Apa TUJUAN perkawinan menurut ajaran Katolik? Berdasarkan kanon 1055, ada 3 (tiga) tujuan perkawinan Katolik, yaitu: kebaikan suami-istri, kelahiran anak dan pendidikan anak. Mari kita ulas satu per satu dalam UTAS berikut.
1. Gereja memandang sangat penting bagi orang Katolik memahami dan menghidupi ketiga tujuan perkawinan ini.
2 Maka, ketika org Katolik melangsungkan perkawinan beda agama (Katolik dengan non-baptis) atau beda Gereja (Katolik dengan Protestan), kesediaan mau mengenal & memahami tujuan perkawinan mrp salah satu syarat yg hrs dipenuhi sebelum melangsungkan perkawinan (Kan. 1125, no.3).
3. Berdasarkan kanon 1055, ada 3 (tiga) tujuan perkawinan Katolik (bdk. Gaudium est Spes (GS), no. 48 dan Familiaris Consortio (FC), no. 78), sebagai berikut:
4. Pertama, kebaikan suami-istri (bonum coniugum). Perlu dijelaskan bahwa “bonum” berarti “kebaikan”. Maka, tujuan perkawinan bonum coniugum ini jangan dipersempit hanya “kebahagiaan suami-istri”.
5. Dalam Kitab Kejadian 2: 18, Tuhan bersabda: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia”. Di sini, Allah menciptakan laki-laki dan perempuan untuk kebaikan.
6. Suami-istri mesti berjuang untuk mengusahakan kebaikan satu dengan yang lain [bdk. Y. Driyanto, Tujuan, Identitas dan Misi Perkawinan Katolik (Jakarta: Obor, 2018), hlm. 22].
7. Dalam kebaikan, tidak selalu yang dialami adalah kenyamanan, kesejahteraan, dan kebahagiaan, tetapi juga terutama kesetiaan dan perjuangan membangun bahtera keluarga.
8. Itu sebabnya dalam perayaan perkawinan, pasutri mesti saling memberi dan menerima janji perkawinan dengan rumusan:
9. Saya memilih engkau menjadi istri/suamiku. Saya berjanji untuk setia mencintai & mengabdikan diri kepadamu, dalam untung dan malang, di waktu sehat dan sakit.. Saya mau mengasihi dan menghormati engkau sepanjang hidup saya. Demikian janji saya demi Allah dan Injil Suci ini”.
10. Bisa dikatakan pula bahwa pasutri mengalami “kebaikan” dalam ikatan perkawinan jika keduanya berjuang memenuhi kesejahteraan lahir dan batin. Kesejahteraan lahir berkaitan dengan kebutuhan pangan (makanan), sandang (pakaian), papan (tempat tinggal).
11. Sedangkan kesejahteraan batin menyangkut kesediaan saling membagikan pengalaman rohani, keharmonisan pasutri dan hubungan seksual normal dan wajar.
12. Maka, KDRT yang menyangkut kekerasan fisik, verbal, hubungan seksual yg tidak wajar/kekerasan seksual sangat bertentangan dengan tujuan perkawinan "bonum coniugum" (kebaikan suami-istri).
13. Kedua, keterbukaan pada kelahiran anak (bonum prolis). Setelah kisah penciptaan, Allah tidak lagi membentuk manusia dari tanah (Kej 2: 7).
14. Dalam Gaudium et Spes, no 50, Gereja mengajarkan bahwa “Allah bermaksud mengizinkan manusia, untuk secara khusus ikut serta dalam karya penciptaan-Nya sendiri, dan memberkati pria maupun wanita sambil berfirman: Beranak-cucu dan bertambah banyaklah (Kej 1:28)”.
15. Dengan kata lain, melalui ikatan perkawinan itu, Tuhan Allah bekerjasama dengan pasutri untuk kelahiran manusia baru; Tuhan menjadikan pasutri sebagai co-creator-Nya (rekan kerja Tuhan).
16. Anak merupakan anugerah dari Tuhan. Maka, umat Katolik yang menolak atau mengecualikan kelahiran anak yang merupakan unsur hakiki perkawinan membuat perkawinan yang dilangsungkan tidak sah (bdk. kanon 1101§2).
17. Dalam pemeriksaan kanonik, biasanya Pastor akan meminta kesediaan calon pasutri untuk tidak melakukan dan terlibat dalam tindakan aborsi. Sebab aborsi merupakan tindakan penolakan terhadap kelahiran anak; dan bahkan termasuk dalam dosa besar.
18. Gerakan childfree bertentangan dengan tujuan perkawinan ini. Sebab, childfree berarti menolak punya anak dan bahkan menolak menjadi orangtua.
19. Ketiga, pendidikan anak (bonum educationis) secara Katolik. Anak-anak yang lahir dari persatuan suami-istri ini diarahkan untuk menjadi bagian dari Tubuh Kristus (Gereja) dan berpartisipasi dalam kehidupan ilahi sama seperti orang tua mereka.
20. Oleh karena itu, orang tua memiliki tanggung jawab untuk membawa anak-anak yang lahir ke hadapan Yesus melalui baptisan bayi dan pendidikan secara Katolik.
21. Gereja menegaskan bahwa pendidik yang pertama dan utama adalah orangtua (GE, no. 3; 226 §2). Pendidikan Katolik tidak hanya diterima oleh anak-anak dari sang Ayah, tetapi juga dari sang Ibu. Baptis bayi termasuk tanggung jawab orgtua dlm pendidikan katolik!
22. Dalam masa pertumbuhan, anak-anak akan meniru contoh beriman yang mereka alami dan lihat dalam keluarga, dari Ayah dan Ibu mereka. Anda bisa bayangkan, kira-kira apa yang akan terjadi dalam diri anak berkaitan dengan imannya jika orangtuanya memiliki dua agama yang berbeda?
23. Ketiga tujuan perkawinan iini merupakan anugerah dari persekutuan pasutri yang mereka terima dari Tuhan Allah.
24. Tujuan “kebaikan suami-istri” tidak hanya diarahkan untuk suami-istri itu sendiri, tetapi juga terhadap tanggung jawab mereka untuk terbuka pada kelahiran anak, kemudian membaptis dan mendidik anak-anak secara Katolik.
Seruan Pertobatan Ekologis dan Keadilan Sosial dari Beberapa Uskup Indonesia Diberitakan Vatican News
1. Di awal berita Vatican News tersebut menegaskan bahwa beberapa Uskup Indonesia merilis Surat Gembala Prapaskah 2025 dan mengajak umat beriman menyambut seruan Paus Fransiskus untuk melakukan pertobatan ekologis dan keadilan bagi kaum miskin.
2. Berita tersebut berjudul: “Indonesian bishops urge ecological conversion and social justice in Lenten message” (Para uskup Indonesia mendorong pertobatan ekologis dan keadilan sosial dalam pesan Prapaskah). vaticannews.va/en/church/news…
Paus Fransiskus akan keluar dari rumah sakit pada hari Minggu, 23 Maret 2025
1. Paus Fransiskus akan keluar dari Rumah Sakit Agostino Gemelli, Roma pada hari Minggu (23/3/2025) dan akan kembali ke kediamannya di Vatikan untuk melanjutkan masa pemulihannya.
2. Berbicara kepada para wartawan pada Sabtu malam (22/3/2025), Dokter Sergio Alfieri, Kepala Tim Medis Rumah Sakit Gemelli yang telah merawat Paus untuk infeksi saluran pernapasan akut dan pneumonia bilateral, mengatakan, “Kabar baik yang ditunggu-tunggu oleh dunia
Ada yang tanya: Romo, bagaimana peran umat Katolik dan Gereja Katolik dalam dunia politik? Ada yang mengatakan: jangan pakai identitas Katolik jika berkomentar tentang politik. Apakah benar demikian?
Jawabannya temukan dalam UTAS berikut.
1.Pertanyaan terakhir tidak benar. Perlu diluruskan. Jawabannya ada dalam Katekismus Gereja Katolik, Hukum Gereja dan juga dalam dokumen-dokumen Gereja.
2. Jika kita terlibat dalam politik, jangan sampai kita MENGHILANGKAN identitas kekatolikan kita. Justru karena kita “orang Katolik” maka kita memberikan kesaksian hidup sebagai umat Katolik yg terlibat dlm politik utk membela kebenaran, mempromosikan kebaikan bersama dan HAM.
1. Pada 18 Desember 2023, Dikasteri untuk Doktrin Iman (DDI) mengeluarkan Deklarasi “Fiducia Supplicans”. Deklarasi yang berisi 45 nomor ini telah disetujui oleh Paus Fransiskus. Dokumen ini membahas mengenai MAKNA PASTORAL dari pemberkatan.
2. Sebagai umat Katolik, kita perlu membaca isi utuh dari dokumen itu. Dengan demikian, kita bisa menyaring berbagai berita: mana yang benar, mana yang hoax dan mana tafsiran serta framing berita. Berikut poin-poin penting dari dokumen tersebut:
1.Setelah serangan bom saat berlangsung Misa Katolik di Filipina selatan yang menewaskan empat orang dan melukai lebih dari empat puluh orang, Paus Fransiskus mengatakan dia “dekat dengan keluarga, dengan umat” di wilayah tersebut.
2.Setelah mendaraskan doa Angelus mingguannya (3/12/2023), Paus Fransiskus berdoa bagi para korban serangan bom pada Misa Katolik di Filipina.
1. Childfree adalah keputusan SADAR untuk tidak mau memiliki anak. Jadi, childfree bukan TIDAK PUNYA ANAK, yang disebabkan oleh STERILITAS atau mandul. Bagaimana kita menanggapi CHILDFREE ini?
2. Sebelum membahasnya lebih jauh, saya menegaskan bahwa ajaran Gereja Katolik tidak semata-mata sebagai PENGETAHUAN, tetapi terutama sebagai KEYAKINAN yang perlu DIIMANI, DITERIMA, DIINTERNALISASI, dan DIWUJUDKAN dengan kerendahan hati.