My Authors
Read all threads
Bahaya sering ghibah.
1. Mengasah ego dan meningkatkannya. Semua orang dibandingkan, membandingkan dengan moral yang berlaku di diri sendiri. Faktor homogenitas penduduk juga berpengaruh. Karena homogen, nilai2 moral dan adat jadi sama. Jadi ketika ada yang "berbeda" saja, maka akan langsung ghibah.
Ego ini pisau bermata dua. Selain bagus untuk eksistensi dari seorang manusia itu sendiri, tetapi bila kebanyakan jadi sombong dan takabur. Semua orang disamakan dengan dirinya sebagai standard. Merasa paling benar dan paling baik. Di sini setan sudah mulai membisiki halus.
2. Itu kalau ada poin dimana dia emang lebih baik dari orang lain, kalo emang dia tidak berkutik dengan perbandingan yang mutlak? Maka akan jadi iri hati. Misal, tetangga ada yang beli rumah, sedangkan dia boro2 beli rumah, beli sepeda motor cicilannya ngepres.
Kenapa mutlak? Karena rejeki itu bukan ranah manusia. Benar rejeki itu dicari, tapi kalo emang sudah dicari tapi dapetnya segitu? Ya mau gimana lagi. Jadi mutlak adalah poin dimana dia tidak mampu atau mau untuk mengubahnya.
3. Ada seseorang yang bilang, "tapi ini iri yang baik, iri terhadap pencapaian dan prestasi"
Menurut saya, ga ada yang namanya iri baik itu. Iri tetaplah iri. Sifat dasar manusia yang menggerakkan perkembangan. Cuma emang harus hati2 agar irinya tidak merugikan orang lain.
Contoh :
karena iri dan ingin anaknya seperti anak tetangga yang berprestasi, maka ada eksploitasi anak sendiri supaya tidak mau kalah dengan tetangganya itu. Jadi terobsesi dengan pencapaian orang lain, yang akhirnya akan menghancurkan kepercayaan diri anaknya sendiri.
Ini eskalasi "iri" masih tahap awal, belum ke tahap selanjutnya. Utas saya ini berjenjang dan sesuai eskalasi dari dosa ghibah itu sendiri. Sampai setan pun menguasai manusia secara sepenuhnya. Bahkan istilah bahasa inggrisnya ada, yaitu "speak of the devil", obrolan iblis.
4. Habis dari "iri yang baik" akan menjadi ke "iri yang jahat". Yaitu pertama dosa hasut. Karena merasa kalah bersaing, tidak bisa merubah kondisi, maka akan menjadi menghasut orang lain. Sebenarnya hasut ini bisa 1 paket ama fitnah.
Akhirnya, terjadi bias informasi yang berkembang di masyarakat. Ditambah lagi, orang2 yang suka ghibah ini (jika) berasal dari golongan pendidikan rendah, pergaulan sempit (homogen) dan beban hidup lain (kondisi keuangan, keluarga, karir), maka akan jadi pemacu fitnah / hoax.
5. Akhirnya hidup yang seharusnya sudah berat dengan beban hidup itu sendiri, menjadi semakin berat dengan sering membanding-bandingkan orang lain dan suka mengurus ranah yang sebenarnya privat atau mencampuri urusan orang lain.
Keimananpun menjadi tipis, karena saking sibuknya ghibah dan fitnah, akan menjadi lupa kalau ada Tuhan yang Maha Kuasa atas segala kondisi seluruh ciptaannya dan Maha Melihat atas apa yang kita perbuat.
Uniknya, ghibah ini menurut saya adalah senjata andalannya setan dalam masuk dalam segi kehidupan manusia. Buktinya, ini tetap terjadi dan malah parah di lingkungan yang konservatif, homogen, dan relijius. Aneh kan, relijius tetapi ghibahnya jalan terus.
6. Jadi, ghibah itu kalau dibiarkan akan merubah hidup seseorang itu jadi makin menderita. Segala cara dilakukan agar tidak menjadi omongan orang lain, karena orang itu tau kalau mereka (bahkan orang itu sendiri) selalu ngomongin orang. Jadi paranoid sendiri.
Itulah mengapa, ghibah sangat berbahaya, karena secara tidak sadar, akan mempengaruhi diri kita dan lingkungan. Tapi apakah pola masyarakat yang seperti itu selalu buruk? Belum tentu, ada poin positifnya juga.
1. Karena terbiasa mengurusi orang lain, termasuk keburukan dan aib, maka ini juga berimbas ke kegiatan sosial. Dimana ada yang membutuhkan, mereka membantu. Jadi gotong royong. Itupun kalo belum eskalasi ke fitnah lho ya. Karena fitnah dan hasut (adu domba) bisa menjadi 1 paket.
2. Mereka mudah menangkal radikalisme. Karena tidak terbiasa menerima "perbedaan". Sedangkan orang2 yang radikal, itu rata2 orang yang pendiam, eksklusif, jarang berbaur. Mereka jelas gampang menaruh rasa curiga.
Jadi, intinya kebiasaan ghibah itu lebih banyak buruknya, tetapi ada juga baiknya. Semua tetap kembali ke diri masing2, kontrol terhadap diri sendiri. Bukankah agama itu mengajarkan mengontrol diri sendiri?
Bagi yang tau saya secara personal, tetapi ikut merasa dengan apa yang saya bahas, maka mereka akan jadi defensif. Tapi yang defensif sebenarnya bukanlah mereka, tetapi setan yang tidak terima kedoknya terbongkar dengan pembahasan saya tadi.
Penyangkalan dan penyerangan secara pribadi yang pasti akan dilakukan. Tapi sudahlah, toh yang bicara itu sebenarnya bukan orang yang saya hadapin, tetapi setan itu sendiri. Karena saya yakin, sebenarnya setiap manusia itu sebenarnya baik. Husnudzon.
Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh.

Enjoying this thread?

Keep Current with Aldrik Dwi Wicaksono

Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

Twitter may remove this content at anytime, convert it as a PDF, save and print for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video

1) Follow Thread Reader App on Twitter so you can easily mention us!

2) Go to a Twitter thread (series of Tweets by the same owner) and mention us with a keyword "unroll" @threadreaderapp unroll

You can practice here first or read more on our help page!

Follow Us on Twitter!

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3.00/month or $30.00/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!