kalian.
Tertanda
Zoro-kun
Missing some Tweet in this thread?
You can try to force a refresh.

Like this thread? Get email updates or save it to PDF!

Subscribe to Babah Arif
Profile picture

Get real-time email alerts when new unrolls are available from this author!

This content may be removed anytime!

Twitter may remove this content at anytime, convert it as a PDF, save and print for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video

1) Follow Thread Reader App on Twitter so you can easily mention us!

2) Go to a Twitter thread (series of Tweets by the same owner) and mention us with a keyword "unroll" @threadreaderapp unroll

You can practice here first or read more on our help page!

Follow Us on Twitter!

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just three indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3.00/month or $30.00/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!