Byk org ga mengenal profesi sy n teman2 di spesialis anestesi dan terapi intensif. Kami tdk hanya, melakukan anestesi tapi juga menangani kasus kritis dan gawat darurat. Area kerja kami luas banget, mulai dari IGD, kamar operasi, HCU/ICU, rawat inap, radiologi, endoskopi, dll.
Boleh dikatakan hampir seluruh area RS, dimasuki oleh Sp Anestesi. Apalagi kalau ia ikut dlm manajerial unit. Makanya kerap dokter anestesi bisa dpt menguasai persoalan RS. Bkn sombong. Tapi fakta. Bisa dilihat dalam akreditasi RS, ada satu chapter sendiri utk pelayanan anestesi.
Pada masa pandemi ini, berat banget buat spesialis kami yg hanya ada 2400 org di Indonesia dg sebaran tak merata. Sekitar 600 orang bekerja di Jabodebek. Seperempatnya. Apa kabar di luar daerah. Bisa coba dilihat angka kematian krn covid di luar wilayah itu dg kebutuhan ICU.
Jakarta pernah meminta 30 orang dokter anestesi utk bekerja dlm penanganan covid-19. Sampai saat ini, belum berhasil dipenuhi. Semua sudah sibuk di RS masing2. Ga bisa bantu keluar, krn beratnya beban di RS. Apalagi kami tak hanya menangani pasien covid-19, tapi juga non covid.
Saya sendiri bekerja di RSUD hanya bertiga. Setiap hari, 2 orang dokter anestesi yg bekerja 24 jam, dipisahkan antara yg bekerja utk pelayanan covid dan non covid. Hal ini sbg tindakan pencegahan, agar kami tetap konsen dan tak tertular. Akhirnya per org min 4x jaga per minggu.
Tapi tak semua RS punya dokter anestesi spt tempat saya. Di daerah, kerap hanya satu orang, bahkan tidak ada. Saya sendiri sempat bekerja sendiri selama 3 tahun periode 2008-2011, sehingga tau persis lelahnya jaga sendirian di RS 24 jam selama 365 hari.
Lebih beratnya lagi, pada pandemi ini, tugas kami melakukan pemasangan ventilator. Tindakan yg harus dilakukan adalah intubasi. Tindakan yg berbahaya menularkan, krn kami vis a vis langsung dg tempat virusnya, saluran nafas pasien. Akibatnya kami pakai proteksi berlapis-lapis.
Sejawat kami sudah meninggal tiga orang; yg terinfeksi jangan ditanya; jauh2 lebih banyak. Umumnya dikarenakan melakukan pekerjaan. Baru saja, teman saya mengeluh krn harus melakukan anestesi pd pasien suspek covid di RS yg tdk melayani covid-19.
Kenapa teman saya mengeluh? Karena RS non covid, ga punya fasilitas yg lengkap, spt: PCR, sistem zonasi, kamar operasi tekanan negatif, ruangan isolasi dsb. Ini mungkin sebab kenapa yg banyak meninggal dokter2 yg tdk melayani pasien covid-19.
Apakah hanya dokter anestesi Indonesia yg menghadapi masalah ini? Enggak. Di dunia juga sama. Bisa cek di berbagai negara, bagaimana pontang-panting dokter anestesi bekerja. Intubasi dan ventilator, pasang CVC, monitor invasif, cuci darah dsb. Kami bisa berjam2 di ruangan isolasi
Saya blum cerita tntg teman2 saya subspesialis intensive care. Ini jauh lebih sedikit jumlahnya. Untuk mengatasi kekurangan, kerap teman2 saya ini melakukan rapat online utk memberi konsultasi ke teman2 anestesi di daerah lain di Indonesia. Mereka juga yg ga berhenti melatih kami
Jadi, kalau ada yg anggap kapasitas fasilitas kesehatan tidak terbatas, maka saya akan serta merta bilang: Goblok. Saat ini saja, satu dokter saya izin krn anaknya sakit, dan satu asisten anestesi saya lagi isolasi mandiri krn kontak erat pasien covid-19. Sudah timpang tim saya.
Satu lagi.Salam salut buat temen2 Srikandi Anestesi. Mereka tak hanya berjibaku di RS tapi tetap harus mengurus keluarga. Memastikan diri utk terproteksi selama bekerja menjadi hal utama bagi kami. Bagi ibu, sangat sulit berjauhan dg anak2. Belom lagi soal sekolah.
Makanya, diminta amat sangat, tolonglah turunkan angka transmisi covid-19. Pakai masker, jangan berkerumun, cuci tangan, tetap di rumah; adalah cara masyarakat utk melindungi nakesnya. Pemerintah buatlah regulasi yg melindungi kami, awasi dan tindaklah pelanggar protokol covid.
Dan janganlah buat pernyataan fasilitas kesehatan tak terbatas; karena inti pelayanan kesehatan itu bukan benda mati yang dibuat di pabrik. Bukan ruangan, tempat tidur, tiang infus, dsb; tapi kami para tenaga kesehatan dan non kesehatan yg bekerja di fasilitas kesehatan. Jgn GBLK

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with Amelia Martira

Amelia Martira Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

More from @irasjafii

22 Aug
Baru dapat share materi protokol pelayanan maternitas dan bayi di masa pandemi yang seharusnya udah dibuat dari lama.
Bbrp fakta yg ada di lapangan terkait ibu hamil.
1. Saat ibu hamil harus diperiksa rapid test antibodi pada trimester ke-3, nyatanya masih byk yg belum periksa.
2. Pada trimester ke 3, seharusnya sudah direncanakan pasien akan melahirkan dimana dan diedukasi utk mencegah risiko paparan covid, tapi ibu hamil banyak takut ke puskesmas krn takut.
3. Kebanyakan yg mampu memisahkan pasien covid dan non covid krn ketersediaan fasilitas adalah RS rujukan covid-19. Tapi stigma, membuat ibu hamil takut dirujuk ke sana. Hanya datang, kalau kondisi udah parah, dan ga ada tempat lain yg mau terima.
Read 12 tweets
8 Aug
Beberapa kondisi kenapa Depok menjadi zona merah.

1. Kasus kematian di Depok mendadak naik, krn umumnya datang kalau udah bergejala berat. Ada yg bertahan di rumah, padahal sudah sesak 3 hari.
Alasan: kalau ke RS, nanti sakit apapun dibilamg covid-19.
2. Ga mau diperiksa tes covid-19.
Alesan: RS cari untung, dapat dana banyak kalau merawat pasien covid-19.
Punya kisah pasien hamil dengan ketuban sedikit dan rapid antibodi reaktif. Saat mau direncanakan SC, dia menolak krn ga mau di-PCR. Pasien kabur mau melahirkan di paraji.
3. Disuruh pake masker dan protokol covid-19.
Alasan: memang masih ada covid-19? Merasa cuman denger2 aja ada penyakit covid, ga pernah liat sendiri. Itu hanya kerjaan media saja yang membesar-besarkan
Read 11 tweets
10 May
Melihat data genom sequencing Indonesia n kemungkinan sarscov2 sdh ada di Indonesia pada bln Jan membuat gw teringat anak gw yg sakit demam, rash, sakit kepala, nyeri otot dan batuk. Ya, anak gw sempat ODP n isolasi mandiri. Tapi ga pernah dites PCR. Masa itu belum ada kitnya.
Periode pertengahan Jan itu memang ada yg aneh di kelas anak gw. Semua anak sakit demam dan batuk yg cukup parah. Satupun ga ada yg lolos dari demam n batuk. Pd masa itu, awal thn pelajaran, byk anak2 yg baru liburan ke LN.
Anak gw sendiri mengalami demam di Jepang dan mulai batuk setelah kembali ke Indonesia. Dan gw sendiri ga pernah merasa sehat selama periode akhir januari- awal februari.
Awal bulan Februari juga gw mulai lihat banyak kasus pneumonia pada org usia muda.
Read 5 tweets

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!

Follow Us on Twitter!