With Much Love Profile picture
Feb 3, 2021 617 tweets >60 min read Read on X
Dia menggunakan mesin perambah lain. Dia buka browser microsoft bing, dan menuliskan kata kunci "Nonton deflower" Ternyata browser ini lebih manjur. Banyak sekali tersedia film pemecah keperawanan dengan actor yang sangat terkenal dan ratusan gadis yang perawannya dia pecahkan.
salah satunya adalah http://164.68.111.161/watch/17107943.html
ada puluhan film berdurasi pendek yang tersedia.
Kami segera memilih salah satu film dan melihat bagaimana aktor rusia itu dgn terampil dan tenang menusukkan belalainya kedalam vagina perawan.
Vira dan aku tercekat
dan terpaku dengan setiap detik film itu. Tangan Vira mencari tanganku dan melingkarkannya ketubuhnya.
"Periksa dulu ...pintu sudah dikunci apa belum?" katanya
Aku berdiri dengan cekatan mmeriksa selot kunci pintu ternyata belum diselot. Aku menyelot perlahan supaya tidak berisik
Vira berdiri dan melepas kembali daster kaos yang dipakainya. Aku mematikan lampu dan tangan Vira langsung meraihku untuk membawaku ke kasur.
"Aku tadi mungkin terlalu tegang, makanya sulit tertembus"
bisiknya dengan nafas spt mendengus.
Tangannya membantuku melepas celana yang
aku pakai. Tangannya meraih belalaiku saat celana melorot ke lantai.
"Aku suka kalau keras begini!" katanya lagi
Aku menariknya ke kasur dan membaringkan tubuhnya. Tanganku merayap turun dan menyentuh selangkangannya. Vaginanya tlh berlumuran cairan, dia menarikku keatas badannya
"Nanti langsung tusukkan saja seperti difilm tadi, aku akan coba relax." katanya berbisik
Aku menciumi leher Vira dan menjilati kulitnya yang sensitif. Erangan dan desisan terdengar lirih keluar dari mulut manisnya "Ooohhh mass.....cuping telinganya aku jilati perlahan, pandangan
matanya sayu penuh nafsu. Pancaran sangenya muncul perlahan dan auranya penuh birahi. Tangannya dia turunkan untuk menuntun belalaiku ke lobang nikmatnya.
Dengan mengangkat sedikit pantatku dia leluasa memegangnya. "Situ......!" bisiknya perlahan
Aku paham yang dia maksud dan
mnekan perlahan batangku maju. Vira mnahan nafasnya saat belalaiku menusuk masuk.
"Ohh mass..." matanya trpejam, tangannya mencengkeram lenganku erat. "Tahan dulu...jgn gerak!" katanya
Batang belalaiku terasa kaku, aku kembali menekan turun pantatku perlahan & menariknya mundur.
Paha Vira terbentang sementara aku menindihnya
"Ooohh massss......Memekku rasanya full sekali. Tekan lagi perlahan.......!" katanya lirih
Aku menekan keras dan menghujamkan belalaiku sambil menurunkan badanku, mulutku membungkam mulutnya supaya tidak berteriak. Akhirnya belalaiku
menembus tirai perawannya, tangannya mencengkeram tubuhku dengan erat. "Jangan goyang....periiih...!" katanya. Tangannya terus menekan aku dgn erat. Jari2xnya mencakar kulit punggungku.
"Awas kukumu membuat bekas luka!" kataku memperingatkan.
"Tetasan air mata meleleh dipipinya"
Tirai perawan itu tlh trkoyak. Belalaiku trbenam dlm lobang perawan sepupuku, mnancap dlm raungan pelan.
Rasa perih yg dirasakn sirna saat goyangan pelan mnghantarkan knikmatan yg sdikit trtunda. Pncarian knikmatan yg sensasinya mnghantui tubuh remajanya tuntas malam itu, ketemu.
M E N I K M A T I B I N O R [BINI ORANG]

Dalam lelapku setelah menikmati vagina perawan, tubuhku lemah dan nafas teraturku membawaku ke gerbong tidur menuju stasiun pagi. Entah jam berapa aku tak mengingatnya, yang jelas malam telah larut saat mataku terpejam oleh rasa puas,
rasa kenyang & rasa kenikmatan ragawi. Tubuhku telanjang, noda darah perawan masih berbekas diujung belalaiku. Subuh telah tiba, terdengar suara panggilan adzan subuh dari masjid terdekat. Suaranya mengalun halus, membangunkan telinga telinga tidur. Tangan Vira menyentuh pundakku
dan menariknya perlahan.
"Maaasss...sudah bangun?" tanyanya perlahan
Aku memutar tubuhku, matanya masih sayu oleh rasa kantuk yang dalam. "Enak tidurmu?" tanyaku
Seperti diriku, tubuh telanjangnya masih berlumuran darah perawannya sementara dibagian permukaan kulit perutnya,
masih terdapat ceceran spermaku yg tlh mengering.
"Seluruh ragaku spt melayang ringan, tidurku nyenyak & tak berwaktu" katanya lirih.
Aku memandang kearah payudaranya, menarik tangannya utk mendekat. Belalaiku tlh memanjang, krn desakan pipis pagi.
"Kontolmu sudah minta jatah?"
Aku tak menjawab saat mulut kecilnya mengucapkan "Kontol" kata yang sgt tabu dan tak pernah keluar dr mulut bapak/ibuku. Tapi pagi itu, kata itu terucap & terdengar serasa merdu. Aku dekatkan wajahku kedadanya & menyusurkan wajahku pd lembutnya payudara yg mengantung didada Vira.
"Jangan main lagi.......sebentar lagi Mas Arjuna harus mengantar koran" bisik Vira.
Aku hanya mengangguk sementara dadanya dia busungkan dan tangannya meraih kepalaku untuk mendekapnya.
Halusnya kulit dan hangatnya badan membuat pelukan terasa sangat sayang.
"Aku tak kuat kalau
mas Arjuna mainkan putingku" protesnya pelan. Kakinya dia naikkan keatas pinggangku "Sudah ya...?" katanya mengiba.
"Ambil kue coklat yg aku beli kemaren?" kataku
Dia melepaskan pelukanku & menyalakan lampu kamar. Dia mengambil tas berisi tiga potong kue coklat & mengeluarkannya.
"Berapa harga kue ini, kelihatan mahal?" tanyanya
Aku tidak menjawab, mengambil satu dan menggigitnya, coklatnya terasa lembut dilidah dan gigiku. Vira juga mengambil satu sambil duduk telanjang disampingku. Tangannya meraih pahaku dan meletakkannya diatasnya.
Gigitan pertama
kekuenya membuatnya terpana. "Enak sekali....!" katanya
Saat mulutnya mencecap rasa manis pahit coklat bercampur karamel dan kacang mente.
Aku menyodorkan punyaku ke mulutnya, awalnya dia menolak tapi aku sedikit memaksanya.
"Kamu harus coba yang ini juga supaya tahu rasanya"
Dia membuka mulutnya dan menggigit sedikit.
"Enak punya mas..!" komennya pendek "Mas sering beli ini?" tanyanya
"Tidak pernah.....baru sekali ini aku beli khusus kamu!" kataku
Mataku memandangi wajahnya, tubuh telanjangnya masih membuatku ingin menghisap putingnya. #ceritadewasa
Sifat nakalku muncul, kue coklat yang aku pegang aku tempelkan ke puting teteknya. "Eeeiittth....." katanya sambil berusaha mundur menghindari. Punggunya tertahan oleh tembok dibelakangnya dan tak ada jalan menghindar. Dia meringkuk supaya tanganku tak menekan terlalu keras.
"Geli masssss......" teriaknya manja, tangannya mendorong tanganku yang memegang kue coklat. Bekas colokan coklat menempel diputingnya. Dan aku mendesakkan mulutku mendekatinya. Dengan sedikit berjuang karena penolakannya toh akhirnya puting berlumur coklat itu terjangkau juga.
Aku mengecupnya & rasa coklatnya terasa, mulutku penuh dgn sebagian daging payudaranya.
Tanganku yg masih memegang sisa kue coklat, aku ulurkan ke mulutnya utk menghabiskan sisanya.
Dia mengerti apa yg aku mau dia lakukan & memakannya.
"Mas Arjuna nakal!"
Derit pintu kamar ibu
terdengar. Aku sadar bahwa bapak tidak ada dirumah, maka aku harus menggantikannya.
"Ibu sudah bangun, aku harus segera turun" kataku "Kamu lanjut tidur saja supaya tak terlihat lelah"
Vira mengangguk dan berjalan kedipan sambil membawa bantal dan guling serta memakai bajunya.
Aku membuka kamarku dan memanggil ibu.
"Ibuuu.....?" teriakku dari atas
"Ibu dikamar mandi Mas" Wulan menjawab dgn masih terdengar mengantuk.
"Ya sudah...." kataku sambil menuju ke kamar mandi kecil diloteng. Aku turun sudah dalam keadaan rapi dan siap kerja pagi itu. #sangeberat
Para pengantar koran telah tahu apa yang harus dikerjakan, mereka dengan cekatan membagi bagian koran yang mereka harus antar kemasing2x wilayah.
Setelah semuanya terbagi, aku pamit kepada ibu untuk keluar. Ibu dan Wulan menutup pintu dan kembali masuk karena pagi masih gelap.
Tiba-tiba aku teringat taruhan judi bolaku saat aku berada di daerah Kampung Sewu. Beberapa orang berbincang2x di warung kopi depan Mesjid Muhamadiyah meneriakkan bahwa MU kalah. Jadi benar artikel yang mengulas tentang bola di edisi-awal. ru
"Berarti aku menang 5 juta!" pikirku
Aku bergegas menuntaskan loper koranku & kembali pulang utk mengambil kertas rinci taruhan. Aku kuatir kertas itu tercuci dikantong celanaku. Wah gawat kalau sampai tercuci!" pikirku. Aku merasa tak tenang, uang 5 juta jumlah yg byk. Aku menelepon Vira tp hp nya masih blm aktif
Jam sdh menunjukkan pukul 7:20, aku bertanya2x dalam hati apakah Vira belum bangun atau mungkin sdh mencuci baju. Tanpa membeli makanan untuknya, aku langsung pulang dan menuju kamar. Benar saja, Vira sedang mencuci, semua baju yang dipake kemaren sdg dikeluarkan dari mesin cuci.
"Mas.....?" kata Vira saat melihatku
"Kamu sudah cuci celanaku kemaren?" tanyaku
"Iya.....kenapa? Cari kertas yang ada di kantong celana?"
"Iya..... kamu simpan?" tanyaku agak grogi
"Sudah kutaruh di kantong tas laptop!" katanya
Aku sangat lega, aku menoleh kebelakang memeriksa
ada siapa. Saat aku tidak melihat siapapun aku maju ke arahnya. Aku memeluknya erat sementara dia hanya diam heran dengan sikapku.
"Kertas itu senilai 5 juta" kataku kepadanya dng berbisik.
"Banyak sekali........" katanya setengah kaget
"Aku mau ajak kamu beli sesuatu besok!"
"Iyaaaa.........janji ya!" katanya dengan nada serius.
Aku berbalik menuju kamarku dan mencari kertas di kantong laptopku. Benar......aku temukan kertas tanda bukti ada dikantong tas laptopku. Aku menarik nafas dalam dgn lega.
Ake menelepon bandar judi mengklaim kemenanganku.
Sang Bandar mengatakan hari selasa, uang bs diambil sekitar jam 12 siang keatas. Aku tersenyum ringan sambil mengucapkan terima kasih.
"Kau ada waktu tdk bicara sebentar saat kau datang ambil uang?" kata sang bandar
"Bapak yg akan ambil uangnya sbb saya hrs jaga kios di bandara"
"Oh kalau begitu sebaiknya bicara di telepon saja!" katanya
"Saya sedang sibuk sekarang, bapak sdg ke Wonogiri" Nanti malam saja atau besok siang" Kataku memberi alasan.
"Siapa namamu?" tanya si bandar
"Arjuna Om..!" kataku dengan sedikit bangga
"Namamu bagus rejekimu bagus juga"
"Terima kasih om!" kataku
"Baiklah aku telepon kamu besok" katanya menutup pembicaraan.
Aku duduk dimejaku dan menyalakan laptopku. Aku pasang stick modem dan membuka website edisi awal.
Artikel pertama yang muncul adalah kecelakaan di Jalan Slamet Riyadi, seorang penarik becak
terserempet kereta api yang melintas didaerah Pasar Pon. Kecelakaan terjadi sekitar jam 11 siang hari minggu. Sopir becak memakai kaos merah dan celana panjang hitam. Becak warna bercat biru terjungkal di pinggir rel kereta api.
Aku berpikir sejenak apa yang bisa aku lakukan
untuk menyelamatkan si tukang becak dari kecelakaan ini.
Menghubungi polisi kemungkinan sangat kecil mereka tidak akan percaya kepadaku. Bahkan kemungkinan aku akan dicurigai. Aku memotret artikel itu dan foto kecelakaan yang terjadi.
Perutku gemerucuk tiba-tiba, teringat bahwa
aku belum sarapan. Aku mematikan laptopku dan berdiri mencari Vira, dia sedang di kamar mandi bersiap ikut aku ke bandara dan ke undangan pernikahan mbak Widya.
Aku turun ke lantai satu & mengetuk pintu kamar ibu.
Ibu dan Wulan masih tertidur saat aku membuka pintu.
"Apa mas..?"
"Ibu mau makan apa, saya mau brangkat ke Bandara. Vira tdk akan masak hari ini" kataku memberitahu ibu
"Mas aku mau Nasi Kimlo bisa belikan sblm berangkat?" tanya Wulan.
"Iya aku belikan sekarang, Ibu ngersakke nopo bu?
"Beli saja sup kimlonya, biar Vira masakkan nasi" kata ibu
"Vira....tolong masakkan nasi sebelum berangkat?" teriakku dari bawah.
"NAsi sudah masak......!" jawab Vira dari kamar
Aku mengambil rantang dan keluar untuk membeli Kimlo di Warung Pak Sur, Pasar Gede Wetan.
Aku kembali setelah kurang lebih 30 menit dan menjemput Vira. Didepan
pintu ada mas Tarman salah satu tukang koran yang standby di daerah Pasar Pon.
"Mas.....ada apa?" tanyaku kepadanya
"Anu mas.......saya mau pinjam uang ke ibu?" katanya "Anakku sakit perlu nebus obat" katanya agak mengiba.
"Sampean perlu berapa?" tanyaku kepadanya
"250 ribu mas"
"Ora usah pinjam ibu, tak kandani sampean tunggu disini" kataku memberitahu
"Nggih mas......." jawabnya
Aku membuka pintu depan dan membawa rantang Kimlo untuk ibu dan Wulan. Aku memanggil Vira untuk segera turun dan membawa tas laptopku. Sementara menunggu Vira, aku keluar dan
menemui Mas Tarman. Aku memberitahu tntang adanya kecelakaan di Pasar Pon yg aku lihat di website edisi awal. Aku tunjukkan photo kepadanya & mmberitahu becak itu arah dr selatan menyeberang ke arah Utara.
"Selamatkan, jgn sampai terjadi" kataku sambil memberi uang yg dia minta.
"Ya mas....saya akan usahakan jangan sampai terjadi kecelakaan itu, sebisa mungkin saya akan mencegahnya." janjinya kepadaku
"Kamu ingat toh baju dan keadaan becaknya?" tanyaku memastikan
Dia mengangguk, "Sekarang cepat kamu bergegas mengantar uang yg anakmu perlukan. Jangan lupa
misi yang harus kamu lakukan" aku mengingatkan
"Nggih mas.......matur nuwun mas!" katanya dgn agak buru buru.
"Vira muncul sambil membawa tas laptopku" Wulan mengunci pintu.
"Mas lukisanku sudah jadi satu!" katanya mengingatkan
"Iya nanti tak telepon Pak Santosa!" kataku berjanji
"Masss..........!!!" teriak ibu dari dalam rumah.
"Nggih bu.....?" Tanyaku masih diatas motor
"Iki amplope kanggo mantene mbak Widya" kata ibu
Wulan mengambil amplop itu dan menyerahkannya kepadaku. Aku memberikan kepada Vira untuk dimasukkan kedalam tas laptop yang dia pangku.
"Mas....aku mau sarapan dulu?" kata Vira setelah motor aku jalankan.
"Iya aku tahu.....aku juga lapar sekali" jawabku singkat "Kamu mau makan apa?" tanyaku
"Terserah....sing penting aku mau makan sampai kenyang!"
"Roti sisa satu kemaren kamu tinggal di kamar?" tanyaku ingin tahu
"Aku bawa didalam tas.......! Takutku meleleh kalau tidak segera dimakan" katanya
"Ya sudah kita makan saja saat nanti di rumah makan. Kamu mau makan gudeg bagaimana untuk pagi ini?" kataku
Tangan Vira melingkar di perutku "Mas minggir dulu sebentar, berhenti!" kata Vira keras.
Aku meminggirkan motorku kepinggir jalan, menoleh kebelakang menanyakan kenapa.
Vira memberikan tas laptop yang dipangkunya kepadaku supaya aku taruh didepanku. Aku agak heran awalnya, tapi kemudian sadar bahwa dia ingin memeluk badanku.
"Selangkanganku gatal lagi" katanya sambil
ketawa. Dia majukan duduknya hingga selangkangannya menempel dibagian pantatku. Dia eratkan kedua pahanya sehingga menjepit rapat pantatku.
"Masssss.....tak tahan2x supaya aku tdk terlihat mesra didepan budhe sama Wulan" badanya dia rapatkan sementara tangannya melingkari badanku
Seperti sedang menali sesuatu, tangannya mengikat tubuhku dengan erat. "Aku kangen..!" katanya manja ditelingaku. Belalaiku bangun bereaksi dengar suara manjanya. Aku tersenyum saat dia hanya bisa menggoyang pantatnya maju menempel kepantatku.
Kami rencana makan di tempat, tetapi
berubah pikiran karena kita buru2x. Kami bungkus 2 nasi gudeg lengkap dgn kuah dipisah sehingga bisa kita makan agak sore. Kami segera bergegas ke bandara dan makan 1 nasi bungkus kita bagi berdua. Hari minggu bandara tak begitu ramai.
"Mas undangannya Mbak Widya jam berapa?"
"Kita kesana jam 7 malam saja" jawabku "Datang, makan dan pulang" lanjutku
"Masak kita tidak stay beberapa saat, bicara sama mempelai dan berfoto bersama mereka" katanya
"Iya kita bisa foto2x sama mbak widya dan bersalaman" kataku
"Memang Mas tdk akrab sama Mbak Widya?" tanyanya
Aku melihat jam dinding diatas rak buku, waktu menunjukkan jam 11 siang, Kecelakan becak yang terserempet kereta terjadi sekitar jam ini. Pikiranku teringat dgn Mas Tarman yang aku minta untuk mencegah kejadian ini. Aku berharap mas Tarman bisa mencegahnya sebagai tanggung jawab
moral dan sosialku sebagai pengguna website edisi awal. Kenyataan bahwa tidak ada keharusan sama sekali bahwa aku harus melakukan pencegahan atas apa yg akan terjadi, namun nuraniku mengatakan perbuatan baik harus diutamakan daripada kepentingan pribadi. Ada banyak hal berkecamuk
dlm benakku. Tapi rasa haru saat melihat tukang becak terluka sungguh membuatku merasa ngeri kalau itu sampai terjadi. "Mas..hari minggu kok sepi ya?" tanya Vira "Kamu bosan ya?" tanyaku balik "Iya mas...aku tak jalan2x ya?" pintanya "Kamu perlu uang tidak utk membeli sesuatu?"
"Tidak.......aku hanya mau cari angin dan melihat-lihat" balasnya sambil melangkah keluar. Aku memandangi tubuhnya dari belakang, ada rasa kasihan dan iba melihatnya melangkah pergi. Rasa sayangnya kepadaku entah mengapa berbuah nafsu dan birahi. Ingatanku terpaku kembali pada
kejadian semalam. Hal tak terduga, keperawanannya akhirnya tembus. Teringat bagaimana batang belalaiku terasa hangat dan sesak berada didalam kantong ajaibnya. Lobang yang sempit itu tertembus oleh batangku dgn dinding2x vagina menghimpit ketat menyelubungi belalaiku yang kaku.
Erangan kesakitan yang terdengar memicu nafsuku untuk menghentak-hentakkan masuk menekan, kepala batangku terasa mati rasa namun rasa nikmatnya terasa tiada rasa.
Desisan dan erangan tertahan oleh ketakutan terdengar oleh ibu atau Wulan walaupun hujan terdengar sangat ribut.
Genggaman tanganku seperti memakunya sehingga rasa sakit yang dia tahan mengalir dan ikut kurasakan. Rasa sakit yang dia rasakan, dari perih menjadi nikmat saat tarikan dan tusukan berulang ulang berjalan pelan. Telingaku sangat hafal saat namaku dia panggil.
"Ooohhh massss....!"
Gambaran wajahnya yang sange dengan kantong mata yang menebal dan mulut mendesah desah nikmat dipandang. Sementara pinggulku terus menggoyang. Ingin aku merasakan lagi lobang memeknya yang hangat dan binalnya goyangan saat kenikmatan dia rasakan.
Sayang sekali kesenangan harus
berakhir ketika spermaku mendesak desak untuk muncrat keluar. Rasa menyesal kenapa tidak bisa tahan lama dan menikmati persetubuhan menyelimutiku setelah muncratnya kuarahkan ke perutnya.
Ada rasa bersalah, senang dan bingung apa yang selanjutnya harus dilakukan. Tapi rasa lelah
menyelimuti tubuhku dan memaksa mataku untuk menutup. Dalam pelukan tubuh hangatnya, akupun terlelap. Mengingat hal itu semua membuat belalaiku bergerak liar. Ingin mengulangi apa yang terjadi semalam.
Vira berjalan kembali ke arah kios yang ku jaga. Wajahnya tenang dan senyum
mengembang saat pandangan kami bertemu.
"Maaassssss......ayo kita pergi?" katanya saat jarak telah mendekat
"Mau kemana....? kataku menanyakannya
"Aku mau kita pergi ke tempat sepi, supaya kita bisa mengulangi apa yang kita lakukan semalam. Gatal....mas!" katanya sambil tangannya
mengusap bagian depan selangkangannya.
"Tunggu sebentar..aku cek dimana bapak!" kataku
Aku menelepon bapak, tapi nampaknya tdk ada signal di Wonogiri sehingga tdk terhubung.
"Ayo...kita ke sindon saja!" kataku
"Sindon tempat apa?" tanyanya ragu
"Rumah yang bapak beli untukku"
"Sampai jam berapa kita disana?" tanyanya lagi
"Sampai nanti kita pergi ke undangannya Mbak Widya"
"Lama sekali?" katanya
"Supaya kita bisa santai disana" kataku menjawab. Kami meninggalkan kios tepat jam 11:45
Sawah yang ditanami pohon tebu telah dibersihkan, sebagian besar
telah dibabat semua sehingga sawah yg sebelumnya lebat dengan tanaman tebu sekarang nampak kosong. Sebagian telah ditanamai padi sehingga warna hijau mendominasi dibagian2x sawah yg tlh ditanami.
Aku memberikan kunci pagar kpd Vira yg membantuku untuk membukanya, dia tutup pagar
motor aku masukkan dan Vira menutup dan mengunci pagar dari dalam. Dengan sedikit berlari kecil, dia segera membuka pintu depan rumah setelah menanyakan kepadaku kunci yang digunakan untuk membukanya.
Aku dorong masuk motor kedalam rumah dan Vira menguncinya kembali dari dalam.
Rasa lega aku rasakan, Vira menarik nafas dalam dan mendekatiku.
"Aku mau mandi ..........." katanya
"Buka dulu pintu belakang supaya udara segar masuk" kataku
"Aku tidak tahu cara bukanya.......Mas Arjuna saja yang buka"
Aku berjalan kebelakang dan membuka pintu belakang.
Udara segar berhembus masuk dari luar. Aku melangkah keluar menuju sumur untuk memeriksa air di bak mandi.
Aku kosongkan air di bak dengan mencabut penyumbat supaya air yang tersisa terbuang.
Setelah aku kosek bagian samping dan dasar bak mandi dengan sapu lidi, aku gebyur dgn
air sumur supaya lumut2x yang tumbuh keluar. Aku takut bila air didalam bak menimbulkan gatal2x. Setelah agak bersih, aku segera menimba. Aku tidak tahu apa yang Vira lakukan didalam rumah.
"Srret...!" suara jendela terbuka. Vira nongol dari dalam kamar belakang dkt dapur.
"Mas....aku suka disini!!" teriaknya keras
"Ya...aku juga. Udaranya masih sejuk dan terasa segar walaupun cuaca panas tapi banyak pepohonan disini" kataku
Aku menimba sampai penuh bak mandinya.
"Kamu jadi mandi tidak?" tanyaku
"Iya......" balasnya dengan semangat.
"Ya sudah
bawa sabun yang didekat lemari dapur keluar sini" perintahku
Vira melangkah keluar dan berjalan kearah bilik mandi. Dia tersenyum melihat kearahku. "Ini seperti benar2x seperti didesa" timpalnya dengan ringan "Mas mandi bareng sekalian........!" katanya mengajakku.
"Aku menyusul"
"Tidak mau....sekarang aku tunggu!" katanya cengengesan, wajah nakalnya terlihat dari pancaran matanya.
Aku melepas baju kaosku dan menyampirkan di dinding bilik. Tirai penutup bilik aku sibakkan dan Vira melangkah masuk, aku berjalan dibelakangnya.
Keringat setelah menimba air
masih membasahi badanku.
Vira melepas kaosnya & celana panjangnya. Tangannya memegangi pundakku saat dia sedang berusaha melepas celana panjangnya. Aku jongkok didepannya utk membantu melepaskannya. Celana jinsnya sangat ketat sehingga dia harus menggeliatkan pinggulnya sementara
tanganku menariknya turun.
"Kamu sexy sekali Vir...." kataku. Tangannya menutupi selangkangannya saat aku memandang kearah vagina yang masih tertutup celana dalam. Ada tonjolan seperti softex melapisi bagian tengahnya.
"Kamu sedang mens?" tanyaku agak kecewa saat memandang
lapisan softex yang menyembul di balik celana dalamnya.
"Belum..tp sdh terasa" katanya. Dia menurunkan celana dalamnya dan menunjukkan kepadaku bantalan softexnya. Semburat merah tipis terlihat menempel dibagian permukaan softex putih itu.
"Lihat baru sedikit yang keluar" katanya
Aku turunkan celana dalamnya dan Vira melangkah keluar dari lobang celana dalamnya. Aku mengangkat celananya dan memberikannya kepadanya untuk disampirkan didinding bilik.
Aku memegang pantatnya dan mendorongnya kearahku.
"Jangan kau ciumi vaginaku.... takutnya sdh ada darahnya"
tangannya mencengkeram rambutku saat kepalaku mendekat ke selangkangannya. Lidahku menjulur menempel di pahanya dan naik kebagian dalam.
"Masss..jangan!! Katanya sambil jongkok didepanku
"Lepas BH mu?" kataku memberi perintah
Dia menggeleng... 'Ngga mau...!! Mas yang melepaskan!"
Aku meraih tali BH nya & melepaskan kesamping pundaknya dengan pelan. Tangannya masih dilipat didepan dadanya seolang melindungi dari pandanganku.
"Kenapa tanganmu pakai dilipat didepan dada ?" kataku sambil tanganku menarik lepas lipatannya.
"Mas lepas dulu celananya! Aku malu
telanjang sendirian." katanya memintaku
Aku berdiri melepas celana yg aku pakai, matanya memandangi belalaiku saat terlepas dr celana dlm yg aku pakai. Tangannya meraih belalaiku & menariknya pelan turun. Aku merunduk & jongkok dihadapannya.
"Kira2x ada org melihat kita tidak?"
"Tidak ada, tempat ini dikelilingi pagar, orang luar tdk bisa melihat kedalam kecuali dia memanjat pagarnya. Kenapa?" tanyaku
"Aku takut ada org lihat kita" katanya tangannya masih memainkan belalaiku. Aku memandangi puting payudaranya yg berbentuk indah dgn ujungnya agak tumpul.
"Mas Arjuna lihat apa?" tanyanya, matanya memandang kearahku dng penuh selidik.
"Aku memandang puting tetekmu, terlihat imut dan menggemaskan. Kalau malam aku tidak melihatnya dgn jelas, disiang hari seperti ini semuanya nampak jelas." kataku
Aku berdiri dan menarik lengannya
untuk berdiri. Dia seperti gugup sambil sedikit berjinjit dia melihat kesekeliling. Setelah agak lega dia berhenti dan memandangku. "Aku khawatir ada orang mengawasi kita" katanya.
"Tidak mungkin....!" kataku Aku memutar tubuhnya untuk membalikkan tubuhnya membelakangiku. Dengan
berdiri tegak seperti sedang menunggu gerakanku, dia menoleh kebelakang.
"Mas .....mau apa?" katanya setengah heran.
Aku mendekati punggungnya dan menempelkan tubuhku. Rasa hangat menjalar keseluruh tubuhku, aku kecup pundaknya dan lenguhan ringan terdengar keluar dari mulutnya.
Tanganku melingkar didadanya, telapak tanganku meraih gundukan lembut daging dadanya. Rambut2x halus yang tumbuh di dadanya berdiri, kulitnya nampak merintis saat akar2x rambut didadanya menonjol halus.
Pantatnya bereaksi mundur sehingga nampak jelas dia senang dengan sentuhanku.
"Ooohhh massss........." katanya terangsang "Sensasinya beda berada disini....aku ingin teriak saat sentuhan2x memicu rangsangan dan birahi"
AKu terpacu oleh kata2xnya, mulutku merayap ke leher dan telinganya. Suara cresendo dengan vocal merdu dia dendangkan, lehernya dia putar
merespon sentuhan lidahku di sekitar belakang cuping telinganya. ""ooohhhh .......aaaagghhh ...masssss......teruskan"
Dengan menekan pantatnya kebelakang, dia gesekkan lembut gumpalan pantatnya yang menonjol ke batang belalaiku. Gesekannya membuat rangsangan di ujung belalaiku.
ada rasa geli nikmat yg aku rasakan. Ingin kuselipkan ujungnya diantara selangkangannya. Namun posisinya agak sulit sehingga tdk memungkinkan utk melakukannya. Rangsangan tanganku di teteknya terus berlanjut, mulutku tdk diam, menyedoti cuping telinganya yang membuatnya mengerang
"Aduuuh masss....gatalnya mas........." teriaknya diiringi desahan. Ditelingaku desahannya seperti candu dan heroin yang memicu rangsangan.
Aku turunkan satu tanganku dan menyetuh selangkangannya. Lobangnya telah basah oleh cairan kewanitaanya, rangsangan membuat lobang vaginanya
banjir dan basah kuyub. Tiba2x Vira mengangkat salah satu kakinya di bibir bak mandi. Selangkangannya terbuka lebar, tangannya dia turunkan untuk meraih belalaiku. Sambil menoleh kebelakang dia tarik belalaiku mengarah dan membimbingnya keliang memeknya. "Dorong" katanya setengah
memohon. Matanya terlihat sangat sange, kantong matanya menebal. Seperti sebuah dinding berlapis, ujung belalaiku menusuk masuk perlahan. Seperti dinding daging yang lunak dan lembut serta hangat, kepala belalaiku seperti di belai dan diremas pelan.
"Goyang terus mas...masukkaan
dalam....lebih dalaaaam. oggghh......." teriaknya
Kakinya seperti tergetar saat batangku ludes masuk kedalam liangnya. "Adddduuuhhh masss..terus tusukkan ....teruss ohh...."
Batangku kaku menusuk nusuk bagian dinding vaginanya, mulutnya menganga seperti orang kehabisan udara.
matanya terpejam menikmati tusukan2x batangku. Tangan kananku meraih puting teteknya, memilin dan menarik serta meremas. Suaranya nyaring merespon tindakanku...."Oohh"
Dia menggoyang pantatnya mengimbangi tusukanku, gesekan makin terasa sehingga dia bisa mengarahkan bagian mana
yang ingin digaruk. Dinding memeknya seperti meremas remas, aku seperti diangkat tinggi oleh birahi yang timbul dari gesekan2x itu. Pikiranku melayang, pandangan kami kadang bertemu saat dia menoleh kearahku. Mulutnya mengoceh....terusss teruss....dalam....tusuk kerassss...kerass
Tiba2x aku merasakan ada yang lain dari dalam memeknya, seperti cairan ttp agak kasar sehingga tidak licin. Aku melihat kebawah, ternyata batangku telah berlumuran darah.
"Darah mensmu keluar nampaknya?" kataku kepadanya sementara mataku memandangi darah yang melumuri batangku.
Aku agak jijik awalnya namun Vira langsung mengambil segayung air dan menyiramkan air itu kebatangku untuk membersihkan darah yang menempel dikulitnya.
"Sudah........?" tanyaku
"Belum.....masukkan lagi.......aku belum puas. Keluarkan dalam saja sekalian"
Konsentrasiku pecah saat
batangku masuk kedalam vaginanya. Ada rasa berbeda dari sebelumnya. Vira merasakan perubahan sikapku, dia merasa tak perduli asal nafsunya dan birahinya terpenuhi. Goyangan pantatnya kekanan kiri dan menggoyang batangku yang telah berada didalam jepitan memeknya.
"Aku mau keluar"
kataku memberitahu
"Cepat tusuk terus..........terus massss....jangan berhenti"
Kepala belalaiku menegang kulit kepalanya terasa sangat sensitive, semprotan sperma terasa makin mendekat.
"Adddduuuuh masssss....aduh masssss...iyaaaaa...iyaaaaa ohhhhh!!!" teriaknya
#ceritadewasa
Aku tak kuat lagi menahan kenikmatan dari gesekan intensif yang kami lakukan. Ledakan spermaku didalam lobang terasa sangat berkesan. Kecepatan letupan2xnya dirasakan oleh Vira.
Dinding memeknya seperti menghisap seluruh spermaku sehingga batangku terasa layu. Gerakan pantatnya
membuat gesekan dinding vaginanya dengan kepala batangku tak terkendali. Aku menariknya keluar dibarengi suara kentut dari dalam vaginanya. Agak lucu saat terdengar suara kentut, ternyata memek bisa menyuarakan hal yang sama seperti lobang pantat.
Vira tertawa tak tertahankan.
utk pertama kalinya dia mendengar jg kentut dr memeknya. Ketawanya menekan udara keluar dr memeknya sehingga kentutnya makin nyaring terdengar. Aku mengurut perutnya spy udaranya keluar semua. Benar saja, suaranya tdk berhenti.
Kami mandi bersama sblm masuk & tidur dibale bambu.
"Mas............!" Vira menggoyang pundakku
Aku membuka mataku saat suaranya terdengar di telingaku.
"Ada apa?" tanyaku dengan masih ngantuk
"Aku tidak ikut ke undangannya Mbak Widya!" katanya
"Kenapa?" tanyaku sambil masih setengah sadar
"Aku tidak bawa baju dan dandan" jawabnya
"Terus bagaimana...?" tanyaku ingin tahu
"Mas Arjuna antarkan aku pulang ya?" katanya lagi
"Iya sudah ......jam berapa sekarang?"
"Hampir jam 5 sore...." katanya
"Mau pulang sekarangkah......?" tanyaku
"Tidak disini dulu saja......" katanya menjawab, tangannya menyilang didadaku
Kemudian dia menarik tubuhku untuk menghadap kearahnya.
"Masih ngantuk ya.......?" tanyanya
Tanganku meraih tubuhnya, kulit dadanya yang lembut menyentuh wajahku. Dua pendulum kembar dengan puting kecil terpampang didepan mata. Aku mendekatkan mulutku kearah putingnya.
"Jangan!"
"Kenapa.....?" tanyaku sambil membuka mataku agak lebar
"Aku nanti tidak kuat menahan birahiku." bisiknya dengan suara mendesah. Ujung puting payudaranya membesar, dengan warna coklat muda menggemaskan.
"Memang separah itukah kalau sedang menstruasi?" tanyaku ingin tahu.
#cerita
"Iya.....kadang maunya begini terus kalau sedang birahi!"
tangannya meraba batang kemaluanku sambil mencengkeramnya erat2x
Bibirnya basah menempel di pipiku sambil mengecupnya.
"Aku mau pegang saja kalau begitu?" kataku lirih
"Sama saja......!" katanya sambil memeluk tubuhku
menghindarkan cengkeraman tanganku ke arah dadanya. Dadanya menempel di wajahku dengan erat, aku ingin mencucup puting dadanya, namun posisinya kurang pas. Sementara dadanya dia tempelkan erat. Dgn sengaja aku mencolek pinggangnya dgn jariku, dia menjerit dan menggeliat sehingga
ada jarak merenggang sebentar. Moment sebentar itu aku manfaatkan dengan menangkap putingnya dengan mulutku.
"Ooohhhhh.......!" katanya melenguh sambil menangkap kepalaku. "Mas kamu bikin aku frustasi nanti malam!" katanya sambil mencubit pundakku. Aku terangsang oleh gerakannya
Tubuhnya menggeliat merespon mulutku mencucupi puting didadanya. "Ooohhh ..masssss...!" katanya seperti sedang resah. Kakinya diangkat satu & dia timpakan keatas tubuhku. Dia menarik tubuhku dan menempelkan selangkangannya ketubuhku.
"Kalau mau begini lagi nanti malam bagaimana?"
dia menunjukkan jempolnya yg terselip diantara jari telunjuk dan jari tengahnya.
Aku tidak menjawabnya, teringat genangan darah menstruasi yng tercecer dilantai bilik mandi dan dibatang kelaminku.
Aku akhirnya melepas putingnya dan sambil tersenyum aku mengubah arah pembicaraan
"Berapa lama menstruasi berlangsung?" kataku
"Ini hari pertama, hari jumat biasanya sdh bersih!" katanya menjawab
"Ya sdh kita tunggu sj sampai hari Jum'at. Ayo kita mandi lagi dan terus pulang?" kataku mengajaknya
"Jangan mandi disini, sebaiknya mas mandi dirumah saja" sarannya.
"Kenapa?" tanyaku
"Supaya budhe tidak curiga!" katanya memberi alasan.
"Ya sudah kalau begitu, ayo kita segera pulang!" ajakku
Kami bergegas memakai baju kami dan meninggalkan Sindon. Dalam perjalanan pulang Vira minta dibelikan manisan buah di pasar gedhe, jadi kita mampir dulu
kesana. Manisan mangga kering yang dia ingin beli berada diujung pertokoan daerah luar pasar gedhe. Dia mampir kesana saat dia masih tinggal di Solo bersama orang tuanya.
Keinginan makan manisan mangga kesukaannya akhirnya terkabul. Kami sampai dirumah sekitar 5 menit kemudian.
"Ibu membukakan pintu depan saat kami sampai, dengan mengernyitkan dahi ibu menanyakan kenapa tidak langsung ke undangan. Aku memberitahu ibu bahwa Vira sedang sakit perut karena sedang datang bulan. Aku memarkir motorku diluar setelah Vira masuk dan naik ke kamarku.
#cerita
Pesta pernikahan Mbak Widya adalah pesta pernikahan pertama yang aku hadiri dalam hidupku, sebuah pesta pernikahan sederhana yang diadakan didepan rumahnya dengan tenda plastik dan tempat duduk pengantin yang sangat sederhana. Kesederhanaan yang aku tangkap tidak mengurung rasa
bahagia yang terpancar dari senyum wajah Mbak Widya. Polesan make up dan kostum pernikahan adat Jawa membuatku pangling dengan wajah aslinya.
Suaminya berdiri tegak disampingnya, bukan postur seorang prajurit.
Dengan antusias aku datangi tempat nya dia berdiri dan menyalami
kedua pengantin. Mbak Widya memperkenalkan aku kepada suaminya. Tangan kami berjabatan dan agak membungkuk hormat suaminya mengucapkan terima kasih.
Wajahnya khas orang jawa tengah yang ramah dan pancaran mata polos. Mbak Widya berterima kasih saat amplop dari ibu aku serahkan
ketangannya.
"Terima kasih ya Mas Arjuna!" katanya dengan kedua tangan memegangnya. "Sampaikan ke bapak dan ibu terima kasihku kepada beliau. Mas kita photo dulu ya?" suaranya setengah memohon.
Suaminya mengangkat tangannya memanggil photographer untuk memotret kami. Aku berdiri
disamping Mbak Widya sementara tangannya menggelayut kelengan tanganku. Beberapa tamu melihat kami & tersenyum oleh tingkah Mbak Widya.
Aku turun dri panggung pelaminan & turun untuk menyantap hidangan. Nasi dengan sayur asem2x buncis dan daging serta teh hangat telah dibagikan.
Aku tidak menghabiskan apa yang ada dipiringku karena nasinya sangat banyak. Aku tidak terlalu lama berada di pesta itu dan meninggalkannya setelah berpamitan.
Aku ikut bahagia melihat senyum Mbak Widya dan suaminya, berharap mereka hidup bahagia.
Minggu malam setelah meninggalkan undangan pernikahan Mbak Widya aku menaiki motorku ke rumah Mas Tarman. Entah mengapa aku kepikiran tentang Mas Tarman malam itu, sehingga aku memutuskan untuk mencari rumahnya didaerah Boro. Aku tahu tempat ini cukup serem karena perkampungan
kumuh yang sangat padat dgn sanitasi yang kurang terjaga. Aku pernah ke rumahnya sekali saat mengantar bingkisan dari ibu untuk anaknya yang baru lahir. Hanya saja waktu itu siang hari jadi suasana sangat berbeda dgn suasa malam.
Dengan menaiki motor aku menyusuri gang2x sempit.
Pintu rumahnya tertutup namun lampu ruangan depan masih menyala. Mendengar suara motorku, korden jendela rumahnya tersibak. Wajah Mas Tarman mengintip dicelah korden yang tersibak. Dahinya mengernyit menandakan bingung siapa malam2x begini datang ke rumahnya. Aku melepas helmku
barulah Mas Tarman sadar. Dia tersenyum lemas saat pintu depannya terbuka.
"Bagaimana mas....?" tanyaku
"Sudah mas.....tukang becaknya sepertinya melamun saat aku hentikan!" katanya menceritakan sebagian kejadiannya
"Sampean kelihatan lemes, kenapa?" tanyaku
Blom makan sejak
dari tadi" katanya memberitahuku.
"Ayo....tak traktir makan!" kataku menawarkan
"Iya mas......saya mau!" katanya merespon
Bergegas dia kembali masuk kedalam rumah untuk ganti baju. Aku melongok kedalam rumah kontrakannya. Sangat menyedihkan, 4 kursi plastik berjejer rapi, ada
sebuah meja dengan alas diatasnya. Walaupun rumahnya kecil, jelas sangat terawat.
"Sudah mas...?" tanyaku saat dia berjalan keluar dari kamarnya
"Iya..anak saya masuk rumah sakit umum Jebres mas!" katanya memberitahuku "Saya baru saja pulang dari sana. Istri saya yang menjaganya"
"Aku ikut sedih mas...semoga cepat sembuh" kataku mendoakan "Mas mau makan apa?" tanyaku
"Makan Mie rebus di Warung Mbak Menur saja, di daerah Kandang Pitik" katanya.
"Mas yg tunjukkan arah, saya tidak tahu jalannya" kataku
Mas Tarman memesan mie rebus, aku memesan 1 nasi goreng
dan mie goreng jawa untuk dibungkus. Saat kami meninggalkan warung itu, aku berikan bungkusan nasi goreng kepada Mas Tarman untuk diberikan kepada istrinya. Aku mengantarnya ke Rumah Sakit Jebres dan membawanya kembali ke rumahnya sebelum aku pulang.
"Mas....bulan depan baru bisa
kukembalikan uang pinjamanku" katanya sebelum aku pulang.
"Gampang ....tidak usah dipikir! Yang penting Anaknya Mas Tarman sehat dan segera pulih" kataku
Hampir jam sebelas malam, aku baru sampai di rumah. Mobil bapak belum ada di garasi, berarti bapak masih berada di Wonogiri.
Aku membawa keatas Mie Goreng Jawa yang aku beli dan sendok garpu serta piring. Kamar ibu telah gelap sehingga aku bisa langsung naik ke atas.
Vira sedang berbaring di dipan saat aku datang. Matanya tertutup, tidurnya sangat lelap.
"Vira....!" kataku sambil mengguncang pundaknya
Matanya terbuka senyumnya merekah.......
"Kamu dari tadi tidur tidak bangun2x?" tanyaku
"Mas kok tahu?" tanyanya
"Kamu tidak ganti baju" jawabku ringan. "Ayo makan!" ajakku
"Mas beli apa..... harum sekali baunya!" katanya bangkit dari dipan.
"Mie Goreng Jawa, semoga kamu suka!"
Aku membuka bungkusan mie goreng dan menaruhnya diatas piring. Kertas coklat pembungkus makanannya aku lipat kembali dan kumasukkan kedalam tas kreseknya. Sambal aku tempatkan dibagian pinggir piring supaya tak tercampur.
Vira duduk dikursi yang biasa aku duduki, sementara aku
tetap berdiri disampingnya sambil melepas kaosku untuk beranjak mandi.
"Aku mandi dulu ya?" kataku memberitahu
"Tungguin aku makan ....?" katanya melas, tangannya yang kiri memegang tanganku. Aku memandangnya sebentar dan tersenyum.
"Badanku busuk.......!" kataku sambil mencium
bau ketiakku.
"Ngga papa.....setiap hari sudah mencium bau ketekmu seperti itu." Tanganku ditariknya dan mencium punggung telapak tanganku.
Aku mengambil kursi plastik dan menggesernya disampingnya. Vira mengunyah pelan sambil menikmati makanannya. Dia mengambil sesendok dan
menyuapkannya kepadaku.
"Sudah.....aku sudah makan di pesta tadi" kataku menyela
Tangannya tetap ingin menyuapiku, aku tak bisa menolak kemauannya. Mie goreng jawa terasa manis kecap dan sedap oleh bumbu bawang putih serta bumbu khas jawa.
"Kenapa tidak pakai sambal" tanyaku
"Sambalnya tidak meyakinkan.....!" katanya menjawabku
"Tidak ada salahnya mencoba" kataku mencoba meyakinkan
Dia mengambil sambalnya dengan ujung sendok dan membalurkannya keatas mie yang akan dia makan.
"Enak.......!" serunya pelan
"Nah kan......." timpalku. Sendoknya kembali
menggeliat diatas tumpukan mie & menjumput sedikit sambal dan mencampurnya diatasnya. Aku mengira sendokan itu akan disuapkan kepadaku, ternyata aku salah menduga. Sendokan mie dia arahkan kemulutnya.
"Aku kecewa tp meringis melihat tingkahnya" ternyata matanya melirik kearahku
"Mana bagianku......?" tanyaku sambil menunggu
"Hahahahah......ternyata enak kalau dimakan sama sambel. Mas mau ya.....?" tanyanya menggoda
"Iya....sedikit saja!" kataku
Sendoknya kembali dia gerakkan, dengan mencucupkan sedikit sambal dan mengoleskannya keatas tumpukan mie. Dia
sendokkan dan menyuapkannya kemulutku. Campuran mie jawa dan sambelnya memang sangat nikmat. Pantas kalau warung mie itu laris.
"Sudah ya mas..aku mau makan sendiri sisanya! Mas mandi sana ..nanti kepingin mau minta sisa mienya"
katanya dengan senyum.
"Iya..aku tinggal mandi ya?"
Aku keluar kamar dan berjalan menuju kamar mandi. Aku tidak lama menghabiskan waktuku dikamar mandi setelah keramas & membersihkan badanku aku bergegas keluar tanpa lupa sikat gigi.
Vira telah selesai makan saat aku kembali masuk kedalam kamar.
"Gantian....aku mau mandi" katanya
Dia berdiri dan membawa piring kotor serta bekas pembungkus mie goreng yang aku beli.
Aku sedang duduk diatas kasurku ketika Vira masuk kedalam kamar. Hanya dengan berlilitkan handuk, dia menutup dan membungkus tubuhnya.
"Aku lupa membawa celana dalam" katanya saat mengetahui
aku sdg memandanginya.
Dia berdiri didekat lemari dimana dia menumpuk celana dalamnya. Aku berdiri menghampirinya sambil melepas lilitan handuknya.
"Tubuhmu menggairahkan sekali kalau terlihat dibalut handuk" bisikku kedekat telinganya
"Aku sedang mens!" katanya memperingatkan
"Aku tahu...!" tanganku melingkar ke perutnya.
"Tunggu .....aku harus pakai softexku. Berceceran darahnya nanti kalau tidak!" tangannya berusaha melepas pelukanku.
Suhu tubuhnya masih terasa dingin oleh air kamar mandi.
"Aku tidur di dipan saja malam ini!" katanya berbisik sambil
membalikkan tubuhnya kearahku. Dengan sedikit membungkuk dia memakai celana dalam yang telah dilapisi dengan softex.
Buah dadanya menggembung dgn puting masih sembunyi sebagian tertutup oleh daging tetekknya.
"Jangan pegang.....! Nanti aku minta pertanggungjawaban"" katanya lagi
"Aku hanya mau pegang sebentar!" kataku berdalih
Dia berdiri tegak setelah memakai celana dalamnya. Tanganku leluasa meraih teteknya dan meremasnya lembut.
"Ya sudah.........." katanya
"Tunggu....! Aku mau mengecupnya"
"Massssss!.......kamu mau menyiksaku!" katanya menghindar
tubuhnya membelakangiku sambil membungku untuk mengambil kaos yang akan dipakau untuk tidur.
"Sebentar...!" kataku meraih pundaknya yang masih telanjang. Aku menariknya dengan sedikit memaksa. Batangku menegang panjang dan menempel lekat di pantatnya.
Dia berdiri dengan memegang
sebuah kaos sementara senyum dimulutnya mengembang.
"Ganasnya kamu mas..." katanya sambil tangannya memegang batangku yang menonjol dibalik celana batik yang aku pakai.
Aku segera membungkuk & mengenyot puting dadanya. Sementara tangan satunya yang memegang kaos menekan belakang
kepalaku.
"Ooohhhhh....masssss!" katanya melenguh. "Aku nanti bagaimana.........." keluhnya sementara gantian aku tersenyum oleh lenguhannya.
Tangannya masih mencengkeram batangku "Sudaaaahh.....!" katanya sambil menjauhkan dadanya dari mulutku.
Aku berdiri tegak, nafsuku bangkit
tidak puas hanya dapat tetekknya. AKu mendorong punggungnya pelan sambil menuntunnya ke arah kasurku. Dia bergegas memakai baju kaosnya.
"Sini tidur....." kataku sambil menariknya turun ke kasur.
"Sudah......nanti keterusan" katanya sambil agak menjauh dariku saat rebah dikasur.
Tak kepalang tanggung, aku pepet punggungnya sementara batangku aku tempelkan di pantatnya. Tanganku meraih teteknya dari luar, namun tangannya melindungi gundukan teteknya. Aku berusaha meraihnya dengan menekan tanganku supaya tidak dihalangi.
"Maasss..!" katanya
#ceritadewasa
Mulutku menyosor lehernya, aku tekan dadanya mundur kearahku dan mulutku berusaha melumat lehernya. Dia tertawa cekikikan karena merasa geli. Aku ubah arahku ketelinganya dan mengecup cuping telinganya.
"Oooh.......aaahhh....." desahnya ringan
Aku menggeliat dan menaiki tubuhnya
tangannya aku pegang dan bentangkan, tubuhnya aku tindih dng mendudukinya dibagian pinggulnya. Ketawanya makin menjadi, aku berusaha membungkamnya supaya tidak terdengar hingga kebawah.
"Sss...sstst jangan terlalu keras!" kataku dgn mimik wajah serius. Vira tersadar akan suaranya
yang mengeras, dia berhenti bersuara dan tersenyum.
"Mas......kamu seperti monster kalau sedang birahi" katanya
Aku menundukkan tubuhku dan mencium mulutnya, bibirnya terasa manis dgn senyum masih tetap mengembang.
"Monsterku ingin memperkosa kamu!" kataku setengah berbisik
"Aku sedang mens..........!" katanya menjawab "Sini aku hisap saja sampai keluar?" katanya dengan pelan. Matanya memandangku dengan serius.
"Sudah ngga usah.......kasihan kamu!" kataku menolak tawarannya.
"Ngga apa apa.......!" katanya mendesak. Tangannya melingkar dipunggungku
dan berusaha menggulingkan tubuhku kesamping.
Aku mengikuti maunya dan gantian dia berada diatas. Dia duduk tegak dengan pantat berada diatas belalaiku yg menegang.
"Sudah...mas diam saja!" katanya dengan tangan terjulur ke karet celana batikku. Dia turunkan dengan tangan lincah
dan cepat. Aku membantu mengangkat pantatku supaya celana lepas dengan mudah.
"Sudah kamu kunci pintu kamar?" tanyaku
"Sudah...!" katanya
"Lihat lagi..periksa dulu" kataku mendesaknya.
Dia berdiri dan melangkah kearah pintu untuk mengecek apakah pintu sudah tertutup. Dia kembali
berjalan ke kasur dengan tangan melepas kaos yang dia pakai. Cahaya lampu dari jalan menerangi ruangan, terlihat bahwa dia menggunakan softexnya karena terlihat gundukan di bagian penutup vaginanya.
Dia taruh kaosnya diatas lantai setelah melipatnya.
Aku angkat tanganku untuk
menyambutnya kembali ke kasur. Tetapi tanganku disingkirkan, di berlutut disampingku, kedua tangannya meraih batangku sambil mengocoknya pelan dan lembut.
Pandangannya mengarah kebatangku sebelum mengalihkannya ke mataku. Tangannya masih bergerak pelan, kulit tangannya yg lembut
terasa lunak saat menyentuh kepala batangku. Aku tak kuasa menahan desahanku.
"Oooooo.....Vi!! kataku sambil memejamkan mataku. Aku mengangkat pantatku saat tangannya mengocok bagian ujung batang.
"Masukkan ke mulutmu?" pintaku terdengar mendesis
"Bilang yang manis......ulangi!"
"Sayang.........masukkan kemulutmu ....hisap sampai keluar!" kataku, tanganku meraih buah dadanya yang menggantung. Kulitnya dadanya sangat lembut ditanganku, suhunya hangat dan nyaman dipegang.
Dia tundukkan tubuhnya dan menjilat pelan ujung batangku.
"Oooh......aaaaahhhhhh!!"
"Kocok yang cepat........!" kataku memintanya mulutnya menyedot batangku dengan lembut. Kadang2x giginya mengenai daging batang kontolku.
"Hati...hati jangan kena gigi!" kataku
Matanya memandangku saat batangku terlepas dari mulutnya. "Enak?" katanya sambil berbaring disampingku
Tanganku meraih tubuhnya untuk memeluknya.
"Masss........aku terangsang juga!" katanya pelan "Masukkan ke memekku ya?" pintanya dengan pandangan melas
"Kenapa......kamu lagi mens!" kataku ingin menolak permintaannya
"Masukkan ke lobang belakang!" katanya
"Mana bisa?" kataku
"Ayo kita ke kamar mandi!" katanya mengajakku
"Kenapa disana?" tanyaku
"Supaya darahku tak berceceran dilantai kamar!" katanya. "Mas kesana dulu, aku ambil kondom terus menyusul" katanya
Tanpa pikir panjang, aku berjalan keluar setelah memakai celanaku. Vira menyusulku setelah
beberapa menit kemudian. Celana segera kulepas segera setelah Vira masuk kedalam kamar mandi dan menguncinya dari dalam. AKu membantu melepas kaos yang dipakainya sementara tangannya segera melepas celananya. Softex yang dia pakai telah berlumur darah. Dia kemudian jongkok di
lobang WC & menceboki vaginanya. Gumpalan darah jatuh kedalam lobang, mataku memandanginya.
"Pakai kondom yang aku bawa!" katanya memberi instruksi
Aku membuka pembungkus kondom dan menggulung tarik memasukkan batangku kedalam karet kondom itu.
Dengan nafas tersengal ingin cepat
tuntas, aku menarik tangan vira stlh ceboknya selesai. Dia berbalik membelakangiku untuk menyiram darah yg ada dilobang WC.
"Tunggu sebentar!" katanya "Jgn dimasukkan kelobang pantat. Ngga akan muat!"
"Masukkan saja di memekku sudah aku bersihkan" dia membungkuk dan merenggangkan
kedua kakinya, tangannya meraih batangku dan mengarahkan ke lobang memeknya. Perlahan aku majukan pantatku untuk menusukkan batangku kedalam lobang memeknya.
"Ooohhhh......pelan mass.....lendirnya terbasuh air saat aku cebok"
"Jangan keras2x bicara!" kataku mengingatkan.
usahaku memasukkan belalaiku kedalam agak kesulitan, tanganku membantu meraba permukaan memeknya, tapi dihalau oleh tangannya. Kembali dia memegang batangku dan mengarahkan lobangnya.
"Pelan mas......batangmu terasa besar sekali" katanya setengah berbisik. Matanya mengarah ke
pantatnya.
"Kurang nungging...!" kataku, tanganku mendorong pundaknya lebih kebawah turun. Dia turunkan kepalanya dgn tangan memegang lutut, kaki lebih mekangkang. Aku sempat meraba permukaan vaginanya dengan telapak tanganku. Dia menoleh sambil berkata pelan "Awas ada darahnya!"
Aku merasa tusukanku seperti kandas, batang belalaiku tidak merasakan kontak krn lapisan kondom yang aku pakai.
"Aku mau lepas kondomnya!" kataku sambil menarik ujung kondom.
Nampaknya dia tdk dengar apa yang aku katakan. Aku taruh kondomnya dilantai samping kakiku. Kulanjutkan
tusukan batangku dengan tanpa lapisan karet kondom. Terasa hangat saat menyentuh lobang memeknya. Seperti punya mata, tusukanku menembus pelan ke dalam lobangnya. Peret, keset dan sempit......lobangnya sangat ngegrib paten. Mataku terpejam menikmati sensasinya.
"Ohhh!!" lenguhnya
"Jangan tegang.....!" kataku pelan
"Iyaaaa....enak mas!" katanya. Entah dia bertanya atau memberitahu apa yang dia rasakan.
Aku menyodokkan pelan maju, dinding vaginanya sangat hangat. Kulit punggungnya terasa licin dan halus saat tanganku memeganginya untuk menjaga keseimbangan
"Lagi tusukkan yang keras mas..........!" pintanya sambil memandang kearahku. "Pegang tetekku...pilin2x putingnya pelan" imbuhnya.
Wajahnya terlihat sangat sange, batangku merasakan butir2x sell darah merah di liang memeknya setiap kalai batang pistonku bergerak maju mundur.
"Lebih cepat mas........!!" katanya memberi instruksi
Gerakan kupercepat, pantatku maju mundur dan bantangku mengeras terasa hingga kedalam liangnya. Matanya Vira mendelik menikmati sensasi persetubuhan kami. Mulutnya seolah menahan nikmat yang dia rasakan. Desisan dan lenguhan
berulang terdengar.
"Ooohhhh...........agggghhh masss......!" teriaknya tiba2x, pantatnya bergetar dan denyutan dari dinding memeknya terasa. Tangannya memegangi perutnya dan kontraksi lobang memeknya seperti memijati batangku.
"Ooohhhh.....oohhhhh....terusssss.terusss tusuk!"
Badannya maju mundur mengimbangi tusukanku kedalam memeknya, batangku menegang, bola2xku mengencang terasa ingin menyemprotkan sperma dari dalam.
"Aku mau keluar!!!" kataku memberitahu
"Iyaaaa.....terus tussssuuuuuuuk terussssss!" katanya
Aku tak kuasa menahan spermaku....puncak
nikmat terasa saat semburan sperma menyiram masuk kedalam lobang dlmnya. Aku tusuk kasar dan keras menghujam kedlmnya. Denyutan2x sperma meluncur dari dlm batangku. 'Ogghh!" seruku perlahan
Aku mencabut pelan batangku dari dalam lobangnya. Vira berdiri tegak dan memutar tubuhnya
menghadap kearahku. Tubuhnya basah oleh keringat, dia peluk badanku menempel erat. Tangannya menemukan batangku tanpa kondom, terperangah kaget saat tahu bahwa spermaku menyembur didalam memeknya.
"Mas...kau semprotkan kedalam vaginaku spermanya!?" katanya..
"Aku tadi sudah memberitahu kamu saat aku mau lepas kondomnya" kataku memberitahu
"Aku tidak dengar" matanya memandang tajam ke mataku "Piye engko lek meteng?"
"Tidak mungkin....!" mataku memandang kebawah. Darah berceceran dilantai dengan bau sedikit amis.
"Sudah kamu bersih2x
terus kembali ke kamar. Biara aku bersihkan lantai kamar mandinya!" kataku mmberitahunya.
"Mas ngga jijik?" tanyanya
Aku menggeleng, Vira melakukan apa yang kukatakan & keluar stlh melihat suasana kondusif.
Aku mnyabuni semua lantai & keluar kamar mandi sekitar 30 menit kemudian.
Pintu ruko terdengar dibuka & aku mendengar suara mobil bapak di luar. Aku turun membantu menutup pintu.
Bapak agak kaget saat mengetahui aku masih belum tidur.
Setelah menutup pintu, aku sempat mengeluarkan beberapa barang dr mobil box bapak. Beberapa hasil sawah dari Wonogiri
yang bapak bawa aku turunkan. Bapak menanyakan apa saja yang aku lakukan selama bapak tidak ada sambil kami membongkar muatan. Aku menceritakan seperlunya saja yang penting2x.
"Hari selasa nanti Widya sudah mulai masuk kerja!" kata bapak
Aku senang mendengarnya dan aku tdk perlu
ke bandara untuk menjaga kios.
Setelah selesai membantu bapak, aku kembali naik kekamarku. Vira telah tidur di dipan dengan suara dengkuran lembutnya, saat aku masuk.
Rasa lelahku juga perlu kubayar setelah seharian berkegiatan. Mata terasa berat dan membawaku ke tidur lelap.
SOPHIA, AKU DATANG & MENOLONGMU

Senin pagi sekitar jam 5 subuh, mataku terbuka oleh jam biologis yang memang telah terlatih sejak membantu bapak meloper koran. Karena tanggung jawab pekerjaan membuatku jadi sadar begitu beratnya hidup. Disaat anak2x seumurku masih terlelap, aku Image
harus bersiap untuk segera mengantar koran pagi. Vira masih terlelap di kasurnya. Aku tidak membangunkannya dan dgn perlahan-lahan aku keluar kamar untuk mandi dan bersiap bekerja. Lampu kamar tak kunyalakan spy tak mengganggu lelap tidurnya. Saat aku turun Wulan telah bangun dan
mulai beraktifitas. "Mas....kapan kau antar lukisanku?" tanya Wulan saat melihatku
"Hari ini...aku lupa belum telepon Pak Santosa" kataku
"Jangan lupa toh mas....!" katanya
"Iya nanti aku selesaikan...!" kataku berjanji. "Aku antar koran dulu, nanti kalau berangkat ke bandara
akan aku bawa sekalian. Rute loperan koranku cukup panjang, paling tidak perlu dua jam untuk menyelesaikan. Cuaca mendung pagi itu sehingga udara terasa agak dingin. Untungnya aku punya jaket yang bagus sehingga aku terlindung aman.
Sekembalinya aku dirumah setelah mengantar
koran, aku melihat Vira telah sibuk di dapur sementara ibu berada dimejanya mengerjakan tugas harian. Wulan berada di lantai atas entah apa yang dia lakukan. Vira sempat melihat kearahku saat mendengar suaraku. Matanya kembali ke wajan didepannya, sambil mengaduk makanan.
Ada aura marah atau jengkel baik dari wajahnya atau dari cahaya disekitar kepalanya. Yg jelas aku merasakannya. Aku berjalan ke atas ke kamarku. Aku membuka laptopku utk membaca artikel dia edisi awal. Artikel pertama yg muncul adalah berita bunuh diri yang terjadi di Ledoksari.
Seorang mahasiswi universitas negeri terjun dari lantai 4 rumahnya. Ada gambar bangunan rumah toko & sebuah papan Notaris yg namanya terpotong. Sementara tubuh si mahasiswi berjilbab hitam terbujur kaku didepan pintu dengan darah meleleh membasahi lantai jalan. Sophia Ani Azizah
nama mahasiswi yg bunuh diri itu dikenal. Bapaknya, Abdoelah Al-Aziz adalah seorang keturunan Arab yang berprofesi sbgai seorang notaris.
Kejadian terjadi pukul 17:20 saat orang tuanya masih sibuk di lantai bawah. Aku memotret gambar tubuh korban yang menyertai artikel itu.
Aku berpikir sejenak apa yg hrs aku lakukan untuk menyelamatkannya.
"Tok..tok..tok!" pintu kamar diketok dari luar.
"Siapa...?" tanyaku
"Mas...kapan lukisanku kau kirim?" tanya Wulan dr luar
"Iya nanti siang, Pak Santosa belum bangun jam segini" jawabku
"Mas lihat dulu lukisanku"
Aku berdiri dari dudukku & brjalan menuju pintu, membukanya pelan sambil masih terpaku dgn bagaimana cara menolong Sophia. Saat pintu kubuka, Wulan berdiri didepan pintu sambil memegang lukisan yg akan jual ke Pak Santosa. Sebuah lukisan burung merak dgn warna hijau yg dominan. Image
"Wow....." kataku langsung komentar
"Sudah kamu tunjukkan ke bapak atau ibu lukisanmu ini?" tanyaku
"Belum......kenapa tidak kamu tunjukkan kepada mereka sebelum ku jual?" kataku bertanya
"Iya ....aku mau turun sekarang. Mbak Vira sudah tahu kemaren malam aku tunjukkan. Berapa?"
"Aku tidak tahu....nanti baru bisa dapat kepastian harganya" kataku berdiplomasi.
"Ya sudah......Mas sedang ngapain?" tanyanya ingin tahu
"Sedang mikirkan sesuatu" kataku basa basi, aku kembali kekamarku dan menutup pintu. Aku menarik selotnya sehingga tak bisa dibuka dari luar.
Aku kembali membuka laptopku lagi & mencari artikel yg tadi kubaca tentang Sophia. Aku temukan lagi informasi tambahan tentang surat yg dia tulis sebelum dia terjun dari rumahnya, sebuah ruko setinggi 4 lantai.
Suratnya ditemukan oleh ibunya yg dia taruh di kantong jas almamater.
Intinnya adalah kekesalan dengan pacarnya, Ardan Wahyudi yang telah meninggalkannya demi perempuan lain. Kekesalannya dia curahkan dan permohonan maaf kepada orang tuanya yang tidak bisa membuat mereka bahagia. Kekecewaan yang dalam adalah motivasinya untuk bunuh diri. Nampaknya
surat tlh disiapkan semalam sblm terjun dr lantai 4.
Tiba-tiba aku mendengar langkah kaki diluar kamarku & berhenti tepat didepan pintu. Ketokan lirih terdengar dari pintu, aku berdiri & membuka selot.
Aku buka pintu perlahan, melihat Vira berdiri sambil membawa sepiring nasi.
Vira menyelinap masuk kedalam kamar & menaruh nasi diatas meja disamping laptopku.
Tanpa bisa mengelak, tiba2x tangan Vira mencubit lengan atasku dengan sekuat2xnya.
"Addddduuuuuh....Vira!" kataku mengiba
"Rasakan......kurang keras iya?" tanyanya
"Kenapa kamu cubit aku?" tanyaku
"Kenapa Mas Arjuna buang sperma didalam memekku semalam!" matanya melotot "Tadi pagi, mas keluar juga tidak membangunkan aku! Plak.......plak......pinch!!! ....pinch!!" jarinya mencubiti kulitku lagi
"Ampun.....sudah...ampun...!" pintaku sambil miringkan tubuhku
"Biar tahu rasa!"
"Berani mas ulangi lagi?" tanyanya dengan ganas
"Tidaaaakkk....tidakkk....!"
"Tidak apa......?"
"Tidak lagi...!"
"Tidak lagi apa....?!"
"Tidak lagi buang didalam...!" kataku pelan
Cubitannya dia lepas ...rasa pedas terasa sekali hingga mukaku merah padam.
Matanya masih melotot
kearahku sementara aku cengar cengir sambil memandanginya, matanya menjurus tajam kearah mataku. Seperti beruang lapar yang siap mencabik2xku
"Sorry........"kataku melas
"Mas tidak berpikir kalau aku sampai hamil bagaimana?"
"Tidak mungkin......!" kataku
"Plak.......!" tangannya
mengenai pipiku.
Aku benar baru sadar bhw dia memang serius. Rasa kagetku membuatku tersadar.
"Keluarga akan malu kalau sampai aku hamil, tahu!!!" katanya
"Iya....!" kataku
Kedua tanganku meraih badannya utk memeluknya. Tangisnya meledak terisak oleh krn jengkel yg dia tahan
sejak semalam.
"Aku khawatir...Mas Arjuna harusnya menjagaku jngn sampai aku kepikiran begini. Rasanya mau teriak kalau begini ini!!" katanya
"Mens mu masih keluar pagi tadi?" tanyaku ketelinganya
"Iya masih..!"
"Sudah jangan khawatir, spermaku keluar dgn darah yang keluar itu.
Tanganku menepuk punggungnya dgn pelan utk menenangkannya. Tangannya mengusap air matanya.
"Aku ambilkan sarapan untuk mas...cepat dimakan sblm dingin. Aku ikut ke bandara!" katanya lirih
"Ya sudah cepat mandi spy tidak terlalu siang" kataku
"Dia mundur untuk mengambil bajunya.
Aku kembali duduk diatas kursiku dan menyantap makanan yang dia bawakan. Nasi putih dengan oseng2x kacang panjang dan toge kedelai kecap dicampur dengan irisan tahu goreng. Makanan terasa enak sekali, Vira keluar kamar untuk mandi. Saat dia kembali, wajahnya sudah nampak segar.
"Maaf ya mas.....tadi aku tampar Mas Arjuna!" katanya sambil mendekat, tangannya dia kalungkan keleherku dari belakang. Kulit tangannya terasa segar dikulit leherku, efek dari suhu air kamar mandi.
"Iya...tidak apa-apa aku memang salah!" kataku membalasnya.
"Aku mukulnya terlalu
keras ya?" lanjutnya
"Tidak....! Sudah cepat bersiap-siap...! Banyak yang harus aku lakukan" kataku
"Jangan marah ya mas..?!?" katanya merajuk
"Iya....!" kataku menoleh kearahnya.
"Muaach!" bibirnya mendarat di pipiku. Tangannya memutar kepalaku kesisi lainnya "muach" dia cium
pipiku yang satunya. Dia mundur dari belakangku untuk memakai bajunya. Ketika aku selesai makan, Vira masih belum selesai. Aku turun sambil membawa piring kotorku dan gelas yang aku pakai semalam.
"Wulan.....siapkan lukisannya dibawah!" teriakku dalam perjalanan turun.
Bapak sedang berbicara dengan ibu saat aku turun, pembicaraan santai setiap pagi sambil minum teh hangat dan limpung, ubi jalar goreng.
"Pak......." kataku menyapanya
"Kamu mau berangkat ke bandara sekarang?" tanya bapak
"Iya pak, ........saya mau mampir ke Ibu Dibyo sebentar di
kantornya." kataku
"Oo? Mau apa kamu kesana?" tanya bapak
"Saya mau tawarkan lukisan dik Wulan" kataku menjawab
"Ada apa tidak kamu tawarkan langsung ke Pak Santosa?" tanya bapak
"Saya harus cari pelanggan lain pak, siapa tahu ada pelanggan lain yg mau membeli" kataku diplomasi
Wulan turun sambil membawa lukisan yang telah selesai dia lukis. Dengan senyum gembira, dia memamerkan kepada bapak. Bapak mengacungkan jempolnya kepada Wulan dengan wajah bangga. Pancaran kebanggaan bapak tercermin dari kilauan matanya yang sumringah.
"Kamu sedang lukis apa
sekarang?" tanya bapak kepada Wulan
"Saya tidak bisa ceritakan kepada bapak sebelum selesai, supaya ideku masih tetap berada dikepalaku.
Vira turun sambil membawa tas laptopku, dengan senyum diwajah Vira menyapa bapak dan ibu.
"Kamu tidak bosan liburan di Solo Vira?" tanya bapak
"Saya suka pakde, tapi mama minta saya cepat kembali ke Jakarta. Setiap hari mama telepon bilang kesepian, capek dan tidak punya teman." balasnya
Aku kaget juga mendengar jawabannya, karena selama ini aku tidak pernah dengan percakapan antara dia dan mamanya.
"Lah kamu mau
pulang kapan?" tanya bapak. "Liburan masih begitu panjang, bulan Januari baru masuk kembali sekolah toh?"
"Mungkin setelah saya pulang dari Tawangmangu saja" kata Vira menjawab cepat
"Lah kamu mau pergi ke Tawangmangu sama siapa?"
"Mas Arjuna janji mau antar saya kesana Pakde!
"Kapan kamu antar ke Tawangmangu mas?" tanya ibu
"Nanti waktu tanggal merah saja supaya tidak merepotkan jaga kios di bandara!" kataku
"Apa mau menginap juga disana?" tanya bapak
"Tidak........." kataku cepat
"Saya mau menginap 2 hari disana Mas.......!" kata Vira menyela
"Kenapa harus menginap?" tanyaku
"Aku mau photo-photo disana!" kata Vira
"Aku ikut kalau begitu?" Wulan ikut nimbrung
"Tidak usah dik......ibu tidak punya teman kalau kamu ikut ke Tawangmangu!" ibu protes.
"Sudah dulu pak....aku terlambat" kataku sambil mengulurkan tanganku
untuk mengambil lukisan Wulan. Lukisan yang belum di figura itu terasa ringan walaupun ukurannya agak besar.
"Hati-hati ya mas..........!" kata Wulan
"Iya......ada Vira yang memegangi lukisannya. Jangan khawatir." jawabku
"Kamu keberatan tidak membawa tas laptop itu?" tanyaku kepada Vira
"Tidak....aku bisa kok!" katanya
"Ya sudah...kita berangkat sekarang!" kataku sambil berpamitan kepada bapak dan ibu.
Aku mengarahkan sepeda motorku ke kantor Notaris Ibu Sudibyo di jalan Slamet Riyadi.
Sebagai salah satu Notaris yang paling ramai dan laku di Solo, Ibu Dibyo sangat disegani dan sering sibuk menemui klien. Saat aku datang ke kantornya, Ibu belum datang dan aku menunggu beberapa saat. Saat turun dari Toyota Camry warna hitam, aku berdiri menyambutnya didepan.
"Arjuna.....kebetulan sekali kamu datang kesini. Ada kiriman dari mbakmu untukmu. Kemaren baru datang!" kata Ibu Dibyo saat melihatku berdiri didepan pintu kantornya. "Sini ikut aku......." katanya
Aku mengikuti Ibu Dibyo kedalam ruangan kantornya. Hembusan angin dari mesin AC
membuat udara sangat sejuk dan nyaman. Ruangan sangat harum entah dari parfum yang ibu pakai atau parfum ruangan. Ruangan tertata rapi dan spotless sehingga memunculkan sebuah aura anggun dan nyaman. "Kamu tidak sekolah?" tanya ibu saat mengangkat telepon diatas mejanya.
"Sedang libur semester Bu." kataku menjawab
"Kamu tadi kesini ada apa? Kok tiba-tiba muncul dikantor? Apa kamu merasa bahwa ada kiriman datang untukmu?" kata ibu dengan senyum
"Tidak bu, saya mau tanya apakah ibu kenal dengan Pak Abdoelah Al-Aziz?"
Tiba2x Ibu memandangku dengan
penuh tanya. "Iya kenal, Notaris di Jalan Ledoksari toh?" tanyanya "Kenapa?"
"Anaknya Sophia sedang ada masalah, apakah ibu bisa bantu saya untuk bisa bertemu dengan Pak Abdoelah sekitar jam 3 sore?. Saya harus membantu anaknya supaya tidak kebablasan."
"Kebablasan.? maksudhya?"
"Bunuh diri bu?" kataku pendek
"Kamu kok tahu sampai sejauh itu?" tanya ibu
"Maaf Bu.....saya belum bisa cerita panjang"
"Ya sudah biar nanti Mbak Yuni yang akan buat reservasi untuk ketemu beliau. Beritahu beliau kalau kamu adalah keponakan Ibu" katanya
"Baik bu...." kataku lega
"Yun.........."kata ibu di interkom memanggil staffnya. "Masuk sini dulu!"
"Ya Bu.......buatkan janji Mas Arjuna ketemu dengan Pak Abdoelah sore nanti jam 3 sore. Pastikan bisa ketemu ya"
"Nggih Bu......pagi ini ada Pak Mardiono ketemu untuk penandatanganan jual beli jam 10"
Ibu melihat jam tangannya. "Ambilkan paket yang kemaren untuk Mas Arjuna. Minta Pak Mulyono mengambil di bagasi mobil"
"Sudah ....Arjuna mau apalagi?" katanya tegas.
"Sampun Bu.....saya pamit dulu"
"Kamu masih kirim email ke Mbakmu toh?"
"Iya masih Bu......!" kataku menjawab
"Ya sudah.......eehhh kamu tadi datang sama siapa?" tanya Ibu lagi
"Sama sepupu dari Jakarta, saya mau bawa lukisan ke Pak Santosa, juragan batik"
"Untuk apa kamu bawa kesana?"
"Beliau sering beli lukisan Wulan untuk di ekspor ke mancanegara"
"Wah kamu ini bisa dagang juga!
Coba bawa sini lukisannya, aku mau lihat.
Setelah minta ijin, aku segera melangkah keluar untuk mengambil lukisannya. Aku membawanya kedalam ruangan kantor & menunjukkan lukisan burung merak hijau yg megah itu.
"Kamu jual berapa lukisan ini ke Pak Santosa?" tanya ibu
"9 juta Bu"
"Pantas.....!! Lukisannya memang indah!"
"Ibu ngresakne nopo?" tanyaku ingin tahu
"Aku mau lukisan besar sebuah pemandangan gunung seperti di China dengan tebing-tebing yang tinggi menjulang."
"Ukuran berapa bu?" tanyaku ingin tahu
"Ada tidak ukuran 150 x 50?"
"Ada nanti bisa
dibuatkan sesuai keinginan ibu" kataku dengan sopan dan hormat
"Ya sudah nanti beritahu aku kalau sudah beli bahan2xnya aku beri contoh kartupos yang ada lukisan gunung yang aku mau."
"Baik Bu...saya mohon pamit. Terima kasih telah dibantu. Terima kasih juga untuk paketnya"
"Ojo lali maturnuwun karo mbakmu!" kata Ibu Dibyo
"Inggih Bu..!" kataku cepat
Aku berjalan keluar & menemukan paket kiriman dari Jerman berada dikursi dekat meja Mbak Yuni.
"Mbak Yuni, niki nggih paket kagem kulo?"
"Inggih mas..!"
"Tadi sudah dibuatkan janji sama Pak Abdoelah?"
"Iya sudah....nanti kalau sampai disana, Mas Arjuna ketemu dengan Mas Sugeng. Dia yang mengatur jadwalnya Pak Abdoelah.
"Baik mbak ....matur nuwun nggih!" kataku
Aku memberikan lukisan kepada Vira yang telah berdiri disampingku dan mengangkat paket yang ada diatas kursi untukku.
Sebelum aku menaiki sepeda motorku, aku menelepon Pak Santosa untuk memberitahu pengiriman lukisan.
Kebetulan beliau ada di kantor di jalan Selamet Riyadi juga, aku segera kesana.
"Mas.....kenapa bisa kenal dengan orang-orang tua seperti Ibu Notaris tadi?" tanya Vira dengan rasa
penasaran.
"Banyak yang bisa dipelajari dari orang-orang yang lebih tua. Aku belajar dari mereka supaya hidupku tidak sulit. Mereka mau dan rela memberi wejangan dan nasehat secara mereka aku hormati. Yang akan kita datangi nanti jauh lebih tua." jelasku
"Mas...aku diajak mlebu toh?" kata Vira sambil memegang lengan atasku "Aku ora gelem mbok tinggal ning njobo!" katanya sambil mendelik
"Iya...aku tadi tidak mengajakmu masuk karena Ibu orangnya sangat ketat. Dia tidak sembarangan membawa orang, kamu tadi tahu cara dia memandang!"
kataku memberitahu
"Iya...aku tadi juga merasa tidak nyaman kalau ikut mas masuk kedalam ruangannya"
Aku menjalankan sepeda motorku kearah kanan dan menyusuri jalanan kecil disamping jalan utama karena melawan arah. Jarak ke toko Batik Damar Hati tidaklah jauh sehingga
kami sampai disana sekitar 10 menit saja.
"Ayo kita turun dan ikut aku!" kataku mengajaknya
Seorang wanita menyambut kami dipintu depan toko itu.
"Mas dibantu mas?" tanya mbak Marni, namanya tercantum didada kanan baju seragamnya
"Iya Mbak Marni...saya ada janji bertemu dengan
Pak Santosa disini. Apakah beliau sudah datang?" tanyaku dengan sopan
"Sudah mas...baru saja. Tunggu sebentar ya, saya akan hubungi melalui intercom. Mbak Marni berjalan kearah meja dan mengangkat telephone. Sesaat kemudian dia berbalik kearah kami. Dengan menggunakan gerakan
tangan, Mbak Marni memberi aba-aba kepada kami untuk mengikutinya. Seragam batik yang dia pakai sangat press body sehingga terlihat lekuk tubuhnya terlihat dari belakang.
Kami menaiki tangga ke lantai dua dan berhenti di sebuah pintu kayu berukiran coklat. Mbak Marni mendorong
setelah mengetoknya dua kali.
"Mari mas silahkan masuk?" katanya mempersilahkan kami masuk.
"Selamat Pagi Pak Santosa....?" kataku berjalan mendekat kepadanya. Aku menjabat tangannya dan Vira menyusulku melakukan hal yang sama.
"Siapa ini...? Adikmu yang melukis bukan?" tanya Pak
Santosa sambil memandangi wajah Vira.
"Bukan.....Ini adik sepupu keponakan ibu. Kebetulan sedang berlibur di Solo."
"Loh memangnya tinggal dimana?" tanya Pak Santosa
"Dia tinggal di Jakarta, bapaknya bekerja di kantor keuangan" kataku menjelaskan
"Mana lukisannya?"
"Ini Pak!"
Aku membuka Lukisan burung merak dengan warna hijau dominan serta warna kuning dan merah. Wajah Pak Santosa seperti berbinar setelah melihat lukisan itu. Matanya sangat cerah sesaat memandang lukisan itu.
"Luar biasa.....! Aku suka sekali lukisan ini. Berapa aku harus transfer?"
"9 Juta Pak...." kataku memberitahu
Mendengar jawabanku, wajah Vira terlihat agak kaget mungkin karena tidak menyangka bahwa harga jual lukisan wulan bisa semahal itu.
"Ya...nanti aku transfer langsung ke rekeningmu seperti biasa toh?" tanyanya
"Iya Pak San, terima kasih.
Saya mau tanya kalau saya mau belajar jual beli emas saya bisa belajar dengan siapa ya pak?"
"Emas...? Kamu mau trading emas fisik atau non fisik?" tanya Pak Santosa
"Saya tidak mengerti pak......?" kataku menjawab jujur
"Ya sudah ...aku beri kamu nomor telepon Tante Aneke,
dia ini yang punya toko Mas Janoko di Coyudan. Coba nanti kamu telepon dan tanya-tanya siapa tahu beliau bisa membantu. Memangnya kamu mau jual beli emas ya? hahahahaaa...kamu ini muda tapi cara berpikirmu jauh diluar kepala anak-anak seusiamu"
"Kalau jual beli saham, dimana?"
Pak Santosa memandangku sesaat & tiba-tiba dia tersenyum lagi. "Kamu ini umur berapa?" tanyanya
"Tahun depan 18 tahun Pak..!"
"Oh..bisa" katanya tiba-tiba "Tapi kamu harus punya NPWP untuk bisa membuka account di Mandiri Sekuritas. Sudah kamu hubungi Mandiri sekuritas belajarlah
langsung dengan pakar trading disana. Kalau kamu punya dana memang sebaiknya kamu bisa investasikan di pasar saham."
"Baik Pak Santosa, terima kasih telah membantu"
"Arjuna ....coba hubungi mas Reynaldy di Mandiri Sekuritas, beritahu kalau kamu dapat nomor teleponnya dari aku.
Kalau ada kesulitan beritahu aku."
Aku tersenyum, nama Pak Santosa adalah sebuah jaminan pasti tidak akan salah. Tapi aku juga harus bijak tidak asal obral nama orang.
Aku berpamitan kepada Pak Santosa setelah mendapatkan nomor kedua orang yang itu.
Diluar gedung toko batik,
Vira menanyakan harga lukisan Wulan.
"Mas..harga lukisan tadi 9 juta?" tanyanya dengan heran "Kenapa bisa mahal sekali?" tanyanya
"Aku juga heran...kenapa Pak San juga mau membelinya" kataku datar
"Mas mau belajar trading pasar saham ya?" tanyanya mengejar. "Kenapa mas ini aneh?"
"Aneh bagaimana?" tanyaku dengan cuek
"Aku tidak tahu cara menggambarkannya, tapi aku rasa Mas Arjuna keren....!!!" katanya bangga
Kami berangkat ke bandara dan sesampai disana kami segera membuka kios. Vira bebersih rak dan menyapu lantai sementara aku langsung membuka laptopku.
Aku mencari beberapa artikel tentang perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia dan ingin belajar dari sana tentang bagaimana menjadi investor. Berapa modal dasar untuk bisa berinvestasi di pasar saham di Indonesia. Ternyata tidak seberapa mahal untuk memulai. Penelitianku untuk
mengetahui lebih lanjut bagaimana pasar saham bergerak serta ambil keuntungan dan menghindari kerugian bisa dipelajari disana. Kemudian aku membuka halaman website edisi awal. Aku mencari informasi tentang perdangan saham di bursa efek Indonesia dgn kata kunci "Pasar saham
Indonesia hari ini". Muncullah berbagai artikel yang berhubungan dengan kata kunci yang aku masukkan. Beberapa saham blue chips seperti BBCA, ULVR dan BBRI telah turun akibat respon pasar terkait penanganan investasi yang buruk di Indonesia. Sementara beberapa saham naik karena
peningkatan permintaan yang besar hasil tambang batubara, nikel dan logam lainnya.
Prediksi harga saham blue chips akan tergerus masih membayangi hingga beberapa hari ke depan.
Ketika aku membaca artikel ini, otakku langsung memutar waktunya untuk menjual saham. Artikel yang
kubaca terbit untuk edisi hari selasa besok. Dengan berbagai pertimbangan akhirnya aku ingin segera menelepon Mandiri Sekuritas. Ingin segera tahu bagaimana cara membuka dan memulai bergabung di investasi pasar saham.
Aku berdiri dari kursiku dan termenung sejenak langkah apa
yang harus aku ambil hari ini. Sayang sekali aku harus terkunci di kios ini, jelas sangat menghambar gerakanku untuk maju. Aku akhirnya menelepon ibuku untuk membuka rekening baru di Bank Mandiri.
"Untuk apa?" respon pertama yang kudengar dari ibu.
"Bu....." kataku menenangkannya
"Saya ingin berinvestasi di pasar saham."
"Pasar saham itu apa....uangmu tidak banyak untuk apa kamu mau beli saham." jawab ibu pesimis
"Uangmu hilang semua nanti kalau kamu tidak pintar." kata ibu lebih lanjut.
"Ibu ........modalnya hanya 500 ribu saja. Ibu jangan kuatir"
kataku mencoba menenangkannya.
"Bapak punya NPWP kan bu?"tanyaku
"Iya...untuk apa NPWP segala?" tanya ibu
"Saya perlu NPWP beliau untuk membuka rekening Bursa Efek. Bisa tidak bapak antar saya ke kantor Mandiri Sekuritas besok?"
"Coba kamu telepon sendiri bapakmu" kata ibu dengan
suara agak jengkel.
*CATATAN: Orang tua selalu sensitif merespon segala hal yang berhubungan dengan uang. Mereka merasa repot bila harus mengeluarkan biaya tambahan. Terkadang komunikasi diperlukan supaya ada pemahaman lebih lanjut antara orang tua dan anak khususnya bila itu
menyangkut tentang uang.
"Ya bu..saya telepon bapak saja langsung"
"Ya sudah....." kata ibu sambil menutup telepon
Aku menelepon bapak segera setelah percakapakan dengan ibu berakhir. Bapak sedang berada di Karang Pandan saat aku menelepon, jaringan telepon sangat buruk sehingga
percakapan tidak begitu lancar. Bapak akan menelepon saat makan siang saja. Vira memandangiku saat aku menelepon ibu dan menguping pembicaraanku. Rasa ingin tahunya sempat membuatnya bingung. Dia menghampiriku saat aku termenung di kursiku. "Tiiitt" sebuah tanda SMS masuk
memberitahu bahwa pulsa tersisa hanya 1500 rupiah.
"Vira aku pinjam HPmu, ada tidak pulsa dinomormu?" tanyaku
"Ada tapi mas harus ganti nanti ya?" katanya
Aku mengangguk dan memencet nomor telepon yang aku dapatkan dari Pak Santosa. Aku mengesampingkan untuk jual beli emas
jadi aku tidak akan menelepon Tante Anneke.
"Mas......jadi masuk di pasar saham?" tanya Vira tiba tiba. Tangannya dia tempelkan di pundakku. Tangan lembutnya terasa berat mantap dan menenangkan. Tangan wanita memang berbeda, selalu membuat jiwa pria yang bergelora menjadi tenang
itulah yang aku rasakan saat sentuhan tangan Vira terasa dipundakku. Dengan segala kelembutan dan kekuatan, wanita mampu melengkapi pria dan itu memang terbukti. Tetapi bagi yang mengejar kecantikan dan kepuasan sex, bberapa orang punya pendapat berbeda.
Kecantikan dan daya tarik
istri sah akan memudar di tahun pertama. Kecantikan istri tidak sah lebih menggairahkan dan meninabobokkan. Kecantikan pelacur lebih kuat daripada kecantikan dan gairah istri tidak sah. Tetapi yang paling menggairahkan dan melontarkan pria ke awang2x adalah wanita perkosaan.
Ada-ada saja pendapat para pria, entah yang hidung belang atau petualang.
"Riiiingggg........riiiiingggg......!" HPku berteriak
"Ya Pak..........?" kataku menjawab dengan sopan
"Kamu tadi ada perlu apa?" tanya bapak
"Begini pak, saya mau minta tolong bapak buka rekening di bursa
efek. Saya mau belajar berinvestasi di pasar saham" kataku
"Kowe ora wedhi kalah?" tanya bapak
"Yang penting buka dulu pak, itu syaratnya untuk belajar pasar saham. Saya hanya akan memasukkan limaratus ribu sebagai dana awal.
"Ya sebentar lagi bapak pulang. Tunggu sekitar 1,5 jam
Kamu dimana sekarang?" tanya bapak
"Saya sudah di bandara sama Vira pak?" jawabku
"Persyaratannya apa utk buka rekening di bursa efek, hanya buka rekening saja di Bank Mandiri sama nomor NPWP."
"Ya sudah, ketemu di Bank Mandiri Slamet Riyadi 1,5 jam lagi" kata bapak memberitahu
"Minta Vira menunggu di kios saja dulu, tidak perlu ikut" kata bapak
"Iya Pak...nanti saya minta begitu" kataku sambil memandang ke arah Vira.
"Vi...aku mau ke Bank Mandiri dulu sama Bapak, kamu bisa jaga kios sebentar ya?" tanyaku setelah bapak menutup telepon.
"Jangan terlalu
lama ya mas?" katanya
"Iya aku akan segera kembali setelah urusan selesai" kataku
Sekitar jam setengah satu aku meninggalkan kios di bandara dan mengarah ke Bank Mandiri. Bapak tiba disana sekitar 15 menit kemudian. Bapak terlihat segar saat ketemu aku di Bank Mandiri.
"Bapak bawa KTP sama NPWP kan?" tanyaku
"Iya ...ada di dompet" katanya
"Bapak punya uang berapa?" tanyaku ingin tahu
"Kamu perlu berapa?" tanya bapak balik
"5 juta saja Pak!" kataku
"Kok akeh tenan .....?" katanya heran
"Saya sebenarnya butuh 10 juta pak!"
"Ngawur kowe! katanya
sambil tertawa.
Aku tidak menanggapi tawanya bapak, dan bapak paham bahwa aku sedang serius.
"Pak saya menang bola 5 juta!" kataku memberitahu
"Oh.....endi duite?" kata bapak menanyakan lagi
"Besok baru diberikan sekitar jam 2, bapak bisa bantu ambil?" tanyaku
"Saya perlu 10
juta sekarang pak!" kataku serius
"Ya sudah.....bapak suruh ibu transfer 5 juta ke rekening baru di Mandiri nanti segera setelah aktif."
"Saya perlu hari ini juga pak sebelum jam 3 sore" kataku memberitahu bapak supaya bisa secara pasti untuk membeli saham."
"Ya bapak usahakan"
"Bapak buka dulu Rekening di Bank Mandiri, saya naik ke lantai 4 untuk ketemu Pak Reynaldi. Kalau nanti Bapak telah selesai telepon saya supaya kita bisa menghemat waktu." kataku memintanya
Bapak mengangguk, aku berjalan ke arah lift. Seorang satpam menanyakan aku saat aku akan
melangkah ke dalam lift. Aku menjawab bahwa aku akan ke lantai 4 Mandiri sekuritas. Pak Satpam memberitahuku untuk memencet tombol no 5. Aku segera melakukannya dan ternyata memang tidak ada tombol angka 4. Kepercayaan orang China ternyata juga diterapkan digedung ini. Angka 4
dianggap sial sehingga harus dihindari penggunaanya didalam dunia usaha.
Ruangan di lantai 5 cukup tenang, tidak banyak kegiatan. Hanya seorang wanita sdang berdiri di meja counter reseption.
"Selamat siang, bisa dibantu Mas?" tanya Mbak Ambarwati, name tagnya yang di dada kanan
memberitahuku namanya dgn sangat jelas.
"Saya mau ketemu Pak Reynaldi bisa Mbak Ambar?"
"Pak Reynaldy sedang istirahat, baru kembali lima belas menit lagi" katanya "Silahkan duduk dulu, sebentar lagi beliau kembali"
"Terima kasih Mbak Ambar!"
"Mas sudah janjian ketemu?" tanyanya
"Belum, tapi mungkin Pak Santosa telah memberitahu Pak Reynaldi nya" jawabku pendek
"Pak Santosa.....? Yang mana ya?"
"Pak Santosa pengusaha Batik Damar Hati"
"Oh...iya!" katanya sambil membuka buku didepannya.
"Mas Arjuna ya?" katanya dengan senyum ramah
"Iya mbak,Saya Arjuna"
Ambarwati nampak lebih sopan saat aku mengkonfirmasi bahwa aku adalah orang yang dibawa oleh Pak San. Teleponku berdering sesaat kemudian. Bapak meneleponku dan menanyakan keberadaanku. Aku meminta bapak untuk naik keatas, tetapi bapak justru memintaku untuk turun. Aku pamit
ke Ambarwati bahwa aku akan segera kembali setelah menyelesaikan pembuatan rekening Mandiri.
Aku mencari bapak dan menemukan masih berada di kounter customer service.
"Ya pak?" tanyaku
"Kamu perlu internet banking tidak?" tanya bapak. Kalau kamu perlu, Mbak ini akan bantu
membuatnya.
"Mungkin untuk saat ini belum perlu?" kataku
"Baik kalau begitu, jadi tidak perlu dibuatkan ya. Bapak mau dibuatkan kartu ATM jenis apa? Silver, Gold atau Platinum?" tanya Mbak Sylvia.
"Apa bedanya mbak?" tanyaku
"Jumlah transefer limit saja yang membedakan, Yang
platinum bisa transfer hingga 50 juta.
"Oh kalau begitu saya ambil yang platinum saja" kataku lugas
Dengan cekatan Mbak Silvya membantu menyelesaikan pembukaan rekening. Kartu dan buku tabungan diberikan kepadaku segera setelah semua urusan administrasi selesai.
Bapak menemaniku ke lantai 5 untuk bertemu dengan Pak Reynaldi. Ternyata dia masih mudah dan memintaku untuk memanggilnya mas.
Dia membantuku untuk membuka rekening efek sayangnya aku tak bisa menggunakan rekening itu sebelum di validasi dari kantor pusat.
"Berapa lama menunggu
validasinya mas?" tanyaku
"Kurang lebih 3 hari, kenapa terlalu lama menunggu ya?" tanya Mas Reynaldi.
"Iya.....mas bisa bantu saya tidak, saya hari ini mau beli saham PTBA" tanyaku
"Kenapa tidak beli saham blue chips, lebih aman?" tanya Mas Reynaldy.
"Beberapa saham blue chips
turun banyak akhir perdagangan ini Mas. Sementara saham pertambangan akan naik hari ini, terutama saham PTBA. Saya mau beli 200 lot kataku"
"Begini saya akan menggunakan akun saya untuk membelikan saham Mas Arjuna, tapi saya minta komisi untuk pembelian dan penjualan saham ini"
"Mas minta komisi berapa?" tanyaku ingin tahu.
"25% dari keuntungan!" jawabnya singkat.
"Coba periksa sekarang harga saham PTBA berapa?" tanyaku ingin tahu
Mas Reynaldi mengetik di keyboard laptopnya dan mengatakan bahwa harga saham PTBA adalah 2675 persaham."
"Kalau saya beli
200 lot kira kira berapa uang yang harus saya transfer?" tanyaku
"Kurang lebih 55 juta mas" kata mas Reynaldi
"Wah kurang banyak........hahahaha saya hanya ada 10 juta" jawabku agak malu.
"Saya hitungkan ya?" dia menawarkan, tangannya mengetik dengan cepat. 35 lot dengan harga
sekitar 9, 362,500"
"Ya sudah kalau begitu, saya mau titip beli sama Mas Reynaldi saja. Saya bikinkan tanda terima ya mas, Silahkan transfer ke rekening efek saya disini" katanya memberitahu
Bapak melakukan transfer segera setelah mendapat nomor rekening a/n Reynaldi Gunawan
Setelah transfer masuk, Mas Reynaldi memberikan aku tanda terima dan membelikan saham PTBA dari akun efeknya. "Mas Arjuna kok tahu info kalau saham blue chips akan turun darimana?" tanya Mas Reynaldi. "Ada yang memberitahu prediksi pasar saham hari ini. Kalau mas Reynaldi punya
saham BBCA dan BBRI sebaiknya lepas saja sekarang. Penurunannya tajam sekali di akhir sesi kedua perdagangan. " Dia hanya mengangguk saja seolah-olah omonganku sesuatu yang impossible. "Oh ya mas.....bisa tidak saham PTBA diantrikan jual di harga 2965 mulai pagi buka langsung
tolong antri jual ya" kataku "Baik mas...saya akan konfirmasi besok pagi melalui HP ya mas" kata Mas Reynaldy. Aku pamit setelah menyimpan uang tanda terima dari Mas Reynaldy" Bapak mengikuti aku sambil memandangi apa yang baru saja aku lakukan dengan mata penuh keheranan.
"Jun,............"kata bapak
"Nggih pak.....?" tanyaku segera
"Ayo kita cari makan siang dulu, ada nasi rames enak dibelakang Sriwedari."
"Kasihan Vira pak, hari ini saya mau ketemu Notaris Pak Abdoelah."
"Maksudmu Pak Abdoelah Al-Aziz yang di Ledoksari itu?" tanya bapak
"Iya
bapak kok tahu?" tanyaku heran
"Bapak ini kan makelar tanah. Paling tidak tahu nama2x pejabat pembuat akte tanah. Kenapa kamu mau ketemu beliau?" tanya bapak
"Membantu anaknya, ada masalah sedikit dengan pacarnya"
"Opo kowe kenal?"
"Tidak......kenapa kamu mau ikut campur!"
"Ini tanggung jawab moral pak, kadang kita harus agak keluar batas garis untuk melakukan kebaikan demi keselamatan mahluk Allah" kataku
"Pak nanti saya mau ijin tutup kios setengah hari. Setelah saya jemput Vira di bandara saya tak bisa kembali untuk membukanya"
"Ya sudah, besok
Widya akan kembali kerja"
"Pak...bulan January nanti saya ada les pemantapan Ujian Nasional. Saya tidak akan bisa meloper koran lagi. Mungkin bapak harus segera mencarikan pengganti untuk ruteku. Kalau bisa mulai minggu ini Pak, saya punya banyak yang harus saya lakukan." katak
kataku memberitahu bapak.
"Ya, nanti suruh carikan Pak Atmo. Mungkin ada keponakan atau tetangga yang butuh pekerjaan sehingga bisa menggantikanmu"
"Sudah dulu pak, saya harus segera kembali ke bandara"
"Kamu tidak mau makan dulu sama bapak?" tanyanya sekali lagi #ceritadewasa
"Lain kali saja pak" jawabku
Kami berpisah di pelataran parkir, aku kembali ke bandara sesegera mungkin.
Sesampai di bandara, Vira menanyaiku tentang apa saja yang aku kerjakan. Dengan pelan aku ceritakan seperlunya tanpa membicarakan website edisi-awal
"Mas..aku juga mau diajari
main saham seperti Mas Arjuna lakukan" katanya
"Kamu tahu sendiri.......baru sekarang terjun ke dunia saham. Bagaimana aku bisa mengajarimu?" kataku berdiplomasi
"Tapi kelihatannya mas mau menang besar!"
"Aaaah itu hanya persepsimu saja" kataku sambil tertawa
"Aku ngga mau
tertinggal oleh Mas Arjuna. Aku harus merengek terus ke Mas Arjuna sampai aku dapat apa yang Mas Arjuna dapat" tegasnya
"Tentu saja.....apa yang aku dapat kamu juga pasti dapat"
"Sekarang mau kemana lagi?" tanya Vira "Sudah hampir jam setengah tiga. Mas Arjuna ada janjian dengan
Notaris Abdoellah.
"Iya...ayo kita tutup kiosnya, terus kita cari makan dulu"
"Pakdhe tidak marah, kita tutup kiosnya?"
"Aku tadi sudah bicara dengan bapak, bapak mengijinkan aku tutup cepat hari ini"
Kita meninggalkan bandara dan mampir ke rumah makan timlo didekat ledoksari.
Tepat jam 3 kurang sepuluh menit, kamu telah berada di kantor Notaris Abdoellah. Aku agak gugup memulai bicara dengan Pak Aboellah, untungnya aku datang lebih awal sehingga aku bisa menetralisir rasa gugupku.
Mas Sugeng yang harus aku temui berkulit hitam dan rambut keriting.
namun penampilannya sangat bersih dan berkualitas. Cara berbicaranya juga bagus dengan artikulasi suara yang jelas.
"Ohhh Mas Arjuna ya? Keponakan Ibu Soedibyo?"
"Benar Mas Sugeng, Bapak ada?"
"Sedang ada tamu....mungkin beberapa menit lagi sudah selesai. Mas Arjuna orang
terakhir hari ini. Mas Arjuna ada perlu apa ketemu bapak?" tanya Mas Sugeng kepadaku
Sebelum aku sempat menjawab seorang wanita keluar dari sebuah mobil dan membanting pintu mobil dengan terlihat marah dan jengkel.
Mas Sugeng menengok kearahnya dan akupun mengarahkan pandanganku
kearahnya juga. Wanita muda dengan warna jilbab dan baju yang sama terlihat di artikel edisi awal.
"Sophia...!" kataku tak terkendali, nama itu keluar dari mulutku dan Mas Sugeng mengiyakan bahwa itu adalah Sophia anaknya Pak Abdoellah.
Pintu masuk ke ruangan Pak Aboellah terbuka
tamunya berjalan keluar sambil tertawa. Mataku memandang sosok Pak Abdoellah yang berperawakan tinggi kurus khas seorang keturunan Arab. Rambut putihnya dan sorot mata tajam memandang kearahku dengan senyum ramah.
"Mas Sugeng segera memintaku untuk masuk ke ruangan Pak Abdoellah
sementara dia langsung melayani tamu yang baru saja keluar dari ruangannya.
"Pak Abdoellah, saya Arjuna keponakan Ibu Sudibyo" kataku sambil mengulurkan tangan.
Beliau menjabat tanganku dengan mempersilahkan aku duduk sambil menanyakan apa yang beliau bisa bantu. Aku mengeluarkan
handphoneku dan menunjukkan photo dan artikel tentang bunuh diri yang akan dilakukan putrinya sore itu.
"Saya tadi baru saja melihat Mbak Sophia pulang sambil membanting pintu mobil. Nampaknya dia sedang marah dan terlihat sangat jengkel"
"Ini anak saya...didepan kantor ini"
Wajahnya berubah cemas, tangannya mengambil gagang telepon dan memencet dengan tangan agak gemetar. Nada intercom terdengar
"Hallo ma..! Ada Sophia disitu?" kata Pak Abdoellah
"Iya baru saja naik keatas, ada apa? kok terdengar sangat mencekam begitu?"
"Temani dia ...dia sedang
ada masalah. Aku akan segera naik setelah ini"
"Pak........" kataku setelah Pak Abdoellah meletakkan gagang telepon. "Ada sebuah surat perpisahan untuk bapak dan ibu yang Mbak sophia tulis. Dia menaruhnya dikantong jaket almamater. Silahkan dicek saja dulu apakah surat itu ada.
"Saya pamit dulu pak, semoga kejadian ini tidak terjadi seperti apa yang terlihat tadi" kataku berdiri
Beliau berdiri dan mengantarku ke depan sambil bicara dengan Mas Sugeng untuk mencatat nomor HPku.
Mas Sugeng agak heran dengan kegugupan Pak Abdoellah yang segera naik menuju
kelantai atas. Aku berpamitan ke Mas Sugeng setelah meninggalkan no HPku kepadanya.
Perasaanku sangat lega setelah bisa memberitahukan apa yang akan terjadi kepada keluarga Pak Abdoellah. Selanjutnya tinggal beliau dan istri yang akan bertindak untuk menyelamatkan putrinya.
Sekitar jam 5 sore,dering telepon terdengar dari kantong celanaku. Aku sedang berada di sebuah toko membeli pulsa.
"Mas Arjuna..perkiraan anda benar. BBCA, BBRI dan BMRI serta saham perbankan rontok di akhir sesi perdagangan. Tapi saya tidak menjual saham2x itu karena terlambat.
"Oh ya...mungkin hanya kebetulan saja Mas Reynaldi" kataku mencoba berdiplomasi. "Jangan lupa saham titipan saya ya mas, tolong lakukan seperti yang saya minta" kataku mengingatkan. Aku menutup percakapan setelah beberapa saat kemudian. Belum sempat aku memasukkan HPku ke kantong
panggilan telepon lain masuk.
"Arjuna....?!" terdengar suara Pak Santosa pemilik perusahaan batik.
"Nggih Pak San.....pripun?" tanyaku agak cukup keras karena suara kendaraan yang lewat
"Aku sudah transfer uang lukisanmu"
"Terima kasih Pak San, Terima kasih banyak!"
"Kamu sudah
ketemu dengan Mas Reynaldy yang di Mandiri Sekuritas ya?"
"Iya ........tadi siang saya kesana sama bapak untuk membuka rekening efek tapi tidak bisa langsung aktif.
Saya minta pinjam untuk dibantu transaksi pembelian saham PTBA untuk saya jual besok."
"Infomu ini apa akurat?"
tanya Pak San
"Saya tak bisa memastikan akurat atau tidak Pak, saya hanya memprediksi karena beberapa faktor shingga saya punya kesimpulan sampai ketitik itu."
"Terus prediksi bahwa sektor perbankan akan turun itu disebabkan oleh apa kok kamu beritahu Mas Reynaldi untuk jual BBCA
"Oh itu karena ada sentimen negatif atas keputusan pemerintah untuk menaikkan pajak dan pengetatan kebijakan keuangan & memang benar kan, saham saham sektor keuangan berguguran sore ini.
"Jadi menurutmu saham PTBA bisa dibeli?" tanya Pak San
"Saya rasa demikian Pak San, jangan
ditahan terlalu lama saham PTBA, saya hanya akan profit taking saja sebab saya perlu dana Pak San.
"Coba kamu beritahu saya kalau ada pergerakan saham yg menguntungkan" kata Pak San
"Baik Pak saya kabari bila kebetulan ada info menarik"
"Kamu sudah telepon Tante Anneke belum?"
"Orangnya tadi barusan telepon aku, menunggu teleponmu hari ini. Awas hati-hati sama dia, jgn sampai terjerat oleh kecantikannya." Pak San mewanti-wanti dengan suara memperingatkan tetapi diakhiri dengan suara renyah.
"Tante Anneke umur berapa Pak San?" tanyaku berani
"29 tahun
tapi suaminya seumurku, bisa jadi singa betina lapar" peringatnya
"Baik Pak San...saya ingat nasehat Pak San" kataku sambil tertawa juga
Percakapan kami akhiri setelah beliau memutuskan untuk ikut membeli saham PTBA saat itu juga.
Setelah membayar pulsa, aku mengantar pulang Vira
Aku baru tersadar bahwa aku meninggalkan paket yang diberikan Ibu Dibyo di kios. Aku memutuskan untuk kembali ke bandara dan mengambilnya, takutnya dibuka sama Mbak Widya dan dikira dagangan.
Dengan tanpa beban aku membuka kembali kios dan mendapati paketku di sudut belakang kios
Aku ingin membuka paket itu karena penasaran namun aku akhirnya memutuskan untuk membukanya dirumah saja.
Aku membuka laptopku dan membaca beberapa artikel di laman website Edisi-Awal. Aku membaca artikel tentang perdangan Emas berjangka. Tetapi aku tidak begitu mengerti tentang
hal itu. Kesimpulannya untuk perdangan emas, aku cukup tahu jika harga turun atau naik.
Aku iseng menelepon Tante Anneke seperti yang di kenalkan sama Pak San.
"Hallo......selamat sore Tante Anneke" kataku agak gugup
"Siapa ini?" tanyanya dengan suara ceria
"Saya Arjuna tante
saya diberitahu nomor telepon Tante Anneke sama Pak Santosa."
"Oh Pak San ...perusahaan Batik Damar Hati ya?"
"Benar tante....!"
"Weeeiii....kamu umur berapa Arjuna?" tanyanya cekatan
"Tahun depan 18 tahun Tante.."
"Jangan panggil aku tante, terdengar tua. Panggil Cik Anne saja
apalagi aku tidak kawin sama ommu, hahahahaha"
"Baik Cik, saya mau tanya apa Cik Anne sering trading emas?" tanyaku
"Aku tidak trading sendiri ada broker yang membantu, memang kenapa, apa kamu juga tertarik ikut?"
"Tidak cik, aku hanya ingin tahu dan mau belajar tentang trading
emas. Modalnya juga besar untuk trading emas. Mungkin nabung saja emas batangan supaya bisa ada modal di hari tua" kataku sekenanya
"Saya besok mau ke toko cik, aku mau belikan kalung untuk sepupuku." kataku
"Iya datang saja....nanti aku kasih harga bagus untuk kamu"
"Ada emas
batangan juga ditoko cik?" tanyaku
"Ada tapi kamu harus memberitahu sehari sebelum transaksi supaya kita bisa sediakan barangnya. Pembayaran dilakukan secara tunai. Ngerti ya?"
"Kenapa harus tunai cik?"
"Maaf ....terus terang sama kamu. Aku menghindari pajak, terlalu riskan bila
transaksi terlalu vulgar. Ngerti kan maksudku?" katanya
"Baik Cik, terima kasih"
"Ini nomor HPmu sendiri kan?" tanyanya
"Mmmmm....iya!"
"Kok kedengaran ribut sekali disitu, dimana kamu?"
"Saya di Bandara cik........!"
"Oh mau berangkat kemana?"
"Tidak.....saya punya kios disini
"Oh kios apa?"
"Kios majalah dan koran"
"Ohhh......okay sampai jam berapa kamu biasa disana?"
"Tidak tentu, saya menggantikan jaga, pegawai bapak sedang cuti menikah seminggu jadi aku yang menggantikan sementara"
"Baguslah....sudah bisa bantu orang tua"
"Ya...sedikit-sedikit"
Suara Cik Anne sangat bening dan friendly, rasanya sangat hangat dihati, menempel disegala sisi. Ada rasa ingin mengetahui lebih lanjut tentangnya. Mungkin langkah tepat bila aku langsung ketokonya.
Aku menulis sebuah email kepada Mbak Ratih untuk memberitahu bahwa paket darinya
telah aku terima, aku juga menceritakan tentang kegiatan baruku berhubungan dengan stock exchange. Aku menanyakan apakah Mbak Ratih juga menginvestasikan uangnya di pasar saham. Aku yakin Mbak Ratih belum bangun jam segini di America sehingga tidak mungkin akan segera membalas
emailku.
Handphoneku berdering saat aku sedang mengirimkan email yang aku tulis. Nomor yang muncul dilayar tidak dikenal sehingga aku menjawab biasa saja.
"Hallo....?" kataku
"Mas Arjuna.......?" namaku disebut dengan nada akhir bertanya. Suaranya terdengar asing ditelingaku
"Benar ....saya sendiri. Saya bicara dengan siapa ya?" tanyaku ramah dan sopan
"Saya Abdoellah.....Mas Arjuna"
"Pak Abdoellah......?" suaraku tercekat saat menyebut namanya. "Pak Abdoellah, ada yang bisa dibantu?" tanyaku
"Kamu sudah membantuku nak.....! Terima kasih banyak"
Suaranya agak parau seperti habis menangis.
"Saya sdah telepon Ibu Sudibyo untuk berterima kasih kepada beliau, beruntung punya keponakan seperti Mas Arjuna. Kalau ada waktu, saya ingin bertemu malam ini dirumah untuk makan malam. Mas Arjuna ada waktu tidak" katanya to the point
"Maaf Pak..saya sedang berada di bandara, mungkin lain kali saja pak."
"Oh....pantas baiklah kalau begitu nanti sekembali saja baru ketemu?" kata Pak Abdoellah "Terima kasih Mas Arjuna, selamat jalan"
"Sama-sama Pak, selamat malam" kataku membalasnya. Aku tak mampu untuk tidak
tersenyum mendengar kata2x Pak Abdoellah.
Aku tidak ingin mengambil keuntungan dari bantuan yang aku telah lakukan. Aku rasa aku tlh cukup mendapat apa yang aku peroleh dari Edisi awal melalui informasi dan artikel yg aku baca sehingga appresiasi apapun diluar itu aku hindari.
HARI PERTAMA MBAK WIDYA KEMBALI BEKERJA

Hari selasa pagi saat aku turun dari lantai dua, ibu sedang berbicara dengan Pak Atmo. Disampingnya ada seorang anak berumur sekitar 15 tahun, dia memperhatikan percakapan antara Pak Atmo dan ibu dan aku baru sadar bahwa dia yang akan
menggantikanku mengantar koran.
"Pak Atmo......" kataku menyapa saat aku mendekati ibu
"Mas Arjuna......ini Andi yang mau membantu ibu mengantar koran" katanya dengan senyum senang
"Umur berapa dia Pak" tanyaku
"Sudah enambelas tahun Mas"
"Rute pengantaran koranku jauh loh!"
"Dia punya sepeda motor mas, sekolahnya siang jadi dia bisa belajar bekerja pagi hari"
"Andi......kamu sekolah dimana?"
"Saya di SMU PGRI 1 mas" jawab Andi dengan sopan
Aku suka Andi sejak awal aku melihatnya. Tipikal anak muda seperti aku yang mau mencoba dan berusaha berjuang
Sorot matanya memberitahuku bahwa dia anak yang jujur, dan aku suka dia mau bekerja menggantikanku.
Ibu melanjutkan berbicara dgn Pak Atmo, Andi membantuku mengeluarkan sepeda motorku. Aku memberinya beberapa perintah apa yang harus dia lakukan sebelum berangkat mengantar koran.
Tangannya cekatan saat perintahku untuk menaikkan bagian koran yang akan kita antar ke motornya. Kita membagi kuota kiriman menjadi dua, sebagian dia bawa sendiri diatas motornya. Sebagian aku membawanya, sehingga aku bisa menunjukkan bagaimana melempar koran tepat didepan pintu.
Dengan sigap dia menirukan apa yang aku lakukan. Diatas motorku, tali rafia yang telah aku suwir kecil2x untuk menali koran selalu tersedia. Aku memberitahu dia untuk bersikap sopan. Bila pemilik rumah ada ditempat jangan dilempar, jangan lupa untuk selalu menyapa karena itu
adalah rasa hormat kita kepada mereka. Kita mendapatkan uang dari mereka, tanpa mereka kita tidak bisa mendapatkan uang jajan. Terkadang mereka memberi kita sesuatu sebagai bonus mengagetkan dan tidak kita sangka2x.
Perjalanan loper koran pagi itu agak lambat bagiku karena
harus mengajari Andi sebagai penggantiku nantinya.
Aku pulang setelah mentraktir Andi makan sego liwet didaerah ketandan. Sambil mendoktrin hal-hal baik serta menularkan ilmu yang nantinya bisa dia pergunakan dalam bekerja sebagai peloper koran.
Andi agak sungkan saat makan
denganku pagi itu. Tapi aku beritahu bahwa itu tidak masalah yang penting dia bisa cepat menyesuaikan dan hafal jalur dan nama-nama pelanggan.
Kami kembali kerumah dan aku memintanya untuk membuat laporan ke ibu.
Ibu juga mengajari Andi untuk menulis laporan harian supaya dia
terbiasa dengan pekerjaan yang harus dia lakukan.
Aku tinggalkan Andi saat dia sedang menulis laporan, aku kedapur untuk mencari Vira. Dia sedang memasak sesuatu, aku beritahu bahwa aku akan mengajaknya keluar setelah makan. Aku tahu dia belum mandi sementara Wulan sedang
membersihkan kamar tidur ibu dan kamarnya. Kamar tidurku telah dibersihkan Vira sehingga Wulan tidak perlu mengerjakan pembersihan di kamarku.
Aku naik ke kamarku untuk membaca artikel di website Edisi Awal untuk hari itu.
Aku ingin tahu apa yang akan terjadi hari itu.
"Riiiiiingg...." teleponku berdering. Nama Mas Reynaldi dari Mandiri Sekuritas terpampang di layar hpku. Aku cepat-cepat membalas "Hallo Mas Rey, apa kabar?" tanyaku menyapanya
"Mas Arjuna...nampaknya PTBA memang akan naik hari ini. Permintaan investor sangat banyak"
"Bagus!"
kataku "Jangan lupa di lepas sesuai harga yang saya minta kemaren." kataku melanjutkan
"Untuk hari ini saham apa yang akan dibeli?" tanya Mas Rey.
"Sebentar lagi aku telepon ya mas, saya sedang meeting" kataku mengalihkan pembicaraan untuk menutupnya.
"Oh maaf Mas Arjuna"
"Tidak masalah.......saya telepon sekitar satu jam lagi" kataku memberitahu dan menutup telepon.
Aku cari artikel perdagangan saham hari ini, dan menemukan artikel perdagangan saham yang masih didominasi sektor pertambangan. Hanya saja kali ini saham yang naik adalah saham
ANTM dan INCO melanjutkan trend kenaikan sektor pertambangan. Aku mencatat seluruh kemungkinan yang akan aku dapatkan bila INCO dan ANTM bisa naik. Harapanku adalah aku bisa memperoleh laba lebih dari 1 juta lima ratus rupiah, atau sekitar 10 persen dari modalku 10 juta.
Aku menelepon Pak Santosa mengabari tentang saham yang akan naik hari itu. Pak San sangat antusias mendengar kabar dari aku. Nampaknya gairah Pak San di pasar saham kembali menggelora.
"Ada kenaikan besar ya?" tanya Pak San
"Pak San antri saja saham INCO dan ANTM, sore bisa
langsung petik hasil, hari ini kedua saham ini jagoan." kataku mencoba meyakinkan
"Seberapa akurat infomu ini?" tanyanya
"Sangat akurat, kenaikan bisa mencapai 15 hingga 17,5%" kataku tinggal berapa lot yang Pak San mau investkan
"Aku beri kamu komisi bila benar ada kenaikan
kedua saham ini" kata Pak San dengan tawa lepas "Coba beritahu aku kira kira secara angka berapa?" tanya Pak San
Dengan sedikit memberi ilustrasi aku memberitahukan bahwa perhari ini saat pembukaan pasar saham, harga INCO berada di posisi Rp 4680 sedangkan ANTM berada di posisi
Rp 2430. Setelah aku hitungkan kenaikan hari ini sebesar 15 hingga 17,5 persen.
harga jual keduanya berkisar di angka Rp5382 & Rp 2794." kataku menjelaskan.
"Okay aku hubungi Reynaldi sekarang" katanya sambil berterima kasih.
Aku melanjutkan bacaan artikel di Edisi Awal dengan
membaca sebuah artikel kriminal. "Ini akan menjadi misiku hari ini" pikirku
Sebuah headline berita bercetak cukup besar tertulis "Kapolsek Pasar Kliwon Solo bersimbah darah setelah terkena tusukan belati oleh seorang berjubah putih"
Gambar penampakan wajah penusuk terpampang
jelas dan mudah dikenali dari sorot mata dan brewok yang tumbuh dagunya, sementara gambar Pak Kapolsek Ridwan dengan seragam polisi bersimbah darah juga terlihat jelas. Tusukan didada kiri untungnya tidak melukai jantung sehingga Kapolsek masih bisa diselamatkan. Sesaat aku
sedang memotret gambar dan artikel yang terpampang di layar laptop, Vira membuka pintu kamarku sambil membawa 2 piring nasi pecel beserta tempe goreng dan peyek kacang.
"Mas .....makan dulu?" kata Vira dengan riang. "Coba pecel yang aku buat, semoga Mas Arjuna suka"
Dia letakkan
kedua piring sambil bertanya apa sebaiknya dia mandi dulu. Aku melihat wajahnya penuh keringat, terlihat bulir-bulir keringat menetes di lehernya.
Aku mengambil beberapa helai kertas tissue untuk mengelapnya. Vira tidak keberatan saat tanganku menarik lengannya dan memintanya
duduk dikursi disampingku.
"Makan dulu saja sekalian baru mandi!" kataku sambil tersenyum.
"Hari ini Mas Arjuna mau kemana?" tanyanya ringan
"Aku mau ke Bank untuk mentransfer uang ke rekening efek" kataku singkat
"Aku mau belikan kamu kalung emas, aku sudah janji pada diriku
bahwa aku akan membelikanmu. Jadi kamu harus ikut supaya kamu bisa memilih"
"Bukannya Mas Arjuna mau mengikutkan aku investasi saham" tanyanya mengingatkan
"Jangan buka disini, sebaiknya nanti saja kalau kamu sudah kembali ke Jakarta kamu bisa buka sama mamamu" kataku ringan
"Gitu ya?" tanyanya, suaranya terdengar agak tidak enak.
"Jangan salah terima, aku akan membantumu untuk bisa menang berinvestasi"
"Janji ya?" katanya sambil memandang kearahku
"Iya aku janji........sudah aku makan dulu" kataku
Aku menyendok nasi dan menikmati nasi panasnya
"Bagaimana mas...kurang apa pecelnya?" tanyanya ingin tahu
"Enak...aku suka!" jawabku singkat
"Bener enak...ngga kurang pedas?" tanyanya ingin tahu
"Tidak..sudah pas! tempe gorengnya juga enak" kataku. "Kamu memang pintar memasak Vira" kataku memuji
Vira menepuk dadanya bercanda
tapi dgn raut bangga bahwa makanannya ada yang mengapresiasi. Namun apa yang aku katakan bukan pujian kosong. Memang enak pecel buatannya.
Vira mengangkat piring & membawanya turun ke dapur sementara aku meneruskan bacaanku di website Edisi Awal. Vira masuk lagi untuk mengambil
baju yang akan dipakai untuk keluar bersamaku. Sementara dia mandi aku berpikir apa yang harus aku lakukan untuk menyelamatkan Pak Kapolsek yang malang.
Vira kembali masuk kekamar sekitar 20 menit kemudian dengan baju telah terpakai tapi rambut masih basah. Aku berdiri meringkasi
laptopku dan memasukkannya ke dalam tas laptop yang aku taruh dibawah meja. Aku memeriksa kantong laptopku dan mendapati kwitansi taruhan bola yang akan aku cairkan hari ini.
Vira berjalan kearah pintu dan tangannya menggeser selotan pengunci pintu.
Dia berjalan mendekatiku dan
membisikkan pelan "Aku kangen dibelai! 2 hari tidak merasakan tangan dan tubuh Mas Arjuna, tubuhku terasa rindu"
Aku tersenyum......mulut kami bertemu dalam kecupan dan tanganku menyentuh pipinya sebagian dileher bawah rahangnya.
"Aku juga kangen menyentuhmu tapi kamu sedang mens
kamu tidak suka disentuh" kataku dengan berbisik ditelinganya. Dia bereaksi dengan menggeliatkan tubuhnya saat bibirku menyentuh cuping telinganya.
Badannya merapat dan desah nafasnya agak lebih cepat.
"Nanti malam aku mau begini" katanya dengan pinggul maju mundur dan jempol
tangannya dia masukkan sebagian kedalam bibirku.
Secara otomatis lidahku merespon jempolnya dan bibirku mengapitnya.
Tanganku turunkan dan meremas pantatnya,
"Pagi-pagi kamu sudah bikin belalaiku menegang" bisikku sambil mengecupi lehernya.
Tangannya menggenggam batang belalaiku
telapak tangannya dia usapkan naik turun dengan nada gemas. "Aku mau ini sekarang....!!" bisiknya dengan mata terlihat sange.
"Tidak bisa.....kita lanjutkan nanti malam saja!" kataku setengah berbisik
"Kalau begitu keluarkan dari celana, aku mau cium sedikit!" tangannya dia lepas
dari batangku sementara aku segera menurunkan resletingku dan mengeluarkan batangku yang terlihat perkasa dan tegar namun kelaparan.
Dia jongkok didepan batangku, mulutnya dia buka sedangkan pandangan matanya kearahku.
"Cepat...nanti Wulan datang kesini" kataku sambil menekan
kepalanya ke arah belalaiku.
Mulutnya seperti bayi yang kelaparan oleh puting ibu, nampak menganga dan dengan rakus menjilati bagian kepala belalaiku. "Ohhhhhhh..!!!! Aku bereaksi atas hisapannya yang kuat. Pipinya sampai masuk kedalam saat menghisap bagian kepala yang membengkak
Tangan kanannya menarik turun celanaku sementara tangan kirinya mencengkeram lembut bola dibawah batangku.
"Sudah........!!" kataku sambil menarik lengannya.
"Tunggu.....belum puas....!!!" katanya, tangannya mengocoknya lebih kencang dan mengenai bagian sensitive ujung kepala.
"Sudah.....!!" kataku akan keras
"Awas nanti malam.....tidak aku ampuni!" katanya sambil berdiri saat aku angkat lengannya.
Dia mendekat kearahku dan mencium kedua bibirku.
"Aku suka membuatmu tegang!" katanya pelan.
Aku mengancingkan resletingku dan segera mengambil tas laptop
dan melangkah keluar dari kamar. Aku menutup pintu, sempat melihat Vira sedang bersiap2x juga untuk segera berangkat denganku. Aku harus ke bank dulu untuk mengembalikan uangnya Bapak yang aku pakai untuk membuka rekening efek.
Saat dalam perjalanan turun, teleponku berdering.
Aku mengangkatnya dan Mas Reynaldi menyapaku
"Masih sibuk mas?" tanyanya
"Tidak Mas.....bagaimana?"
"PTBA telah terjual mas........keuntungan sekitar 1,2 juta kotor belum saya potong bonus saya. Sekarang tolong belikan saham ANTM, berapa harga sekarang?"
"Persekarang harga ANTM
di harga 2340"
"Okay.....kalau harga saham TINS berapa?"
"Persekarang harga di 1690" okay kalau begitu.
"Tolong saya dibelikan saham TINS saja, semua dan tolong nanti sore di lepas di kisaran harga 1795" kataku
"Okay Mas.....nanti saya kabari berapa lot saham yang terbeli dengan
uang yang ada" kata Mas Reynaldi
Ibu sedang mengetik di desktop seperti biasa, beliau menoleh sebentar dan menanyakan aku bicara dengan siapa. Aku berhenti sejenak menanyakan nomor rekening bapak karena aku akan mentransfer uang pinjamanku kemaren.
Ibu menuliskannya diatas kertas
dan memberikannya kepadaku.
"Kamu mau kemana sekarang?" tanya ibu
"Saya mau ke Sangkrah bu, ada yang harus saya ambil"
"Bagaimana harga saham yang kamu beli kemaren?" sudah untung 1,2 juta"
Ibu berhenti melakukan pekerjaannya dan memandang kearahku, "Beneran?" katanya setengah
tidak percaya.
Aku mengambil helm dan memakainya, menunggu Vira berjalan keluar. Vira berpamitan ke ibuku dan kami berdua bergerak menuju ke Sangkrah untuk mengambil uang hasil kemenangan Bola.
Dalam perjalanan ke Sangkrah Vira sempat menanyakan hasil penjualan saham yang kubeli.
"Kulonuwun Om..........?" sapaku kepada bandar judi bola saat aku sampai dirumahnya.
"Weiii........!! Jare bapakmu sing arep jupuk duite?" tanyanya
"Saya kebetulan tidak kemana-mana jadi saya bisa ambil sendiri"
"Mana kertas girik yang aku berikan kepadamu itu?"
Aku berjalan di
sampingnya menuju arah teras rumahnya. Vira mengikuti aku dibelakang sambil melihat kesekeliling rumah. Halaman rumah terasa sangat adem karena banyak tanaman besar.
Aku duduk di kursi plastik sambil melihat kearah depan.
"Mas halamannya sangat rindang, banyak pohon-pohon
disini. Hawa udara disini terasa sangat sejuk ya" katanya
"Ini uangmu......" kata pak bandar bola "Begini ya .......siapa namamu?" katanya sambil memandangku
"Arjuna ......Om" jawabku pendek
"Ya Arjuna..........biasanya aku potong hasil kemenangan besar seperti ini. Tapi aku hari
tidak memotongnya asal kamu beri info untuk pertandingan selanjutnya. Bagaimana?"
"Tidak masalah Om, asal semua aman dan lancar" kataku tersenyum. Aku menerima uang seikat seratus ribuan dan menghitungnya didepan pak bandar bola
Vira memandangku saat jari2xku menghitung uang
dengan cekatan. Hanya hitungan detik, uang sepuluh juta telah terhitung & pas.
"Om sampean apa kenal Kapolsek Pasar Kliwon?" tanyaku setelah memasukkan uangku di tas laptop"
"Kapolsek yg baru namanya Pak Ridwan, ya kenal wong aku sing biasa ngantar sesuatu dari bosku. Ada apa?"
"Ini loh Om, beliau ini akan diserang seseorang, lah aku ini ingin memberitahu supaya beliau waspada kalau bisa beliau ini selamat. Apa kira-kira Om bisa membantu saya untuk ketemu beliau hari ini?"kataku sambil melihat jam di hpku. Kemudian aku menunjukkan photo yang ada di hp
kepadanya. Dengan sedikit antusias, dia melihat kelayar hpku dan mengamati wajah yang terpampang dilayar.
"Iya...beliau ini Kapolsek Pasar Kliwon, kamu dapat darimana photo ini?" tanyanya tiba-tiba.
"Begini om...tolong saya minta nomor telepon beliau, saya ingin ketemu sama dia
"Coba aku teleponkan ........!" katanya. Dia masuk kedalam rumahnya dan sesaat kemudian aku mendengar bandar bola berbicara cukup jelas di telepon. Vira sedang berdiri di halaman sambil melihat pohon jambu air yang sedang berbuah.
"Kowe ditunggu dipos polisi di pertigaan pasar
gading, cepat kamu kesana supaya tidak terlambat"
katanya sambil memberikan sebuah nomor telepon kepadaku. "Ini nomor telepon Pak Ridwan. Kalau sudah sampai disana kamu telepon saja"
"Makasih om...telah membantu!" kataku sambil berdiri
"Nanti beritahu aku info mengenai bola ya?"
"Iya om..saya telepon bila ada pertandingan besar" kataku
"Ada pertandingan UEFA CUP bulan Juni yang akan datang, itu event besar tidak boleh lewat" katanya sumringah.
"Kita lihat saja nanti Om, semoga saya belum berangkat ke Jerman" kataku pelan
"Loh..ke Jerman? Mau apa kesana?"
"Belum pasti juga om, namanya saja hanya rencana" kataku seadanya
"Ohh...... mau melanjutkan kuliah disana toh?" tanyanya berseloroh
"Kalau ada uang tambahan dari om, saya suka dan mau kalau kuliah disana, haahahaha" kataku
"Yaa sudah kalau begitu, hati-hati di jalan" katanya
Kami ke bertemu dengan Pak Kapolsek Pasar Kliwon di pos polisi di Perempatan Pasar Gading. Saat aku sampai disana, seorang petugas menemuiku. Aku agak gemetar juga menemui seorang perwira polisi dan berbicara dengan petugas untuk pertama kalinya.
"Ada yang bisa di bantu dik?"
kata petugas disana
"Selamat siang Pak Ronnie" kataku setelah melihat nama di sebelah kanan dadanya. "Saya ada janji dengan Pak Ridwan, Kapolsek Pasar Kliwon. Apakah beliau sudah berada disini?" tanyaku
"Anda siapa?" tanyanya dengan tegas
"Nama saya Arjuna pak"
"Beliau belum
datang. Memang beliau bilang akan bertemu disini?" katanya dengan agak gugup. Dua teman disampingnya terkesiap, mereka merapikan diri.
"Saya punya nomor telepon beliau, saya diminta untuk menelepon beliau kalau saya sudah sampai disini" kataku sambil mengeluarkan HP dan kertas
bertuliskan nomor telepon Pak Kapolsek.
"Selamat siang Pak Ridwan, saya Arjuna yang ingin bertemu dengan bapak siang ini di Pasar Gading pak?"
"Tunggu ya dik, saya sudah dekat" katanya
"Baik pak..terima kasih" kataku sambil menutup HPku
Sekitar lima menit kemudian, sebuah mobil
Robicon hitam berhenti dipinggir jalan dekat Pos Polisi. Dengan sigap, ketiga petugas Polisi yang berada di Pos segera berdiri dan menyambut perwira yang keluar dari Mobil mewah itu. Badan tegap dan terlihat tegas, itu gambaran Kapolsek Ridwan. Petugas yang berbicara denganku
segera memberi laporan bahwa aku sudah datang untuk menemui beliau. Pak Ridwan melangkah kearahku dan menyalami aku. Vira yang berdiri disampingku juga disalami. Tangannya terasa sangat kuat tetapi halus.
"Apa yang saya bisa bantu dik?" tanya Pak Ridwan sopan. "Ayo kita masuk"
Kami duduk didalam pos yang berukuran 3x2 meter itu. Aku menunjukkan artikel yang telah aku photo beserta gambar wajah orang yang melakukan penusukan terhadap beliau.
Ada perubahan rona wajah beliau saat melihat gambar yang aku tunjukkan.
"Dik Arjuna dapat gambar ini darimana?"
Aku menjelaskan seperlunya dan mengatakan pengalamanku saat aku menyelamatkan beberapa orang sebelumnya. Aku juga menceritakan apa yang terjadi dengan anak Pak Abdoellah Notaris di Jalan Ledoksari.
"Bapak harus waspada, kejadian sekitar jam ini saat bapak sedang mensosialisasikan
program bapak." kataku sambil mohon diri untuk pulang.
Pak Ridwan menjabat tanganku dan mengucapkan terima kasih telah memberi peringatan diri.
Kami melangkah keluar dari pos dan aku menaiki motorku. Saat aku menoleh untuk berpamitan lagi, Pak Ridwan dengan tegap memberi hormat.
Aku tidak sempat membalas hormatnya kepadaku, hanya dengan senyuman tulus aku melanjutkan laju motorku.
Aku berhenti sejenak ditepi jalan untuk menelepon Cik Anneke, bahwa aku akan ketokonya.
"Weiiii....aku sedang di hotel Alila ngantar anakku berenang" teriaknya saat menerima
teleponku. "Biar aku telepon Ah fung, kamu cari dia kalau sudah sampai di toko." katanya
"Siapa namanya cik?" tanyaku untuk memintanya mengulangi
"Ah Fung...dia orang kepercayaanku di toko" katanya menjelaskan.
"Okay..Kamsia Cik" kataku sambil tertawa
"Ya...beli yang banyak ya?"
Toko Mas Janoko tidak begitu ramai saat kami datang dan saat kami berada di toko, Vira langsung terlihat bersemangat. Binar matanya langsung terlihat saat melihat deretan perhiasan yang terpajang di etalase toko.
"Cik Ah Fung ada?" tanyaku
"Ada...tuh yang disana!" jawab wanita
yang aku tanya, tangannya menunjuk kearah seorang wanita yang sedang mengatur kalung.
"Cik Ah Fung, aku tadi barusan telepon Cik Anneke"
"Oh...ya. Mau beli apa tak bantu" katanya dengan senang. Wajah seorang wanita China yang tulus berusia sekitar 40 tahun.
"Yang mau beli sedang
memilih milih disana cik." kataku sambil menunjuk ke arah Vira.
Tiba-tiba Vira memanggilku dengan mengayunkan tangannya. Aku berjalan mendekat kepadanya dan dia menunjuk kesebuah kalung dengan leontin berbentuk hati.
"Aku mau lihat yang ini?" katanya kepadaku
"Cik Ah Fung...?"
"Vira mau yang ini!" kataku memberitahu
"Yang ini ya....?" sambil tangannya mengambil sebuah kalung
"Iya...yang itu" jawab Vira
"Mau dicoba pakai?" tanya Cik Ah Fung
"Iya...aku mau coba" kata Vira cekatan
"Wanita memang suka perhiasan!" kataku dalam hati
"Sudah aku mai ini saja"
Cik Ah Fung membantu melepaskan kalung yang dia pakai dan melihat untaian kertas kecil yang memberikan informasi berat dan harga kalung tersebut.
"8 Gram berat rantainya sementara liontinnya emas yang membalut batu permatanya 2 gram. Total 10 gram"
"Okay !" jawabku
Dia menulis
sebuah kwitansi dan menyodorkannya kepadaku"
Aku menyodorkan uangku setelah menghitungnya. Cik Ah Fung menghitung ulang dan memeriksanya dibawah lampu ultraviolet diatas meja kerja untuk memastikan keaslian uang itu.
"Okay...." dia menyodorkan kalung yang telah dia masukkan
kedalam kotak. "Bossku bilang untuk memberi diskon kepadamu sebesar 250 ribu sebagai cashback"
"Terima kasih Cik....." kataku saat menerima uang itu.
Kami pergi dan menuju ke Bank BCA di Jalan Selamet Riyadi. Aku harus mengembalikan uang bapak dan mencairkan 6 juta untuk aku
gunakan transaksi di Mandiri Sekuritas.
"Mas Arjuna....." kata Vira sambil menggandeng lengan tanganku. "Terima kasih....!"
Aku tersenyum melihat matanya yang berbinar-binar, aku anggukkan kepalaku untuk menjawabnya.
"Kamu mau diantar pulang atau ikut aku ke Mandiri Sekuritas?"
"Aku mau ikut saja sambil belajar" katanya
Kami lanjutkan perjalanan ke Mandiri dan ketemu mas Reynaldi. Di ruangannya yang sejuk oleh AC, kami diberi kue blackforest yang sangat lembut dan sekaleng Green Sand.
"Mas Arjuna, account mas sudah bisa aktif besok lusa. Saya mau ajari
bagaimana cara menggunakan aplikasi "MOST" untuk bertransaksi dan trading saham" Vira melihat dan ikut mempelajari bagaimana cara mengoperasikan applikasi itu. Cara menjual dan membeli serta berbagai macam strategi. Mas Reynaldi juga memintaku untuk bergabung dengan beberapa grup
mailist yang membahas tentang trading saham supaya ada gambaran tentang pergerakan pasar saham.
"Mas Rey, tolong hasil penjualan saham yang ku titipkan kemaren itu dananya langsung di transfer saja ke rekening bapakku." kataku memberitahu
"Oh iya mas...saya kabari kalau sudah
terjual" katanya "Saya potong 25% ya mas"
"Sip......sesuai kesepakatan memang segitu kan" kataku
Aku lipat laptopku dan mengantar pulang Vira.
"Kamu mau makan dulu atau mau aku antar pulang?"
"Mas mau kemana setelah ini?" tanyanya
"Aku mau ke Bandara bawa majalah dan koran
"Aku mau minum es teler Nini Towo sama makan gado-gadonya" kata Vira.
"Ya sudah aku juga lapar"
"Mas...kenapa mas bisa percaya nitipkan uang ke Mas Reynaldi?" tanya Vira saat kami sudah keluar dari gedung Mandiri.
"Kan ada tanda terimanya? Kenapa harus takut kalau semua jelas?"
Hujan Desember kembali turun saat kami keluar dari Kios Es Teller Nini Towo. Kami berdiri diluar sambil menunggu hujan agak reda. Namun mendung dengan awan hitam nampak tak ramah bagi pengguna jalan. Guntur nyaring menggelegar.
"Bagaimana mas?" tanya Vira kepadaku
"Ya sudah kita
terjang saja hujan, aku antar pulang" kataku
"Mas tidak bawa jas hujan?" katanya ingin tahu.
"Ada jas hujan tapi celana dan jaket plastik, aku bisa pakai tapi kami nanti basah kuyub"
"Ya sudah .......mas saja yang pakai, daripada kita buang waktu nunggu hujan reda terlalu lama"
Aku mengambil jas hujanku dan mengantarnya pulang.
Tak terhindarkan dia kehujanan, basah kuyub oleh air hujan. Kaos putih yang dia pakai melekat erat dan kulit dadanya tersibak oleh BH yang dia pakai terlihat transparan. Aku ingin tinggal dan tak usah ke bandara tapi ada barang
yang harus aku antar kesana. Aku mengambil barang dan aku letakkan dibagian tengah motorku. Dan tas laptop aku taruh diatasnya. Aku mengarahkan motorku ke bandara.
Aku mampir di warung nasi padang dan memesan nasi campur dengan sambal lombok hijau, ayam goreng dan perkedel serta
telur dadar tebal.
Mbak Widya tersenyum saat melihat kearahku. Dia berlari kearahku untuk membantuku mengangkat barang bawaanku. Suaranya terdengar ceria dengan mata berbinar penuh kerinduan.
"Mas..aku kangen!" katanya
Mataku memandang kearah dadanya yang terlihat agak membesar.
Matanya menangkap pandanganku "Mas tetap saja tak berubah" katanya sambil tertawa
"Aku selalu terkesima dengan buah dada" kataku lirih
"Jangan seperti itu dengan orang lain loh" katanya
"Ayo kita ke Sindon sebentar menumpahkan rasa kangen?" kataku mengajaknya
"Bagaimana caranya?"
"Kita tutup sebentar, kita kembali kesini jam 5 sore"
"Tapi sedang hujan deras bagaimana?" katanya agak ragu
"Mbak Widya biasanya bawa baju ganti kan!"
"Iya aku bawa!"
"Ganti baju skarang, bawa baju seragam kerja ke Sindon. Kalau nanti kembali kesini hujan sudah berhenti" kataku
Mbak Widya bergegas meninggalkan kios menuju toilet bandara untuk ganti baju, sementara aku mengecek keberadaan bapak melalui telepon. Bapak memberitahu bahwa beliau ada di Bekonan, Sukoharjo.
Aku memberitahu beliau bahwa aku telah mengirim barang untuk kubawa ke kios.
Saat Mbak
Widya kembali, dia telah memakai sebuah kaos agak ketat dengan celana panjang jeans biru yang nampaknya masih baru. Buah dadanya terasa menonjol keluar, aku curiga ukurannya seperti telah membesar.
Kami segera meninggalkan bandara menerjang hujan lebat yang menghadang kami. Mbak
Widya membantuku membuka gerbang, sementara dia melakukannya. Aku mengamati selokan didepan rumah yang penuh air hujan. Terlihat beberapa belut warna coklat muda dengan bagian perut warna kuning terang berenang didalamnya.
Aku masukkan motorku kedalam rumah dan menguncinya dari
dari dalam.
Mbak Widya langsung melangkah ke ruang belakang untuk melepas bajunya dan menggantungnya di tali rafia yang ada di ruangan itu.
Dia melepas semua yang dia pakai, hanya tersisa BH dan Celana dalamnya saja. Terlihat dari kulitnya, kedua garmen itu juga basah. Aku jalan
mendekatinya dari belakang. Tangannya meraih gesper BH yang terletak dibelakang punggungnya. Dengan sekali sentuh, Gesper BH terbuka.
"Lama kita tidak ketemu, kangenku memuncak" bisikku dari belakang.
Dia putar kepalanya untuk menjawabku, lehernya yang telanjang ku kecup dengan
birahi. Belalaiku telah memanjang, celana dalamnya masih terpakai. Telapak tanganku menelusup kebagian depan dengan menarik karet celana dalamnya. Lobang memeknya telah basah oleh cairan licin.
"Aku nahan lama ingin beginian sama Mas Arjuna" katanya sambil mendesah desah. "Lepas
baju dan celanamu mas!" katanya dengan suara parau"
Aku melepas celanaku dan baju kaosku yang ku pakai. Saat aku melepasnya, dia memutar tubuhnya menghadap kearahku. Ada tanda merah cupang dibagian atas buah dada.
Mataku memandang payudara yang nampak penuh dan padat bergoyang.
Seperti pendulum bergoyang saat tubuhnya membungkuk dan tangannya merengkuh kebawah untuk melepas celana dalamnya.
Seperti terhipnotis, tanganku segera memegangi pendulum yang bergoyang itu.
"Kangen pegang nenengku ya?" tanyanya dengan pandangan sange. Kedua tubuh kami telanjang
"Aku juga mau buat cupang seperti ini di dada kanan?" kataku berbisik ditelinganya.
"Huussh..tidak boleh." katanya
"Apa yang boleh?" tanyaku dengan wajah melas
"Boleh masukkan belalaimu.......tidak usah dicabut lagi. Keluarkan didalam"
"Kalau hamil bagaimana?" tanyaku terkejut
"Ada yang bertanggung jawab" katanya, mulutnya menemukan bibirku dan pagutan bibir kami menambah nafsu dan birahi makin menggelora. Mulutnya makin terampil menghisap dan memainkan lidahnya. Nafas kami tak beraturan saat duel lidah terjadi.
Tanganya menggerayangi belalaiku dan
sementara mulut kami masih beradu. Dia tarik belalaiku dan menuntunnya ke selangkangannya.
"Aku kangen main sama kamu mas, belalaimu lebih panjang bisa menelusup saat berhadapan begini. Bisa nusuk dan menggaruk sekaligus saat kau goyang"
Pandangannya terlihat sange katub mata
menebal, lidahnya meluap luap menjilati kulit disekitar mulutku. Jilatannya membuatku sangat bergairah, aku mengangkat satu kakinya sehingga akses kedalam memeknya makin terbuka. Belalaiku menegang dan menggaruk dinding memeknya.
"Ooohhh masss.......!" serunya perlahan, kepalanya
terlempar kebelakang, aku buru2x menahan punggungnya dengan tanganku.
Gesekan dengan klitorisnya sangat intens, erangannya mengeras dan gerakannya sangat liar.
"Oohhh massss........massss.....ooooghhh aaaaghh!!"
"Aku tidak kuat nahan kamu mbak! Ayo duduk di bale-bale bambu depan"
Mbak Widya nampak pasi saat belaiku terlepas. Ada suara seperti kentut keluar dari lobang memeknya saat belaiku terlepas.
Aku menarik tangannya untuk segera ke bale bambu di ruang depan. Aku duduk dan dia duduk dipangkuanku. Keinginan untuk menyemprotkan spermaku kedalam memeknya
sangat kuat.
Tanganku meraba2x dadanya. Cupang merah didadanya memberikan kesan pelacur tertempel didirinya. Pikiranku agak melayang, dengan sedikit membuka kedua pahaku, dan bersandar didinding, akses untuk memasukkan kedalam memeknya semakin mudah. Mbak Widya jongkok dan
menuntun belalaiku untuk masuk kedalam lobang madunya. Seperti terperosok kedalam lobang, belalaiku menembus kedalam dengan mudah. Dia maju mundurkan pantatnya sehingga batangku seperti mengaduk aduk liang memeknya.
Jeritan dan lenguhannya berulang ulang keluar dari mulutnya
gerakannya diselingi dengan mengangkat pantatnya naik turun. Jariku memilin2x puting teteknya .......
"Addddduugggh massss........adduuhhhhh.....ohhhhhhh" dia menubrukku dengan nafas seperti tersengal sengal.
"Aku bisa seperti ini setiap hari.........." suaranya seperti dengusan
Aku duduk kembali duduk tegak setelah menyandar di dinding. Aku tergoda untuk membuat cupang didadanya, namun niatku bisa terbaca olehnya.
"Jangan kau bikin cupang mas......nanti terlihat!" peringatnya. Putingnya aku masukkan kedalam mulutku, kuhisap pelan dan memutar lidahku
mengelilingi putingnya yang mengeras.
Tangan memegangi pantatnya dan memaju mundurkan supaya ada gerakan dan gesekan.
"Aku capek diatas.!" bisiknya
Aku angkat kesamping tubuhnya dan kembali terlepas belalaiku dari lobang madunya. Kubaringkan dia dipinggir bale bambu dan kuangkat
tungkai kakinya
Gundukan vagina terlihat jelas, lelehan cairan keluar dari lobangnya. Bentuknya indah dan menggairahkan, aku lepas kakinya dan berjalan kebelakang untuk mengambil kaosnya yang basah untuk mengelap memeknya.
"Mas mau kemana?" tanyanya ingin tahu
"Tunggu sebentar.!"
Aku kembali menggenggam kaosnya dan menggunakannya untuk mengelap memeknya.
Aku menjulurkan lidahku untuk mencicipi madu yang terkandung dalam lobangnya.
Sentuhan ujung lidahku membuatnya menggeliat, tanganku meraih bibir memeknya dan membukanya lebar. Kulihat lapisan daging
terpampang merangsang, batangku mengeras saat aku menghirup aroma memeknya.
"Massss sudah......" rambutku dia tarik pelan
"Tunggu sebentar!" jilatanku merata kearah dalam
"Ooohhhh masssss.......dia tekan kepalaku maju. Dia mengangkat kepalanya untuk melihat apa yang aku lakukan
rona wajahnya seperti sedang menahan birahi dan nafsunya membuatnya tak terbendung. Olesan lidahku ke bibir vaginanya membuatnya makin gatal.
"Suuuudaaaaah.....sudaaaaahhhh.........masukkan lagi"
Aku juga tak tahan dengan desakan nafsuku, ingin aku tumpahkan spermaku kedalamnya
Aku berdiri saat tangannya kembali meraih rambutku, kali ini tarikannya agak kuat. Aku angkat kedua kakinya terbuka mengangkang, batangku menusuk maju menembus cincin lingkaran memeknya. Bibirnya terbelah oleh kepala belalaiku, sensasi dari apa yang aku lihat dan rasakan menyatu
dalam kenikmatan ragawi.
"ooohhhhhh....." suara kami bersamaan keluar. Pantat kugerakkan maju dengan agak kasar, gesekan kedalam membentur cincin lobangnya. Terasa leher batangku bertabrakan dengan lingkarannya. seperti jalanan benturannya menimbulkan kenikmatan. Tusukan bertubi
keinginan menyemburkan spermaku makin tak terperi. Goyangan pantat Mbak Widya membuatku makin nikmat, aku mengaduh nikmat.
"Mbaaaaak....aku mau keluar" kataku
"Tusukkan yang keraaaaaasssss......dan kuaaattt!"
Aku terpacu melakukan apa yang dia minta. Tusukanku menggila, kepala
batangku makin menggeras, otot2x mengencang. Semburan pertama terasa sangat deras.
"Aaaggggghhhhhhzzzz.......!!" aku mengerang kuat dibarengi rasa nikmat yang tak terkira. Tidak ada rasa was was, nikmaaaaaaat.... titik. Denyutan batangku bertubi tubi sambil menyemprotkan sperma.
Rasa lega dan otot ditubuhku mengendur. Tenagaku terasa seperti terhisap lumpur hingga lunglai tak berdaya. Aku ambruk di balai-balai bambu, sementara tubuhnya telah tergeletak membujur dengan dada naik turun berirama.
"Aduhhh masss....enak sekali!" katanya, Tangannya mengelus
elus selangkangannya.
"Aku mau cuci-cuci tp lemes" katanya sambil memandangku. Aku bergeser kesampingnya & meletakkan telapak tanganku diatas gundukan dadanya.
"Kita tidur sebentar mbak..!" kataku sambil menutup mata. Tubuhnya merapat memelukku, menyembunyikan wajahku didadanya.
Aku mengantar Mbak Widya kembali ke kios bandara sekitar jam 6 sore. Perut kenyang dengan makanan yang aku bawa dan makan bersama.
Mbak Widya membuka kios, sementara aku masih di pelataran parkir berbicara dengan bapak. Aku sempat melihat Adrian si penjual majalah porno. #cerpen
Aku sempat lambaikan tanganku ke arahnya tapi dia tidak melihatku. Saat dia menaiki motor dan melipat stander motor barulah dia melihatku. Dia tersenyum ke arahku sambil kembali berdiri untuk menegakkan standernya kembali. Dia berjalan kearahku, saat dia berdiri didepanku aku
telah selesai berbicara dengan bapak.
"Jun, kapan ada waktu main futsal?" katanya
"Aku ngga pernah main futsal" kataku terus terang. "Aku biasa main pingpong"
"Ayo sekali-sekali ikut aku main futsal" ajaknya
"Aku sibuk persiapan Ujian Nasional" kataku menolaknya
#ceritadewasa
"Liburan senin depan mau kemana?" tanyaku balik
"Aku mau ke Tawangmangu sama Naira?" katanya
"Naira..? Anak SMU Tripuspita?" tanyaku
"Kamu kok tahu?" tanyanya heran
"Aku tidak tahu, cuma pernah dengar saja" kataku sambil tersenyum "Bayar berapa untuk bawa dia keluar nginap lagi?"
"Gilaaaaaa......kau dengar dia cewek bayaran?" katanya sambil tersenyum. "Aku tidak bayar yo.......dia suka aku"
jelasnya.
"Tapi benerkah dia cewek bayaran?" kataku ingin tahu
"Mungkin ya.....!?!?" katanya dengan wajah cengengesan dan bangga.
"Aku juga mau ke Tawangmangu" kataku
memberitahu.
"Beneran.....? Sama keluargamu?" tanyanya
"Tidak...aku pergi sama sepupuku"
"Nginap tidak?" tanyanya
"Iya.....mungkin aku berangkat hari minggu"
"Sama dong.....kita sewa rumah penduduk saja?"
"Coba aku tanya dia dulu, mau tidak dia pergi sama2x?"
"Perempuankah?"
"Iya...." jawabku
"Kabari kalau mau jalan bareng ya" katanya sambil berbalik.
"Kutelepon kalau jadi" kataku
Dia menoleh dengan mengangkat jempol kanannya.
Aku masuk ke bandara dan berjalan menuju ke kiosku.
Rasa lelah setelah bergumul dengan Mbak Widya terobati setelah tidur.
Aku membuka tas laptopku dan mengeluarkannya dan menaruh laptopku diatas meja. Aku segera membuka website edisi awal serta membaca beberapa artikel. Sebuah artikel menarik perhatianku, saat judul berita memberitahukan akan terjadinya kenaikan harga emas cukup signifikan. Lonjakan
harga hampir 30 ribu pergramnya. Benar-benar lonjakan yang sangat banyak pikirku.
Aku mengambil HPku dan mengabari cik Anneke tentang kenaikan harga emas yang akan terjadi melalui pesan SMS.
"Harga emas naik banyak dalam 2 hari lagi"
"Kalau begitu kamu harus datang lagi besok
untuk beli supaya kamu dapat untung kalau kau jual lagi" disertai tanda emoticon senyum.
"Cik Anneke punya emas batang 100 gram?" tanyaku
"Ada .......? Mau berapa batang?" tanyanya masih dengan emoticon bercanda
"Berapa harga per 100 gram cik?" tanyaku
Cik Anneke menyebutkan
harga yang tak mampu aku beli.
"Ada tidak yang 50 gram?" tanyaku "Uangku tak cukup" kataku jujur
"Ada tapi emas Antam ya!" katanya
"Oh lebih mahal ya cik?" tanyaku ingin tahu
"Iya ada selisih dengan emas PAMP dan UBS"
"Selisih banyak kah?" tanyaku
"Tidak terlalu tapi lebih safe"
"Bedanya apa?" tanyaku
"Emas batang buatan ANTAM ada sertifikatnya, kamu bisa jual dimana saja. Kamu pindah ke Jakarta, kamu bisa jual di Jakarta. Kamu ada di Bandung, jual disana bisa. Pendeknya begitu selama kamu ada sertifikat harga akan mengikuti harga jual pasar"
"Aku beli
yang 50 gram saja" kataku "Besok sekitar jam 2 siang cik" kataku
Aku menelepon Mas Reynaldi menanyakan perdangan saham hari itu.
Mas Reynaldi nampak antusias menerima teleponku.
"Mas Arjuna....ada kabar baik! Saham sudah terjual sesuai yg Mas Arjuna instruksikan."
"Mas, tolong
cairkan dananya semua ya. Aku sdh ada perlu beli sesuatu besok jam 2 siang. Kalau sudah tertransfer kabari ya mas" kataku memberitahu
"Baik mas......" katanya "Saya potong bagianku ya?"
"Iya.....tolong kasih perincian transaksinya ya?" kataku meminta
"Baik mas....!" katanya
Aku menelepon Pak Santosa setelah menutup telepon Mas Reynaldi. Beliau sedang di pesta, terdengar dari sibuknya suasana latar belakang dan musik yang terdengar lirih.
"Selamat Malam Pak Santo?"kataku membuka percakapan
"Ya....ada berita apa?" katanya dengan agak keras
#cerpen
"Harga emas akan naik Pak Santos" kataku
"Apa kau bilang, keras sedikit suaramu" teriaknya "Tunggu aku keluar saja sebentar"
"Hallo Pak Santos?" kataku
"Ya bagaimana?" tanyanya
"Harga emas akan naik 30 ribu /gramnya pak. Di perkirakan 2 hari lagi" kataku memberitahu
"Kamu yakin?"
"Sangat yakin.." kataku memastikan
"Ok..terima kasih! Jangan kau beritahu Si Anneke"
"Terlambat Pak, tapi dia tidak percaya" kataku
"Biarkan dia akan rugi kalau tidak percaya! hahahaaa..!!"
Kami berbincang-bincang sebentar dan aku menutup pembicaraan setelah memberi info padanya"
ADRIAN, NAIRA & TAWANGMANGU

"Kita jadi ke Tawangmangu hari Minggu" bisikku ke telinga Vira.
Tubuhnya menggeliat kearahku malam itu. Rasa lelahku seharian diluar membuat mataku berat untuk terbuka. Vira meletakkan telapak tangannya ke atas pipiku & mengelus turun dengan lembut. Image
Dia melakukannya berulang-ulang, kulit tangannya yang halus, menempel dikulit pipiku dengan lembut.
"Kita menginap dimana?" tanyanya ingin tahu
"Kita menginap di rumah penduduk saja. Kalau kita menginap di hotel, terlalu banyak mata yang akan melihat kita. Adrian akan pergi sama
kita" kataku pelan. Aku memicingkan mataku untuk melihat reaksinya.
"Nanti kalau tahu kita berhubungan badan, apa dia tidak akan membocorkan kepada orang lain?" tanyanya hati2x. Bibirnya menyentuh pipiku, gerakan bibirnya membuat sentuhan2x tipis yang membuat jakunku naik turun.
"trrrr.....trrrrr...trrrr...." bunyi HPku bergetar. Vira dengan sigap berdiri dan berjingkat mengambilkannya dari atas meja.
"Pak Santosa....!" katanya lirih
"Hallo....Selamat Malam Pak Santos?" kataku menyapa
"Arjuna...besok kamu sibuk tidak?" tanya Pak Santosa langsung setelah
mendengar suaraku
"Jam berapa pak?" tanyaku balik
"Jam 10 di kantorku ya?"
"Baik Pak Santos, saya merapat kesana besok" jawabku
"Klek" terdengar suara koneksi dimatikan
Aku berikan kembali ke Vira yang berdiri didekat meja. Dia menaruh hpku diatas meja dan kembali dia berjalan
untuk berbaring di sampingku.
"Kenapa mas?" tanyanya
"Besok aku diminta ke kantornya besok"
"Kok kelihatannya penting?" tanyanya
"Biasa.....namanya orang mau bisnis" kataku meredam keingintahuannya
"Ayo tidur......aku capek sekali" kataku
Dia berbaring dibelakangku sambil meling
karkan tangannya kepinggangku.
Pelukan hangat Mbak Widya siang tadi justru yang terbayang saat lelapku menyelimuti malam itu.
Vira pindah ke kasurnya, entah kapan dan jam berapa. Saat aku bangun subuh, tubuhnya tidak berada disampingku. Rasa hangat yang semalam kurasakan terasa
dingin. Aku bangun pagi segera setelah menyadari bahwa aku masih harus membimbing si Andi yang menggantikan ruteku.
Saat aku keluar kamar, Vira masih tertidur sangat pulas. Aku turun tangga dan membantu bapak untuk membuka pintu depan. Mengeluarkan motorku dan bapak bangun untuk
mengeluarkan mobilnya.
Sebagian besar peloper koran yang membantu bapak telah datang dan menyiapkan barang mereka.
Karena telah beberapa kali, Andi melihat bagaimana koran antaranku disiapkan. Pagi itu dia yang menyiapkan sendiri koran antaran. Seluruh koran bawaan berada diatas
motornya. Aku hanya mengikutinya saja sambil memberi saran bila ada yang perlu dibenarkan. Andi nampaknya bisa cepat menyesuaikan dengan pekerjaan. Aku akan memberitahu bapak, kalau dia sudah bisa mengantar sendiri.
Saat seluruh koran telah terantar kembali aku mengajaknya makan
sambil berbincang-bincang tentang pekerjaan. Aku suruh dia mencari pelanggan baru supaya ada tambahan income baginya. Dia nampak antusias saat mendengar kata income terucap, terlihat dari pancaran matanya yang terlihat lebih bercahaya.
Aku tersenyum melihat reaksinya & nampak dia
tahu bhw aku paham suasana hatinya. Aku menelepon Vira, menanyakan apakah dia ingin sesuatu utk kubawa pulang untuknya. Dia menginginkan gethuk Lindri & resoles serta roti coklat dari Holland Bakery. Aku memutar kearah Urip Sumoharjo sementara Andi langsung kembali melapor ke ibu
Kali ini aku membelikan beberapa makanan yang sama untuk adikku Wulan. Aku mampir ke pasar Gede untuk membeli bubur mutiara kesukaanku.
Aku segera kembali pulang dan memberikan makanan pesanan Vira, kepadanya aku memberitahu untuk memberikan sebagian kepada Wulan. Mendengar ada
bagian untuknya, Wulan merasa gembira. Aku berjalan keatas sambil membawa bungkusan bubur mutiara dan satu mangkok serta sendok.
"Mas.....? Kamu makan apa?" Vira tiba2x muncul dikamar saat aku menyendok bubur mutiaraku. Matanya melihat sendok yang berisi butiran2x merah muda
dan santan gurih bercampur juruh gula jawa.
Dia mendekat dan mengambil sendok itu dan mendekatkan kearah mulutnya.
"Kamu belum mandi?" tanyaku
"Belum, tunggu sebentar minta sesendok lagi!" jawabnya. Tangannya menahan tanganku saat aku ingin mengambil sendok yang dia pegang.
"Mas.......aku mau ikut pertemuan dengan Pak Santosa, boleh" katanya setelah menelan bubur mutiaraku.
"Boleh....cepat sana mandi?" kataku memberitahu
"Tunggu masih satu setengah jam toh, kuselesaikan dulu masakku. Baru setelah itu aku akan mandi" jawabnya
"Kenapa kamu mau ikut?"
"Aku mau tahu...apa saja yang mas bicarakan" katanya sambil memandang ke arahku.
Kami berangkat ke kantor Pak Santosa tepat jam 9:30. Ada beberapa orang yang hadir disana saat kami diantar masuk kedalam. Dengan agak grogi, aku menyalami mereka satu persatu sambil mengenalkan diri
"Begini Arjuna, Pak Haryadi ini ingin tahu dan kenalan sama kamu. Kapan hari aku cerita2x sama beliau2x ini tentang apa saham2x yang kamu sarankan jual dan beli. Semuanya cocok dan menguntungkan, kemaren kamu cerita tentang kenaikan harga emas, ini bukan main-main kalau ditindak
lanjuti. Sekarang mereka ini ingin tanya semua ini dari mana dan bagaimana kamu bisa menarik kesimpulan hingga kamu bisa menyatakan bahwa dalam 2 hari lagi harga emas akan naik hingga 30 ribu rupiah pergram." Pak Santosa membuka pembicaraan
"Begini Mas Arjuna, apa mas pernah
belajar tentang garis Fibonacci dan theory theory perdagangan di pasar saham?" tanya Pak Haryadi.
Aku sedikit bingung dengan apa saja yang ditanyakan kepadaku mengenai garis Fibonacci. Wajahku yang menjawab pertanyaan Pak Haryadi.
"Mas Arjuna apa jadi anggota mailist Ellen May
atau Astronacci?" katanya menambahkan
Aku menjadi semakin bingung mendengar nama-nama asing yang keluar dari Pak Haryadi.
Tiba-tiba Pak Santosa berbicara dan meminta seorang lelaki China dengan kaca mata agak tebal bertanya.
"Ini suaminya Tante Anneke, kamu sudah tahu pedagang
emas di Solo"
Sebelum sempat berbicara aku memberanikan diri untuk berbicara sebentar.
"Bapak, mohon saya dimaafkan. Terus terang apa yang saya katakan kepada Pak Santosa kemaren itu adalah sebuah laporan yang saya baca dari satu sumber berita. Maaf saya tidak akan menyebut atau
memberitahukan semua kepada bapak-bapak. Bahwa besok harga emas akan naik adalah sebuah kejadian absolut yang akan benar-benar terjadi. Bapak boleh percaya atau tidak percaya itu terserah bapak semua.
Sebagai orang yang mengenal Pak Santosa, saya tidak pernah menipu atau
atau merugikan beliau baik secara financial ataupun moral. Pandangan saya, apa yang saya sampaikan kepada Pak Santosa hanya sebagai sebuah kebetulan belaka. Sementara mengenai theory Fibonacci yang Pak Haryadi tanyakan dan nama-nama lainnya saya tidak pernah mendengarnya.
Semua
mengangguk pelan saat aku mengatakan apa saja yang perlu aku sampaikan. Aku tidak mengada-ada dan tak perlu membeberkan apa yang kuketahui seluruhnya.
"Jadi apa yang akan terjadi besok mengenai kenaikan harga emas itu pasti ya?" tanya suami Tante Anneke
"Saya rasa demikian"
"Sebetulnya kita ini berkumpul, kita ingin membentuk sebuah asosiasi dan kamu sebagai sumber informasi cukup memberi informasi itu saja. Sementara kita pemilik modal yang akan memodali, Pak Haryadi bergelut lama di pasar saham. Beliaulah yang akan mengeksekusi setiap transaksi.
Oleh sebab itu, kita ingin memastikan bahwa info yang kamu bagi ini keakuratannya bisa di pastikan tidak." Kata Pak Santosa "Katakan begini saja, Arjuna. Bagaimana kalau kamu mendapat bagian 5 persen dari setiap keuntungan transaksi. Katakan mulai hari ini, kalau memang harga
emas memang naik. Maka ini akan menjadi awal asosiasi ini bergerak"
Aku berpikir sejenak dan memberi komentar tentang 5% dari setiap transaksi. Komentarku disalah artikan bahwa aku meminta lebih dari itu. Bukannya aku ingin bernegosiasi tetapi sebuah usaha dan kerja sama semua
menginginkan lebih dari setiap tawaran. Sementara aku tidak tahu berapa nilai setiap transaksi yang akan di lakukan.
"Begini saja, kalau kamu rasa 5% terlalu kecil, kita bisa jalankan dulu selama sebulan ini. Kalau keuntungan memungkinkan untuk memberimu lebih kita akan
pertimbangkan" Kata Pak Haryadi. "Yang kita perlukan adalah keakuratan info sehingga kita tidak terjebak pada kerugian atau cut loss yg sering kita lakukan saat bertransaksi.
"Begini Arjuna, sebaiknya kamu langsung berhubungan dengan Pak Haryadi karena dia yang akan mengeksekusi
setiap transaksi. Oleh sebab itu, komunikasi intens harus segera dibangun untuk kelancaran dan keberhasilan.
Aku menindaklanjuti nasehat Pak Santosa dan meminta No HP setiap yang hadir.
Mereka juga meminta no hpku dan setelah berbincang-bincang beberapa saat kemudian kami
meninggalkan meeting dan berjanji untuk bertemu lagi hari sabtu yang akan datang untuk mereview apa saja yang telah kita lakukan sejak terbentuk asosiasi ini.
Aku sangsi dengan nama asosiasi tetapi sebagai org yang masih hijau, aku mengikuti saja apa yang para senior katakan.
"Mas Arjuna...." kata Vira saat kita berjalan keluar dari kantor Pak Santosa.
Aku menoleh kearahnya dan memandang sambil menunggu apa yang dia mau katakan.
"Mas tahu apa yang mereka inginkan?" tanya Vira
"Menurutmu?" kataku balik bertanya
"Mas bisa memberi apa yang mereka mau?"
"Aku tidak terikat sama mereka, mereka yang terikat kepadaku. Kalau aku mau diam, mereka tidak akan bisa berbuat apa-apa!" kataku menjawabnya
"Kalau begitu, mas seharusnya bisa saja minta bagian lebih banyak!" kata Vira
"Vira......kita baru memulai, demand dan supply belum ada."
kataku menenangkan "Aku juga tak boleh rakus, kalau memang banyak hasilnya aku akan bisa membantu banyak orang.
"Oh..bagus sekali harapanmu mas. Aku suka kalau bisa terwujud. Mau kemana sekarang?" tanyanya
"Kita pulang, aku harus melakukan sesuatu segera supaya kerjaanku ringan"
Bapak berada dirumah saat kami datang, Vira bergegas ke atas untuk ganti baju sementara aku berbicara sebentar kepada ibu di lantai bawah. Ketika Vira turun dan pergi ke dapur, aku naik kekamarku dan membuka laptopku. Aku membaca artikel dan mempelajari hal-hal yang berkenaan
dengan garis Fibonacci yang menjadi acuan orang2x dalam jual beli di pasar saham serta perdagangan emas. Sangat sedikit artikel yang mengulas tentang hal itu, tetapi aku menemukan beberapa video yang memberikan garis besar tentang topik ini.
Aku juga mencari tahu tentang
Ellen May, seorang gadis muda yang memiliki insting yang kuat dalam memprediksi arah dan gerak pasar saham. Ketrampilan dan kemampuannya diolah dari pengetahuannya menguasai garis Fibonacci serta penguasaan informasi global sehingga hal-hal yang menentukan fluktuasi harga saham
serta index perdagangan saham sangat dia mengerti. Hal inilah yang membuatnya sangat menonjol hingga saat ini sehingga ulasan serta apa yang dia katakan menjadi referensi mahal bagi para traders dan gamblers. Mereka rela mengeluarkan uang untuk menjadi member dimana ulasan
nya berupa naskah dan video briefing mengenai saham apa saja yang layak dibeli hari itu bisa mereka miliki. Begitu juga Astronocci, memiliki ribuan anggota untuk mendapatkan informasi detail mengenai pasar saham serta saham apa saja yang layak dibeli dan bisa menghasilkan uang.
Informasi mereka masih tetap saja bisa meleset karena tidak semua yang ada di pasar saham selalu bergejolak. Semua tak bisa diprediksi keakuratannya sehingga prediksi mereka juga byk meleset. Pergerakan fluktuatif pasar saham dipengaruhi banyak faktor. Faktor politis & sentimen
dari berbagai faktor sangat dominan dalam mempengaruhi harga saham serta indeks perdagangan.
Aku tertarik membaca lebih lanjut, tapi waktuku tidak banyak.
Aku membuka laman website Edisi awal dan menemukan informasi beberapa saham yang akan mengalami kenaikan signifikan. BBNI,
BBCA dan BBRI serta BMRI seolah mendapat angin segar sektor keuangan. Setelah pemerintah memberikan keringanan serta relaksasi di jasa keuangan.
Dengan rincian cukup detail harga awal pembelian dan harga akhir penjualan, nampaknya BBCA yang paling menguntungkan. Aku menelepon
Pak Haryadi untuk memberitahu info ini. Semua kalkulasi harga pembelian dan penjualan ke empat emiten saham itu aku SMSkan.
Pak Haryadi menerima infoku dengan antusias. Dia berkata bahwa dia akan segera menindaklanjuti. Aku juga memberitahu Pak Santosa tentang info saham itu.
Diluar sepengetahuanku ada percakapan intens antara anggota asosiasi. Keragu-raguan anggota lain yang belum mengenal aku sangat besar. Tetapi nampaknya Pak Santosa mampu meyakinkan mereka. Aku bisa merasakan setiap kali aku menelepon Pak Haryadi beliau selalu agak ragu dalam
menerima infoku. Terakhir kali saat hari jum'at malam saat aku memberitahu tentang skor bola copa america. Argentina mencetak skor 2 sementara Brazil tetap di angka nol. Kemenangan team Argentina terhadap Brazil merupakan diluar nalar dan kultur judi bola. Sehingga ketika skor
akhir kuberitahukan kepadanya, sedikit keraguan tertangkap dari suaranya. Aku tidak peduli dan terus memberi feeding informasi yg berkaitan dengan pergerakan pasar saham serta judi bola. Setiap kali aku menelepon Pak Haryadi aku juga menelepon Pak Santosa, hal ini aku lakukan
supaya aku mendapat sebuah dukungan. Sejak hari selasa hingga jum'at ada banyak transaksi yang terjadi karena informasi yang aku berikan. Hanya saja aku tidak tahu seberapa besar kapital yang mereka gunakan utk bertransaksi.
Pak Santosa sesekali meneleponku setelah transaksi
dilakukan dengan suara ketawanya yang khas, terkadang mengundangku untuk mengajak makan siang atau bertemu. Aku agak sibuk setiap kali beliau mengundang dan yang terakhir beliau menanyakan aku apa warna kesukaanku. Aku beritahu bahwa aku suka perak. Beliau menanyakan apakah aku
suka warna metalik. Aku menjawab iya karena terlihat kokoh. Sabtu pagi saat aku datang ke kantornya, Beliau dan beberapa teman yang ada didalam asosiasi sedang berbincang-bincang. Mereka tersenyum saat melihatku, ada sekitar 7 org semuanya. Senyum mereka adalah senyuman friendly.
Pak Santosa seperti biasa duduk di kursi director dengan tatap muka cerah dan senyum lebar.
"Selamat Pagi Pak San, Selamat pagi Bapak-bapak semua" kataku menyapa.
Para senior menyapaku balik dengan senyum lebar diwajahnya. Aku duduk di kursi yang aku duduki selasa lalu.
"Ini
akhir pekan yang panjang krn hari senin adalah hari libur. Kamu mau kemana Arjuna?" tanya Pak Haryadi
"Rencana besok saya berangkat ke Tawangmangu kembali turun hari senin siang" kataku
"Sudah dapat tempat nginap belum?" tanya Pak Santosa
"Belum..nanti sampai disana baru cari?"
jawabku sederhana
Pertemuan hari itu adalah pertemuan untuk mereview hasil kerja selama 4 hari sejak selasa lalu.
Hasil dari apa yang aku dengar dan amati, bahwa hasil minggu ini sangat bagus. Aku dengan tetap tenang menyimak hasil laporan Pak Hariyadi.
Pak Santosa menambahkan
bahwa harapannya, apa yang akan kita lakukan kedepan akan lebih baik lagi. Pak Haryadi selalu memancing dengan mengajak berbicara secara pribadi bagaimana aku mendapatkan berbagai informasi penting yang aku berikan kepadanya.
Dengan tanpa menyinggung perasaannya aku beritahukan
bahwa saya banyak membaca & mencari informasi di televisi bloomberg dan reuters. Itu adalah sumber berita utama yang aku dengar.
"Itu televisi menggunakan bahasa Inggris, aku tidak mengerti" katanya menjawab
"Itulah kenapa banyak yg tidak paham" jawabku sambil tersenyum tipis.
Hampir dua jam kami berbicara dan berbincang-bincang tentang rencana kedepan.
"Jun......?" aku menoleh kebelakang
"Ya Pak San?" tanyaku sambil melangkah kearahnya
Sementara yang lain sedang berada diluar ruang rapat untuk makan pagi bersama.
"Pak Haryadi telah mentransfer uang
ke rekeningmu sebesar 85 juta. Itu hasil informasi yang kamu berikan kepadanya. Asosiasi telah sepakat memberikan kepadamu sejumlah itu. Usahakan kamu bisa memanfaatkan uang itu sebaik-baiknya. Kamu masih muda, harapanku kamu tidak akan takabur dalam mengelola keuangan. Kamu
punya rencana apa dengan uang itu?" tanya Pak San
"Saya akan investasikan ke tanah. Saya perlu membeli rumah untuk bapak dan ibu." jelasku
"Begini........." kata Pak San "Ikut aku kebelakang sini" lanjutnya sambil melangkah kedalam.
Aku mengikutinya dibelakang sambil melihat
kesekeliling ruangan yang kami lewati. Ada seperti ruangan panjang lorong menuju ke belakang bangunan kantor itu. Lorong itu berujung ruang terbuka dgn sebuah garasi besar beratap seperti kanopi dengan mobil berjajar, berderet menyamping.
"Mobil Suzuki Swift metalik disana itu
aku belikan buat kamu. Kamu bilang kamu suka warna perak." Tangannya meraih kedalam kantong celana dan mengeluarkan kunci serta menyorongkannya kepadaku. Matanya memandangku sementara aku tidak percaya dengan apa yang dia berikan.
"Saya belum bisa menyetir mobil pak!" kataku
polos
"Gampang....bisa belajar cepat" katanya memberiku semangat
Aku mengambil kunci mobil Suzuki Swift yang diberikan dan berjalan ke arah mobil itu. Saat aku melihat plat nomor, aku sedikit tercengang. Plat mobil itu "AD 1 KU" aku memandang ke arah Pak San.
"Ya...kamu adikku!"
katanya. "Kamu adikku yang paling kecil" tangannya menepuk pundakku dengan berat.
"Terima kasih Pas San...!"
"Sama-sama....aku juga harus berterima kasih kepadamu"
"Saya mau titipkan mobil ini disini dulu kalau boleh, barang 1 atau 2 minggu supaya saya bisa belajar menyetir"
"Jun,......?" kata Pak San menyela
"Ya...Pak?" kataku menyahutnya
"Ada villa didekat gerojokan Sewu yang sedang kosong. Aku nanti teleponkan penjaganya untuk menyimpankannya untukmu. Tidak usah bayar, itu Villaku. Pakailah ..... Tidak ada yang akan naik ke Tawangmangu minggu ini"
Pak San mmandangku. "Nanti aku beritahu alamatnya supaya kamu tidak kesulitan mencarinya. Kamu tinggal disitu, mau kmana mana dekat. Kamu mau masuk ke air terjun tinggal jalan kaki. Mau ke Pasar juga dekat. Mau ke Kafe juga mudah. Cuma satu tidak ada kolam renangnya. Kamu, berapa
orang akan kesana?" tanya Pak San
"Hanya berempat saja" kataku pendek
"Ada kamar yang untuk berempat, jadi nanti kamu bisa satu ruangan tidur bersama. Kasur bisa digeser" katanya menjelaskan.
"Terima kasih Pak San........." kataku dengan suara sopan dan pelan. "Untuk mobil itu?"
"Sudahlah.......aku telah mendapatkan banyak dari informasi yang kamu berikan. Kamu tidak perlu ragu untuk menerimanya." jelas Pak San tanpa memberiku kesempatan untuk merasa sungkan atas pemberian mobil itu.
Siangnya Mas Reynaldy menelepon aku, dia menceritakan sebuah motor
baru yang dia terima dari Pak Santosa. Kabar ini membuatku agak lega saat tahu bahwa Pak Santosa memang untung banyak dari transaksi saham yang dia lakukan. Aku tidak memberitahu Mas Reynaldy bahwa aku menerima sebuah mobil Suzuki Swift.
Aku menyempatkan pergi ke daerah
Banyuanyar untuk mendaftarkan diri belajar kursus mengemudi. Kebetulan jadwal yang pas tersedia sehingga aku memutuskan untuk mulai kursus hari Selasa setelah pulang dari Tawangmangu. Aku sengaja memilih tempat kursus ini sebab dekat dengan bandara supaya tidak ada yang tahu aku
belajar mengemudi. Setelah selesai dengan pendaftaran aku pulang. Ibu sedang duduk dimeja kerjanya saat aku sampai. Ibu meminta aku untuk duduk didepannya sebentar dan menanyakan apa saja yang aku lakukan akhir akhir ini.
Aku menjawab seperlunya, didepanku terdapat sebuah brosur
dari sebuah agen perjalanan haji. Aku mengambilnya dan menanyakan apakah ibu dan bapak tertarik untuk ikut naik haji. Ibu menghela nafas panjang saat aku menanyakan hal itu. Tangannya diangkat sambil menggosokkan ujung jari jempol & ibu jari bersamaan sambil menggelengkan kepala
"Berapa biaya yang dibutuhkan?" tanyaku kepada ibu
"Tidak usah kamu pikir" jawab ibu
"Saya yang berangkatkan bapak dan ibu naik haji" kataku sambil memandang beliau.
Ibu menatapku dengan serius, beliau tahu apa yang aku katakan tidak main-main.
"Biayanya besar, kamu masih perlu
banyak uang untuk kuliahmu" jawab ibu
"Sebaiknya ibu ikut ONH Plus supaya Ibu tidak terlalu lelah perjalanan." kataku sambil membaca brosur itu
"Itu biayanya lebih mahal lagi, tidak akan terjangkau kalau bapakmu yang bayar" kata Ibu
"Coba nanti aku tanyakan Pak Santosa, mungkin
beliau bisa mencarikan solusi" kataku
"Kamu jadi ke Tawangmangu besok?" tanya ibu mengalihkan pembicaraan.
"Iya saya jadi pergi, tidak berdua saja sama Vira. Kami akan pergi dengan teman yang kerja di Bandara" kataku
"Bapak kemana bu?" tanyaku
"Baru saja berangkat ke Karanganyar"
Aku berdiri dari tempat dudukku dan berjalan kearah tangga untuk menuju kamarku. Saat kubuka, kamar kosong dan tak kutemukan Vira didalamnya. Aku keluar lagi dan kubuka pintu kamar Wulan mengira Vira ada didalam sana, ternyata kamar Wulan juga sepi.
Aku kembali turun dan menanya
kan kepada ibu kemana Wulan dan Vira. Ibu memberitahuku bahwa mereka sedang belanja di Orion. Vira ingin membeli makanan yang akan dia bawa ke Tawangmangu. Aku kembali ke atas kekamarku dan membuka kembali laptopku.
Ada beberapa artikel yang aku baca mengenai perdagangan saham.
Khususnya perdagangan saham di NASDAQ OMX PHLX dan New York Stock Exchange dimana dua tempat ini menjadi 2 pasar saham paling tua di Amerika Serikat. Banyak orang menjadi kaya karena mereka menang di pasar perdagangan saham. Saham2x dari perusahaan perusahaan yg terkenal melantai
di dua pasar saham ini dan memecahkan record dalam jumlah dan volume perdagangannya. Ketertarikanku semakin menjadi saat aku menemukan bahwa perusahaan2x tehnologi biasanya melakukan IPO [Perdagangan Awal di Nasdaq. Ternyata Nasdaq memiliki empat central perdagangan di 4 tempat
berbeda sehingga tidaklah mengherankan jika tempat ini menjadi pusat rujukan dan pengaruh diseluruh dunia.
Entah berapa lama aku berada di depan laptopku mempelajari informasi tentang pasar saham. Ketertarikanku dibidang ini makin menjadi dan aku sgt berminat belajar lebih dalam
HP ku berdering tepat saat Vira membuka pintu kamarku. Wajahnya semringah saat melihatku ada didalam kamar.
Aku menengok layar HP ku untuk melihat siapa yg menelepon. Jariku langsung kuangkat memberi tanda kepada Vira untuk diam & tidak berisik saat aku membaca nama Pak Santosa
"Hallo Pak San......?" sapaku sopan
"Kamarnya sudah disiapkan, kalau memang besok jadi ke Tawangmangu, kamu tinggal datang saja" kata Pak Santosa memberitahu
"Pak San, maaf mungkin saya tidak akan menggunakan Villa Pak San. Teman saya telah membooking sebuah villa didekat pasar"
"Hati-hati siapa tahu ada pemeriksaan, apalagi kalau kamu menginap dengan anak perempuan." kata Pak Santosa
"Iya Pak San, saya perhatikan nasehat Pak San." kataku sambil berterima kasih. "Pak San, boleh saya tanya sesuatu yang lain?"
"Boleh....kebetulan tidak begitu sibuk"
"Saya ingin memberangkatkan Bapak Ibu saya naik haji, saya mau minta saran Pak San" kataku. Vira yang berada didekatku memalingkan wajahnya kearahku.
"Begini .......kalau orang tua yang berangkat aku sarankan pakai ONH plus. Kalau biaya cukup, lebih baik di naikkan pesawat
kelas bisnis. Hal ini perlu supaya orang tua tidak akan kelelahan saat perjalanan. Kalau pakai ONH plus, masa naik haji akan lebih singkat dan hotel tempat singgah tidak akan terlalu jauh dari tempat 2x suci itu.
Pelayanan juga akan sangat cepat dan semua sdh diaturkan secara
baik. Ada teman yang bisa menguruskan, kalau kamu mau. Coba aku akan kontak teman, siapa tahu tahun depan bisa berangkat."
"Oh...secepat itu?" tanyaku kaget.
"Benar, biasanya antrian sangat panjang. Tapi bisa diaturkan kalau kamu mau tahun depan. Beritahu aku kalau jadi" katanya
Setelah berbincang mengenai ONH plus dan kemungkinan memberangkatkan Bapak & Ibu ke Tanah Suci, Pak Santosa menutup telepon. Vira langsung berbicara dan menanyakan tentang apa yang baru saja dia dengar.
"Pakdhe dan Budhe akan naik haji mas?" tanya Vira ingin tahu. #ceruitamesum
"Tadi saat aku sampai dirumah, ibu menunjukkan sebuah brosur. Aku masih tanya-tanya saja dan belum tahu tentang keseriusan Ibu dan Bapak" kataku menjawabnya
"Wah biayanya besar....." kata Vira
"Kamu keluar sama Wulan kemana?" tanyaku
"Beli makanan dan cemilan untuk kumakan disana
Aku menoleh keatas meja didekat tempat tidur, sebuah tas plastik putih teronggok diatasnya. Aku berjalan kearah tas itu dan membuka untuk mengetahui isinya. Dengan tangan kananku, aku menyibakkan tas. Beberapa camilan kering, selai pisang, roti bolu surabaya dan beberapa lainnya.
"Ada yang mas suka?" tanya Vira
"Ya, apa yang kamu pilih bisa aku makan juga" kataku
"Kita ke Tawangmangu jam berapa mas?"
"Kita berangkat jam 7 pagi, kita akan ketemu teman di daerah Karanganyar. Terus kita berangkat bersamaan"
"Menurut Mas...motor kita bisa menanjak keatas?"
"Iya pastinya bisa, aku akan bawa ke bengkel untuk di stel supaya bisa merangkak ke atas"
"Aku takut motornya mas ngga bisa naik! Aku lihat sudah agak tua" katanya dengan sedikit tertawa.
"Tenang......setelah dari bengkel, pasti akan beda tarikannya." kataku meyakinkannya.
Aku keluar kamar sambil membawa jaket untuk membawa motorku ke bengkel Honda. Ibu masih berada di meja kerjanya saat aku pamitan kepada beliau.
Aku menuju ke bengkel motor Honda di daerah Serengan, sebuah bengkel dengan nama cukup tersohor di Solo "Honda 1272 Taruna Motorsport"
Saat aku tiba, seorang mechanic bernama Jimmy menyambutku. Aku memberitahu dia bahwa motorku akan aku bawa ke Tawangmangu, aku memintanya untuk menyetel supaya motor itu bisa gila di tanjakan. Dia tersenyum saat aku menceritakan kemauanku.
"Beres....!" katanya pendek
#ceritamesum
Sekitar satu jam kemudian, sepeda motor yg aku naiki seperti bertambah power & agak binal. Aku perlu menyesuaikan sedikit supaya bisa menjinakkannya. Mesin terasa lebih garang dgn suara kenalpot agak keras. Ibuku tidak ada di meja kerjanya saat aku pulang, beliau berada dikamar.
Malamnya aku diajak bapak ke kampung sewu untuk bertemu temannya sesama makelar tanah, Pak Manto.
Kami duduk di angkringan di selatan kantor kelurahan Kampung Sewu. Suasana sangat sepi di kampung itu, Pak Manto yang berkumis tebal dan berambut putih punya kharisma sebagai seorang
makelar. Pandangan matanya tajam mengarah ke mata yang diajaknya berbicara. Aku pesan wedhang kacang, sementara bapak dan temannya minum wedhang ronde.
Perbincangan kami berakhir sekitar jam 10 malam. Aku mendengarkan bapak dan Pak Manto berbincang-bincang dan menimba ilmu dari
mereka berdua. Mereka berdua seperti saudara, Pak Manto jarang kerumah kami tp bapak dan Pak Manto sering bekerja sama mencari pembeli tanah. Aku langsung tidur saat aku sampai dirumah, sementara Vira sudah terlelap di kasurnya.
#ceritadewasa #ceritacinta #ceritaseks #ceritahot
Vira membangunkan aku sekitar jam 5:40, nampaknya dia tidak sabar untuk segera berangkat. Kami memutuskan untuk tidak mandi pagi itu tapi kami membawa perlengkapan mandi dan baju ganti. Aku menaruh bajuku dan bajunya Vira di tas rangsel punyaku. Sekitar jam enam lebih sepuluh
kami telah berada diatas sepeda motorku. Dengan jaket membungkus badan kami dan celana jeans melindungi kaki kami, kami melaju kearah timur menuju Palur, Tasikmadu, Karanganyar dan disitulah kami bertemu Adrian and Naira.
Mataku menatap wajah cantiknya dengan sedikit polesan
kosmetik serta jari-jari lentik panjang. Kuku tangannya berwarna merah serasi dengan apa yg dipakainya. Mataku sempat tak berkedip saat mata kami bertubrukan. Senyumnya memecahkan mantra hipnotis yg menguasai pikiranku. Vira bersalaman dgn mereka berdua setelah aku perkenalkan.
Naira dan Vira langsung akrab sesampai kami di Tawangmangu. Mereka berdua langsung bisa click saat mereka berbicara. Adrian telah menyewa sebuah rumah dengan satu kamar besar dan 2 queen beds yang tertata secara berjejer berdampingan. Aku agak kaget dengan pilihannya saat masuk
kedalam kamar. Nampaknya Adrian mengetahui apa yang aku pikirkan, dia mendekat kepadaku sambil membisikkan kata "ORGY", aku tahu apa yang dia maksud tapi ini aku sama Vira, sepupuku. Aku agak jengah dengan suara ketawanya setelah mengucapkan kata itu. Aku tidak tahu apakah Vira
setuju dan bisa mengumbar tubuhnya didepan penonton. Pasti awkward dan ganjil bagi orang normal. Aku sendiri berusaha memahami apa yang diinginkan oleh Adrian, aku berpikir apa mungkin dia seorang exhibitionist yang suka ngeseks didepan penonton.
"Gila, kenapa kau pilih begini?"
"Kita sudah sama - sama dewasa" katanya sambil ngakak
Vira dan Naira menoleh kearah kita sebentar saat mendengar Adrian ngakak terbahak-bahak.
"Apanya yang lucu?" tanya Naira. Suaranya terasa merdu ditelingaku.
"Ngga apa-apa, kita sedang membicarakan jadwal kita?" kata Adrian
Matanya mengerling kearah Naira, kembali mataku mengarah kearahnya. Naira punya tubuh sangat proporsional, kulitnya halus dan dengan leher yang panjang. Aku membayangkan menungganginya, pikiranku liar saat tatapan mataku bertemu dengan tatapannya.
Vira tersenyum saat tahu tatapan
kami. Tiba-tiba aku merasa kasihan saat aku menyadari kekeliruanku.
"Jadi kita mau jalan kemana?" tanya Vira
"Aku mau ke kamar mandi dulu" kataku sambil menyelonong jalan kesisi kiri ruangan. Kamar mandi berada di ujung ruangan. Aku membuka pintu dan disambut pantulan tubuhku di
cermin. Aku menutup pintu kamar mandi. Tidak begitu besar kamar mandinya, dindingnya berselimut keramik biru ukuran 15x15 cm. WC duduk bertengger di sebelah kanan dan aku mengangkat penutupnya untuk sebelum aku terkencing.
Rasa lega terasa setelah menahan air kencingku selama
perjalanan. Ketika aku keluar, Adrian telah membaringkan tubuhnya diatas kasur. Matanya tertutup sementara nafasnya teratur naik turun.
Rasa lelahku menghipnotisku untuk mengikuti apa yang dia lakukan. Aku ambruk diatas kasur yang satunya sementara aku masih memakai sepatuku.
Vira mengeluarkan makanan yang dia beli di Toko Orient, dia menaruhnya diatas meja. Naira melihat apa yang di lakukan Vira dan mendekatinya untuk melihat makanan apa saja yang ada.
"Aku lapar......boleh minta satu?" pintanya ringan
"Boleh.....ambil apa yang kamu suka mbak" jawab
Vira.
Cake lapis Surabaya yang diambil Naira. Sementara Vira mengambil satunya. Mereka berdua berbincang di kursi kayu sambil menggigit cake lapis yang dia pegang. Suaranya tak terlalu jelas tapi nampaknya mereka bisa aktrab. Sementara Adrian menutup matanya terlihat pulas. Aku
terlelap setelah beberapa saat. Entah berapa lama aku tertidur tapi saat aku membuka mataku, lampu kamar telah padam hanya Adrian yang terlihat diatas kasurnya.
"Gila lelap sekali tidurku.......!!" kata Adrian tiba-tiba
"Aku juga tertidur.......bregsek ngga sadar."
Adrian bangun
dia berjalan kekamar mandi. Terdengar air kencing tertumpah didalam lobang WC dan siraman air terdengar menyusul. Dia berjalan ke arah tas yang dia taruh dilantai dan memungut sesuatu dari dalam.
"Sss.....sttt!!!, kamu pernah lihat ini?" tanya Adrian sambil menunjukkan aku sebuah
kotak kecil berwarna oranye dibagian atas dan putih bagian bawah.
"Apa itu?" tanyaku sambil mengulurkan tanganku untuk mengambil kotak itu dari tangannya.
"Ini stud..!" katanya menjawab
"Untuk apa ini?" tanyaku
"Oleskan kebagian ujung dan lamuri kepala penismu supaya tahan lama"
"Ada efek sampingnya tidak?" tanyaku ingin tahu
"Aku blom pernah mencobanya, tapi temanku bilang kalau cream ini bisa membantu supaya tidak ngecrot cepat."
Aku membuka kotak itu dan mengeluarkan botol kecil. Selembar kertas jatuh saat botolnya aku tarik keluar.
Aku memberikan
botol kepadanya dan membaca kertas manual penggunaannya. Ada keterangan bahwa cream ini membuat kulit dan batang penis mati rasa sehingga pengguna akan bisa tahan lama.
Aku berpikir sejenak, dimana sensasi nikmatnya kalau dibikin mati rasa?
"Kamu coba saja, aku mau lihat
reaksinya bagaimana?" kataku
"Okay...........!!" katanya percaya diri
"Kamu pernah ngeseks sama Naira?" tanyaku menyelidikinya
Dia hanya menggelengkan kepalanya.
"Kenapa kamu yakin dia mau ngeseks sama kamu disini?" tanyaku
"Dia sudah janji sama aku ........!" jawabnya pendek
"Adrian, kamu tahu tidak bahwa dia punya reputasi?" tanyaku
"Maksudmu? Reputasi sebagai cewek panggilan ya?" tanyanya dengan senyum bangga. Wajahnya seperti berbinar saat dia mengatakannya
Aku mengangguk.
"It's just for fun, fella!" katanya datar tapi dengan senyum masih dia
tunjukkan. "You are welcome to have a ride on her too...!"
"Aku belum pernah..." kataku tanpa mengatakannya hingga selesai
"Tenang...semua itu ada awal dan pertamanya" jawabnya, nada suaranya seperti seorang mentor.
Tapi kata katanya "You are welcome to have a ride on her too...!
sangat menarik perhatianku.
"Caranya bagaimana?" tanyaku
"Gampang nanti bisa diatur dengan permainan"
Tiba-tiba pintu terbuka, Vira dan Naira masuk terburu-buru kedalam kamar villa.
Terdengar hujan mulai turun, ternyata mereka baru saja lari menghindari rintik hujan.
#ceritaseks
"Kalian darimana?" Tanya Adrian, tangannya memasukkan kotak cream stud 007 bergambar kuda.
Mataku melihat sepintas apa yg dia lakukan.
Vira berjalan kearah tempat tidur dimana aku duduk, dia berbaring disisi kanan dimana ada space buatnya utk berbaring.
"Aku kedinginan!" katanya
Udara di Tawangmangu memang dingin apalagi hujan sedang turun. Langit serasa redup, tangan vira menarik lenganku. Aku membaringkan tubuhku disisinya. Sementara Adrian berjalan kearah kamar mandi, entah mau apa.
Suasana nampak canggung karena ada Naira disana. Vira cuek saja
dan melihat kecanggunganku.
"Maaaaasss......cium!" katanya pendek
"Hush......!!!" kataku memperingatkan
"Dia sudah tahu......!" kata Vira sambil cengengesan
"Tahu apa?"
"Tahu bahwa kita pernah berdua!"
Aku agak kaget, "Kenapa kamu cerita?"
"Karena dia cerita duluan!" jawabnya
"Ngga ada rahasia diantara kita....!" celetuk Naira. "Sudah ngga usah malu-malu, nanti malu-maluin......hahahahaha"
Adrian keluar dari kamar mandi, dia kembali berjalan kearah tempat tidurnya. Nampaknya dia juga canggung tapi kelihatan bahwa dia lebih pandai menetralisir suasana
Tangan Vira menarik lenganku lagi hingga aku terbaring di tempat tidur. Tangan yang menarikku dia lingkarkan di leherku, satu tungkai kakinya dia naikkan di pinggangku. Lidahnya menjulur dan mengenai bibirku, punggung Vira membelakangi Naira sehingga dia tidak bisa melihat apa
yang diperbuat Adrian dan Naira. Konsentrasiku terpecah antara melayani Vira dan melihat apa yang diperbuat Adrian diatas ranjang.
"Lihat sini saja.....!" bisik Vira saat mataku mengarah ke mereka. Bibirnya mengecupiku, sesaat aku memalingkan mukaku kearahnya. Konsentrasiku masih
belum sepenuhnya mengarah ke Vira yang makin menggila menciumiku. Beberapa hari tidak bersenggama membuat nafsunya tak terbendung. Tangannya meraih batangku yang masih didalam celana. Sementara tanganku mengambil pipi dan wajahnya mencoba mengimbangi keinginannya. #ceritaseks
Bibir kami berpagutan, terbuai oleh kelembutan dan nafsu membaranya. Aku menempelkan telapak tanganku ke dadanya.
"Oooohhhh........" terdengar suara Adrian dari tempat tidur seberang. "Tumpah spermaku" katanya sambil beranjak dari tempat tidurnya.
Kami berhenti berciuman dan
menoleh kearah mereka. Wajah Naira nampak kecewa, mata kami berpandangan sejenak. Naira memandang kearah Vira sambil tersenyum. Aku tidak tahu bahasa isyarat apa yang mereka berdua cakapkan melalui pandangan mata. Tiba2x Naira berdiri, dia berjalan menuju kekamar mandi menyusul
Adrian. Dia membuka pintu kamar mandi dan melongok kedalam sementara tubuhnya masih berdiri di kusen pintu kamar mandi.
"Sudah keluar mas.....?" tanyanya dengan nada kecewa.
Dia memutar tubuhnya dan pandangannya kembali bertemu dengan pandangan kami.
Cumbuan kami terhenti oleh
kegaduhan yang ditimbulkan oleh Adrian. Aku berpikir sejenak, apakah dia belum mengoleskan cream Stud 007 yang dia pamerkan kepadaku.
Vira memutar tubuhnya menghadap kearah Naira yg sedang kembali berjalan dari kamar mandi. Aku melingkarkan tanganku didadanya, telapak tanganku
berada diatas gundukan payudaranya mencengkeram tanpa meremasnya.
Batangku mengeras menempel dipantatnya. Wajahku bersandar di belakang lehernya yang terpisah oleh helaian rambut.
Aku menyibakkan rambut yang menghalangi dan menempelkan bibirku di leher bagian belakang.
Vira
menggelinjang saat lidahku menelusuri kulit lehernya. Tangannya yang memegang tanganku, menekannya kearah dadanya.
"Ohh mas....!!!" Pantatnya dia tunggingkan kebelakang menggesekkan ke batangku.
Mata Vira membengkak terlihat sange. Tanganku meremas pelan salah satu buah dadanya
jari -jariku menelusuri gelembung dadanya sambil mencari putingnya.
"Oooooghhhh massss.........!" lenguhnya, lehernya dia renggangkan memberi akses aku untuk mengecupinya.
Naira gagap saat melihat apa yang kami lakukan.
Pintu kamar mandi terbuka, Adrian keluar memakai handuk
melilit dipinggangnya. Dia kembali berbaring diatas ranjang. Naira mendekatinya, tangannya meraih handuk utk membuka lilitan.
"Kok berminyak kepala kontolmu mas?" kata Naira agak keras.
"Iya..pelumas spy tahan lama!" katanya terbata bata dan ragu.
"Lain kali natural saja deh"
Kata Naira dengan agak kesal. Adrian meraih Naira dan menarik tubuhnya mendekat. Handuk yang melilit dipinggangnya telah terbuka, tangan Naira memegang batang kontholnya, batangnya masih loyo. Sementara Vira semakin agresive, dia kembali putar tubuhnya kearahku. Dia menarik ujung
bawah kaos yang dia pakai keatas dan melepasnya. Kemudian tangannya membantuku untuk melepas kaosku. Hujan deras yang turun belum juga berhenti, tubuh kami merasakan hawa dingin namun panas tubuh kami saling menghangatkan saat bersentuhan.
Vira melepas BH nya dengan seksi, tangan
ku meremas kedua buah dadanya. Naira dan Adrian memandang kearah kami. Mereka nampaknya sibuk dengan nafsu mereka. Tangan Vira melepas tanganku dari payudaranya, agak menunduk dia membantu melepas celanaku. Dia turunkan celana dalamku bersamaan sekaligus, batang burungku meregang
"Wow......." katanya keras
Naira dan Adrian menoleh kearah mata Vira yang provokatif. Sedikit malu aku menghalangi pandangan mereka kearah batang burungku yang meregang.
Adrian melongo saat Vira memegangi batangku dan memasukkannya ke mulutnya.
Wajahnya kecut terintimidasi oleh
ukuran panjang dan kekarnya batangku. Aku tidak mempedulikannya. Tanganku meraih kedua payudara Vira dan meremas lembut putingnya.
"Ohhhhh....Vir" kataku sambil mendongakkan kepalaku
Tangan Vira mengocok pelan sementara bibirnya membungkus kepala kontolku.
Aku melepas payudaranya
dan menaruh tanganku keatas kepalanya. Rambutnya aku sibakkan dan membantu mengarahku gerakan kepalanya. Kepalanya naik turun perlahan mulutnya meraup batangku, terasa nikmat pelayanan bibirnya.
"Lepas celanamu...!" kataku menyuruhnya. Tanganku mendorong kepalanya untuk berhenti
Kedua tangan Vira menurunkan celananya, dia memposisikan tubuhnya untuk mempermudah melepas nya. Aku membantu menarik ujung celananya sehingga mempermudah melepas celana yg ketat itu.
Dia menaruh celananya di lantai kamar, aku menengok sesaat kearah Adrian. Dia sedang sibuk
berciuman dengan Naira. Tangan Naira mencengkeram batang burungnya yang masih terlihat agak loyo.
Vira memposisikan pantatnya ke dadaku sementara mulutnya kembali memaguti kepala batang kontolku.
Posisinya memberiku akses untuk meraih memeknya, lendir meleleh membasahi lobang
nikmatnya. Jariku meraba pelan didaerah sekeliling memeknya dengan lembut.
"Oohhh massss........." suaranya terdengar saat melepas batangku
Dia angkat pantatnya kearah jariku, aku menarik pinggangnya mundur kearah wajahku, lidahku menyolot maju dan menyentuh bibir memeknya.
"Ooohhh massss...." katanya merintih 'Ohhhh teruuuusss....sssssttttt" erangnya pelan.
Jariku mengusap-usap lembut klitoris yang menempel dibagian atas lobang memeknya.
"Ooooooooohhhhh pantatnya dia gerakkan secara liar mengimbangi gerakan jariku. "terrrrruussss....terruuuus!!
Badannya meliuk liuk pantatnya dia maju mundurkan sementara lidahku mengaduk aduk dan menusuk bagian dalam lobang memeknya.
"Massss....masss....massss.....ohhhhhh sssssstttt" gerakan pantatnya liar ingin terpuaskan." tubuhnya terasa hangat. Dia terhenti sejenak sambil berteriak
"Oooohhhhhhhh............!!" badannya terjatuh wajahnya kembali dia tempelkan ke batangku. Tangannya meraih batangku, nafasnya tersengal. Jarinya mengusap cairan yang keluar dari lobang kepala kontolku.
Kali ini aku yang mengerang "Oohhhh" suara keras terdengar keseluruh ruangan.
Aku mengejan sebentar menahan rasa nikmat yang muncul. Tanganku menarik pinggulnya, aku putar tubuhnya menghadap kearahku. Vira bangkit dari baringnya dan memutar menghadap kearahku. Dengan mengangkangiku tangannya meraih batangku & mengarahkannya ke lobang nikmatnya.
#ceritaseks
Karena terselip Klik link ini untuk membaca selanjutnya

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with With Much Love

With Much Love Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

More from @Lovewhisperer4

Mar 21, 2022
Cerita Pendek kedua adalah tentang aku, ya aku yg dinamakan bapakku Sarah. Aku tdk suka menceritakan kesedihan wanita, aku adalah bagian dari mereka yg beruntung dan berhasil. Baik dalam hal percintaan maupun dalam hal keuangan.
Baca tentang aku, hidupku & semua keberuntunganku. Image
SARAH ABDULLAH

Usia wanita bagi beberapa orang sangatlah pendek, usia berharga mereka dikitaran 20 tahunan. Tidaklah mengherankan bila wanita seringkali merasa was-was bila di usia itu tidak memiliki pacar yang serius atau yang membimbing mereka kepada status perkawinan.
Aku tidak mengalami masa-masa seperti ini. Walaupun secara finansial aku dari keluarga yang tidak kaya, namun hidupku selalu beruntung. Kisah hidupku layak dijadikan sebuah cerita bahkan film pendek yang mungkin layak dikonsumsi oleh para pembaca dewasa.
Read 37 tweets
Jul 1, 2021
Perlahan dia menurunkan tubuhnya bersamaan tenggelamnya ujung batangku kedalam lobangnya. Dia angkat kembali keatas tubuhnya sebelum kembali dia turun dan bleeeessss seluruh batangku ambles kedalamnya. Gesekan dan friksi antara kepala kontolku dan dinding memeknya membuat rasa
nikmat tiada tara. Lenguhan kami terdengar bersama
"Ooohhhh..........!" Gesekan pelan dan lembut terjadi saat Vira mengangkat pelan pantatnya dan menggoyang dengan memutar mutar ke kanan dan kekiri. Friksi makin terasa nikmat. "Addduuuuhhhh masss....enaaaakkk!!" katanya setengah
berbisik. Matanya terpejam, tanganku memegang kedua dadanya dan meremas remas susunya. Kadang terasa menggemaskan khususnya saat rasa nikmat terasa dari kepala batangku. Cairan meleleh dari dalam lobang Vira, goyangannya makin kuat. Batangku seperti mengaduk aduk lobang nikmatnya
Read 2043 tweets

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Don't want to be a Premium member but still want to support us?

Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal

Or Donate anonymously using crypto!

Ethereum

0xfe58350B80634f60Fa6Dc149a72b4DFbc17D341E copy

Bitcoin

3ATGMxNzCUFzxpMCHL5sWSt4DVtS8UqXpi copy

Thank you for your support!

Follow Us!

:(