Untuk mahasiswa ekonomi. Saya ingin lanjutkan tweet saya yang lalu soal perilaku masy di era pandemi ini. Ini adalah studi awal saya dan Namira Fitriani @synamira dg data Google mobility. Masih sangat awal dan banyak hal belum lengkap. Hrs dibaca dg kualifikasi
Perhitungan menunjukkan: Aktifitas orang keluar utk retail and recreation, workplace, transit station meningkatkan jumlah kasus positif Covid. Semakin org keluar rumah semakin tinggi kasus covid. Artinya protokol kesehatan tdk dipatuhi ketika org keluar rumah
Apakah meningkatnya kematian membuat orang tinggal di rumah? Perhitungan dg Google mobility: setelah naiknya kasus kematian, org cenderung tinggal dirumah utk beberapa hari (kurang dari 5). Setelah itu tak berdampak dan cenderung keluar lagi. Mengapa?
Ada beberapa kemungkinan penjelasan disini. Kami fokus kepada ekonomi dan psikologi
Dari segi ekonomi, perhitungan kuantitatif menunjukkan: semakin buruk situasi ekonomi semakin org meninggalkan rumah. Artinya argumen saya bhw keputusan org tinggal di rumah ditentukam oleh faktot ekonomi didukung oleh hasil ini
Org hanya bisa tinggal dirumah jika ia memilki tabungan atau mendapat bansos. Jika tidak ada tabungan atau perlindungan sosial org akan keluar rumah. Krn itu spt saya katakan PSBB bias memihak kelompok menengah atas jika bansos tidak diberikan. BLT menjadi penting sekali
Faktor kedua adalah psikologi. Ini dikenal dg behavioral economics. Kami bukan psikolog, karena itu psikolog lebih punya otoritas utk bicara ini. Kami hanya menggunakan approach behavioral economics tentang kemungkinan cognitive bias
Ada beberapa kemungkinan penjelas. 1. Optimism bias: org cenderung overestimate thd kemampuan dia menghindari virus. Mereka berpikir saya hati2, org yg kena itu tidak hati2. Saya lebih baik dari orang lain. Contoh lain teman saya keluar aman, apalagi saya yg lebih hati2.
2. Economic impact itu probabilitasnya lebih real, sy di rumah tdk bisa kerja, saya keluar saya mungkin kena virus mungkin juga tidak. Lebih baik saya keluar. Ini mirip yg dijelaskan dalam prospect theory
3. Habit: manusia memang mahluk sosial. Kasus kematian membuat org takut dalam beberapa hari tapi setelah itu habit akan kembali
Argumen behavioral economics ini perlu diperkaya dari segi psikologi. Tetapi memang dalam mengatasi pandemi ini pendekatan holistic dari segi ekonomi, sosiologi dan psikologi menjadi penting. Kebijakan harus di desain dg mempertimbangkan faktor2 itu.
Ini hanyalah pemicu, dan masih banyak soal metodologi yg harus diperbaiki. Tetapi ia mungkin membantu utk melihat masalah inj dg lebih baik dan hati2 dan mendorong pemikiran2 baru. Itu sebabnya pemikiran tak boleh dikekang.
Untuk mahasiswa saya, sampai bertemu di kelas Penganyar Ilmu Ekonomi. Kita akan bahas lebih jauh dan lihat juga apa yg salah dengan argumen2 ini.

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with M. Chatib Basri

M. Chatib Basri Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

More from @ChatibBasri

30 Aug
Untuk mahasiswa ekonomi. Satu hal yg menarik utk dipelajari dari COVID-19 adalah perilaku masy. Ini berguna utk memahami apa yg terjadi dan menjadi input dalam kebijakan. Jujur begitu banyak yg kita tdk tahu dari pandemi ini
Data memang amat terbatas, namun kita bisa bereksperimen dg data dari Google, Apple, Facebook, Covid-19 dsb. Tentu ini hanya proxy dan tak mencerminkan presisi. Tapi ia membantu kita sbg leading indicators
Saya bersama Namira @synamira mencoba melakukan eksperimen awal dg data Google dan Humdata.org
Read 18 tweets
5 Aug
Spt diduga Pertumbuhan ekonomi di TW II -5.32%. Konsumsi RT, Investasi dan Export anjlok. Tak mengherankan ini endogenous variable. Yg menguatirkan adalah Pengeluaran pemerintah -6.9%. Artinya Govt spending yg shrsnya bisa exogenous malah jadi pro cyclical
Tentu kita paham krn ada banyak aktfitas pemerintah yg ditunda akibat pandemi. Tapi juga banyak yg aktifitas yg bisa exogenous spt Bansos dg BLT, alokasi kesehatan, UMKM, stimulus. Yg seharusnya bisa membuat peng pemerintah tumbuh positif
Artinya concern Presiden dan Menkeu soal penyerapan belanja benar2 memang issue yg harus diselesaikan. Jika belanja tdk bisa dieksekusi maka pengeluaran pemerintah akan pro cyclical.
Read 4 tweets
21 Jul
Untuk mahasiswa pengantar Ilmu Ekonomi,sebuah utas
Kenapa penanganan ekonomi harus memperhatikan aspek kesehatan? Data secara konsisten menunjukkan pembalikan ekonomi terjadi Juni. Data Google mobility sampai 17 Juli juga konsisten Aktifitas mulai kembali, namun dibawah normal
Soal yg hrs dijawab: apakah setelah pembalikan ini, perbaikan akan terus terjadi (V)? Atau flat (L)? Atau ada pembalikan namun memakan waktu lama (U)? Data Google sampai dg pertengahan July kemarin menunjukkan pemulihan bulan Juni cepat, namun setelah itu agak flat.
Artinya re-opening jelas membawa dampak positif. Namun sampai seberapa jauh ia mengembalikan ekonomi? Harapan kita tentu seterusnya. Persoalannya adalah aktifitas tak mungkin normal 100% sampai pandemi selesai. Mengapa?
Read 18 tweets
1 Apr
Pemerintah kemarin telah mengeluarkan kebijakan stimulus ekonomi untuk mengatasi permasalahan pandemi Covid-19. Ada beberapa hal yang menarik diperhatikan disini
1. Saya kira kita perlu memberikan apresiasi yang tinggi kepada kebijakan stimulus yang baru dikeluarkan pemerintah.
Mengapa? Kebijakan stimulus ini jauh lebih fokus. Ia fokus kepada tiga hal: kesehatan; perlindungan sosial dan dunia usahan dalam rangka pemulihan ekonomi. Saya pernah menyampaikan di Kompas beberapa minggu lalu.
Dengan prioritas fiskal yang baik seperti ini, maka pemerintah akan bisa lebih fokus menangangi persoalan yang dihadapi. Persoalan ekonomi tidak akan selesai sebelum masalah Covid-19 bisa di jawab.
Read 20 tweets
15 Mar
Perkembangan terakhir yang terjadi dimana dianjurkan dilakukan langkah social distancing tentu akan berpengaruh kepada situasi ekonomi dan juga efektifitas kebijakan ekonomi seperti fiskal
Jika orang mengurangi aktifitas nya termasuk pergi berbelanja, menghindari keramain, kontak people to people, maka pola kebijakan yang tujuannya mendorong permintaan melalui belanja tidak akan efektif.
Walau memiliki uang, orang akan mengurangi aktifitas belanjanya, kecuali melalui online. Pola belanja akan bergeser kepada online. Namun tentu ini jumlahnya juga relatif terbatas, karena barang online juga akan tergantung kepada pasokan.
Read 13 tweets
13 Mar
Corona virus sudah menjadi persoalan global. Dampak ekonominya akan melampaui SARS. Karena itu analisis ekonomi nya tidak bisa lagi melihat hanya dampak penurunan ekonomk China thd Indonesia. Menarik utk membaca paper dari McKibbin dan Fernando voxeu.org/content/econom…
Warwick Mckibbin dan Roshen Fernando dari ANU dalam e book dari CEPR di edit oleh Baldwin dan di Mauro diatas mencoba melakukan estimasi dampak corona dg 7 scenario. Scenario 1-4 adalah kondisi penyebaran covid-19 terbatas China dan 4-7 kalau meluas menjadi global
Perhitungan Mckibbin dan Fernando menunjukkan jika, covid-19 menjadi wabah global, maka dalam scenario 4, pert. ek Indonesia akan turun 1.3%, bukan lagi 0.3% dari baseline. Artinya dg scenario 4, pert.ek Indonesia turun jadi 3.7% dari 5% jika tdk ada mitigasi pemerintah.
Read 7 tweets

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!

Follow Us on Twitter!