Cerita ini dituturkan oleh ibu saya sendiri, entah karna hal apa td pagi ia terbangun & mengatakan memimpikan ninik-ninik (nenek-nenek) yg ditemuinya wkt KKN dulu di Tabanan sekitar tahun 1988. Ninik-ninik yg bisa..
- N G E L E K A S -
**Saya akan menggunakan bhs agak baku dalam menceritakan kisah ini, selain terlihat lbh sopan rasanya akan lebih enak dibaca**

**Yg kenal saya di RL, mengetahui org yg terlibat, lokasi, & semua yg saya ceritakan di sini agar kiranya bijak menghormati mereka**
Siang tadi, saya sdg mengobrol kecil dgn ibu. Ia bercerita bnyak hal mulai dari kisahnya mengerjai guru matematika yg killer saat SD, cerita memodif knalpot motornya wkt kuliah, hingga cerita wkt ia KKN di sebuah desa di Tabanan. Topik yg terakhir menarik perhatian saya.
Sbenarnya kejadian" mistis saat KKN sdh lumrah, ibaratnya spt kegiatan minum kopi dgn sebuah cangkir. Kita sdh tahu rasa apa yg akan dikecap, tp masih kita lakukan setiap pagi. Karna rasanya yg memang ditunggu-tunggu & memuaskan.
Akan selalu ada cerita yg hrs disampaikan di setiap pengalaman KKN. Apalagi mengenai hal mistis & gaib.

Ibu memulai kisah nostalgianya dgn menyebut nama desa di Tabanan, Desa P. Pada Tahun 1988, ibu & tujuh mahasiswa lainnya melakukan KKN disana.
Beruntung katanya, mereka wkt itu diberi ijin untk menjadikan rmh pribadi bendesa adat (kepala desa) sbg posko KKN. Meski berupa bale dangin dgn satu kamar sempit, itu dirasa lbh baik dibanding balai banjar yg tdk memiliki penerangan bagus.
Tp kata beruntung yg dikatakan ibu td agaknya tdk sesuai dgn kisah yg akan dialaminya selama KKN di desa ini.

Singkat cerita mahasiswa sdh diserahkan dari kampus ke bendesa adat & kepala camat. Jd selama sebulan 8 org ini akan melakukan proker yg sdh dirancang.
Mulai dri mmbuat pembatas desa, mmbuat lapangan voli, mengajarkan baca tulis, hingga berburu be julit (ikan sidat) di sawah. Yg terakhir bkn proker, tp lebih ke kegiatan hiburan mahasiswa.. hehe.

Ibu mengatakan kalau ditanya ada hawa mistis atau tdk saat memasuki desa ini,
jawabannya tdk. Wkt itu nuansa desa semua sama, ibu yg asli Sibetan, Karangasem sdh tdk asing jika memasuki desa yg masih didominasi rimbun pohon & semak-semak, bedanya di Desa P ini banyak sawah. Apalagi cerita" mistis yg berkembang, sdh umum jd perbincangan.
Dija wenten desa di Bali ane ten ngelah cerita pengeleakan?" (Dimana ada desa di Bali yg tdk punya cerita leak?) begitu tantang ibu. Tp terlalu jumawa rasanya menganggap biasa hal mistis apalagi daerah pedesaan,
meski cerita" gaib sdh melekat dalam dirinya tp ibu mengaku blm pernah melihat sosok leak wkt itu. Dalam hati aku meledek "Dan saat KKN lah kesempatan itu diberikan.. hihi"
Siang itu semua mahasiswa, kepala camat, bendesa adat, & bberapa warga berkumpul di balai banjar. Mereka melakukan musyawarah pertama kali mengenai proker & membicarakan hal lainnya. Jika musyawarah tentu saja ada makanan & minuman untuk disuguhkan ke para undangan bkn?
Nah ibu sbg wakil ketua, kemarinnya memberi perintah untuk memesan jajan di warung dkt perbatasan & untuk minumnya bisa membeli kopi instan. Bendesa adat yg ibu akrab panggil Jero Bendesa mendengar obrolan mereka & memberi saran agar jgn membeli di warung dkt perbatasan.
Dibuat bingung para mahasiswa saling brtukar tanya. Jero Bendesa terlihat enggan mngatakn hal yg sbnarnya karna takut terjadi fitnah, tp dgn saran tsb rasanya sdh bisa ditebak warung itu ada apa-apanya.

Pagi hari sblum rapat, salah seorang mahasiswa bernama Nyoman
yg mnjdi koor konsumsi, jd pagi itu ia & bbrapa mahasiswa sibuk mnyiapkan suguhan untk para undangan. Sdh ada pisang goreng & kacang trsedia rapi di atas kapar kecil, minumnya ia sediakan berupa kopi & teh.

Acara pun dimulai, jd para undangan diutamakan untk disuguhkan konsumsi
Kemudian giliran mahasiswa yg dibawakan minum. Saat giliran ibu mengambil teh, ia sekilas melihat ke dlm gelas. Dlm hati ia agak heran knp tehnya sangat keruh, biasanya air teh akan ada bayangan kita jika kita mendekatkan wajah. Karna blm ingin meminumnya ia pun menaruh teh tsb.
Tp tiba-tiba, gelas teh tsb pecah terbagi menjadi beberapa bagian. Semua org yg hadir wkt itu menjadi terkejut, sbenarnya hal ini bisa dijelaskan secara ilmiah namun ingat ini adalah kisah mistis pemikiran science kalian ditahan saja.

Ibu sdh mulai berpikir ada yg tdk beres.
Kepala camat yg hadir wkt itu sempat memberi kode tersirat. Ia mengatakan, jk sbuah wilayah yg warganya masih asing dgn kberadaan pendatang, meski org asing yg dtg sekalipun membawa misi kebaikan dianggap mengusik ya tetap saja akan menjadi target.
Tp jk selama kita berdoa & yakin tdk merugikan, hal" buruk akan menjauh. Beliau jg berharap agar warga welcome dgn kedatangan mahasiswa yg akan KKN karna sdh dikenalkan & disampaikan tujuannya.

Usai acara, semua mahasiswa terlihat heboh mengulas pecahnya gelas tsb.
Dan ya! Nyoman dgn polosnya mengatakan ia berbelanja di warung dkt perbatasan. Semua bahan ia beli disana, begitu kesalnya ibu wkt itu ia ingat sampai diberi julukan macan karna memarahi Nyoman terus"an. Pembelaan Nyoman wkt itu ia tdk mendengar saran dari Jero Bendesa.
Jk dipikir" ibu mengatakan masuk akal Nyoman berbelanja di sana, karna warung ini letaknya strategis jadi jk menuju banjar akan melewati warung ini & terbilang dkt dgn rmh Jero Bendesa. Tdk ada saingan warung lain, barang yg dijual pun cukup lengkap & beragam.
Kjadian tsb mnjdi ucapan selamat dtg yg memorable, skaligus mnjadi awal mahasiswa smakin dibuat penasaran dgn warung itu. Mudah saja bagi ibu & tmn" mendapat info. Warga desa sdh terbiasa bergosip bhwa pedagang yg seorang ninik-ninik berumur sekitar 70 th tsb bkn manusia biasa.
Namun mereka tdk ingin terlalu melihatkan gap, jika kentara, salah" mereka bnr menjadi target. Jd mereka akhirnya memutuskan untuk tetap belanja & menyapa ninik tsb jika brtemu, hanya saja tdk brbelanja makanan. Kira" hanya shampo, sabun, atau keperluan alat bantu keseharian.
Kira" sdh 1 minggu terlewati, ibu brcerita mmiliki kebiasaan mencari be julit di sawah pada mlm hari. Smua mahasiswa ikut serta. Jd mereka akan brgkt pkul 9 mlm & plg pukul 2 dini hari. Tp kata ibu, hal itu sangat seru bayangkan ramai" berburu & makan be julit gratis tiap hari.
Mereka setiap brgkat ke sawah dibantu penerangan senter besar 2 buah & lampu sentir. Jadi org pertama & terakhir akan membawa senter, untuk sentir dibawa org yg di tengah. Ibu jg mengaku ia tdk ingin berjalan paling blkg atau paling dpn, ia akan memilih berjalan di posisi nomor 2
alasannya karna jika ada kejadian apa-apa di blkg ia bisa berlari dgn gampang ke dpn. Atau jika ada kejadian di dpn bkn ia yg melihat prtama. Make sense.

Malam itu spt biasa semua mahasiswa brgkat untuk mencari be julit. Ibu membawa tali dari bambu & ember untk menampung julit.
Setelah berpamitan dgn Jero Bendesa mereka melangkah gontai menyusuri jalan setapak kecil sambil bercengkrama, tp tiba" salah satu senter yg dibawa tdk bisa menyala. Karna terhitung blm jauh, Madi nama tmn ibu yg membawa senter tsb memutuskan untuk berbalik untk mengganti baterai
Tkt terjadi hal yg tdk", Madi dipaksa untuk mengajak Nyoman. Mereka pun brgkat berdua. Sekitar bbrapa menit mereka sdh kembali, namun katanya tdk ada baterai cadangan. Tdk ada pilihan lain, mereka memutuskan membeli baterai di warung dkt perbatasan.
Ada dua hal yg mereka cemaskan, satu warungnya tutup yg kedua mereka akan mengalami hal mistis lg. Tdk ada pilihan mereka menuju ke sana, hingga sampailah mereka di warung itu.

Ini adalah kali pertama ibu melihat warung ini dgn jarak yg begitu dekat,
warung ini tdk tepat di pinggiran jalan. Masih perlu berjalan beberapa langkah masuk melewati pagar kayu, org Bali menyebutnya pagoan. Warungnya bgtu sederhana, bedegnya (ulatan bambu untuk atap & dinding) sdh agak menghitam namun barang" yg dijual cukup banyak & lengkap.
Madi mmanggil bberapa kali brharap pedagang mendengar untuk melayani mereka. Perlahan menyembul wajah dari dalam warung, di balik kardus & toples dagangan. Seorang ninik dgn muka sayu brambut putih. Matanya mulai terlihat agak keruh, keriput di wajahnya bgitu solid.
Ia nampak nyentrik karna biasanya ninik" suka pakai kamben (kain) tp ninik ini memakai baju kaos & celana 7/8. Terbilang tua tp ninik ini terlihat masih bugar. "Niki gus, bakta ampun yen dereng wenten jinah" (Ini dik, bawa saja dulu kalau tdk ada uang). Suaranya terdengar parau.
Begitu polos. Jika diingat spt ninik-ninik biasanya. Untung saja ada uang pas jadi mereka tdk mengutang mlm itu karna ibu memutuskan tdk ingin berbelanja kesana lg. "Warungne sereman ken ninik e" (warungnya lbh seram dari neneknya), begitu keluh ibu.
Senter akhirnya menyala kembali, mereka pun melanjutkan perjalanan. Dari jalan setapak mereka berbelok ke arah kanan menuju pundukan (pematang). Naik ke pundukan dan berjalan kembali ke pundukan lain yg lbh tinggi.

Tapi tiba" Madi yg paling blkg mengalihkan cahaya senternya..
Semua org berhenti & menoleh ke blkg.
"Knpe to Di?" (Knp Di?)
"Tolih-tolih, nyen to, nyen to?" (Liat-liat siapa itu siapa?)
Terdengar suara Madi agak bergetar. Semua pandangan pun menyapu ke arah bawah, karna posisi mereka ada di pematang yg lbh tinggi.
Tanpa mengira ternyata ninik-ninik pedagang warung tsb ada di blkg mereka. Ibu sangat jelas melihat celananya, celana yg dipakai wkt mereka berbelanja ke warungnya.

Gila! Org" yg awalnya berjalan tertib memanjang seketika bubar. Mereka brkumpul ke
arah dpn mndekati Ibu & Laba yg mmbawa senter paling dpn. Mungkin karna pemberani Madi malah meneriaki ninik tsb, "Mbah, kije mbah? Be peteng ne!" (Nek, kmn nek? Udh mlam ini) tp spertinya ninik tsb tdk mendengar & trs berjalan ke arah pundukan yg berlawanan dgn arah mereka.
Sedikit shock, namun tetap saja mereka melanjutkan perburuannya. Mereka berpikir toh jg ninik itu pergi berlawanan arah dgn tempat mereka, mungkin saja ada keperluan mendadak. Mereka menapaki pematang sawah lg untuk mencari tempat persembunyian julit & mulai memancingnya.
Wkt terus bergerak, belasan julit sdh didapat. Nur, yg ada di sebelah ibu mengajak untk plg karna julit yg di dpt sdh berjumlah belasan. Tp karna rasanya masih dini untuk balik tdk ada yg setuju & trs melanjutkan perburuan sambil menyombongkan hasil masing".

Tiba-tiba..
Salah seorg tmn ibu, Jaya. Melompat dgn keras ke arah sawah & menginjak padi-padi yg tertanam di sana. Ia berlari ke arah Madi yg sdg dgn Nyoman & Laba. Ia berteriak meracau. Semua org terkejut & menuju ke arahnya. Tp saat ditanya ia hanya menempelkan telunjuk kanan di bibirnya.
Semua terheran" melihat kelakuannya. Stengah berbisik ia mengatakan sesuatu "Tolih di bedulu, nyen to? Mbah to busan sing?" (Liat di atas, siapa itu? Nenek yg td bkn?) serentak semua mata menuju ke arah atas. Ada seperti perbukitan kecil, tanpa kira-kira Madi menyorot bukit tsb.
Sperti ada org di sana. Terlebih ada suara hentakan kaki terus menerus. Mungkin sdh sifat ilmiah manusia, kepo. Mereka berduyun-duyun menuju ke arah bukit tsb, tdk terlalu tinggi & aksesnya pun mudah. Sesampai di atas bukit bkn main terkejutnya mereka semua.
Ibu melihat ada sosok mengenakan kain poleng yg sdh lusuh menari-nari acak sambil ngeregeh & menggertakan gigi di sebelah sanggah cucukan (tdk tau Bhs. Indonya, cari di google ya). Gerakannya tdk menentu lebih spt gerakan org kerasukan. Rambutnya panjang tipis penuh uban,
saking tipisnya ibu bisa melihat kulit kepalanya. Ibu sampai skrg masih ingat detail wajah org tsb, ninik-ninik dgn wajah keriput agak hitam, matanya dipejamkan, dahinya seperti dirajah (ditulisi simbol-simbol), dgn 2 gigi taring di bagian atas menyembul keluar.
Kakinya dihentak-hentakan ke tanah bergantian dgn keras. Tangannya menari tp jari"nya terlihat kaku, spt tertahan sesuatu. Ia tidak menggunakan pakaian atas jadi dadanya terlihat namun masih ukuran normal bkn spt dada Rangda yg menggelayut panjang.
Saya penasaran dgn visual ninik itu, kemudian mencoba mencari sosok yg mirip di google. Dan inilah yg paling mendekati kata ibu. Bedannya wajahnya hitam bkn putih, pakai kain poleng bkn batik & tentu saja tdk bawa gayung.
Sosok itu trs menari padahal ditonton oleh 8 org, ia spt tdk terganggu. Mungkin ia terlalu trbawa suasana atau sdh di perbatasan dua alam. Ibu menyapukan pandangannya ke arah sanggah cucukan, ada ssorg disebelah sanggah tsb duduk bersimpuh & menunduk.
Ibu tanpa perlu wkt lama mengenali wajah itu, ia adalah ninik pedagang di warung perbatasan. Rambutnya tergerai acak-acakan, memegang beberapa buah dupa, & seperti sdg berdialog dgn seseorang. Dupanya sdh terlihat agak pendek mendekati padam.
Suasana semakin tdk karuan, ingin pergi tp penasaran. Ingin lanjut melihat tp mereka masih ingin plg dgn selamat. Dari awal cerita Madi memang org yg paling pemberani, ia mendekati sanggah tsb & mengambil kendi kecil dari tanah liat yg berisikan air di atas sanggah tsb.
Ibu jg menghampiri Madi & menyuruh membuang airnya ke arah bawah. Blm sempat mmbuangnya, sosok yg menari-nari itu berucap. "Mih, punang kutange gelah tyg nika. Nyan kenkenang tyg mulih" (Aduh jgn dibuang punya saya itu, nanti bgmaina saya plg).
Tp Madi tdk menghiraukan & membuang airnya hingga habis kemudian memasukan kendinya ke kantong jaketnya. Madi kembali bergegas ia mendekati ninik-ninik yg masih bersimpuh di bawah sanggah & memukul kepalanya menggunakan senter. Ninik itu berlirih & meminta ampun.
"Tyg ten peragan, nak meseka niki sampun wenten nyantos drika di bedulu" (Saya tdk sendiri, ini berkelompok sdh ada yg menunggu di atas). Madi terlihat marah dia sempat"nya berceramah, merasa bahwa mahasiswa yg KKN menjadi incaran.
"Rg mahasiswa ne, sing ja pejabat. Kaden rg membantu mai, suba tua nu nyemak gae memocol kene" (Kita ini mahasiswa, kan kita kesini membantu. Sdh tua masih saja mengambil kerjaan sia-sia begini). Di akhir ceramahnya Madi memukul kembali ninik itu & menyuruhnya ikut plg.
Tanpa perlawanan ninik tsb ikut plg, anehnya sosok yg menari" tsb mengikuti mereka jg. Tp di tengah perjalanan sosok itu menghilang, tdk ada yg tau perginya kemana. Malam itu jg ninik pedagang ini diserahkan ke Jero Bendesa di balai banjar, karna tdk mungkin membawanya ke posko.
entah apa yg dilakukan Jero Bendesa thd ninik ini karna semua mahasiswa disarankan balik ke posko & membersihkan diri. Malam itu jgn kira mereka semua bisa tdr. Semua berjaga-jaga tktnya ada yg dtg menantang.
Ingat mereka itu seka (berkelompok)? Tp sampai suara ayam berkokok sahut"an tdk ada apapun kelanjutan yg terjadi. Paginya, semua mahasiswa berkumpul menganalisa kejdian malam td. Apa kalian berpikir, mengapa mudah memboyong sosok setengah jadi itu, mengapa dia menurut? Sama.
Jd ada mantra yg kata ibu tdk tertulis di kitab, lontar, atau diketahui org umum. Ada mantra yg digunakan untuk permisi jika memasuki tempat baru & mantra untk bisa melihat makhluk" tak kasat mata. Sbelum brgkat KKN ibu diberi mantra ini oleh kakek, kakek adalah Jero Mangku.
Dibanding memberi pengijeng (jimat) kakek lbh memilih mengajarkan mantra. Mantra ini jg tdk lsg bekerja begitu saja, hrs ada kutub berlawanan yg mengkonesikan agar berfungsi & ibu merasa kutub tsb ada di Madi. Ibu menilai Madi membawa pengijeng dgn power agak besar.
Jd ketika ibu merasa mantranya bekerja, ia terus membaca mantra agar bisa melihat sosok itu, entah bagaimana menjelaskan tmn" yg lainnya ikut kebagian bisa melihat. Mungkin sosok itu merasa kurang sakti karna terlihat & jd tontonan, ia tdk melakukan perlawanan atau menyerang.
Ibu kembali menjelaskan sosok setengah jadi itu ikut plg dgn mereka karna membututi ninik pedagang yg blm sempat ngelekas. Jd jika ada yg ngelekas meseka dia akan membantu tmnnya untuk bisa ngelekas, setia kawan juga. Tp sygnya sosok itu malah menghilang di pertengahan jalan.
Kejadian itu berlalu. Msh tersisa bnyak hari mereka hrs mengabdikan diri desa itu. Tp mereka sepakat berkelakuan tdk terjadi apa". Beberapa mahasiswa masih berani belanja ke warung itu & Jero Bendesa tdk punya solusi lain selain anggap saja tdk terjadi apa". Aneh.
Smpat kata ibu untuk menaikan cerita ini ke koran karna ibu sering mengirim naskah ke sana, dulu rubrik khusus cerita mistis sangat digemari. Namun dgn alasan ada kenalan ibu dari desa tsb meminta agar tdk diberitakan demi nama baik desanya, ibu pun mengurungkan niatnya.
Jero Bendesa & warga setempat jg tdk bisa berbuat banyak karna tdk ada bukti nyata ninik ini menjadi leak & mencari tumbal. Padahal sdh sering warga sekitar melihat ninik ini lemahen (ngelekas pagi hari), yg kata org leak itu takut dgn pagi hari tp ninik ini bisa melakukannya.
Akhirnya cerita itu hanya bermuara di sisa-sisa ingatan mereka berdelapan. Saya yg mendengar tdk terlalu takut mendengarnya, karna efeknya sdh tentu beda dgn yg mengalami lsg. Saya kira ngelekas hanya mitos, hanya cerita" untuk menakuti anak kecil agar tdk rewel tengah malam.
Saya kira leak hanya sebuah ilmu gaib tanpa memerlukan sosok pengantar untuk menakut-nakuti atau menyakiti spt santet. Ternyata hari ini semuanya terbantahkan, bayangkan melihat manusia berubah mnjadi sosok yg berbeda, amat menyeramkan. Jika sebutannya menyisakan trauma.
Buktinya ibu masih begitu detail mengingat tiap celah mengerikan kejadian di th 1988 itu. Padahal saya pernah bertanya bagaimana cara ayah melamarnya dulu ia mengatakan sdh lupa.

Tamat.

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with 🧛🏻‍♀️

🧛🏻‍♀️ Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!

Follow Us on Twitter!