, 9 tweets, 2 min read Read on Twitter
Sedikit cerita ttg critical thinking.

Ada banyak pengalaman seru saat PhD, salah satunya di kelas civic engagement (CE).

Professor tanya ke kelas, apa CE harus ada dlm demokrasi?

Sebagian jawab Ya, sebagian No

Si Prof lalu bagi kelas ke dalam 2 grup u/ debat. Menariknya...
Menariknya, ia membagi kelas berdasar jawaban awal student.

Students yang awalnya bilang bahwa CE harus ada dalam demokrasi diharuskan berargumen bahwa CE sebenarnya tidak perlu.

Sebaliknya, students yg berpendapat CE tidak perlu harus berargumen bahwa CE perlu dalam demokrasi.
PhD students, PhD, dan semua yg merasa expert dalam satu hal bisa sangat opinionated (termasuk saya). Jadi semua di kelas waktu itu agak terkejut dgn sistem debat profesor ini.

Kok kita disuruh mempertahankan ide yg kita gak setuju & mengkritik posisi yg kita anggap benar?
Dgn susah payah berpartisipasilah kelas dlm debat aneh itu. Dan jujur, paling gk buat saya, memang susah u/ melihat dari perspektif lain.

Susah u/ buat argumen knp posisi yg menurut saya salah bisa jadi benar.

Susah juga u/ melihat knp posisi yg saya yakini benar bisa jd salah.
Selesai debat si Prof membuat rekap argumen. Dan memang, ada argumen valid dari kedua pihak.

Ia juga buat diskusi ttg tujuan debat tadi. Tentang pentingnya critical thinking yg kritis bukan hanya ke pendapat yg kita tidak setuju, tapi jg kritis terhadap pendapat yg kita setujui.
Mungkin saya share pengalaman ini krn capek dgn polarisasi hari2 ini.

Buzzer v SJW
Anti-STM v Pro-STM
Anti-demo v pro-demo

Gk boleh netral. Di mata satu kelompok, netral = pro-penguasa. Di mata kelompok lain, netral = pro perusuh.

Seandainya dunia bener hitam-putih kayak gt.
Kita boleh punya pandangan normatif & ideal ttg keadilan, ttg negara, ttg apapun.

Tp perlu ingat jg kalo kita gk hidup di dunia theoretical, kita hidup di dunia empirical. Dunia ini bukan koleksi "apa yg seharusnya" (das sollen). Dunia ini kumpulan "apa yg ada/riil" (das sein).
Saya khawatir kalau kita hanya fokus dgn "das sollen" & mengabaikan "das sein" kita hanya akan memperburuk keadaan lewat dikotomi2 simplistik spt negara brutal/pendemo rusuh.

Spt pengalaman di awal trit ini, hampir selalu ada perspektif valid bahkan dari pihak yg bertentangan.
Sebagian kita mungkin anggap pendapat demikian main aman/tidak berpihak kpd kaum lemah. Silakan.

Faktanya, dunia tidak hitam putih. Kompleksitas sosial membuat kebenaran tidak pernah hanya ada di satu sisi.

Binary thinking adalah sejauh-jauh manusia dari realita hidup. #end
Missing some Tweet in this thread?
You can try to force a refresh.

Like this thread? Get email updates or save it to PDF!

Subscribe to Nathanael Gratias
Profile picture

Get real-time email alerts when new unrolls are available from this author!

This content may be removed anytime!

Twitter may remove this content at anytime, convert it as a PDF, save and print for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video

1) Follow Thread Reader App on Twitter so you can easily mention us!

2) Go to a Twitter thread (series of Tweets by the same owner) and mention us with a keyword "unroll" @threadreaderapp unroll

You can practice here first or read more on our help page!

Follow Us on Twitter!

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just three indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3.00/month or $30.00/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!