Dhani Profile picture
2 May, 4 tweets, 1 min read
Kukira untuk hidup, kita perlu alasan besar dan adiluhung. Seperti jadi orang baik atau berguna bagi bangsa. Kalau ingat saat cemas dan depresi, aku baru sadar bahwa alasanku bertahan saat itu sepele. Aku ingin memasak buat temen kosan dan mencuci piring mereka setelah makan.
Kenapa masak? Karena teman-temanku bilang sambal buatanku enak, aku merasa dihargai, aku merasa keberadaanku dibutuhkan.
Kenapa cuci piring? Karena teman-temanku ngga suka cuci piring, kalau piring mereka kubersihkan mereka gembira

Kalau aku mati siapa yang akan melakukan itu?
Kalau kamu merasa suicidal, kalau kamu merasa ingin mati, kalau kamu merasa tidak berharga, coba mulai periksa hal-hal sederhana yang kamu ga sadar bikin kamu utuh. Misalnya kucing yang ga akan dirawat jika kamu mati, tanaman yang akan kering, atau sejenisnya. Mungkin bisa bantu
Aku yakin masing-masing dari kita punya alasan sepele, yang bagi orang lain tak masuk akal, tapi jadi pedoman untuk menjalni hidup sehari-hari. Membuat kita yakin merasa bahwa hidup layak dijalani. Emang masih perih, masih sakit, tapi kamu punya alasan untuk hidup.

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with Dhani

Dhani Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

More from @arman_dhani

18 Apr
Kemarin nulis lumayan panjang soal Tak Minta Dilahirkan. Inget cerita Saat bertengkar dengan ibu. Sebagai anak aku kerap dianggap tak bersyukur karena telah dirawat sejak kecil. Aku jika tak pernah ingin dilahirkan. Aku menyesal pernah mengatakan itu, karena setelahnya ibu diam.
Aku sadar apa yang kuucapkan menyakitinya. Hubungan kami memburuk setelah itu. Ibu bilang kuliah dan banyak baca buku ga akan berguna di akhirat jika tak patuh pada orang tua. Belakangan aku sadar, cara asuh ibuku merupakan produk dari zaman saat ia dibesarkan.
Mungkin ibu dulu dibikin submisive oleh orang tuanya dan ia menganggap itu cara terbaik mendidik anak. Ibuku perempuan konservatif yang tunduk pada suami, rajin ibadah, dan seperti ibu-ibu pada umumnya ia menganggap bahwa anak itu tak punya suara dan tak berhak melawan balik.
Read 11 tweets
16 Apr
Hari ini ngobrol panjang dengan teman. Ia bertanya, kalau hidup tak punya ambisi dan ingin jadi biasa saja, boleh ga sih? Kami berdua membahas itu dan sepakat: Jadi medioker itu bikin bahagia, tidak punya beban untuk jadi istimewa atau membuktikan diri pada siapapun. Membebaskan.
Hidup medioker itu tak punya tanggung jawab untuk jadi istimewa atau diharapkan membuat sesuatu yang adiluhung. Ingin hidup biasa saja, tidak jadi beban orang, dan bisa menghidupi diri sendiri. Kami percaya hidup dengan target akan dihantui ketakutan-ketakutan yang belum terjadi.
Awalnya karena kecemasan. Lho kok udah 30+ tahun tapi ngga punya apa-apa. Teman lain sudah punya rumah, sudah punya tabungan, lha kami hidup dari gaji ke gaji tanpa punya simpanan. Lantas getun (menyesal?) selama ini ngapain aja. Kok hidup tiba-tiba sudah hampir masuk paruh baya.
Read 9 tweets
14 Apr
Mumpung lagi rame soal buku, mau bahas satu istilah yang bagiku pribadi agak mengganggu. "Semakin banyak kita baca, kita akan berkembang," kata berkembang itu menyiratkan bacaan yang kita baca sebelumnya kurang dan yang baru lebih baik. Aku lebih suka pake kata beragam.
Kenapa beragam? Karena beragam artinya kita punya pilihan untuk membaca buku dari berbagai sisi. Bacaan kita tumbuh, perspektif bertambah, dan pengetahuan kita makin dalam. Apakah ada penulis problematik? Banyak, apakah mereka tak perlu dibaca? Belum tentu.
Tapi pendapatku ini bisa jadi salah. Misal kamu ga perlu baca Mein Kampf atau The Doctrine of Fascism untuk tahu pemikiran Hitler dan Mussolini problematik. Kasus terbaru adalah "White Fragility", buku ini ditulis orang kulit putih dan dikritik oleh orang kulit hitam.
Read 14 tweets
8 Apr
Seberapa dekat teman, jika ia melewati batas, kukira kita berhak menyampaikan keberatan dan rasa kesal kita. Ada beberapa hal yang tak perlu dibuat lelucon, ada beberapa hal yang tak perlu diulang-ulang karena itu traumatik, dan teman semestinya bisa jadi ruang aman bersama.
Misalnya jika kamu dan mantanmu berada dalam satu lingkar pertemanan yang sama. Kamu bisa minta mereka untuk berhenti menyindir, memancing, atau memaksamu bercerita soal hubungan yang gagal itu. Kamu bisa minta mereka berhenti meledek soal perpisahan kalian dan itu wajar.
Ini juga berlaku pada isu yang lain. Kesehatan mental, keluarga, pekerjaan, pertemanan, atau apapun yang menurut kalian personal dan tak ingin diumbar ke publik. Teman tak punya hak untuk meledek trauma yang kamu miliki. Apalagi memaksamu buat tertawa atas lelucon yang buruk.
Read 4 tweets
8 Apr
Aku senang sekali isu soal pembajakan buku beberapa hari ini naik. Mungkin karena imbas peraturan Royalti musisi. Para pekerja di Industri buku juga merindukan dan membutuhkan ini. Terutama dari perspektif perlindungan hak para pekerja. Mulai penulis, penerbit, dan lainnya.
Kenapa perlindungan terhadap hak cipta penting buat membabat habis para pembajak? Ya karena ekosistem perbukuan Indonesia ini selain diinjak sama pajak, rabat toko buku, dan harga kertas, ya karena pembajakan yang gila-gilaan. Padahal ya pekerjanya tetep mlarat.
Sempet dengar pekerja buku di Jakarta dibayar murah. Lalu inget tulisan @bulansafar dua tahun lalu. Kalau tau berapa upah pekerja buku Jogja (dibanding biaya makan kuda kraton sebulan) sepertinya bakal jedotin kepala ke tembok. Pengabdian pekerja buku di Jogja ni level sumeleh.
Read 9 tweets
7 Apr
baca lagi tulisan lama soal buku, merasa bersyukur, bahwa mungkin hidupku sekarang jauh lebih bermutu dan berkembang dari yang lama. dulu aku itu book snob yang sok tau dan sok iya. menganggap segala yang mainstream dan laku itu dicurigai bermutu buruk dan selera pembaca buruk
sekarang sih kayanya menyadari bahwa membaca itu kegiatan yang personal, peristiwa yang intim antara buku dan manusia yang membacanya, menghakimi selera orang sepertinya kegiatan sia-sia. memang apa salahnya membaca buku arus utama atau buku book seller?
riwayat membaca adalah sejarah personal dari pembacanya. ya mungkin ada satu dua orang atau hal yang bisa mempengaruhi pembaca, tapi selera semestinya berkembang, kecuali memang ingin zuhud menjadi pembaca yang tunduk pada satu genre/penulis/tema, ya itu bisa jadi problem
Read 20 tweets

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!

Follow Us on Twitter!