Tadi siang diminta ngisi pembekalan untuk peserta KKN ITB 2021, tentang critical thinking
Aku coba share dikit satu bagian dari materi tadi ya, yaitu perbedaan antara Strategic, Critical, & Creative Thinking. Soalnya sering ketuker nih. Thread
1/ Critical Thinking
Critical thinking ini ngomongin hal seperti: kualitas informasi & relevansinya dengan konteks.
Contoh pertanyaannya kritis itu seperti:
-Apakah sumber informasi ini kredibel?
-Apa sih definisi dari istilah ini?
-Apa konteks ketika statement ini dibuat?
2/ Creative Thinking
Beda dengan critical thinking, kalau creative thinking lebih berfokus tentang bagaimana melihat sesuatu dengan persepektif yang berbeda (Thinking out of the box) sehingga bisa menghasilkan ide & solusi baru. Toolsnya: Design Thinking, etc
3/ Strategic Thinking
Kalau strategic thinking ini lebih ke memahami big picture (Mission, vision, competitive advantage, etc) dan bagaimana mencapai goals kita
Toolsnya kalau di ormawa ada: GDK (Grand Design Kaderisasi) AD ART dsb. Sedangkan kalau di bisnis: OKR, BSC, dsb,
Kita coba contohkan dengan sebuah skenario ya.
Karena tadi konteksnya pembekalan KKN, aku ngasih contoh dengan kampung yang terisolir oleh sungai, yang selama ini harus memutar jauh mengelilingi sungai jika ingin berdagang ke kota.
Strategic Thinking: Kita perlu meningkatkan pendapatan kampung sebesar 10% tahun depan, caranya dengan membangun jembatan penyebrangan 🎯
Critical Thinking: Kenapa harus membangun jembatan? Apa informasi pendukungnya? 🤔
Creative thinking: Gimana kalau kita bikin perahu aja? 📦
Semoga membantu kita memilah-milah mana cara berfikir yang paling sesuai.
Oh ya selain 3 jenis di atas, tentunya ada jenis berfikir lain, seperti: System Thinking, Abstraction Thinking, Analytical Thinking, etc
Btw, gimana kalau kapan-kapan kita bikin workshop "Learning to think better"?
Kebetulan aku lagi nyusun draft buku 'learning to think better' (judul tentatif) nih, jadi mau sekalian menguji materi bukunya dan menampung feedback dengan bikin workshop kecil dulu 😄
Oh ya, perlu diketahui bahwa ketiga mode ini tidak Mutually exclusive ya teman-teman, alias ada irisannya
Sebagai contoh: solusi perahu pada contoh creative thinking juga dapat dilingkupi dari sudut pandang strategic thinking
• • •
Missing some Tweet in this thread? You can try to
force a refresh
Setelah punya pengalaman menjual produk dari harga <100k IDR sampai >1M IDR secara B2C dan B2B, aku nemu suatu pola.
🎯 Kalau mau jual ke segmen menengah bawah, harus jago price management
🎯 kalau mau dapet segmen menengah, CRM perlu top notch
🎯 Kalau mau jual ke segmen atas, Brand reputation adalah kunci
Ga melulu jualan di Indonesia ujungnya predatory pricing, identify dulu product kita dan ke siapa jualannya.
1. Segmen produk menengah bawah atau kalau pake rule of thumbs mungkin under 500k (relatif)
ini segmen yang paling sensitif soal pricing, diskon dan harga yang beda sekian ribu bisa bikin orang switching
aku pengalaman jual produk 99k lalu kemudian ada yg jual harga 49k, maka banyak yg. kemudian switch padahal secara fitur lebih lengkap di 99k
Jadi kalau menang di segmen ini perlu punya cost leadership dan ops excellence yg kuat buat efisiensi cost structure, atau willingness buat bakar duit buat ambil market share (seperti yg dulu dilakukan startup di era tech boom)
2. Segmen menengah, mereka udah punya buying power & punya privilege buat consider berbagai macam opsi agar ga "ribet" dan dapat product yg paling "worth the Value"
Sehingga, kuncinya menurutku adalah CRM tapi juga dengan product management yang baik
CRM: karena segmen ini perlu pelayanan yg fast response & Helpfull. Beda sekian menit bales chat atau respon yang kurang helpfull, maka bisa switch
Product Management: segmen ini udah bisa melihat value of the feature. Sehingga perlu product management untuk prioritizing feature dan mendeliver value tersebut
Sekolah bukan Scam, tapi perlu diakui beberapa sistem & cara dalam menjalankan traditional education memang masih outdated.
Oleh karena itu, banyak bertumbuh jenis kampus gaya baru di berbagai belahan dunia, atau "Challenger University".
Challenger university menawarkan model pendidikan baru, beberapa contoh:
• London Intersiplinary School (@weareLIS) punya kurikulum berbasis PBL (Problem Based Learning), jadi fokus pembelajarannya adalah solving problem dengan interdisiplinarry appraoach
• Minerva School (@MinervaUni) punya approach yg unik, mereka ga punya kampus tapi student akan berpindah tempat belajar di 7 negara, jadi students akan immersed dengan berbagai macam culture dan pov dalam waktu yg singkat
Ada juga model pendidikan yg mengedepankan microlearning, atau asynchronius first seperti Nexford Uni & Tomorrow University
Sebenernya di Indonesia ada model serupa yg mendepankan async & online learning, apa lagi kalo bukan @UnivTerbuka 👏
Malam ini, aku pingin bahas 1 konsep komunikasi yang aku harap lebih banyak orang yang tau.
Soalnya dengan tau teknik ini kita bisa berkomunikasi dengan lebih efektif dan efisien, namanya : "Top-Down Communication"
Konsep ini sering dipake konsultan, tapi sebenernya applicable ke hampir semua bidang kok, mulai dari kamu ngomong ke pasangan, sampe ngomong ke bos, atau pitching ke klien.
Intinya, Top down communication berfokus pada kebutuhan lawan bicara dan juga berorientasi pada hasil.
Top Down Communication dimulai dari menyampaikan insight pokok/kesimpulan baru kemudian menyampaikan data data dan insight pendukung
Ini penting, karena banyak yang sering kebalik loh, biasanya kita justru cerita A-Z dulu baru kesimpulannya di ujung 🙃
Kita tahu kalau kemampuan berkomunikasi adalah salah satu skill terpenting. Tapi, apa sih yang membuat seseorang menjadi komunikator yang baik? Ternyata ribuan tahun yg lalu, Aristotle sudah mengindentifikasi 3 elemen penting dlm komunikasi, yaitu: Ethos, Pathos, & Logos. Thread
Aku belajar konsep ini sewaktu menjadi komandan lapangan ketika mahasiswa, sejak itu aku sudah menerapkan teknik ini untuk mendapatkan investor, memenangkan lomba, presentasi karya ilmiah, memimpin meeting, dst. Aplikatif banget.
Poin pertama, adalah Ethos. Ethos artinya kredibilitas, yaitu membuat orang lain percaya dengan apa yang kamu katakan
Contoh: Tweet sebelumnya dengan menceritakan A,B, dan C, adalah upayaku untuk membangun ethos.