Nggak jarang pula playlist Spotify keganti sendiri tiap lewat sini.
Bukan itu topik ceritanya.
Ini pengalaman ibuku.
Seingat beliau, kejadiannya tahun 1988 atau 1989, lupa persisnya. Perjalanan mudik ke Banyuwangi seperti biasanya Ayah-Ibu tempuh menggunakan bus. Pada tahun itu belum ada rezeki untuk beli mobil.
Perjalanan darat dari Pasuruan ke Banyuwangi kurang lebih 5-6 jam.
Waktu menunjukkan pukul 02.00. Sedikit lagi sampai Situbondo.
“Diluk engkas iki.. Diluk engkas..”
(Sebentar lagi ini, sebentar lagi..)
Mungkin pertanda bahwa sebentar lagi bus akan melewati alas baluran.
Suasana bus hening, hening sekali. Hanya ada suara mesin bus yang sesekali dipaksa kuat melewati beberapa tanjakan di hutan.
Lalu momen seram pun terjadi..
Suara anak kecil. Pelan, tapi berulang.
“Pak, aku mudun kene..”
(Pak, berhenti di sini pak..)
(Pak, aku turun di sini pak..)
Suara anak kecil tadi membuat penumpang bus terbangun. Ada kalimat-kalimat tanya dan heran dari penumpang bus yang terdengar.
“Sopo iku? Sopo?”
(Siapa itu? Siapa?)
(Loh dek, ini tengah hutan, kamu ngapain turun di sini?)
Pertanyaan kenek bus itu lantang terdengar semua penumpang. Beberapa ada yang mulai istighfar.
(Rumahku di sini pak, sudahlah aku turun di sini saja..)
Jawaban anak kecil itu makin saja membuat malam semakin seram. Dilihat dari bentuk tubuhnya, anak kecil itu seperti masih SD.
Dia sendirian.
Rumah? Di tengah hutan? Yakali.
Sambil bicara sedikit heran;
“Omahe sopo le nang kene, kowe demit yo, Ya Allah Gusti..”
(Rumahnya siapa nak di sini, kamu setan ya, Ya Allah Gusti..”
“Wes ndang tutupen.. tutupen lawange, demit iku cak!”
(Udah cepet tutup, tutup pintunya, setan itu!)
Seisi bus Astaghfirullah semua.
“Sek pak, ojok budal sek..”
(Sebentar jangan berangkat dulu)
Sementara di sisi sebelah kiri, anak kecil tadi berjalan ke arah hutan.
Tiba-tiba.
“Astofirulloh.. ilang areke cak!”
(Astagfirullah, anaknya hilang!)
Suara kenek bus nyaring dan diikuti istighfar semua penumpang.
Kayak anak kecil biasanya kok.
Pakai kaus, celana pendek.
Penumpang pun kembali tenang. Meski ada juga ibu-ibu yang minta lekas melanjutkan perjalanan.
Maaf kiranya kurang seram, tapi beberapa kali nyetir lewat alas itu tengah malam rasanya nggak akan bisa tenang. Cobain sendiri deh.
Lokasinya sama; Alas Baluran.
Jadi panjang nih thread.
Mau yang mana duluan?
Cerita ini lebih dulu dialami daripada cerita yang anak kecil kemarin. Sekitar dua tahun sebelumnya.
Naik bus juga, berangkat malam. Alasan kenapa berangkat malam karena begitu sampai terminal di Banyuwangi, biar ada yang jemput.
Ibu baca doa. Bus pun berangkat.
2,5 jam perjalanan, bus pun akan melewati Besuki, lalu Situbondo.
Kira-kira pukul 1 dini hari, bus pun berhenti di SPBU. Jalanan sepi.
Ibu masih tetap di bus, sembari sesekali mencoba tidur lagi. Dari kejauhan, supir bus terlihat sedang menyalakan api untuk rokoknya.
Penumpang terlelap sambil ditemani musik tembang kenangan yang volumenya sengaja dikecilkan.
Gelap. Hanya lampu bus dan lampu kendaraan di depan yang sedikit membantu penerangan jalan.
“Ah, mungkin macet..”, pikirnya.
30 menit masih pelan.
Ibu pun terbangun dan melihat penumpang lainnya ternyata juga terbangun. Mungkin sama-sama penasaran, kenapa bus kok pelan sekali jalannya. Ada apa?
Sampai akhirnya ada 1 penumpang berjalan dari kursi belakang menuju tempat kenek bus..
(Ada apa toh pak? Kok pelan sekali jalannya? Makin lama sampainya)
Pertanyaan itu seolah mewakili penumpang lainnya yang ikut penasaran sebenarnya ada apa..
“Do ra wani nyalip pak. Loro mobil ngarep podo alon-alon pisan..”
(Pada nggak berani nyalip pak, dua mobil depan pelan-pelan juga)
Jawaban supir sampai ke telinga penumpang lainnya. Termasuk ibu.
“Kuwi nang ngarep dewe enek wong sepeda pancalan nggoncengke memedi. Do ora wani nyalip, wedi malah pindah mrene..”
(Itu di paling depan ada orang naik sepeda onthel bonceng memedi, nggak berani nyalip takut pindah)
Dan di atas ranting ada..
Pocong. Duduk nyamping.
Bisa bayangin situasinya?
“Yowis iki sampe metune alas ngene terus, ra wani nyalip kok..”
(Yaudah ini sampai keluarnya alas begini terus, nggak berani nyalip).
Di ujung sana masih terlihat jelas ranting yang tertumpuk lumayan tinggi sedang diduduki pocong yang sama sekali tidak berpindah tempat.
45 menit belum keluar alas juga..
“Tenanan tah iku? Sopo pisan seh bengi-bengi mancal lewat alas..”
(Beneran kah itu? Siapa juga sih malam-malam naik sepeda lewat hutan begini)
Entah penumpang siapa yang menanyakan hal ini.
(Saya sering pak lewat sini, cerita teman-teman yang supir misalnya ada memedi gini jangan disalip, takutnya nanti dia pindah)
Jawab pak supir.
Disusul carry yang mendahului bapak-bapak pembawa ranting.
Yang mana masjid itu juga menjadi pemberhentian bus untuk sembari menunggu waktu solat subuh.
“Pak, sampean mau enek sing nggandoli. Gak kroso tah?”
(Pak, Bapak tadi ada yang ngikut, nggak berasa kah?)
Supir bus membuka obrolan.
“Nggih pak, kulo sampun keroso. Mugi-mugi niku bojo kulo ingkang wingi seda. Kulo diimpeni menawi almarhumah boten tego yen kulo nyambut gawe piyambakan..”
Artinya..
Jadi sebenarnya bapaknya sudah tau kalo di alas tadi ada yang ngikut.
Selepas subuhan, bus melanjutkan perjalanannya ke Banyuwangi.
Tamat.


