Dhani Profile picture
7 Apr, 20 tweets, 4 min read
baca lagi tulisan lama soal buku, merasa bersyukur, bahwa mungkin hidupku sekarang jauh lebih bermutu dan berkembang dari yang lama. dulu aku itu book snob yang sok tau dan sok iya. menganggap segala yang mainstream dan laku itu dicurigai bermutu buruk dan selera pembaca buruk
sekarang sih kayanya menyadari bahwa membaca itu kegiatan yang personal, peristiwa yang intim antara buku dan manusia yang membacanya, menghakimi selera orang sepertinya kegiatan sia-sia. memang apa salahnya membaca buku arus utama atau buku book seller?
riwayat membaca adalah sejarah personal dari pembacanya. ya mungkin ada satu dua orang atau hal yang bisa mempengaruhi pembaca, tapi selera semestinya berkembang, kecuali memang ingin zuhud menjadi pembaca yang tunduk pada satu genre/penulis/tema, ya itu bisa jadi problem
Tulisan ini bagus, bukan berarti ia tanpa cela. Penulis ini bilang Oprah Book Club membantu mempopulerkan membaca sebagai kegiatan yang menyenangkan. Apakah buku yang direkomendasikan Oprah bermutu? Itu lain soal dan kita bisa berdebat soal itu.

medium.com/@pennyzang/sto…
Beberapa orang bisa bilang bahwa untuk bisa mengerti buku bermutu ya harus baca sastra, harus baca nama seperti Shakespeare, Faulkner, Hemingway, Wolff, Dickinson, Pramoedya, Tohari, Sapardi, dan kanon-kanon lain. Tapi siapa yang berhak menentukan kanon? apa ukurannya?
Kalo dulu ada polisi skena, ya bakal selalu ada polisi sastra, polisi buku, yang akan bertingkah punya kompas moral lebih daripada pembaca lain. Dulu aku begitu dan setelah dibaca-baca lagi, nyebelin banget, untuk satu hal yang kusukai "membaca sebagai peristiwa" menyelamatkan
Kemarin dua kali nonton diskusi soal buku dan aku bersepakat tentang keragaman genre, penulis, dan tema bacaan akan membuat kita jadi lebih luas dalam menilai sebuah buku. keragaman bacaan dari berbagai latar belakang bikin kita bisa paham problem di sekitar dengan lebih baik
Kalau bacaanmu melulu laki-laki hetero yang seumur hidup problemnya cuma kelahi ama minum kopi ya kamu akan anggap hanya itu yang keren. Begitu ada orang nulis soal susahnya cari toilet sebagai seorang transgender yang kerap mengalami kekerasan, akan bingung dan asing
Ini kita belum masuk ke ranah kaya teknik penulisan, masih bahas penulis, genre, dan tema. Kalau kamu baca James Joyce pusing, walau dibilang oke, ya ga apa. Baca apa yang bikin kamu nyaman dan bahagia, tapi kalau bisa beragam. kaya nasihat di tulisan ini

ft.com/content/df9065…
Membaca itu butuh kerja keras, perlu keleluasan, buang waktu, dan hanya bisa dilakukan oleh orang yang punya privilej. Kalau kamu buruh, punya anak, sibuk, mungkin baca itu kemewahan. Karena itu jika ada orang baca, apapun yang ia suka, meski ya kamu benci penulisnya, biarin aja.
Sejak tahun lalu berusaha membaca di luar apa yang kusuka: fantasi dan non fiksi (male lead!). Sekarang aku baca penulis perempuan, queer, sejarah alternatif, atau bahkan tema kaya lingkungan. Ngobrol dengan beberapa admin toko buku yang kasih rekomendasi biar kepala ga kopong.
Ada banyak hal yang dipelajari. Terutama soal isu kesehatan mental. Misalnya buku yang ditulis oleh seorang psikolog/therapist yang mengalami kegagalan hubungan percintaan. Kalau psikolog sedih mereka ngobrol ama diri sendiri atau sama kaya kita cari bantuan?
Direkomendasikan juga penulis yang jadi ibu. Aku ga tau rasanya jadi ibu/perempuan, kemarin diberi tahu judul buku yang ditulis oleh penulis perempuan yang jadi ibu. Gimana navigasi karir, hubungan personal, mengasuh anak, dan kegilaan yang menyertainya. ga sabar mau baca.
Aku benaran merasa bahwa kalau cuma baca buku dari perspektif yang monokrom (laki-laki mapan yang ga punya problem) ya bakal kopong. kemarin sempet dengar komentar yg bikin mikir "males baca buku yang ditulis sama laki-laki Cishet"

iya ya, aku ini ga tau apa apa di luar cishet
Lima enam tahun lalu kalo ditanya cishet, queer, BIPOC, dan banyak istilah lainnya ya ga tau apa apa. Kalo ga salah 3-4 taun lalu aku diberi buku oleh
@post_santa kumpulan puisi yang ditulis sama komunitas adat di Amerika. Itu buku bikin aku bingung, karena tema yang dipilih.
Aku sebagai jawa, laki-laki, muslim, ga tau rasanya kehilangan tanah air, kehilangan adat, kehilangan identitas, kehilangan bahasa, kehilangan ruh, kehilangan jati diri. Gimana sih rasanya tahu bahwa bahasa ibumu, akan berakhir padamu, karena ga ada lagi yang bisa diajak ngobrol
Ini aku beneran terganggu dengan utas yang dibikin @hurufkecil soal waktu dan identitas gender. Aku sebagai orang jawa timur ya taunya cuma laki-laki dan perempuan. Tapi ya ternyata nusantara punya banyak pengetahuan lain. Konsep waktu ya cuma sebatas ba'da magrib / jum'at legi
Aku suka sekali kalimat Jeff Buckley "Words are really beautiful, but they’re limited. Words are very male, very structured. But the voice is the netherworld, the darkness, where there’s nothing to hang onto."

(maaf rujukanku laki-laki hetero terus) americansongwriter.com/lover-you-shou…
Aku kurang suka karakter perempuan atau penulis perempuan. Sesederhana karena kukira mereka lembek. tapi saat beberapa temanku mengenalkan Clarice Lispector, yang sama sekali ga pernah nongol di buku-buku yang aku baca, seperti ditempeleng bekantan. Bacaanku cetek sekali!
Itulah mengapa, rayakan bacaanmu, kalau punya waktu dan uang, coba baca buku di luar yang kamu sukai. kalau takut bukunya buruk, cek reviewnya atau tanya teman yang sudah baca. semoga ragam bacaan akan menyelamatkanmu dari sikap bebal dan kurang akal.

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with Dhani

Dhani Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

More from @arman_dhani

8 Apr
Seberapa dekat teman, jika ia melewati batas, kukira kita berhak menyampaikan keberatan dan rasa kesal kita. Ada beberapa hal yang tak perlu dibuat lelucon, ada beberapa hal yang tak perlu diulang-ulang karena itu traumatik, dan teman semestinya bisa jadi ruang aman bersama.
Misalnya jika kamu dan mantanmu berada dalam satu lingkar pertemanan yang sama. Kamu bisa minta mereka untuk berhenti menyindir, memancing, atau memaksamu bercerita soal hubungan yang gagal itu. Kamu bisa minta mereka berhenti meledek soal perpisahan kalian dan itu wajar.
Ini juga berlaku pada isu yang lain. Kesehatan mental, keluarga, pekerjaan, pertemanan, atau apapun yang menurut kalian personal dan tak ingin diumbar ke publik. Teman tak punya hak untuk meledek trauma yang kamu miliki. Apalagi memaksamu buat tertawa atas lelucon yang buruk.
Read 4 tweets
8 Apr
Aku senang sekali isu soal pembajakan buku beberapa hari ini naik. Mungkin karena imbas peraturan Royalti musisi. Para pekerja di Industri buku juga merindukan dan membutuhkan ini. Terutama dari perspektif perlindungan hak para pekerja. Mulai penulis, penerbit, dan lainnya.
Kenapa perlindungan terhadap hak cipta penting buat membabat habis para pembajak? Ya karena ekosistem perbukuan Indonesia ini selain diinjak sama pajak, rabat toko buku, dan harga kertas, ya karena pembajakan yang gila-gilaan. Padahal ya pekerjanya tetep mlarat.
Sempet dengar pekerja buku di Jakarta dibayar murah. Lalu inget tulisan @bulansafar dua tahun lalu. Kalau tau berapa upah pekerja buku Jogja (dibanding biaya makan kuda kraton sebulan) sepertinya bakal jedotin kepala ke tembok. Pengabdian pekerja buku di Jogja ni level sumeleh.
Read 9 tweets

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!

Follow Us on Twitter!