Dhani Profile picture
8 Apr, 9 tweets, 3 min read
Aku senang sekali isu soal pembajakan buku beberapa hari ini naik. Mungkin karena imbas peraturan Royalti musisi. Para pekerja di Industri buku juga merindukan dan membutuhkan ini. Terutama dari perspektif perlindungan hak para pekerja. Mulai penulis, penerbit, dan lainnya.
Kenapa perlindungan terhadap hak cipta penting buat membabat habis para pembajak? Ya karena ekosistem perbukuan Indonesia ini selain diinjak sama pajak, rabat toko buku, dan harga kertas, ya karena pembajakan yang gila-gilaan. Padahal ya pekerjanya tetep mlarat.
Sempet dengar pekerja buku di Jakarta dibayar murah. Lalu inget tulisan @bulansafar dua tahun lalu. Kalau tau berapa upah pekerja buku Jogja (dibanding biaya makan kuda kraton sebulan) sepertinya bakal jedotin kepala ke tembok. Pengabdian pekerja buku di Jogja ni level sumeleh.
Ini tulisan @bulansafar yang menjelaskan mengapa gaji editor buku di Indonesia rendah. Di artikel ini ada penjelasan berapa upah yang diterima. Dari setiap buku yang kamu baca, kerja keras editor dibayar sangat-sangat-sangat murah. nyaris menyedihkan

geotimes.co.id/komentar/menga…
Pada 21 April 1997, Gatra meliput fenomena pembajakan ini. Redaksi memberi judul “Pembajak Pun Tetap Melenggang”. Pembajakan buku telah membuat rugi penerbit Balai Pustaka sebesar Rp125 miliar. Jumlah yang banyak. Angka ini fantastis. Bayangin berapa hak pekerja buku yang dicuri?
Apa buku yang dibajak saat itu? Mizan dengan buku Wawasan Al-Quran: Tafsir Maudhu’i atas pelbagai Persoalan Umat karya M. Quraish Shihab. Kamus Inggris-Indonesia dan Kamus Indonesia-Inggris karya John M. Echols terbitan PT Gramedia Pustaka Utama (sampe hari ini masih dibajak)
Ada fakta menarik soal pembajakan buku. Beberapa pembajak memanfaatkan e commerce untuk menjual dagangannya. Nama yang mereka pakai? Progresif kekirian. Alasan membajak? Distribusi pengetahuan. Ini tidak masuk akal dan juga berbahaya. geotimes.co.id/komentar/pemba…
Kalo niatnya distribusi pengetahuan dan memberikan akses buku murah ya salah. Mereka ini cuma memperkaya percetakan nakal yang memproduksi buku bajakan. Mesin cetak itu mahal dan agar untung, pembajak pake mesin cetak besar, pake kertas murah, buat jual produknya. Progresif apaan
Dulu itu mas Ronny Agustinus dari Marjin Kiri pernah berdebat soal buku bajakan. Kenapa harus pake alasan progresif buat jual buku bajakan. Lha penerbit itu mempekerjakan orang, yang dibayar dari laba penjualan buku. Pembajak merebut hak pekerja tadi. Apanya yang progresif?

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with Dhani

Dhani Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

More from @arman_dhani

8 Apr
Seberapa dekat teman, jika ia melewati batas, kukira kita berhak menyampaikan keberatan dan rasa kesal kita. Ada beberapa hal yang tak perlu dibuat lelucon, ada beberapa hal yang tak perlu diulang-ulang karena itu traumatik, dan teman semestinya bisa jadi ruang aman bersama.
Misalnya jika kamu dan mantanmu berada dalam satu lingkar pertemanan yang sama. Kamu bisa minta mereka untuk berhenti menyindir, memancing, atau memaksamu bercerita soal hubungan yang gagal itu. Kamu bisa minta mereka berhenti meledek soal perpisahan kalian dan itu wajar.
Ini juga berlaku pada isu yang lain. Kesehatan mental, keluarga, pekerjaan, pertemanan, atau apapun yang menurut kalian personal dan tak ingin diumbar ke publik. Teman tak punya hak untuk meledek trauma yang kamu miliki. Apalagi memaksamu buat tertawa atas lelucon yang buruk.
Read 4 tweets
7 Apr
baca lagi tulisan lama soal buku, merasa bersyukur, bahwa mungkin hidupku sekarang jauh lebih bermutu dan berkembang dari yang lama. dulu aku itu book snob yang sok tau dan sok iya. menganggap segala yang mainstream dan laku itu dicurigai bermutu buruk dan selera pembaca buruk
sekarang sih kayanya menyadari bahwa membaca itu kegiatan yang personal, peristiwa yang intim antara buku dan manusia yang membacanya, menghakimi selera orang sepertinya kegiatan sia-sia. memang apa salahnya membaca buku arus utama atau buku book seller?
riwayat membaca adalah sejarah personal dari pembacanya. ya mungkin ada satu dua orang atau hal yang bisa mempengaruhi pembaca, tapi selera semestinya berkembang, kecuali memang ingin zuhud menjadi pembaca yang tunduk pada satu genre/penulis/tema, ya itu bisa jadi problem
Read 20 tweets

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!

Follow Us on Twitter!