, 58 tweets, 9 min read
My Authors
Read all threads
Pengalaman horror Ibu, Ayah, dan saudara Ibu tentang Alas Baluran. Ibuku orang asli Blambangan, kakak adik beliau juga ada di Banyuwangi. Jadi setiap mudik pasti ke sana dan lewat alas ini. Beliau selalu cerita tentang seramnya alas Baluran.

Coba aku ceritakan, ya.

A thread.
Sambil nunggu rame, saya ketik di notes dulu ya biar ceritanya urut.
Jadi untuk yang belum tau tentang Alas Baluran, alas ini artinya hutan. Hutan Baluran. Taman Nasional Baluran atau Afrikanya Pulau Jawa, ada di sini. Sering dipakai prewed. Tetapi, itu juga tidak mengurangi kesan seramnya alas Baluran.
Setiap lebaran selalu mudik ke Banyuwangi, tepatnya Blambangan, tempat kelahiran Ibu. Lewat darat, hutan Baluran selalu menjadi jalur yang sesegera mungkin ingin saya lewati. 24 km, nggak ada sinyal.

Nggak jarang pula playlist Spotify keganti sendiri tiap lewat sini.
Yang sering perjalanan darat ke Bali, untuk sampai ke Ketapang pasti melewati alas ini. Ada beberapa sebutan angker untuk tempat ini, mulai dari Jurang Tangis, sampai konon tempat pembuangan mayat G30S/PKI yang jumlahnya ribuan.

Bukan itu topik ceritanya.
Ini pengalaman ibuku.
Ada 2 versi cerita Ibu yang setiap perjalanan mudik beliau ceritakan. Untuk informasi saja, setiap mudik, perjalanan yang kami ambil selalu malam hari. Supaya sampainya di Banyuwangi bisa pagi. Dan lagian, saya yang nyetir, lebih suka nyetir gelap daripada terang.
Nah, bener ini jalurnya. Daerah Wongsorejo namanya. Sepanjang jalan kanan kiri hutan dan minim sekali penerangan. Bisa bayangin situasinya kan kalau malam?
Cerita Ibu versi yang pertama.

Seingat beliau, kejadiannya tahun 1988 atau 1989, lupa persisnya. Perjalanan mudik ke Banyuwangi seperti biasanya Ayah-Ibu tempuh menggunakan bus. Pada tahun itu belum ada rezeki untuk beli mobil.
Berangkat dari Pasuruan, Ayah-Ibu memutuskan untuk berangkat menggunakan bus malam dengan harapan sampai sana pagi saja. Perjalanan yang lama menjadi tidak begitu berasa bila dipakai tidur.

Perjalanan darat dari Pasuruan ke Banyuwangi kurang lebih 5-6 jam.
Sekitar pukul 11 malam perjalanan dimulai. Bus lumayan penuh, tetapi masih ada beberapa bangku kosong. Melewati 3 jam awal perjalanan, Probolinggo - Kraksaan - Besuki, hampir semua penumpang tertidur.

Waktu menunjukkan pukul 02.00. Sedikit lagi sampai Situbondo.
Semua penumpang masih tertidur. Sayup-sayup ibu mendengar suara kenek bus ngobrol sama pak supir.

“Diluk engkas iki.. Diluk engkas..”
(Sebentar lagi ini, sebentar lagi..)

Mungkin pertanda bahwa sebentar lagi bus akan melewati alas baluran.
Benar saja, bus pun mulai memasuki hutan yang penerangannya hanya terdapat pada kilometer awal saja. Ibuku memutuskan untuk tidur lagi.

Suasana bus hening, hening sekali. Hanya ada suara mesin bus yang sesekali dipaksa kuat melewati beberapa tanjakan di hutan.
Kurang lebih sudah 30 menit bus berjalan di tengah hutan. Lampu kuning dalam bus zaman dulu makin menimbulkan kesan seram dalam perjalanan mudik ayah dan ibuku.

Lalu momen seram pun terjadi..
Di tengahnya heningnya bus, tiba-tiba ada suara lirih dari dalam bus. Kira-kira baris ketiga dari depan, sedangkan ayah-ibu ada di tengah.

Suara anak kecil. Pelan, tapi berulang.
“Pak, mandek kene pak..”
“Pak, aku mudun kene..”
(Pak, berhenti di sini pak..)
(Pak, aku turun di sini pak..)

Suara anak kecil tadi membuat penumpang bus terbangun. Ada kalimat-kalimat tanya dan heran dari penumpang bus yang terdengar.

“Sopo iku? Sopo?”
(Siapa itu? Siapa?)
“Loh le, iki tengah alas, kowe arep nyapo mudun nang kene?”
(Loh dek, ini tengah hutan, kamu ngapain turun di sini?)

Pertanyaan kenek bus itu lantang terdengar semua penumpang. Beberapa ada yang mulai istighfar.
“Omahku nang kene pak, wis to aku mudun kene wae..”
(Rumahku di sini pak, sudahlah aku turun di sini saja..)

Jawaban anak kecil itu makin saja membuat malam semakin seram. Dilihat dari bentuk tubuhnya, anak kecil itu seperti masih SD.

Dia sendirian.
Bus pun berhenti di pinggir jalan. Sekeliling kanan-kiri masih hutan, pohon-pohon menjulang tinggi. Semua penumpang berdiri dari kursi dengan maksud ingin melihat secara langsung anak kecil tadi.

Rumah? Di tengah hutan? Yakali.
Waktu menunjukkan pukul 3 pagi. Tidak ingin membuang waktu, akhirnya kenek bus mempersilakan anak kecil itu untuk turun.

Sambil bicara sedikit heran;
“Omahe sopo le nang kene, kowe demit yo, Ya Allah Gusti..”
(Rumahnya siapa nak di sini, kamu setan ya, Ya Allah Gusti..”
Sambil turun dari bus, tidak ada jawaban sama sekali dari anak kecil tadi. Supir bus pun menyuruh kenek untuk segera menutup pintu.

“Wes ndang tutupen.. tutupen lawange, demit iku cak!”
(Udah cepet tutup, tutup pintunya, setan itu!)

Seisi bus Astaghfirullah semua.
Bapak-bapak di bangku paling depan meminta ke supir untuk jangan pergi dulu dari situ. Mungkin penasaran.

“Sek pak, ojok budal sek..”
(Sebentar jangan berangkat dulu)

Sementara di sisi sebelah kiri, anak kecil tadi berjalan ke arah hutan.
Semua penumpang termasuk ayah ibuku melihat ke hutan sebelah kiri. Anak kecil itu terus berjalan ke arah dalam hutan tanpa ada berhenti.

Tiba-tiba.
“Astofirulloh.. ilang areke cak!”
(Astagfirullah, anaknya hilang!)

Suara kenek bus nyaring dan diikuti istighfar semua penumpang.
Ibuku bilang, “itu anak jalannya biasa aja, nggak lari, nggak cepet juga. Belum sampai ke area tengah hutan tiba-tiba hilang. Ibu inget banget waktu itu udah hampir setengah 4. Nggak masuk akal ada rumah..”

Kayak anak kecil biasanya kok.
Pakai kaus, celana pendek.
Kondisi dini hari itu jalanan sepi, nggak ada lalu lalang satu pun kendaraan. Jalanan yang jelek dan berlubang membuat alas baluran seperti hanya punya jalan setapak.

Penumpang pun kembali tenang. Meski ada juga ibu-ibu yang minta lekas melanjutkan perjalanan.
Versi satu cerita ibuku selesai pada anak kecil yang minta turun dari bus padahal masih di tengah hutan.

Maaf kiranya kurang seram, tapi beberapa kali nyetir lewat alas itu tengah malam rasanya nggak akan bisa tenang. Cobain sendiri deh.
Versi kedua cerita ibuku lebih seram daripada cerita yang anak kecil. Menurutku lebih seram, karena biasanya lewat alas itu sekitar 45 menit, tapi ini bisa jadi 2 jam lebih.

Lokasinya sama; Alas Baluran.
Dan ada lagi cerita saudara Ibuku. Lebih dari satu cerita, mulai dari ditemenin mbak kunti di jok mobil belakang, lewat alas baluran kanan kirinya banyak setan yang ngejar, sampai cerita soal Rawon Nguling.

Jadi panjang nih thread.
Mau yang mana duluan?
Yaudah, versi kedua cerita ibu, ya. Selanjutnya cerita saudara ibu, saya manggilnya Om. Sebelum nanti ceritain yang punya Om, saya izin ke Ibu dulu, boleh cerita atau enggak soalnya Om saya sudah meninggal. Kecelakaan di Banyuwangi.
Duh, maaf saya cerita versi kedua besok aja ya. Ini jendela kamar ada yang ngetok-ngetok. Anjirlah.
Cerita kedua tentang alas Baluran yang dialami ibuku lagi-lagi latarnya sama, hutan sepanjang kurang lebih 24 km, minim penerangan, jarang pula ada tanda-tanda kehidupan.

Cerita ini lebih dulu dialami daripada cerita yang anak kecil kemarin. Sekitar dua tahun sebelumnya.
Kali ini perjalanannya bukan mudik lebaran, melainkan karena ada keperluan yang mengharuskan ibu untuk pulang ke Banyuwangi.

Naik bus juga, berangkat malam. Alasan kenapa berangkat malam karena begitu sampai terminal di Banyuwangi, biar ada yang jemput.
Berangkat sekitar pukul 10 malam dari terminal kota Pasuruan dengan kondisi bus yang tidak terlalu penuh hanya ada beberapa orang saja. Biasanya penuh ketika nanti ada yang naik dari kota Probolinggo.

Ibu baca doa. Bus pun berangkat.
Seperti biasa, tidak ada perasaan ataupun peristiwa asing yang terjadi selama perjalanan menuju tempat kelahiran ibu. Satu per satu kursi penumpang terisi. Tidak penuh, mungkin dari seluruh, hanya separuh.

2,5 jam perjalanan, bus pun akan melewati Besuki, lalu Situbondo.
Situbondo sudah terlewati, artinya destinasi yang akan dilewati setelah ini adalah alas Baluran. Belum lama keluar dari kota Situbondo, satu penumpang minta berhenti sebentar karena ingin buang air kecil.

Kira-kira pukul 1 dini hari, bus pun berhenti di SPBU. Jalanan sepi.
Ternyata bukan hanya satu orang penumpang saja yang ingin buang air kecil. 3-4 penumpang ikut turun mumpung ada toilet, pikirnya.

Ibu masih tetap di bus, sembari sesekali mencoba tidur lagi. Dari kejauhan, supir bus terlihat sedang menyalakan api untuk rokoknya.
Perjalanan pun dilanjutkan, bus melaju dengan kecepatan sedang memecah heningnya malam itu. Sesekali terdengar supir mencoba mengusir kantuk dengan bercanda dengan keneknya.

Penumpang terlelap sambil ditemani musik tembang kenangan yang volumenya sengaja dikecilkan.
Tiba juga bus di pintu masuk alas Baluran. Masih ada juga beberapa kendaraan lalu lalang melewati alas yang sama, pertanda bus berjalan tidak sendirian saja.

Gelap. Hanya lampu bus dan lampu kendaraan di depan yang sedikit membantu penerangan jalan.
Selang kurang lebih 3 km jalannya bus tidak lagi sedang, melainkan menjadi pelan. Sambil masih coba menikmati tidurnya, ibu juga merasa bahwa bus sedang berjalan tidak seperti biasanya.

“Ah, mungkin macet..”, pikirnya.
15 menit masih pelan.
30 menit masih pelan.
Ibu pun terbangun dan melihat penumpang lainnya ternyata juga terbangun. Mungkin sama-sama penasaran, kenapa bus kok pelan sekali jalannya. Ada apa?

Sampai akhirnya ada 1 penumpang berjalan dari kursi belakang menuju tempat kenek bus..
“Enek opo toh pak? Kok alon banget mlakune? Suwi mengko tekane..”
(Ada apa toh pak? Kok pelan sekali jalannya? Makin lama sampainya)

Pertanyaan itu seolah mewakili penumpang lainnya yang ikut penasaran sebenarnya ada apa..
Supir bus pun menjawab.

“Do ra wani nyalip pak. Loro mobil ngarep podo alon-alon pisan..”
(Pada nggak berani nyalip pak, dua mobil depan pelan-pelan juga)

Jawaban supir sampai ke telinga penumpang lainnya. Termasuk ibu.
Beberapa penumpang pada maju mendekat ke arah supir.

“Kuwi nang ngarep dewe enek wong sepeda pancalan nggoncengke memedi. Do ora wani nyalip, wedi malah pindah mrene..”
(Itu di paling depan ada orang naik sepeda onthel bonceng memedi, nggak berani nyalip takut pindah)
Buat yang nggak tau memedi itu artinya setan, makhluk halus. Beberapa orang jawa nyebutnya memedi (diambil dari kata wedi = takut, memedi = yang menakutkan).
Entah itu orang atau bukan, yang dilihat ibu dan penumpang lainnya adalah ada orang naik sepeda dan bawa kayu ranting yang numpuk di belakangnya, penuh sampai atas.

Dan di atas ranting ada..
Pocong. Duduk nyamping.
Posisi bus ada di deretan ketiga setelah mobil carry dan colt lawas. Bus yang posisinya lebih tinggi membuat penglihatan ke bagian depannya makin leluasa.

Bisa bayangin situasinya?
Seisi bus tidak ada yang kembali duduk di kursinya. Berdiri melihat fenomena yang mungkin tidak dibayangkan sebelumnya.

“Yowis iki sampe metune alas ngene terus, ra wani nyalip kok..”
(Yaudah ini sampai keluarnya alas begini terus, nggak berani nyalip).
Waktu menunjukkan pukul 2 pagi. Perjalanan masih sama, bus pelan dengan mobil carry dan colt di depannya yang iring-iringan.

Di ujung sana masih terlihat jelas ranting yang tertumpuk lumayan tinggi sedang diduduki pocong yang sama sekali tidak berpindah tempat.
Ibu cerita juga kalo yang beliau liat adalah ranting ditumpuk lumayan tinggi, pocong duduk di atasnya. Nggak pindah tempat, kadang menghadap kiri jalan dan kadang menghadap kanan jalan sambil dari kejauhan kakinya ngayun-ngayun.

45 menit belum keluar alas juga..
Ini yang komen lama kali lama kali sabaran dikit dong. Inget-inget, ngetikin dan nyusun kalimat supaya enak dibaca nggak gampang 😢
Seisi bus heboh dan nggak sedikit yang mulai baca-baca doa.

“Tenanan tah iku? Sopo pisan seh bengi-bengi mancal lewat alas..”
(Beneran kah itu? Siapa juga sih malam-malam naik sepeda lewat hutan begini)

Entah penumpang siapa yang menanyakan hal ini.
“Kulo pun sering pak lewat mriki, ceritane kanca-kanca sing nyupir misale wonten memedi ngene iki nggak usah disalip, mengko pindah”
(Saya sering pak lewat sini, cerita teman-teman yang supir misalnya ada memedi gini jangan disalip, takutnya nanti dia pindah)

Jawab pak supir.
Sekitar 1 jam lebih berlalu belum terlihat juga tanda-tanda ujung ala Baluran. Yang seharusnya hanya sekitar 30-45 menit melewati alas Baluran, kali ini harus berjam-jam.
Akhirnya setelah hampir 2 jam perjalanan yang begitu pelan, sampai juga di ujung alas yang mana mulai ada penerangan dan kampung. Perlahan-lahan colt yang ada di barisan 2 mendahului carry yang berada di depannya.

Disusul carry yang mendahului bapak-bapak pembawa ranting.
Waktu menunjukkan pukul 4, mendekati waktu subuh. Terlihat bapak-bapak bersepeda yang membawa ranting tadi berhenti di sebuah masjid kiri jalan.

Yang mana masjid itu juga menjadi pemberhentian bus untuk sembari menunggu waktu solat subuh.
Penumpang pun turun, bergegas ingin bercerita ke bapak tersebut bahwa selama di alas Baluran tadi bapak tidak sendirian.

“Pak, sampean mau enek sing nggandoli. Gak kroso tah?”
(Pak, Bapak tadi ada yang ngikut, nggak berasa kah?)

Supir bus membuka obrolan.
Ibu yang ikut berkerumun di antara penumpang lainnya ikut mendengar jawaban bapak tersebut.

“Nggih pak, kulo sampun keroso. Mugi-mugi niku bojo kulo ingkang wingi seda. Kulo diimpeni menawi almarhumah boten tego yen kulo nyambut gawe piyambakan..”

Artinya..
(Iya pak, saya udah merasa. Semoga itu istri saya yang beberapa waktu lalu meninggal. Istri saya datang ke mimpi dan bilang kalau dia nggak tega lihat saya kerja sendirian..)

Jadi sebenarnya bapaknya sudah tau kalo di alas tadi ada yang ngikut.
Seketika semua bingung harus bersikap apa pada bapak tersebut. Kesan takut dan seram yang tadi disimpan mendadak hilang ketika bapak menceritakan kisahnya.

Selepas subuhan, bus melanjutkan perjalanannya ke Banyuwangi.

Tamat.
Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh.

Keep Current with Faris

Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

Twitter may remove this content at anytime, convert it as a PDF, save and print for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video

1) Follow Thread Reader App on Twitter so you can easily mention us!

2) Go to a Twitter thread (series of Tweets by the same owner) and mention us with a keyword "unroll" @threadreaderapp unroll

You can practice here first or read more on our help page!

Follow Us on Twitter!

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3.00/month or $30.00/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!