THE JOKOWI SUPREMACY
.
.
.
.

Soto bang! Nasinya dipisah."

"Saya dicampur."

Kami berdua makan soto yang sama dengan cara berbeda.

🖌️Jeffrey G. Batchelor. @Andita_4
Bukan tentang lebih enak yang dicampur atau dipisah, ini tentang hidangan sederhana dengan citarasa sederhana pula. Di situ ada sensasi keaslian rasa nasi yg belum dimasuki unsur asin, manis, asam dan pedasnya kuah ayam sehingga rasa masing-masing terjaga.
Sementara mereka yang lebih senang nasi langsung dicampur, sangat mungkin rasa bumbu dalam kuah yang sudah meresap dalam nasi, jauh lebih nikmat.

Baik campur maupun pisah, keduanya masih dengan sangat mudah membedakan mana rasa kuah dan mana nasi.
Berbeda dengan gado-gado. Bukan tentang lontong dan nasi akan kita pilih namun, pencampuran antara ragam sayuran berikut tempe, tahu hingga kentang diaduk dengan bumbu kacang dimana esensi nikmatnya justru karena diaduk aduknya semua komponen itu menjadi satu.
Melihat demo 8 oktober yang lalu dengan kacamata makan gado-gado membuat kita tak bijak. Rasa was-was dan takut akan terjadi kerusuhan masal membuat kita marah dan kemudian menuduh. Semua rasa teraduk dalam satu rasa, marah.
Siapapun pelaku demo yang berujung rusuh itu adalah musuh yang harus kita lawan, apalagi bakar-bakaran terbukti menjadi pola terstruktur yang tak lagi dapat disangkal.
Banyakkah diantara kita yg mengerti bahwa demo saat itu berlangsung serentak di lebih 50 Kota & Kabupaten diseluruh Indonesia?

Adakah yg paham bahwa kekuatan pembenci pemerintah yg selama lebih dari 5 tahun Jokowi memerintah hanya jagoan di Jakarta & sedikit kota besar yg lain?
.
.
.
Demo 8 Oktober serentak di seluruh Indonesia hanya mampu digerakkan oleh kesadaran kolektif atas rasa senasib dan sepenanggungan.
Dan saat ini, pada situasi Indonesia terkini, itu hanya mungkin dilakukan oleh kerjasama buruh dan mahasiswa. Bukan golongan demo bayaran yang sering kita lihat dengan tema agama.
.
.
.

🖌️Jupilingdotcom
Mereka melakukan demo atas panggilan jiwa mudanya. Mereka kaum kritis dan peduli terhadap keadilan. Mereka bukan bayaran dan bergerak atas panggilan nurani. Mereka mencoba menempatkan diri mereka menjadi garda terdepan ketika negara dianggap lupa.
Ingat PRD di jaman Soeharto? Tak terlalu jauh apalagi berlebihan membandingkan gerakan mahasiswa 8 Oktober lalu dengan PRD pada jaman Budiman Sujatmiko. Ini tentang anak-anak muda kritis dan jiwa mudanya terpanggil. Fraksi Rakyat Indonesia (FRI) konon mereka menamakan dirinya.
Sama dengan PRD, FRI adalah tentang gerakan pemuda dan mahasiswa yang terpanggil untuk turun dan melawan ketimpangan serta ketidak adilan yang dipandang mereka telah negara lakukan.

"PRD? PKI dong mereka?"

Jokowi bukan orde baru.
Jokowi bukan Soeharto yang senang menggilas kebebasan berpendapat dengan memberi label organisasi terlarang demi sah tindakan represif yang akan negara lakukan. Jokowi tak sedikitpun melabel PKI ataupun HTI pada gerakan itu demi tindakan keras yang akan menjadi alasannya.
"Apa sih yang mereka lawan? Trus kenapa Budiman dan Adian ga bersuara? Bukannya mereka sangat memahami gerakan seperti ini?"
Budiman maupun Adian tak harus bercerita dari sisi mereka sebagai ayah kepada anak-anaknya ketika mereka harus bekerja mencari nafkah dan terus mengawasi anak-anaknya agar tak salah jalan di kemudian hari. Anak-anaknya tak akan paham hingga tiba saatnya mereka menjadi orang tua.
.
.
.
Demikian pula usaha memberi arahan apalagi menasehati mahasiswa yang sedang tumbuh kembang adalah kesia-siaan. Nakal, berontak hingga mencoba menempatkan diri pada posisi yang dianggapnya benar, adalah proses alamiah yang harus mereka lewati demi kedewasaan dan
kepekaan mereka saat dewasa nanti.

Melarang mereka dan apalagi dengan nasehat, jelas bukan cara terbaik. Melihat dan terus mengawasi agar mereka tak salah jalan menjadi anarkis contohnya, jauh lebih berguna.
Pada saatnya, ketika sisi pandang mereka semakin tinggi, mereka akan melihat apa yang hari ini tak mereka lihat namun Budiman dan Adian sudah lihat. Biarkan saja berjalan secara alamiah.
.
.
.
Apa yang mereka protes adalah tentang ketidak adilan negara. Omnibus law dianggap bentuk khianat negara pada rakyatnya. Untuk itulah mereka bersuara dan berteriak. Untuk itulah mereka akhirnya turun.
"Iya, kenapa mereka protes? Mereka terpelajar&tahu aturan bahwa saat ini sedang ada aturan ketat soal berkerumun bukan?"

Apakah salah mereka juga berdalih bhw saat anak sekolah dirumahkan, saat berkumpul dilarang, kenapa DPR bergerombol dlm satu ruangan demi membahas UU ini?
Apakah salah mereka curiga negara memiliki agenda tersembunyi? Apakah salah mereka protes kenapa sosialisasi negara sangat minim atas UU?

Satu hal yang pasti, mereka trauma atas Orba. Mereka tak ingin pemerintah terlalu kuat dan terjerumus menjadi pemerintahan yang otoriter.
Omnibus law mendukung hal tersebut.

"Tapi, kenapa mereka rusuh? Mau sangkal bahwa akibat demo itu terjadi pembakaran sarana umum dan bahkan harta benda rakyat juga turut musnah?"
Itulah keniscayaan dalam demo masal melibatkan ribuan orang. Selalu ada pihak menunggangi dan bahkan kadang yang ditunggangpun tak berasa apalagi mengerti.

Dan ini pula tentang apa yang tak mungkin Budiman ceritakan kepada mereka.

📷Herri Susanto
Dari tempat Budiman berdiri, faktor geopolitik terlihat dengan jelas dan namun, tak dapat dia buktikan apalagi membawa tersangka yang diborgol dan dihadirkan ditengah mereka.
Pada posisi Budiman, dia mencium dengan sangat jelas ada bau penunggangan atas faktor geopolitik namun mungkinkah dia dapat bercerita tentang bau?

Ini tentang geopolitik dimana Indonesia adalah target, Indonesia yang semakin maju dan kaya adalah ancaman banyak negara.
Tak ada yang suka tetangga lebih kaya, apalagi akan menjadi lebih berpengaruh.

Tak akan pernah ada tersangka dapat ditangkap apalagi dibuktikan ada. Tak ada bayangan pernah ditangkap. Ada kebenaran dalam film mission imposible meski hanya sebuah film.
Disangkal keberadaannya bila tertangkap. Aromanya jelas, masakannya tak pernah ada.

Namun satu hal yang pasti, Jokowi tak merespon demo 8 Oktober itu dengan kewaspadaan tingkat tinggi. Jokowi justru melakukan kunjungan kerja ke Kalimantan Tengah.
Presiden memonitor demo itu dengan sikap tenang. Tak ada pengamanan berlebihan, hanya cukup mengerahkan polisi menjaga agar tak terjadi tindakan berlebihan.

Jokowi melihat ini hanya sebagai kenakalan anak-anak dan tak perlu harus dilawan dengan keras.
Berbeda dengan demo 13 Oktober. Jokowi menunggu di istana. Tongkat komando, meski tidak pernah ditunjukkan dengan vulgar, dia pegang langsung.
"Lebay tuh Presidenmu!! Kurang banyak apa pasukan di Jakarta? Masa kudu datangin dari luar daerah? Bikin orang jadi makin takut aja. Itu namanya berlebihan tahu??"
Menhindari idiom "masak jeruk makan jeruk" yang tentu saja tak baik dan bernada menuduh, apel Washington seharusnya tidak boleh makan apel Malang, keduanya sama-sama apel bukan?
Dan ingat, ini bukan wilayah keluarga apel saja, ini juga tentang salak Bali makan salak Pondoh, keduanya tak mungkin saling makan. Tak baik dan tak etis saling memakan.

Ini tentang komandan netral yang tak pernah terkait dan apalagi saling kenal satu dengan yang lain.
Kecanggungan semacam ini yang ingin coba dihindari Panglima agar efektifitas kerja pasukan lebih terjaga.

"Ohh..,pantesan langsung bubar yak? Tapi posisi Presiden berarti masih belum terlalu kuat dong?"

📷Software chess
Khusus demo 13 Oktober 2020, narasi menurunkan Presiden jelas tindakan makar. Sangsi hukuman sangat berat dapat diberikan kepada siapapun yang terlibat di dalamnya.
Siapa aktor, siapa dalang, katanya sudah diketahui. Apakah hanya untuk diketahui dan akan tetap disimpan dalam kantong, ini bak pisau bermata dua. Diam saja pemerintah berarti lemah, bertindak tegas akan menuai perlawanan.
Seberapa kuat pemerintahan Jokowi, sepertinya tercermin pada keharusan mendatangkan pasukan dari luar Jakarta dapat kita tebak.

"Berarti, akan sama seperti cerita yang lalu-lalu dong, bakar-bakar sudah dilakukan, yang dihukum hanya mereka yang kecil, rakyat kecil lagi?"
.
.
.
Dua bahkan tiga atau lebih kelompok dengan maksud berbeda masih akan terus melalukan demo. Murni alasan tak sepakat omnibus law hingga ingin mengantikan Presiden dengan cara tak konstitusional karena satu dan lain hal tak mungkin dapat turut bersaing pada 2024

📷Miquel
adalah apa yang akan mereka lakukan.
.
.
.

Menggeneralisasi semua pendemo sebagai pelaku tindakan inkonstitusional jelas bukan tindakan bijak.

Mengedepankan tindakan persuasif pada mahasiswa seharusnya dilakukan. Disana anak-anak muda ini ingin kebenaran didiskusikan.
Menangkap dan menghukum mereka demi alasan "harus" padahal disisi lain karena tangan pemerintah tak mampu dan takut menjangkau mereka yang memiliki power, harus dicegah.

📷Sanjay Sharma
Bukan mahasiswa musuh pemerintah hari ini, mereka yang kenyang dan tamak di masa lalu dan yang kini membiayai kerusuhan adalah yang harus negara lawan.

"Serius berani?"

Bila ukurannya adalah gebuk secara fisik ingin kita saksikan, hanya kekecewaan kita dapat.
Terpojok, hingga tak ada jalan keluar & kemudian bernyanyi dengan nada sumbang hingga mulai berhalusinasi, sepertinya sudah mulai tampak. Mulai muncul dalam sikap memalukan.

Hari ini sudah muncul satu. Besok akan muncul lagi dengan ciri yang mungkin berbeda.

📷Fernando Cortez
Ngamuk gak ada sebab dan kemudian mulai omong sendiri dan menjadi gila, bukan hal mustahil.

Bukankah ada lagi satu orang yang tiba-tiba berkelakuan aneh dan berbalik 180 derajad? Entahlah bila itu disebut delusi.
Ya, sepertinya membakar lumbung hingga tikus-tikus mati terbakar sesaat membuat kita puas, namun bukan seperti itu Jokowi akan.

Jokowi lebih mirip Jason Bourne daripada Rambo. Tapi kita berharap dia menjadi Rambo.
.
.
.
@Andita_4
Koreksi : Budiman Sudjatmiko
Koreksi : Impossible

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with NitNot ❘

NitNot ❘ Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

More from @__MV_llestari__

17 Oct
PENGEN MAKMUR ....?
.
.
.
Ikut Yang Waras Dong
.
.
.

Dua puluh tahun yang lalu, orang tua kami meninggalkan deposito sebesar 20 miliar untuk kami anak-anaknya yang berjumlah 9 orang. Dengan bunga 6% per tahun, masing-masing dari kami mendapatkan Rp. 10 juta setiap bulannya. Image
.
.
.
Setahun lebih kami menikmati hasil itu, sampai suatu hari om, pak de, keponakan hingga tetangga menawarkan diri mengelola uang tersebut dengan janji hasil 10% per tahun, 4% lebih besar dibanding bunga bank. Image
Kami sepakat dan apalagi sebagian dari kami diangkat menjadi komisaris perusahaan tersebut.
.
.
. Image
Read 18 tweets
15 Oct
SIAPA DI BALIK RUSUH UU CIPTAKER?

.
.
.

Sangat sedikit, bahkan hanya satu persen orang saja di Indonesia adalah penguasa 50 persen aset nasional.

@Andita_4
Mari kita naikkan menjadi 10 persen. Hmm ternyata 10 persen dari seluruh jumlah penduduk Indonesia tercatat menguasai 70 persen dari milik negara ini.

Artinya 90 persen penduduk lainnya hanya sedang berebut 30 persen yang tersisa. Miris? Dan itu terjadi di negeri Pancasila.
Dari kelompok mereka pulalah penguasaan atas sebagian besar tanah di Indonesia yang berkeadilan sosial ini berasal.

Mereka sudah berkuasa sejak Orde baru dan tak sedikitpun berkurang pada jaman SBY memerintah selama 10 tahun.
Read 20 tweets
14 Oct
T I D A K

.
.
.

.....JOKOWI TAK HARUS SEPERTI ANDA

.
.
.

Ya, benar..,pak Jokowi suatu saat benar akan kembali ke masyarakat. Dia akan balik ke Solo dan berkumpul kembali dengan orang-orang biasa. Dia tahu dari mana berasal dan tahu kemana harus pulang.

@Andita_4
Dia tahu kapan harus berhenti. Dia juga tahu kapan saat tepat menutup mulut.

Benar pak, pak Jokowi pasti akan kembali ke masyarakat dan menjadi bagian masyarakat biasa, bukan merasa masih menjadi bagian elit sebuah masyarakat, apalagi sesepuh yang rindu didengar nasehatnya.
Namun berbicara apa legacy nya, hmm... beliau akan selalu menjadi ingatan bangga akan salah satu Presiden terbesar yang pernah bangsa ini miliki hingga ratusan tahun ke depan.
Read 6 tweets
13 Oct
S E K A R A N G !!

.
.

Kalau tidak, kapan lagi....?

.
.
.
14.44

September, PKI jadi celah mereka omong. Berbusa dan ludah muncrat-muncrat menghias ekspresi tamak muka penuh dengki dan narasi kebencian terdengar keluar berebut dengan suara ludah menjijikkan.

@Andita_4 Image
Pemerintahan dianggap zolim dan berpihak pada komunis.

Seperti siang lelaki malam berubah sexy, 180 derajat Kapitalis sebagai antitesa komunis tiba-tiba disematkan pada pemerintah. Omnibus law adalah baju kapitalis yang dengan cara pandang juling mereka coba sematkan. Image
Bangga telah mampu membakar banyak kota, isu pemerintah memusuhi ulama menjadi baju lain untuk sekali lagi disematkan. Sekali lagi, usaha mereka membakar semangat para militannya tampaknya berhasil.

🎨 @AnakKolong_ Image
Read 28 tweets
12 Oct
HARUSKAH PRESIDEN KIBARKAN BENDERA PUTIH?

.
.
.

Menurut info yang berkembang, demo lebih besar dengan melibatkan partisipasi masyarakat yang lebih luas akan digelar mulai Selasa 13 Oktober 2020.

@Andita_4
"Adakah hal salah sudah dibuat oleh negara sehingga mereka kembali beraksi?"

Bila ukurannya adalah cara penanganan demo rusuh beberapa saat yang lalu, tak terlalu berlebihan.
📽️@ditsamaptapmj
Pemerintah yang tak punya tersangka atas bakar-bakar kemarin telah melahirkan gerakan baru yang lebih besar.

Read 30 tweets
12 Oct
KALAU BISA RUMIT
.
.
.
Kenapa harus dipermudah?
.
.
.
Seri : Omnibus Law

.
.

Bila anda adalah teknisi, apa yang terlintas dalam benak anda ketika melihat kabel dalam keadaan sangat kacau seperti dalam ilustrasi gambar dibawah?
Anda pusing? Stres dan kemudian dalam pikiran anda ada usaha untuk mencoba membuat kabel-kabel itu disusun ulang atau paling tidak dibuat lebih rapi?

Bila ya, selamat! Anda benar seorang teknisi. Anda berpikir dengan cara yang seharusnya seorang teknisi.

📷SaatchiArt
Namun bagaimana bila anda adalah orang yang sebaliknya? Anda justru senang dan bahkan berusaha untuk mempertahankan kondisi seperti itu terus terjadi.

Sesaat, pikiran sehat kita mengatakan, "ga mungkin ada orang seperti itu".

📷DesignStack
Read 18 tweets

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!

Follow Us on Twitter!