~~^**Jejak Sunan Kalijaga**^~~

Menurut riwayat, Sunan Kalijaga mula-mula berguru kepada Sunan Bonang. Setelah itu, beliau berguru kepada Sunan Gunung Jati di Cirebon, dan memohon agar seluruh ilmu Sunan GUnung Jati diwejangkan kepadanya
Disebutkan dalam literatur Jawa, beliau berguru pula kepada para Wali yang lain sehingga meskipun beliau dikenal sebagai wali termuda tetapi merupakan murid yang paling pandai. Menurut pendapat ini, guru memiliki hanya sebatas kemampuan ilmu yang mereka miliki masing-masing,
sedangkan ilmu yang dimiliki sunan Kalijaga mencakup semua ilmu wali-wali itu.
Lebih dari itu sunan Kalijaga tidak cukup berguru kepada sesame Walisongo di tanah jawa saja, bahkan dikabarkan beliau berguru pula kepada Nabi Khidir a.s.,
sebagaimana dahulu Nabi Musa a.s. pernah berguru kepada Nabi penjaga laut itu. Apakah beliau berguru kepada Nabi Khidir melalui alam ghaib ataukah dalam kenyataan seperti yang disebut-sebut dalam babad-Diberitakan, Sunan Kalijaga berguru pula kepada Dara Petak di Palembang.
Lalu dilanjutkan dengan berguru kepada Syaikh Sutabris di Pulau Upih (Malaka). Menurut Dr.Hoesein Djajadiningrat, Syaikh Sutabris adalah sebutan ringkas dari Syamsudin Tabris yaitu Syamsudin Thabriztan penulis Diwan-i Syams i Tabriz Jawa, masih merupakan suatu teka2 yang besar
Dlam sjarah kbudayaan Prsia, nma tokoh ni amat trkenal n bertalian sangat erat dengan riwayat hidup Jalaludin Rumi (wafat tahun 1273 M) penyair sufi terkenal dari Persia. Syamsyudin Ath Tabrizi tlah meninggal akibat pembunuhan yg kejam oleh lawan mazhabnya pd thn 645 H/ 1274 M,
sedangkan masa hidup Sunan Kalijaga adalah beberapa abad sesudahnya. Dari sini dpt dinyatakan bahwa tak mungkin Sunan kalijaga brguru langsung kepada Syaikh in sbgaimna tak mungkin sebebnarnya berita2 di Jawa yang menyatakan bahwa Syaikh Sutabris dapat berpindah kdiaman ke Demak
setelah berdirinya Kerajaan Islam Demak dan kemudian wafat dan dikuburkan ke Demak. Adapun yg lebih mendekati kemungkinan ialah bahwa Sunan Kalijaga berguru kepada seorang mu’alim di Malaka yang menguliahkan pikiran-pikiran Syaikh Sutabris berdasar atas kitab peninggalannya it
Melalui pertautan mata rantai Sunan Kalijaga dengan Syaikh Sutabris di atas, maka dapatlah kita mereka-reka jalan pikiran, per sikap, dan peri hidup sunan Kalijaga yang kiranya tentu banyak dipengaruhi oleh jalan pikirandan sikap hidup gurunya.
Sbagaimana diketahui, Syaikh Sutabris dikenal sbg darwis pengembara, sufi yg tlah pai kpd derajat fakir, tiada mbutuhkan tempat kediaman tertentu, berpindah2 n berkeliling dri suatu tmpat ke tampat yg lain. Sdangkan khidupan Sunan Kaljaga memang ssuai dgn khidupan seorang darwis
Beliau selalu mengembara ke berbagai tempat. Sekali waktu Sunan Kalijaga diberitakan berada di Tegal menggerang barongan dan dijuluki Ki benguk yang mendalang dengan upahan kalimat Syahadat. Pada saat lain lagi diberitakan bahwa Sunan Kalijaga sudah berada di Pajajaran,
mendalang Pantun dengan berjuluk Ki Seda Brangti, dan pada kesempatan yang lain sudah berada di kawasan Majapahit terus ke Blambangan. Di wilayah bagian Jawa timur itu Sunan Kalijaga mendalang wayang kulit danmenyamarkan dirinya dengan nama Kuncara purba.
Sebentar kemudian lagi terdengar pula bahwa beliau sudah di bagian Jawa Tengah selatan yaitu di daerah Bagelen, Mataram, Bukit Jabalkat di tembayat untuk mendekati tokoh-tokoh tua di daerah itu agar masuk ke dalam islam. Mereka itu adalah antara lain Ki Cakrajaya.
Dalam Diwan-i Syams-i Tabriz, menurut penyelidikan Nicholson, terdapat bukti-bukti adanya jalan pikiran “ideal artistik” gaya Socrates. Jalan pikiran ini cenderung meremehkan pengetahuan dan aspek lahiriyah dan sangat mementingkan kebatinan sepertin nilai-nilai cinta.
Hanya saja tentang ini Nichholson menambahi dengan komentar:
“ but wild captures and arrogant defiance of every human law can ill atone for the lack of that sweet-reasonableness and moral grandeur which distinguish the sage from devotee.”
Orientalis itu menyayangkan bahwa gairah yg berkobar dan sikap acuh tak acuh brtentagn dgn hukum alami tabiat manusia dipandang dapt meringankan penderitaan seseorang akibat diri kekurangan ma’quli (penalaran) yang manis dan keangungan budi yang bisa membedakan antara yang ‘arif
(pengetahuan yang bijaksana) dan muthi (patuh). Dlm kaitan inikalau kita prhatikan, pngaruh Sunan Kalijaga sngat bsar trhadap masyarakat JaTeng, sdang jalan pikiran masyarakat Jawa Tengah yang kita saksikan skarang dikuasai oleh ukuran-ukuran rasa (Jawa : rasa, raos, rumangsa)
yang emosional-artistik. Hal ini lebih diperkuat dengan dengan adanya kemungkinan pengaruh cara berpikir Sunan Kalijaga dengan Socrateisme yang ideal-artstik dari diwan-i Syams-i Thabriz. Gaya ini kemudian diwariskan pada masyarakat Jawa Tengah yg memang sangat mencintai beliau
Dalam menyampaikan gagasannya Syaikh Tabriz banyak memakai cara pengajaran dan penyajian buah pikiran melalui syair denga lagu gazal. Mungkinkah Sunan Kalijaga yang banyak menciptakan kidung, suluk atau nyanyian keramat dan liturgis yang banyak tersebar
di kalangan rakyat seperti Kidung Rumeksa ing Wengi juga menjadi bukti akan besarnya pengaruh cara-cara sang guru Syaikh Sutabris terhadap beliau?
Syaikh Tabriz banyak mempengaruhi dan membentuk cara berpikir Jalaludin Rumi, karena Syaikh Tabriz memang guru teologi dan mistik
sekaligus kawan sang penyair. Selain oleh Tabriz, ternyata jiwa dan kepribadian Jalaludin Rumi terbentuk dan terpengaruh oleh Fariduddin Attar yang telah menghadiahkan kitab karangan Asrar Nama (Kitab Rahasia) kepada Rumi pada waktu beliau masih berusia 3 tahun
Kalau kita bandingkan dua orang sufi penyair, Attar dengan rumi, ternyata keduanya sama-sama memiliki kekayaan imajinasi dan lancar berkomunikasi. Dengan karunia itu mereka mengutarakan buah pikiran melalui syair-syair berbentuk gazal, masnawi,
baharramal samapi tercipta cerita penuh ibarat. Semuanya bersumber dari lubuk hati, yg dipenuhi rasa cinta, rindu dendam, n asyik akan Tuhan. Misalnya sja syair-syair hikayat Manthiq Al-Thayr (Percakapan Burung-burung) dari Atthar atau syair usaha makhluk untuk bersatu dgn Tuhan
yang berakhir dan mencapai klimaksnya pada wihdatul wujud. Di pihak lain, hasil karya Sunan Kalijaga yg berbentuk kidung dan suluk juga berisi kisah, cerita, tamsil serta ibarat. Diantaranya yang masyahur adalah cerita wayang Dewa Ruci yang di dalamnya berkisah tentang Aria Sena
atau Bima mencari Jejering Pangeran (Hadhirat, atau letak kedudukan Tuhan) yang berakhir dan mencapai klimaks usahanya lebur merasuk ke dalam telinga Dewa Ruci.
Dalam syair-syair wejangan Sunan Tembayat kepada Syaikh Domba yang selalu mengirinya ketika mencari Sunan Kalijaga
kita bisa mengetahui ajaran-ajaran Sunan Kalijaga yang diwejangkan kepada Sunan Tembayat, melalui langgam Dandanggula berikut ini:
“utamanae manungsa linuwih I jroning urip anglakoni pejah I den panggih rupa rasane I upama ngilo iku I wewayangan sejroning cermin I kembar rupa
lan rasane I lan ngilo iku I kang aneng sajroning kaca I ia sira jenenge kawula jati I kang ngilo Sukma purba”II
Syair-syair Matsnawi Rumi, dengan ‘Asyiq-nya.
“Karamkanlah aku di dalam rindu/mencari Dia, mendekati Dia/Dan telah tenggelam pula/nenekku dulu;
Dan yang kemudian/mengikut pula/kalau kukatakan bibirnya/Itulah ibarat dari bibir pantai lautan/yang luas tak tentu tepinya/Dan jika kukatakan la/ tujuku ialah illa.”//
Kidung Hamzah Fansuri:
“wujud Alloh nama perahunya/iman Alloh nama kemudinya/yakin akan Alloh
adalah nama pawangnya/taharat dan istinja’ nama lantainya/kufur dan ma’siyat air ruangnya/tawakkal akan Alloh juru batunya/tauhid itu akan sauhnya/illa akan talinya/Kamal Alloh adalah tiangnya.”//
Selain itu, sesuatu yang mungkin berasal dari pancaran pribadi
dan pengaruh Syamsudin ath-Thabrizi pada diri Sunan Kalijaga ialah keuletan wali ini, kegigihan dan keikhlasannya dalam hidup dan perjuangan untuk mengembangkan agama dan paham beliau. Semua sifat ini memang terdapat dalam diri Syamsu Tabriz, n pantulannya memancar dari pribadi
Jalaludin Rumi dgn pendirian bhw hidup tak boleh mnyerah klah bgitu sja. Seruak segala gatal, rambah sgala onak dan duri, hadapi prjuangan hidup n bekerja trus, brjuang terus. Manusia dberi kebebasan dbumi, dkirim kmari buat berjuang, buat brtumpah keringat, mncari jalan pulang!

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with Mawar___ Biru

Mawar___ Biru Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

More from @AnikXelfi

14 Sep
PRINSIP HIDUP JAMAN FEODAL MAMPUKAH BERSAING DI ERA GLOBALISASI

Disini belajar membuat utas tentang kehidupan masa yang lalu dengan masa kini
semoga berkenan

Bangsa ini sebenarnya adalah Sriwijaya yang perkasa menguasai Nusantara.
Juga sebenarnya adalah Majapahit yang digjaya dan adikuasa. Lebih dari itu bangsa ini, sebenarnya, dan ini tidak mungkin disangkal. Banyak Negara luar yang telah mengakuinya akan kemasyuran bangsa kita ini. Namun sayang dimasa ini telah berubah dengan berjalannya waktu.
Karena budaya dan kehidupan bangsa yang selalu konstan dengan prinsip hidup mereka.
Betapa banyak masyarakat yang menjalani hidup apa adanya, biasabiasa saja, ala kadarnya. Hidup dalam keadaan terbelenggu oleh siapa dirinya sebenarnya.
Read 25 tweets

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!

Follow Us on Twitter!